cover
Contact Name
Dedeh Fardiah
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrjmd@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital
ISSN : 28083067     EISSN : 27986403     DOI : https://doi.org/10.29313/jrjmd.v1i2
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review (direview secara tertutup) yang mempublikasikan kajian teoritik dan hasil riset terhadap isu-isu empirik dalam sub kajian Jurnalistik dan media digital. JRJMD ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6403 yang di kelola dan di publikasikan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 107 Documents
Hubungan Literasi Media Digital dengan Penyebaran Hoax di Kalangan Generasi Z Illahi, Shifa Mutiara; Rita Gani
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 4, No. 2, Desember 2024 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v4i2.5042

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara literasi media digital dan penyebaran hoaks di kalangan Generasi Z di SMA 5 Negeri Tambun Selatan, Bekasi. Literasi media digital didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai format digital. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari siswa SMA 5 Negeri Tambun Selatan menggunakan kuesioner. Analisis statistik korelasi spearmen digunakan untuk menentukan hubungan antara variabel literasi media digital dan penyebaran hoaks. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara literasi media digital dan penyebaran hoaks di kalangan Generasi Z, dengan koefisien korelasi sebesar 0,577. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan literasi media digital di kalangan siswa sebagai upaya untuk melawan penyebaran hoaks dan membangun masyarakat yang lebih kritis terhadap informasi digital. Penelitian ini memberikan wawasan yang berharga bagi pendidik, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya dalam memperkuat literasi digital siswa dan masyarakat secara luas. Abstract. The study aims to identify the link between digital media literacy and the spread of hoaks among Generation Z in the 5th high school in South Tambun State, Bekasi. Digital media literacy is defined as the ability to access, analyze, evaluate, and communicate information in a variety of digital formats. Through a quantitative approach, data is collected from high school students of the 5th State of South Tambun using a questionnaire. Pearson's correlation statistical analysis is used to determine the relationship between the digital media literacy variable and the spread of hoaks. The findings reaffirm the importance of developing digital media literacy among students as an effort to combat the spread of hoaks and build a more critical society towards digital information. This research provides valuable insights for educators, parents, and other stakeholders in strengthening the digital literacy of students and society at large.
Pemberitaan Childfree Pada Media Berita Online Maitsa, Hasna Nasywa; Arba’iyah Satriani
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 4, No. 2, Desember 2024 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v4i2.5126

Abstract

Abstrak. Memilih untuk tidak memiliki anak atau childfree marak diperbincangkan karena ada seorang influencer yang menganggap bahwa mempunyai anak bukanlah suatu kewajiban. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bingkai yang digunakan media detik.com dan NU Online dalam memberitakan childfree. Penelitian menggunakan metode analisis framing Robert N. Entman dengan pendekatan kualitatif melalui empat elemen, yaitu: problem definition, causal interpretation, moral evaluation, treatment recommendation. Ditemukan 19 berita mengenai childfree yang terdiri dari, 12 berita dari detik.com dan tujuh berita NU Online tentang pemberitaan yang membahas childfree. Penelitian ini menggunakan Purposive Sampling untuk menentukan pengambilan sampel yang akan diteliti, sehingga terpilih masing-masing empat berita childfree yang dimuat oleh detik.com dan NU Online pada periode Februari 2023. Fokus berita berada di kanal detik News dan berita nasional. Berita yang dipilih tidak termasuk dalam kategori hiburan, Kesehatan, dan Gaya Hidup. Hasil penelitian ini menunjukkan dalam analisis framing Robert N. Entman, detik.com condong mengarah pada ketidaksetujuannya pada pilihan untuk melakukan childfree. NU Online mengambil posisi netral dengan pemberitaan childfree dengan mengangkat dua narasumber yang pro dan dua narasumber yang kontra. Abstract. Choosing not to have children or being childfree is widely discussed because there is an influencer who thinks that having children is not an obligation. This research aims to describe the frames used by detik.com and NU Online media in reporting on childfree. The research uses Robert N. Entman's framing analysis method with a qualitative approach through four elements, namely: problem definition, causal interpretation, moral evaluation, treatment recommendation. There were 19 news stories about childfree, consisting of 12 news stories from detik.com and seven NU Online news stories that discussed childfree. This research uses Purposive Sampling to determine the sample to be studied, so that four childfree news stories published by detik.com and NU Online in the February 2023 period were selected. The focus of the news was on the detik News and national news channels. The selected news is not included in the entertainment, health and lifestyle categories. The results of this research show that in Robert N. Entman's framing analysis, detik.com tends to disapprove of the choice to go childfree. NU Online takes a neutral position with childfree reporting by appointing two sources who are pro and two sources who are against.
Aktivitas Komunikasi Antar Budaya ”Slow Living” Rabbani, Nabil; Rini Rinawati
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 4, No. 2, Desember 2024 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v4i2.5238

Abstract

Abstrak. Dunia telah konkret oleh gaya hidup hustle culture, di mana masyarakat percaya bahwa kerja keras adalah satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan. Slow Living hadir sebagai respons terhadap gaya hidup yang terburu-buru dan konsumerisme yang berlebihan. Generasi Z menghadapi masalah komunikasi yang sulit fokus akibat kesibukan di dunia digital, di mana komunikasi online sering kali mencerminkan ketidakjujuran, menyebabkan konflik. Gaya hidup instan dan kebiasaan monoton membuat mereka hidup seperti dalam "autopilot," berfungsi secara otomatis tanpa refleksi mendalam. Akibatnya, interaksi menjadi kurang bermakna dan autentik. Gaya hidup merupakan aspek dominan yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Di sisi lain, banyak daerah di Indonesia menyediakan tempat perlindungan dari kesibukan urban, menawarkan kesempatan bagi penduduknya untuk hidup dengan ritme yang lebih lambat dan lebih dekat dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas budaya Slow Living di kalangan Generasi Z dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan etnografi komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya situasi komunikatif, peristiwa komunikatif, dan tindak komunikatif dalam aktivitas budaya Slow Living di kalangan Generasi Z, bagaimana generasi muda ini mencari makna dan autentisitas dalam interaksi mereka di tengah tekanan teknologi dan budaya kerja keras. Slow Living dapat menjadi alternatif yang bermakna bagi Generasi Z yang berusaha melawan tekanan dari hustle culture dan dunia digital yang serba cepat. Abstract. The world has been concretely influenced by the hustle culture lifestyle, where society believes that hard work is the only way to achieve success. Slow Living has emerged as a response to the fast-paced lifestyle and excessive consumerism. Generation Z faces communication issues, struggling to focus due to the busyness of the digital world, where online communication often reflects dishonesty, leading to conflicts. The instant lifestyle and monotonous habits make them live on "autopilot," functioning automatically without deep reflection. As a result, interactions become less meaningful and authentic. Lifestyle is a dominant aspect influenced by technological advancements. On the other hand, many areas in Indonesia provide refuges from urban hustle, offering residents the opportunity to live at a slower pace and closer to nature. This research aims to explore Slow Living cultural activities among Generation Z using qualitative methods and ethnographic communication approaches. The findings reveal communicative situations, communicative events, and communicative acts in the Slow Living activities among Generation Z, showing how these young people seek meaning and authenticity in their interactions amidst the pressures of technology and hustle culture. Slow Living can become a meaningful alternative for Generation Z striving to counter the pressures of hustle culture and the fast-paced digital world. Therefore, the researcher believes that these problems and phenomena are considered important and interesting to research. The researcher is interested in writing this research, about how the club implements it and how the club faces challenges in implementing Cyber public relations and also why this club is open about its financial management on Instagram social media. This research uses a constructivist paradigm with qualitative research methods and a case study approach. Researchers used boundary spanning theory and Philips and Young theory to examine the findings.
Analisis Resepsi Mahasiswa Terhadap Tayangan Youtube Narasi Newsroom Khairunnisa, Rifa; Santi Indra Astuti
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 4, No. 2, Desember 2024 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v4i2.5242

Abstract

Abstrak. Tragedi Kanjuruhan merupakan tragedi sepak bola terbesar di Indonesia, bahkan terbesar kedua setelah bencana serupa di Peru pada tahun 1964. Puncak dari tragedi ini adalah penembakan gas air mata oleh polisi. Banyaknya pro-kontra pemberitaan di media massa terkait pengamanan oleh polisi yang dilakukan di Stadion Kanjuruhan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui resepsi dan posisi pemaknaan pesan oleh mahasiswa terhadap tayangan yang dimuat oleh Narasi Newsroom akan investigasi visual yang dilakukan oleh Narasi dalam peristiwa Kanjuruhan tersebut. Dengan adanya tayangan Youtube Narasi Newsroom “Momen-Momen Brutal Menjelang Kematian Massal” masyarakat bisa menilai sendiri Analisis resepsi mencoba memberikan sebuah makna atas pemahaman sebuah tayangan media (cetak, elektronik, internet) dengan memahami bagaimana karakter tayangan media dilihat oleh khalayak. Individu yang menganalisis media melalui kajian resepsi memfokuskan pada pengalaman dan pemirsaan khalayak (penonton/pembaca), serta bagaimana makna diciptakan melalui pengalaman tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi dan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan beberapa mahasiswa yang dilakukan oleh peneliti. Teori yang digunakan yaitu resepsi studi milik Stuart Hall dengan subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang mengikuti isu tentang tragedi Kanjuruhan dan menonton tayangan terkait pengamanan Stadion Kanjuruhan di kanal youtube Narasi Newsroom. Abstract. The Kanjuruhan tragedy is the biggest football tragedy in Indonesia, even the second biggest after a similar disaster in Peru in 1964. The peak of this tragedy was the firing of tear gas by the police. There have been many pros and cons reported in the mass media regarding police security carried out at the Kanjuruhan Stadium. This research aims to determine the reception and position of the meaning of messages by students regarding broadcasts published by Narasi Newsroom regarding the visual investigation carried out by Narasi in the Kanjuruhan incident. With the YouTube broadcast Newsroom Narrative "Brutal Moments Leading Up to Mass Death" the public can judge for themselves. Reception analysis tries to provide a meaning for understanding a media broadcast (print, electronic, internet) by understanding how the character of the media broadcast is seen by the audience. Individuals who analyze media through reception studies focus on the experience and viewing of audiences (viewers/readers), as well as how meaning is created through these experiences. Using a qualitative approach with reception analysis methods and data collection techniques through in-depth interviews with several students conducted by researchers. The theory used is Stuart Hall's study reception with the research subjects being students from the Faculty of Communication Sciences, Bandung Islamic University who followed the issue of the Kanjuruhan tragedy and watched broadcasts related to the security of the Kanjuruhan Stadium on the Narasi Newsroom YouTube channel.
Makna Diri Jurnalis dalam Peliputan Bencana yang Membahayakan Keselamatan Jiwa Firmansyah; Septiawan Santana Kurnia; Kiki Zakiah; Didi Permadi
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 4, No. 2, Desember 2024 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v4i2.5334

Abstract

Abstrak. Dalam situasi bencana, jurnalis dianggap mempertaruhkan keselamatannya karena harus melakukan peliputan di zone berbahaya. Penelitian ini mencoba memandang jurnalisme kebencanaan dalam perspektif jurnalis yang memaknai profesionalitasnya ketika melakukan peliputan bencana yang membahayakan keselamatannya. Maka penelitian ini melakukan pendekatan fenomenologis pada jurnalis yang memaknai diri dan profesinya ketika situasi bencana. Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan wawancara kepada 30 jurnalis dan juga FGD kepada beberapa jurnalis sebagai informan yang memiliki pengalaman pernah melakukan peliputan di lokasi bencana. Penelitian melakukan analisis dengan mencoba menemukan pemaknaan jurnalis dalam meliput bencana secara holistik. Melalui analisis fenomenologis interpretatif (IPA), penelitian mencoba mengeksplorasi bagaimana jurnalis memahami profesinya ketika bencana. Hasil penelitian menghasilkan kategorisasi motif, pengalaman, dan makna jurnalis. Informan mengemukakan sejumlah motif, yakni advokasi dan profesionalitas. Kemudian adanya pengalaman keterancaman pada jurnalis. Pemaknaan diri jurnalis terhadap profesinya perlu didukung oleh regulasi yang dapat menjamin keselamatan jurnalis ketika peliputan di daerah bencana. Abstract. In a disaster situation, journalists are considered to be risking their safety because they have to cover in a dangerous zone. This study tries to view journalism in a disaster situation from the perspective of journalists who interpret their professionalism when covering a disaster that endangers their safety. Therefore, this study uses a phenomenological approach to journalists who interpret themselves and their profession during a disaster situation. Primary data collection was conducted by interviewing 30 journalists and also FGDs with several journalists as informants who have experience covering disaster locations. The study conducted an analysis by trying to find the meaning of journalists in covering disasters holistically. Through interpretive phenomenological analysis (IPA), the study tried to explore how journalists understand their profession during a disaster. The results of the study produced a categorization of motives, experiences, and meanings of journalists. Informants put forward a number of motives, namely advocacy and professionalism. Then there is the experience of being threatened by journalists. The meaning of journalists' self-interpretation of their profession needs to be supported by regulations that can guarantee the safety of journalists when covering disaster areas
Transformasi Media Cetak di Era Digital SIti Umaiyah
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 5, No. 1, Juli 2025 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v5i1.5617

Abstract

Abstrak. Di tengah arus teknologi yang semakin canggih, keberadaan media cetak menjadi kian dipertanyakan. Banyak media cetak yang gulung tikar akibat tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan operasional. Dari sisi konsumen, saat ini banyak pembaca yang memilih untuk beralih ke perangkat digital. Untuk bisa mempertahankan bisnisnya, media cetak banyak yang mulai memanfaatkan media sosial, salah satunya dengan rutin melakukan live streaming. Penelitian ini berusaha untuk mengulik mengenai bagaimana media cetak memanfaatkan kegiatan live streaming di media sosial guna mempertahankan bisnisnya dengan menggunakan metode kualitatif. Untuk mendapatkan data, peneliti melakukan wawancara dan observasi dengan mengambil informan dari 3 media, Bisnis Indonesia, Tribun Jogja dan Harian Jogja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa live streaming dapat menjadi salah satu alternatif media cetak untuk tetap bertahan di tengah disrupsi teknologi. Adanya live streaming ini turut membawa perubahan terhadap kerja media cetak dan para pekerja yang ada di dalamnya. Wartawan yang sebelumnya hanya bertugas untuk membuat tulisan, saat ini juga harus menguasai cara kerja media baru. Abstract. In the midst of increasingly sophisticated technology, the existence of print media is increasingly questionable. Many print media have gone bankrupt because they can no longer meet operational needs. From the consumer side, currently many readers choose to switch to digital devices. In order to maintain their business, many print media have started to utilize social media, one of which is by routinely conducting live streaming. This study attempts to explore how print media utilizes live streaming activities on social media to maintain their business using qualitative methods. To obtain data, researchers conducted interviews and observations by taking informants from 3 media, Bisnis Indonesia, Tribun Jogja and Harian Jogja. The results of this study indicate that live streaming can be an alternative for print media to survive in the midst of technological disruption. The existence of live streaming has also brought changes to the work of print media and the workers in it. Journalists who were previously only tasked with writing, now also have to master how new media works.
Persepsi Mahasiswa Seni terhadap Peran Jurnalis Seni Budaya di Kota Bandung Pribadi, Firman; Heriyawati, Yanti
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 5, No. 1, Juli 2025 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v5i1.5682

Abstract

Abstrak. Minimnya pemberitaan seni dan budaya di media arus utama mencerminkan berkurangnya perhatian terhadap jurnalisme seni, khususnya di Kota Bandung yang dikenal sebagai kota kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa seni terhadap peran jurnalis seni budaya, minat mereka terhadap profesi tersebut, dan pandangan mereka terhadap kredibilitas media dalam meliput isu seni dan budaya. Pendekatan yang digunakan adalah mixed methods dengan strategi survei deskriptif kuantitatif dan wawancara kualitatif. Data dikumpulkan dari 30 mahasiswa melalui kuesioner daring dan wawancara mendalam, lalu dianalisis secara deskriptif dan diinterpretasi dengan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menilai peran jurnalis seni penting dalam mendiseminasikan informasi seni, tetapi minat untuk menjadi jurnalis seni rendah karena keterbatasan peluang dan pelatihan. Selain itu, sebagian besar responden menganggap media kurang kredibel dalam peliputan seni budaya. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pendidikan dan media untuk mendorong regenerasi jurnalis seni budaya. Abstract. The limited coverage of arts and culture in mainstream media reflects a declining attention to arts journalism, particularly in Bandung, a city known for its creative identity. This study aims to analyze art students’ perceptions of the role of arts journalists, their interest in the profession, and their views on the credibility of media in reporting arts and cultural issues. The research employs a mixed methods approach using a descriptive quantitative survey and qualitative interviews. Data were collected from 30 students through online questionnaires and in-depth interviews, then analyzed descriptively and interpreted using Alfred Schutz’s phenomenological approach. The results show that most students consider arts journalists to play an important role in disseminating information about the arts, yet interest in pursuing the profession is low due to limited opportunities and training. Furthermore, the majority of respondents perceive the media as lacking credibility in covering arts and culture. The study recommends strengthening education and media sectors to encourage the regeneration of arts journalists
Narasi Maulud Nabi oleh Akun Anonim Berlatar Salafi di Instagram Muhammad Irfan Habibi
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 5, No. 1, Juli 2025 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v5i1.5818

Abstract

Abstrak. Media sosial memungkinkan siapa saja menyampaikan pesan keagamaan, termasuk akun anonim yang mengatasnamakan kelompok tertentu seperti Salafi. Artikel ini menganalisis narasi dua akun Instagram anonim, @medialurus dan @mesanhat, dalam menanggapi praktik Maulud Nabi, menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Pendekatan ini digunakan untuk memahami bagaimana teks, praktik diskursif, dan praksis sosial bekerja dalam membentuk opini publik tentang bidah. Hasil menunjukkan bahwa kedua akun tersebut membingkai Maulud Nabi sebagai tindakan bidah yang menyalahi syariat Islam versi Salafi, melalui takarir, audio tambahan, dan penekanan visual tertentu. Narasi yang dibangun bukan hanya menolak praktik keagamaan tertentu, tetapi juga mengonstruksi identitas keislaman yang eksklusif dan cenderung konfrontatif. Artikel ini menyoroti bagaimana media sosial digunakan untuk menyebarkan ideologi keagamaan dengan potensi pembentukan makna baru yang memengaruhi persepsi publik secara masif. Abstract. Social media enables anyone to deliver religious messages, including anonymous accounts claiming to represent groups such as Salafis. This article analyzes the narratives of two anonymous Instagram accounts, @medialurus and @mesanhat, in responding to the celebration of the Prophet's birthday (Maulud Nabi), using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis. This approach explores how texts, discursive practices, and social practices shape public opinions on religious innovation (bid‘ah). The findings reveal that these accounts frame Maulud Nabi as a deviant practice contrary to Salafi interpretations of Islam, using captions, edited audio, and visual emphasis. The narratives not only reject specific religious traditions but also construct an exclusive and confrontational Islamic identity. This article highlights how social media is used to disseminate religious ideologies and reshape meanings, significantly influencing public perceptions. Such practices raise concerns over authority, authenticity, and the power dynamics embedded in digital religious communication.
Konglomerasi Media Digital dan Dampaknya terhadap Independensi Informasi: Kajian Kritis Ansoriah, Sitti; Zakiyyatunnisa, Nida Nadia; Saefulloh, Aris
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 5, No. 1, Juli 2025 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v5i1.6960

Abstract

Abstrak. Lanskap informasi Indonesia telah diubah oleh kapitalisme media, yang ditandai dengan dominasi konglomerasi dan kepemilikan media. Tujuan dari studi ini adalah untuk mempelajari bagaimana konglomerasi media digital mempengaruhi independensi media, keberagaman informasi, dan dampaknya terhadap proses demokratisasi. Studi ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur dari sumber-sumber sekunder antara tahun 2018 dan 2025 dengan bertumpu pada asumsi teori ekonomi politik media dan pendekatan kritis analisis wacana (CDA). Studi menunjukkan bahwa konglomerasi media menyebabkan konten yang homogen, pemberitaan yang bias, dan pengaruh kepentingan ekonomi-politik pemilik media terhadap bagaimana informasi dikonsumsi publik. Akibatnya, masyarakat tidak memiliki akses ke informasi yang beragam dan independen, yang merupakan bagian penting dari demokrasi. Studi ini menekankan betapa pentingnya membuat peraturan yang ketat untuk kepemilikan media dan mendukung media independen untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat dan inklusif. Abstract. Indonesia's information landscape has been transformed by media capitalism, characterized by the dominance of media conglomeration and ownership. The purpose of this study is to examine how digital media conglomeration affects media independence, information diversity, and its impact on the democratization process. This study uses a qualitative method based on literature studies from secondary sources between 2018 and 2025 based on the assumptions of media political economy theory and the critical discourse analysis (CDA) approach. The study shows that media conglomeration causes homogeneous content, biased reporting, and the influence of media owners' economic-political interests on how information is consumed by the public. As a result, the public does not have access to diverse and independent information, which is an important part of democracy. This study emphasizes the importance of establishing strict regulations for media ownership and supporting media independence to create a healthy and inclusive information ecosystem.
Proses Pengambilan Gambar untuk Produksi Video Company Profile Sekolah Masjid Terminal Indonesia Maula Sulthoni; Guruh Ramdani
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 5, No. 1, Juli 2025 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v5i1.4560

Abstract

Abstrak. Di era komunikasi digital, video profil perusahaan telah menjadi media strategis untuk membangun citra institusi dan menyampaikan informasi secara visual. Sekolah Masjid Terminal Indonesia memanfaatkan media ini untuk memperkenalkan identitas, visi, dan program unggulannya kepada masyarakat luas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif proses pembuatan video profil perusahaan Sekolah Masjid Terminal Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada tahap produksi, wawancara dengan tim kreatif, dan dokumentasi teknis pembuatan film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan film terstruktur melalui beberapa tahap: praproduksi (perencanaan konsep visual, penulisan naskah, dan storyboard), produksi (pengambilan gambar utama di sekolah, masjid, dan terminal), dan pascaproduksi (penyuntingan visual dan audio). Setiap tahap membutuhkan koordinasi yang cermat antara tim produksi dan sekolah untuk memastikan pesan yang disampaikan selaras dengan nilai-nilai yang dianut oleh Sekolah Masjid Terminal Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam produksi konten visual edukatif yang memadukan aspek keagamaan, pendidikan, dan sosial. Abstract. In the era of digital communication, company profile videos have become a strategic medium for building institutional image and conveying information visually. Sekolah Masjid Terminal Indonesia utilizes this medium to introduce its identity, vision, and flagship programs to a wider audience. This study aims to comprehensively describe the production process of the company profile video of Sekolah Masjid Terminal Indonesia. A descriptive qualitative method with a case study approach was used. Data were collected through direct observation during the production stages, interviews with the creative team, and technical documentation of the filmmaking process. The findings show that the video production process is structured into several stages: pre-production (visual concept planning, scriptwriting, and storyboard creation), production (main footage capturing at the school, mosque, and terminal), and post-production (visual and audio editing). Each stage requires careful coordination between the production team and the school to ensure the conveyed message aligns with the values upheld by Sekolah Masjid Terminal Indonesia. This study is expected to serve as a reference for producing educational visual content that integrates religious, educational, and social aspects.

Page 10 of 11 | Total Record : 107