cover
Contact Name
Pieter Agusthinus Riupassa
Contact Email
pattimuraproceeding@gmail.com
Phone
+6285243358669
Journal Mail Official
pattimuraproceeding@gmail.com
Editorial Address
Ir. M. Putuhena Street, Kampus Unpatti, Poka-Ambon City, 97233, Maluku Province, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Pattimura Proceeding : Conference of Science and Technology
Published by Universitas Pattimura
ISSN : -     EISSN : 28293770     DOI : https://doi.org/10.30598/PattimuraSci.2021.KNMXX
This journal is created to archieve collection of publications from a national or international seminar at Pattimura University for Science, Technology, and Its Applications
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 179 Documents
SEMPAN DAN PANTAI/JALUR HIJAU Yvonne Pattinaja; Achmad Jais Ely; Yan Maruanaya
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.119-125

Abstract

Berkaca dari pengalaman Indonesia dari berbagai ancaman gempa bumi dan tsunami yang terjadi sejak beberapa tahun belakangan ini, maka diperlukan kebijakan pemerintah dalam mengatur zonasi di wilayah pesisir dengan menetapkan pengaturan tentang batas sempadan pantai. Penetapan Batas Sempadan Pantai di atur dalam dalam Undang-Undang No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir. Disebutkan bahwa fungsi sempadan pantai adalah untuk melindungi pantai terhadap gempa dan/atau tsunami ; terhadap erosi dan abrasi ; dari badai, banjir, dan bencana alam lainnya ; serta melindungi ekosistem pesisir. Sempadan pantai mengatur tentang pemanfaatan di kawasan sempadan pantai, yang diperuntukkan bagi kegiatan Perikanan, Pertanian, Rekreasi pantai, Kehutanan, Riset dan penelitian, Pertahanan dan Keamanan, Objek vital nasional, Kepelabuhanan, Lapangan udara, Perlindungan maritime dan Kegiatan budaya atau ritual keagamaan. Sayangnya, pembangunan di pesisir berjalan tanpa mengindahkan rencana zonasi yang telah ditetapkan. Seiring dengan perkembangan waktu dan timbulnya berbagai ancaman di wilayah pesisir yang diakibatkan oleh alam maupun manusia, maka pemerintah perlu mempertegas pengaturan tentang batas sempadan pantai yang adalah 100 meter dari pasang tertinggi
DESAIN LAMPU HIGH POWERED LIGHT EMMITING DIODE (HPL) UNTUK PENCAHAYAAN KARANG DAN IKAN PADA AKUARIUM DISPLAY Salasi Wasis Widyanto; Nanda Radhitia Prasetiawan; Kedswin Gerson Hehanussa
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.126-136

Abstract

Suplai cahaya merupakan salah satu faktor penting dalam sistem akuarium display yang mengembangkan perpaduan biota laut beberapa jenis karang dan ikan. Minimalnya ketahanan hidup biota laut di dalamnya menjadi fokus latar belakang penelitian ini. Faktor krusial berupa kurangnya pengetahuan tentang kebutuhan cahaya yang diimplementasikan merupakan salah satu penyebabnya, sehingga dirumuskanlah tujuan penelitian yaitu membuat desain sistem pencahayaan bagi beberapa jenis karang dan ikan pada akuarium display. Metode yang diterapkan meliputi desain konseptual, eksplorasi, observasi, pengukuran, perhitungan, desain awal, dan desain rinci. Hasilnya berupa desain akuarium berdimensi 300 cm x 70 cm x 70 cm dengan kapasitas volume air laut 1.333,233 liter menggunakan lampu HPL sebanyak 564 unit yang dilengkapi LED driver (25-36 Watt, 160 Volt DC) sebanyak 24 unit dan terbagi dalam 12 blok. Setiap blok terdapat 47 lampu HPL (16 day light, 16 cool light, 15 warm white) yang dirangkai seri dan dikoneksikan dengan 2 unit LED driver. HPL disematkan pada heat sink aluminium sebagai pendingin. Sebagai duplikasi moon light, actinic blue ditempatkan sejauh 2 meter dari sisi luar akuarium. Kesimpulannya desain HPL untuk pencahayaan karang dan ikan pada akuarium display berhasil dibuat sesuai konsep kebutuhan intensitas, jenis, dan durasi pencahayaan terhadap dimensi akuarium dan jenis biota yang dipelihara
PRODUKTIVITAS JARING INSANG HANYUT BERDASARKAN WAKTU TANGKAP PAGI DAN SORE DI TELUK AMBON DALAM Delly D P Matrutty; Hansje Matakupan; Welem Waileruny; Lartje Tamaela
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.137-145

Abstract

Aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan drift gill net di Teluk Ambon Dalam biasanya dilakukan nelayan pada waktu pagi dan sore hari, tanpa memperhitungkan pengorbanan yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Tujuan penelitian adalah menganalisa komposisi jenis dan ukuran ikan yang tertangkap pada waktu pagi dan sore, dan membandingkan produktivitas penangkapan pada waktu pagi dan sore menggunakan drift gill net. Percobaan penangkapan dilakukan selama 24 trip untuk masing-masing waktu penangkapan. Jumlah jenis dan ukuran ikan dianalisa secara deskriptif, sedangkan perbedaan hasil tangkapan pada waktu pagi dan sore dianalisa dengan menggunakan uji Kruskal Wallis. Analisa produktivitas sumberdaya ikan (SDI) diketahui dengan membandingkan jumlah produksi dan jumlah upaya (trip); produktivitas Tenaga Kerja (TK) dianalisa dengan membandingkan produksi dan jumlah TK; produktivitas waktu dianalisa dengan membandingkan produksi dan lama waktu penangkapan (actual fishing), dan produktivitas pendapatan dianalisa dengan membandingkan nilai produksi dan jumlah TK per trip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 sepesies ditemukan pada waktu pagi, sedangkan 20 spesies pada waktu sore. Persentase individu tertinggi pada waktu pagi adalah spesies Sellaroides dengan panjang rata-rata 21.42 cm TL (total length), sedangkan pada waktu sore adalah spesies Selar dengan panjang rata-rata 19.48 cm TL. Hasil uji terhadap 3 spesies yang mendominasi hasil tangkapan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil tangkapan pada waktu penangkapan pagi dan sore untuk spesies Rastreliger dan Selaroides, sedangkan untuk spesies Selar ada perbedaan, dimana peluang spesies ini tertangkap lebih besar pada waktu sore hari. Produktifitas SDI, produkstivitas TK dan pendapatan TK lebih tinggi pada waktu sore dibandingkan waktu pagi.
ANALISIS FAKTOR PRODUKSI USAHA PERIKANAN PURSE SEINE DI PULAU AMBON Rosihan Polhaupessy; W Waileruny; D D P Matrutty; Fabian N J Souisa
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.146-158

Abstract

Purse seine merupakan salah satu jenis alat penangkapan ikan yang sangat populer bagi sebagian besar nelayan di Pulau Ambon dan sekitarnya. Alasan penggunaan jenis alat tangkapan ini karena dianggap cukup produktif dalam usaha penangkapan jenis ikan pelagis kecil seperti ikan Layang, Decapterus spp. selar, Selaroides spp. Sardin, Sardinella spp dan lain-lain. Akan tetapi produktivitas dari setiap unit penangkapan berbeda-beda disebabkan dimensi alat maupun kapal serta jumlah upaya (trip) penangkapan. Dalam hubungannya dengan keberlanjutan usaha perikanan purse seine di Pulau Ambon, maka faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi usaha perikanan purse seine di Pulau perlu diketahui. Dari hasil penelitian Analisis koefisien korelasi (r) sebesar 0,826 atau 82,6%, maka terdapat hubungan yang sangat kuat dalam hubungan variabel Y dengan variabel X, makin besar nilai koefisien korelasi, dikatakan akan Sangat Kuat hubungan antara variabel Y dengan variabel X. Dimana Kuat hubungan antara variabel X akan mempengaruhi variabel Y adalah sebesar 82,6%. Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan bantuan perangkat lunak (software) SPSS 20, diketahui nilai R2 (koefisien determinasi) ialah 0,683. Angka tersebut menjelaskan bahwa 68,3 % produksi hasil tangkapan Purse Seine dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi, sedangkan sisanya sebesar 32,7 % ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Koefisien intersep menunjukkan bahwa jika faktor-faktor produksi yang dimasukan dalam model bernilai nol maka hasil produksi akan sebesar -32,166 ton /tahun
MODEL PEMILIHAN UNIT PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BERBASIS TEKNOLOGI DAN EKONOMI DI KOTA AMBON Hansje Matakupan; Welem Waileruny
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.159-171

Abstract

Penangkapan ikan pelagis di Kota Ambon oleh nelayan masih berlangsung hingga saat ini dengan menggunakan 7 (tujuh) jenis alat penangkap ikan. Pada umumnya faktor teknologi penangkapan ikan dan ekonomi perikanan merupakan kriteria yang dipertimbangkan oleh nelayan untuk memilih penggunaan unit penangkapan ikan. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk memilih unit penangkapan ikan pelagis yang paling baik digunakan di Kota Ambon. Data lapangan dikumpulkan pada 16 (enam belas) lokasi dengan metode RRA dan PRA juga dengan menggunakan kuesioner dan pengukuran obyek yang diteliti, serta data sekunder dari berbagai sumber terpercaya. Faktor teknologi penangkapan ikan yang dianalisis adalah daerah penangkapan ikan, alat dan metode penangkapan ikan, dan kapal penangkap ikan. Faktor ekonomi yang dianalisis adalah biaya-biaya dan kriteria investasi. Bila pemilihan unit penangkapan ikan pelagis hanya berdasarkan faktor teknologi saja, maka yang terpilih adalah huhate (pole and line) dengan nilai 0,233. Bila hanya berdasarkan faktor ekonomi saja, maka yang terpilih adalah pancing tangan (hand line) dengan nilai rasio 0,195. Hasil analisis secara keseluruhan berdasarkan faktor teknologi penangkapan ikan dan ekonomi perikanan terhadap 17 (tujuh belas) faktor penentu alternatif unit penangkapan ikan pelagis, menyatakan bahwa huhate (pole and line) adalah unit penangkapan ikan yang terpilih dengan nilai rasio 0,193
PERBEDAAN AKTUAL LAJU TANGKAP OPERASI PENANGKAPAN SKIPJACK POLE AND LINE DI RUMPON DAN GEROMBOLAN IKAN Fahri Aulia; Agustinus Tupamahu; Stany Rachel Siahainenia
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.172-181

Abstract

Pulau Ambon dan sekitarnya merupakan salah satu pusat kegiatan penangkapan ikan cakalang terutama dengan alat tangkap skipjack pole and line yang mengandalkan alat bantu rumpon dalam operasi penangkapannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktual laju tangkap skipjack pole and line yang beroperasi di rumpon dan di gerombolan ikan dan menganalisis perbedaan antara nilai aktual laju tangkap skipjack pole and line yang beroperasi di rumpon dan menemukan gerombolan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata laju tangkap pada operasi penangkapan di rumpon adalah 0,65 individu/menit/orang, sedangkan rata-rata laju tangkap di gerombolan ikan adalah 2,67 individu/menit/orang. Hasil uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata antara laju tangkap pada operasi penangkapan di rumpon dan gerombolan ikan (t hit> α 0,05. df : 83).
HILANGNYA PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHA PENANGKAPAN JARING INSANG AKIBAT SAMPAH DI TELUK AMBON Welem Waileruny; Donald Noija; Stani R Siahainenia; Delly D P Matrutty
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.182-195

Abstract

Banyaknya sampah di laut dapat menurunkan produktifitas alat tangkap yang berdampak pada penurunan produksi dan pendapatan serta peningkatan biaya-biaya. Jaring insang merupakan alat tangkap yang banyak dioperasikan di Teluk Ambon dan mengalami kendala operasi penangkapan akibat sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan pendapatan usaha penangkapan ikan dengan jaring insang serta menghitung besarnya produksi dan pendapatan yang hilang akibat sampah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2019 dengan lokasi pengambilan data di Teluk Ambon. Pengumpulan data melalui percobaan penangkapan, wawancara dan observasi. Analisis data secara deskriptif dan analisis biaya dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi 154 individu/trip dengan pendapatan rata-rata Rp 610.000/trip. Kehadiran sampah sangat menggangu aktifitas penangkapan jaring insang yang berdampak pada hilangnya produksi dan pendapatan. Selain menghilangkan produksi dan pendapatan, sampah juga mengakibatkan kerusakan jaring dan mesin yang dapat meningkatkan kenaikan biaya perbaikan dan perawatan sebesar Rp, 3,5 juta/tahun
METODE APLIKASI SERBUK BIJI ATUNG (Parinarium glaberimum, HASSK) TERHADAP NILAI KADAR AIR IKAN LALOSI (Casio sp.) ASIN KERING Jilian Risky Huwae; Trijunianto Moniharapon; Meigy Nelce Mailoa
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.196-203

Abstract

Mendukung terwujudnya lumbung ikan nasional di Maluku,maka perlu peningkatan mutu poduk olahan perikanan tradisonal. Salah satu produk perikanan tradsional yang digemari masyarakat maluku yaitu ikan asin. Pemerintah Indonesia telah menetapkan ikan asin sebagai salah satu dari sembilan bahan pokok masyarakat. Kadar air produk olahan perikanan yang rendah dapat mengakibatkan perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim penyebab pembusukan akan terhambat, sehingga waktu simpan akan lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode aplikasi serbuk biji atung yang dihubungkan dengan nilai kadar air produk. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode aplikasi serbuk atung dalam pembuatan produk ikan asin berpengaruh terhadap nilai kadar air. Semprotan dengan larutan serbuk atung 15% sebanyak 2 kali pada proses penjemuran ikan lalosi menghasilkan nilai kadar sebesar 27, 27% ; perendaman bertingkat ikan lalosi dengan kombinasi sebuk atung 10% dan garam 10% menghasilkan nilai kadar air sebesar 28,35% ; pelumuran serbuk atung 5% dan garam 5% menghasilkan kadar air sebesar 29,30 %. Berdasarkan SNI 8273:2016 untuk kadar air produk ikan asin yang diberi perlakukan serbuk biji atung tenyata memiliki mutu yang baik
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG IKAN SEPAT SIAM (Trichogaster pectoralis) TERHADAP KUALITAS KUE AKAR PINANG Agustiana Agustiana; Siti Aisyah
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.204-209

Abstract

Ikan sepat siam merupakan salah satu ikan lokal Kalimantan Selatan dan memiliki sumber protein yang cukup tinggi. Selain dijual dalam keadaan segar, juga biasa dijual dalam bentuk olahan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui persentase tepung ikan sepat siam terbaik berdasarkan kualitas kue akar pinang dengan perlakuan penambahan tepung ikan sepat siam. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan penambahan tepung ikan sepat siam sebanyak 0; 2,5; 5 dan 7,5%. Parameter yang diamati adalah uji kadar air, kadar protein, kadar abu, kadar lemak, dan kadar karbohodrat, serta uji organoleptik. Penambahan tepung ikan sepat siam pada produk akar juga menghasilkan rasa yang disukai panelis dibandingkan dengan perlakuan yang tanpa penambahan tepung ikan sepat siam
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PENURUNAN KUALITAS CAKALANG Christina Litaay; Daniel D Pelasula
Pattimura Proceeding 2020: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/PattimuraSci.2020.SNPK19.210-220

Abstract

Penurunan kualitas ikan disebabkan oleh teknik penanganan yang salah. Kerusakan terhadap cakalang akan menyebabkan degradasi organoleptik, sehingga perlu adanya pemecahan untuk menyelesaikan masalah kualitas cakalang. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab penurunan kualitas ikan di atas kapal. Studi tentang kualitas tuna cakalang dilakukan di perairan Seram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan strategi kuantitatif (teknik observasi lapangan). Analisis data untuk menyusun masalah kemunduran oleh nelayan pole and line dilakukan melalui pendekatan analisis diagram tulang ikan dengan mengidentifikasi faktor manusia, metode, lingkungan, bahan dan alat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kualitas ikan disebabkan oleh manusia yang terdiri dari pendidikan dan keterampilan, metode yang terdiri dari mencuci dan penyimpanan dingin, lingkungan yang terdiri dari pembersihan dan higienis, bahan dan alat yang terdiri dari wadah dan es