cover
Contact Name
Syakieb Sungkar
Contact Email
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Phone
+62811101722
Journal Mail Official
jurnal.dekonstruksi@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tebet Mas Indah III Blok E No. 40 Tebet Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 13115
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dekonstruksi
Published by Gerakan Indonesia Kita
ISSN : 27746828     EISSN : 2797233X     DOI : 10.54154/dekonstruksi
Jurnal Dekonstruksi is a scientific journal published by Gerakan Indonesia Kita (GITA). This journal publishes scientific articles and research reports on the study of philosophy, art, social science, and cultural studies forth times a year.
Articles 257 Documents
Kembali ke Kant: Metafisika, Sains dan Proyek Filsafat Transendental Sitorus, Fitzerald Kennedy
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.252

Abstract

Berpikir adalah menyatukan data-data indrawi ke dalam satu kesadaran. Melalui sintesis antara intuisi dan pikiran, pengetahuan menjadi mungkin. Tanpa keterberian obyek-obyek indrawi melalui intuisi, maka tidak ada yang dapat dipikirkan menjadi pengetahuan. Pengetahuan selalu merupakan sintesa antara berbagai macam intuisi (materi pengetahuan) dan kategori-kategori transendental (forma pengetahuan). Pikiran tidak lain dari fungsi atau sintesa yang dilakukan oleh bermacam kategori atas intuisi indrawi yang ditawarkan kepadanya. Berpikir adalah mensintesakan atau memberi bentuk terhadap data-data indrawi yang terberi. Artinya, pengetahuan hanya mungkin mengenai obyek empiris. Kant mengatakan, pikiran tanpa isi adalah kosong, intuisi tanpa konsep adalah buta.
Telisik Seruak Fotografis dalam Karya Eksperimental Krishnamurti Suparka Bolo, Andreas Doweng; Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.253

Abstract

Sejak proses fotografi analog ditemukan pada tahun 1822 oleh Joseph Nicéphore Niépce, persoalan ontologis dan epistemologis medium tersebut tidak pernah tuntas. Berbagai tawaran status pun dilekatkan pada fotografi dengan tujuan mendapatkan satu fondasi teoretik kokoh yang dapat menjawab pertanyaan mendasar seperti “apa itu fotografi” dan “bagaimana fotografi bekerja”. Problematika ini menjadi semakin kompleks saat fotografi digital dan kecerdasan buatan muncul. Konstruksi teori yang rapuh membuat jawaban definitif tentang disposisi fotografi menjadi semakin sulit untuk diraih. Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah bangun pewacanaan yang menggamit sofistikasi persoalan semacam ini dengan menggunakan pendekatan seruak (emergence) sebagai titik awal. Upaya mengurai benang kusut diskursus fotografi ini kemudian dibenturkan dengan sebuah upaya eksperimental dari Krishnamurti Suparka dalam pameran dengan pendekatan proses dari bulan Maret hingga April 2024 di Galeri Orbital, Bandung. Dari telisik yang dipaparkan di makalah ini ditunjukkan bahwa seruak fotografis (terutama dari pendekatan Kant-Hawking) dalam karya Suparka berada dalam tahap formatif, yang sudah memberi ruang pada, tetapi masih menyisakan catatan panjang tentang kemenyeruakan sebuah karya.
Fenomenologi Estetika pada Bahasa Rupa Anak Ismurdiyahwati, Ika
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.254

Abstract

Pada kajian Fenomenologi Estetika saat ini, sudah dapat mempergunakan pendekatan keilmuan lain yang berhubungan dengan analisa gambar, termasuk gambar-gambar tunggal yang dirangkai, seperti slide video, komik dan gambar-gambar seri yang menampilkan unsur ‘gerak’ pada aspek bercerita. Awal dari keberadan bahasa rupa bercerita ini, oleh penulis, dengan mengujinya pada pembacaan relief candi Plaosan Lor, Gambar motif Lampion Damar Kurung, gambar Anak-anak. Kemudian pada perkembangan selanjutnya pada gambar-gambar bayangan hasil dari aspek gerak/‘sabetan’ wayang kulit yang dimainkan dalang, lalu pada aspek gerak kegiatan anak-anak yang berada di kampung-kampung kota. Sebelumnya pada penemuannya oleh Primadi Tabrani, bahasa rupa diujikan pada relief candi Borobudur dan gambar-gambar pada kain kulit kayu Wayang beber, dan juga pada gambar anak-anak di era yang berbeda. Uji analisis menggunakan metoda kualitatif deskripsi dan bermula dari grammar of television’s picture (Zoom out/In), yang dikembangkan menjadi bahasa rupa bercerita. Kemudian, dari aspek ‘gerak’ tersebut dapat dipelajari lebih lanjut, bahwa ternyata terdapat aspek fenomena estetik pada karya anak-anak, karena gambar-gambar anak sebenarnya/aslinya merupakan gambar-gambar naratif yang dapat dideskripsikan. Menggunakan struktur artistik yang dibangun melalui persepsi imajinasinya, dan semuanya membawa aspek “gerak” agar dapat diceritakan.
Sie Djin Koei, Komik Silat Indonesia Awal Mula Sungkar, Anna
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.255

Abstract

Pada tahun 1952, ketika Indonesia belum lama merdeka, diterbitkan komik silat Sie Djin Koei yang diciptakan oleh seorang pelukis kenamaan bernama Siauw Tik Kwie. Komik itu menangguk sukses sehingga dapat meningkatkan oplag mingguan Star Weekly, penerbitnya, sampai mencapai 45.000 eksemplar, sebuah angka yang sangat besar ketika itu. Komik Sie Djin Koei merupakan komik pertama produksi lokal bergaya silat Cina. Dan menjadi inspirasi komik silat Indonesia di tahun-tahun sesudahnya. Komik Sie Djin Koei walaupun sangat terkenal, namun belum banyak ditulis orang secara ilmiah. Tulisan ini ingin membahas bagaimana strategi Siauw Tik Kwei menciptakan komik yang indah itu sehingga menjadi ikon generasi tahun 50an dan sesudahnya.
Personalisasi Diri dan Dunia sebagai Jati Diri Manusia: Pengembangan dari Dekonstruksi terhadap Analisis Diri Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.256

Abstract

Artikel ini memberikan sebuah cara pandang baru terhadap realitas diri manusia. Cara pandang ini dihasilkan melalui pengembangan dari dekonstruksi terhadap analisis diri manusia. Analisis terhadap diri dibangun atas pandangan bahwa di dalam diri manusia terdapat pertentangan-pertentangan (resistances). Sedangkan dekonstruksi menunjukkan bahwa pertentangan itu tidak terjadi pada realitas diri manusia, tapi pada penggambarannya di dalam bahasa yang bersifat biner. Alhasil, dekonstruksi terhadap diri manusia hanya menyingkapkan atau membongkar kerangka pertentangan (biner) yang ada di dalam bahasa. Oleh karenanya, artikel ini menyuguhkan sebuah pandangan baru terhadap diri manusia dengan sedikit-banyaknya mengikuti kerangka dekonstruksi.
Konstitusi dan Undang Undang Omnibus Law Febrianto, Roni
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.257

Abstract

Konstitusi adalah sesuatu yang mendahului suatu pemerintahan, karena pemerintahan adalah wujud dari konstitusi. Filsafat dapat menyederhanakan masalah beragam konsep manusia dalam Konstitusi Indonesia, sebagai sumbangan konkret atas ilmu-ilmu sosial. Undang Undang Omnibus Law Indonesia telah menjadi perbincangan di kalangan akademisi dan praktisi hukum. Dari 3 (tiga) Undang Undang Omnibus Law yang dipaksakan untuk disahkan oleh DPR RI dan Pemerintah mulai dari UU Cipta Kerja, UU HPH dan UU Kesehatan terindikasi memberikan karpet merah pada para investor dan berdapak semakin menindas kelas pekerja. Hukum sejatinya mempunyai tiga nilai, yaitu keadilan, kemanfaatan hukum, dan kepastian hukum. Proses judicial review atas Undang Undang Omnibus Law di Mahkamah Konsitusi belum juga bisa menjadi harapan bagi rakyat mendapatkan keadilan.
Natalitas Politik: Kelahiran Manusia Politik Dalam Teori Politik Hannah Arendt Tuwanakotta, Jacqueline
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.258

Abstract

Pembahasan tentang teori politik Hannah Arendt, seringkali dimulai dengan melihat perbedaan antara kondisi yang politis dan apolitis, seperti pembahasan tentang kekuasaan dan sistem politik dalam suatu negara. Sementara itu, peristiwa politik selalu melibatkan pelaku politik yaitu manusia itu sendiri. Manusia sebagai pelaku politik memiliki peran penting bukan saja ketika dia masuk dalam ruang publik melainkan dimulai sejak dia lahir. Hannah Arendt mengatakan tindakan manusia sangat berhubungan erat dengan kondisi natalitas atau kelahirannya di dunia. Artinya, kondisi natalitas sebagai permulaan baru yang melekat dalam kelahiran, dapat dirasakan di dunia hanya bila seorang pendatang baru mempunyai kapasitas untuk memulai sesuatu yang baru, yaitu bertindak (action). Artikel ini akan membahas tentang kondisi natalitas manusia yang menjadi dasar penting dalam teori politik Hannah Arendt. Pembahasan ini akan dimulai dengan mengupas tentang proses natalitas manusia ke dunia serta keberadaannya di dunia yang memiliki kepedulian pada sesama (neighbour), sampai kepada keterlibatan manusia di ranah publik untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia politik.
Eksplorasi Konsep Lukisan Intuisi Sebagai Konsep Berkarya Lukis Wiratno, Tri Aru
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.259

Abstract

Eksplorasi intuisi dalam lukisan, khususnya melalui karya-karya Nashar, Srihadi Soedarsono, Ahmad Sadali, dan Mochtar Apin, menggambarkan sebuah jalur unik untuk menginterpretasikan realitas internal dan eksternal. Makalah ini menggali konsep lukisan intuitif sebagaimana resonansinya dengan pandangan filosofis Henry Bergson, yang menekankan intuisi sebagai metode pemahaman yang lebih dalam dan langsung dibandingkan dengan analisis rasional atau intelek. Dengan membandingkan pendekatan intuitif dari para seniman ini dengan teori-teori Bergson, penelitian ini menyoroti potensi transformatif intuisi dalam penciptaan seni, menawarkan wawasan lebih dalam tentang proses kognitif yang mendasari ekspresi artistik. Temuan menunjukkan bahwa lukisan intuitif tidak hanya memperkaya representasi visual subjek tetapi juga meningkatkan keterlibatan emosional dan intelektual penonton dengan seni.
Estetika Grafiti dan Mural di Ruang Publik Jabaril, Rahmat
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.260

Abstract

Setiap kita datang ke Jogja, Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya, selalu disuguhkan mural dan grafiti di dinding-dinding kotanya. Tidak mengherankan tentunya, karena pertumbuhan seni rupa dewasa ini sudah menjadi daya tarik dalam perubahan estetika kota. Kesungguhan manifestasi seni di dalam perkembangan kota, tidak bisa dinafikan perannya dalam gestur sosial kota yang dinamik. Realitas tersebut melaju pada pembentukan estetika jalanan yang geliatnya begitu kuat. Karena kehadiran seni grafiti dan mural sangat dinamik, maka diskursus mengenai seni jalanan bermunculan. Peran mural dan grafiti adalah merepresentasikan nilai-nilai dari warga kotanya yang berelasi pada tanda-tanda kebudayaan global, cerminan wajah sebuah kota dan keterbukaan pemikiran warganya itu sendiri.
Metafora Paul Ricoeur Sungkar, Syakieb
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.261

Abstract

Paul Ricoeur merupakan seorang filsuf Prancis yang mempunyai pandangan mendalam tentang penggunaan metafora. Bagi Ricoeur, metafora bukan sekadar alat linguistik untuk menggambarkan sesuatu dengan cara yang tidak literal, tetapi juga memiliki dimensi filosofis yang penting. Metafora bagi Ricoeur adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara bahasa dan pemahaman kita terhadap dunia.