cover
Contact Name
Agustinus Konda Malik
Contact Email
aguskondamalik@staf.undana.ac.id
Phone
+6281237987345
Journal Mail Official
jurnalpeternakan@undana.ac.id
Editorial Address
Jl. Adisucipto Penfui, Kupang Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Peternakan Lahan Kering
ISSN : -     EISSN : 27147878     DOI : -
Jurnal Peternakan Lahan Kering (JPLK) menerbitkan artikel hasil penelitian yang meliputi Produksi ternak, Pakan dan nutrisi ternak, Reproduksi dan pemuliaan ternak, Teknologi hasil ternak, Sosial ekonomi peternakan, dan Kesehatan ternak
Articles 201 Documents
Hubungan antara karakteristik peternak dengan jumlah ternak sapi potong penggemukan di kecamatan amarasi timur kabupaten kupang Hugo Irenius Nitti; Johanes G. Sogen; Solvi M. Makandolu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui bentuk hubungan antara karakteristik peternak dengan jumlah ternak sapi potong penggemukan di Kecamatan Amarasi Timur Kabupaten Kupang, telah dilaksanakan pada bulan Desember 2017 sampai Januari 2018. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi dan analisis regresi. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui erat tidaknya hubungan antara satu variabel dengan variabel lain sementara analisis regresi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain dengan model regresi yang digunakan adalah regresi linear berganda. Untuk pengambilan contoh dilakukan melalui dua tahap yaitu penentuan desa contoh dilakukan secara sensus. Penentuan peternak contoh yang dilakukan secara acak proporsional bagi peternak yang memelihara ternak kurang dari 5 ekor, dan secara sensus untuk peternak yang memelihara ternak sapi 5 ekor atau lebih. Jumlah peternak contoh yang dilibatkan sebanyak 60 orang. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 3 faktor yang mempunyai hubungan yang nyata dengan jumlah ternak sapi potong penggemukan yaitu pendidikan (Di), tenaga kerja (X5), dan modal usaha (X6). Dari ketiga faktor tersebut yang berpengaruh nyata terhadap jumlah ternak yang digemukkan (P<0,05) adalah faktor pendidikan (Di) dan modal usaha (X6). Kata kunci: karakteristik peternak, penggemukan sapi, hubungan ABSTRACT A survey aimed at evaluating the correlation between farmers characteristic and the amount of beef fattening cattle in AmarasiTimur District Regency of Kupang was carrted out in December 2017 to Januari 2018. Sampling is done through two stages: the first determination of village sample was done by cencus, and the second the determination of farmers by applying proportional random sampling for breeders who keep beef cattle less than five heads, and cencus for breeeders who raise five heads or more. The amount of breeders involved aresixthy people. The analysis was performed by using correlation analysis and multiple linear regression analysis. The result showed that there are three factors that have a significant correlation with the number of beef cattle fattening ie; education (Di), labor (X5), and capital (X6). From the three factors stated the educational (Di) factor and capital (X6) had a significant effect on the number of beef cattle fattened (P<0.05). Keywords: Farmer characteristic, Fattening beef cattle, Correlation
Pengaruh konsentrasi dan lama perendaman dalam kapur pada proses pembuatan kerupuk kulit sapi bali Paulus Eibilius J. Eho; Bastari Sabtu; Heri Armadianto
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.132 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan lama perendaman dalam larutan kapur terhadap pada proses pembuatan kerupuk kulit sapi. Bagian kulit sapi segar yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari bagian punggung (croupon) yang akan dijadikan materi penelitian. Rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2x3. Faktor A konsentrasi kapur (A1 = 0,2 % A2 = 0,4% A3 = 0,6%) faktor B lama perendaman dalam kapur ( B1= 18 jam B2 = 24 jam B3 = 36 jam). Variabel yang diuji adalah volume pengembangan, kadar protein dan organoleptik yang terdiri dari kerenyahan, bentuk, warna, dan rasa. Data volume pengembangan kerupuk kadar protein di analisis mengunakan analisis variansi dan di lanjutkan uji Duncan, Sedangkan organoleptik dianalisis menggunakan analisis Kruskal wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menyatakan adanya interaksi (P<0,05) antara konsentrasi dan lama perendaman dalam kapur terhadap kerenyahan dan rasa kerupuk.. interaksi tidak berpengaruh ( P>0,05 ) terhadap volume pengembangan, kadar protein, warna dan untuk kerenyahan kulit sapi. Disimpulkan, interaksi antara 0,4% larutan kapur dengan lama perendaman 36 jam menghasilkan kerenyahan dan rasa terbaik. Volume pengembangan, kadar protein, warna dan bentuk kerupuk relatif sama untuk kombinasi perlakuan Kata kunci: konsentrasi kapur, lama perendaman, kerupuk kulit. ABSTRACT The study aims to evaluate the effect of concentration and soaking time in lime solution on the process of making cow hide crackers. The fresh part of the cow hide used in this study comes from the back (croupon), which is used as research material. Complete randomized design (RAL) 2x3 factorial pattern. Factor A Concentration of lime (A1 = 0.2% A2 = 0.4% A3 = 0.6%) Factor B soaking time in lime (B1 = 18 hours B2 = 24 hours B3 = 36 hours). The variables tested were volume development, protein and organoleptic levels consisting of crispness, shape, color and taste. Volume expand data from protein-containing crackers were analyzed using the analysis of variance and the continued Duncan test, while the organoleptics were analyzed using the Kruskal-Wallis analysis and followed by the Mann-Whitney test. The results of the study stated an interaction (P <0.05) between concentration and immersion of the lime in crispness and cracker flavor. The interaction had no effect (P> 0.05) on volume expand, protein content, color and crispness of the diet cowhide. It was concluded that the interaction between 0.4% lime solution and 36 hour expand time produced the best crispness and taste. The volume of development, the protein content, the color and the shape of the crackers are relatively similar for a combination of treatments Key words: lime, soaking, cowhide, crackers.
Pengaruh Penggunaan Tepung Krokot (Portulaca Oleracea L.) dalam Ransum Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Protein dan Energi Ternak Babi Peranakan Landrace Fase Grower – Finisher Yohana Monita Saina; Johanis Ly; Tagu Dodu; I Made Suaba Aryanta
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 2 No. 2 (2020): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.53 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan tepung krokot (Portulaca oleracea L) dalam ransum basal terhadap konsumsi dan kecernaan protein dan energi ternak babi landrace fase grower-finisher. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi peranakan landrace, berumur 4–5 bulan dengan bobot badan awal 65–77kg dengan rataan 72,42kg (KV=25,47%).Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan terdiri dari: R0: 100% ransum basal tanpa tepung krokot (kontrol), R1: 95% ransum basal + 5% tepungkrokot, R2: 92,5% ransum basal + 7,5% tepungkrokot, R3: 90% ransum basal + 10% tepung krokot. Variabel yang diteliti adalah konsumsi dan kecernaan protein dan energi. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan tepung krokot dalam ransum basal berpengaruh nyata (P<0,05) dalam meningkatkan konsumsi dan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi energi dan kecernaan protein dan kecernaan energy pada ternak babi fase grower-finisher. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa penggunaan tepung krokot 5% 7,5% dan 10% dalam ransum basal meningkatkan konsumsi protein namum memberikan hasil yang relatif sama terhadap konsumsi energi, kecernaan protein dan kecernaan energi ternak babi fase grower-finisher. Kata kunci: Babi, krokot, protein, energi. konsumsi, kecernaan The study aimed at evaluating the effect of including Purslane (Portulaca oleracea L) leves meal into basal diet on intake and digestibility of protein and energy in grower-finisher landrace pig. There were 12 grower-landrace pigs 4-5 months of age with 65-77 (average 72.42) kg and CV 23.4% initial body weight used in the study. Trial method using block design 4 treatments with 3 replicates procedures used in the study. The 4 diet formulas offered in the feeding trial.: R0: 100% basal diat without purlane leaves meal (control); R1: 95% basal diet + 5% Purslane leaves meal; R2: 92.5% basal diet + 75% purslane leaves meal; and R3: 90% basal diet + 10% Purslane leves meal. Variable studied were: intake and digestibility of protein and energy. Statistical analysis result shows that effect of including Puslane leaves meal into basal diet is not significnt (P>0.05) on either intake or digestibility of either protein or energy in the pig. The conlusiaon is that including Purslane leaves meal into basal diet performs the similar results in both intake and digesibility of both Protein and energy in grower-finisher landrace pig. Key words: pig, Purslane, protein, energy, intake, digestibility
Pengaruh penambahan tepung kunyit dalam ransum basal terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada babi Kasmirus Asa; Ni Nengah Suryani; Tagu Dodu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung kunyit dalam ransum basalterhadap konsumsi dankecernaan bahan kering dan bahanorganik babi peranakan landrace. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi betina peranakan landrace yang berumur 2 – 3 bulan dengan berat badan awal 8,5 – 15 kg (CV = 23,32%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dantiga ulangan.Perlakuan yang dicobakan adalah R0 (ransum basal tanpa tepung kunyit), R1 (ransum basal + tepung kunyit 0,25%), R2 (ransum basal + tepung kunyit 0,50 %), dan R3 (ransum basal + 0,75%). Variabel yang diteliti adalah konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organic, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahanorganik.Analisis statistikmenunjukkan bahwa perlakuaan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dankecernaan bahan kering dan bahanorganik pada babi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan tepung kunyit 0,25 – 0,75% memberikan respon yang relatif sama. Oleh karena itu disarankan untuk melaksanakan penelitian lanjutan pada ternak babi peranakan landrace dengan meningkatkan persentase kunyit. Kata kunci : ternak babi, ransum basal, tepung kunyit ABSTRACT The study aimed at evaluating the effect of supplementing Curcuma meal in basal diet on intake and digestibility of dry and organic matter of pigs. There were 12 crossbred landrace gilts of 2-3 months of age with 8.5-15 kg (CV 23.3%) initial body weight used in the study. This study used a randomized block design 4 treatments with 3 replications. The Treatments offered were: R0(basal feed without Curcuma meal); R1 (basal feed with 0.25%Curcuma meal); R2 (basal feed with 0.50% Curcuma meal); and R3 (basal feed with0.75% Curcuma meal). Variable measured were: intake and digestibility dry matter and organic matter on pigs. Statistical analysis showed that effect of treatment is not significant (P>0.05) on either intake or digestibility of dry or organic matter. The conclusion is that supplementing 0.25 – 0.75% Curcuma meal into basal diet performs the similar results in intake and digestibility of dry and organic matter. Further study is needed by increasing the level of including Curcuma meal into basal diet. Key words: pigs, basal diet, curcuma meal
Pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot (Achatina fulica) dalam ransum terhadap kecernaan nutrisi babi lokal Marice Yosefa Wea; Winfrit A. Lay; Johanis Ly
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot dalam ransum sebagai sumber protein terhadap kecernaan nutrisi babi lokal telah dilaksanakan di Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTT selama 10 minggu, yang terdiri dari 2 minggu masa penyesuaian dan 8 minggu pengambilan data. Dalam penelitian ini menggunakan 12 ekor ternak babi lokal jantan fase pertumbuhan umur 5 bulan, dengan kisaran berat berat badan awal 5,00 - 6,60kg, dengan rata-rata 5,68 kg (KV = 5,23%). Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan mengikuti prosedur rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu: 0% tepung bekicot dalam ransum selaku control, 3%, 6%, dan 9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot mampu meningkatkan (P<0,01) kecernaan serat kasar dan protein kasar. Sementara kecernaan bahan kering dan bahan organik realatif sama (P>0,05). Dengan demikian dapat diisimpulkan bahwa tepung bekicot dapat digunakan sebagai komponen penyusun ransum hingga level 9% dengan kecernaan serat kasar dan protein kasar tertinggi. Kata kunci: Babi lokal, tepung ikan, tepung bekicot, kecernaan nutrien ABSTRACT The study aimed at evaluating the effect of substituting fish meal with snail (Achatina fulica) meal on nutrient digestibility in local pig was carried out in Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTTfor 10 weeks consisting of 2 weeks adaptation and 8 weeks data collection periods. There were 12 local boars of 5 months of age with 5.0-6.6 kg (CV = 5,23%) initial body weight used in the study. Completely randomized design 4 treatment with 3 replicates procedures were applied in the study. The 4 treatments applied were formulated as: diet with 0% snail meal; diet with snail meal substituting 3% fish meal;diet with snail meal substituting 6% fish meal; anddiet with snail meal substituting 9% fish meal. The result showed that effect of treatment is highly significant (P<0.01) on crude fiber and crude protein digestibility, but not significant (P>0.05) on either dry matter or organic matter digestibility. The conclusion is that snail meal can substitute fish meal up to 9% in pig diet and it performed the highest both crude fiber and crude protein digestibility. Penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot dalam ransum sebagai sumber protein terhadap kecernaan nutrisi babi lokal telah dilaksanakan di Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTT selama 10 minggu, yang terdiri dari 2 minggu masa penyesuaian dan 8 minggu pengambilan data. Dalam penelitian ini menggunakan 12 ekor ternak babi lokal jantan fase pertumbuhan umur 5 bulan, dengan kisaran berat berat badan awal 5,00 - 6,60kg, dengan rata-rata 5,68 kg (KV = 5,23%). Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan mengikuti prosedur rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu: 0% tepung bekicot dalam ransum selaku control, 3%, 6%, dan 9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung bekicot mampu meningkatkan (P<0,01) kecernaan serat kasar dan protein kasar. Sementara kecernaan bahan kering dan bahan organik realatif sama (P>0,05). Dengan demikian dapat diisimpulkan bahwa tepung bekicot dapat digunakan sebagai komponen penyusun ransum hingga level 9% dengan kecernaan serat kasar dan protein kasar tertinggi. Kata kunci: Babi lokal, tepung ikan, tepung bekicot, kecernaan nutrien The study aimed at evaluating the effect of substituting fish meal with snail (Achatina fulica) meal on nutrient digestibility in local pig was carried out in Desa Le’un Tolu Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu-NTTfor 10 weeks consisting of 2 weeks adaptation and 8 weeks data collection periods. There were 12 local boars of 5 months of age with 5.0-6.6 kg (CV = 5,23%) initial body weight used in the study. Completely randomized design 4 treatment with 3 replicates procedures were applied in the study. The 4 treatments applied were formulated as: diet with 0% snail meal; diet with snail meal substituting 3% fish meal;diet with snail meal substituting 6% fish meal; anddiet with snail meal substituting 9% fish meal. The result showed that effect of treatment is highly significant (P<0.01) on crude fiber and crude protein digestibility, but not significant (P>0.05) on either dry matter or organic matter digestibility. The conclusion is that snail meal can substitute fish meal up to 9% in pig diet and it performed the highest both crude fiber and crude protein digestibility. Key words: local pig, fish meal, snail meal, nutrient digestibility.
Pengaruh Lama Waktu Hidrolisis Filtrat Abu Sekam Padi (FASP) pada Batang Pisang Terhadap Nilai Kecernaan Secara In Vitro Yolantri Destiani Lapudooh; Luh Sri Enawati; Daud Amalo
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 2 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.783 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama waktu hidrolisis filtrat abu sekam padi (FASP) pada batang pisang terhadap nilai kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organic (KcBO), volatile fatty acid (VFA), konsentrasi NH3 dan pH secara in vitro. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah: P0 = Batang Pisang Tanpa hidrolisis FASP; P1 = Batang Pisang Hidrolisis FASP 1 minggu; P2 = Batang Pisang Hidrolisis FASP 2 Minggu; P3 = Batang Pisang Hidrolisis FASP 3 Minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa KcBK R0 (61,27 ± 0,442%), R1 (62,95 ± 1,52%), R2 (63,52 ± 1,182%), R3 (64,73 ± 0,75%), KcBO R0 (57,44 ± 0,66%), R1 (58,56 ± 0,96%), R2 (60,50 ± 0,81%), R3 (59,56 ± 1,35%), VFA R0 (80,22 ± 11,17mM/L), R1 (118,51 ± 5,82mM/L), R2 (123,84 ± 2,59mM/L), R3 (127,46 ± 15,78mM/L), konsentrasi NH3 R0 (4,98 ± 0,58mM/L), R1 (6,55 ± 1,02mM/L), R2 (7,17 ± 0,70mM/L), R3 (7,09 ± 0,52mM/L), pH R0 (6,83 ± 0,06), R1 (6,80 ± 0), R2 (6,67 ± 0,15), R3 (6,57 ± 0,06). Hasil analisis statistik menunjukkan perlakuan berpangaruh nyata (P<0,05) terhadap KcBK, KcBO, VFA, NH3, pH. Disimpulkan bahwa lama waktu hidrolisis FASP pada batang pisang yang terbaik adalah 2 minggu oleh karena memberikan KcBK, KcBO, total VFA, konsentrasi NH3 tertinggi dan pH yang normal. Kata kunci: pisang, filtrat abu, sekam, kecernaan, fermentasi, in vitro The purpose of this study is to evaluate the effect of hydrolysis time duration of rice husk ash filtrate (RAHF) on banana stems on dry matter digestibility (DMD), organic matter digestibility (OMD), VFA, NH3 concentration and pH in vitro. The method used is experimental method using completely randomized design (CRD) 4 treatments with 3 replicates. The treatments applied were: P0 = Banana Stem without RAHF hydrolysis; P1 = Banana Stem Hydrolysed RAHF 1 week; P2 = Banana Stem Hydrolysed RAH 2 Weeks; P3 = Banana Stem Hydrolysed RAH 3 Weeks. The resulsts obtained were: DMD R0 (61.27 ± 0.442%); R1 (62.95 ± 1.52%); R2 (63.52 ± 1.182%), and R3 (64.73 ± 0.75%); OMD R0 (57.44 ± 0.66%), R1 (58.56 ± 0.96%), R2 (60.50 ± 0.81%), and R3 (59.56 ± 1.35%); VFA R0 (80.22 ± 11.17mM/L), R1 (118.51 ± 5.82mM/L), R2 (123.84 ± 2.59mM/L), and R3 (127.46 ± 15.78mM/L); NH3 concentration R0 (4.98 ± 0.58mM/L), R1 (6.55 ± 1.02mM/L), R2 (7.17 ± 0.70mM/L), and R3 (7.09 ± 0.52mM/L); pH R0 (6.83 ± 0.06), R1 (6.80 ± 0), R2 (6.67 ± 0.15), and R3 (6.57 ± 0.06). The data obtained were analused using analysis of variance (ANOVA). Statistical analysis shows that the effect treatment is significant (P <0.05) on DMD, OMD, VFA, NH3, pH. The conclusion is that the best hydrolysis time of RAH is 2 weeks with the highest DMD, OMD, total VFA, and NH3 concentration and normal pH. Keywords: banana stems, rice husk, digestibility, fermentation, in vitro
Komposisi botani dan produksi hijauan pakan serta kapasitas tampung padang rumput alam pada musim kemarau di Kelurahan Lelogama Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang Yoseph Arimatia Fobia; Dominggus Benyamin Osa; Herayanti Panca Nastiti
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 2 No. 3 (2020): September
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian telah dilaksanakan di padang penggembalaan alam Kelurahan Lelogama Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang, dengan tujuan untuk mengetahui komposisi botani dan produksi hijauan pakan serta kapasitas tampung padang rumput alam di Kelurahan Lelogama Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang pada musim kemarau. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei, pengukuran dan pengamatan langsung di lapangan. Pengukuran hijauan pakan dilakukan dengan menggunakan bingkai kuadrant 1 x 1 meter, Penempatan bingkai kuadrant pada padang rumput alam dilakukan dengan cara acak dan metode pengukuran summed dominance ratio (SDR) berdasarkan frekuensi (keseringan) dan desinty (kerapatan). Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi hijauan pakan adalah 1,6 kg BS/ha atau 1,23Kg BK/ha dan komposisi botani terdiri dari rumput (95,951%) dan gulma (4,049%) sedangkan legum (0%), dengan kapasitas tampung 0,61 UT/Ha/tahun. Simpulan bahwa padang rumput alam di Kelurahan Lelogama Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang, pada musim kemarau Komposisi Botani didominasi oleh rumput dengan Produksi Hijauan Pakan dan Kapasitas Tampung yang rendah. Kata Kunci: Komposisi Botani, Produksi Hijauan Pakan, Kapasitas Tampung dan Padang Rumput Alam. This research was carried out in the Lelogama natural grassland of Amfoang Selatan Subdistrict, Kupang Regency. The research aimed at determining the botanical composition, forage production and carrying capacity of natural grasslands in Lelogama village, South Amfoang Subdistrict, Kupang Regency during the dry season. The method used in this research is survey method, measurement and direct observation in the field. Forage measurement is done by used frame quadrat 1 x 1 meter and placement of frame quadrat on grassland is done with method summed dominance (SDR) based on frequency (frequency) and density (density). Statistical analysis shows that forage production is 1.6 kg FW/Ha or 1.23 kg DM/Ha and the botanical composition is dominated by (95.951%) grass and (4.049%) weeds. while the legume 0%. with a capacity of able to accommodate (0.06) TU/Ha/year. The conclusion is that the Composition of Botany, Forage Production and carrying capacity of Natural Grasslands in Lelogama Village, Amfoang Selatan Subdistrict, Kupang Regency in the Dry Season are very low. Keywords: Botanical Composition, Forage Production, Carrying Capacity, and Natural Grassland.
Pengaruh penggunaan kombinasi tepung ubi ungu dan daunnya serta minyak kelapa menggantikan jagung dalam ransum terhadap performans dan konsumsi air ayam broiler Maria Irmayani Seran; Sutan Y.F.G. Dillak; Jonas F. Theedens
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 3 (2019): September
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.333 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan di kandang ayam penelitian Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana selama 4 minggu dari tanggl 12 November – 12 Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi ubi, daun ubi ungu ( Ipomoea batatas L ) serta minyak kelapa sebagai pengganti jagung dalam ransum terhadap konsumsi air, konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum broiler. Dalam penelitian ini digunakan 96 ekor ayam pedaging. Metode yang digunakan adalah metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah R0 ; 50% jagung + 50% konsentrat, R1 ; 33,33% jagung + 50% konsentrat + 16,67% kombinasi ubi dan daun ubi serta minyak kelapa untuk menggantikan jagung, R2 ; 16,67% jagung + 50% konsentrat + 33,33% kombinasi ubi dan daun ubi ungu serta minyak kelapa untuk menggantikan jagung, R3 ; 50% konsentrat + 50% kombinasi ubi dan daun ubi ungu serta minyak kelapa untuk menggantikan jagung. Data yang diperoleh di analisi menggunakan Analisis of Variance ( ANOVA ). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum pertambahan bobot badan, konversi ransum. Namun berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi air broiler (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan kombinasi ubi, daun ubi ungu ( Ipomoea batatas L ) dan minyak kelapa sebagai pengganti jagung sebanyak 66,66 % dalam ransum dapat meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum broiler KataKunci : Ubi ungu, minyak kelapa, performan, water intake
Pengaruh penggunaan berbagai konsentrat Dalam pakan berbasis pollard terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi fase starter Nino Janry Dalle; Johanis Ly; Sabarta Sembiring
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pengaruh penggunaan 3 jenis konsentrat (KGP 709, Hi-Grow, Menara dan campuran ketiganya), terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi kastrasi peranakan landrace berumur 1,5-2 bulan dengan berat badan awal 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas empat perlakuan, R1: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (25%), R2: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (25%), R3: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Menara (25%), R4: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (8,3%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (8,3%) + Konsentrat Menara (8,3%). Variabel yang diteliti adalah: konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penggunaan 3 jenis konsentrat dan campuran ketiga konsntrat tersebut dalam pakan berbasis pollard menghasilkan kececernaan yang relatif sama dan penggunaan ketiganya secara bersama (R4) secara empiris memberikan hasil yang relatif lebih baik. Disarankan agar penggunaan pollard harus ditambahkan konsentrat sesuai standar pemberian dan umur babi yang tepat dan akan lebih baik dalam bentuk campuran beberapa jenis konsentrat. Kata kunci : Konsentrat, Konsumsi, Kecernaan, Bahan Kering, Bahan Organik, babi ABSTRACT The study was carried out for 8 weeks: June 17 to August 26, 2018. The study aimed at evaluating the effect of including 3 different concentrate feeds (KGP 709, Hi-Grow, Menara and their mixture) into pollard based-feeds on dry and organic matter intake and digestibility in pig. There were 12 landrace crossbred barrows 1.5-2 months old with 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%) initial body weight. Complete block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the study. The 4 treatment feeds were formulated as: R1: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (25%); R2: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Hi-Grow 152 (25%); R3: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Menara (25%); and R4: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (8.3%) + consentrat Hi-Grow 152 (8.3%) + concentrate Menara (8.3%). The variable studied were: dry and organic matter intake and digestibility in pig. The results show that effect of treatment is not significant (P>0,05) on either intake or digestibility of either dry matter or organic matter in pig. The conclusion is that including the 3 different concentrates and their mixture perform the similar result in both intake and digestibility of both dry matter and organic matter in pig, which empiricaly the mixture (R4) relatively performs higher results. It is advisavle to include feed contrate in pollard-based feeds and would be better in the mixture of concentrates. Key words: concentrate, intake, digestibility, dry matter organic matter, pig Tujuan penelitian ini untuk membandingkan pengaruh penggunaan 3 jenis konsentrat (KGP 709, Hi-Grow, Menara dan campuran ketiganya), terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi kastrasi peranakan landrace berumur 1,5-2 bulan dengan berat badan awal 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas empat perlakuan, R1: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (25%), R2: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (25%), R3: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat Menara (25%), R4: Pollard (50%) + Jagung (25%) + Konsentrat KGP 709 (8,3%) + Konsentrat Hi-Grow 152 (8,3%) + Konsentrat Menara (8,3%). Variabel yang diteliti adalah: konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penggunaan 3 jenis konsentrat dan campuran ketiga konsntrat tersebut dalam pakan berbasis pollard menghasilkan kececernaan yang relatif sama dan penggunaan ketiganya secara bersama (R4) secara empiris memberikan hasil yang relatif lebih baik. Disarankan agar penggunaan pollard harus ditambahkan konsentrat sesuai standar pemberian dan umur babi yang tepat dan akan lebih baik dalam bentuk campuran beberapa jenis konsentrat. Kata kunci : Konsentrat, Konsumsi, Kecernaan, Bahan Kering, Bahan Organik, babi ABSTRACTThe study was carried out for 8 weeks: June 17 to August 26, 2018. The study aimed at evaluating the effect of including 3 different concentrate feeds (KGP 709, Hi-Grow, Menara and their mixture) into pollard based-feeds on dry and organic matter intake and digestibility in pig. There were 12 landrace crossbred barrows 1.5-2 months old with 13,00 – 19,00 kg (KV = 11,09%) initial body weight. Complete block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the study. The 4 treatment feeds were formulated as: R1: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (25%); R2: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Hi-Grow 152 (25%); R3: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate Menara (25%); and R4: Pollard (50%) + corn meal (25%) + concentrate KGP 709 (8.3%) + consentrat Hi-Grow 152 (8.3%) + concentrate Menara (8.3%). The variable studied were: dry and organic matter intake and digestibility in pig. The results show that effect of treatment is not significant (P>0,05) on either intake or digestibility of either dry matter or organic matter in pig. The conclusion is that including the 3 different concentrates and their mixture perform the similar result in both intake and digestibility of both dry matter and organic matter in pig, which empiricaly the mixture (R4) relatively performs higher results. It is advisavle to include feed contrate in pollard-based feeds and would be better in the mixture of concentrates. Key words: concentrate, intake, digestibility, dry matter organic matter, pig
Pengaruh penjatahan pakan dengan porsi yang berbeda Terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi Gunawan Edison Goboy; I Made Suaba Aryanta; Sabarta Sembiring
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penjatahan pakan dengan porsi yang berbeda terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi jantan dan betina peranakan landrace, berumur 4 – 5 bulan dengan bobot badan awal 31kg – 65kg dengan rataan 49,25kg (KV=24%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah R1: ransum yang diberikan 3% dari bobot badan, R2: Ransum yang diberikan 4% dari bobot badan, R3: Ransum yang diberikan 5% dari bobot badan, R4: Ransum yang diberikan 6 % dari bobot badan. Variabel yang diteliti adalah konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil analisis statistika m enunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi bahan kering dan bahan organik dan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penjatahan pakan dengan porsi yang berbeda hingga 6% dari bobot badan memberikan pengaruh yang nyata dalam meningkatkan konsumsi bahan kering dan bahan organik dan memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi. Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat disarankan agar petani peternak dalam pemberian pakan untuk ternak sebaiknya 4%-6% dari bobot badan. Kata kunci: Babi, Penjatahan, bahan kering, bahan organik. ABSTRACT The aimsof the study is to evaluate the effect of different feeding adminstrati levels on intake and digestibility of dry and organic matter in pigs. There were 12 landrace barrow 4 to 5 months old with initial 31kg - 65kg (avg. 49.25 kg; CV = 24%) initial body weight used in the study. Randomized Block Design (RBD) 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the trial. The 4 treatments offered were: R1: feed adminstrated 3% of body weight; R2 4% of body weight; R3: feed adminstrated 5% of body weight; and R4: feed adminstrated 6% of body weight. The variables studied were: dry matter and organic matter intake; and dry matter and organic matter digestibility values. Statistical analysis showed that the effect of treatment was highly significant (P<0.1) on both dry matter and organic matter itake, but no significant (P>0.05) on either dry matter or organic matter digestibility value. The conclusio is that administrationg pig with different feeding levels up to 6% of body weight increase the significantly dry and organic matter intake, but similar in both dry jmatter and organic matter digetibility in pig. The rrecommendation is that farmer can adminstrate pigs with feed 4-6% of body weight. Key words : Pigs, allotment, dry matter, organic matte

Page 8 of 21 | Total Record : 201