cover
Contact Name
Citra Artifiani
Contact Email
citrarti@gmail.com
Phone
+6287825450502
Journal Mail Official
geoplanart.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknik, Perencanaan dan Arsitektur Universitas Winaya Mukti Jl. Pahlawan no.69 Kota Bandung
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Geoplanart
ISSN : 25799193     EISSN : 27755282     DOI : http://dx.doi.org/10.35138/gp.v3i2
GEOPLANART: Wahana Informasi Penelitian Teknik adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik, Perencanaan dan Arsitektur, Universitas Winaya Mukti. Fokus jurnal ini adalah teknik dengan lingkup : 1. Teknik Arsitektur 2. Teknik Lingkungan 3. Teknik Perencanaan Wilayah Kota 4. Teknik Geodesi 5. Teknik Sipil
Articles 68 Documents
PERALIHAN FUNGSI BANGUNAN DI KORIDOR JALAN L.L.R.E MARTADINATA KOTA BANDUNG Tri Wahyu Handayani
GEOPLANART Vol 1, No 1 (2017): Edisi Mei
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.61 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i1.144

Abstract

Koridor jalan L.L.R.E. Martadinata di masa pemerintahan Hindia Belanda merupakan kawasan hunian kolonial dengan mayoritas bangunan berupa rumah tinggal dan villa. Perkembangan ekonomi dan pariwisata di Bandung mengakibatkan banyaknya perubahan fungsi pada bangunan. Elemen fasad bangunan merupakan unsur yang paling mudah diamati bila ada perubahan fungsi bangunan. Pengolahan elemen fasad dan bentuk bangunan pada beberapa kawasan di Bandung terikat oleh peraturan mengenai konservasi kawasan dan bangunan cagar budaya. Saat ini koridor jalan L.L.R.E. Martadinata termasuk ke dalam salah satu kawasan cagar budaya di Bandung dan banyak bangunan-bangunan yang telah mengalami perubahan bentuk dan elemen fasad. Dengan adanya bangunan-bangunan baru dan perubahan elemen fasad bangunan yang terjadi di sana, kawasan Jalan L.L.R.E. Martadinata hendaknya masih memiliki identitasnya sebagai satu kawasan ikonik di kota Bandung meski memiliki fungsi-fungsi bangunan yang telah berubah. Metode yang dilakukan dalam penyelesaian masalah adalah secara deskriptif analitis meliputi metode kualitatif dan kuantitatif dan observasi secara langsung. Diharapkan kajian mengenai peralihan fungsi pada massa bangunan di koridor jalan L.L.R.E. Martadinata dapat menjadi acuan dalam desain bangunan. Selain itu, unsur tambahan sebaiknya adaptif terhadap lingkungan dengan tidak menghilangkan identitas arsitektur asli, sesuai dengan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Evaluasi Kondisi Permukaan Jalan Dengan Metode Road Condition Index (RCI) An an Anisarida
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.747 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.139

Abstract

Ketersediaan jalan sebagai prasarana transportasi dapat menumbuhkan konektivitas antar lokasi dan daerah yang membentuk suatu jaringan transportasi. Konektivitas antara daerah yang satu dengan daerah lain dapat terbentuk dengan adanya berbagai jaringan transportasi antara daerah dapat memungkinkan bagi pemindahan barang dan jasa atau orang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kondisi jalan yang baik dan berdaya guna merupakan tujuan dari setiap perencanaan dan pembangunan prasarana transportasi. Pertumbuhan penduduk yang tinggi menambahkan kondisi jalan yang menurun seiring dengan penurunan kemampuan jalan menurut umur rencana. Kemampuan jalan dalam pemenuhan pelayanan pengguna jalan yang memburuk dapat menyebabkan konektivitas jaringan jalan dalam kota terganggu. Hal ini dapat membuat dampak yang tidak diinginkan baik ketidaknyamanan maupun terjadinya kecelakaan. Sementara itu kebutuhan masyarakat akan value pelayanan dan kenyamanan menjadikan acuan berbagai pihak dalam perwujudan jalan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam menentukan jenis dan tingkat kerusakan pada penelitian ini menggunakan metode Road Condition Index (RCI). RCI adalah salah satu system penilaian yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan  dalam usaha pemeliharaan jalan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode sederhana, yaitu mencatat kondisi perkerasan yang ada setiap 50 meter yang dicatat dan mengisikannya dalam formulir. Berdasarkan hasil survey dan analisa yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut terdapat perbedaan panjang ruas jalan purwakarta yang didapat dari dinas adalah 1867m sedangkan hasil survey adalah 1405 m, hal ini dimungkinkan adanya perbedaan titik sta awal dan sta akhir. Secara pengamatan visual, ruas jalan purwakarta mempunyai nilai rata  rata yang baik dengan nilai SDI adalah 0
Kajian Penentuan Sistem Pusat Pelayanan Kawasan Perkotaan di Kecamatan Jatinangor Achmad Saeful Fasa; Ina Revayanti
GEOPLANART Vol 3, No 2 (2021): EDISI MEI
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.356 KB) | DOI: 10.35138/gp.v3i2.347

Abstract

Perkotaan merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukan oleh kumpulan permukiman dan memiliki fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Jatinangor merupakan kecamatan yang terdapat di Kabupaten Sumedang yang sudah mencirikan Kawasan Perkotaan. Untuk dapat mengoptimalkan perkembangan kawasan perkotaan di Kecamatan Jatinangor, maka sistem pusat pelayanan kawasan perlu diarahkan ke dalam rencana tata ruang kawasan. Metode data pada penelitian menggunakan teknik observasi dan untuk metode analisis yang digunakan pada penelitian menggunakan deskritif kuantitatif. Hasil akhir dari penelitian ini adalah hierarki pusat pelayanan kawasan di Kecamatan Jatinangor yang terdiri dari 12 Desa terbagi kedalam tiga hierarki pusat pelayanan. Hierarki pertama yaitu Pusat Pertumbuhan Kawasan yang terdiri dari Desa Hegarmanah, Cipacing, Sayang, Cikeruh, dan CIbeusi. Kemudian hierarki kedua adalah Pusat Kegiatan Perindustrian yang terdiri dari Desa Cintamulya, Jatimukti, Mekargalih, dan Cisempur.untuk hirari yang ketiga yaitu Pusat Permukiman yang terletak di Desa Jatiroke, Cileles, dan Cilayung. Bentuk struktur Pusat Pelayanan Perkotaan Jatinangor merupakan konsep konsentris, dengan pola perkembangan perkotan berada di tengah-tengah kawasa sebagai daerah pusat kawasan. Bentuk struktur Perkotaan Jatinangor pembangunan konsep konsentris, pola perkembangan kotanya berada di tengah-tengah Perkotaan Jatinangor sebagai daerah pusat Kawasan
Analisis Sinyal Pasang Surut Bumi Menggunakan Metode Kinematic Precise Point Positioning GPS Aning Haryati
GEOPLANART Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1528.863 KB) | DOI: 10.35138/gp.v2i2.188

Abstract

Nilai pergerakan dari hasil penentuan posisi menggunakan GPS dipengaruhi oleh fenomena baik periodik maupun acak. Biasanya sinyal dari fenomena periodik tersebut direduksi dengan model untuk mendapatkan hasil pergerakan permukaan tanah yang sesuai dengan kenyataan. Penelitian ini memproses time series dan analisis spektrum untuk memisahkan sinyal fenomena periodik yaitu pasnag surut bumi dari semua sinyal yang ditangkap oleh GPS berupa data RINEX. Data yang digunakan yaitu data CGPS BAKO bulan Januari tahun 2011. Metodologi analisis perbandingan hasil dengan model digunakan dalam penelitian ini. Metode Kinematic Precise Point Positioning (KPPP) GPS dan perangkat lunak open source RTKLIB digunakan untuk mengolah data RINEX GPS dan plotting hasil baik time series maupun spektrum energi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kesesuaian model pasang surut bumi dari IERS dengan sinyal pasang surut bumi di stasiun CGPS BAKO dan menentukan nilai ambang serta jenis pasang surut bumi di stasiun GPS tersebut. Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa model pasang surut Bumi dari IERS berkesesuaian dengan hasil dari stasiun CPGS BAKO. Nilai tunggang pasang surut Bumi komponen Timur-Barat 0,437, Utara-Selatan 0,234, Atas-Bawah 0,781 meter. Jenis pasang surut bumi dominan semidiurnal untuk komponen Timur-Barat dan Atas-Bawah dan untuk Utara-Selatan dominan diurnal.
Hubungan antara Modal Sosial dengan Difusi Inovasi Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal Shinta Kusumawati
GEOPLANART Vol 2, No 1 (2018): Edisi Agustus
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.675 KB) | DOI: 10.35138/gp.v2i1.133

Abstract

Tulisan ini mengidentifikasi hubungan antara modal sosial dengan difusi inovasi pada tahap budidaya dan pasca budidaya pertanian hortikultura sebagai basis pengembangan ekonomi lokal. Metoda studi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif untuk mengetahui keberadaan modal sosial petani hortikultura. Strategi penelitian menggunakan studi kasus terpancang multikasus untuk memahami dua unit analisis di dua desa dengan karakteristik berbeda. Temuan studi menunjukkan bahwa desa yang memiliki keberadaan modal sosial secara utuh, berhubungan dengan tumbuhnya inovasi dan difusi inovasi. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan antara keberadaan modal sosial yang utuh, dengan tumbuhnya inovasi dan proses difusi inovasi. Desa dengan keberadaan modal sosial secara utuh mampu menjadi tempat terjadinya difusi inovasi dan tumbuhnya inovasi secara lebih cepat dibandingkan dengan desa yang kurang keberadaan modal sosialnya.
Penataan Kawasan Kumuh Pulosari di Kelurahan Tamasari Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung Adhi Hermawan
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.489 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.124

Abstract

Pada saat ini, permukiman merupakan salah satu masalah yang semakin membebani dunia. Pada tahun 2016 diperkirakan 1/6 dari jumlah total penduduk dunia (sekitar 1 milyar) tinggal di rumah tidak layak dan seratus juta di antaranya tinggal di daerah kumuh. Laju pertumbuhan penduduk tidak diiringi pemenuhan kebutuhan dan keterbatasan sumberdaya.  Hal tersebut dapat dilihat dari data Susenas bahwa pada tahun 2010, diperkirakan diantara 260 juta orang penduduk Indonesia masih terdapat 4.338.862 rumah tangga yang belum memiliki rumah. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan kurang lebih 800.000 unit rumah baru setiap tahunnya agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal. Di samping kebutuhan masyarakat akan penyediaan fasilitas perumahan, sekitar 13 juta unit rumah memerlukan peningkatan kualitas rumah agar menjadi layak huni seriap tahunnya (Data Susenas, 2010). Di perkotaan, masalah permukiman menjadi jauh lebih kompleks yang disebabkan oleh migrasi penduduk ke perkotaan yang semakin tinggi. Tahun 1995 jumlah penduduk perkotaan menjadi sekitar 71.88 juta (36,91% jumlah nasional). Sensus penduduk tahun 2000 mencatat total jumlah penduduk adalah 206.264.595 jiwa dengan tingkat migrasi penduduk ke kawasan perkotaan mencapai 40%  dan diperkirakan akan menjadi 60% pada tahun 2025, yaitu sekitar 160 juta orang (www.bps.go.id). Penelitian yang dilakukan Bank Dunia menunjukkan laju pertumbuhan penduduk perkotaan pada kurun waktu 1990-2010 tercatat setinggi 4,4% pertahun, sementara pertumbuhan penduduk keseluruhan hanya 1,6% pertahun (World Bank, 2013). Peningkatan jumlah penduduk perkotaan tersebut akan berdampak besar terhadap permintaan akan fasilitas perumahan dan permukiman, karena pada dasarnya merupakan salah satu kebutuhan dasar penduduk
PENGEMBANGAN EDUWISATA DI KAMPUS UNIVERSITAS WINAYA MUKTI, SUMEDANG Sigit Wisnuadji; Achmad Saeful Fasa
GEOPLANART Vol 3, No 2 (2021): EDISI MEI
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.455 KB) | DOI: 10.35138/gp.v3i2.353

Abstract

Kedekatan perguruan tinggi (kampus) dengan masyarakat adalah hal penting agar kampus dapat lebih dikenal. Dan dari kondisi seperti inilah diharapkan terjadi hubungan yang saling memberi manfaat, baik masyarakat maupun perguruan tinggi tersebut. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pengembangan kampus sebagai kawasan wisata edukasi atau eduwisata. Eduwisata yang dimaksud disini adalah pengembangan kegiatan yang berbasis pendidikan, pelatihan ataupun hasil penelitian yang dapat menjadi daya tarik untuk masyarakat untuk datang dan berkunjung, baik untuk mengikuti berbagai kegiatan akademik (pendidikan, pelatihan, seminar, penelitian) maupun menikmati hasilhasil karya civitas akademika. Metoda penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dan observasi langsung. Dengan dilakukan penataan program yang baik didukung oleh penataan fisik kampus yang baik, tentunya program ini diharapkan dapat mencapai tujuan dalam rangka untuk mencapai visi dan misi yang telah dicanangkan. Dengan didukung oleh kondisi lingkungan dan lokalitasnya, kampus Universitas Winaya Mukti yang merupakan salah satu universitas pertanian tertua di Indonesia ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan eduwisata melalui penataan kawasan kampus yang dapat menggali segala potensi yang ada. Akar pertanian dan kehutanan yang kuat dapat menjadi salah satu karakter dari kampus ini. Gagasan fisik pengembangan yang ada harus didukung adanya sinergi antar civitas akademika kampus Universitas Winaya Mukti Sumedang
Penilaian Tanah Sekitar Sarana Transportasi dengan Metode Geographically Weighted Regression (GWR) Levana Apriani; Bambang Edhi Leksono
GEOPLANART Vol 3, No 1 (2020): EDISI NOVEMBER
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.386 KB) | DOI: 10.35138/gp.v3i1.223

Abstract

Tanah merupakan benda yang bersifat abstrak karena memiliki hak digunakan dan diperdagangkan. Karena sifatnya yang dapat diperdagangkan, diperlukan penilaian tanah untuk mengetahui kualitas dan harga tanah. Pada penelitian ini dilakukan pemodelan nilai tanah untuk mengetahui nilai tanah di sekitar sarana transportasi. Penilaian tanah menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR) artinya setiap nilai tanah memiliki model matematis. GWR dilakukan dengan kernel fixed gaussian dengan bandwidth optimum Cross Validation (CV). Variabel independen yang dijadikan parameter penilaian untuk nilai tanah ini adalah lebar jalan. radius bandara. radius rel kereta api. jarak ke stasiun. jarak ke terminal. jarak ke pasar. jarak ke pemadam kebakaran. jarak ke rumah sakit. status hukum lahan. guna lahan. dan kesesuaian lahan. Variabel dependen yang digunakan adalah Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) dan Zona Nilai Tanah (ZNT) Badan Pertanahan Nasional (BPN). Analisis model dilakukan dengan melihat residu antara variabel dependen dan survei lapangan. Hasilnya apabila dibandingkan dengan nilai hasil pemodelan variabel NIR terdapat perbedaan sebesar Rp 423.831,159,- apabila dibandingkan dengan NIR dan Rp 1.976.916,526,- apabila dibandingkan dengan survei lapangan. Hasilnya apabila dibandingkan dengan nilai hasil pemodelan variabel ZNT terdapat perbedaan sebesar Rp 372.063,117,- apabila dibandingkan dengan ZNT dan Rp 2.041.621,107,- apabila dibandingkan dengan survei lapangan.Kata kunci—GWR, penilaian tanah, sarana transportasi
KAJIAN RECEPTION FACILITY DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK Yuliaty Heliana Pangow
GEOPLANART Vol 1, No 1 (2017): Edisi Mei
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.825 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i1.145

Abstract

Fasilitas pengelolaan limbah (Reception Facility) adalah fasilitas reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan/atau penimbunan limbah di pelabuhan yang berasal dari kegiatan operasional kapal dan/atau kegiatan penunjang pelabuhan. Reception Facility di Pelabuhan Tanjung Priok di kelola oleh PT. Pelindo II (Persero). Tujuan dari kegiatan kajian ini adalah terpenuhinya kebutuhan Reception Facility dengan tingkat pertumbuhan arus kunjungan kapal dari tahun ke tahun dan sebagai bahan evaluasi dan pelaksanaan pengaturan, pengawasan, dan pengendalian penanganan limbah di Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga kegiatan pengelolaan dapat optimal dalam mengurangi permasalahan yang timbul.Studi ini dilakukan melalui beberapa pendekatan : pendekatan terhadap sumber pencemar, pendekatan terhadap perilaku masyarakat,pendekatan teknis dan pendekatan kelembagaan.Hasil analisa limbah domestik dari kegiatan penunjang pelabuhan didapatkan limbah padat domestik 1.355,01 m3/hari dan limbah cair domestik 162,840 m3/hari.Sludge oil 597 Ton/bulan dari kegiatan operasional kapal.Dan terdapat juga limbah Bahan berbahaya beracun dari kegiatan penunjang pelabuhan.
Penerapan Value Engineering Terhadap Sistem Struktur Pelat Lantai Beton Gedung Bertingkat Banyak Syapril Janizar
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.07 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i2.129

Abstract

Ketatnya kompetisi yang terjadi dalam dunia konstruksi memaksa beberapa pelaku konstruksi melakukan inovasi terhadap beberapa konponen struktur, salah satunya adalah melakukan pemilihan sistem struktur pelat yang tepat nantinya berpengaruh terhadap efisiensi biaya, mutu dan waktu pelaksanaan proyek gedung bertingkat banyak karena pelat biasanya merupakan komponen struktur yang sangat signifikan dalam volume suatu bangunan dalam hal ini proyek rumah susun dan apartemen. Untuk itu penerapan Value Engineering atau Rekayasa Nilai merupakan pilihan yang paling tepat. Penerapan Rekayasa Nilai pada tahap perencanaan, desain dan pelaksanaan konstruksi akan diperoleh keseimbangan fungsional antara biaya, kehandalan dan performa dari suatu proyek atau produk. Oleh karena itu, penerapan Rekayasa Nilai pada Sistem Struktur Pelat Lantai Beton merupakan sesuatu yang cukup efektif dalam menentukan sistem pelat lantai yang akan dipakai, karena dengan membandingkan beberapa sistem struktur pelat lantai beton yang sering digunakan pada proyek gedung berlantai banyak maka akan didapat biaya pelat yang paling efisien dalam proyek tersebut. Pada proyek gedung bertingkat banyak Greenpark Residence yang merupakan proyek rusunami di Jakarta dalam penerapan rekayasa nilai dilakukan untuk konstruksi pelat lantai beton bertulang sehingga didapatkan pemilihan konstruksi pelat lantai beton yang tepat dan efisien sehingga dapat menekan biaya konstruksi pembangunan sesuai dengan harapan owner selaku pemilik proyek dan penggagas dari penerapan rekayasa nilai di proyek ini. Melakukan percepatan lebih besar jika dibandingkan dengan keuntungan yang didapat