cover
Contact Name
Indra Cahya Setia Widigda
Contact Email
indracahya933@gmail.com
Phone
+6281252438535
Journal Mail Official
kedokterankomunitas@unisma.ac.id
Editorial Address
Jl. M.T. Haryono No.193 Malang 65144, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)
ISSN : 23376988     EISSN : -     DOI : 10.33474
Jurnal Kedokteran Komunitas merupakan salah satu jenis jurnal akademik bidang kedokteran atau kesehatan di mana penulis mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian maupun kajian. Artikel ilmiah ini juga mencangkup hasil-hasil penelitian terbaru dan tulisan ilmiah lainnya di bidang biomedis, kedokteran klinis, kedokteran komunitas, dan kesehatan masyarakat. Untuk memastikan kualitas ilmiah pada artikel yang diterbitkan, suatu artikel biasa diteliti oleh rekan-rekan sejawatnya dan direvisi oleh penulis, hal ini dikenal sebagai peer review. Jurnal Kedokteran Komunitas nomor p-ISSN 2337-6988 e-ISSN dikelola Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang ini diharapkan dapat menjadi media berbagi pengalaman antara berbagai kalangan dan institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan, dengan terbit berkalah 2 kali dalam setahun yaitu bulan April dan Oktober.
Articles 220 Documents
PENINGKATAN KADAR SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE (SGOT) TANPA PERUBAHAN MASSA OTOT DENGAN PENGUKURAN BIOELECTRICAL IMPEDANCE ANALYSIS (BIA) PADA LANSIA SEHAT DI KOTA MALANG Faqihatul Azizah Devitasanti; Fitria Nugraha Aini; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.822 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Penuaan merupakan proses alami individu yang ditandai dengan penurunan fungsi tubuh, salah satunya massa otot. Untuk mengetahui adanya penurunan massa otot menggunakan metode Bioelectrical Impedence Analysis (BIA) dan kadar SGOT. Penelitian dilakukan karena sebelumnya belum ada penelitian yang menggunakan kedua metode secara bersamaan dengan membandingkan usia antara dewasa muda dan lansia.Metode: Penelitian ini menggunakan metode Descriptive Analityc Cross Sectional dengan sampel wanita dewasa muda 19-23 tahun (n=40) dan lansia 59-66tahun (n=40). Penilaian massa otot menggunakan Bioelectrical Impadance Analysis (BIA) dan kadar SGOT diukur dengan metode kinetik enzimatik. Data dianalisa dengan uji Mann-Whitney dan dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman dengan p<0.05 dianggap signifikan.Hasil dan Pembahasan: Nilai rata-rata massa otot wanita dewasa muda 34.302±3.6776 dan lansia 35.862±3.6741 (p=0.088). Nilai rata-rata kadar SGOT wanita dewasa muda adalah 18.78±8.113 dan lansia 20.65±4.583 (p=0.004). Hasil korelasi usia dengan massa otot tidak memiliki korelasi (r=-0.143, p=0204), sedangkan usia dengan SGOT memiliki korelasi lemah (r=0.260, p=0.020). Hal ini diduga terjadi karena pengaruh dari aktifitas fisik yang cukup baik sehingga massa otot tetap terjaga, akan tetapi adanya kemungkinan kerusakan sel pada organ lain yang mengalami penuaan dapat terdeteksi dengan adanya peningkatan kadar SGOT.Kesimpulan: Penuaan meningkatkan kadar SGOT namun tidak mempengaruhi massa otot wanita sehat di Kota MalangKata Kunci : Usia, penuaan, SGOT, massa otot, BIA
Systematic Literature Rreview: Pengaruh Polifenol Delima (punicagranatum l.) terhadap Kadar Interleukin-6 pada Penyakit yang Melibatkan Patofisiologi Inflamasi Ariya Indra Krisna; Ike Widyaningrum; Doti Wahyuningsih
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.098 KB)

Abstract

Introduction: Interleukin-6 (IL-6) is one of the citokynes released by macrophage and patologic cells it has a main role in mediating inflammation. Pomegranate (Punica granatum l.) contain polyphenol such as punicalagin, ellagic acid, urolithin, gallic acid, and delphinidin which has high anti-inflammation activity. Research done this far is the ability of pomegranate to decrease IL-6 level in only one disease. This systematic literature review reports the effect of pomegranate’s polyphenol in decreasing IL-6 level on macrophage and other pathologic cells by in vitro method focus at inflammatory disease that includes alzheimer’s, inflammatory bowel disease, cancer, metabolic disease and degenerative disease such as  rheumatoid arthritis, osteoarthritis, osteoporosis, and atherosclerosis.Method: Systematic literature review. Data were colected from Google Scholar and PubMed Central. The keywords used are “punica granatum,  inflammation, interleukin-6”. 19  papers which fullfilled the inclusion criteria reported the effect of pomegranate (Punicagranatum l.) to IL-6.Result: Active substance like punicalagin, ellagic acid, gallic acid, urolithin A/B, granatin A/B and delphinidin from the flower, seed, skin, mesocarp (inner skin) and all parts of pomegranate are reported to decrease the interleukin-6 (IL-6) level in diseases involving inflammation patophysiology, which include inflammatory disease such as inflamatory bowel disease and alzheimer’s, cancer, metabolic disease and degenerative disease include rheumatoid arthritis, osteoarthritis, osteoporosis, and atherosclerosis.Keyword: Punica granatum, Inflammation, Interleukin-6, In Vitro
PERBANDINGAN EFEK PERASAN LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) DENGAN Povidone Iodine 10% TERHADAP JUMLAH SEL NEUTROFIL DARAH dan JARINGAN KULIT LUKA SAYAT PUNGGUNG TIKUS WISTAR JANTAN Vahda Bara Nanda Avisha
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.621 KB)

Abstract

Introduction: The active substance lupeol, beta-cystosterol, campesterol in Aloe vera L. helps in the wound healing process by increasing anti-inflammation which causes a decrease in the number of blood neutrophil cells and tissue neutrophils. However, studies that prove that the active ingredient in the extract of Aloe vera L. can help the wound healing process is still rare.Method: This study was an experimental in vivo control group post test only design laboratory. This study used male Wistar rats aged 2-3 months were divided into 5 sample groups; treatment group 0 group (K0), negative group(KN), treatment group 1(P1), treatment group 2(P2) and treatment group 3(P3). Rats were given a wound of 2cm and 0,2mm deep. Rat positive group was given Povidone Iodine 10% ,treatment group 1 was given a dose of Aloe vera L juice 20%, treatment 2 at a dose of 40%, and treatment 3 with a dose of 80% given for 6 days, day 7 was performed for sampling. The number of blood neutrophils counted by Differential Count, the number of tissue neutrophils is calculated under a microscope with 400x magnification. Data analysis using One Way ANOVA (p <0.05).Results: The 80% dose of Aloe vera L. tended to reduce the number of neutrophil cells even though it was not significant, while the number of tissue neutrophils in the back wound of male wistar rats decreased significantly by 50% compared to K0 (p <0, 05).Conclusion: The juice of Aloe vera L. has the potential to accelerate the wound healing process by reducing the number of blood neutrophil cells and the number of neutrophil cells in skin tissueKeywords: Wounds, Wound healing, Positive substances of Aloe vera L., Number of neutrophil blood cells and tissues
STUDI IN SILICO POTENSI ANTIDIABETES SENYAWA AKTIF PRODUK FERMENTASI BIJI KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) DALAM MENGHAMBAT ENZIM ALPHA AMYLASE DAN MALTASE-GLUCOAMYLASE Alifa Ishmahdina; Yoyon Martino; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.914 KB)

Abstract

Pendahuluan: Biji kacang merah dalam bentuk produk fermentasi mengandung senyawa aktif yang diketahui dapat menurunkan kadar glukosa darah diduga bekerja pada enzim α-amylase dan maltase-glucoamylase (MGAM). Tujuan penelitian ini memprediksi afinitas yang terbentuk antara senyawa aktif produk fermentasi biji kacang merah dengan enzim target dan memprediksi fisikokimia, farmakokinetik, toksisitas senyawa produk fermentasi biji kacang merah.Metode: Penelitian secara in silico dilakukan pada 10 senyawa aktif yang dominan pada produk fermentasi biji kacang merah. Proses docking menggunakan metode molecular docking di web http://www.dockingserver.com. Menggunakan kontrol acarbose dan enzim α-amylase dan MGAM. Struktur 3D senyawa dan kontrol diambil dari Pubchem. Konversi format pdb menggunakan http://swissmodel.expasy.org. Analisa afinitas senyawa ligan terhadap enzim membandingkan energi bebas, konstanta inhibisi, interaksi permukaan, dan residu asam amino dengan acarbose. Analisa fisikokimia, farmakokinetik, dan toksisitas menggunakan pKCSM pada senyawa aktif produk fermentasi biji kacang merah dan acarbose.Hasil: Berdasarkan afinitasnya, senyawa hesperetin-glucoronide-hexoside dan kaempferol 3-0-glucoside diprediksi memiliki afinitas terhadap enzim enzim α-amylase dan MGAM. Analisa pkCSM menunjukkan senyawa hesperetinglucoronide-hexoside dan kaempferol-3-O-glucoside berpotensi bekerja optimal pada lumen usus dan tidak toksik.Kesimpulan: Senyawa produk fermentasi biji kacang merah hesperetin-glucoronide-hexoside dan kaempferol 3-0- glucoside diprediksi menghambat enzim α-amylase dan MGAM. Pada pkCSM, hesperetin-glucoronide-hexoside dan kaempferol-3-O-glucoside diprediksi bekerja optimal di lumen intestinal.Kata Kunci : antidiabetes; fermentasi biji Phaseolus vulgaris L.; in silico; pkCSM
EFEK DEKOKTA DAUN PULUTAN (Urena lobata) TERHADAP FREKUENSI PERNAFASAN DAN GAMBARAN HISTOLOGI LAMELA INSANG IKAN ZEBRA (Danio rerio) FASE JUVENIL YANG DIPAPAR MALATHION SECARA KRONIK Dluharrohimah Nur Imami; Ariani Ratri Dewi; Yudi Purnomo
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.775 KB)

Abstract

Introduction: Malathion has an acetylcholinesterase inhibitor effect and increase free radicals resulting in damage to the structure and function of the respiratory organs. Urena lobata leaves decoction have antioxidant and anti-inflammatory potential controlled by the active substances quercetin and mangiferin. The study aims to prove the influence of Urena lobata leaves decoction to respiratory frequency and histological features of gills of juvenile Danio rerio chronically exposed by malathion.Method: Danio rerio age 45 days divided into 3 treatment groups and 2 control groups (n = 5). Malathion dose 2.5 mg/L administered to all groups except negative control for 40 days. Urena lobata leaves decoction was given to the treatment group at each dose 125 mg/L, 250 mg/L dan 500 mg/L. Respiratory frequency observed by recording and analyses using Windows Media Player software. Gills were colored with Hematoxylin Eosin and observed using a binocular microscopy with 1000x magnification. Data was analized using One Way ANOVA and Post Hoc LSD methods (p<0.05).Findings: Chronic expose of malathion in positive control group can increase respiratory rate and gills hyperplasia consecutively 25% and 90% compared to negative control (p<0.05). Administration of Urena lobata leaves decoction dose 125 mg/L and 250 mg/L inhibit increased respiratory rate about 10% and 20% consecutively compared to positive control (p<0.05). Urena lobata leaves decoction dose 125 mg/L, 250 mg/L and 500 mg/L inhibit secondary gills hyperplasia about 10%, 25% and 5% consecutively compared to positive control (p<0.05).Conclusion: Urena lobata leaves decoction was able to inhibit increasing respiratory rate and gills hyperplasia of juvenile Danio rerio chronically exposed by malathion.Keywords: Malathion, Urena lobata, Danio rerio, respiratory frequency, gills lamellae, chronic
STUDI IN SILICO AFINITAS SENYAWA AKTIF BIJI KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris) TERHADAP PROTEIN SIRTUIN-1 (SIRT-1) DAN NUCLEAR RELEATING FACTOR-2 (NRF2) UNTUK MENCEGAH ALZHEIMER M Josie Yusuf; Anita Puspa Widiyana; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.845 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Protein Sirtuin-1 (SIRT-1) dan Nuclear Releating Factor-2 (NRF2) berperan dalam mekanisme terjadinya Alzheimer. Secara empiris kacang merah (Phaseolus vulgaris) mengandung senyawa aktif untuk menghambat Alzheimer, namun mekanismenya terhadap SIRT-1 dan NRF2 belum pernah diteliti. Penelitian dilakukan untuk mengetahui mekanisme kacang merah mencegah Alzheimer melalui aktivasi SIRT-1 dan NRF2.Metode: Penelitian dilakukan secara In Silico dengan menggunakan docking server untuk menilai afinitas senyawa aktif biji kacang merah terhadap protein SIRT-1 dan NRF2. Uji farmakokinetik, fisikokimia dinilai dengan pkCSM (Predicting Small-Molecule Pharmacokinetic and Toxicity Properties). Analisa dilakukan dengan diskriptif analitik dengan melihat hasil afinitas senyawa aktif terhadap SIRT-1 dan NRF2 dibandingkan obat kontrol.Hasil: Didapatkan 5 senyawa aktif (beta sitosterol, sianidin, glisitein, biokanin A, dan genistein) dari 8 senyawa aktif yang diteliti memiliki afinitas tinggi terhadap protein SIRT-1 dan 5 Senyawa aktif (beta sitosterol, biokanin A, genistein, glisitein, dan formononetin) dari 20 senyawa aktif yang didockingkan memiliki afinitas yang tinggi terhadap protein NRF2. Hasil prediksi parameter fisikokimia seluruh senyawa aktif memenuhi hukum 5 Lipinski. Hasil Prediksi sifat farmakokinetik β-sitosterol adalah senyawa yang memiliki nilai paling baik.Kesimpulan: senyawa aktif biji kacang merah mempunyai potensi sebagai pencegahan alzheimer dengan mengaktifkan SIRT-1 dan NRF2 yaitu beta sitosterol. Beta sitosterol juga mempunyai afinitas, fisikokimia, farmakokinetik yg baik dan tidak bersifat toksik sehingga dapat menjadi kandidat kuat obat pencegahan Alzheimer melalui peningkatan SIRT-1 dan NRF2.Kata Kunci : Alzheimer; Phaseolus vulgaris; in silico
STUDI PUSTAKA SISTEMATIS: PENGARUH KURKUMIN SEBAGAI ANTIINFLAMASI TERHADAP C-REACTIVE PROTEIN PADA BERBAGAI PENYAKIT INFLAMASI Andrie Devin Susilo Hadi; Marindra Firmansyah; Doti Wahyuningsih
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.132 KB)

Abstract

Abstract: C-Reactive Protein (CRP) merupakan protein yang dihasilkan pada fase akut dari kondisi inflamasi yang sampai sekarang digunakan sebagai penanda sistemik di klinis. Kurkumin dilaporkan memiliki pengaruh sebagai antiinflamasi. Studi Pustaka sistematis ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh kurkumin terhadap penurunan kadar CRP pada berbagai kelainan yang patofisiologinya melibatkan inflamasi. Pada studi ini dipela-jari pengaruh kurkumin pada CRP dari kelainan: metabolisme, keganasan, infeksi,dan intoksikasi. Studi Pustaka sistematis. Data dikumpulkan dari PubMed dan Google Scholar berdasarkan kata kunci Curcumin, C-Reactive Protein, dan Inflamation. Proses screening menghasilkan 16 artikel yang memenuhi kriteria inklusi yang ditetapkan untuk ditelaah. Kurkumin terbukti mampu menurunkan kadar CRP pada berbagai kondisi inflamasi. Dalam penelitian ini dilaporkan Kurkumin bekerja dengan menghambat Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α), In-terleukin-1β (IL-1β), Interleukin-6 (IL-6) serta menghambat aktivasi faktor transkripsi Nuclear Factor-Kappa B (NF-κB). Sehingga kurkumin mampu menurunkan kadar CRP pada berbagai kondisi inflamasi.Kata Kunci : Kurkumin, C-Reactive Protein, Inflamasi
EFEK TERATOGENIK DEKOKTA DAUN NIMBA (Azadirachta indica A. Juss.) TERHADAP DAYA TETAS DAN LUAS AREA YOLK SAC PADA EMBRIO IKAN ZEBRA (Danio rerio) Anisa Armadani
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.931 KB)

Abstract

Introduction: Neem leaf has many uses, but not yet known the toxic effects especially on fetal growth and development. Therefore, it is necessary to carry out the teratogenic test of neem leaves decocta (NLD) to assess the safety of neem leaves in pregnancy conditions by observing hatchability and yolk sac area of zebrafish embryos.Methods: Zebrafish embryos were divided into 5 groups, control (P0), NLD therapeutic dose 20 μg/mL (P1), NLD ½ MATC dose 61 μg/mL (P2), NLD MATC dose 123 μg/mL (P3), and NLD LC50 dose 260 μg/mL (P4). The LC50 dose is obtained through a range-finding doses which will be determined from the death of 50% of the sample, while the MATC dose is obtained through the formula √???????????????? ???? ????????????????2. The number of samples in each group for hatchability variables is 10 embryos and the yolk sac area variable is 5 samples. The exposure was done when the embryo was 5.25 hpf (hour post fertilization) up to 72 hpf and then observed under a stereo microscope with 4.5x magnification that has connected to a computer. For hatchability variables, the treatment was repeated 3 times, while for the yolk sac area variable was done once. Hatchability was calculated using the Hogendoorom method, while the measurement of the yolk sac area used Image J software. Value is considered significant if p<0.05.Results: NLD exposure in all groups did not cause a significant decrease in zebrafish embryo hatchability, although there was a trend of decreasing hatchability in the P4 group by 10% compared to P0. NLD exposure on group P1 did not significantly increase the yolk sac area compared to P0, while NLD exposure in group P2, P3 and P4 can significantly increase the yolk sac area by 12.5%, 17%, and 25% compared to P0.Conclusion: The increase in dosage of NLD did not affect changes in hatchability but there was an increase in the yolk sac area of zebrafish embryos.
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI SUKROSA TERHADAP DERAJAT KEASAMAN DAN TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT KOMBUCHA DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) Rosita Sari; Yoni Rina Bintari; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.207 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kombucha daun sirsak merupakan minuman probiotik yang berasal dari hasil fermentasi teh daun sirsak dan sukrosa oleh starter kombucha yaitu SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast). Daun sirsak dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan kombucha karena mengandung senyawa polifenol yang tinggi. Salah satu bakteri pada kombucha yang mempunyai peran sebagai probiotik adalah bakteri asam laktat, sedangkan yang mempengaruhi pertumbuhan dari bakteri asam laktat adalah sukrosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur total bakteri asam laktat dan derajat keasaman pada kombucha daun sirsak dengan variasi konsentrasi sukrosa berbeda.Metode: Kombucha daun sirsak dibuat dengan menambahkan sukrosa dengan konsentrasi 5%, 10%, 15% (b/v) serta SCOBY dan difermentasi selama 7 hari. Pengukuran derajat keasaman menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi. Penghitungan total bakteri asam laktat dinyatakan dalam Colony Forming Unit (CFU)/ml. Hasil dianalisis secara statistik menggunakan uji one way ANOVA dengan taraf signifikansi p≤0.05.Hasil: Tidak terdapat perbedaan secara signifikan variasi kadar sukrosa terhadap derajat keasaman dan total bakteri asam laktat kombucha daun sirsak. Kadar sukrosa 10% (b/v) pada kombucha daun sirsak mempunyai derajat keasaman 3,30 ± 0,06  dan total bakteri asam laktat sebanyak 9,03 x 106 ± 5,36 x 106  CFU/ml yang sesuai untuk dikonsumsi.Kesimpulan: Kombucha daun sirsak konsentrasi gula 10% (b/v) mempunyai derajat keasaman dan total bakteri asam laktat lebih tinggi jika dibandingkan dengan kombucha daun teh sehingga lebih berpotensi sebagai probiotik.Kata Kunci: Kombucha, daun sirsak, probiotik, derajat keasaman, total bakteri asam laktat.
Pengaruh Kendali Glukosa terhadap Kadar Kalsium Serum pada Penderita DM Tipe 2 di Malang Raya Ananda Kumala Ansar; Dewi Martha Indria; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.997 KB)

Abstract

Introduction : Diabetes mellitus (DM) is a glucose metabolism disorder that is able to cause organ damage if the patient has inadequate glycemic control. Organ damage in patient with DM leads to micronutrient metabolism disorder includes calcium. Decreased serum calcium level in DM patient could reduce the insulin sensitivity. The effect of glycemic control in type 2 DM on calcium serum level in Indonesia has never been studied. Therefore, further research is needed, especially in Malang City.Method : : A cross sectional study with control group post-test-only design was conducted using purposive non-random sampling. Total subject was 40 patients consist of 15 patients with good glycemic control and 25 with poor glycemic control. Each group examined for serum calcium level using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Data were analyzed by using Independent T-Test followed by Pearson correlation test with a significance level of p <0.05Results : Calcium level in type 2 DM patients with good glycemic control (4,25±1,54 mg/dL) were higher than poor glycemic control (3,32±1,43 mg/dL) with signifikasi p=0,404. Glycemic control is moderately correlated on serum calcium with correlation level r=-0,358 and signification level p=0,03.Conclusion : Glycemic control in type 2 diabetes mellitus moderate correlated with serum calcium level.Keywords: Glycemic control in type 2 DM is moderately correlated with serum calcium level.

Page 2 of 22 | Total Record : 220