cover
Contact Name
Indra Cahya Setia Widigda
Contact Email
indracahya933@gmail.com
Phone
+6281252438535
Journal Mail Official
kedokterankomunitas@unisma.ac.id
Editorial Address
Jl. M.T. Haryono No.193 Malang 65144, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)
ISSN : 23376988     EISSN : -     DOI : 10.33474
Jurnal Kedokteran Komunitas merupakan salah satu jenis jurnal akademik bidang kedokteran atau kesehatan di mana penulis mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian maupun kajian. Artikel ilmiah ini juga mencangkup hasil-hasil penelitian terbaru dan tulisan ilmiah lainnya di bidang biomedis, kedokteran klinis, kedokteran komunitas, dan kesehatan masyarakat. Untuk memastikan kualitas ilmiah pada artikel yang diterbitkan, suatu artikel biasa diteliti oleh rekan-rekan sejawatnya dan direvisi oleh penulis, hal ini dikenal sebagai peer review. Jurnal Kedokteran Komunitas nomor p-ISSN 2337-6988 e-ISSN dikelola Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang ini diharapkan dapat menjadi media berbagi pengalaman antara berbagai kalangan dan institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan, dengan terbit berkalah 2 kali dalam setahun yaitu bulan April dan Oktober.
Articles 220 Documents
PENGARUH KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) PADA EFEKTIFITAS Amoksisilin TERHADAP Helicobacter pylori Cahya Dhimas Triatmojo Putra; Arif Yahya; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.886 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Gastritis disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori yang dapat diterapi dengan amoksisilin. Fitofarmaka kayu manis sering digunakan sebagai obat gastiris karena karena dapat melindungi lambung dan memiliki aktivitas antibakteri. Pada kayu manis ditemukan bahwa kombinasi sinamaldehida dengan antibiotik mempunyai efek sinergis dalam menghambat bakteri E. coli secara in vitro. Namun, efek terhadap bakteri H. pylori belum diketahui, oleh karena itu penelitian ini akan menguji daya hambat antibotik amoksisilin secara tunggal maupun kombinasi dengan obat herbal berbahan kayu manis terhadap bakteri Helicobacter pylori.Metode: Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium in vitro. Penentuan dosis berupa rentang dari dosis hambat minimum yang ditambahkan dua dosis tambahan pada ambang atas dan ambang bawah dosis. Apabila tidak didapatkan zona  hambat dalam uji eksplorasi atau rata-rata zona hambat <14 mm, maka dosis yang dipilih untuk pengujian adalah dosis 100×103 ppm. Fitofarmaka kayu manis dilarutkan dengan akuades hingga 5 variasi dosis 400×103 ppm, 200×103 ppm, 100×103 ppm, 50×103 ppm, dan 25×103 ppm. Zona hambat kombinasi fitofarmaka kayu manis dan amoksisilin 25 µg dilakukan dengan metode Kirby-Bauer Disk Diffusion Susceptibility Test dan diukur dengan jangka sorong. Nilai interaksi dilakukan dengan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Signifikansi ditentukan dengan p<0,05.Hasil: Kombinasi fitofarmaka kayu manis dengan amoksisilin didapatkan hasil antagonis pada dosis 400×103  ppm (34,80±0,87 mm). Untuk dosis yang lain interaksi bersifat not-distinguishable dengan amoksisilin. Hal ini terjadi karena semakin tinggi dosis ekstrak maka semakin tinggi zona hambat yang terbentuk.Kesimpulan: Dosis 400×103 ppm fitofarmaka kayu manis berinteraksi antagonis dengan antibakteri amoksisilin terhadap bakteri Helicobacter pylori.Kata Kunci: Cinnamomum burmannii, Amoksisilin, ZOI, Kombinasi Antibiotik dan Herbal
PERBANDINGAN EFEK PERASAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) DENGAN POVIDONE IODINE TERHADAP KADAR SUPEROXID DISMUTASE DAN MALONDIALDEHID SERUM TIKUS WISTAR DENGAN LUKA SAYAT Ilham Rial Ali; Rosaria Dian Lestari; Diah Andriana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.589 KB)

Abstract

Introduction: Aloe vera has an antioxidant effect that can prevent the increasing of human free radicals caused by injury that can increase free radicals while povidone iodine can accelerate wound healing. This study was conducted to compare the use of Aloe vera juice and povidone iodine in reducing oxidative stress responses in terms of serum SOD and MDA levels in wistar rat serum with incision wounds.Method: Experimental animals (n = 24, male wistar rats aged 2-3 months) were divided into PB groups (povidone iodine) and treatment groups that were given Aloe vera juice with a concentration of 20% (KP1), 40% (KP2) and 80% (KP3) at a dose of 0.5 g / rat / day topically for 6 days. Rats were incised 2 cm long with a depth of 0.2 cm on the back with a scalpel. Serum SOD and MDA levels were measured by spectrophotometry. The data obtained were analyzed using SPSS version 17 with a significant p <0.05Result: According to Mann Whitney test, there were significant decreases in serum SOD levels in the KP1 group (419.67 ± 23.97, p0.004), KP2 (450.96 ± 36.57, p0.004) and KP3 (465.59 ± 29, 49, p0.004) compared with PB (582.63 ± 57.20). Calculations using One Way ANNOVA showed a significant decrease in serum MDA levels in the KP1 group (25.48 ± 0.81, p0.027), KP2 (25.31 ± 1.83, p0.015) and KP3 (22.69 ± 0.77, p0.000) when compared with the administration of povidone iodine (27.11 ± 0.98).Conclusion: Aloe vera juice with a concentration of 20% (KP1), 40% (KP2) and 80% (KP3) can significantly increase serum SOD levels and significantly reduce serum MDA levels better than povidone iodineKeywords: Incision Wound, Oksidatif Stress, Aloe vera, Free Radical 
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI POLAR DAUN KUMIS KUCING ( Orthosiphon stamineus) TERHADAP Propionibacterium acnes Putri Nabila Khalisha; Ike Widyaningrum; Sasi Purwanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.188 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus) memiliki kandungan senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol dan fraksi polar daun kumis kucing ( O. stamineus) terhadap Propionibacterium acnes yang dibandingkan dengan klindamisin.Metode: Daun kumis kucing diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan dilakukan fraksinasi dengan pelarut polar (etanol:air) dengan rasio (9:1). Selanjutnya dilakukan pengamatan aktivitas antibakteri dengan zona hambat terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan konsentrasi ekstrak etanol dan fraksi polar dalam persentase yakni 10%, 7,5%, 5%, 1%. Diukur dengan uji zona hambat terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan metode difusi cakram Kirby-Bauer (disc diffusion) menggunakan klindamisin 2µg.Hasil: Ekstrak etanol daun kumis kucing menggunakan setiap konsentrasi terhadap Propionibacterium acnes dalam persentase yakni 10%, 7,5%, 5%, 1% berturut-turut adalah  7.79±0,10mm; 7.70±0,08mm; 7.49±0,11mm; 7.37±0,28mm  dan pada fraksi polar daun kumis kucing menggunakan setiap konsentrasi terhadap Propionibacterium acnes dalam persentase yakni 10%, 7,5%, 5%, 1% berturut-turut adalah 7.56±0,34mm; 7.36±0,24mm; 7.19±0,38mm; 7.10±0,29mm. ekstrak etanol dan fraksi polar daun kumis memiliki signifikansi (p<0,05). Hal tersebut menunjukan bahwa ekstrak etanol dan fraksi polar memiliki daya hambat yang lebih rendah dari klindamisin.Kesimpulan: Ekstrak etanol dan fraksi polar daun kumis kucing dengan persentase  10%, 7,5%, 5%, 1%   memiliki perbedaan daya hambat yang lebih rendah dari klindamisin dalam menghambat P.acnes.Kata kunci: Daun Kumis Kucing: Orthosiphon stamineus; Ekstrak Etanol; Fraksi Polar; Propionibacterium acnes.
PENGARUH STATUS PENDIDIKAN, EKONOMI, DAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP STATUS GIZI ANAK BALITA DI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG Zaza Saskia Ayu Wandani; Erna Sulistyowati; Dewi Martha Indria
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.677 KB)

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi balita dengan malnutrisi di Indonesia masih cukup tinggi, dan salah satu wilayah dengan prevalensi stunting yang tinggi adalah Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Jawa Timur. Banyak faktor yang mempengaruhi malnutrisi, antara lain asupan gizi, tingkat pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan pola pengasuhan. Belum ada data tentang bagaimana hubungan antara status pendidikan, ekonomi, dan pola asuh orang tua terhadap status gizi anak balita di Kecamatan Pujon. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal tersebut.Metode: Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan metode cross-sectional. Pengambilan sampel melalui metode purposive sampling melalui kriteria inklusi yang sudah ditetapkan. Terdapat 144 responden yang memenuhi kriteria yang domisilinya di Desa Pandesari, Madiredo, dan Tawangsari Kecamatan Pujon. Instrumen penelitian adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas dengan hasil valid dan reliabel (r hitung>r tabel). Analisa data penelitian menggunakan uji Kruskal Wallis dan Somers’ D, hasilnya signifikan apabila nilai p lebih dari 0,05.Hasil: Terdapat hasil signifikan pada hubungan antara status ekonomi orang tua dengan status gizi anak balita dengan nilai p 0,037. Sedangkan tidak terdapat hubungan antara status pendidikan dan pola asuh orang tua dengan status gizi anak balita dengan nilai p masing-masing 0,722 dan 0,077.Kesimpulan: Status gizi anak balita lebih dipengaruhi oleh status ekonomi orang tua dan tidak dipengaruh oleh status pendidikan maupun pola asuh orang tua.Kata Kunci: Status Gizi, Tingkat Pendidikan, Status ekonomi, Pola Asuh Orang Tua.
Efek Daya Hambat Kombinasi Fraksi Polar F33-F37 Elephantopus scabr dengan Amoksisilin dan Kloramfenikol terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Firsania Bunga W
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.773 KB)

Abstract

Introduction: A combination of herb and antibiotic is an alternative treatment for infectious disease. The herb that has been studied before is E.scabr which was found that crude extract was antagonistic with chloramphenicol. Possibly, that interaction can happen because of the active compounds effect that is contained in the extract. Fractination is necessary to separate the active compound from E.scabr  which may affect the combination interaction. The result of fractionation will be tested for phytochemicals identification from the fraction 33-37 E.scabr and measured for antibanterial activity with amoxicillin and chloramphenicol  against S.aureus and E.coli.Methods: The ZOI test was carried out by the Kirby-Bauer method, then the clear zone was measured using a ruler. Antibiotic interactions is interpreted by the AZDAST guideline.Results: Single ZOI test in fraction 33 E.scabr obtained clear zone with 9.33 ± 1.53 mm diameter against S. aureus, whereas in other fractions no clear zone was found. Combination of E.scabr fraction with amoxicillin and chloramphenicol in ZOI test for S. aureus cannot be distinguished from the single test. Combination of fraction 35 with chloramphenicol against E. coli showed a significantly decreased result from a single test with a value of F35 0 ± 0 mm, chloramphenicol 18 ± 1 mm and a combination of F35 with chloramphenicol 16 ± 1 mm.Conclusion: Fraction 35 E.scabr obtained antagonistic interactions with chloramphenicol against E. coli, whereas in other fractions the interaction could not be determined (not distinguishable) in amoxicillin and chloramphenicol against S. aureus and E. coli. An alkaloid compound is an ingredient in F35 which is thought to affect the interaction.Keywords: Amoxicillin, Chloramphenicol, E.scabr, Combination of Herbal Antibiotics
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU DAN PERSEPSI VAKSIN COVID-19 PADA SANTRI PONDOK PESANTREN DI KOTA MALANG Mohammad Gilang Ramadlan; Aris Rosidah; Erna Sulistyowati
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.463 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: COVID-19 berdampak pada lingkungan komunal termasuk di pondok pesantren. Penghuni pondok pesantren didominasi oleh remaja yang kepedulian terhadap kesehatan dan higiene perorangan masih kurang. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan resiko terpapar COVID-19 di masa pandemi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan pengetahuan COVID-19 dengan perilaku santri terhadap kepatuhan protokol kesehatan dalam mencegah COVID-19 pada santri suatu pondok pesantren di kota Malang. Selain itu kami juga mengevaluasi hubungan pengetahuan dengan persepsi tentang vaksin COVID-19.Metode: Penelitian ini merupakan survei menggunakan kueisioner dengan responden santri suatu pondok pesantren di kota Malang. Berjumlah 145 orang. Setelah kueisioner survei kami uji dengan kueisioner yang sudah diuji validitas dan reabilitasnya, selanjutnya kami menguji hubungan pengetahuan COVID-19 dengan perilaku santri terhadap kepatuhan protokol kesehatan dalam mencegah COVID-19 serta hubungan pengetahuan dengan persepsi tentang vaksin COVID-19 menggunakan uji Chi Square dan uji hubungan dengan nilai prevalence ratio (PR) dengan p kurang dari 0.05 dianggap signifikan.Hasil: Persentase jumlah santri dengan pengetahuan COVID-19 yang baik sejumlah 70.35%. Perilaku santri pada kepatuhan protokol kesehatan sejumlah 85.52% baik. Sedangkan persepsi tentang vaksin COVID-19 sejumlah 92.4% bernilai positif. Namun, sejumlah 93.8% pengetahuan tentang vaksin COVID-19 kurang baik. Berdasarkan uji Chi Square didapatkan variabel nilai p value dari pengetahuan tentang COVID-19 dengan perilaku santri terhadap kepatuhan protokol kesehatan sebesar 0,152 dengan nilai PR 1.116. Sedangkan dalam analisa pengetahuan tentang vaksin COVID-19 dengan persepsi santri terhadap vaksin COVID-19 didapatkan nilai p value yaitu sebesar 0,375 dengan nilai PR 0.Kesimpulan: Tidak didapatkan adanya hubungan antara pengetahuan tentang pandemi COVID-19 dengan perilaku santri terhadap kepatuhan protokol kesehatan dan tidak didapatkan hubungan antara pengetahuan tentang vaksin COVID-19 dengan persepsi santri terhadap vaksin COVID-19 di pondok pesantren.Kata Kunci: Pandemi, COVID-19, Pengetahuan COVID-19, Perilaku Santri, Persepsi Santri, Pengetahuan Vaksin COVID-19, Vaksin COVID-19.
Peran Kendali Glukosa terhadap Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Lengan Atas pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Malang Raya Sukosari Devantari; Silvy Amalia Falyani; Rahma Triliana
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.7 KB)

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a degenerative disease caused by impaired insulin function, marked by hyperglycemia. Chronic hyperglycemia may decrease the nutritional status of DM patients by measuring Body Mass ndex (BMI) and Upper Arm Circumference (UAC). This study aimed to look at the role of glucose control in BMI and UAC in Type 2 DM patients.Methods: This reserach was cross sectional studies. The respondents are male and female of diabetic patients without complications over the age of 40 years. The subjects were divided into the controlled group and uncontrolled group. Each group performed weight measurements with weight scale, body height with microtoise and UAC with a measuring tape. Independent T-Test was used to analyze the data , followed by a Pearson correlation test with a significance level of p<0.05.Results: There was no significant difference between glucose control, BMI (p=0.921), right UAC (p=0.611) and left UAC (p=0.406) in controlled group and uncontrolled group. Glucose control had no correlation to BMI (r=-0.061). There was also no correlation between glucose control, right UAC (r=0.161) and left UAC (r=0.197).Conclusion: Glucose control had no role in body mass index and upper arm circumference towards patients with diabetes mellitus type 2 in Malang.Keywords: Glucose control, body mass index, upper arm circumference, type 2 diabetes mellitus
INTERAKSI OBAT HERBAL TERSTANDAR MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) DENGAN AMOKSISILIN TERHADAP PENGHAMBATAN Staphylococcus aureus Faiqo Nabila; Noer Aini; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.65 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Meniran (Phyllanthus niruri L.) memiliki senyawa aktif yang bersifat antibiotik dari golongan flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan saponin serta tersedia dalam bentuk Obat Herbal Terstandarisasi (OHT). Penelitian sebelumnya melaporkan interaksi sinergistik antara ekstrak metanolik meniran dengan amoksisilin terhadap bakteri S.aureus, namun kombinasi OHT meniran dengan amoksisilin terhadap S.aureus belum ada sehingga perlu diteliti.Metode: Penelitian ekperimental in vitro dengan tujuh kali pengulangan dalam dua waktu berbeda. Kandungan bahan dalam OHT meniran diukur dengan metode fitokimia. Efek antibiotik diuji dengan metode difusi cakram Kirby-Bauer dan jenis interaksi antar kelompok dinilai dengan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Hasil dianalisa dengan  One-way ANOVA dan p <0.05 dianggap signifikan.Hasil: Uji fitokimia larutan OHT menunjukkan adanya senyawa flavonoid, tannin, phenolic, dan saponin. Pada OHT meniran tidak didapatkan zona bening pada S. aureus. Kombinasi amoksisilin dengan OHT meniran konsentrasi 220, 440, dan 880 ppm menghasilkan zona hambat sebesar 28.96±1.48; 31.42±2.07 dan 26.39±0.64 mm, sedangkan pada amoksisilin tunggal adalah 27.84±1.91, dan amoksisilin double disk 28.07±0.44. Hal ini menunjukkan peningkatan secara signifikan pada konsentrasi 440 ppm, dan penurunan signifikan daya hambat pada dosis konsentrasi 880 ppm.Kesimpulan: Interaksi OHT meniran dengan amoksisilin not distinguishable pada 220 ppm, potensiasi pada 440 ppm, dan antagonis pada 880 ppm.Kata Kunci: Phyllanthus niruri L., Amoksisilin, OHT, AZDAST, Hasil interaksi.
PENGARUH FREKUENSI AKTIVITAS FISIK TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA SERUM DAN SKOR NON ALCOHOLIC STEATO HEPATITIS (NASH) TIKUS BETINA DENGAN DIET HIPERLIPIDEMIA Desy Amalia Wulandari; Dini Sri Damayanti; Merlita Herbani
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.808 KB)

Abstract

Pendahuluan: Hiperlipidemia ialah kondisi peningkatan kadar kolesterol, trigliserida dan LDL dalam darah di atas batas normal disertai penurunan kadar HDL, mapun kombinasi dari ketiganya. Hiperlipidemia dapat terjadi akibat, obesitas, diet tinggi lemak (diet hiperlipidemia), jarang olahraga, penggunaan alkohol, merokok, diabetes yang tidak terkontrol dan hipotiroidisme. Penelitian ini akan menguji aktivitas fisik dengan berenang dengan variasi frekuensi yang berbeda guna menguji pengaruhnya terhadap kadar kadar trigliserida dan skor NASH.Metode: Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium menggunakan desain penelitian Control Group Post Test Only secara In Vivo, untuk mengetahui pengaruh frekuensi aktivitas fisik yang berbeda pada tiap kelompok tikus betina dengan diet hiperlipidemia. Penelitian ini membagi lima kelompok kelompok perlakuan fisik (berenang), yaitu kontrol negatif (KN), kelompok kontrol positif (KP), kelompok dua kali seminggu (KDS), kelompok tiga kali seminggu (KTS), dan kelompok setiap hari (KSH). Analisis data ini menggunakan uji one-way anova dan diteruskan dengan analisis post hoc LSD (Least Significantly Difference) untuk mengetahui kelompok yang paling berpengaruh.Hasil dan Pembahasan: Nilai rata-rata kadar trigliserida tertinggi pada perlakuan KP sebesar 183.40 ± 27.56 yang diikuti dengan KDS 163±23.30, KTS 151.40±23.53, KSH 126.80±20.36 dan KN 74.00 ± 6.52. Penurunan kadar trigliserida KTS dan KSH lebih besar dibandingkan KDS. Skor NASH pada KP lebih besar secara signifikan dibandingkan KSH, dan KP namun tidak berbeda secara signifikan dibandingkan KDS dan KTS. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh frekuensi aktivitas fisik terhadap Skor NASH.Simpulan: Perlakuan KSH merupakan perlakuan paling baik untuk menurunkan kadar trigliserida dan menurunkan skor NASH pada tikus yang diinduksi diet hiperlipidemia.
Efek Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Syzygium polyanthum dengan Kotrimoksazol pada Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara In Vitro Nurul Faizah; Erna Sulistyowati; Reza Hakim
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.332 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kombinasi herbal-antibiotik berpotensi menghambat resistensi penggunaan antibiotik kotrimoksazol. Daun Syzygium polyanthum berpotensi sebagai antibakteri yang bekerja pada dinding sel maupun secara intrasel. Namun sifat kombinasi zat aktif dari ekstrak daun S. polyanthum dengan kotrimoksazol terhadap S. aureus dan E. Coli belum diketahui.Metode: Ekstraksi zat aktif S. polyanthum menggunakan cara sederhana yaitu dekoktasi, dan cara lebih kompleks yaitu ekstrak methanol. Kombinasi hasil ekstraksi S. polyanthum dengan kotrimoksazole diberikan pada biakan masing-masing bakteri. Pengukuran menggunakan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST) yang dimodifikasi. Variabel bebas ada 5, yaitu kotrimoksazol dosis tinggi dan rendah (ADT dan ADR), ekstrak metanol daun S. polyanthum dosis tinggi dan rendah (HDTm dan HDRm), ekstraksi air dekokta daun S. polyanthum dosis tinggi dan rendah (HDTd dan HDRd), kombinasi ekstrak metanol daun S. polyanthum dengan kotrimoksazol (KMSK), dan kombinasi dekokta daun S. polyanthum dengan kotrimoksazol (KDSK). Zona hambat dari hasil ekstraksi tunggal dan kotrimoksazol tunggal diperlukan untuk pembanding. Data zona hambat dianalisa dengan uji One-Way Anova dengan tingkat signifikansi p < 0.05.Hasil: Pada S. aureus dan E. coli, KDSK (S. aureus = 26,0 mm; E. coli = 11 mm) dan KMSK (S. aureus = 18,0 mm; E. coli = 11 mm) memiliki zona hambat yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan antibiotik tunggal (p = 0,02 dan 0,008).Kesimpulan: Kombinasi dekokta atau ekstrak metanol daun S. polyanthum dengan kotrimoksazol meningkatkan daya hambat terhadap S. aureus dan E. coli.Kata Kunci: Resistensi antibiotik, Daun Syzygium polyanthum, Kotrimoksazol, Staphylococcus aureus, Escherichia coli

Page 4 of 22 | Total Record : 220