cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
MEMPERTANYAKAN PERAN ULAMA DALAM PENANGGULANGAN KABUT ASAP DAN PERUBAHAN EKONOMI TRADISI MASYARAKAT JAMBI AKIBAT INDUSTRI BIOFUEL Aziz, Arfan
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanian kelapa sawit industri yang berorientasi untuk mengganti bahan bakar fosil semakin dinamis di Jambi. Masyarakat agraris perlahan beralih kepada pertanian komoditas kelapa sawit. Namun, kabut asap yang terjadi hampir setiap tahun menjadi salah satu dampak dari semakin luasnya perkebunan kelapa sawit tersebut. Melalui tinjauan pustaka dan kajian empiris penulis, dengan teknik wawancara dan observasi, untuk mendalami sebab-sebab konflik agraria di Jambi pada 2011 dan 2012, serta pemerhatian lapangan terhadap peristiwa kabut asap pada 2014, tulisan ini menguraikan dapatan kajian bahwa kabut asap dan transisi ekonomi tradisi adalah akibat kehadiran industri perkebunan kelapa sawit berorientasi bahan bakar minyak berbasis tumbuhan atau biofuel yang semakin masif.. Tulisan ini akhirnya menyarankan strategi untuk membantu menyelesaikan dua isu sosial dan ekonomi di atas, yaitu dengan menguatkan peran para ulama dalam menyebarkan konsep almaslahah dan khalifah dalam isu lingkungan dan sosial di Jambi serta menegakkan identitas ulama sebagai penjaga nilai-nilai kebaikan (amr ma’ruf nahi mungkar) dalam kehidupan umat manusia. Oil palm plantation industry which oriented to replace fossil fuels is more dynamic in Jambi. Agrarian society slowly shift to oil palm agriculuture commodities. Smoke haze that occur almost every year as one of the impact of the rapid development of oil palm plantations. Through literature reviews and empirical research, through interviews and observation technique, to explore micro agrarian conflict in Jambi in 2011 and 2012, and the field observation on the smoke haze in 2014, this papers proposes some measures that enviromental degradation and economic ruin tradition is due to the massive presence of the oil palm plantation industry oriented plant-based fuels or biofuels. Finally, this papers suggest alternative strategies to solve both social and economic issues, by strengthening the ulama roles in spreading the concept almaslahah and caliph in Jambi and enforce the ulama’s identity as a guard virtues (amr ma’ruf nahi munkar) in the life of mankind.
HAKEKAT PENCIPTAAN MANUSIA DAN PENGEMBANGAN DIMENSI KEMANUSIAN SERTA URGENSINYA TERHADAP PENGEMBANGAN DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN DALAM PRESPEKTIF AL-QURAN Umami, Ida
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Allah menciptakan manusia antara lain adalah sebagai khalifah di muka bumi. Berkaitan dengan konsep ini, maka manusia berkewajiban memelihara dan melestarikan lingkungan. Namun, tidak jarang manusia malah merusaka alam dan lingkungan. Hal ini tentunya bertentangan dengan tugas dan fusngsinya sebagai khalifah. Tulisan ini mengeksplorasi hakikat penciptaan mausa dan urgensinya dalam pelestarian lingkungan. Kajian dalam tulisan ini mengacu pada perspektif al-Quran. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan dapat didapat kesimpulan bahwa hakekat penciptaan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam semesta dan lingkungannya. Salah satu tugas penting yang diamanahkan kepada manusia adalah tugasnya sebagai khalfatullah di muka bumi. Prinsip amanat yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi menghendaki adanya cobaan, ujian dan medan pergulatan antara kebajikan dan keburukan. Manusia diciptakan untuk mengarungi kehidupan dan melaksanakan tugas kekhalifahannya terkait dengan pelestarian alam semesta baik bagi manusia maupun lingkungannya baik di laut, di darat maupun di udara. Manusia di lahirkan ke dunia dibekali dengan kemampuan/ daya cipta, rasa, karsa karya dan daya taqwa. Dalam kaitannya dengan lingkungan, daya tersebut merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Daya disebut akan mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin serta ajaran agama dalam mengemban tugas kekhalifahan dan khususnya dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab terhadap pelestarian lingkungan alam semesta. The essence of human creation cannot be separated from the universe and its environment. One of the important tasks entrusted to human beings is their duty as khalfatullah on the earth. The principle of the duties assigned to humans as vicegerent on earth leads for hurdle, temptation and struggles between virtues and evils. Humans were created to live and carry out duties related to the preservation the nature of universe for both humans and the environment such as the sea, the land and the air. It has been stressed by Allah in the Quran that the damage in the land and sea was actually caused by human hands. In this context as an-Nas and Bani Adam, to describe the universal values that exist in every human being regardless of background differences in gender, race and ethnicity or their respective faiths, human being born into the world equipped with the ability/ creativity, feeling, creation and faith. Related to the environment, those values are the most executive function in the human soul. It also will encourage the implementation of the doctrine and dogma in the duties as a khalifah and mostly in the duties implementation and responsibilities toward the environment of the universe.
PEREMPUAN DAN EKSISTENSI KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM Tobibatussaadah, Tobibatussaadah
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakIslam adalah agama pembawa semangat reformasi bagi kaum perempuan. Islam juga telah memberikan fondasi terhadap kesetaraan lelaki dan perempuan dalam banyak dimensi kehidupan. Namun, perdebatan yang sering muncul adalah terkait dengan kepemimpinan perempuan dalam Islam. Dalam sejarahnya, wanita dipandang kurang cakap menjadi pemimpin karena umumnya mereka tidak memiliki akses ke dunia pendidikan. Namun demikian, Islam telah menempatkan wanita setara dengan laki-laki. Tidak ditemukan nash yang secara diametris atau langsung melarang wanita terlibat dalam kepmimpinan publik atau politik. Dalam konteks hukum Islam, sesuatu yang tidak dilarang secara jelas, tidak direkomendasikan, yang berarti bahwa perempuan dibolehkan memasuki arena kepemimpinan. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa perempuan yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin, harus menjadi pemimpin. Sejarah telah mencatat beberapa perempuan yang memiliki kemampuan menjadi pemimpin. Islam is a religion that brings the spirit of reform related to women’s issues. Islam has been laying the foundations of equality between men and women in the various dimensions of life. One of the highlights for debate is the relationship with the leadership of women in Islam. According to the history, culture women are not considered to own ability to be a leader. This assumption because women have little or no access to education. Islam, however, puts women as whole human beings equal to men. There is no passage which is diametrically and straight forward prohibit women involved in the issue of leadership in the public domain or politics in general. In the study of Islamic law against things that are clearly not prohibited is also not recommended, it is permissible or allowed to enter the territory. Thus, it can be said that women who have capability to be a leader should be a leader. This notion can also be proven historically that some great women capable of becoming a leader.
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF ULAMA PESANTREN DI ACEH Marzuki, Marzuki
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKepemimpinan perempuan dalam Islam masih menjadi salah satu persoalan yang menjadi perdebatan di kalangan Ulama di dunia, Indonesia bahkan di tingkat daerah. Aceh merupakan satu-satunya daerah legalisasi pelaksanaan syariat Islam di Indonesia, sehingga mengetahui pandangan para Ulama di Aceh tentang kepemimpinan perempuan yang masih menjadi polemik merupakan hal yang sangat penting dan menarik, terutama pandangan para Ulama Pesantren di Aceh. Studi ini berbentuk analisis terhadap jajak pendapat yang dikumpulkan dari pandangan para ulama Pesantren di Aceh terhadap kepemimpinan perempuan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Ulama Pesantren di Aceh memiliki dua pandangan dalam meninjau kebolehan seorang perempuan menjadi pemimpin. Pertama, membedakan antara urusan Syariah dan muamalah. Dalam urusan syariah, para Ulama sepakat tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin, seperti menjadi Imam shalat dan Khatib Jumat. Sedangkan dalam urusan muamalah, mereka membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin, seperti menjadi Kepala sekolah, ketua PKK, ketua Koperasi dan lain-lain, hingga Jabatan legislatif dan eksekutif. Kedua, Ulama Pesantren di Aceh “memberi celah” bagi perempuan untuk menjadi pemimpin, yaitu mereka pada dasarnya melarang atau tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin. Namun, apabila ada di antara perempuan yang mencalonkan diri, dan dia memiliki kemampuan dan dijamin keagamaannya, maka hal tersebut tidak dipermasalahkan, asalkan ia memiliki kecakapan dan berada pada jalan syariat Islam. Female leadership in Islam is still one of the contentious issues among Ulama in the world , Indonesia and the local level. Aceh is the only area of the legalizations the implementation of Islamic law in Indonesia, so knowing the views of the Ulama in Aceh on women’s leadership is still being debated and is a very important and interesting, especially the view of the Ulama Pesantren in Aceh. This study is an analysis of the poll form collected from the view of the scholars boarding school in Aceh on women’s leadership . The results of this study indicate that the boarding school in Aceh Ulama have two views in reviewing the permissibility of a woman becoming a leader . First ,the respondents distinguish between Sharia and muamalah affairs. In matters of sharia , the scholars agreed not to allow a woman to become a leader , as an Imam and Khatib. While in the affairs muamalah, they allow a woman to become leaders, such as being a school principal, chairperson of a cooperation, up to the legislative and executive Position. Second , Ulama Pesantren in Aceh “giving gap” for women to become leaders, that they basically do not prohibit or allow a woman becomes a leader. However, if there is among women who ran, and she has the ability and guaranteed religious, then it does not matter, as long as she has the skill and is on the way Islamic law.
DARI SAKRAL KE PROFAN: Globalisasi Dan Komodifikasi dalam Dunia Spritual dengan Ilustrasi Tarekat Naqsyabandiyah- Khalidiyah Babussalam (TNKB) Muzakir, Muzakir
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tulisan ini menjelaskan adanya pergeseran serius dalam orientasi institusi spiritual dengan ilustrasi Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB). Pergeseran ini terjadi karena pengaruh globalisasi yang terjadi telah berhasil merubah orientasi institusi spiritual tidak lagi semata-mata melakukan “olah-spritual”, tetapi juga “olah-material”. Dalam penelitian ini digunakan teori globalisasi dan komodifikasi untuk menemukan bagaimana proses pergeseran itu terjadi dan apa yang terjadi pada institusi spiritual dalam kaitan kedua yang dikemukan. Untuk menemukan pengaruh dan respon TNKB vis a vis globaliasi, yaitu pengaruh globalisasi terhadap TNKB telah berhasil melemahkan sistem tradisi yang dianut. Kemudian, respon yang diberikan TNKB dengan adanya upaya penguatan identitas sebagai upaya untuk tetap bertahan dalam situasi perkembangan yang ada. Konsekuensin dari pengaruh globalisasi ini mengakibatkan adanya disorientasi pada TNKB, yaitu dari dari sakral ke profan dengan adanya praktek komodifikasi dalam hampir semua aktifitas yang dilakukan di dalamnya. This article describes a serious shift in the orientation of spiritual institution illustrated through the mystic order of or Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB). The shift occurs due to the globalization era that has changed the orientation of the spiritual institution in that the institution does not merely focuses on spirituality only but also on material benefit orientation. This research applies the globalization and co-modification theories to depict the shift process and what really happens in the spiritual institution. That is to find out the influence and response of TNKB vis a vis globalization era. Globalization has weakened the traditional system adhered by TNKB. With regard to that phenomenon, TNKB is seeking to strenghten its individual identity. Nevertheless, the influences of globalization er brings about disorientation for TNKB that is from being sacred into profane. This shift is supported by the co-modification practices that exist in almost all of the institution activities.
ISLAM PERSUASIF DAN MULTIKULTURALISME DI ACEH: Upaya Rekonstruksi Penerapan Syariat Islam Berbasis Pendidikan Fikri, Mumtazul
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa tahun terakhir pergolakan dan penolakan terhadap syariat Islam di Aceh semakin gencar disuarakan, selain itu banyak pertikaian berbasis agama muncul dalam masyarakat Aceh, ini menunjukkan ada masalah akut dalam penerapan syariat Islam di Aceh. Tulisan ini diawali dengan uraian fakta bahwa multikultural merupakan konsep klasik di dalam Islam yang telah ada sejak lama bahkan sejak negara Madinah lahir sebagai negara Islam pertama di dunia. Sedangkan dalam konteks Aceh, multikultural juga telah lama dikenal mengingat Aceh merupakan daerah pluralis dengan keragaman identitas masyarakatnya. Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis yang menunjukkan bahwa syariat Islam di Aceh seolah belum mampu memayungi aspek multikultural masyarakat Aceh. Bahwa implementasi syariat Islam di Aceh membutuhkan kepada pendekatan berbasis lokal dengan mengedepankan multikultural sebagai muara dari penetapan kebijakan. Konflik multikultural di Aceh dapat diselesaikan melalui pendekatan pendidikan melalui 2 (dua) substansi. Pertama, Substansi Teoritis, yang berhubungan dengan kurikulum pendidikan, metode pembelajaran, materi pelajaran dan lembaga pendidikan. Kedua, Substansi Praksis, yang berhubungan dengan penelitian sosial, budaya, ekonomi dan agama yang akar masalahnya bermuara pada multikulturalisme, selanjutnya dicari solusi praktis dan bijak berbasis pendidikan. Penulis merumuskan konsep Islam persuasif melalui 4 (empat) prinsip, yaitu: (1) dakwah berbasis kultur budaya, (2) mewujudkan partisipasi aktif umat, (3) dakwah berbasis psikologis, dan (4) dakwah yang bernilai optimis. Keempat prinsip tersebut diharapkan mampu menjadi solusi dalam upaya resolusi konflik agama yang terjadi di Aceh. In the last few years, the upheaval and rejection of Islamic law in Aceh is voiced intensively, besides many religion-based disputes arise in Acehnese society, this issue indicates to an acute problem in the application of Islamic law in Aceh. This paper begins with a description of the fact that multicultural is a classic concept in Islam that has existed for a long time even since the state of Medina was born as the first Islamic country in the world. While in Acehnese context, multicultural also has long been recognized in view of Aceh is a pluralist society with multiple identities. This paper is the result of a research which showed that Islamic law in Aceh as yet able to accommodate multicultural aspect of the Acehnese. Implementation of Islamic law in Aceh need to locally-based approach in promoting multicultural as the aim of the policy- setting. Multicultural conflict in Aceh can be resolved through a educational approach in two substances. First, Theoretical Substance, the substance related to curriculum, teaching methods, learning materials and educational institutions. Second, Practical Substance, the substance related to the study of social, cultural, economic and religious where the root of the problem based on multiculturalism, subsequently sought practical solutions and instant-based education. The author formulates the concept of Islamic persuasive through four principles, namely: (1) cultures-based preaching, (2) embodies the active participation of the umat, (3) psychological-based preaching, and (4) optimistic preaching. These four principles are expected to be the solutions to religious conflict resolution in Aceh.
GENEOLOGI PENAFSIRAN AGAMA MASYARAKAT PEDESAAN: Tinjauan Epistemologi Hukum Islam terhadap Pluralitas Pemahaman Keagamaan Masyarakat Rejomulyo Metro Selatan, Lampung Setiawan, Wahyu
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakArtikel ini merupakan hasil kajian epistemologi hukum Islam pada tataran aplikatif di tingkat masyarakat desa Rejomulyo, Metro Selatan, Lampung yang menampilkan kreativitas intelektual dalam penafsiran agama. Studi ini diawali dari adanya kontinuitas dan perubahan isu pembaharuan dari tradisi besar (great tradition) arus pemikiran terhadap tataran tradisi kecil (little tradition) masyarakat pedesaan yang mengerucut pada perdebatan masalah hukum konkrit dan standar ganda yang menguat. Tujuan artikel ini mendeskripsikan geneologi penafsiran agama masyarakat pedesaan terhadap pluralitas pemahaman keagamaan masyarakat Rejomulyo Metro Selatan, Lampung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akar pluralitas pemahaman keagamaan di Rejomulyo terbentuk berdasarkan perspektif sejarah terdiri dari lima periode. Periode awal, nuansa keagamaan diwarnai ajaran sinkretik Hindu-Islam dan kebatinan Jawa (kejawen). Periode kedua, tahun 1940-an dengan pola keberagamaan lebih pada Islam kultural. Periode ketiga, tahun 1960-an diwarnai harmonisasi antara kelompok organisasi keagamaan Muhammadiyah dengan kelompok Tradisionalis. Periode keempat, yaitu sejak 1990-an merupakan awal muncul gejolak pemikiran antara Islam Tradisionalis dan Islam Literalis. Periode kelima, tahun 2000-an, dimana perbenturan antar tradisi pemahaman keagamaan di Rejomulyo semakin kompleks. Kemunculan kembali kelompok Islam Tradisionalis yang berupaya menghidupkan kembali pola keberagamaan kultural. Kemudian terbentuk kelompok ‘Tradisionalis baru’ yang berada diantara kelompok Tradisionalis-Literalis yang selama ini selalu terlibat kontestasi memperebutkan klaim kebenaran praktek keagamaan yang paling otentik. This article is result of study about epistemologi of islamic law in villagers applicative level of Rejomulyo, south Metro Lampung which shows intellectual creativity in interpretating a belief. This current study starts from the excistence of continuity and transformations of reforming issue that was coming from the great tradition to thoughts that concerns with the little tradition rank. The purpose of this article is to describe the geneology of villagers’ interpretating a belief toward villagers’ plurality of region insight of Rejomulyo – South Metro, Lampung. The yield of this current paper shows that the roots of villagers’ plurality region insight at Rejomulyo shaped based on aspects of history which consist of five periods. Early period, the nuance of region has been colored by hindu-islam doctrines and java’s spritualism. Second period is in the 1940’s, the patterns of diversity is more rather than islamic cultural. 1960’s is the third period where it has been colored by harmonization between two islamic organizations, those are Muhammadiyah and the traditionalist. The fourth period has been begun 1990’s. That year was time when thought of differences appeared between The traditionalist and the Literalist. Mellinnium era is the fifth periode where conflicts between tradition of relegion thoughts was more complex in Rejomulyo. The Emergence of islamic traditionalist group who try to energize the patterns of cultural variations. The new group,then, is well-known “ New Tradition” which resided between traditionalist and Literalist group that always involved to flight over the claim of thruthfulness which is the authentic one in doing reverence.
ISLAMIC STUDIES DALAM KONTEKS GLOBAL DAN PERKEMBANGANYA DI INDONESIA Abidin, Zainal
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang kajian Islam dalam lintas sejarah dalam konteks global dan perkembangannya di Indonesia. Permasalahan mendasar dalam kajian ini adalah mengenai akar tradisi studi Islam pada lembaga pendidikan di Indonesia. Selain itu, tulisan ini juga bermaksud menelusuri pengaruh Barat terhadap studi Islam di Indonesia. Kajian dalam tulisan ini merupakan kajian pustaka dengan pendekatan historis. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Studi Islam tidak dapat dipisahkan dari Orientalisme dalam konteks sejarah dan termasuk sejarah agama Kristen, sebab secara realitas orientalisme lebih dekat dan bersinggungan langsung dengan program imperialisme khususnya di Asia dan Afrika, dan dalam kenyataannya banyak Negara Islam berada di bagian Timur belahan dunia. Di Indonesia, Studi Islam telah lama ada dan menjadi studi yang penting, dikarenakan telah menjadi kebutuhan bagi umat Islam terutama dalam konteks akademik seperti yang dipelajari di UIN, IAIN, dan STAIN. Banyaknya intelektual muslim Indonesia yang studi di negara-negara Barat berimplikasi pada corak dan metode studi Islam di Indonesia. This article discusses about history of Islamic studies in global context and its developments in Indonesia. The deep problem in this paper is about the roots of tradition of Islamic studies at educational institutions in Indonesia. Besides, this paper also intends to explore the influence of the West against toward Islamic studies in Indonesia. This paper is a literature review where the historical approach was used to investigate it. Based on the discussion, it could be summarized that the Islamic studies can not be separated from the Orientalism on the context of history and also it included the history of Christianity. Since, the reality of Orientalism closes and interacts directly with the program of imperialism as well, especially both Asia and Africa. In fact, many Islamic countries are in Eastern parts of the universe. In Indonesia, Islamic Studies had long existed and become an important study, because it has become a necessity for Moslems, especially in the academic context which is learned in UIN, IAIN, and STAIN. A number of Indonesian Moslem scholars who studied in Western have implicated on thier style also method of islamic study in Indonesia.
URGENSITAS HERMENEUTIK HASAN HANAFI DALAM MEMAHAMI AGAMA DI ERA GLOBALISASI Nurkhalis, Nurkhalis
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini menje;laskan tentang Hanafi yang telah memperkenal suatu teori hermeneutik dengan pendekatan istimbat istiqra’i (eksplorasi deduktif). Istiqra’ dipahami dengan istaqraitu diartikan dengan „saya telah menguji‟ dengan cara menhadirkan kembali pengujian dari khusus ke umum melalui pengetahunan makna setiap bahagian dan spesifikasinya. Istiqra’ merupakan kemampuan memegang kesimpulan yang dibuat dari pandangan puncak keseluruhan akal yang sama pada setiap orang atau apresiasi sebuah estetis individual yang diterima oleh orang-orang pada umumnya. Dalam tulisan ini, hermeneutik revolusioner bertujuan dalam hubungannya terhadap pembebasan bumi (tahriru aridhi) orang Islam atas nama Tuhan (Allah), aradhu al mi‘ad (bumi yang memenuhi janji) yang mengikat antara Allah dan bumi dengan aqidah, lahūt ardh (memfaktakan Tuhan di bumi) yakni penyatuan antara tauhid dan wahdatul ummat, antara nubuwwah dan dinamika historis, revolusi bumi, dinamika zaman yang menghapuskan kesenjangan antar sukūnina (kedamaian) dan takhallufina (perbedaan yang ada), maka inilah yang membentuk peradaban (hadharah) yang saling berkoneksi antar manusia, zaman, kesejarahan dan dinamika. Gerakan pembaharuan Islam kontemporer menghendaki pemindahan ‟ishlah din (reformasi agama) ke nahdhah syamilah’ (kebangkitan kinerja). Kemudian dari „nahdhah syamilah’ akan melahirkan pencerahan akal maka dengan sendirinya akan mudah terjadi revolusi sosial dan politik. Reformasi dalam konsep mitsali (ideal) menuju kepada reformasi sosial, harus melalui perkawinan wa’yu siyasi (wacana politik) dengan wa’yu tarikhi (wacana sejarah).Kombinasi pemahaman agama antara sensus literalis (makna yang banyak diterima dalam literal), sensus spiritualis (makna yang cepat membangkitkan kehadiran teologis) dan „sensus komunal‟ (mayoritas pendapat pakar) akan membentuk sebuah cakupan cakrawala hermeneutik desiratum yakni pemahaman agama yang dilahirkan melalui interpretasi yang diperoleh melalui pencapaian kegigihan para interpreter menemukan jalan tengah antara ideal good dalam Al Qur‟an dengan menciptakan persaudaran yang positif dalam beragama. Penelitian ini merupakan hasil dari penelitian studi pustaka.This paper describes the Hanafi who has introduced a hermeneutical theory with istimbat istiqra'i approach (deductive exploratory). Istiqra' is understood to mean istaqraitu meaning that I have been testing by bringing back test from the particular to the general through meaning knowledge of every part and specifications. Istiqra' is the ability to hold the conclusions of the summit view of the overall the same sense in every person or aesthetic appreciation of an individual who is accepted by all people in general. In this paper, hermeneutic revolutionary aims in relation to the earth liberation (tahriru aridhi) of Muslims in the name of God (Allah), aradhu al mi'ad (earth that fulfills the promise) binding between God and the earth with faith, lahūt ardh (making factuality of God on the earth) which is the union between monotheism and wahdatul ummah, between nubuwwah and historical dynamic, the revolution of the earth, with the dynamics that abolish disparities between sukūnina (peace) and takhallufina (differences), then that has shaped civilization (hadharah) mutually connect between man, age, history and dynamics. Contemporary Islamic reform movement requires the removal of ’ishlah din (religious reform) to nahdhah syamilah' (awakening of performance). Then from 'nahdhah syamilah' will give birth to enlightenment sense then by itself will easily occur social and political revolution. Reforms in the concept mitsali (ideal) to social reform should be through marriage wa'yu siyasi (political discourse) with wa'yu tarikhi (historical discourse). The combination of religious understanding between census literalists (meaning that is widely accepted in the literal), census spiritualist (meaning that quickly evokes the theological presence) and ‘census communal’ (the majority opinion of the expert) will form a coverage horizon hermeneutic desiratum that is the understanding of religion that was born through interpretation obtained through the achievement of the persistence of interpreters who find a middle course between the ideal good in the Qur'an in creating a positive religious fraternity. This study is the result of literature review.
PENGARUH PENGELOLAAN WAKAF DI MESIR TERHADAP PENGELOLAAN HARTA WAKAF PENDIDIKAN DI INDONESIA: Studi terhadap Ijtihad dalam Pengelolaan Wakaf Pendidikan di UII dan Pondok Modern Gontor Mu'allim, Amir
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTulisan ini membahas tentang pengaruh pengelolaan wakaf di Mesir terhadap pengelolaan harta wakaf pendidikan di Indonesia. Keberhasilan Mesir ikut memberikan kontribusi terhadap lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang kemudian dikelola dengan harta wakaf. Harta wakaf yang sangat besar di Universitas al-Azhar. Jami’ah al-Azhar tidak menarik iuran dari mahasiswanya, bahkan setiap tahunnya universitas selalu memberikan beasiswa bagi ribuan mahasiswanya. Hal ini karena adanya harta wakaf yang diklelola dengan baik. Universitas Al Azhar selaku nadzir atau pengelola wakaf hanya mengambil hasil wakaf untuk keperluan pendidikan. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh pengelolaan wakaf di Mesir terhadap pengelolaan harta wakaf pendidikan di Indonesia. Adapun fokus artikel ini pada studi terhadap ijtihad dalam pengelolaan wakaf pendidikan di Universitas Islam Indonesia dan pondok modern Gontor. Kesimpulan artikel ini menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan pengelolaan wakaf di Mesir terhadap pengelolaan wakaf di lembaga pendidikan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada pengelolaan dan pengembangan wakaf yang dilakukan oleh Yayasan Badan Wakaf UII dan Yayasan Pemeliharaan, Perluasan Wakaf Pondok Modern Gontor Ponorogo. Konsep pengelolaan wakaf di lembaga pendidikan ini adalah untuk menciptakan maslahah al ammah, yaitu kemaslahatan umum yang menyangkut kepentingan orang banyak. This paper discusses about the influence waaf maintenance at Egypt on maintenance waaf of education in Indonesia. The successfulness of Egypt takes part in giving contribution toward educational institutions in indonesia which is managed through the waaf properties. Wealth of waaf is profoundly much at Al Azhar University. So that, it does not collect dues tuition or fees. In fact, it always provides scholarships annualy for its thousand –student. It is due to Wealth of waaf is available which managed well. Al Azhar University is as nadzir or administrator of waaf just takes the yeild to fulfill educational needs. This article aims to describe the influence of waaf maintanance at Egypt toward the managing wealth of waaf in educational institution of Indonesia. Concerning the main point of this paper is about study Ijtihad in managing educational waaf in Islamic University of Indonesia and Darussalam Gontor Islamic Boarding School. The summary of this research shows that there is a significant influence in the management ofwaaf at Egypt toward the management of waaf in educational institution of indonesia. It could be seen in maintenance and developing waaf that have been done by both Islamic University of Indonesia’s foundation of waaf and Darussalam Gontor Ponorogo islamic instituion’s foundation for waqf maintenance and enlargement. The consept of maintenance of waaf in those educational institution is to creat maslahah al ammah, that is the advantage for all.In