cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
ARGUMENTASI MAKNA JIHAD DALAM AL-QURAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF MASYARAKAT KOSMOPOLITAN Widayat, Prabowo Adi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jihad merupakan ajaran hanīf yang dimiliki umat Islam, keberadaannya menjadi sebuah doktrin atau ajaran sendiri ditengah-tengah masyarakat luas, terma jihad telah mengalami penetrasi disegala bidang termasuk kajian keagamaan pun memposisikan jihad sebagai wujud usaha meningkat kualitas beragama berupa implementasi pemikiran keagaamaan dalam konteks keilmuan, peradaban, dan kebudayaan. Dewasa ini terma jihad mengalami distorrsi pemaknaan secara aplikatif, hal ini menjadi sebuah bencana pemikiran keagamaan dikalangan umat Islam. Kejumudan pemikiran dan absolutisme terhadap sebuah gagasan dari kelompok tertentu mengakibatkan dispalitas makna jihad tersebut sehingga mengakibatkan tindakan radikalisme berbasis ajaran jihad. Masyarakat kosmopolitan sebagai masyarakat yang moderat, egaliter, dan berbudaya, mampu menjadi sebuah wacana produktif untuk mengkonsep makna jihad yang proporsional, akomodatif, dan komunikatif dalam segala bidang serta berkontribusi positif untuk memajukan peradaban umat yang majemuk, karena dalam masyarakat kosmopolitan masing-masing anggota komunitas memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyikapi perbedaan kontekstual untuk mencukupi kebutuhannya dalam kehidupan sehari-hari. Jihad is a hanīf belonging to the teachings of Islam, its existence became a doctrine or teaching itself among the public at large, term of jihad has experienced penetration in every field including religious studies was positioned as a manifestation of jihad efforts increased the quality of the implementation of the religious thought of religion in the context of scientific knowledge, civilization, and culture. These terma have distorrsi the definition of jihad in applicative, it is becoming a disastrous religious thought among Muslims, rigidity of thought and the absolutism of a notion of certain groups result in dispalitas the meaning of jihad is resulting in acts radicalism based teachings of jihad. A cosmopolitan society as a moderate society, egalitarian, and cultured, capable of being a productive discourse to conceptualize the meaning of jihad is proportional, accommodating, and communicative in all areas as well as to contribute positively to advance civilization of the compounds, as in the cosmopolitan society of each member of the community has a high ability in addressing differences contextual to fullfill his needs in everyday
STUDI KRITIS TERHADAP FATWA MEJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG ALIRAN AHMADIYAH DAN KEBIJAKAN NEGARA DALAM PENYELESAIAN KASUS AHMADIYAH Wibowo, Ari
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menyikapi respon dan perlakuan sebagain masyarakat terhadap perkembangan jamaah Ahmadiyah di Indonesia Majelis Ulama Indonesia (MUI mengeluarkan fatwa tentang aliran Ahmadiyah. Bagi Majelis Ulama Indonesia sendiri, gerakan Ahmadiyah tanpa terkecuali menyimpang dari ajaran Islam yang seharusnya. Akan tetapi, dalam menyikapi hal ini kita harus memiliki paradigma yang holistik, tidak hanya melihatnya dari satu sisi tapi juga dari sisi lain yang bisa jadi memiliki pemahaman yang berbeda. Tulisan ini mengupas tentang metode dampak keluarnya fatwa MUI No: 11 Munas VII MUI/15/2005 tentang Ahmadiyah di Inondesia serta kebijakan Negara dalam menjamin keyakinan warga negara menurut agama yang dipeluknya terkait dengan kasus Ahmadiya. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang bersifat kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan dengan cara wawancara dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan cara content analisys (analisis isi). Sementara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologis. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam fatwa tentang Ahmadiyah ini, secara metodologi MUI tidak menggunakan prosedur hierarki sumber hukum Islam dengan praktik yang baik. Dalam fatwa ini, MUI menganalisa suatu masalah menggunakan pendekatan bayani dan istislahi. Dampak fatwa ini ini kepada masyarakat dapat dibagi dalam dua kelompok. Pertama, dampak positif berupa terhentinya kebingungan masyarakat tentang posisi ulama ahlussunnah wal jamaah (MUI) dalam masalah Ahmadiyah dan fatwa ini juga mengurangi lahirnya perpecahan dalam tubuh Islam, Kedua, dampak negatif berupa pengekangan kebebasan berpikir masyarakat. Kebijakan negara dalam kasus Ahmadiyah yang menyetujui fatwa MUI yang mengategorikan aliran Ahmadiyah sebagai aliran sest. Pemerintah cenderung bersikap setengah hati dalam menyelesaikan kasus Ahmadiyah. Secara umum, fakta ini memberikan gambaran bahwa perlindungan pemerintah terhadap kelompok minoritas masih sangat minim.Addressing response and treatment of the community toward the development of the Ahmadiyya Jamaat in Indonesia, the Indonesia Ulema Council (MUI) issued a fatwa about the Ahmadiyya. For the Assembly of scholars of Indonesia itself, the Ahmadiyya movement without exception strayed from the teachings of Islam should be. However, in addressing this we must have a holistic paradigm, not only looking at it from one side, but also from the other side that it could be a different insight. This paper focuses itself on the impact of the fatwa of the MUI No: 11 the Congress VII MUI/15/2005 about the Ahmadiyya in Inondesia as well as State policy in ensuring the confidence of citizens according to the religion they believe related to the case of Ahmadiya. This paper is the result of field research qualitative descriptive nature. The Data collected by means of interviews and the documentation is then analyzed by means of a content analisys. While the approach used is a sociological approach. From the results of the study it was concluded that the fatwa about Ahmadiyah, a methodology does not use the MUI resource hierarchy procedure of Islamic law with good practice. In this fatwa, the MUI analyze an issue using the approach and istislahi bayani. The impact of this bull to the community can be divided into two groups. First, the positive impact of the suspension of the confusion about the position of Ahl al- Sunnah wal Jamaat ulema (MUI) in the Ahmadiyya issue fatwas and this also reduces the birth of the Islamic body, split in two, the negative impact of curbing freedom of thought. State policy in the case of Ahmadiyah, which approves the MUI that categorize the Ahmadiyya as flow sest. The Government is likely to be half-hearted in resolving the case of Ahmadiyah. In General, this fact gives an overview that Government protection against minority groups is still questionable.
MEMBANGUN SEMANGAT KEHARMONISAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA Kurniawan, Akhmad Syarief
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara yang multikultur dan multietnis serta keyakinan, di satu sisi menjadi rahmah dan di sisi yang lain menjadi tantangan. Keanekaragaman suku dan terlebih keyakinan menjadikan konflik horizontal sangat mudah terjadi. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya kerukunan umat beragama. Pemaparan dalam tulisan ini berdasarkan analisa dari data pustaka dengan model deskriptif. Dari hasil pembahasan dpata diperoleh simpulan bahwa kerukunan umat merupakan kebutuhan manusia. Kerukunan umat beragama ini dapat tercapai dengan efektif dengan cara melakukan dialog antaragama secara intens. Dengan adanya dialog dan komunikasi yang baik, perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerjasama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Penerimaan Islam akan kerjasama itu, tentunya akan dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar agama The tolerance among different believers is a necessity in Indonesia.Because, this country has been multicultural. As the successors of the country, we must respect the harmony within the relationship among the different religions Indonesia regardless the majority or minority status.The religion plurality in Indonesia, which is populated Muslim majority, obtains much critical attention from foreign observers.While certain domestic society are still unsatisfied toward religion life in Indonesia, the foreign observers begin to examine the dialogue model and the tolerance among different believers in Indonesia as an alternative way that should be developed.The different belief does not restrict and forbid collaboration between Islam and other religions, especially in relating the important of human being.The Islam acceptances of collaboration, it will be certainly applied in the life practice, when there any dialogue inter religious.
KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Juandi, Juandi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persoalan mendasar dalam kerukunan umat beragama adalah ketidaksamaan pandangan dalam memahami keyakinan agama lain. Tolak ukur kebenaran agama “orang lain” didasari pada agama kita bukan agama “orang lain” itu sendiri. Islam, dalam pengertian yang sesungguhnya, memberi peluang keselamatan bagi keyakinan lain, sehingga kerukunan beragama bisa direalisasikan. Namun, dalam pengertian khusus, Islam hanya membuka peluang dialog pada level sosial, tidak dalam level ritual. Dengan demikian, peluang menjalin kerukunan umat beragama dalam Islam masih sangat mungkin dilakukan.One of the fundamental issues in religious harmony is inequality in view of understanding the beliefs of other religions. These benchmarks religious truth "others" based on our religion is not a religion "others" itself. Islam, in a real sense, provide an opportunity for the safety of other faiths, so that religious harmony can be realized. However, in a special sense, Islam is only open opportunities of social dialogue at the level, not the level of ritual. Thus, the opportunity to establish religious harmony in Islam is still very possible
REVITALISASI KEPEMIMPINAN PROFETIK Safri, Arif Nuh
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepemimpinan profetik pada peradaban modern ini, masih menjadi sesuatu yang urgen dan signifikan untuk dikaji dan kemudian diaplikasikan kembali. Keberhasilan Nabi Muhammad saw. dalam membangun peradaban dan transformasi sosial di semenanjung Arabia menjadi sebuah kegemilangan luar biasa, tidak hanya di mata kalangan orang-orang Islam, namun juga di mata kalangan orang-orang non muslim. Dalam artikel ini, penulis melihat setidaknya ada dua hal besar yang dilakukan oleh Rasul dalam membangun peradaban, yaitu peradaban iqra yang dimulai sejak wahyu pertama turun, dan dialektika agama yang dilakukan sejak di Madinah yang termaktub dalam Piagam Madinah. Selanjutnya, kedudukan manusia sebagai khalifah secara nilai sudah saatnya kembali menghayati dua aspek yang dibangun oleh Rasul 14 abad yang lalu. Sehingga tercipta khalifah atau wakil Tuhan yang bebas dari taklid buta dan mistik, serta mampu menghadapi realitas perubahan sosial dengan menciptakan peradaban dialogis dan dialektis. Prophetic leadership in modern civilization, is still something urgent and significant to be studied and than to be contextualized. Prophet Muhammad’s success in building civilization and social transformation in the Arabian Peninsula into an extraordinary glories, not only in the eyes of the muslims, but also in the eyes of the non-muslims. In this article, the writer saw at least two of the great things done by the apostle in building a civilization namely that iqra civilization first which started since the very first revelation, and religious dialectic which was rooted in Charter of Medina. Furthermore, the position of caliph in humans as it was time to re-live the values of the two aspects introduced by the apostle 14 centuries ago. So as to create caliphs or representatives of God that are free from blind obedience and mystique, and able to face the reality of social change by creating a communicative and dialectical culture.
KEPEMIMPINAN PROFETIK: REKONSTRUKSI MODEL KEPEMIMPINAN BERKARAKTER KEINDONESIAAN Widayat, Prabowo Adi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemimpin dan kepemimpinan merupakan dualisme sistematis yang terbentuk melalui mekanisme aturan yang dibentuk oleh suatu kelompok, institusi, dan lembaga. Pemimpin seperti yang kita pahami merupakan sosok manusia yang diberi wewenang oleh suatu kelompok, institusi, atau lembaga untuk memimpin, mengelola, memotivasi atau mempengaruhi, dan merancang suatu sistem bersama sekelompok orang yang dipimpinnya untuk mengoptimalisasikan peran institusi atau lembaga bagi kemaslahatan bersama atau masyarakat. Dalam konteks kekinian pemimpin dapat dinisbahkan kepada seseorang yang mempunyai kapabilitas internal dalam hal emosional dan spiritual, dan eksternal dalam hal kepekaan sosial, budaya, dan pemahaman akan pluralitas suatu bangsa dan negara. kepemimpinan profetik merupakan kemampuan mengendalikan diri dan mempengaruhi orang lain dengan tulus untuk mencapai tujuan bersama sebagaimana dilakukan oleh para nabi, dengan pencapaian kepemimpinan berdasarkan empat macam yakni, sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Kepemimpinan profetik perspektif keindonesiaan hendaknya harus didasarkan pada nilai-nilai patriotisme, nasionalisme, dan khazanah budaya nusantara yang dimanifestasikan dalam suku, agama, ras, dan antar golongan.Leader and leadership are the systematic dualism formed through the mechanism of the rules set up by a group of agencies and institutions. Leader as we understand is the human figure that was authorized by a group, and the institution to lead, manage, motivate or influence, and design a system with a group of his men to enhance the role of the institution for the benefit of the community. In nowadays context, the leader can be ascribed to a person who has the internal capabilities in terms of emotional and spiritual, and externally in terms of social, cultural sensitivity and an understanding of the plurality of the nation and the state. Prophetic leadership is the ability to control himselves and influence people with passion to achieve common goals, as performed by the prophets, with the achievement of leadership based on four different among others; sidiq, amanah, talbligh, and fathonah. As for the prophetic leadership of Indonesia’s perspective should be based on the values of patriotism, nationalism, and cultural treasures of the archipelago which is manifested in the ethnicity, religion, race, and class.
KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM Zuhdi, Muhammad Harfin
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskursus tentang kepemimpinan dan masalah pemimpin merupakan suatu yang tidak pernah sepi dari perbincangan dari waktu ke waktu. Tidak terkecuali masa lalu, saat ini dan masa akan datang, pembicaraan mengenai pemimpin banyak dibahas dan dianalisa dari berbagai sudut pandang yang bermacam- macam. Semuanya tergantung dari sisi mana seseorang memandang dan mengulas masalah pemimpin dalam suatu obyek kajiannya. Bila pemimpin dikaji dalam perspektif politik akan melahirkan pandangan yang berbeda bila dikaji dalam perspektif ekonomi. Begitu juga bila pemimpin dibahas menggunakan kacamatan idiologi kapitalis akan sangat berbeda dengan sosialis. Artikel ini mencoba melakukan kajian pemimpin dalam perspektif Islam,dengan mengelaborasi ayat- ayat al-Qur’an secara tematik. karena ajaran Islam harus menjadi bagian sangat penting dan strategis untuk dimunculkan. Karena dari sanalah cita-cita keadilan, kemashlahatan dan kebenaran akan ditegakkan. Tentu semuanya mengacu kepada patokan syari’at agar terhindar dari kepentingan nafsu perorangan, kelompok, maupun isme-isme lainnya yang dapat membuat lemahnya komitmen seorang pemimpin dalam memperjuangan kebenaran dan keadilan dalam rangka mewujudkan kemashlahatan masyarakat yang dipimpinnya.The discourse on the issues of leadership and leader has been challenging from time to time. It was discussed in the past, and is discussing today, and will be discussed in the future from various perspectives. Different perspective results in different judgment. When it is seen from politic perspective, the result would be different from that of economy perspective. The same is true when it is examined through capitalism ideology that would be different from that of social ideology. This writing examines the issue of leadership from Islamic perspective by ellaborating the verses within the holy Koran thematically since Islamic teachings should be important and strategic for the discussion. The holy Koran is the source of goal, justice, utility, and truth. The shari’ah concept should be the standard of the leader in order for him not to be occupied by negative desires or ideologies.
SIMBOLISME DAN ESSENSIALISME KEPEMIMPINAN: KAJIAN FIKIH SIYASAH TENTANG SOSOK PEMIMPIN IDEAL MENURUT ISLAM Sunaryo, Agus
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap masyarakat pasti mendambakan lahirnya sosok pemimpin yang ideal untuk menjalankan roda pemerintahan. Sebab, hanya melalui pemimpin yang ideal, harapan dan cita-cita hidup berbangsa dan bernegara bisa terwujud. Namun demikian, mencari seseorang yang diyakini ideal untuk memimpin, bukanlah persoalan mudah. Dalam konteks Islam, perjalanan sejarah politik negara-negara Islam atau negara-negara dengan penduduk muslim mayoritas, terbukti belum mampu mewujudkan suatu pemerintahan yang benar-benar berhasil untuk membawa masyarakatnya menjadi masyarakat yang maju, damai dan sejahtera. Yang ada justeru masyarakat Barat, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mampu menguasai peradaban di zaman sekarang dan memposisikan Islam dengan segala peradabannya di zona periferi peradaban masyarakat modern. Artikel ini akan membahas diskursus kepemimpinan Ideal menurut Islam. Fokus kajian akan diarahkan untuk menganalisa konstruksi pemikiran yang cenderung simbolis dalam menetapkan kriteria ideal bagi seorang pemimpin. Demikian pula konstruksi pemikiran yang lebih esensialis tentang kepemimpinan juga akan dibahas dalam artikel ini. Every society looks forward to having an ideal leader to run the country. It is through the ideal leader that the society’s dreams and hopes will come true. Nevertheless, such kind of leader is very rare. It has not been found yet within the history of moslem majority countries, such leader who can bring his society into a civilized, peaceful, and prosperous. On the contrary, Western countries could make it in that it puts the moslem countries into a periferi position within modern civilization context. This writing deals with the discourse on the ideal leader seen from Islam perspective. It analizes the thought construction which tends to be very symbolic related to the criteria of an ideal leader. It also adresses the more essential thought construction pertaining to leadership.
RESONANSI PEMIKIRAN PEMIMPIN ISLAM SYI’AH DALAM DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA: STUDI TENTANG SMA PLUS MUTAHHARI Irwansyah, Dedi
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindakan kekerasan atas Islam Syi’ah di Indonesia menunjukkan adanya gab komunikasi antarmazhab yang perlu direspon melalui ragam pendekatan termasuk pendekatan pendidikan. Tulisan ini menunjukkan bahwa ranah pendidikan merupakan pintu masuk yang relevan untuk saling mengenal dan mempersempit gab yang dimaksud. Dalam banyak hal, pendidikan Islam Syi’ah telah mengalami kemajuan signifikan sejak zaman Morteza Muthahhari di Iran terutama melalui perubahan radikal pada filosofi pendidikan yang menghilangkan polarisasi ilmu agama dan ilmu modern. Revolusi pendidikan tersebut menguat melalui pemikiran dan kiprah Muhammad Husain Fadlullah di Libanon. Peran Fadlullah sebagai seorang marja’ membuat pemikirannya dalam bidang sosial, politik, dan pendidikan, beresonansi hingga ke Indonesia. Resonansi pemikiran tersebut terlihat jelas pada kiprah Jalaluddin Rakhmat dalam memimpin pendirian Yayasan Muthahhari yang salah satu visinya adalah untuk mempromosikan komunikasi antarmazhab di Indonesia. Yayasan tersebut juga bergerak dalam bidang pendidikan terutama melalui SMA Plus Muthahhari di Bandung. Pencapaian SMA Plus Muthahhari yang sangat gemilang dan telah mendapat pengakuan dari pihak swasta dan pemerintah, menunjukkan keunggulan filosofi pendidikan Islam Syi’ah. Resonansi pemikiran pemimimpin Islam Syi’ah dan manifestasinya dalam dunia pendidikan di Indonesia, selain berpengaruh positif terhadap dunia pendidikan di Indonesia, tampaknya juga akan mampu mempersempit gab komunikasi antarmazhab di Indonesia sehingga perbedaan mazhab akan dapat dipandang sebagai dinamika dalam kehidupan keberagamaan di Indonesia yang pluralis.The violence act toward the Shi’a followers in Indonesia indicates a gab in term of communication among the different Islamic school of thoughts (mazhab). Such gab is in need of urgent response from various approaches including education approach. This article shows that education is a relevant entry point to bridge those different Islamic school of thoughts and to narrow down the existing gab. To many extents, Shi’a has experienced remarkable progress in education field particularly since Morteza Muthahhari’s era in Iran through the change of educational philosophy which breaks such polarization of religion knowledge and modern science. Such revolution of education was strengthened by the works and thoughts of Muhammad Husain Fadlullah in Lebanon. Fadlullah was a marja’ whose sayings and thoughts on social, political, and educational matters, resonates and reaches Indonesia. His thought resonance is clearly seen in Jalaluddin Rakhmat’s playing important role in establishing Muthahhari Foundation in which one of its mission is to promote effective communication among the Islamic school of thoughts in Indonesia. The foundation also focuses on education field particularly through the establishment of SMA Plus Muthharari in Bandung. Some remarkable achievement of SMA Plus Muthahhari, besides being acknowledged by reputable institutions both private and state, show the superiority of Shi’ah educational philosophy implementation in Indonesia. The thought resonance among Shi’a leaders and its manifestation in Indonesia not only brings positive fresh air to Indonesia educational context but also carries hope for the betterment of communication among the Islamic school of thoughts so that the differences existing within the schools would be seen as a dynamic of religion life in the pluralistic Indonesia
DINAMIKA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DALAM KEPEMIMPINAN KESULTANAN YOGYAKARTA Rachman, Arief Aulia
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang mempunyai hubungan kuat dengan sistem kepemimpinan kerajaan lokal. Keberadaan Yogyakarta selalu dihubungkan dengan peran kharismatik dari dua raja lokal yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono dan Sri Paduka Paku Alam. Sejarah menyebutkan bahwa kedua pemimpin lokal tersebut sangat memengaruhi kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sebab itu, kepemimpinan keduanya sebagai raja daerah bukan saja menunjukkan kearifan lokal tetapi juga berpengaruh terhadap kepemimpinan dalam pemerintahan yaitu sebagai gubernur dan wakil gubernur. Selain itu, Keraton Yogyakarta mempunyai nilai-nilai sakral yang sangat kuat karena raja lokal itu dan menjadi pusat peradaban masyarakat Yogyakarta. Demikian juga, Yogyakarta mempunyai karakteristik tersendiri sebagai salah satu Daerah Istimewa di Indonesia. Karakteristik itu menunjukkan keistimewaan Yogyakarta dari sisi tradisi dan kepemimpinan lokal yang bersifat patron-klien. Regulasi keistimewaan Yogyakarta itu juga berpengaruh terhadap dinamika kehidupan beragama masyarakat Yogyakarta yang berbentuk penerimaan terhadap pluralitas. Yogyakarta is one of the provinces that has a strong correlation with local royal system. The existence of Yogyakarta is always associated with the charismatic roles of the two local kings namely Sri Sultan Hamengkubuwono and Sri Paduka Paku Alam. Historically, both the local kings have major influence on the struggle of the Yogyakarta people. Therefore, the leadership of both the kings as head and deputy cover not only the issue of tradition but also affects the formal leadership of the governor and deputy governor of Yogyakarta. In addition, Kraton Yogyakarta has a sacred value which is very strong because it is the king’s residence of Yogyakarta and also becomes civilization and the struggle symbols of the Yogyakarta people. Thus, Yogyakarta has certain characteristics as one of the areas in Indonesia than other regions. That characteristic has became the privilege elements of Yogyakarta on tradition and local leadership that has patron- klien character. Regulation of the status of that privilege is also affecting the various dynamics of religious life that occurred in the life of the Yogyakarta people with their acceptance of plurality understanding.