cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 470 Documents
KEPEMIMPINAN SPIRITUAL MENURUT M. QURAISH SHIHAB Tusriyanto, Tusriyanto
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang pemimpin mempunyai posisi yang sangat sentral dalam membuat kehidupan menjadi lebih baik, yaitu melalui aturan-aturan dan kebijakan-kebijakan yang dibuat serta komitmen terhadap aturan dan kebijakan tersebut. Realita yang ada dalam kehidupan sehari-hari para pemimpin bangsa ini belum memperlihatkan sikap Islami. Pemimpin kita yang seharusnya memberikan tauladan, perlindungan dan kesejahteraan bagi masyarakat, tetapi justru sebaliknya sebagian mereka korup dan tindakan-tindakannya jauh dari aturan-aturan Islam. Kajian ini bertujuan memberikan acuan dalam memilih seorang pemimpin ideal yang membawa kemajuan dan perubahan lebih baik bagi masyarakat. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah library research dengan sumber primer berupa buku “Membumikan Al-Qur’an Jilid 2 (Memfungsikan Wahyu Dalam Kehidupan). Menurut M. Quraish Shihab, seorang pemimpin harus dapat membawa kemajuan dan perubahan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Dalam konteks kepemimpinan spiritual, seorang pemimpin harus memenuhi syarat, yaitu As-Shiddiq, Al-Amanah, Al-Fathanah dan Tabligh, selanjutnya seorang pemimpin juga harus memiliki sikap adil baik terhadap diri sendiri, masyarakat yang dipimpinnya terlebih terhadap Allah karena kepada-Nya nanti akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak.A leader has a very central position in making life better, namely through the rules and policies made and a commitment to the implementation of the rules and policies. Existing reality in the daily lives of this nation’s leaders have not shown an Islamic attitude. Our leaders are supposed to provide role models, protection and welfare for the people, but quite the contrary most of them corrupt and behave against the rules of Islam. This study aims to provide a reference in selecting an ideal leader who brings progress and change for the better of society. The method used in this paper is a research library with a primary sources book “Membumikan Al-Qur’an Jilid 2 (Memfungsikan Wahyu Dalam Kehidupan). According to M. Quraish Shihab, a leader must be able to bring progress and change for the people he leads. In the context of spiritual leadership, a leader must be qualified, is As-Siddiq, Al-Amanah, Al-fathanah and Tabligh, then a leader must also have a fairly good attitude about himself, the people they lead first to God for him later will be accounted for in later hereafter.
MEMBANGUN INTEGRITAS DAN KARAKTER KEPEMIMPINAN LOKAL SEBAGAI PILAR KEPEMIMPINAN NASIONAL Haikal, Husain
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar saat ini telah mengalami berbagai permasalahan dalam berbagai dimensi. Mulai dari politik, sosial, pendidikan, ekonomi, hukum dan berbagai persoalan lainnya. Permasalahan- permasalahan tersebut tentunya harus segera diselesaikan, agar masyarakat bisa mencapai kesejahteraan yang berkeadilan. Pada dasarnya semua komponen masyarakat bertanggung jawab untuk ikut serta dalam penyelesaian berbagai masalah yang melanda bangsa Indonesia, akan tetapi, sosok yang paling bertanggung jawab dan harus berperan aktif adalah pemimpin bangsa. Namun, pergantian dan suksesi kepemimpinan bangsa seolah tidak mengurangi permasalahan tersebut. Tulisan ini bermaksud mengupas tentang penguatan dan pembangunan integritas dan karakter pemimpin local dalam rangka memperkuat kepemimpinan nasional. Tulisan ini menampilkan beberapa contoh kepimpinan local yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan di daerah. Tulisan ini disusun berdasarkan data kepustakaan dengan pendekatan historis-sosiologis. Berdasarkan pamaparan dalam tulisan dapat disimpulkan bahwa Jelaslah ada beragam kepemimpinan lokal dan kepemimpinan non-formal dengan kekhasan masing-masing dan amat sulit untuk dipahami secara sepotong demi sepotong dari kiprah seorang pemimpin. Dalam keberagaman kepemimpinan, masing-masing akan berhasil apabila mampu mengkaji, menghayati, dan mengamalkan ajaran Tuhan dan tuntunan rasul.Indonesia is now facing many serious problems in politics, social, education, economics, law, fields. Those problems are to be solved immediately in order for the Indonesian people live prosperously and fairly. As a matter of fact, all elements within the society are responsible for finding out the way out of the existing problems. Nevertheless, a leader is supposed to be the most liable person for the solution of the problems. Some succession of the leader within Indonesian context seems not to reduce the problems. This article is aimed at depicting the strengthening and building efforts of the local leader’s characters that will lead to the strengthening of national leadership. This writing also shows some cases of local leadership who apparently dealt with local problems successfully. This writing is organized in line with the library data and analyzed through historical and sociological perspectives. The results of the analysis show that a variety of local leaderships and non-formal leadership are not always easy to understand when they are viewed partially. All of the leaders have their own characters which lead to a common ground in that any leadership would be successful when they examine, digest, and implement spiritual values coming from God and messengers.
TEOLOGI LINGKUNGAN RANGGAWARSITA: KAJIAN TERHADAP TEKS-TEKS ZAMAN EDAN Iswanto, Agus
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTulisan ini menyajikan pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, pujangga Jawa di Keraton Sukararta. Tulisan ini berdasarkan pada studi teks-teks Zaman Edan. Teks-teks ini adalah sebuah karya terjemahan dari beberapa puisi, yang mencakup Serat Kalathida, Serat Sabda Jati, Serat Sabdatama, Serat Jaka Lodhang dan Serat Wedharage, yang diterjemahkan dan diedit oleh Ahmad Norma dalam buku yang diberi judul Zaman Edan. Studi ini memberikan kontribusi bagi wacana teologi lingkungan dari seorang pemikir budaya lokal. Pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, yang ditafsirkan dari teks-teks tersebut, dapat dimasukan dalam pandangan “kekerabatan manusia dengan alam” atau yang juga disebut dengan “deep ecology.” Dalam pandangan ini, kelestarian lingkungan dan bencana akan selalu dikaitkan dengan hubungan antara manusia sebagai ‘hamba’ dan ‘khalifah’ dengan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta. Konsep teologi lingkungan Ranggawarsita menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal Jawa dengan ajaran-ajaran Islam. Hal ini dimungkinkan karena konteks sosial-budaya, yakni Ranggawarsita sebagai santri sekaligus juga sebagai priyayi Jawa. This article presents eco-theology thought of Ranggawarsita, the poet of Surakarta Javanese keraton (palace). This article based on the study of Zaman Edan texts. These texts is translation work from some poetry text, include Serat Kalatidha, Serat Sabda Jati, Serat Sabdatama, Serat Jaka Lodhang, dan Serat Wedharage, which translated and edited by Ahmad Norma in the book of Zaman Edan. This study gives a contribution for eco-theology discourse from local cultural thinker. Eco-theology thought of Ranggawarsita, which interpreted from Zaman Edan texts, can be included in the view of “human kinship with all creatures” or which may be called deep ecology. In this view, environmental sustainability and disasters will always be associated with the relationship between man as servant and caliph with God as the Creator and the universe. The concept of eco- theology’s Ranggawarsita combine the values of Javanese local wisdom with Islamic teachings. It is possible with socio-cultural context, ie, Ranggawarsita as a santri as well as Javanese priyayi.
Islam Vis A Vis Orang Rimba: Studi Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup Orang Rimba Dalam Seloko Pesemian Muzakki, Ahmad
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan tentang konsep pendidikan lingkungan hidup Orang Rimba yang berada di Rombong Sungai Kedundung Muda Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi. Ketertarikan penulisan artikel ini muncul karena katagori pelestarian alam atau lingkungan hidup menjadi salah satu tema besar dalam ajaran Islam. Allah sangat membenci dan tidak menyukai kerusakan yang berujung pada kebinasahan dan kepunahan. Pada satu sisi, Orang Rimba tidak memiliki hubungan relegiusitas yang inten terhadap ajaran Islam. Namun, mereka tidak hanya sekadar sadar akan pentingnya lingkungan hidup, bahkan mereka menjadi praktisi dan “penjaga gawang” dalam memelihara alam atau lingkungan hidup. Mereka juga memiliki konsep dan tips dalam memelihara hutan beserta sumber daya alam yang terkandung didalamnya. Ada banyak nilai dan pendidikan yang dapat dipetik dan dijadikan pembelajaran dari aktivitas hidup dan kehidupan Orang Rimba untuk kemudian diinternalisasikan.This article deals with the concept of environmental education of Rimba ethnic group living around Rombong river Kedundung Muda of national park of Bukit Duabelas Jambi. Such discussion on environmental education is believed to be one of the crucial issues of Islamic doctrine. Allah prohibits all destructive efforts leading to devastation and extinction. In one hand, the Rimba ethnic group do not have religious relationship with the Islamic doctrine. On the other hand, they consciously maintain and preserve the nature fully-hearted. They also possess a well-established concept and tips of how to preserve the forest as well as the natural resources within. There has been a plenty of valuable educational lessons from their practices. Such lessons are to be internalized beyond the Rimba ethnic group.
REKONSTRUKSI PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP MELALUI PENDEKATAN RELIGIUS Angkupi, Prima
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan lingkungan merupakan suatu proses yang tidak dapat dihindari, karena manusia hidup berinteraksi dengan alam dan lingkungannya. Sehingga, ikhtiar untuk mengendalikan dampak kerusakan lingkungan tersebut menjadi upaya yang harus selalu diperjuangkan. Penegakan hukum lingkungan hidup secara total enforcement oleh hukum pidana substantive tidak mungkin dilakukan oleh para penegak hukum, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup, karena tidak menyentuh akar penyebab kejahatan lingkungan. Tulisan ini mengeksplorasi penegakan hukum lingkungan dengan pendekatan religius. Kajian dalam tulisan ini berdasarkan penelitian kepustakaan dengan pendekatan yuridis normatif. Berdasarkan kajian tersebut, dapat diimpulkan bahwa sebagai bangsa yang religius, penyertaan peran agama dalam penegakan hukum Perlu diberikan ruang yang seluas-luasnya. Penegakan hukum yang selama ini ada cenderung mengabaikan keterkaitan ilmu hukum pidana dengan ilmu ketuhanan berimplikasi kepada terpuruknya keberhasilan penegakan hukum lingkungan. Upaya pencegahan kejahatan lingkungan hidup merupakan bentuk penanggulangan yang efektif, dengan menggunakan pendekatan religius dapat memperbaiki kesadaran masyarakat dan perilaku masyarakat yang taat hukum. This paper is discussing about the damage of ecology as an unavoidable process since human life will always interact with his/her environment and nature. Thus, the initiative to control the damage of ecology becomes the essential effort that must be struggled. The law enforcement on ecology thoroughly supported by the subtantive criminal codes which may not be undertaken individually by the law enforcer, especially when it relates to the ecology, as it does not touch the substantive causes of ecological crime. As a religious nation, the attaching role of religion in law enforcement need wide space. The implementation of law enforcement in the real life tends to ignore the law of crime toward theology which implicates to the declining enforcement of ecological law. The preventive effort toward the ecological crimes will be effective when it includes the religiuos approachment in it, and by implementing the religious approachment, it may improve the social awarnerss and the social obidient of law.
PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG Zulaikha, Siti
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah lingkungan adalah berbicara tentang kelangsungan hidup (manusia dan alam). Melestarikan lingkungan sama maknanya dengan menjamin kelangsungan hidup manusia dan segala yang ada di alam dan sekitarnya. Pelestarian lingkungan hidup merupakan upaya sistematis dan terpadu yang harus dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup seperti perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Tulisan ini bermaksud mengelaborasi pelestarian lingkungan dari sudut pandang hukum Islam dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya pengembangan wawasan keilmuan dan memberikan pemahaman terhadap masyarakat akan arti penting melestarikan ekologi untuk kebrlangsungan ekologi secara keseluruhan. Secara keseluruhan, tulisan ini akan mengurai tentang aspek hukum atas pelestarian lingkungan hidup, yang menitikberatkan pada kajian eksploratif; yaitu mengurai secara lengkap tentang pelestarian lingkungan hidup dilihat dari dua aspek yakni hukum Islam dan aspek yuridis (undang-undang). Data tulisan ini adalah data kepustakaan yang berkaitan pelestarian lingkungan, baik dalam perspektif hukum Islam maupun hukum positif. Pendekaan yang digunakan dalah pendekatan normative-empiris Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif hukum positif ditegaskan bahwapelestarian lingkungan hidup diadopsi dalam asas tanggung jawab negara. Negara menjamin hak warga Negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Sementara dalam perspektif hukum Islam terdapat konsep-konsep pelestarian lingkungan hidup yang bertitik tolak dari landasan teoritis fiqh, yaitu teori ushul al-fiqh yang sudah direvitalisasi, yang menuntut manusia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.Environmental issue deals with life sustainability of human and nature. Preserving the environment means keeping the life sustainability of human and nature. Environmental preservation is a systematic and integrated effort to maintain the function of the environment as well as to prevent its contamination and damage. This could be reached through a good planning, utilization, controlling, maintaining, preserving, supervising, and penalization. This writing elaborates the discussion of environmental preservation viewed from Islamic jurisprudence and Indonesian legal system. This writing also aims at increasing the insight and understanding in order to preserve the ecology holistically. Above all, this writing provides the legal aspect of environmental preservation emphasizing the explorative study. That is to explore the environmental preservation from twoperspectives namely Islamic jurisprudence and legal law. This writing is a library research in nature. The approach used is emprical-normative one. The result of the researh shows that positive legal law states that the govenrment is responsible for the environmental preservation. The state assures the right of every citizen to have a good and healthy environment. Consequently, everyone has to preserve the environment and control its contamination and damage. Moreover, Islamic jurisprudence also calls for the revitalization and preservation of the environment.
MODAL SOSIAL DAN KOMUNITAS AGAMA SEBAGAI PENDUKUNG INSTRUMEN HUKUM DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA METRO Tisnanta, H S; Wahab, Oki Hajiansyah; Setyawan, Dharma
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengajukan argumentasi bahwa modal sosial masyarakat, partisipasi komunitas-komunitas agama di suatu wilayah merupakan salah satu faktor pendukung bekerjanya instrumen hukum dan kebijakan. Tulisan ini mengambil studi di Kota Metro yang mayoritas masyarakatnya adalah suku Jawa dan juga memiliki beragam pemeluk agama. Filosofi hidup Rumongso Melu Handarbeni yang diyakini oleh masyarakat Jawa dalam prakteknya ikut mendukung berbagai program Pemerintah Kota Metro. Di sisi lain keberadaan berbagai komunitas agama yang ada di Kota Metro sesungguhnya memiliki potesi yang besar dalam mendukung Kota Metro yang berwawasan lingkungan. Agama dengan ajaran tentang kepedulian lingkungan akan dapat menjembatani proses bertemunya modal sosial dan kebijakan pemerintah dalam mengatasi permasalahan lingkungan khususnya sampah di Kota Metro. Agama Islam dan Kristen dapat menjadi prototype dalam membangun kesadaran lingkungan antarpemeluknya. Pada konteks inilah usaha Pemerintah Kota Metro dalam membentuk sebuah produk hukum daerah sebaiknya memperhatikan modal sosial masyarakat. Hal ini harapanya akan mampu mendukung proses transformasi Kota Metro menuju Kota yang berwawasan lingkungan.This article discribes about social capital behold, the participate of religion communities in the region is one of the supporting factor to operation of legal instruments and the policy.This paper a study in Metro when the major of Javanese and also has a variety of faiths. The Philosophy of life RumongsoMelu handarbeni believed with Javanese to supporting the various programs of Metro’s Government. Therefore, the existence of the religion communities in Metro actually has a great potention to be support of Metro’s environmentally concept. Religion with theory about environmental concerns will be able to bridge the convergence of social capital and government policies to superintend environmental issues specially of waste in Metro. Islam and Christianity can be a prototype to build environmental awareness among its adherents. In this context, the Metros’ Government efforts to arrange a legal product should be attention the community’s social capital. It can be to support the process of transformation Metro City of environmentally concept.
NILAI ISLAM DALAM UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP: Stusi Kasus Penangulangan Pencemaran Sungai Musi oleh Pertamina Refinery Unit III Plaju, Palembang Amnawaty, Amnawaty
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Hasil penelitian tahun 1996 sampai dengan 1998 diketahui telah terjadi 54 kali tumpahan kecil di bawah 15 barel dan satu kali tumpahan besar di atas 500 barel. Sumber tumpahan 99% berasal dari oil cathcer/separator sisanya 1% dari lain-lain. Jenis tumpahan minyak tersebut adalah minyak hitam. Penelitian ini berusaha menelisik upaya-upaya Pertamina Refinery Unit III Plaju, Palembang) terhadap pencemaran lingkungan akibat tumapahan minyak. Kemudian upaya tersebut direlevansikan dengan nilai-nilai Islam dalam pelestarian lingkungan. Penelitian ini pada dasarnya adalah penelitian lapangan yang sumber datanya adalah dari lapangan, namun ada pengayaan data melalui dokumentasi, khusunya terkait dengan kajian keislaman dalam pelestarian lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sistem penanggulangan pencemaran lingkungan adalah sistem Non Penal. Non Penal yang menitik beratkan pada upaya-upaya Pre–emtif, Preventif, Represif dan Rehabilitatif (NP=P2R2). Penanggulangan yang dilakukan oleh Pertamina Refinery Unit III Plaju Palembang adalah yang dilakukan adalah Penanggulangan Tanpa Pidana (PTP). Ditinjau dari konsep Islam maka dapat diketahui bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju telah melakukan penanggulangan yang bersifat tidak merusak alam atau sungai Musi di Plaju, Palembang. A researach from 1996 to 1998 shows that there had been 54 small spillage less than 15 barrels and one big spillage bigger than 500 barrels. The source of the 99% spillage was the oil cathcer/ separator, and the rest 1% is from the other source. The spilled oil was categorized as black oil. This research investigates the responses of Pertamina Refinery Unit III Plaju Palembang in dealing with the environment contamination caused by the spilled oil. Such responses are viewed from islamic concepts on environment maintenance. This field research is enriched by related documentation particularly the one related to islamic concept of the environment maintenance. The result of the research shows that non penal system was used to deal with the environment contamination. The non penal system emphasizes the pre-emtive, preventive, repressive, and rehabilitative responses (NP=P2R2). The responses conducted by Pertamina Refinary Unit III Plaju Palembang belongs to tackling without punishment. Viewed from islamic perspective, Pertamina Refinary Unit III Plaju Palembang had established the efforts which did not destroy the nature and the river existing in Plaju Palembang.
KONSERVASI ALAM DALAM PERSPEKTIF ETIKA ISLAM: TANTANGAN DAN TUNTUTAN GLOBALISASI Aziz, Abd.
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian, keseimbangan dan keindahan alam. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energi harus menjadi slogan dalam kehidupan. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain. Namun demikian, realitanya, banyak orang yang justru merusak alam, menebang hutan secara liar, melakukan penambangan yang tidak terukur, melakukan pengeboran minyak bumi tanpa analisis mengenai dampak lingkungan, dan beberapa tingkah merusak alam yang lain. Setelah melakukan pembahasan terhadap problematika tersebut melalui pendekatan etika lingkungan; Antroposentrisme, Biosentrisme, Ekosentrisme, Eko-feminisme, artikel ini menemukan bahwa salah satu penyebab perusakan alam tersebut adalah karena faktor paradigma transendental yang tidak lagi menganggap bahwa melestarikan lingkungan juga dianjurkan bahkan diwajibkan oleh agama Islam. Melalui tiga paradigma konservasi alam; eko-teologi, fiqh lingkungan, dan eko-sufisme, dalam memanfaatkan alam, manusia harus menyeimbangkan tiga porsi amanahnya; al-intifâ’, al-i’tibâr,dan al-ishlâh. Tiga etika Lingkungan tersebut tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan. As a part of environment, human should keep the perpetuation, the balance, and the beauty of nature. A careful use of the limited natural resources must be a slogan in daily life. The environment is not provided only for human, but also for other creatures. Factually, many people destroy universe by illegal logging, free mining, uncontrolled drilling, of course, without any analysis of its damage impact to the environment. After discussing these problems through an approachment of environment ethics; Anthroposentrism, Biocentrism, Ecocentrism, Eco-feminism, this articel found that the cause of the damage of this universe is a transcendental paradigm factor assumed that conservation was notemphasized by Islam. Through these conservational paradigm; ecology, environmental fiqh, and eco-sufism, in term of universe utilization, people should balance three aspects; al-intifâ’, al-i’tibâr, dan al-ishlâh. These three environment ethics not only investigate the way of people behavior to universe, but also maintain the relation among creatures in this universe, between people and people, people and all other creatures.
KOSMOLOGI DAN URGENSI SPIRITUALITAS Sukman, Sukman
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Para filosuf dan sarjana telah banyak memberikan perhatian serius tentang keberadaannya. Kajian mereka tentang manusia tidak pernah tuntas. Manusia menurut sebagian mereka, ilmuan hanya dikaji secara instrument dan terbatas dalam mengkaji manusia, dan belum ke dalam substansi pokoknya. Kajian tentang manusia selalu menarik. Al-Qur’an jauh sebelumnya telah menjelaskan pandangan umum tentang manusia. Tidak hanya secara matrial semata, tetapi secara spiritual. Para ulama (baca: cendikiawan Muslim) tidak hanya melihat dunia natural sebagaimana dipermukaan (baca: pada zahiriahnya), tetapi ada hubungan dan analogi positif antara tiga dunia (kosmos). Para kosmolog Muslim telah menciptakan teori relasi antar mikro kosmos, makro kosmos, dan metta kosmos. Para nabi dan rasul (orang-orang suci) telah mencoba menemukan rahasia jawabannya dalam kita suci Al-Qur’an dan Hadis nabi. Dalam kajiannya, mereka menemukan bahwa al-Quran menekankan pentingnya alam sebagai fenomena natural yang mempunyai hubungan erat dengan Allah sebagai pemiliknya. Oleh sebab itu, manusia harus melakukan observasi (baca: pengamatan mendalam) dan mempelajari gejala-gejala yang terjadi dalam relasi tersebut. Mereka menemukan makna sempurna dalam ketiga hubungan tersebut. Untuk menemukan makna Tuhan (baca: Allah) tidak perlu jauh, memahami Tuhan cukup dengan memahami diri sendiri serta alam semesta tempat berada. Artikel ini menjelaskan tiga serangkai antara hubungan manusia, alam semesta dan Tuhan sebagai pencipta hakiki. The mans is comprehensively. Whether from the fhilsuf or scholars said that essentially of human have more paid attention. Yet, the attention is always unsuccess. Human is only capable to complete his essential for the instrument’s limit and not for the substansial. So, discouse with human always be interest. Al-Qur’an have explore the worldview, not only about material world, but also spiritual world. The Leaders of religion, not see the world naturally but there are many analogies and allegories relationship. Cosmologist Muslim, create theories that differentiate three worlds, they are, macro cosmos, micro cosmos and metta cosmos. The holly peoples of Mulsim have tried to find the secret behind of the Qur’an and Hadist texts. They try to find the meaning along with the central role of human being in their correlation. Qur’an emphasizes various natural phenomena as signs from Allah that must be observed and studied, so they find the dept wisdom in their life. Their Thoughts are never far from traces of Allah and to find the wisest way to get closer to Allah.Keywords: Cosmos Trilogy, Analogy and Spiritual.