Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Teologi Inklusif Nurcholish Madjid dan Pengaruhnya terhadap Fikih Lintas Agama di Indonesia Sunaryo, Agus
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2160.863 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v6i1.584

Abstract

Dalam diskursus keislaman, para ahli menganggap bahwa paradigma teologis inklusif adalah yang paling sesuai untuk diterapkan dalam konteks kehidupan beragama di abad modern. Prinsip mengakui keberadaan komunitas lain, mau “bertegur sapa” serta berusaha mencari titik temu sejalan dengan semangat yang dibangun oleh al-Qur’an. Artikel ini mencoba mengkaji paradigma tersebut serta melihat problematika fikih dalam kaitannya dengan relasi antara umat Islam dengan non muslim. Persoalan fikih menjadi penting untuk dibahas mengingat bahwa paradigma teologis seseorang cenderung berpengaruh terhadap cara pandang atau aktifitas berfikihnya. Persoalan teologis dan fikih yang dikaji dalam artikel ini bermuara pada pemikiran tokoh Nurcholish Madjid. Selain sebagai pengembang paradigma teologis-inklusif di Indonesia, pemikiran Nurcholish Madjid tentang perlunya melakukan pembacaan ulang fikih, nampaknya selalu menarik untuk dibahas dan sekaligus mengundang kontroversi. Apalagi ketika persoalan fikih tersebut harus melibatkan komunitas agama lain di dalamnya.
Dinamika Epistemologi Fikih: Studi terhadap Beberapa Kecenderungan Usul Fikih Kontemporer Sunaryo, Agus
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 8 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.759 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v8i2.407

Abstract

Cara pandang keagamaan seorang muslim, sangat ditentukan oleh bagaimana mereka membangun keyakinan dan pemikirannya tentang kehendak Tuhan yang tertulis dalam teks-teks suci keagamaan. Sifat teks-teks tersebut yang diam dan berjarak dengan para pembaca, telah melahirkan sikap keagamaan yang berbeda-beda antara satu muslim dengan muslim lainnya. Sehingga, di antara mereka ada yang memiliki cara pandang dan sikap keagamaan terbuka serta toleran, selain tentu saja ada yang memiliki sikap dan cara pandang keagamaan eksklusif-puritan. Masing-masing dari kelompok ini tampil ke permukaan menjadi penafsir dari teks-teks keagamaan dan sekaligus mempromosikan diri sebagai yang paling otoritatif dalam melakukan penafsiran. Artikel ini akan membahas bagaimana dua kecenderungan ini bisa berkembang dan mewarnai diskursus keislaman, khususnya di era kontemporer.
Potret Sosiologis Hukum Islam di Indonesia Sunaryo, Agus
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 3 No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3928.618 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v3i2.3672

Abstract

The ability of Islamic law in solving society problems performs a unique creature as the model of Islamic law in Indonesia. Some processes which have proved its existence among the pluralism in Indonesia can be analyzed socially and historically.
Pengaruh Perencanaan dan Sumber Daya Manusia dalam Meningkatkan Serapan Anggaran di Kementerian Agama pada Masa Pandemi Covid-19 Karbila, Ibnu Hasan; Sunaryo, Agus
JURNAL ILMIAH GEMA PERENCANA Vol 1 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Gema Perencana
Publisher : POKJANAS Bekerja Sama Biro Perencanaan dan Penganggaran, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61860/jigp.v1i1.160

Abstract

Absorption of the government's budget is one of the instruments for national economic recovery (PEN) during the COVID-19 pandemic. Proportionate budget absorption is able to increase consumption power and have an impact on people's welfare, this of course must be supported by quality planning and professional Human Resources. The budget absorption at the Ministry of Religion at the end of the year was included in the good category, but the lack of proportionate absorption every quarter was possible due to many factors including planning and human resources. The purpose of this study was to determine the effect of budget planning and human resources on budget absorption in the ministry of religion. Research method with quantitative multivariate correlation. Collecting data through a questionnaire by taking data on planning, human resources and budget absorption in 2020. The data was then analyzed using multiple linear regression analysis with the help of Partial Least Square (PLS). The results of the study show that the planning process and human resources at the Ministry of Religion are categorized as good. These two variables have an effect of 43.6% on budget absorption, while the other 56.4% are influenced by other factors not discussed in this study. This shows that planning and human resources are two inseparable variables and need attention in improving the quality of budget absorption during the pandemic.
PENGARUH RETAIL FAKTOR MANAJEMEN (SOSIAL, EKONOMI DAN TEKHNOLOGI ) TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN YANG DIMEDIASI VARIABEL PERILAKU KONSUMEN Nuraeni, Eny; Sunaryo, Agus; Pratiwi, Elok Cahyaning; Joenarni, Elly
CERMIN: Jurnal Penelitian Vol 6 No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/cermin_unars.v6i2.2455

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh beberapa factor manajemen terhadap keputusan pembelian. Penelitian ini berjenis observasional korelasional berifat eksplanasi. Pengumpulan data penelitian diperoleh secara langsung dari sumber primer. Populasi adalah pegawai dari 10 pengusaha retailer berplatform digital sepatu yang tersebar di Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto, sampel diambil 10 sehingga menjadi 100 responden. Analisis data menggunakan analisis jalur (Path analysis) dengan permodelan ekonometrika regresi linier berganda.. Berdasarkan hasil, faktor teknologi mendominasi pengaruh secara langsung terhadap perilaku konsumen dan secara tidak langsung terhadap keputusan pembelian.
ANALISIS PEMBENTUKAN KARAKTER ENTERPRENEUR BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH DALAM PERSPEKTIF THOMAS LICKONA Sunaryo, Agus; Hesti, Hesti; Fauziati, Endang; Harsono, Harsono
House of Management and Business (HOMBIS) Journal Vol 2, No 1 (2023): House of Management and Business (HOMBIS JOURNAL)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Gombong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/hombis.v2i1.1000

Abstract

Analisis pembentukan karakter enterpreneur dalam perspekstif Thomas Lickona merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan litertur review. Rendahnya jumlah lulusan Sekolah Menengah yang berminat menjadi enterprenuer dan tingginya angka pengangguran akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sekolah mempunyai peran strategis dalam pembangunan ekonomi melalui pendidikan kewirausahaan. Pembentukan karakter wirausaha di sekolah selama ini masih mengintegrasikan pemahaman (cognitives), sikap (attitides), dan motivasi (motivations), serta karakter (behaviors) dan kapabilitas (skills). Penelitian dilakukan dengan menelaah Rencana Pelaksana Pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah Kutowinangu, SMAN Buluspesantren dan SMAN Pejagoan Kabupaten Kebumen. Dari hasil penelitian didapat bahwa : 1) Pembelajaran Kewirausahaan di Sekolah Menengah dalam perspesktif pendidikan karkater Thomas Lickona khususnya belum mengitegrasikan antara pemahaman (cognitives), sikap (attitides), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan kapabilitas (skills). 2) Pendidikan Kewirausahaan di Sekolah Menengah selama ini belum mampu merubah pola pikir atau perubahan mindset peserta didik dari calon pekerja menjadi calon enterprenuer (pengusaha). 3) Perencanaan pembelajaran Kewirausahaan dapat dilakukan melalui ancangan/pendekatan, yakni; ancangan penanaman nilai (inculcation approach); ancangan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach); ancangan analisis nilai (values analysis approach); ancangan klarifikasi nilai (values clarification approach); dan ancangan pembelajaran berbuat (action learning approach).
Evaluation of the Maqāṣid al-Sharī’ah Liberalization: An Examination of the Notion of ‘Prioritizing Public Interest over Textual Evidence’ Sunaryo, Agus; Fahmi, Ahmad Hadidul
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic University of Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/mnh.v18i1.9886

Abstract

The effort to reconstruct Islamic law from liberal Muslim groups has a positive influence and acceptance for some people. However, the majority of Muslims have not been able to accept and prefer to follow the mindset and methodology of previous scholars. The concept of maqāṣid al-sharī’ah of liberal Muslim thinkers is methodologically considered not to have a strong basis because it dares to ignore the legal provisions in the specific daily, which are considered not in line with the purpose of the law and the benefit. Maqasid al-shari'ah should be built on efforts to integrate the texts of particular propositions into the texts of universal propositions (kully) so that the purpose of legal legislation can be understood. This article critically examines the concept of maqāṣid al-sharī’ah developed by liberal Muslim thinkers, especially in Indonesia. This study explicitly emphasizes the importance of Islamic law in realizing the benefits and being a solution to various problems of contemporary life. The benefit to be achieved is the ultimate and universal benefit, namely the benefit obtained through legal formulation efforts by making specific texts as a foothold to understand the purpose of the law. It is not an assumptive benefit (mawhūmah) obtained through legal reconstruction efforts based on the purpose of the law and the benefit but ignores the texts of particular arguments.
FIKIH TASAMUH: MEMBANGUN KEMBALI WAJAH ISLAM YANG TOLERAN Sunaryo, Agus
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola keberagamaan yang terbuka dan toleran pada dasarnya merupakan salah satu karakter dari ajaran Islam yang bersifat universal. Keterbukaan dan toleransi ini merupakan ajaran yang tidak hanya berlaku pada masa tertentu atau suatu tempat saja, melainkan melampaui keduanya. Namun demikian, fakta sejarah telah menyadarkan kita bahwa pernah terjadi proses pemasungan (penyempitan) universalitas ajaran Islam, sehingga karakter ajaran yang semula inklusif-toleran berubah menjadi apriori-diskriminatif. Bahkan di tangan beberapa orang ajaran tersebut telah diramu menjadi doktrin agama yang eksklusif– intoleran. Artikel ini akan mengurai persoalan tersebut dan menawarkan upaya pembacaan ulang terhadap doktrin agama yang tidak relevan dengan semangat Islam rahmatan lil al-alamin.The opened and tolerant pattern of religiousity is basically one of the characteritics of universal Islamic teachings. The openness and tolerance are tenets that are not only prevalent to a certain time and place, but also they are passing beyond both. However, the historical fact has brought us that there has been a constriction process in the universality of Islamic teaching. So that, the characteristic of Islamic teaching has changed from inclusive-tolerance to a priory-discriminative. Moreover, to certain people, this Islamic teaching has been turned into an exclusive-intolerance religious doctrine. This article elaborates the issue and offers a concept rereading the religious doctrine that is not relevance to the spirit of universality of Islam (rahmatan li al-'alamin).
SIMBOLISME DAN ESSENSIALISME KEPEMIMPINAN: KAJIAN FIKIH SIYASAH TENTANG SOSOK PEMIMPIN IDEAL MENURUT ISLAM Sunaryo, Agus
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap masyarakat pasti mendambakan lahirnya sosok pemimpin yang ideal untuk menjalankan roda pemerintahan. Sebab, hanya melalui pemimpin yang ideal, harapan dan cita-cita hidup berbangsa dan bernegara bisa terwujud. Namun demikian, mencari seseorang yang diyakini ideal untuk memimpin, bukanlah persoalan mudah. Dalam konteks Islam, perjalanan sejarah politik negara-negara Islam atau negara-negara dengan penduduk muslim mayoritas, terbukti belum mampu mewujudkan suatu pemerintahan yang benar-benar berhasil untuk membawa masyarakatnya menjadi masyarakat yang maju, damai dan sejahtera. Yang ada justeru masyarakat Barat, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mampu menguasai peradaban di zaman sekarang dan memposisikan Islam dengan segala peradabannya di zona periferi peradaban masyarakat modern. Artikel ini akan membahas diskursus kepemimpinan Ideal menurut Islam. Fokus kajian akan diarahkan untuk menganalisa konstruksi pemikiran yang cenderung simbolis dalam menetapkan kriteria ideal bagi seorang pemimpin. Demikian pula konstruksi pemikiran yang lebih esensialis tentang kepemimpinan juga akan dibahas dalam artikel ini. Every society looks forward to having an ideal leader to run the country. It is through the ideal leader that the society’s dreams and hopes will come true. Nevertheless, such kind of leader is very rare. It has not been found yet within the history of moslem majority countries, such leader who can bring his society into a civilized, peaceful, and prosperous. On the contrary, Western countries could make it in that it puts the moslem countries into a periferi position within modern civilization context. This writing deals with the discourse on the ideal leader seen from Islam perspective. It analizes the thought construction which tends to be very symbolic related to the criteria of an ideal leader. It also adresses the more essential thought construction pertaining to leadership.
MASJID DAN IDEOLOGISASI RADIKASLISME ISLAM: MENYOAL PERAN MASJID SEBAGAI MEDIA TRANSFORMASI IDEOLOGI Sunaryo, Agus
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/akademika.v22i1.569

Abstract

Radikalisme saat ini telah menjadi isu utama dalam diskursus keislaman kontemporer. Berdirinya Negara Islam Iraq dan Suriah dianggap sebagai ancaman bagi sebagian kalangan di sisi lain, namun juga menjadi bukti bahwa radikalisme benar-benar nyata dan kuat di lain sisi. Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak pernah sepi dari diskusi dan praktik radikalisme. Tertangkapnya banyak aktivis radikalis, belum mampu meredam laju gerak radikalisme Islam di Indonesia. Propaganda-propaganda kekerasan, intimidatif, dan intoleran menjadi pemandangan yang kerapkali mewarnai mimbar-mimbar khutbah, diskusi-diskusi keagamaan, atau bahkan spanduk dan pamfllet yang mudah dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Dalam konteks ini masjid sering dijadikan tempat untuk sosialisasi dan kaderisasi kelompok Islam radikal. Posisinya yang banyak dikunjungi orang, dianggap efektif untuk proyek ideologisasi. Apalagi orientasi orang mendatangi masjid, umumnya adalah untuk mendapatkan “pencerahan”spiritual. Hal ini tentunya selaras dengan karakter ideologisasi Islam radikal yang menawarkan konsep kekerasan dan intoleran dengan balutan pesan-pesan keagamaan. Artikel ini akan mencoba mengkaji proyek ideologisasi Islam radikal yang memanfaat masjid sebagai home base kegiatannya. Lebih dari itu, apa yang seharusnya menjadi focus kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan masjid dan membendung laju gerak radikalisme Islam juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kajian artikel ini. The radicalism, at this time, has been prominent issue in islamic contemporary discourse. Standing of Islamic state on Iraq and Syiria has been regarded as threat by some people in one side, but also been a proof that radicalism very obvious and stronght in other side. Indonesia has been one country that discuss and practice of radicalism never quiet at there. Getting caught of some radical-activist, couldn’t stop moving of islamic radicalism in Indonesia. Propaganda’s of violent, intimidative, and intolerant, have been viewpoint that usually colored the platform’s sermon, religious discusses, or also banner and pamphlet that was very easy to found it in near of all Indonesian district. Mosque, in this context, often to be place for socialization and forming of cadres of Islamic radicalist. It’s positioning that been visited by much people, regarderd as effective for ideological project. Especially that people’s orientation come to the mosque is getting spiritual enlightenmet. It has been in harmony with ideological character of Islamic radicalism wich bargain a violent concept with covering of religious messages. This article will investigate ideological project of Islamic radicalism that exploit the mosque to be it’s home base activities. The policies of government that must been done for stopping Islamic radicalism also would investigated by this article.