cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 466 Documents
MASJID DAN IDEOLOGISASI RADIKASLISME ISLAM Agus Sunaryo
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.846 KB)

Abstract

Radikalisme saat ini telah menjadi isu utama dalam diskursus keislaman kontemporer. Berdirinya Negara Islam Iraq dan Suriah dianggap sebagai ancaman bagi sebagian kalangan di sisi lain, namun juga menjadi bukti bahwa radikalisme benar-benar nyata dan kuat di lain sisi. Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak pernah sepi dari diskusi dan praktik radikalisme. Tertangkapnya banyak aktivis radikalis, belum mampu meredam laju gerak radikalisme Islam di Indonesia. Propaganda-propaganda kekerasan, intimidatif, dan intoleran menjadi pemandangan yang kerapkali mewarnai mimbar-mimbar khutbah, diskusi-diskusi keagamaan, atau bahkan spanduk dan pamfllet yang mudah dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Dalam konteks ini masjid sering dijadikan tempat untuk sosialisasi dan kaderisasi kelompok Islam radikal. Posisinya yang banyak dikunjungi orang, dianggap efektif untuk proyek ideologisasi. Apalagi orientasi orang mendatangi masjid, umumnya adalah untuk mendapatkan “pencerahan”spiritual. Hal ini tentunya selaras dengan karakter ideologisasi Islam radikal yang menawarkan konsep kekerasan dan intoleran dengan balutan pesan-pesan keagamaan. Artikel ini akan mencoba mengkaji proyek ideologisasi Islam radikal yang memanfaat masjid sebagai home base kegiatannya. Lebih dari itu, apa yang seharusnya menjadi focus kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan masjid dan membendung laju gerak radikalisme Islam juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kajian artikel ini. The radicalism, at this time, has been prominent issue in islamic contemporary discourse. Standing of Islamic state on Iraq and Syiria has been regarded as threat by some people in one side, but also been a proof that radicalism very obvious and stronght in other side. Indonesia has been one country that discuss and practice of radicalism never quiet at there. Getting caught of some radical-activist, couldn’t stop moving of islamic radicalism in Indonesia. Propaganda’s of violent, intimidative, and intolerant, have been viewpoint that usually colored the platform’s sermon, religious discusses, or also banner and pamphlet that was very easy to found it in near of all Indonesian district. Mosque, in this context, often to be place for socialization and forming of cadres of Islamic radicalist. It’s positioning that been visited by much people, regarderd as effective for ideological project. Especially that people’s orientation come to the mosque is getting spiritual enlightenmet. It has been in harmony with ideological character of Islamic radicalism wich bargain a violent concept with covering of religious messages. This article will investigate ideological project of Islamic radicalism that exploit the mosque to be it’s home base activities. The policies of government that must been done for stopping Islamic radicalism also would investigated by this article.
Melacak Akar Tradisi Pemikiran Rasional Dalam Islam Walfajri Walfajri
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.105 KB)

Abstract

Tradisi pemikiran rasional di dunia Islam ini mencapai puncaknya ketika terjadi interaksi secara intensif dengan pemikiran rasional (filsafat) Yunani melalui gerakan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Namun pemikiran filsafat Yunani itu tidak serta merta diterima begitu saja oleh tokoh-tokoh intelektual muslim, melainkan ia mendapat penolakan dan kritik dari tokoh-tokoh intelektual muslim tersebut. Demikian pula halnya dengan para filosof muslim, mereka tidak begitu saja mengadopsi pemikiran filsafat Yunani, melainkan pemikiran filsafat tersebut mereka kembangkan lebih lanjut sehingga tidak dapat dikatakan sama persis atau bahkan jiplakan dari pemikiran filsafat Yunani. Sejak awal periode perkembangan peradaban Islam, umat Islam telah memiliki tradisi pemikiran rasional. Tradisi pemikiran rasional tersebut bermula dari pemikiran mengenai persoalan bahasa Arab (nahwu-sharf) dalam rangka mengatasi permasalahan membaca al-quran dan memahami maknanya secara benar. Kajian- kajian bahasa Arab ini kemudian mendorong munculnya pemikiran-pemikiran rasional di dunia Islam pada bidang-bidang kajian lainnya terutama fiqh, tafsir, dan kalam.The tradition of rationalism in the Islamic world reached its peak during the intensive interaction with Greek rationalism (philosophy) through the translation movement of Greek works into Arabic. So, Greek philosophy had given great contributions for Islamic philosophy growth. However, Greek philosophy was not necessarily taken for granted by Muslim intellectuals, but it got some rejections and criticism from such Muslim intellectuals. Similarly, Muslim philosophers, they did not simply adopt the ideas of Greek philosophy, but they developed their own philosophical thoughts. Furthermore, unlike Greek rationalism which is based on pure reason (secular), Islamic rationalism is the integration between the divine revelation and the reason. So, it can not be said exactly that Islamic rationalism (philosophy) is the same as or even a replica of Greek philosophy. Since the beginning of the development of Islamic civilization, Muslims have had a tradition of rationalism. The tradition of Islamic rationalism has its root in the thought of Arabic grammar (Nahwu-Sharf) in order to overcome problems of reading the Holy Qur'an and understanding its meaning properly. Arabic studies then encouraged the emergence of rational thought in the Islamic world on other object studies, especially Islamic Jurisprudence, Interpretation of the Quran, and Theology.
OPTIMALISASI PERAN BAITULMAL DALAM PENINGKATAN PUNGUTAN ZAKAT Nazaruddin A. Wahid
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.346 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas tentang peran baitulmal dalam peningkatan pungutan pajak, studi di Baitulmal Aceh. Baitulmal aceh merupakan punggung perekonomian masyarakat muslim dalam pengelolaan harta umat Islam dan juga mampu menjawab kebutuhan zaman moderen, terutama dalam hal pengelolaan zakat yang mengacu pada pertumbuhan ekonomi masyarakat miskin. Namun satu hal yang membuat peneliti merasa gelisah adalah dalam realitas didapati bahwa pungutan zakat oleh Baitulmal belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor penentu terhadap optimalisasi pungutan zakat, sehingga mencapai sasaran yang tepat dan sesuai dengan ketentuan syariat. Data diperoleh dari Batulmal kabupaten atau kota, responden yang terpilih dengan melakukan Focus GroupDiscution (FGD) dan responden bebas khususnya golongan penerima zakat, mereka tersebar di seluruh provinsi Aceh. Hasil kajian dapat ditemukan bahwa ada sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya perolehan zakat, diantaranya faktor Qanun zakat, demografi atau lingkungan, keimanan, pengetahuan masyarakat tentang zakat, kepercayaan kepada Baitulmal dan faktor kemudahan cara membayar zakat. Oleh karena itu, kajian ini merekomendasikan; (1) Penerapan qanun yang tegas dan jelas termasuk didalamnya sanksi hukum bagi yang lalai menunaikan kewajiban zakat. (2) Meningkatkan pelaksanaan pendidikan masyarakat mengenai manfaat zakat, dengan konsep-konsep tarbiyah yang pendekatannya lebih intensif untuk memberi pemahaman yang benar bagi muzakki, sehingga dapat memberikan kesadaran untuk membayar zakat melalui Baitulmal. Baitulmal Aceh has been established based on Indonesian Act No. 44/1999 and Act No. 11/2006 with technical rules based on Qanun No. 10/2007. The Government of Aceh expects that the Baitulmal is able to support Muslims economy, managing their wealth, and providing answer to common contemporary problems in Muslim society. Baitulmal also plays a role in zakat management to empower poor communities. Nevertheless, in practice, zakat collection is not yet optimized. This gap on potential and reality in zakat collection should be comprehensively studied. This research aims to explore factors that contribute to the zakat collection optimization. The data is collected from Batulmal in each Districts of Aceh Province. The respondents are classified between those who are invited for a Focus GroupDiscussion (FGD) and those who are not. This research found some factors that cause non-optimal zakat collection, such as Qanun on Zakat, demographic/environment, religiosity, people understanding on zakat, their confidence on Baitulmal dan facilities to pay zakat to Baitulmal. Therefore, this study recommends the following; (1) legislate a clear and comphensive Qanun on Zakat, including sanctions to those who are not paying zakat. (2) Improve people’s education and awareness on zakat with an intensive tarbiyyah so that muzakki could have a proper understanding on zakat and willingness to pay zakat through Baitulmal.
REPRESENTASI KHILAFAH DALAM PEMERINTAHAN REPUBLIK SPIRITUAL Nurkhalis Nurkhalis
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 2 (2018): Islam, Kenegaraan, dan Kebangsaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.854 KB)

Abstract

Abstract Khilafah cut off after the Ottoman Caliphate so that is no longer found of the Islamic government in the modern era. Then al-Afghani and M. Abduh reappeared the khilafah to the expression of wahdat al-Islamiyah which idea’s Rashid Ridha turned to a new term into Pan Islamism. This study is a literature study (library research) where the source data obtained from books of khilafah and Islamic government thinkers. Data were analyzed using critical interpretation analysis methods from Khomeini and al-Juwaini's thoughts including data reduction, data exposure, and conclusion. Based on the accumulation of theory among others Al-Mawdudi made it possible to divert Islamic rule to democracy. Hasan al-Banna socialized the return system of the khilafah. Ibn Khaldun hinted that the breaking of the Caliphate signifies that every state has a final period of government so that the caliphate system will not be permanent until the state fell in the territorial nations. Iqbal criticizes Islam not nationalism and even imperialism but the commonwealth nations without racial and demarcation. Al-Shatibi maintains the spirit of the maqashid shari'ah in the Islamic government. Imam Khomeini switched to the wilayat al-faqih. Ibn Taymiyya states that the complexity of establishing the Islamic Government is as complex as determining Islamic scholars. Al-Juwaini offers a solution to the concept of ghiyatsi namely the government that emphasizes the shari'ah that continues to be discussed in searching for the best format. The modern era is certainly running the Islamic Government only through the government of the spiritual republic by not lifting ahlu zimmah (non Muslim), ahlu kitab, munafiq (hipocrit), zindiq (orientalist), dayyus, musyrik (idolatry), dahriyyun (atheis), ashab'ah (naturalist) become government leaders. Preferred leaders who have be ahl muruwwah (authority) ie people who have previous life records in a measurable and open goodness in the public space for executive, legislative and judicial candidates performed fit and proper test by people who have the same religious knowledge with the fuqaha. Keywords: Khilafah, Islam, Government, and Spiritual Republic Abstrak Khilafah terputus pasca Khalifah Utsmaniyah sehingga hampir tidak ditemukan lagi bentuk Pemerintahan Islam di era modern. Kemudian al-Afghani dan M. Abduh merekonstruksi khilafah kepada Wahdat al-Islamiyah yang kemudian Rashid Ridha mengalihkan ke istilah baru menjadi Pan Islamisme. Kajian ini dilakukan melalui studi kepustakaan di mana sumber datanya diperoleh dari buku dan kitab dari pemikir khilafah dan pemerintahan Islam. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis interpretasi kritis dari pemikiran Khomeini dan al-Juwaini meliputi reduksi data, pemaparan data dan penarikan kesimpulan. Akumulasi teori pemerintahan Islam dari beberapa intelektual Islam diantaranya Al-Maududi memungkinkan pergeseran pemerintahan Islam ke demokrasi. Hasan al-Banna mengajak mensosialisasikan pengembalian sistem khilafah. Ibnu Khaldun mengisyaratkan terputusnya khilafah menandakan setiap negara memiliki masa akhir pemerintahan menyebabkan sistem khilafah tidak akan permanen hingga terbentuk negara dalam territorial bangsa-bangsa. Iqbal mengkritisi Islam bukan nasionalisme bahkan imperialisme melainkan bangsa-bangsa persemakmuran tanpa rasial dan demarkasi. Al-Shatibi mempertahankan adanya ruh maqashid syari‘ah dalam pemerintahan Islam. Imam Khomeini beralih berpedoman kepada wilayah al-faqih. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa dharurat mendirikan Pemerintahan Islam sebagaimana dharurat menentukan ahli Islam. Al-Juwaini menawarkan solusi kepada konsep ghiyatsi yakni pemerintahan yang mementingkan syari‘at yang terus didiskusikan dalam mencari format yang terbaik. Era modern kepastian menjalankan Pemerintahan Islam hanya melalui pemerintahan republik spiritual dengan tidak menjadikan ahlu zimmah (non muslim), ahlu kitab, munafiq, musyrik, dahriyyun (atheis), ashab’ah (naturalis) menjadi pemimpin pemerintahan. Pemimpin diutamakan yang mempunyai ahl muruwwah (kewibawaan) yakni orang yang memiliki catatan hidup sebelumnya dalam kebaikan yang terukur dan terbuka di ruang publik bagi kandidat eksekutif, legislatif dan yudikatif dilakukan fit and proper test oleh orang yang memiliki religius yang sama ilmunya dengan fuqaha. Kata Kunci: Khilafah, Islam, Pemerintahan, dan Republik Spiritual
DAKWAH SEBAGAI INSTRUMEN PENANGGULANGAN RADIKALISME DI ERA DIGITAL M. Nasor
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.883 KB)

Abstract

Tulisan ini berbicara tentang pemanfaatan media sosial dalam dakwah untuk menanggulangi benih-benih ideologi ekstrimis oleh kaum Islam radikal. Melakukan dakwah dengan mengunakan fasilitas digital dengan mudah dilakukan. Namun, kemajuan teknologi dan informasi khususnya media televisi, memungkinkan seorang da’i untuk berimprovisasi agar materi dakwah tetap menarik untuk disimak. Dampaknya, orientasi dakwah juga semakin berkembang bahkan cenderung menjadi bias. Pola berdakwah melalui media sebagai wujud kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi diri sendiri bagi seseorang da’i. Islam sebagai agama memiliki beberapa karaketristiknya yang sangat luas dan khas. Untuk itu perlu dikenali dan dipahami agar menjadi muslim yang memiliki maslahat bagi sesama manusia. Karakteristik ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah harus didakwahkan secara persuasif yang diharapkan dapat menyentuh aspek psikologis dan budaya manusia. Tujuan dakwah dapat menjadi solusi atas problem yang dihadapai oleh umat manusia. Melalui cara ini munculah kegiatan dakwah yang bernuansa harmonis, toleransi, adanya persatuan-kesatuan, kebersamaan, keadilan, dan menghilangkan diskriminasi. Akhirnya dakwah akan dapat mengkikis adanya faham-faham radikal. This article discusses about the utilization of social media in da’wah to cope the seeds of extreme ideology spreaded by radical Islamic groups. Conducting da’wah by using digital facilities is easilty done. However, the advance of technology and information, especially television, enable a preacher to improvise to keep the da'wah material interesting to observe. Consequently, da’wah orientation is also growing, even tending to be biased. The pattern of da'wah through media as a form of technological progress becomes a challenge for a da'i. Islam as a religion has some characteristics which is very broad and unique. Therefore, it is important to be recognized and understood to be a Muslim who has maslahat for human beings. The characteristics of Islamic teachings sourced from al-Qur'an and al-Sunnah must be persuasively preached and expected can touch the psychological and human cultural aspects. The purpose of da'wah can be a solution to the problems faced by mankind. In this way the arises da'wah activities that have harmonious nuance, tolerance, unity, togetherness, justice, and eliminating discrimination. Finally, the da'wah will be able to erode the existence of radical ideas..
MODAL SOSIAL DAN KOMUNITAS AGAMA SEBAGAI PENDUKUNG INSTRUMEN HUKUM DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA METRO H S Tisnanta; Oki Hajiansyah Wahab; Dharma Setyawan
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.137 KB)

Abstract

Tulisan ini mengajukan argumentasi bahwa modal sosial masyarakat, partisipasi komunitas-komunitas agama di suatu wilayah merupakan salah satu faktor pendukung bekerjanya instrumen hukum dan kebijakan. Tulisan ini mengambil studi di Kota Metro yang mayoritas masyarakatnya adalah suku Jawa dan juga memiliki beragam pemeluk agama. Filosofi hidup Rumongso Melu Handarbeni yang diyakini oleh masyarakat Jawa dalam prakteknya ikut mendukung berbagai program Pemerintah Kota Metro. Di sisi lain keberadaan berbagai komunitas agama yang ada di Kota Metro sesungguhnya memiliki potesi yang besar dalam mendukung Kota Metro yang berwawasan lingkungan. Agama dengan ajaran tentang kepedulian lingkungan akan dapat menjembatani proses bertemunya modal sosial dan kebijakan pemerintah dalam mengatasi permasalahan lingkungan khususnya sampah di Kota Metro. Agama Islam dan Kristen dapat menjadi prototype dalam membangun kesadaran lingkungan antarpemeluknya. Pada konteks inilah usaha Pemerintah Kota Metro dalam membentuk sebuah produk hukum daerah sebaiknya memperhatikan modal sosial masyarakat. Hal ini harapanya akan mampu mendukung proses transformasi Kota Metro menuju Kota yang berwawasan lingkungan.This article discribes about social capital behold, the participate of religion communities in the region is one of the supporting factor to operation of legal instruments and the policy.This paper a study in Metro when the major of Javanese and also has a variety of faiths. The Philosophy of life RumongsoMelu handarbeni believed with Javanese to supporting the various programs of Metro’s Government. Therefore, the existence of the religion communities in Metro actually has a great potention to be support of Metro’s environmentally concept. Religion with theory about environmental concerns will be able to bridge the convergence of social capital and government policies to superintend environmental issues specially of waste in Metro. Islam and Christianity can be a prototype to build environmental awareness among its adherents. In this context, the Metros’ Government efforts to arrange a legal product should be attention the community’s social capital. It can be to support the process of transformation Metro City of environmentally concept.
GENEOLOGI PENAFSIRAN AGAMA MASYARAKAT PEDESAAN Wahyu Setiawan
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.206 KB)

Abstract

AbstrakArtikel ini merupakan hasil kajian epistemologi hukum Islam pada tataran aplikatif di tingkat masyarakat desa Rejomulyo, Metro Selatan, Lampung yang menampilkan kreativitas intelektual dalam penafsiran agama. Studi ini diawali dari adanya kontinuitas dan perubahan isu pembaharuan dari tradisi besar (great tradition) arus pemikiran terhadap tataran tradisi kecil (little tradition) masyarakat pedesaan yang mengerucut pada perdebatan masalah hukum konkrit dan standar ganda yang menguat. Tujuan artikel ini mendeskripsikan geneologi penafsiran agama masyarakat pedesaan terhadap pluralitas pemahaman keagamaan masyarakat Rejomulyo Metro Selatan, Lampung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akar pluralitas pemahaman keagamaan di Rejomulyo terbentuk berdasarkan perspektif sejarah terdiri dari lima periode. Periode awal, nuansa keagamaan diwarnai ajaran sinkretik Hindu-Islam dan kebatinan Jawa (kejawen). Periode kedua, tahun 1940-an dengan pola keberagamaan lebih pada Islam kultural. Periode ketiga, tahun 1960-an diwarnai harmonisasi antara kelompok organisasi keagamaan Muhammadiyah dengan kelompok Tradisionalis. Periode keempat, yaitu sejak 1990-an merupakan awal muncul gejolak pemikiran antara Islam Tradisionalis dan Islam Literalis. Periode kelima, tahun 2000-an, dimana perbenturan antar tradisi pemahaman keagamaan di Rejomulyo semakin kompleks. Kemunculan kembali kelompok Islam Tradisionalis yang berupaya menghidupkan kembali pola keberagamaan kultural. Kemudian terbentuk kelompok ‘Tradisionalis baru’ yang berada diantara kelompok Tradisionalis-Literalis yang selama ini selalu terlibat kontestasi memperebutkan klaim kebenaran praktek keagamaan yang paling otentik. This article is result of study about epistemologi of islamic law in villagers applicative level of Rejomulyo, south Metro Lampung which shows intellectual creativity in interpretating a belief. This current study starts from the excistence of continuity and transformations of reforming issue that was coming from the great tradition to thoughts that concerns with the little tradition rank. The purpose of this article is to describe the geneology of villagers’ interpretating a belief toward villagers’ plurality of region insight of Rejomulyo – South Metro, Lampung. The yield of this current paper shows that the roots of villagers’ plurality region insight at Rejomulyo shaped based on aspects of history which consist of five periods. Early period, the nuance of region has been colored by hindu-islam doctrines and java’s spritualism. Second period is in the 1940’s, the patterns of diversity is more rather than islamic cultural. 1960’s is the third period where it has been colored by harmonization between two islamic organizations, those are Muhammadiyah and the traditionalist. The fourth period has been begun 1990’s. That year was time when thought of differences appeared between The traditionalist and the Literalist. Mellinnium era is the fifth periode where conflicts between tradition of relegion thoughts was more complex in Rejomulyo. The Emergence of islamic traditionalist group who try to energize the patterns of cultural variations. The new group,then, is well-known “ New Tradition” which resided between traditionalist and Literalist group that always involved to flight over the claim of thruthfulness which is the authentic one in doing reverence.
DIGITAL READING REFLECTION OF ISLAMIC UNIVERSITY STUDENTS: LESSON LEARNED FROM THE PANDEMIC COVID-19 Umi Rachmawati; Santi Andreyani; Rimajon Sotlikova
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.399 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v27i1.3111

Abstract

The teaching of reading during the pandemic Covid-19 is challenging regarding the use of digital reading. The sudden swifts should be conducted by the teachers and the students to deal with the healthy protocols and the instructional goals. This study is aimed at gathering data about the situation at the digital reading class. A qualitative study focusing on the qualitative ethnographic research design was conducted to reveal the current condition of the digital reading class. The results of the study suggest that consideration on the teaching preparation including needs analysis on digital reading, development of the digital reading instruction, and aspects of improving the students’ motivation in digital reading in Islamic university context. The development of the digital reading instruction should respond to the students’ digital reading performance, digital reading motivation, higher order thinking skills, and navigation skills.
AGAMA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI Mukhtar Hadi
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ISecara metodologi tulisan ini berkaitan dengan penelitian kesusasteraan terutama yang berkaitan dengan aspek-aspek sosial agama dan korelasinya terhadap globalisasi. Bagian penting dari penelitian ini merupakan fenomena dimana globalisasi telah merubah dunia dan bagaimana agama merespons pengaruh globalisasi. Secara konsekutif tulisan ini memaparkan bagaimana globalisasi berpengaruh dan mempengaruhi perubahan-perubahan sosial agama. Agama, kekerasan, dan terorisme merupakan hal yang saling berkaitan. Meskipun demikian, agama telah diketahui sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari berbagai kasus kekerasan dan terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Kekerasan dan terorisme atas nama agama tertentu merupakan sebuah respon yang disebabkan oleh globalisasi. Bagian terpenting dari penelitian ini menjelaskan aturan agama yang memberi makna terhadap kehidupan masyarakat modern sejalan dengan pengaruh globalisasi. Pencarian kerohanian dan kembali kepada hakikat agama yang mungkin menjadi salah satu solusi yang rasional untuk menyikapi globalisasi. Analisis multi-kultural yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan pembentukan pengalaman persepsi manusia pada umur, agama, sosial dan status ekonomi, identitas budaya, bahasa, ras, dengan kemampuan-kemampuan yang berbeda Methodologically, this writing deals with literary study particularly with socio-religion aspects and its correlation with globalization. The important part of this study is the phenomenon in which globalization has changed the world and how religion responds the impacts of globalization. This writing, consecutively, describes how globalization works and how it influences the socio-religion changes. Religion, violence, and terrorism are closely related one another. However, religion has been identified to be an inseparable part of the many violence and terrorism cases occurring recently. Violence and terror in the name of certain religion is a response brought by globalization. The last part of this writing depicts the role of religion in giving meaning to modern people lives in line with the impacts of globalization. Seeking the spirituality and coming back to the nature of the religion might be one plausible solution to cope with the globalization. The multicultural analysis is used in this writing to describe the experiences shaping human’s perception on age, gender, religion, social and economy status, cultural identity, language, race, and those with different abilities.
MAQÂSHIDÎ INTERPRETATION; A STUDY ON INTERPRETATION OF AHKAM VERSES IN THE APPLICATION OF MAQÂSHID ASY-SYARÎAH Candra Boy Seroza; Ahmad Hasan Ridwan
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 25 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.603 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v25i1.1898

Abstract

This study explains Maqâshidî Interpretation and its application in interpretation Of Ahkam Verses, and aims to discussion on Maqâshid asy-Syarî’ah and the significance and urgency of Maqâshidî. Maqâshidî's inter-pretation is expected to provide an alternative interpretation in providing solutions for contemporary problematics and reinterpretation of the interpretation formulations that have been out of date. The research method used in this research is qualitative method and analytical descriptive method. This study concludes that The character of Syarî'ah is permanent and governs the whole af'âl al-Mukallaf in every place and time, then the approach or method of maqâshidî interpretation in interpreting Âyât al-ahkâm is a necessity and very imfortant. The discourse of Âyât al-AhKâm interpretation discusses on the place of law formulation against a problem (Fi'l al-Mukallaf). he necessity of interpretation of the approach or method of Maqâshidî interpretation is not only effective in responding to new issues that have never appeared before but also empowered to reinterpret the formulation of interpretations that have not been relevant anymore in the context of the present and the contemporary.Keywords: Maqâshidî Interpretation, Maqâshid asy-Syarî’ah, Âyât al-AhKâm,

Page 6 of 47 | Total Record : 466