cover
Contact Name
Dedi Wahyudi
Contact Email
akademikametro@gmail.com
Phone
+6282324480562
Journal Mail Official
akademikametro@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 1693069X     EISSN : 23562420     DOI : https://doi.org/10.32332/akademika
Akademika provides a means for sustained discussion of relevant issues that fall within the focus and scopes of the journal which can be examined empirically. Akademika welcome papers from academicians on theories, philosophy, conceptual paradigms, academic research, as well as religion practices
Articles 466 Documents
IMPLEMENTASI FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN DALAM PENGELOLAAN WAKAF PRODUKTIF DI SINGAPURA Suhairi Suhairi
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.271 KB)

Abstract

Negara Singapura sebagai negara sekuler, muslimnya merupakan minoritas, akan tetapi telah sukses mewujudkan pengembangan wakaf produktif. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah, bagaimana implementasi fungsi-fungsi manajemen dalam pengelolaan wakaf produktif di Singapura? Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi praktisi pengelola wakaf sebagai rujukan bagaimana mewujudkan keberhasilan pengelolaan wakaf. Penelitian ini merupakan penelitian pranata ekonomi dalam hukum Islam. Data dikumpulkan melalui tiga cara, yakni dokumentasi, wawancara, dan observasi. Pengolahan data dilakukan dengan sistematisasi, membuat klasifikasi dan kategorisasi berdasarkan relevansinya dengan objek kajian dan dianalisis dengan teori-teori manajemen, terutama fungsi-fungsi manajemen dan manajemen wakaf produktif. Temuan penelitian ini adalah fungsi-fungsi manajemen telah diimplementasikan secara baik dalam pengelolaan wakaf produktif di Singapura. Telah diimplementasikan fungsi-fungsi manajemen secara baik tersebut dibuktikan dengan telah diterimanya sertifikat ISO9001 oleh MUIS dalam hal manajemen dan admininistrasi wakaf. As a secular country where Muslims are minority, Singapura has been a good model of productive waqf management. The question of this research, how is the implementation of management functions in productive waqf management within Singapore context? This resrach on the success of productive waqf management in Singapore is hoped develop waqf practitioners’ understanding on how to manage productive waqf successfully. This research is a kind of economic research in Islamic law. The data are collected through documentation, interview, and observation. The data analysis is conducted through systematic classification and categorization in the light of relevant theories on management particularly those related to management functions and productive waqf management.The findings of this study is the management functions have been well-implemented in productive waqf management in Singapore. The evidence of such implementation is shown through the achievement of ISO 9001 certificate by MUIS in term of waqf management and administration.
INDONESIAN ISLAMIC POETS' AMBIVALENCE UNDER THE DUTCH COLONIALISM IN THE 1930S Dwi Susanto
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.869 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v27i1.4294

Abstract

Islamic poets' poetical themes expressed their spiritual experience in Indonesian literature during the 1930s. These themes had opposed to the Islamic movement at the time, which was fighting against colonial ideology. The objectives of this study are to look at why poets advocated oppositional views in the face of colonial discourse, as well as the poets' position within the Dutch colonial system in the 1930s. Thematic notions of Indonesian literary poets in the 1930s, biographical histories of poets, and colonial discourses in Indonesia in the 1930s were among the data sources used in this study. The result revealed that the poets adopted a romantic aesthetic mimicking strategy to portray the idea of their spiritual experience. In most colonial literature, the mimicry between the colonizer and the colonized nation heightens the ambivalence of the Indonesian human personality. Because of ethical adjustments and unacceptable ideal categories, this ambiguous attitude develops. Syncretism emerges as a result of the clash of Western and Eastern civilizations. The author's aesthetic mimicry strategy has implications for the poet's ambivalence: on the one hand, the poet follows Balai Pustaka's aesthetic pattern with an understanding of individualism, while on the other hand, the poet ignites the concept of Islamic symbolic memory as part of the construction of Indonesian cultural identity, as in the Indonesian Cultural Polemics from 1930 to 1942.
DISKURSUS TENTANG HAK ASASI MINORITAS DZIMMI DI TENGAH MAYORITAS MUSLIM Umar Faruq Tohir
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.181 KB)

Abstract

Pada era perkembangan Islam di masa lalu, negara persemakmuran Islam dipandang layak untuk dipertahankan. Keadaan tersebut menyebabkan terbaginya Negara persemakmuran Islam ke dalam dua kategori yaitu dar al-Islan dan dar a;-Harb.Pembagian ini telah melahirkan sebuah konsep sekolah Islam yang eksklusif yang mengangap orang kafir yang hidup di wilayah non-Islam dapat diperangi. Mereka mengira bahwa setiap orang kafir berniat untuk merendahkan dan memerangi mereka, meskipun anggapan tersebut tidak selalu benar. Sekolah Islam yang eksklusif ini juga menganggap bahwa tampuk pemerintahan harus dipegang oleh Muslim dan tidak ada kesempatan bagi orang kafir untuk menjadi pemimpin di segala aspek pemerintahan Islam.Para orang kafir masih dan akan selalu menjadi masyarakat kelas dua.Bagaimanapun, pemikiran tradisional semacam ini masih hidup dan menjadi paradigma berpikir para sarjana fiqih dewasa ini.Jika kita menilik pada Piagam Madinah, kita dapat mengetahui bahwa Nabi Muhammad tidak pernah merendahkan orang kafir.Beliau membuat unadang- undang yang harus dipatuhi setiap masyarakat Madinah, Muslim ataupun orang kafir.Di era kontemporer ini, dimana sebuah Negara bersifat teritorial, subordinasi golongan kafir harus dihapuskan.Negara teritorial pada masa ini dibagi tanpa membedakan antara Muslim dan golongan kafir karena mereka memiliki posisi dan hak yang sama untuk mengembangkan daerahnya dan hidup berdampingan satu sama lain.Kata Kunci: Dar al-Islam dan dar al-Harb, Negara berbangsa tunggal, pemikiran kontemporer, sama. The territorial of Islamic dominion was become worth to be struggled in the past era of Islamic development. This circumstance divided the territorial of Islamic dominion in to dâr al-Islâm and dâr al- Harb. This divide has conceptualized a new Islamic exclusive school who has assumed that the infidels who have been in the non Islamic territorial could be battled. They think that every infidels look Moslems away and wish to battle them, even contrary, in the actually. This Islamic exclusive school also think that the governance must be lead by Moslem and there is no chance for infidel to be a leader in all aspects of Islamic territorial government. The infidels always and still in the second class. Whatever, this classical thinking still alive in the mind (paradigm) of the present fiqh's scholars. If we remind to the Charter of Madinah, we can find that our prophet Muhammad never sub-ordinated the infidel. He made a charter where every Madinah's society had to obey the rules, there is no different between Moslem or infidel. In this contemporary time, where the system of territorial become a state, the sub-ordination to the infidel should be pushed away. The territorial today is stated by escaping the difference status between Moslem and infidel, because they have the same position and right to develop the state and live besides each other.
ISLAM WETU TELU DI BAYAN LOMBOK Muhammad Harfin Zuhdi
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.494 KB)

Abstract

Islam masuk ke pulau Lombok pada abad ke-16 sekitar tahun 1545. Islamdisebarluaskan melalui sebuah ekspedisi dari Jawa yang dibawa oleh Sunan Prapen putra dari Sunan Giri, beliau merupakan salah satu Wali Songo yang terkenal. Menurut beberapa ahli sejarah, sebelum Islam masuk kepulau ini, penduduk asli Sasak mempunyai agama tradisional yaitu Boda sebuah sebutan bagi penduduk asli Lombok. Islam -sejak awal kemunculanya dan akan berlanjut hingga akhir zaman, telah menghadapi beberapa perbedaan nilai yang contradiktive dengan tradisi lokal dan budaya. Hal tersebut menyebabkan sebuah proses dialektika dan menghasilkan warna lokal Islam yang disebut Islam Wetu Telu di Bayan, Lombok Barat. Tulisan ini membahas tentang dasar sejarah yang mempertunjukan identitas agama masyarakat Sasak. Sejarah singkat identitas agama masyarakat Sasak terhadap agama Wetu Telu merupakan kolaborasi dari sebuah tradisi, budaya, dan nilai agama dari para pendatang yang merupakan penduduk asli di masa lalu. Sudut pandang lain menyatakan bahwa agama Wetu Telu merupakan sebuah ketidak lengkapan proses Islamisasi terhadap agama Waktu Lima yang belakangan ini dipertimbangkan sebagai Islam yang suci dan benar oleh sebagian besar Muslim di Lombok. Islam reached Lombok island in sixteenth century, approximately at 1545. It is well known spread was an expedition from Java led by Sunan Prapen son of Sunan Giri, one of the famous Wali Songo. Before Islam reached this island, according to some historian, the indigenous Sasak –appellation to indigenous of Lombok people— had their own traditional religion, Boda. Islam –since the very beginning of its history and will continuosly last to the end of time—has faced some different even contradictive values of local traditions and cultures. It leads to a kind of dialectical process, and in turn produces what is called local Islam such as Islam Wetu Telu in Bayan, West Lombok. This article is aimed at revealing historical root of religious identity of Sasak community. Historical sketch of its religious identity leads to Wetu Telu religion that was collaboration of tradition, cultural and relegious values of the comers and those of the indigenous people in the past. Another point of view said that Wetu Telu religion is an uncompleted process of islamization toward Waktu Lima religion that is considered by presently most Muslims in Lombok the true and pure Islam.
PELAKSANAAN ZAKAT BADAN HUKUM Imam Mustofa
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.842 KB)

Abstract

Para ulama kontemporer berpendapat bahwa badan hukum wajib dizakati. Dalam konteks Indonesia, dalam aturan perundang-undangan yang mengatur masalah zakat, disebutkan bahwa muzakki tidak hanya perseoragan, akan tetapi juga bisa berupa badan hukum. Berdasarkan hal ini, Lembaga Keuangan Syariah (LKS) wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah memenuhi syarat. Di Kota Metro terdapat beberapa Lembaga Keuangan Syariah yang juga merupakan badan hukum. Berdasarkan hal ini, permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana pelaksanaan zakat badan hukum pada LKS di Kota Metro. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang berusaha menelisik dan mengungkap pemahaman para pengelola LKS di Kota Metro terhadap kewajiban zakat badan hukum. Penelitian ini juga mengungkap pelaksanaan zakat badan hukum dan mekanisme pengelolaannya. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif. Populasi penelitian ini adalah Lembaga Keuangan Syariah di Kota Metro. Teknik sampling yang digunakan adalah purposif sampling. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara tidak terstruktur dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa dengan metode deskriptif-analitis. Setelah data dianalisa dan dikaji, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua pengelola Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Kota Metro memahami mengenai kewajiban badan hukum. Ada pengelola yang memahami bahwa zakat badan hukum adalah zakat yang dikeluarkan oleh pengelola terhadap dirinya, bukan lembaga yang dikelolanya. Selain kesimpulan di atas, dapat diketahui pula bahwa Ada tiga bentuk pelaksanaan zakat badan hukum LKS di Kota Metro. Pertama, LKS yang tidak dizakati karena ketidaktahuan pengelolanya mengenai ketentuan dan aturan kewajiban zakat badan hukum. Kedua, LKS yang dikeluarkan zakatnya, meskipun para pengelolanya belum mengetahui aturan dan ketentuan zakat badan hukum. Ketiga, LKS yang dikeluarkan zakatnya karena para pengelolanya mengetahui teori dan landasan hukumnya. Mengenai mekanisme pelaksanaan zakat LKS, ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Perbedaan ini pada tataran perhitungan nisab, kadar, pengumpulan dan penyaluran. The contemporary scholars propose that corporation is liable given through alms. In indonesia context, the regulation which regulates about alms is called that board commite of alms is not only individually, but also it can be corporation. In the line of this, Board of islamic financial is liable removed its alms if it has granted its terms. Metro has several Boards of islamic financial, it is also corporation. Based on this case, the issues of the paper is how does corporation implement alms at several Boards of islamic financial in Metro. This study is the result of research which tries to investigate and reveal insights of manager Boards of islamic financial in Metro toward alms obligation of corporation. The research also tries to reveal the alms implemetation of corporation and its maintenance. This research is field research which is having character of qualitative approach. The population of this study is boards of islamic financial in Metro. Techique sampling used is purposive sampling. Techique in gathering the data is used by non-structured interviewing and documentation. The data is analyzed through descriptive analysis method. After the data is analyzed and examined, the conclusion can be taken is not all boards islamic financial in Metro understand about obligation of corporation. There is manager who understands that alms of corporation is alms which paid by manager to their self, it is not broad that should pay it. In spite of conclusion above, it can be known that there are three models the implementation alms of corporation in Metro. First, boards islamic financial which is not paid alms yet because the manager did not know the implementation about appointment and the rule of alms for corporation. Secondly, boards islamic financial has paid its alms, eventhough its managers did not know rule and appointment for corporation. Last, boards islamic financial has paid its alms and its managers knew theori and its base of law. Regarding to the mechanism alms for boards islamic financial, there is difference between one and else. This distinct on calculation nisab, grade, collecting and distributing
ZIARAH DAN CITA RASA ISLAM NUSANTARA Mohammad Takdir Ilahi
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.546 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas tentang dinamika kearifan lokal dalam tradisi Islam yang menjadi cita rasa Islam Nusantara sampai sekarang. Salah satu tradisi dan kearifan lokal yang bernafaskan Islam adalah ziarah spiritual ke makam para wali yang dianggap memiliki karomah atau kesaktian selama menjalankan misi dan dakwah Islam di bumi Nusantara. Ziarah spiritual dalam tradisi Islam merupakan salah satu ciri khas dari kearifan lokal yang berkembang di Indonesia dengan segala kemajemukan yang mewarnai dinamika kehidupan masyarakat. Ziarah dalam tradisi Islam merupakan salah satu perjalanan spiritual (the advanture of spirituality) untuk memetik sumber barakah dari orang-orang suci yang selama hidupnya selalu dekat dengan Allah. Dengan berkunjung ke makam para wali, peziarah seolah diajak untuk menyelami hikmah-hikmah kehidupan yang sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad untuk selalu ingat dengan sang pencipta dan berusaha memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Semangat untuk memperkuat dan mempertebal keimanan adalah tujuan utama yang hendak diperoleh oleh peziarah sehingga petualangan spiritual atau wisata religius ini bisa menjadi sarana untuk memperkuat ikatan persaudaraan antara sesama muslim yang berasal dari berbagai daerah. Dalam konteks Indonesia, tradisi ziarah bukanlah sesuatu yang tabu dilakukan, melainkan sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, terutama kalangan yang berasal dari NU. Meskipun banyak pihak yang tidak suka dengan tradisi ziarah, namun praktik ritual keagamaan ini tetap menjadi sarana bagi umat Islam untuk mengolah batin dan jiwa mereka agar selalu mengingat akan kematian yang menjadi rahasia Allah. Dalam praktiknya, tradisi ziarah memang mendapat banyak tanggapan negatif karena dianggap lebih dekat dengan takhayyul, khurafat, dan kesyikiran. Namun, ziarah sebagai bagian dari tradisi masyarakat muslim bukanlah dimaksudkan untuk meminta sesuatu kepada kuburan, justru sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengingkat akan kematian dan mendoakan orang-orang suci yang sudah meninggal dunia. Apalagi, tradisi ini mempunyai tradisi yang berakar panjang dalam sejarah perkembangan agama Islam, baik di Timur Tengah atau pun di Indonesia sendiri. This paper discusses about the dynamics of local wisdom in Indonesian Islamic tradition. One of the traditions and local wisdom in Indonesia is a spiritual pilgrimage to the tombs of the saints who has “karomah”. Spiritual pilgrimage in the Islamic tradition is one of the characteristics of the local wisdom that developed in Indonesia with all diversity and religiosity. Pilgrimage in the Islamic tradition is one of spiritual journey to direct connection with the God. One of destination for muslim people to visit the tombs of saints are to explore some wisdom of life which suistanable with guidance of the prophet Muhammad to always remember the creator and effort to reform our behavior in everyday life. The main purpose from pilgrims is to reinforce of the faith so that spiritual journey or religious tourism can be a means to strengthen the bonds of brotherhood among muslim from diffrent regions.In the context of Indonesia, the pilgrimage tradition is always become activity for muslim people to improve their belief to the God, especially who come from NU. Although many people who dos’nt like pilgrimage tradition, but this religious practical is still become instrument to cultivate the mind and spirit to always remember of the death who become the secret of God. In practice, pilgrimage tradition getting negative respones because its closer to polytheism. However, the pilgrimage as part of the tradition of the muslim community is not intended to ask something to the grave, but as instrument to direct connection with Allah. Morever, this tradition has a long history was rooted in the developing of Islam, whether in the middle east or even in Indonesia.
THE CONTRIBUTION OF ALAWIYYIN SCHOLARS IN GROUNDING ISLAM IN THE ARCHIPELAGO IN THE 15TH-16TH CENTURY AD Dzulkifli Hadi Imawan; Labib Najib Abdullah Ghaleb
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 26 No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.496 KB) | DOI: 10.32332/akademika.v26i2.3665

Abstract

This study explains the contribution of Alawiyyin Ulama in the Islamization of the archipelago in the 15-16 century AD. They have contributed a lot to the intellectual-spiritual development of Islam in Islamic civilization in the archipelago. But really, their role is not widely written by historians considering the many classical scientific sources that recorded their history. Therefore, this study aims to provide new facts in revealing their contribution in spreading Islam in the archipelago through various classical literatures that record their contribution to the Islamization of the archipelago. This research was conducted using literature study; with historical analysis to find historical data and facts about the contribution of Alawiyyin scholars in the Islamization of the archipelago in the 15-16 century AD. The results of this study explain that the contribution of the Alawiyyin in the Islamization of the archipelago can be seen from their efforts to spread Islam so that civilization is born. Islam in the Archipelago. They also contributed to grounding the Ahlussunnah wa Jama'ah, the Syafii Madzhab, and Sunni Sufism in the archipelago with wisdom and wisdom.
GLOBALISASI : LANGKAH MENUJU WESTERNISASI GLOBAL Ayief Fathurrahman
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep globalisasi dengan pendekatan ekonomi politik. Berdasarkan kajian ini, bahwa globalisasi sarat dengan muatan logika kepentingan political economy dalam rangka mengkokohkan jangkar kekuasaan the West Nation sebagai Negara adikuasa di muka bumi, tanpa memandang kepentingan Negara-negara kecil. Dengan pendekatan ekonomi politik, banyak para ahli mengemukan fakta bahwa globalisasi identik dengan westernisasi. Globalisasi saat ini diiringi dengan misi neokolonialisme, produk Amerika yang pada dasarnya ditujukan untuk promosi kepentingan imperialistik masyarakat Barat dan berubah menjadi kekuatan hegemonic, sebagai jangkar kekuatan blok barat (AS) sebagai satu-satunya negara adidaya dunia. Para pengamat juga menunjukkan bahwa ada empat aspek utama globalisasi: 1) ekonomi 2) sosial dan budaya 3) militer 4) lingkungan. karena sebagian besar, faktor-faktor tersebut terikat dan dikontrol bahkan dimanipulasi. This article aims to examine the concept of globalization with political economy approach. Based on this study, that the logic of globalization fully loaded with cargo of political economy interests which built to anchor the power of the West Nation as a State superpower on earth, and ignori the interests of small countries. Through a political economy approach, many experts promoted the fact that globalization is synonymous with Westernization. Globalization is accompanied with the mission of neocolonialism, American products are basically intended for the promotion of the imperialistic interests of Western society and turned into a hegemonic power, as the western anchor strength (AS), as the only world superpower. Analysts also pointed out that there are four main aspects of globalization: 1) the economy 2) social and cultural 3) military 4) environment. for the most part, these factors are bound and controlled and even manipulated.
THE CONTRIBUTIONS OF THE ISLAMIC WASATHIYAH OF MAKKAH AL-MUKARRAMAH IN THE SPREADING OF ISLAM IN LOMBOK, INDONESIA Fahrurrozi Fahrurrozi; Muhammad Thohri
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 24 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.836 KB)

Abstract

Kehadiran Alumni Madrasah Saulatiyyah di bagian tengah Nusantara diterima secara luas dengan penciri transimisi Sunni vis a vis Wahabi, sejak di Makkah. Para alumni Saulatiyyah sebenarnya mengalami urban-pressure metropolitan Makkah namun ramah terhadap problem khilafiyah lintas pemikiran Islam. Alumni Saulatiyyah adalah Tuan Guru. Mereka berada di poros tengah Indonesia (Lombok) dalam bentangan Nusantara. Mereka konsisten bergerak mengabdi, mengajarkan faham sunni moderat melalui kegiatan edukasi sejak pra-kemerdekaan, lalu gerakan edukasi menjadi model utama gerakan dari generasi ke generasi. Arus besar pelajar Saulatiyyah sekitar 1985-an. Infiltrasi Saulatiyyah adalah gerakan revolusioner pelembagaan ajaran agama Islam dengan gaya kepemimpinan paternalistik-kolegial.Infiltrasi Saulatiyyah berupa taklim dan pendidikan formal. Pendidikan formal yang dibangun adalah madrasah dan sekolah. Lombok dengan tuan guru Saulatiyyah bukan pendidikan Islam Jawa (tanpa pegon, tanpa utawi iku), melainkan pendidikan Saulatiyyah.Sanad keilmuan alumni Saulatiyyah adalah sanad ‘aly (langsung ke pusat Islam terutama Fiqh, Quran Hadits dan Qiraah). Produk pendidikan yang digiatkan alumni Saulatiyyah bukan sekolah Arab (pengantar bukan bahasa Arab, bukan pula pondok tahfiz).Saulatiyyah dan reflikanya adalah ortodoksisme Islam modernisme pendidikan. Keywords: Kontribusi, Paternalistik, Saulatiyyah, dan Ortodoksi Islam.
MANAJEMEN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH BERBASIS SUMBER DAYA MANUSIA Subandi Subandi; Ahmad Fauzan
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 23 No 1 (2018): Good Coorporate Governance dan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.579 KB)

Abstract

Abstract The authors analyze the government’s policies in developing people's economic interests of small and medium enterprises by using the principles of good governance. This study uses descriptive qualitative literature research using primary and secondary data sources. The authors urge that some policies should be taken within the framework of good government management, among others are: conducting program socialization and achieving strategies for the community; identifying human resources, ownership of sufficient capital; encouraging entrepreneurial spirit in small and medium-sized communities; and facilitating business customers (market segmentation), and the supervision and continuous improvement (quality Improvement). Keywords: Good Governance, management, SMEs, HR, enterpriser Abstrak Penulis menganalisa bagaimana kebijakan pemerintah dalam mengembangkan minat ekonomi kerakyatan usaha kecil dan menengah dengan menggunakan prinsip Good Governance. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif kepustakaan dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. Hasil penelitian penulis dalam langkah-langkah Kebijakan pemerintah dengan menggunakan manajemen good governance yang harus dilakukan adalah : 1). Melakukan sosialisai program dan strategi pencapainya kepada masyarakat, 2). Mengidentifikasi sumber daya manusia, pemilikian modal yang cukup, 3). Munculnya seangat jiwa kewirausahaan pada masyarakat kecil dan menengah4). Adanya pelanggan bisnis (sekmentasi pasar), dan adanya pengawasan serta perbaikan terus menerus (Quality Improvement). Kata Kunci : Good Governance, manajemen, UKM, SDM, Wiraswasta

Page 4 of 47 | Total Record : 466