cover
Contact Name
Dandi Saputra
Contact Email
saputradandi232@gmail.com
Phone
+6281290496544
Journal Mail Official
stthami@gmail.ac.ic
Editorial Address
Ruko Kencana Bunda No. 89 L & 88 X, Jl. Kamal Raya, RT.4/RW.9, Cengkareng Bar., Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11730
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Voice of HAMI
ISSN : 26220113     EISSN : 26561131     DOI : https://doi.org/10.59830/voh.v7i2.126
Core Subject : Religion, Education,
Voice of HAMI merupakan Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission, Jakarta. Voice of HAMI merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2656-1131 (online), ISSN: 2622-0113 (print), dengan Focus dan Scope: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani Voice of Hami menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada di seluruh Indonesia, bahkan hingga manca negara. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. Voice of Hami terbit dua kali dalam satu tahun, Pebruari dan Agustus, serta telah di indeks pada: Googles Scholar.
Articles 76 Documents
ATEISME SIGMUND FREUD KETEGANGAN RADIKAL PSIKOLOGI DAN SPIRITUAL Aritonang, Arthur
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.130

Abstract

Hans Kung dalam karyanya meneliti pemikiran dari Sigmund Freud tentang agama. Publik mengenal Freud sebagai ahli psikolog abad ke-20. Di era modern Freud mempertanyakan mengapa mayoritas manusia memeluk agama. Pertanyaan ini hendak didekati Freud dengan dengan pendekatan psikologi. Freud melihat agama itu lahir dari sebuah pengalaman ingatan manusia di masa kanak-kanak yang mendapatkan perlindungan dari ayahnya. Ia melihat agama dan Tuhan adalah sebuah ilusi yang diciptakan dalam pikiran manusia untuk kebutuhan manusia seperti rasa aman dan perlindungan sebab eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan pendekatan saintifik. Atas dasar itu, ia berkesimpulan bahwa orang beragama seperti orang yang sakit jiwa (neurosis). Sebagai seorang ateis, Kung memperhatikan bahwa pemikiran Freud dipengaruhi oleh pemikir ateis sebelumnya semisal Karl Marx, Ludwig Feuerbach, dan Friedrich Nietzsche. Selain itu juga, dipengaruhi oleh literatur ilmu sejarah asal-usul agama yang ia pernah pelajari, tentang kisah mitologi Yunani Oedipus maupun totemisme. Menurut Freud, orang beragama seperti demikian: (a) orang yang secara psikologi tidak dewasa atau seperti kekanak-kanakan, karena masih adanya perasaan ketergantungan kepada Tuhan (b) dengan agama manusia berusaha untuk mengatasi rasa bersalah dalam dirinya (c) manusia berusaha mengatasi hal-hal yang terjadi di luar kendali manusia, dan (d) dengan agama manusia mencoba memecahkan teka-teki dunia dan membebaskan manusia dari semua penderitaan. Untuk itu Freud menganjurkan bahwa manusia harus mampu mengatasi perasaan bersalah, manusia harus membebaskan dirinya dari rasa bergantungnya terhadap agama dan Tuhan. Freud juga menaruh harapannya pada sains bukan kepada agama. Kung memiliki pandangan yang berbeda dari Freud. Ia memandang kehadiran agama bagi manusia itu secara positif (1) Menurutnya, agama berasal dari pengalaman individu seseorang bukan hasil dari ilusi pikiran manusia (2) Freud terlalu mereduksi agama sebatas kebutuhan perlindungan maupun keamanan, bagi Kung agama memiliki muatan yang kompleks dan mendalam dimana terdapat dimensi spiritualitas, teologis, histroika, ritual, maupun memiliki dimensi transendetal. Meskipun demikian kung tetap memberikan apresiasi atas pemikiran kritisnya terhadap agama.
KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM WAHYU 20:1-6: SEBUAH ANALISIS TEMATIS DALAM KERANGKA TEOLOGI BIBLIKA Silalahi, Binsar Pandapotan
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.136

Abstract

Revelation 20:1-6 is one of the central passages in New Testament eschatological discourse because it contains the only explicit mention of the thousand-year kingdom. Most previous studies have interpreted this passage based on specific eschatological systems, such as premillennialism or amillennialism, without exploring the internal narrative and thematic structure that progressively shapes the theological meaning of the text. This study offers a thematic approach within the framework of biblical theology to examine the connection between the binding of Satan, the first resurrection, and the co-reign with Christ as a single, coherent theological unity. Using qualitative methods and literature review, the analysis was conducted through three stages: structural description, thematic identification, and narrative-theological synthesis based on the Greek text (NA28). The results of the study show that Revelation 20:1-6 presents a narrative configuration that is literal and factual, which not only expresses symbolic hope but also affirms the participation of God's people in the fulfillment of the divine plan through Christ's concrete actions in the future as a response to a world marked by ethical crisis and historical disorientation.
PENDIDIKAN KRISTEN DAN SPIRITUALITAS DI ERA DIGITAL: TANTANGAN, PELUANG, DAN STRATEGI Saputra, Dandi; Sihombing, Iren
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.145

Abstract

AbstractThe current digital era is experiencing increasingly modern technological developments, making it easier for humans to obtain various information, be it information that is spiritually constructive or information that is destructive to every Christian value and our spirituality. At this time, opportunities have opened up for every believer to explore life in accordance with the values of Spirituality. Christian education and spirituality must undergo a transformation in order to adapt to the current developments. With this transformation, it is hoped that Christian education and Christian spirituality will be able to maintain their existence by adhering to the truth of God's Word. In addition, there are challenges for Christian education and spiritual values that must be faced at this time. This article contains how Christian education and spirituality develop in the digital era and the use of technology wisely and continue to maintain Christian values and spiritual values. This study uses a library research method to analyze the development of Christian and spiritual education in the digital era. Therefore, researchers provide findings on how to apply technology to Christian education and spirituality so that technological advances not only have negative impacts, but also have very good opportunities to be used and applied. Keywords: Chirstian Education;  Spirituality;  Digital Era AbstrakEra digital saat ini mengalami perkembangan teknologi yang semakin modern, sehingga memudahkan manusia untuk mendapatkan berbagai informasi, baik itu informasi yang bersifat membangun spritualitas atau informasi yang bersifat meruntuhkan setiap nilai Kristen dan spiritualitas kita. Pada saat ini telah terbuka peluang bagi setiap orang percaya untuk mendalami kehidupan sesuai dengan nilai Spiritualitas. Pendidikan Kristen dan spiritualitas harus mengalami transfomasi guna menyesuaikan perkembangan zaman yang ada. Dengan adanya transformasi tersebut, diharapkan pendidikan Kristen dan spritualitas Kristen mampu mempertahankan eksistensinya dengan tetap berpegang pada kebenaran Firman Tuhan. Selain itu ada tantangan tersendiri bagi pendidikan Kristen dan nilai spiritualitas yang harus dihadapi pada saat ini. Artikel ini berisi bagaimana pendidikan Kristen dan spiritualitas berkembang di era digital dan pemanfaatan teknologi dengan bijak dan terus mempertahankan nilai kekristenan dan nilai spiritualitas. Penelitan ini menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk menganalisis perkembangan pendidikan Kristen dan spiritual di era digital. Oleh karena itu, peneliti memberikan temuan mengenai bagaimana melakukan penerapan teknologi pada pendidikan Kristen dan spiritualitas sehingga kemajuan teknologi bukan hanya memberikan dampak negatif, tetapi juga memiliki peluang yang sangat baik untuk digunakan dan diterapkan. Kata kunci: Pendidikan Kristen; Spiritualitas; Era Digital
מוּת BERDASARKAN AYUB 7:7-10: KONSEP 40 HARI SETELAH KEMATIAN DAN SIGNIFIKASINYA DALAM PEMBINAAN JEMAAT Malelak, Milda Amelia; Zai, Vinus; Ming, David; Lamsir, Seno
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.137

Abstract

Abstrak: Perjumpaan antara suatu kebudayaan, tradisi dan agama akan menghasilkan suatu pemahaman yang khas dan bahkan pemahaman tersebut dapat diteruskan dari generasi ke generasi. Biasanya agama selalu tercampur dengan Kebudayaan/kepercayaan adat yang menjadi pegangan umat sebelum agama-agama disahkan sehingga umat percaya dapat mempercayai hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran yang telah dicatat dalam Alkitab. Kitab Ayub 7:7-10 tentang muwth memberikan suatu pemahaman yang mendalam tentang keberadaan roh dari orang yang telah mengalami kematian, sebagai berikut: 1) Kehidupan dalam dunia ini hanyalah sementara. 2) Roh orang mati tidak ada lagi di dunia ini. 3) Roh orang mati tidak kembali ke rumahnya. Hasil eksege ini harus menjadi pemahaman jemaat khususnya tentang konsep 40 hari setelah kematian, karena kemungkinan besar masih ada orang-orang yang masih memiliki pemahaman yang salah tentang keberadaan roh orang mati, sehingga jemaat perlu mendapatkan suatu pelatihan yang benar tentang keberadaan roh orang yang telah mati. Kata Kunci : Muwth, Konsep 40 hari, kematian, pelatihan jemaat.
KONSEP PEMAHAMAN ALEGORI PASANGAN YANG TIDAK SEIMBANG: ANALISIS 2 KORINTUS 6:14-15 DALAM KONTEKS HIDUP KRISTEN MASA KINI Daely, Rahmat Wijaya; Harefa, Yaaro
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.131

Abstract

Pasangan merupakan persatuan antara laki-laki dan perempuan, atau pernikahan yang memiliki persatuan dalam satu keluarga, dan pernikahan tidak pernah lepas dari peran dan kehendak Tuhan di dalam mempersatukan, dalam satu ikatan yang intim di hadapan Allah maupun di hadapan manusia. Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk menganalisis kitab Injil 2 Korintus 6:14-15, yang menjadi tema pembahasan utama dalam artikel ini, untuk dapat memahami dan berkontribusi di dalamnya. Penulis juga mengajukan untuk dapat memilih pasangan yang sepadan khususnya orang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Allah satu-satunya yang diimani orang percaya, agar dapat memilih pasangan yang seiman dan tidak dengan non-Kristen, karena orang tidak percaya tidak dapat disatukan di dalam kemulian Allah. Penelitian juga menggunakan metode kualitatif pendekatan literatur, dengan mengutip berbagai artikel lain yang mendukung dari tulisan yang diteliti, namun dalam penelitian ini, selalu berpadoman pada Surat 2 Korintus 6:14-15. Dalam artikel ini dapat mencari suatu hal yang berbeda dengan penelitian terdahulu sebelumnya, dengan mengetahui padangan yang berbeda-beda, namun dalam penelitian ini, dapat mengetahui orang yang bukan bukan orang Kristen namun  percaya kepada Kristus, begitu juga sebaliknya. 
PERUBAHAN AKAL BUDI DAN KESUCIAN HIDUP MENURUT PERSPEKTIF PAULUS DALAM ROMA 12:1-2 sapatandekan, Imel Yovita; Telambanua, Peniel
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.129

Abstract

Semua manusia ingin menikmati kesenangan dan kepuasan hidupnya. Namun, di kalangan orang percaya saat ini terjadi kekeliruan paradigma dalam memahami ibadah yang sejati yang harusnya menjadi jembatan dalam proses menuju kesucian hidup. Kesalahpahaman ini tercermin dalam pandangan bahwa ibadah hanya sebagai rutinitas saja, pemenuhan fasilitas ibadah di gereja dianggap sebagai standar utama dalam beribadah dan pengaruh gadget dalam beribadah juga sangat signifikan. Hal ini dapat berpengaruh pada ibadah yang dilakukan oleh orang percaya yang pada akhirnya tidak dapat mengikuti ibadah di gereja maupun komunitas-komunitas tumbuh bersama secara teratur. Itulah sebabnya, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang esensi ibadah yang sejati bagi orang percaya saat ini, dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah yang sesungguhnya, sebagaimana dijelaskan dalam Roma 12:1-2, adalah tentang mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup dan suci kepada Allah sebagai bentuk ibadah yang menyenangkan-Nya.