cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Emisi Gas Metana dan Karbon Dioksida pada Proses Pengolahan Limbah Cair Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit PT. Bio Nusantara Teknologi Bengkulu Tengah Linarsih Makmun; Sarto Sarto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.123 KB) | DOI: 10.22146/bkm.28299

Abstract

Emission of methane and carbon dioxide gas in the process of processing oil palm liquid waste PurposeThe purpose of this study was to know, calculate and evaluate the concentration of methane gas and carbon dioxide produced in each wastewater treatment plant (WWTP) pond.MethodThis research was a qualitative research, using case study design and explanatory approach. The object of this research was the emission of methane gas and carbon dioxide emitted from 12 WWTP ponds.ResultsThe highest COD and BOD decrement occurred in pond 4 of 39% COD and 61.2% BOD. The highest total methane gas emission was 1.49 x 109 kg hours-1 (1.49 x 106 tons hour-1) occurring in the morning, while the highest total carbon dioxide emission was 2.59 x 109 kg per hour (2.59 x 106 ton hour-1). ConclusionThe concentrations of methane and carbon dioxide gas produced by each WWTP pool varied greatly depending on temperature, residence time and the amount of mud. Methane gas emissions and carbon dioxide emissions occurred in each WWTP pool with the highest methane gas emission value occurring in pond 3 in the afternoon at 356,64 x 106 mg m-2minute-1 and the highest carbon dioxide emissions occur in pond 3 in the afternoon at 402.145 x 106 mg m-2minute-1. The decrease of COD value in whole anaerobic pool was 52,1% and the decrease of COD value in aerobic pool was 27,2%.
Evaluasi Sistem Pengelolaan Limbah Medis Puskesmas di Wilayah Kabupaten Bantul Provinsi DIY
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.28347

Abstract

Latar Belakang: Setelah penerapan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) , rumah sakit dan Puskesmas menerima lebih banyak kunjungan pasien rawat jalan dan rawat inap daripada sebelumnya dan mengakibatkan peningkatan volume limbah medis. Meskipun proporsi limbah medis yang masuk ke dalam kategori limbah berbahaya hanya sebesar 15-25%, tetapi risiko ditimbulkan cukup besar, karena dapat menyebarkan penyakit menular dan penyebab cedera. Pengelolaan limbah medis di Puskesmas awalnya menggunakan metode insenerasi , tetapi hal ini  menimbulkan masalah baru dengan adanya pencemaran udara dan kebisingan. Jumlah produksi sampah medis yang dihasilkan Puskesmas tahun 2014 sebesar 5.125 kg, tahun 2015 menjadi sebesar 8.500 kg, tahun 2016 menjadi 12.800 kg. Menurut  Isfandiari (2013), pemusnahan limbah medis dengan incenerator yang beroperasi dibawah suhu 1.0000 C sangat berpotensi menghasilkan emisi dioksin/furan yang berdampak besar terhadap lingkungan dan kesehatan. Sri Sudewi (2013) menyimpulkan bahwa pemanfaatan incenerator di Puskesmas Srandakan masih berfungsi tetapi sudah tidak stabil lagi dan menghasilkan polusi di wilayah sekitar sehingga disarankan pengelolaan limbah medis diserahkan kepada pihak ketiga..Metode: Jenis penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus di 5 (lima) Puskesmas Kabupaten Bantul.Hasil:Pengelolaan limbah medis di Kabupaten Bantul merupakan model baru menggunakan pihak swasta sebagai user (KPN RI ‘Kesehatan Bantul) untuk menjadi penghubung penyewaan jasa kepada pihak transporter swasta (CV.Jogya Prima Perkasa). Pihak transporter melakukan pengangkutan dan pemusnahan limbah medis yang dihasilkan oleh fasilitas kesehatan Puskesmas,Pustu, Polindes dan fasilitas kesehatan swasta. Pertimbangan Koperasi Kesehatan adalah lembaga swasta yang merupakan milik Dinas Kesehatan dan memiliki badan hukum dianggap lebih fleksibel untuk menalangi dana yang dikeluarkan awal untuk membayar pembiayaan jasa pengangkutan dan pemusnahan kepada pihak transporter. Pengelolaan limbah medis Puskesmas sudah mengikuti peraturan PP nomor 101 Tahun 2014 dan Permenlhk nomor 56 Tahun 2015 dalam hal pemilahan, pengumpulan, pengemasan, penyimpanan dan pengangkutan , tetapi masih perlu peningkatan dalam upaya meminimalisasi dan pengurangan limbah medis berasal dari sumbernya dengan metode 3R, perlu peningkatan sarana prasarana pembuatan TPS bagi Puskesmas yang belum memiliki dan bagi Puskesmas yang sudah memiliki TPS untuk meningkatkan sesuai syarat yang ditentukan.Kesimpulan Sistem contracting out dalam pengelolaan limbah medis menggunakan lembaga koperasi milik Dinas Kesehatan sebagai pihak penghubung antara Puskesmas dengan pihak transporter swasta merupakan mekanisme baru untuk menyelesaikan persoalan limbah medis  namun penguatan peran Dinas Kesehatan sebagai koordinator dari Puskesmas harus lebih ditingkatkan dalam melakukan evaluasi secara rutin terhadap pelaksanaan pengelolaan limbah medis berdasarkan aturan karena dari sisi pihak Koperasi Kesehatan lebih menangani pada urusan pembiayaan dan menyediakan jasa penghubung dengan transporter swasta.  
Kepatuhan dan asertivitas pegawai negeri sipil (PNS) pada penerapan peraturan daerah kawasan tanpa rokok (KTR) “Studi Komparasi di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulon Progo Tahun 2017”
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.28376

Abstract

                         INTISARIIsraini Susanti 1), Yayi Suryo Prabandari 2)Latar Belakang :  Instansi pemerintahan merupakan tatanan yang ditetapkan dalam kawasan tanpa rokok (KTR). Pegawai negeri sipil merupakan panutan di masyarakat untuk memberikan contoh yang baik dalam berperilaku yang memiliki kewajiban untuk menaati peraturan atau kebijakan yang dibuat oleh pemerintah termasuk peraturan kawasan tanpa rokok (KTR). Selain itu, diperlukan adanya kepatuhan dan asertivitas dari pegawai dalam penerapan kawasan tanpa rokok (KTR) di tempat kerja agar penerapan kawasan tanpa rokok di tempat kerja dapat berjalan dengan optimal.Tujuan :  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kepatuhan dan asertivitas  pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulon Progo pada penerapan kawasan tanpa rokok (KTR).Metode : Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pegawai negeri sipil (PNS) di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Kabupaten Kulon Progo sebanyak 162 pegawai pada 25 SKPD dan Sleman sebanyak 174 pegawai pada 26 SKPD Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling. Instrumen penelitian diukur menggunakan kuesioner, selain itu juga dilakukan observasi dan wawancara untuk menunjang penelitian. Analisis yang digunakan adalah univariabel, bivariabel (independent t-test dan Mann-Whitney) dan multivariabel dengan (regresi linear) dengan taraf signifikansi p < 0,05.Hasil penelitian : Hasil uji independent t-test dan Mann-Whitney menunjukkan ada perbedaan pengetahuan terhadap penerapan perda KTR di Kulon Progo  (62,96%) dan di Sleman (96,55%) dengan nilai p =0,000, sikap  di Kulon Progo (48,15%) dan di Sleman (40,22%) dengan nilai p = 0,003 dan ada perbedaan sosialisasi terhadap penerapan perda KTR di Kulon Progo (60,49%) dan di Sleman (39,66%) dengan nilai p = 0,000. Hasil uji regresi linear menunjukkan bahwa faktor yang dominan mempengaruhi kepatuhan adalah sikap dan status merokok merupakan  faktor yang dominan mempengaruhi asertivitas PNS.Kesimpulan : Ada perbedaan pengetahuan, sikap dan sosialisasi pada pegawai negeri sipil di Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Sleman. Tidak ada perbedaan sikap, status merokok, kepatuhan, asertivitas, aksesibilitas dan rekan kerja merokok pada pegawai negeri sipil di Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Sleman. Kata kunci : rokok, kawasan tanpa rokok (KTR), pegawai negeri sipil,    kepatuhan, asertivitas 1). Minat utama Perilaku dan Promosi kesehatan, Fakultas Kedokteran        Universitas Gadjah Mada2). Departemen Perilaku Kesehatan , Lingkungan dan Kedokteran Sosial,      Fakultas kedokteran Universitas Gadjah Mada   
Hubungan karakteristik demografi terhadap status keparahan cedera akibat kecelakaan lalu lintas sepeda motor di kabupaten Sleman Yogyakarta: analisis data sekunder HDSS 2015 dan 2016 Anni Tiurma Mariana; Fatwa Sari Tetra Dewi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 6 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.913 KB) | DOI: 10.22146/bkm.28380

Abstract

Injuries from traffic accidents in Sleman: HDSS data 2015 and 2016Purpose: This study was conducted to know the description of respondent characteristic of injury caused by a motorcycle accident, description of injury characteristic and relation between demography factor to injury status of motorcycle rider injured due to motorcycle traffic accident. Method: Type of study with cross-sectional design using secondary data HDSS 2015 and 2016. Samples are all HDSS respondents who got injured due to motorcycle accident. The data will be analyzed by univariable and bivariate test using Chi-square analysis. Results: Injuries from motorcycle accidents were higher in people <45 years old (69.7%), male sex (54.3%), marital status (51.9%), high education level (59.3% ), working (57.3%), urban residence (80%) and upper middle economic status (26.4%). Age is significantly associated with motorcycle injury, while sex, marital status, education level, occupation type, a location of residence and socioeconomic status are not significantly related to injury status. Conclusion: Age is statistically related to injury status. Groups ≥45 years are more at risk of injury. We need to formulate a health program to minimize the risk of severe injury by integrating some of the ongoing elderly health.AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran karakteristik responden yang cedera akibat kecelakaan sepeda motor, gambaran karakteristik cedera dan hubungan antara faktor demografi terhadap status cedera pengendara sepeda motor yang mengalami cedera akibat kecelakaan lalu lintas sepeda motor. Metode: Jenis penelitian dengan rancangan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder HDSS 2015 dan 2016. Sampel merupakan semua responden HDSS yang mendapat cedera akibat kecelakaan sepeda motor. Data kemudian akan dilakukan uji univariat dan uji bivariat dengan analisis chi-square. Hasil: Kejadian cedera akibat kecelakaan sepeda motor lebih tinggi pada responden dengan karakteristik demografi umur <45 tahun (69,7%), berjenis kelamin laki-laki (54,3%), status kawin (51,9%), tingkat pendidikan tinggi (59,3%), bekerja (57,3%), lokasi tinggal di perkotaan (80%) dan status ekonomi menengah ke atas (26,4%). Umur berhubungan signifikan dengan cedera sepeda motor, sedangkan jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, lokasi tinggal dan status sosial ekonomi tidak berhubungan signifikan dengan status cedera. Simpulan: Umur berhubungan secara statistik dengan status cedera. Kelompok ≥45 tahun lebih berisiko mengalami cedera. Perlu merumuskan program kesehatan untuk meminimalkan risiko cedera parah dengan mengintegrasikan beberapa kesehatan usia lanjut yang telah berjalan.
Analisis Spasial Kejadian Malaria Dan Habitat Larva Nyamuk Anopheles spp di Wilayah Kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 4 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.28528

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium sp dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp betina. Di Purworejo kasus malaria mengalami peningkatan dari API 0,98‰ (2013) menjadi API 1,98‰  (2015).Tahun 2016 jumlah kasus sebanyak 423 kasus.Tujuan :  Menganalisis faktor-faktor risiko dengan kasus malaria, memetakan distribusi  spasial kasus malaria dan  mengetahui tipe habitat larva nyamuk Anopheles spp di wilayah kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo.Metode Penelitian : Penelitian merupakan observasi analitik dengan rancangan penelitian case control.Variabel bebas adalah faktor cuaca, faktor lingkungan rumah dan faktor sosial budaya, sedangkan variabel terikat adalah kejadian (kasus) malaria. Hubungan variabel bebas dan terikat dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson dan Chi square, uji  regresi logistik dan analisis spasial.Hasil : Hasil uji korelasi Pearson menunjukan variabel suhu, kelembaban dan curah hujan tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Uji Chi square menunjukan ada hubungan kejadian malaria dengan keberadaan breeding site (p=0,02;OR 2,5 ), kondisi dinding rumah (p=0,004; OR 0,29) dan kebiasaan keluar malam hari (p=0,01;OR 3,6 ), sedangkan keberadaan hewan ternak, jarak breeding site, kebiasaan memakai kelambu, penggunaan kawat kasa, pemakaian anti nyamuk dan kebiasaan mengunjungi daerah endemis tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Berdasarkan uji regresi logistik, kebiasaan keluar malam hari merupakan faktor risiko yang paling dominan berhubungan dengan kejadian malaria. Pada analisis spasial kebanyakan kasus berada di dalam area buffer zone pada radius 1000 m dari habitat larva nyamuk Anopheles spp.Kesimpulan : Tidak ada hubungan faktor cuaca dengan kejadian malaria. Ada hubungan antara keberadaan habitat perkembangbiakan larva, kondisi dinding rumah dan kebiasaan keluar malam hari dengan kejadian malaria. Kasus berada di area buffer zone pada radius 1000 meter. 
Pengetahuan, sikap, dan faktor risiko lingkungan pada rumah tangga dengan riwayat leptospirosis di kota Yogyakarta dan kabupaten Bantul Defryana Rakebsa; Citra Indriani; Widagdo Sri Nugroho
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 4 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.309 KB) | DOI: 10.22146/bkm.28562

Abstract

Epidemiology of leptospirosis in Yogyakarta and BantulPurposeThe purpose of this study was to determine the relationship knowledge, attitude, and environmental factors with the incidence of leptospirosis.MethodsA case-control study was conducted in November 2016 in Yogyakarta city and Bantul district on 242 respondents. The case was leptospirosis patients that recorded in the Yogyakarta and Bantul District health offices within the period of June 2014 to June 2016. Controls were households in the same neighborhood as the case and had no history of leptospirosis, with case and control comparisons 1:1.  Rat-catching was done inside the house and in the rice fields. ResultsKnowledge (OR: 1, 95% CI: 0.58-1.71, p-value: 1) and attitude (OR: 0.8, 95% CI: 0.47-1.40, p-value: 0 .44) had no significant association with leptospirosis incidence. The presence of rats in the home has no significant relationship with leptospirosis incidence (OR: 0.7, 95% CI: 0.15-3.78, p-value: 0.73). The multivariate analysis found that the distance of house to open sewer (OR: 2.96, 95% CI: 1.22-7.14) and the presence of in-house waste (OR: 2.03, 95% CI: 1.14-3.62) had a significant association with leptospirosis incidence.ConclusionThere was no statistically significant relationship between knowledge and attitude with leptospirosis incidence. Environmental factors such as the distance of house to open sewer and the presence of in-house waste have a statistically significant relationship with the incidence of leptospirosis. Two of the 4 serum mice examined with a positive MAT method contained Leptospira sp. with Benjamin serovar Benjamini strain.
EFEKTIVITAS MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale Roxb), Bacillus thuringiensis ssp. israelensis (Bti) SEBAGAI PENGGANTI Temephos PADA PEMBERANTASAN ARVA NYAMUK Aedes aegypti DI SUMATERA UTARA
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.28592

Abstract

Latar Belakang: Dengue adalah salah satu penyakit yang penyebarannya paling cepat di dunia yang disebabkan oleh virus pada nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian dengan insektisida kimia yang terus menerus dalam jangka panjang menyebabkan munculnya resistensi. Alternatif yang dinilai efektif sebagai larvasida adalah Bti. Selain itu minyak atsiri jahe diduga mampu sebagai biolarvasida alami.Tujuan: Untuk mengetahui status resistensi larva Aedes aegypti terhadap temephos, serta untuk mengetahui toksisitas larutan cair Bti Type H-14 dan minyak atsiri jahe (Zingiber officinale roxb) terhadap larva Aedes aegypti.Metode: Jenis penelitian eksperimen murni laborarotium dengan rancangan post tes pada kelompok kontrol secara acak. Konsentrasi uji kerentanan temephos 1% adalah 0,02 ppm dan 1 ppm. Konsentrasi uji toksisitas Bti adalah 0.01, 0.013, 0.017, 0.02, 0.03 dan 0.04 mL/L dan konsentrasi uji toksisitas minyak atsiri jahe adalah 66.6, 99.9, 133.2, 166.5, 199.8 dan 266.4 ppm. Sampel larva Aedes aegypti instar III dari Deli Serdang. Analisa dengan statistik univariat serta analisis probit.Hasil: Larva Aedes aegypti resisten terhadap temephos (0,02 ppm, 1 ppm) dengan RR50,90 1,9 < 5. Nilai LT50,90 larva adalah 125.2; 192.0 menit. Nilai LC50,90 Bti adalah 0.014; 0.024 mL/L. Nilai LC50,90 larutan minyak atsiri jahe adalah 65.6; 129,1 ppm;.  Kesimpulan: Larva telah resisten terhadap temephos dengan kriteria resistensi rendah. Bti dan larutan minyak atsiri jahe toksik terhadap larva Aedes aegypti.
Karakter enumerator yang diinginkan responden untuk penelitian yang bersifat longitudinal: kasus HDSS Sleman Wahyuni Harahap; Fatwa Sari Tetra Dewi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 4 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.369 KB) | DOI: 10.22146/bkm.29338

Abstract

Tujuan: Mengetahui karakter enumerator yang diinginkan responden penelitian longitudinal (HDSS Sleman).Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan case study dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data sekunder berupa transkrip wawancara penelitian “Desain Sistem Reward bagi Responden Penelitian HDSS Sleman” dari kategori responden attrition sample pada pengambilan data siklus II. Dilengkapi dengan data primer berupa hasil observasi saat pengambilan data HDSS Sleman siklus III.Hasil: Responden penelitian menginginkan enumerator yang menyampaikan identitas penelitian, mencakup penjelasan tujuan penelitian, prosedur dan manfaat penelitian, serta instansi, dan enumerator. Kejelasan tujuan penelitian merupakan alasan utama responden untuk tetap termotivasi berpartisipasi dalam penelitian HDSS Sleman.Simpulan: Responden penelitian HDSS Sleman menginginkan enumerator yang mengkomunikasikan identitas penelitian berupa tujuan penelitian, prosedur dan manfaat penelitian, serta instansi, dan enumerator.
Perbedaan Berat Badan Bayi dan Hormon Prolaktin Dengan Breast Care Pada Ibu Nifas Normal (Studi di RSU Sarila Husada Kabupaten Sragen) Winnie Tunggal Mutika; Ari Suwondo; Runjati Tangwun
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 4 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.992 KB) | DOI: 10.22146/bkm.30272

Abstract

Effect of breast care among postpartum women on baby weight and prolactin hormones: preliminary studyPurposeThe aim of this study was to assess effectivity of breast care among postpartum women on baby weight and prolactin hormones.MethodThe study used quasi experimental with non equivalent time samples design. The sample was postpartum women in Sarila Husada hospital, Sragen and the sampling was performed by purposive sampling. The analysis was bivariate analysis using a paired t-test.ResultsThe average baby's weight before breast care was 3.1 kg with a standard deviation of 0.3. After breast care the average baby's weight was 3.0 kg with a standard deviation of 0.2. Statistical test obtained a p-value of 0.024, thus there was a significant difference between baby's weight before and after breast care. The average of prolactin hormone before breast care was 66.4 ng/ml with a standard deviation of 15.2. After breast care, the average prolactin hormone was 112.1 ng/ml with a standard deviation of 21.0. Statistical test obtained a p-value of 0.000, thus there was a significant difference between prolactin hormone before and after breast care.ConclusionThere were significant differences in baby weight with a decrease of 2.2% and prolactin hormone with an increase of 72.1% before and after breast care in postpartum women. In the breast care group, baby’s weight decreased by 2.2% but the baby’s weight loss did not exceed the maximum baby’s weight loss in the first week at 7%.  
Mengapa masyarakat sektor informal belum memiliki asuransi BPJS kesehatan: persepsi dari pengusaha online? Firman Firman; Helfi Agustin
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 12 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.701 KB) | DOI: 10.22146/bkm.30381

Abstract

Why don't online shop workers enroll in BPJS health insurance? a case study from the City of YogyakartaPurposeThis study aimed to explore why an informal sector group has not decided to become a part of BPJS health by identifying knowledge or health insurance literacy.MethodThis research was a qualitative study with a phenomenology approach. Determination of informants was used by snowball sampling technique. Data collection was conducted with in-depth interviews with 15 people from an online entrepreneurs group who live around the city of Yogyakarta. Data were identified with inductive thematic analysis related to health insurance literacy to determine any relationship pattern of re­search variables.ResultsThe majority of informants have knowledge health insurance as a health care program used to seek treatment when sick. Specifically, informants have difficulties in understanding and explaining the basic terms about BPJS health insurance such as membership type, premium, benefits package, services procedure, the way of registration. The main determinant is caused by personal factors of informants themselves who are not seeking information about BPJS health because busy with works, still young, unmarried, and get ill rarely. Another factor is informants more often rely on getting insurance information from friends or family, while information from the Government and BPJS organization itself is very rare.ConclusionLow health insurance literacy is the main cause why informants decide not to be participants in BPJS health insurance. So it’s necessary to educate people about the BPJS health insurance both from the government, BPJS organization, and especially health providers in health facilities.

Page 49 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue