cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Studi Deskriptif Tingkat Religiusitas pada Perokok Muslim Anita Firdaus; Hamdan, Stephani Raihana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12970

Abstract

Abstract. This study aims to explore the level of religiosity among Muslim smokers aged 18-29 in Bandung City. Using a descriptive research approach, the study gathers data primarily through surveys. A total of 100 respondents were chosen via convenience sampling from the population of Muslim smokers in Bandung City. The research instrument is a questionnaire that includes a religiosity scale tailored to smoking behavior, as developed by Hanifah & Hamdan (2019). Data analysis was carried out using Spearman’s correlation test to assess the strength of the relationship between the studied variables. The findings emphasize the role of religiosity in reducing internal conflicts faced by young Muslim smokers in Bandung City. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tingkat religiositas di kalangan perokok Muslim berusia 18-29 tahun di Kota Bandung. Dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif, data dikumpulkan terutama melalui survei. Sebanyak 100 responden dipilih melalui convenience sampling dari populasi perokok Muslim di Kota Bandung. Instrumen penelitian adalah kuesioner yang mencakup skala religiositas yang disesuaikan dengan perilaku merokok, berdasarkan skala yang dikembangkan oleh Hanifah & Hamdan (2019). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman untuk menilai kekuatan hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil penelitian menekankan peran religiositas dalam mengurangi konflik internal yang dihadapi oleh perokok muda Muslim di Kota Bandung.
Pengaruh Locus of Control terhadap Career Maturity pada Fresh Graduate di Kota Bandung Fathiya Jasmine Noor Indira; Sartika, Dewi; Saefudin, Muhamad Arif
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12975

Abstract

Abstract. Locus of Control pertains to individuals' beliefs about the factors that shape their lives, whether these are internal, such as personal confidence, or external, like the influence of others or luck. Career Maturity, in contrast, evaluates how prepared someone is to make sound career decisions, considering elements like career planning, exploration, understanding of the working world, and decision-making skills. The issue of insufficient Career Maturity among college graduates in Bandung underscores the need to explore whether Locus of Control plays a role in this area. This study targeted fresh graduates in Bandung, using convenience sampling to collect data from 315 respondents through questionnaires. The study utilized Career Maturity measures from Super, refined by Sartika (2003) and re-evaluated by Hakim (2022), alongside the IPC Locus of Control Scale by Levenson, adapted by Faizah, Nasehudin, & Nurizzati (2023). Employing multiple linear regression analysis within a quantitative framework, the research found that Locus of Control has a 67% positive effect on Career Maturity, with the internal dimension having the strongest influence (β = 0.371). Abstrak. Locus of Control merujuk pada keyakinan individu tentang faktor-faktor yang memengaruhi kehidupan mereka, baik itu faktor internal seperti kepercayaan diri pribadi, maupun faktor eksternal seperti pengaruh orang lain atau keberuntungan. Di sisi lain, Kematangan Karir mengevaluasi seberapa siap seseorang untuk membuat keputusan karir yang tepat, dengan mempertimbangkan elemen-elemen seperti perencanaan karir, eksplorasi, pemahaman tentang dunia kerja, dan keterampilan pengambilan keputusan. Masalah kurangnya Kematangan Karir di kalangan lulusan perguruan tinggi di Bandung menekankan pentingnya mengeksplorasi apakah Locus of Control berperan dalam hal ini. Penelitian ini menargetkan fresh graduate di Bandung, dengan menggunakan convenience sampling untuk mengumpulkan data dari 315 responden melalui kuesioner. Studi ini menggunakan ukuran Kematangan Karir dari Super, yang disempurnakan oleh Sartika (2003) dan dievaluasi ulang oleh Hakim (2022), bersama dengan IPC Locus of Control Scale oleh Levenson yang diadaptasi oleh Faizah, Nasehudin, & Nurizzati (2023). Dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda dalam kerangka kerja kuantitatif, penelitian ini menemukan bahwa Locus of Control memiliki pengaruh positif sebesar 67% terhadap Kematangan Karir, dengan dimensi internal memiliki pengaruh paling kuat (β = 0.371).
Hubungan antara Job Insecurity dengan Work Engagement Karyawan Bank Y Naurah Aninda; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12978

Abstract

Abstract. This study discusses the relationship between job insecurity and work engagement among employees of Bank Y. Organizations need dynamic and dedicated employees, namely employees who have engagement in carrying out their work [2]. Job insecurity can reduce work engagement and performance, thus highlighting the need for strategies to reduce job insecurity and increase work engagement. Work engagement is very important for employee performance and well-being. The Job demands-Resources (JD-R) theory is relevant to work engagement because both aspects can determine the level of work engagement. Although job insecurity can affect work engagement, this relationship is complex and requires further research. The research method used in this study is quantitative with a correlation research design. The measuring instrument for job insecurity uses the Job insecurity Scale, and for work engagement uses the UWES-9 measuring instrument. And the results of the Pearson Correlation Output between the Job insecurity and Work engagement variables are known to have a correlation value of 0.033, this value is too close to 0 which can be interpreted that there is a very weak linear relationship between the two variables. Abstrak. Penelitian ini membahas mengenai hubungan antara job insecurity dan work engagement di kalangan karyawan bank Y. Organisasi membutuhkan karyawan yang dinamis dan berdedikasi, yaitu karyawan yang memiliki engagement dalam menjalankan pekerjaannya [2]. Job insecurity dapat mengurangi work engagement dan kinerja, sehingga menyoroti perlunya strategi untuk mengurangi job insecurity dan meningkatkan work engagement. Work engagement sangat penting untuk kinerja dan kesejahteraan karyawan. Teori Job demands-Resources (JD-R) relevan dengan work engagement karena kedua aspek tersebut bisa menentukan tinggi rendahnya work engagement. Meskipun job insecurity dapat mempengaruhi work engagement, hubungan ini kompleks dan membutuhkan penelitian lebih lanjut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian korelasi. Alat ukur untuk job insecurity menggunakan Job insecurity Scale, dan untuk work engagement menggunakan alat ukur UWES-9. Dan didapatkan hasil Output Korelasi Pearson antara variabel Job insecurity dan Work engagement diketahui memiliki nilai korelasi 0.033, nilai ini terlalu dekat dengan 0 yang dapat diartikan bahwa terdapat hubungan linear yang sangat lemah diantara kedua variabel.
Bystander Effect: Literatur Review Respon Pengamat dalam Situasi Darurat Farah Balqis Firdaus; Mardiawan, Oki
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12981

Abstract

Abstract. The Bystander Effect occurs when people are less likely to help in an emergency because they believe the responsibility is shared with others present (Darley & Latané, 1968). This study aims to explore the reasons why someone might react in a certain way during an emergency, whether the situation is clear or ambiguous. Using a literature review method, factors influencing the decision to help or not were identified. Reasons for helping include empathy, sympathy, self-awareness, gender roles, moral responsibility, the absence of other bystanders, and a connection with the victim. Conversely, reasons for not helping involve the risk of physical harm, fear of negative reactions, diffusion of responsibility, and the perception that the situation is not serious enough. Abstrak. Efek Bystander terjadi ketika orang cenderung tidak membantu dalam situasi darurat karena mereka menganggap tanggung jawab dibagi dengan orang lain yang hadir (Darley & Latané, 1968). Studi ini bertujuan untuk meneliti alasan-alasan mengapa seseorang mungkin bereaksi dalam situasi darurat, baik yang jelas maupun yang ambigu. Dengan metode tinjauan literatur, faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk membantu atau tidak ditemukan. Alasan untuk membantu termasuk empati, simpati, kesadaran diri, peran gender, tanggung jawab moral, ketiadaan pengamat lain, dan hubungan dengan korban. Sebaliknya, alasan untuk tidak membantu meliputi risiko ancaman fisik, ketakutan akan reaksi negatif, pembagian tanggung jawab, dan anggapan bahwa situasi tidak cukup serius.
Studi Deskriptif Kecemasan Berkompetitif pada Atlet Mahasiswa yang Mengikuti UKM Bulutangkis di STKIP Pasundan Cimahi Muhammad Lidzikri Khairul Anshor; Wangi, Eneng Nurlaili
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12984

Abstract

Abstract. The achievement of badminton athletes in Indonesia has decreased due to psychological factors and deficiencies in mental aspects. Competitive anxiety is one of the various psychological factors that significantly affect athlete performance. Competitive anxiety is believed to cause negative emotional reactions and will affect the ability of student athletes and cause a decrease in achievement. The purpose of this study was to determine how the competitive anxiety of student athletes in badminton UKM STKIP Pasundan Cimahi. The research method in this study is a quantitative approach by utilizing a questionnaire as a tool in collecting data. Saturated sampling was utilized in this study with a sample size of 107 badminton student athletes. The measuring instrument used in this study is the Sport Competitive Anxiety Test (SCAT) from Marten et al., (1990) to measure competitive anxiety variables. The results of this study showed that 72 students or 67.3% were categorized as having moderate anxiety, 21 students or 19.6% were categorized as having low anxiety, and the remaining 14 students or 13.1% were categorized as having high anxiety. Abstrak. Prestasi atlet bulutangkis di Indonesia mengalami penurunan karena faktor psikologis dan kekurangan dalam aspek mental. Kecemasan kompetitif menjadi satu di antara berbagai faktor psikologis yang secara signifikan mempengaruhi prestasi atlet. Kecemasan kompetitif dipercaya dapat menyebabkan reaksi emosional yang negatif dan akan mempengaruhi kemampuan atlet mahasiswa serta menyebabkan penurunan prestasi. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui bagaimana gambaran kecemasan berkompetitif atlet mahasiswa di UKM bulutangkis STKIP Pasundan Cimahi. Metode penelitian dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan kuesioner sebagai alat dalam mengumpulkan data. Sampling Jenuh dimanfaatkan dalam studi ini dengan jumlah sampel 107 atlet mahasiswa bulutangkis. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sport Competitive Anxiety Test (SCAT) dari Marten et al., (1990) untuk mengukur variabel kecemasan berkompetitif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 72 mahasiswa atau 67,3% dikategorikan memiliki kecemasan sedang, 21 mahasiswa atau 19,6% dikategorikan memiliki kecemasan rendah, dan sisanya 14 mahasiswa atau 13,1% dikategorikan memiliki kecemasan tinggi.
Studi Banding Cybersex berdasarkan Gender Febriana Mileani Garnita; Mardiawan, Oki
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12985

Abstract

Abstract. The rapid development of technology has changed most individual habits. However, this development has given rise to the phenomenon of cyber intimacy, which eventually leads to cybersex. This study aims to determine whether there are differences in cybersex behavior based on male and female genders. To identify any differences, data were analyzed using an Independent Sample T-Test involving 241 subjects who follow the @basefwbiru autobase on the social media platform X, aged 18-25 years, using Purposive Sampling. The measurement tool used in this study is The Internet Sex Screening Test (ISST) developed by Delmonico and Miller (2003) and modified by Putri (2021). The results of this study indicate that there are no differences between males and females in cybersex behavior on the @basefwbiru autobase, with the average female gender score being higher compared to males. Abstrak. Perkembangan teknologi yang pesat mengubah sebagian besar kebiasaan individu. Namun, perkembangan tersebut memunculkan fenomena keintiman siber yang pada akhirnya memunculkan cybersex. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan perilaku cybersex dilihat berdasarkan gender laki-laki dan perempuan. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan, data dianalisis menggunakan Independent Sample T-Test yang melibatkan 241 subjek dari pengikut autobase @basefwbiru pada media sosial X yang berusia 18 – 25 tahun dengan Purposive Sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Internet Sex Screening Test (ISST) yang disusun oleh Delmonico dan Miller (2003) dan dimodifikasi oleh Putri (2021). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada perilaku cybersex di Autobase @basefwbiru, dan rata-rata gender perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
Studi Kontribusi Job Satisfaction terhadap Quiet Quitting pada Karyawan Bank X Tasya Berlian Cittra Friyanti; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12988

Abstract

Abstract. The definition of Job Satisfaction is a combination of emotional, physical and environmental situations that cause a person to honestly comment that he is satisfied with his job. Quiet Quitting is when an employee consciously stops, limits, or does not make any extra efforts regarding his/her job potential for Bank Scale. This study uses a non-experimental quantitative approach with a cross-sectional research design. The population in this study was 107 people. The sampling method is Non Probability Sampling with Convenience Sampling techniques. The research results show that the p value of 0.00 > 0.05 means that Job Satisfaction has an influence on Quiet Quitting. The R value shows 0.618 or 61.8%, which means the variance of the independent variable and dependent variable while the remaining 38.2% is other variables that were not studied. Abstrak. Definisi Job Satisfaction yaitu sebagai penggabungan situasi emosional, fisik, dan lingkungan yang menyebabkan seseorang dengan jujur berkomentar bahwa ia merasa puas dengan pekerjaannya. Quiet Quitting yaitu ketika seorang karyawan secara sadar berhenti, membatasi, atau tidak melakukan upaya ekstra apa pun terkait potensi terkait pekerjaannya pada karyawan Bank X. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontrbusi Job Satisfaction terhadap Quiet Quitting dengan menggunakan alat ukur Expectancy Scale dan Quiet Quitting Scale. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non- eksperimental dengan desain penelitian cross-sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 107 orang. Metode pengambilan sampel yaitu Non Probability Sampling dengan teknik Convenience Sampling. Hasil penelitian menunjukkan Nilai p 0,00 > 0,05 berarti Job Satisfaction Berpengaruh Terhadap Quiet Quitting. Nilai R menunjukkan 0,618 atau 61,8% yang artinya varians dari variabel independent dan variabel dependen sedangkan sisanya 38.2% variabel-variabel lain yang tidak diteliti.
Kesepian karena Asyik Main Medsos? Studi pada Kalangan Desa Awal Fathiyya Amalia Hanifa; Nawangsih, Endah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12990

Abstract

Abstract. Currently, social interactions are mostly done through social media, so people can interact without being limited by space. However, online interactions can cause dissatisfaction because they do not support physical activity, this dissatisfaction is called loneliness. This interaction is related to social media. Excessive use of social media to the point of addiction can separate people from their environment, which can cause individuals to be lonely. The present study aims to determine how social media addiction affects loneliness in the early adulthood age group. This study used a quantitative causality approach with 349 respondents aged 18-25 years old in West Java. The measuring instruments used in this study were the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) and the UCLA Loneliness Scale Revised which have been translated into Indonesian. Data were obtained using a questionnaire distributed through social media. The results of this study showed a sig. value = .000 <0.05, which means that the social media addiction variable has an effect on the loneliness variable with a contribution of 9.6%. Based on the results of the study, there is an effect of social media addiction on loneliness in the early adulthood age group in West Java. The mood modification component is the component that contributes more than other social media addiction components to loneliness. In this study, the sample between men and women was not balanced, and only looked at the type of social media use and the type of social media. It is recommended for further research to consider the composition of the sample used and the type of social media content. Abstrak. Saat ini interaksi sosial banyak dilakukan melalui media sosial, dengannya orang-orang dapat berinteraksi tanpa terbatas ruang. Namun interaksi online dapat menimbulkan ketidakpuasan karena tidak mendukung kedekatan fisik, ketidakpuasan ini disebut kesepian. Interaksi ini tidak terlepas dari media sosial. Penggunaan media sosial yang berlebihan hingga kecanduan dapat menjauhkan individu dengan lingkungannya, sehingga dapat menyebabkan individu kesepian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh kecanduan media sosial terhadap kesepian pada kelompok usia dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausalitas dengan jumlah responden sebanyak 349 orang yang berusia 18 – 25 tahun di Jawa Barat. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yakni Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) dan UCLA Loneliness Scale Revised yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui media sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai sig. = .000 <0.05 yang artinya variabel kecanduan media sosial memiliki pengaruh terhadap variabel kesepian dengan kontribusi pengaruh sebesar 9.6%. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat pengaruh pada kecanduan media sosial terhadap kesepian pada kelompok usia dewasa awal di Jawa Barat. Komponen mood modification menjadi komponen yang kontribusinya lebih besar dibandingkan dengan komponen kecanduan media sosial yang lain terhadap kesepian. Pada penelitian ini sampel antara laki-laki dan perempuan tidak seimbang, serta hanya melihat dari jenis penggunaan media sosial dan jenis media sosial yang digunakan. Disarankan untuk penelitian selanjutnya mempertimbangkan komposisi sampel yang digunakan dan jenis konten media sosialnya.
Studi Deskriptif Regulasi Emosi pada Mahasiswa di Kota Bandung Jasmine Tiara Wulan; Wangi , Eneng Nurlaili
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12991

Abstract

Abstract. The issues faced by students encompass various academic pressures, such as the burden of assignments, exams, and the demand to achieve high performance. Additionally, social pressures, including social interactions, interpersonal relationships, and adjustment to new environments, also impact their emotional regulation. Individuals experiencing crises and unable to cope may encounter emotional instability. Therefore, effective emotional regulation skills are necessary. This phenomenon highlights the importance of developing emotional regulation as a skill to support academic success and personal well-being. Furthermore, it is a crucial transitional period in which individuals learn to become independent and develop their identities. Bandung, as one of the largest educational cities in Indonesia, is a relevant location for studying emotional regulation among students. The aim of this research is to provide an overview of the level of emotional regulation in Bandung. This study employed convenience sampling to collect data from 356 respondents (110 males and 246 females) among students in Bandung aged between 18-25 years. The instrument used to measure emotional regulation was the Indonesian version of the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), adapted by Radde, Nurrahmah, Nurhikmah, and Saudi (2021). The research method utilized was descriptive statistical analysis with a quantitative approach. The results indicate that the majority of students in Bandung possess a high level of emotional regulation, at 76.1%. Abstrak. Permasalahan yang dihadapi mahasiswa mencakup berbagai tekanan akademik seperti beban tugas, ujian, dan tuntutan untuk mencapai prestasi tinggi. Selain itu, tekanan sosial seperti pergaulan, hubungan interpersonal, dan penyesuaian diri dengan lingkungan baru juga turut mempengaruhi regulasi emosi mereka. Individu yang mengalami krisis dan tidak mampu mengatasinya dapat mengalami ketidakstabilan emosional. Oleh karena itu, diperlukan keterampilan regulasi emosi yang baik. Fenomena ini menunjukkan pentingnya regulasi emosi sebagai keterampilan yang perlu dikembangkan untuk mendukung kesuksesan akademik dan kesejahteraan pribadi mahasiswa. Serta periode transisi yang krusial dalam kehidupan seseorangndividu belajar untuk mandiri dan mengembangkan identitasnya. Kota Bandung, sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia, menjadi lokasi yang relevan untuk meneliti regulasi emosi pada mahasiswa. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran tingkat regulasi emosi di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling untuk mengumpulkan data dari 356 responden (110 laki-laki dan 246 perempuan pada mahasiswa di kota Bandung yang berusia antara 18-25 tahun. Instrumen yang digunakan untuk mengukur regulasi emosi adalah Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) versi bahasa Indonesia dari alat ukur ini diadaptasi oleh Radde, Nurrahmah, Nurhikmah, dan Saudi (2021). Metode penelitian yang digunakan adalah studi statistic deskriptif dengan metode kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa di Kota Bandung memiliki kemampuan regulasi emosi yang tinggi sebesar 76.1%.
Studi Deskriptif Beban Pengasuh pada Ibu yang Memiliki Anak Penderita Kanker Alifia Sarah Azzahra; Wangi, Eneng Nurlaili
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12993

Abstract

Abstract. This study aims to examine the level of caregiver burden among mothers caring for children with cancer at Rumah Singgah in Bandung City. The complex and intricate nature of pediatric cancer care positions mothers as the primary caregivers for their ill children, as they are perceived to provide extensive care. They assist with daily activities, offer emotional support, manage healthcare, coordinate care, and participate in decision-making. A review of the literature indicates that caregivers generally experience psychological, social, physical, and financial challenges due to caregiving responsibilities. This research employs a quantitative approach with accidental sampling techniques, involving 110 mothers who are serving as caregivers for their children and residing at Rumah Singgah in Bandung City. The measurement tool used is the Zarit Burden Interview 22-Item. The results show that 39 mothers are at a minimal/no burden level, 49 mothers are at a mild-to-moderate burden level, 19 mothers are at a moderate-to-severe burden level, and 3 mothers are at a severe burden level. These findings provide insights into the levels of burden experienced by mothers within the family caregiver population, specifically mothers as primary caregivers for their ill children. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat beban pengasuh (caregiver burden) pada ibu yang merawat anak penderita kanker di Rumah Singgah Kota Bandung. Kompleks serta rumitnya proses perawatan kanker pada anak menjadikan ibu sebagai primarly caregiver atau pengasuh utama bagi anak mereka yang sakit karena dipandang dapat melakukan perawatan secara ekstensif. Mereka membantu dalam aktivitas sehari-hari, memberikan dukungan emosional, mengelola perawatan kesehatan, mengoordinasikan perawatan, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan tinjauan literatur, ditemukan bahwa caregivers pada umumnya mengalami permasalahan terkait psikologis, sosial, fisik serta finansial akibat pemberian perawatan atau pengasuhan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan teknik sampling yaitu accidental sampling, melibatkan 110 ibu yang sedang berperan sebagai caregiver anak mereka dan tinggal di Rumah Singgah Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan adalah Zarit Burden Interview 22-Item Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 ibu berada pada tingkat sedikit/tidak memiliki beban, sementara 49 ibu berada pada tingkat beban ringan-sedang, 19 ibu berapa pada tingkat sedang-parah dan 3 ibu berada pada tingkat beban parah. Temuan ini memberikan wawasan mengenai tingkat beban ibu pada populasi family caregiver khususnya ibu sebagai pengasuh utama bagi anak mereka yang sakit.