cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 490 Documents
Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Psychological Well Being pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di RSUD Indramayu Mochamad Nur Ichsan; Eni Nuraeni Nugrahawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12855

Abstract

Abstract. Changes in behavior and environmental conditions (social, economic, cultural) such as the presence of fast food restaurants, have a big influence on the epidemiological transition which causes the incidence of chronic degenerative diseases, such as diabetes mellitus, the prevalence of which is increasing every day. In Indramayu Regency, the increase in cases has been very high in the last few years. This psychosocial aspect has an impact on health, namely the occurrence of diabetes which triggers stress and affects the psychological condition of sufferers in accepting changes so that it affects Psychological Well-Being. This study aims to find out how much influence social support has on psychological well-being in type 2 Diabetes Mellitus patients at Indramayu Hospital. The research method used in this research is descriptive quantitative and causality methods. There were 106 patients as sampling, with characteristics including gender, age and education, with the results of 106 type 2 diabetes mellitus patients receiving low social support with a percentage of 54.72% (58 respondents) and high social support with a percentage of 45.28% (48 respondents), while from the aspect of psychological well being, there was a high category of 57.55% (61 respondents). And the lowest was 42.45% (45 respondents). These results are different from the results of previous research conducted by other researchers, but based on the results of the regression test of social support on psychological well being, in this case measuring the influence of Variable This indicates that there are 34.8% aspects of social support that influence the achievement of Psychological Well Being. Aspects of social support influence the achievement of psychological well being in type 2 diabetes mellitus patients at Indramayu Hospital. Abstrak. Perubahan perilaku dan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, budaya) seperti kehadiran rumah makan cepat saji, sangat berpengaruh terhadap terjadinya transisi epidemologi yang menyebabkan insidensi penyakit degeneratif yang bersifat kronis. Di Kabupaten Indramayu peningkatan kasus ini sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Aspek psikososial ini berdampak terhadap kesehatan, yaitu terjadinya penyakit diabetes yang memicu stress dan mempengaruhi kondisi psikologis penderita dalam menerima perubahan-perubahan sehingga berpengaruh terhadap Psychological Well-Being. Penelitian yang dilakukan oleh prayanggi menyebutkan bahwa dukungan sosial sangat berpengaruh terhadap Psychological Well-Being. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dukungan sosial terhadap psychological well being pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di RSUD Indramayu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dan kausalitas. Terdapat 106 pasien sebagai hasil studi populasi, dengan karakteristik mencakup jenis kelamin, usia, dan pendidikan, alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala likert dan teknik pengolahan data dengan metode construct related dengan uji statistik pearson, dengan hasil dari 106 pasien diabetes mellitus tipe 2 yang mendapatkan dukungan sosial rendah dengan persentase 54,72 % (58 responden) dan dukungan sosial tinggi dengan persentase 45,28 % (48 responden), sedangkan dari aspek psychological well being, terdapat berkatagori tinggi sebanyak 57,55% (61 responden) dan yang rendah sebesar 42,45 % (45 responden). Tetapi berdasarkan hasil uji regresi dukungan sosial terhadap psychological well being, dalam hal ini mengukur pengaruh Variabel X (dukungan sosial) terhadap Variabel Y (Psychological Well Being) didapat Koefisien Determinasi 0,348, ini menandakan bahwa terdapat 34,8% aspek dukungan sosial berpengaruh terhadap capaian Psychological Well Being. Artinya dukungan sosial berpengaruh terhadap capaian psychological well being pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di RSUD Indramayu.
Pengaruh Work-Life Balance terhadap Psychological Wellbeing Nazwa Adelya Suhardi; Djamhoer, Temi Damayanti
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12862

Abstract

Abstract. Factory employees often face their own difficulties in achieving a balance between the demands of work and personal life, which can have a significant impact on their psychological well-being. The purpose of this study is to see how high work-life balance and psychological wellbeing are, as well as to see the effect of work-life balance on psychological wellbeing. The research uses quantitative methods that are non-experimental causality, analysis using simple linear regression. The population in this study were employees of Production Plant 1A and 1B PT Pupuk Kujang, with stratified random sampling technique obtained 68 samples. The measuring instrument used in this study is the work-life balance scale from Fisher (2002) which has been adapted by Gunawan et al., (2019) and the psychological wellbeing scale from Ryff (1989), which has been adapted to Indonesian culture and language by Rachmayani & Ramdhani (2014). The results of the analysis state that there is an effect of work-life balance on psychological wellbeing with a significance value of p=0.000, the effect of work-life balance variables on psychological wellbeing variables is 27% and the regression coefficient result is -1.326 which means the effect is opposite. In addition, the results of the analysis also stated that 50% of respondents had high work-life balance and 51% of respondents had low psychological wellbeing. Abstrak. Karyawan pabrik sering menghadapi kesulitan tersendiri dalam mencapai keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan psikologis mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat seberapa tinggi work-life balance dan psychological wellbeing, juga melihat pengaruh work-life balance terhadap psychological wellbeing. Penelitian menggunakan metode kuantitatif yang bersifat kausalitas non experimental, analisis menggunakan regresi linear sederhana. Populasi pada penelitian ini adalah karyawan Pabrik Produksi 1A dan 1B PT Pupuk Kujang, dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling diperoleh 68 sampel. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala work-life balance dari Fisher (2002) yang sudah diadaptasi oleh Gunawan et al., (2019) dan skala psychological wellbeing dari Ryff (1989), yang sudah diadaptasi ke budaya dan bahasa Indonesia oleh Rachmayani & Ramdhani (2014). Hasil dari analisis menyatakan bahwa terdapat pengaruh work-life balance terhadap psychological wellbeing dengan nilai signifikansi p=0.000, pengaruh variabel work-life balance terhadap variabel psychological wellbeing sebesar 27% dan hasil koefisien regresi sebesar -1,326 yang berarti pengaruhnya berlawanan. Selain itu, hasil analisis juga menyatakan bahwa 50% responden memiliki work-life balance tinggi dan 51% responden memiliki psychological wellbeing rendah.
Hubungan antara Beban Kerja dengan Burnout pada Karyawan Bank X Kota Bandung Zahra Aulia Habibah; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12879

Abstract

Abstract. Employees of Bank X Bandung City work in jobs that are prone to Burnout. Where bank employees have targets and work demands imposed. It is not uncommon for the consequences of this excessive workload to result in bank employees experiencing physical and emotional fatigue, indifference to the environment, and feeling insecure about the results of the tasks they complete, this is called Burnout. The purpose of this study was to determine the closeness of the relationship between workload and Burnout in Bank X employees in Bandung. The method used in this research is correlation. 35 people were used as samples, Non probability with Saturated Sampling (census) was used for this study. Data were collected using the National Aeronautics & Space Administration Task Load Index (NASA-TLX), developed by Hart and Staveland in 1988 which has been adapted. In addition, Burnout uses the MBI-HSS (Maslach Burnout Inventory - Human Service Survey) created by Maslach, which has been adapted into Indonesian. The results of data processing obtained using the Spearman rank correlation test obtained r = 0.940 with a significant 0.000, so it can be concluded that there is a strong level of relationship between workload and Burnout. Abstrak. Karyawan Bank X Kota Bandung bekerja pada pekerjaan yang rentan terhadap Burnout. Dimana karyawan bank memiliki target dan tuntutan kerja yang dibebankan. Tidak jarang akibat dari beban kerja yang berlebihan ini mengakibatkan para karyawan bank mengalami kelelahan fisik dan emosional, acuh tak acuh terhadap lingkungan, dan merasa tidak percaya diri akan hasil tugas yang mereka selesaikan, hal ini lah disebut dengan Burnout. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui keeratan hubungan antara beban kerja dengan Burnout pada Karyawan bank X kota bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi. 35 orang dijadikan sebagai sampel, Non-probabilitas dengan Sampling Jenuh (sensus) digunakan untuk penelitian ini. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan National Aeronautics & Space Administration Task Load Index (NASA-TLX), yang dikembangkan oleh Hart dan Staveland pada tahun 1988 yang telah diadaptasi. Selain itu Burnout menggunakan MBI-HSS (Maslach Burnout Inventory – Human Service Survey) yang dibuat oleh Maslach, yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Hasil pengolahan data yang didapatkan menggunakan uji korelasi rank spearman didapatkan r = 0,940 dengan signifikan 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat tingkat hubungan yang kuat antara beban kerja dengan Burnout.
Pengaruh Adaptabilitas Karir terhadap Intensi Berwirausaha pada Siswa SMKN 9 Bandung Jurusan Tata Boga Siti Alifa Magfiranisa; Susandari
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12881

Abstract

Abstract. This study aims to examine the influence of career adaptability on the entrepreneurial intention of students in the 12th grade of the Culinary Arts program at SMKN 9 Bandung. This research uses a quantitative approach with a sample consisting of 102 12th-grade students from the Culinary Arts program at SMKN 9 Bandung, selected using the cluster random sampling technique. Data were collected through a questionnaire using the Career Adapt-Ability Scale-Indonesian Form adapted by Sulistiani et al. (2019) and an entrepreneurial intention scale developed by Maulana and Prihastuty (2020) based on the Theory of Entrepreneurial Event by Shapero and Sokol (1982). Data analysis was conducted using multiple linear regression to determine the influence of each dimension of career adaptability, which consists of career concern, career control, career curiosity, and career confidence, on entrepreneurial intention. The results showed that control, curiosity, and confidence significantly influenced entrepreneurial intention (p<.05), whereas the dimension of career control did not significantly influence entrepreneurial intention (p>.05). Confidence had the largest positive impact on entrepreneurial intention (β=.621), followed by the concern dimension (β=.264). Meanwhile, the curiosity dimension had a negative impact on entrepreneurial intention (β=-.278). The overall contribution of all career adaptability dimensions to entrepreneurial intention was 14.7%. This research can serve as an information source for prospective graduates of the Culinary Arts program at SMKN 9 Bandung to develop their psychological components and become a job creators. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh adaptabilitas karier kepada intensi berwirausaha siswa pada kelas 12 jurusan Tata Boga di SMKN 9 Bandung. Penelitian ini memakai pendekatan kuantitatif dengan sampel penelitian terdiri dari 102 siswa kelas 12 jurusan Tata Boga di SMKN 9 Bandung yang dipilih memakai teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dengan alat ukur Career Adapt-Ability Scale-Indonesian Form yang diadaptasi oleh Sulistiani et al. (2019) dan alat ukur intensi berwirausaha yang dikembangkan oleh Maulana dan Prihastuty (2020) berlandaskan Theory of Entrepreneurial Event dari Shapero dan Sokol (1982). Analisis data dilakukan dengan regresi linier berganda untuk menentukan pengaruh masing-masing dimensi adaptabilitas karier yang terdiri dari career concern, career control, career curiosity dan career confidence terhadap intensi berwirausaha. Hasil analisis menunjukan control, curiosity dan confidence berpengaruh terhadap intensi berwirausaha (p<.05), sedangkan dimensi career control tidak berpengaruh terhadap intensi berwirausaha (p>.05). Confidence memberikan pengaruh positif paling besar terhadap intensi berwirausaha (β=.621), diikuti dengan dimensi concern (β=.264). Sedangkan dimensi curiosity memberikan pengaruh negatif terhadap intensi berwirausaha (β=-.278). Besaran kontribusi seluruh dimensi adaptabilitas karier kepada intensi berwirausaha sejumlah 14.7%. Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi calon lulusan SMKN 9 Bandung jurusan tata Boga untuk mengembangkan komponen psikologis mereka dan menjadi pencipta lapangan kerja.
Studi Deskriptif Konflik Peran Ganda pada Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Tasikmalaya Shafira Rizkania Putri; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12884

Abstract

Abstract. The number of female workers in Indonesia is increasing. The dream job that many women in Indonesia are interested in is Civil Servant (PNS). Civil servant mothers have two roles to play, the role as an employee and the role as a housewife. Mothers are required to be able to play a good role in both roles. When these two roles are not balanced, there will be work - family conflict. This study aims to get an overview of work-family conflict among civil servant mothers in Tasikmalaya Regency. This study uses a descriptive analysis method with a quantitative approach. The sampling technique used in this study was convenience sampling with a total of 201 civil servant mothers from Tasikmalaya Regency as participants. Data collection was carried out offline by providing questionnaires to Government agencies in Tasikmalaya Regency. Work-family conflict was measured using the Work Family Conflict Scale (WFCS) and the data will be analyzed using descriptive statistics. The results of this study show that the majority of civil servant mothers in Tasikmalaya Regency have a low level of work-family conflict. A total of 107 civil servant mothers (53.2%) had low work-family conflict and 94 civil servant mothers (46.8%) had high work-family conflict. Abstrak. Jumlah tenaga kerja wanita di Indonesia semakin banyak. Pekerjaan yang menjadi idaman dan banyak diminati wanita di Indonesia adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ibu PNS memiliki dua peran yang harus dijalani yaitu peran sebagai pegawai dan peran sebagai ibu rumah tangga. Ibu dituntut untuk dapat berperan baik dalam kedua peran tersebut. Ketika kedua peran tersebut tidak seimbang, maka akan terjadi adanya konflik peran ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai konflik peran ganda pada Ibu Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 201 ibu PNS Kabupaten Tasikmalaya. Pengambilan data dilakukan secara offline dengan memberikan kuesioner kepada instansi Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya. Konflik peran ganda diukur menggunakan Work Family Conflict Scale (WFCS) dan data akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas ibu PNS di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tingkat konflik peran ganda yang rendah. Sebanyak 107 ibu PNS (53.2%) memiliki konflik peran ganda dalam kategori rendah dan 94 (46.8%) memiliki konflik peran ganda yang tinggi.
Hubungan Selera Humor dengan Kesejahteraan Subjektif pada Pegawai Non-ASN Pemerintah Kota Bandung Suhaila Rifda; Rosiana, Dewi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12896

Abstract

Abstract. Humor is defined as a quality that triggers joy, while sense of humor is defined as an individual difference variable or personality characteristic. Positive subjective well-being is seen in terms of satisfaction, happiness, or quality of life. Humor has a positive impact on subjective well-being because it is considered capable of triggering positive emotions that make a person feel happier. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: How close is the relationship between sense of humor and subjective well-being in non-ASN employees of the Bandung City government? Researchers used a correlational analysis technique method using a quantitative approach. The population selected in this study were non-ASN employees of the Bandung City Government, totaling 9,315 employees. With the sampling technique, namely Convinience Sampling, the number of research samples obtained was 383 employees. The data collection techniques used in this study were questionnaires, interviews, observations, and literature studies. The data analysis technique used in this research is Spearman's Rho. The results of this study are: There is a positive relationship between sense of humor and subjective well-being in non-ASN employees of Bandung City which is included in the moderate category. Abstrak. Humor diartikan sebagai kualitas yang memicu kegembiraan, sedangkan selera humor diartikan sebagai variabel perbedaan individu atau karakteristik kepribadian. Kesejahteraan subjektif yang positif dilihat dari kepuasan, kebahagiaan, atau kualitas hidup. Humor memiliki dampak positif pada kesejahteraan subjektiff karena dianggap mampu memicu emosi positif, yang membuat seseorang merasa lebih bahagia. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Seberapa erat hubungan antara selera humor dengan kesejahteraan subjektif pegawai non-ASN pemerintah Kota Bandung?. Peneliti menggunakan metode teknik analisis korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah pegawai non-ASN Pemerintah Kota Bandung yang berjumlah 9.315 pegawai. Dengan teknik pengambilan sampel yaitu Convinience Sampling diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 383 pegawai. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi, dan studi pustaka. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Spearman’s Rho. Hasil dari penelitian ini adalah: Terdapat hubungan positif antara selera humor dengan kesejahteraan subjektif pada Pegawai non-ASN Kota Bandung yang termasuk kategori sedang.
Hubungan Self Efficacy dengan Orientasi Masa Depan pada Remaja Pondok Yatim X di Kota Bandung Talia Ismi Aulia Shabrin; Agus Budiman
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12900

Abstract

Abstract. In accordance with the applied regulations, orphanage teenagers cannot stay in the orphanage indefinitely. They will leave the orphanage to start an independent life or be returned to their guardians if possible. Therefore, it is important for them to have a positive future orientation to help maintain motivation, make good planning, and anticipate behaviors to ensure a better future after leaving the orphanage. One factor that can shape a positive future orientation is self-efficacy, as it influences behavioral choices, the amount of effort, and their persistence despite obstacles and limitations in achieving their goals. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: (1) What is the level of self-efficacy among teenagers at Orphanage X? (2) What is the level of future orientation among teenagers at Orphanage X? (3) How strong is the relationship between self-efficacy and future orientation among teenagers at Orphanage X? The researcher uses a correlational analysis technique with a quantitative approach. The data processing method applied is non-probability sampling with a total sampling approach, resulting in a population of 51 people. Data collection techniques include questionnaires, observation and interviews, and literature study. The data analysis technique uses Pearson Product Moment Correlation. The results of this study indicate a positive relationship between self-efficacy and future orientation among teenagers at Orphanage X, with the strength of the relationship being at a moderate level. Abstrak. Sesuai dengan aturan yang diterapkan, remaja panti asuhan tidak bisa selamanya tinggal di panti asuhan dalam artian mereka akan meninggalkan panti asuhan dan memulai hidup mandiri atau dikembalikan kepada wali jika memungkinkan. Sehingga penting bagi mereka memiliki orientasi masa depan yang positif guna dapat membantu dalam mempertahankan motivasi, membantu dalam membuat perencanaan yang baik, dan antisipasi perilaku dengan tujuan dapat memberikan masa depan yang lebih baik setelah mereka keluar dari panti asuhan. Salah satu faktor yang dapat membentuk orientasi masa depan positif adalah self efficacy karena dapat mempengaruhi pilihan perilaku yang dimunculkan, besar usaha, dan seberapa kuat mereka bertahan walaupun mengalami hambatan dan keterbatasan dalam mencapai tujuan. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana tingkat self efficacy pada remaja Pondok Yatim X ? (2) Bagaimana tingkat orientasi masa depan pada remaja Pondok Yatim X ? (3) Seberapa erat hubungan antara self efficacy dengan orientasi masa depan pada remaja Pondok Yatim X ?. Peneliti menggunakan teknik analisis korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Metode pengolahan data yang diterapkan adalah non probability sampling dengan pendekatan total sampling diperoleh jumlah populasi sebanyak 51 orang. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner, observasi dan wawancara, dan studi pustaka. Teknik analisis data menggunakan Pearson Product Moment Correlation. Hasil penelitian ini yaitu terdapat hubungan positif antara self efficacy dengan orientasi masa depan remaja Pondok Yatim X dengan tingkat keeratan berada pada tingkat yang sedang.
Pengaruh Kecemasan Sosial terhadap Smartphone Addiction pada Emerging Adulthood di Kota Bandung Najwa Rahmah; Hatta, Muhammad Ilmi
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12904

Abstract

Abstract. Social anxiety often occurs in individuals who are at the age of emerging adulthood because they feel uncertainty in exploring who they are, and how they want to be seen by others. Many emerging adulthood individuals who experience social anxiety interact online on smartphones because they feel more comfortable communicating with smartphones than they interact directly. The use of smartphones in everyday life can make it easier for users to reach long-distance communication and access various kinds of information. But on the one hand, the use of smartphones can also cause problems when used excessively, one of these problems is smartphone addiction. The purpose of this study is to obtain empirical evidence regarding the effect of social anxiety on smartphone addiction among emerging adulthood in Bandung City. The causality method was used in this quantitative research design. The sample of this study was 400 students who met the research criteria. The measuring instruments on the questionnaire are the Social Anxiety Scale-Adolescence Indonesian version and the Smartphone Addiction Scale Indonesian version. The results of this study indicate the influence of social anxiety on smartphone addiction with a coefficient value of 0.300, which means that it has a moderate influence and is positive, so it can be said to be unidirectional. So it can be concluded, the higher the social anxiety, the more smartphone dependence will increase. Abstrak. Kecemasan sosial seringkali terjadi pada individu yang berada pada usia emerging adulthood karena merasa adanya ketidakpastian dalam bereksplorasi tentang siapa dirinya, dan bagaimana mereka ingin dipandang oleh orang lain. Individu emerging adulthood yang mengalami kecemasan sosial banyak yang berinteraksi secara online pada smartphone karena merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan smartphone dibandingkan mereka berinteraksi secara langsung. Penggunaan smartphone dalam kehidupan sehari-hari dapat memudahkan para penggunanya untuk menjangkau komunikasi jarak jauh dan mengakses berbagai macam informasi. Namun pada satu sisi, penggunaan smartphone juga dapat menyebabkan masalah ketika digunakan secara berlebihan, satu diantara masalah tersebut adalah ketergantungan smartphone. Tujuan penelitian ini yaitu mendapat bukti empiris mengenai pengaruh kecemasan sosial terhadap smartphone addiction di kalangan emerging adulthood di Kota Bandung. Metode kausalitas digunakan dalam desain penelitian kuantitatif ini. Sampel peneltian ini sebanyak 400 mahasiswa yang memenuhi kriteria penelitian. Alat ukur pada kuisoner adalah Social Anxiety Scale-Adolescence versi Bahasa Indonesia dan Smartphone Addiction Scale versi Bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh kecemasan sosial terhadap smartphone Addiction dengan nilai koefisien sebesar 0.300, yang artinya memiliki pengaruh sedang (moderate) dan bernilai positif, sehingga dapat dikatakan searah. Maka dapat disimpulkan, semakin tinggi kecemasan sosial maka semakin ketergantungan smartphone akan semakin meningkat.
Self Compassion pada Peserta Didik Korban Perundungan di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Bandung Adara Puti Amani; Eni Nuraeni Nugrahawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12909

Abstract

Abstract. There are many negatif impacts experienced by the victims of bullying. Being a victim of bullying, especially mocking on physical conditions can leads to sadness, anger, having low self-esteem, and even self hate. To reduce or overcome the stress, depression, and negatif emotions felt by victims of bullying, the victims must first show concern and understanding for themselves while facing problems or pressures that occur, and develop a positive manner towards unpleasant situations by fostering empathy for themselves, which in psychology, such an act is named as self compassion. The aim of this research is to determine the description of self compassion in students who experience bullying at MTsN Bandung. The measuring instrument used in this research is the Self compassion Scale for Youth (SCS-Y), which has been translated into Indonesian by Amaliah et al. (2024). The results of this research showed that students who were victims of bullying at MTs Negeri Bandung had high self compassion as many as 95 (59%) students and those who had low self compassion were 67 (41%) students. In the aspect of self kindness, 127 (28%) victims were in the high category, in the aspect of common humanity, 98 (60%) victims were in the high category, and in the aspect of mindfulness, 118 (73%) victims were in the high category. Abstrak. Banyak dampak buruk yang dialami oleh korban perundungan, terutama yang menyinggung kondisi fisik yang membuat remaja menjadi sedih, marah, rendah diri, bahkan korban dapat membenci dirinya sendiri. Untuk meminamilisir atau mengatasi stres, depresi, serta emosi negatif yang dirasakan korban perundungan, korban harus terlebih dahulu peduli dan memahami diri dengan menumbuhkan empati terhadap diri sendiri, dalam psikologi hal ini disebut dengan self compassion. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran self compassion pada peserta didik yang mengalami perundungan di MTsN Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak 162 peserta didik korban perundungan di MTsN Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan Skala Self Compassion Scale for Youth (SCS-Y) yang telah diadaptasi oleh Amaliah et al. (2024). Hasil penelitian ini adalah peserta didik korban perundungan di MTs Negeri Kota Bandung memiliki self compassion yang tinggi sebanyak 95 (59%) peserta didik dan yang memiliki self compassion rendah sebanyak 67 (41%) peserta didik. Pada aspek self kindness sebanyak 127 (28%) korban kategori tinggi, pada aspek commun humanity sebanyak 98 (60%) korban kategori tinggi, dan pada aspek mindfulness 118 (73%) korban kategori tinggi.
Pengaruh Self-Regulated Learning terhadap Stres Akademik pada Mahasiswa Tingkat Akhir Humairah Muthmainah Rif'atuzzahidah; Dewi Rosiana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i2.12913

Abstract

Abstract. Self-regulated learning means that these skills do not develop spontaneously, meaning that self-regulated learning in individuals can change or not persist. These changes can be caused by increased academic demands. For final year students, a thesis is a task that must be completed and there are demands for completion, namely to do it independently and graduate on time. These academic demands can cause academic stress. Therefore, independent learning is needed in the learning process. The aim of this research is to determine the level of self-regulated learning and academic stress and to determine the effect of self-regulated learning on academic stress in final year students working on their thesis. The research method used is a quantitative method with data analysis using a simple linear regression test. The total sample was 203 respondents (68% female and 32% male) final year students who were working on their thesis. The sampling technique used is convenience sampling. Data were obtained using the self-regulated learning scale and the Student-Life Stress Inventory (SLSI). The research results showed that there was an influence between self-regulated learning and academic stress on final year students working on their thesis (T test 0.000<0.05 and R2 value 0.451). Independent learning is at a low level and academic stress is at a high level. This is a suggestion for future researchers to expand the amount of research in various faculties and universities to provide programs that can increase learning independence and reduce academic stress. Abstrak. Self-regulated learning merupakan keterampilan tidak berkembang secara spontan, artinya self-regulated learning pada individu dapat berubah-ubah atau tidak menetap. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh tuntutan akademik yang meningkat. Pada mahasiswa tingkat akhir skripsi merupakan tugas yang harus dijalani dalam penyelesaiannya terdapat tuntutan, yaitu dilakukan secara mandiri dan lulus tepat waktu. Adanya tuntutan akademik tersebut dapat menyebabkan stres akademik. Oleh karena itu, self-regulated learning dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat self-regulated learning dan stres akademik dan mengetahui pengaruh self-regulated learning terhadap stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir yang mengerjakan skripsi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana. Jumlah sampel 203 responden (68% Perempuan dan 32% laki-laki) mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Teknik sampling yang menggunakan adalah convenience sampling. Data diperoleh menggunakan skala self-regulated learning dan Student-Life Stress Inventory (SLSI). Hasil penelitian didapatkan terdapat pengaruh antara self-regulated learning dan stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir yang mengerjakan skripsi (Uji T 0.000<0.05 dan nilai R2 0.451). Self-regulated learning berada di tingkat rendah dan stres akademik berada di tingkat tinggi. Adapun saran bagi peneliti selanjutnya untuk memperluas jumlah sampel penelitian di berbagai fakultas dan universitas dapat memberikan program yang dapat meningkatkan self-regulated learning dan menurunkan stres akademik.