cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 34 Documents
Search results for , issue "2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding" : 34 Documents clear
Flexibility Lumbal Exercise Efektif dalam Mengurangi Keluhan Low Back Pain: Systematic Review berdasarkan Randomized Control Trial Mutiara, Farrah Rizky; Dewangga, Mahendra Wahyu; Fatmarizka, Tiara
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Low back pain atau nyeri punggung bagian bawah yang sering terjadi pada individu terutama pada pekerja, Hal tersebut terjadi karena jenis pekerjaan dan faktor ergonomis saat bekerja. LBP yang terjadi dengan jangka waktu yang lama disebut dengan CLBP. Faktor ergonomi atau postur yang buruk saat bekerja yang dilakukan secara berulang serta gaya hidup seperti aktivitas fisik dan kebiasaan merokok dapat menjadi salah satu faktor terjadinya LBP pada pekerja sehingga dapat mempengaruhi tingkat fleksibilitas lumbal. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (literature review) menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Tujuan: Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam terkait intervensi untuk lumbal flexibility dalam meningkatkan kualitas hidup pada setiap individu terutama pada pekerja melalui analisis data sekunder. Hasil: Fleksibilitas lumbal memiliki banyak manfaat bagi tiap individu khususnya bagi yang mengalami keluhan LBP. Fleksibilitas dapat di maksimalkan dengan Exercise yang dilakukan secara rutin di rumah. Selain pengukuran tingkat fleksibilitas lumbal (Sit And Reach Test & Finger to Floor), beberapa komponen yang dapat diatasi dengan Exercise yaitu penurunan tingkat nyeri (Numeric Rating Scale), peningkatan fungsional tiap individu (Owestry Disability Index) dan Peningkatan Kualitas hidup tiap individu (Short Form-36 (SF-36)). Kesimpulan: Exercise menjadi salah satu pengobatan non-farmakologi dan dapat dijangkau dengan mudah dan murah tetapi memiliki efek yang banyak dalam mengatasi CLBP terutama pada pekerja.
Manajemen Fisioterapi pada Reaksi Morbus Hansen Type II "A Case Report" Billa, Azizah Shalsa; Komalasari, Dwi Rosella; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kusta tipe II atau Eritema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi inflamasi akut yang sering ditemukan pada pasien dengan kusta tipe multibasiler. Reaksi ini dapat menyebabkan gejala sistemik seperti nyeri hebat, nodul subkutan, anhidrosis, dan pembengkakan yang berujung pada penurunan kualitas hidup pasien. Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling terhadap nyeri, odema, dan elastisitas kulit pada pasien dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen tipe II. Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di RS Sumber Glagah Mojokerto pada bulan Oktober-November 2024 pada seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen Tipe II. Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi dalam tiga sesi intervensi aktif dengan active assisted exercise, oiling, dan breathing exercise. Pemeriksaan fisioterapi dengan palpasi untuk mengukur elastisitas kulit, lembar POD (Prevention of Disability) untuk mengukur sensitivitas saraf, penilaian nyeri dengan NRS (Numeric Rating Scale) dan pengukuran lingkar odem dengan antropometri. Conclusion: Fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling dapat mengurangi gejala inflamasi dan mempertahankan fungsi ekstremitas pada pasien kusta tipe 2. Penanganan berkelanjutan dibutuhkan untuk memperbaiki disfungsi saraf dan elastisitas kulit secara menyeluruh.
Manajemen Fisioterapi pada pasca Rekonstruksi ACL Sinistra (Lateral Extra-Articular Tenodesis) Amanda, Mutiara Sabta; Komalasari, Dwi Rosella; Saputro, Sigit
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Rekonstruksi anterior cruciate ligament (ACL) dengan prosedur Lateral Extra-articular Tenodesis (LET) merupakan tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengembalikan stabilitas lutut, terutama pada pasien dengan risiko tinggi retear. Proses rehabilitasi fisioterapi pasca operasi memiliki peran penting dalam pemulihan fungsi, pengurangan nyeri, peningkatan kekuatan otot, lingkup gerak sendi dan kemampuan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam program rehabilitasi fisioterapi pada individu dengan kasus pasca rekonstruksi ACL disertai lateral extra-articular tenodesis, serta untuk mengevaluasi efektivitas program rehabilitasi yang diberikan melalui pendekatan studi kasus. Case Presentation: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus yang dilakukan pada seorang pasien pasca rekonstruksi acl. Management and Outcome: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap seorang pria berusia 19 tahun pasca rekonstruksi ACL dengan LET. Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi ultrasound, muscle release, latihan penguatan (quadriceps setting, SLR, clamshell, calf raise), mobilisasi patella, latihan proprioseptif, dan core strengthening. Intervensi diberikan dalam empat kali pertemuan, yang dievaluasi pada setiap pertemuannya. Evaluasi dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), goneometer, Manual Muscle Testing (MMT), dan International Knee Documentation Committee (IKDC). Discussion: Hasil menunjukkan adanya penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, serta perbaikan fungsi aktivitas setelah dilakukan empat kali intervensi. Dengan demikian, program fisioterapi yang terstruktur dan tepat dapat memberikan perbaikan signifikan pada pasien pasca rekonstruksi ACL dengan LET. Conclusion: Program fisioterapi yang diberikan selama empat kali pertemuan menunjukkan perbaikan pasien yang diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale), goneometer, MMT dan IKDC (International Knee Documentation Committee).
Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien dengan Kondisi Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) et Causa Emfisema di RSUD Dungus Jawa Timur: Case Report Setiawan, Rizki; Komalasari, Dwi Rosella; Utami, Mulatsih Nita
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) merupakan kondisi yang mempengaruhi paru-paru dan menghambat proses bernapas, ditandai dengan terbatasnya aliran udara yang masuk ke dalam tubuh dan bersifat progresif. Gejala utama dari COPD mencakup kesulitan bernapas, batuk yang berlangsung lama, dan keluarnya lendir. Banyak pasien merasakan suara mengi dan tekanan di dada. Terapi nebulizer dapat diterapkan kepada pasien yang menderita penyakit pernapasan obstruktif kronis, reaksi alergi, serta infeksi pada paru-paru. Pursed Lip Breathing digunakan untuk menangani isu pembersihan saluran pernapasan yang tidak optimal pada pasien COPD, Deep Breathing Exercise sangat bermanfaat dalam memperbesar volume dan kemampuan paru-paru, dan ACBT dengan efektif dapat menghilangkan dahak, meningkatkan kapasitas paru-paru serta memperbaiki fungsi pernapasan.Case Presentation: Pasien berusia 77 tahun dengan keluhan batuk, sesak disertai demam selama 3 hari, saat ini dahak belum bisa keluar. Terdapat nyeri dada bagian kiri bawah, merasa kesulitan atau ampek saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, respiratory rate 28x/menit, saturasi oksigen 92%, mMRC dengan skor 3. Ekspansi thoraks pada axilla 2 cm, ICS 4 didapati 1 cm, processus xipoid 3 cm.Management and Outcome: Setelah pemberian terapi nebulizer, Pursed Lip Breathing, Deep Breathing Exercise dan ACBT selama 3 kali sehari dan dilakukan evaluasi 3 kali dalam sehari, didapati peningkatan saturasi oksigen dari 92% menjadi 95%, penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 2, penurunan respiratory rate dari 28x/menit menjadi 22x/menit, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien COPD menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan kapasitas dada, serta fungsionalitas paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien merasakan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Bell's Palsy Sinistra: Case Study Kaidah, Muh Anugerah Dzul; Komalasari, Dwi Rosella; Sukatwo, S
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Bell's Palsy adalah kelumpuhan saraf wajah perifer yang bersifat idiopatik, biasanya terjadi secara mendadak, dan sering kali dikaitkan dengan paparan dingin yang berkepanjangan. Penatalaksanaan fisioterapi seperti penggunaan infrared, stimulasi listrik, dan pijat wajah dapat membantu mempercepat pemulihan otot wajah.Case Presentation: Seorang pria berusia 37 tahun bekerja sebagai satpam dengan paparan AC dan angin malam yang tinggi, mengalami kelumpuhan otot wajah sisi kiri. Pasien mengeluh nyeri di telinga kiri, kesulitan menutup mata, dan asimetri wajah yang nyata.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi terapi infrared, stimulasi listrik faradik, dan pijat wajah, dilakukan dua kali seminggu. Evaluasi menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) dan Ugo Fisch Scale menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi otot wajah setelah empat sesi terapi.Conclusion: Terapi fisioterapi yang terstruktur dengan kombinasi modalitas infrared, stimulasi listrik, dan facial massage terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi dan kekuatan otot wajah pada pasien Bell's Palsy sinistra.
Eksplorasi Center of Pressure (COP) Deviasi dalam Kontrol Postur pada Gangguan Muskuloskeletal: Systematic Review Fitri, Anida Azkia; Dewannga, Mahendra Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Gangguan muskuloskeletal merupakan penyebab utama disabilitas global dan berhubungan erat dengan penurunan kontrol postur. Deviasi Center of Pressure (COP) menjadi indikator penting dalam menilai keseimbangan tubuh pada individu dengan gangguan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi deviasi COP dalam kontrol postur pada pasien dengan gangguan muskuloskeletal berdasarkan hasil systematic review.Methods: Penelitian ini menggunakan kerangka PICO dengan pencarian artikel melalui database PubMed untuk publikasi tahun 2020-2025 menggunakan kata kunci "Center of Pressure" AND "Musculoskeletal" AND "Posture". Kriteria inklusi meliputi studi penelitian primer berbahasa Inggris, populasi dewasa usia 19-44 tahun, dan pengukuran COP sebagai variabel utama, dengan lima artikel yang memenuhi syarat.Results: Lima artikel terpilih dari 97 hasil pencarian di PubMed setelah proses seleksi inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis dan dinilai kualitas metodologinya menggunakan JBI Critical Appraisal Tools, dengan hasil dua studi berkualitas tinggi, satu studi baik, dan dua studi moderat. Discussion: Hasil review menunjukkan bahwa obesitas, kelelahan otot, nyeri muskuloskeletal kronis, keterbatasan rentang gerak sendi, serta kesadaran terhadap gangguan eksternal berkontribusi terhadap peningkatan deviasi COP. Deviasi ini mencerminkan penurunan stabilitas postural, terutama dalam arah mediolateral dan anteroposterior, yang meningkatkan risiko jatuh. Conclusion: Deviasi Center of Pressure (COP) berkaitan erat dengan gangguan kontrol postur pada individu dengan masalah muskuloskeletal dan mendukung penggunaannya sebagai alat evaluatif dalam perencanaan intervensi rehabilitatif yang tepat sasaran.
Efektivitas Intervensi Nonfarmakologis terhadap Low Back Pain Kronik dalam Meningkatkan Kualitas Tidur: Tinjauan Naratif Ginting, Erma Juana BR; Dewangga, Mahendra Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic Low Back Pain (CLBP) merupakan satu dari beberapa permasalahan muskuloskeletal yang sangat biasa terjadi pada orang dewasa serta kerap kali berhubungan dengan gangguan tidur, yang pada akhirnya memperburuk kualitas hidup. Keterkaitan antara nyeri dan tidur menciptakan tantangan dalam penanganan jangka panjang individu dengan nyeri punggung bawah kronis.Method: Studi ini menerapkan metode kualitatif dengan pemenggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Naratif Literatur Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Tinjauan sistematis ini menelaah uji coba terkontrol secara acak (RCT) yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025 dan meneliti efektivitas intervensi terhadap kualitas tidur pada orang dewasa dengan nyeri punggung bawah kronis. Artikel dikumpulkan dari database PubMed menggunakan kata kunci "chronic low back pain" dan "sleep quality". Kriteria inklusi meliputi peserta berusia ≥18 tahun dengan LBP ≥12 minggu, serta penggunaan alat ukur kualitas tidur yang tervalidasi seperti PSQI, ISI, atau PROMIS.Result: Sebanyak enam studi RCT memenuhi kriteria. Intervensi yang dianalisis mencakup mindfulness-based stress reduction (MBSR), latihan akuatik, yoga virtual, fisioterapi konvensional, stimulasi listrik (TENS), kinesio taping, dan diatermi radiofrekuensi. Mayoritas studi menunjukkan adanya peningkatan kualitas tidur, terutama pada intervensi yang menggabungkan komponen fisik dan psikologis. Mindfulness dan terapi akuatik menunjukkan hasil paling konsisten dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan kualitas tidurDiscussion: Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan multimodal yang mengintegrasikan relaksasi psikologis dan latihan fisik lebih efektif dalam meningkatkan kualitas tidur dibandingkan pendekatan tunggal yang hanya bersifat fisik. Intervensi yang fokus pada pengurangan stres dan pengaturan sistem saraf memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan teknik pasif seperti kinesio taping.Conclusion: Tinjauan ini memperkuat pemahaman bahwa kualitas tidur perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tujuan terapi bagi pasien dengan nyeri punggung bawah kronik. Pendekatan yang menggabungkan aspek fisik dan psikologis secara bersamaan direkomendasikan karena mampu memberikan manfaat klinis yang lebih menyeluruh.
Pengaruh Cryotherapy dan Faktor Psikologis dalam Performa Atlet Bocchia Tinjauan Sistematis Sembiring, Rico Anandri; Dewangga, Mahendra Wahyu; Perdana, Suryo Saputro
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Boccia adalah olahraga yang dirancang khusus untuk atlet difabel, yang memerlukan tingkat presisi, strategi, dan koordinasi yang tinggi. Cryotherapy menjadi metode pemulihan yang efektif bagi atlet, membantu mengurangi rasa nyeri dan peradangan. Objectives: Kajian ini bertujuan untuk merangkum temuan-temuan terkini mengenai pengaruh cryotherapy terhadap pemulihan atlet serta kontribusi faktor psikologis terhadap performa atlet Boccia.Method: Jenis penelitian kajian literatur ini ndengan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan Quasi Eksperiment menggunakan pendekatan pre test dan post test one group. Jumlah sampel minimal yang digunakan adalah 8-12 partisipan, sesuai standar minimal studi pilot intervensi klinis. Instrumen penelitian menggunakan Ultrasonografi Muskuloskeletal (USG), Pulse oximeter atau heart rate monitor, Lembar observasi dan termometer digital.Result: Cryotherapy dan latihan berbasis Boccia terbukti efektif meningkatkan pemulihan fisik dan fungsi motorik, termasuk kekuatan dan fleksibilitas otot. Selain itu, performa atlet Boccia juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti efikasi diri dan harapan sukses, terutama pada kelas BC4.Conclusion: Berdasarkan lima artikel yang telah dianalisis, cryotherapy menunjukkan manfaat dalam pemulihan otot dan peningkatan performa fisik, sedangkan aspek psikologis seperti identitas atlet, kecemasan, dan efikasi diri berperan dalam keberhasilan kompetisi, khususnya pada atlet dengan disabilitas berat.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus post Amputation above Knee Sinistra di RSUP Prof. I.G.N.G Ngoerah: A Case Study Putra, Zulfikar Yucha; Rahayu, Umi Budi; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Amputasi merupakan sebuah prosedur pengambilan atau pemotongan bagian tubuh yang telah mengalami kerusakan jaringan atau nekrosis. Setelah menjalani amputasi seseorang akan mengalami perubahan anatomi dan fisiologi, maka diperlukan proses rehabilitasi oleh fisioterapi untuk mengoptimalkan proses pemulihan pasca amputasi.Case Presentation: Pasien Tn. I.N.A.N merupakan seorang laki-laki berusia 32 tahun datang dengan keluhan nyeri tak tertahankan dan keterbatasan gerak pada kaki kirinya akibat kecelakaan yang ia alami. Pasien didiagnosa mengalami compartement syndrome ec multiple fracture serta pasien tidak memiliki riwayat penyakit lainnya. Setelah menjalani amputasi pasien tampak lemas, mengeluhkan rasa nyeri (Phantom Pain) dan kesulitan untuk bergerak meskipun dalam keadaan di atas kasur. Pasien lalu mendapatkan rujukan untuk menjalani treatment fisioterapi dengan tujuan nyeri dapat berkurang, mampu menggerakkan anggota tubuh yang mengalami amputasi, dan pasien mampu untuk melakukan kegiatan transfer dan ambulasi.Management and Outcome: Jenis penelitian ini merupakan case report yang memiliki sampel 1 orang pasien laki-laki dengan diagnosis post amputee above knee sinistra ec compartement syndrome ec traumatic injury. Alat ukur yang digunakan yaitu Numeric Pain Rating Scale (NPRS) untuk skala nyeri, goniometer untuk lingkup gerak sendi, Manual Muscle Testing (MMT) untuk tingkat kekuatan otot, meterline untuk lingkar segmen odema, dan Amputee Mobility Predictor (AMP) untuk tingkat kemampuan fungsionalDiscussion: Setelah dilakukan pemberian intervensi oleh fisioterapi sebanyak 3 kali didapatkan hasil bahwa terjadi perubahan yang cukup meningkat pada lingkup gerak sendinya, tingkat nyeri, kekuatan otot, integritas kulit, dan kemampuan fungsionalnyaConclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi exercise serta massage dapat memberikan peningkatan kemampuan namun tidak signifikan.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Ataxic Cerebral Palsy di PNTC Colomadu: A Case Report Deistriany, Zehra Karil; Rahayu, Umi Budi; Kurniawan, Arif
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cerebral Palsy (CP) adalah kondisi neurologis yang mempengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf, sehingga mengganggu kemampuan motorik dan keseimbangan tubuh. Pada anak-anak, CP dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan bergerak. Salah satu jenis CP, yaitu CP ataxia, terjadi akibat kerusakan pada bagian otak yang mengatur keseimbangan dan gerakan, sehingga menyebabkan kesulitan dalam mengontrol gerakan tubuh.Case Presentation: Pasien merupakan seorang anak perempuan yang berumur 1 tahun 11 bulan datang bersama dengan keluarganya ke PNTC. Di usia ke 6 bulan keluarga pasien merasa pertumbuhan pasien tidak seperti anak pada umumnya dan seusianya. Menurut keterangan keluarga, pasien belum mampu berguling, berlutut, posisi ongkang-ongkang, dan berdiri tegak sendiri. Pasien sudah memiliki kemampuan untuk duduk, namun posisi duduknya kurang tepat. Pasien juga masih sensitif dengan suara yang membuat ia merasa terganggu. Hingga saat usianya sekarang pasien juga belum mampu untuk berbicara dengan kata yang bermakna, hanya bisa berbicara bubbling. Pasien juga tidak memiliki riwayat penyakit, tidak terdapat permasalahan dimasa kehamilan seperti tidak pernah jatuh dan tidak ada terdiagnosa virus. Pasien lahir dalam usia kehamilan cukup bulan dan tidak ada diagnosis apapun. Pasien menerima treatment oleh fisioterapis selama 2-3 kali pertemuan setiap minggunya.Management and Outcome: Penelitian dengan metode Case Report dilakukan di Pediatric Neurodevelopmental Therapy Center pada anak berusia 1 tahun 11 bulan dengan diagnosis cerebral palsy ataxia. Anak tersebut memiliki kemampuan terbatas, yaitu hanya dapat mengangkat kepala. Penelitian ini menggunakan intervensi Neurodevelopmental Treatment (NDT), latihan kekuatan, mobilisasi sendi, dan pijat. Peningkatan diukur menggunakan beberapa alat ukur, yaitu GMFM, PFRT, PEDI, dan TCMS.Discussion: Pengukuran yang telah dilakukan pada responden cerebral palsy ataxia yang berusia 6 bulan menemukan hasil berupa GMFM, PFRT, PEDI, dan TCMS mendapatkan score yang sama dari T1-T4, yang mana GMFM dengan score 46%, PFRT dengan score <10 cm, PEDI dengan score 12,5%-25% dan TCMS dengan score total 23.Conclusion: Berdasarkan penelitian dengan menggunakan Case Report menunjukkan penatalaksanaan fisioterapi dalam jangka waktu 4 minggu sebanyak 2 kali/minggu dengan intervensi Neurodevelopmental Treatment (NDT), latihan kekuatan, mobilisasi sendi, dan pijat secara keseluruhan dari hasil evaluasi didapatkan belum ada peningkatan.

Page 1 of 4 | Total Record : 34