cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 87 Documents
Aktualisasi Yohanes 2:1-11 Bagi Religiositas Manusia Jawa Sebuah Refleksi Teologis Atas Keterkaitanan Agama dan Budaya Ngatun, Markus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 6, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.171 KB) | DOI: 10.47025/fer.v6i1.55

Abstract

Fokus tulisan ini adalah untuk melihat aktualisasi Injil Yohanes 2: 1-11 bagi religiositas manusia di Jawa. Makalah ini bertujuan untuk melihat seberapa kontekstual Injil dalam mengapresiasi religiusitas masyarakat Jawa. Dalam proses artikel ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka. Temuan studi penulis adalah: Konsep kedalaman religiusitas manusia Jawa mengacu pada hubungan yang dalam dengan Tuhan dan sesama. Yohanes 2: 1-11 menunjukkan keagungan kuasa Tuhan yang bekerja di dalam Yesus melalui perubahan air menjadi anggur. Tuhan menunjukkan kekuatan, serta solidaritas-Nya dengan orang lain. The focus of this paper is to see the actualization of the Gospel of John 2: 1-11 for Javanese human religiosity. The purpose of this paper is to see how contextual the gospel is in the appreciation of Javanese people religiosity. In process of writing this paper the writer used qualitative methods with literature study. The finding of the author's study is: The concept of the depth of Javanese human religiosity refers to a deep relationship with God and others. John 2: 1-11 shows the majesty of God's power at work in Jesus through changing water to wine. God shows power, as well as His solidarity with others.
PERUBAHAN SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MASYARAKAT TANIMBAR DAN PERGESERAN NILAINYA Wuritimur, Amrosius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 3, No 1 (2019): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v3i2.29

Abstract

Perubahan sosial budaya amat tergantung dari subyek. Karena itu yang paling bertanggung jawab atas perubahan-perubahan itu ialah subyek sesuai kewenangannya masing-masing.  Dalam konteks perubahan sosial dan budaya porsi kewenangan besar ada pada negara (pemerintah), karena negara telah diberikan hak oleh masyarakat untuk mengatur masyarakat (trias politica). Apabila Negara lalai melaksanakan hak yang diberikan masyarakat ini dengan baik, maka masyarakat memiliki kewenangan untuk mencabut hak itu daripadanya. Meskipun porsi kewenangan lebih besar ada pada Negara, setiap individu tetap berperan penting menentukan perubahan sosial-budaya. Bila individu-indvidu itu dapat mengkonsolidasikan diri dalam kelompok-kelompok kemasyarakatan dan membangun suatu visi bersama, maka dorongan para perubahan social dan budaya akan demikian kuat. Sekarang tinggal tergantung dari ke arah mana kelompok-kelompok itu mendrong perubahan sosial dan budaya, ke arah positif (nilai baik) atau negatif (nilai tidak baik).
THE STRUCTURAL-FUNCTIONALISM THEORY AND DUAN-LOLAT RELATIONSHIP IN TANIMBAR, MOLUCCAS-INDONESIA Masriat, Cayetanus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 1, No 1 (2017): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v1i2.8

Abstract

One of the systems of relations within Tanimbar society (in Moluccas, Indonesia), that is surviving until today is the relation of the duan and lolat. This relation system greatly affects the life of Tanimbar community. In many of the events of life, especially with regard to the life cycle of Tanimbar people, the relation between duan and lolat is always placed as an important factor. Because it is considered as on the most important kind of relationship, West- Southeast Moluccas Regency Government takes the duan and lolat as the symbol of West- Southeast Moluccas Regency.
On Anonymity and Indifference bartilet, jeffrey
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.041 KB) | DOI: 10.47025/fer.v5i2.48

Abstract

The paper articulates, in broad strokes, an idea of responsibility that is affixed to a general attitude of availability and service. That to respond to, that to be responsive is to breakthrough the barriers of complacency, it is to be open to the unsettling appeal for justice amidst injustice, and that to exist is not to be only for oneself.
KONSEP BAHASA MENURUT METODE FENOMENOLOGI-HERMENEUTIKAMARTIN HEIDEGGER DAN IMPLIKASINYA BAGI BUDAYA BERBAHASA PARA CALON IMAM DIOSESAN Lalamafu, Petrus Andito
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 2, No 2 (2018): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v2i2.24

Abstract

Martin Heidegger, melalui metode Fenomenologi-Hermeneutika dan investigasi transendental, menampilkan suatu analisis dan interpretasi bahasa dalam tingkatan primordial-ontologis. Filsuf eksistensialisme ini menekankan, melalui karya-karya tulisnya, bahwa manusia dapat memahami keberadaan dirinya dengan suatu kesadaran ontis yang diinterpretasi. Pengungkapan kesejatian diri didasarkan pada Sein (Being) sebagai adanya Ada. Menurutnya, manusia memerlukan suatu pembelajaran berkelanjutan untuk menganalisis Ada itu dengan mempelajari dengan sungguh-sungguh Dasein (being-there) sebagai wadah pengungkapan kualitas diri di-dalam-dunia (being-in-the-world) dan hidup bersama-orang-lain (being-with-another). Seorang calon Imam Diosesan harus men-dunia, hidup di-tengah dunia, menyadari kesekitarannya dan menjadi berguna secara kualitatif. Itu tergantung dari bagaimana ia mem-bahasa-kan kehidupannya, bukan pertama-tama dengan bahasa artikualtif-komunikatif, namun dengan bahasa perbuatan, berakhlak dan berkarakter.
Maraknya Perdagangan Manusia dalam Terang Ajaran Sosial Gereja (Evangelium Vitae) dan HAM guru, henriques changestu william; Ghari, Paskalis Rivaldo; Siringoringo, Paulinus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 7, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.796 KB) | DOI: 10.47025/fer.v7i1.75

Abstract

AbstrakArtikel ini meletakkan fokus pada tema perdagangan manusia menurut Ajaran Sosial Gereja (Evangelium Vitae) dan HAM. Metode yang diterapkan ialah analisis kepustakaan dan juga dilihat dari sebuah contoh yang nyata atas perdagangan manusia yang terjadi di Indonesia. Melalui kasus dan analisis kepustakaan penulis melihat bahwa perdagangan manusia telah melanggar hukum alam yang telah diciptakan oleh Allah. Menurut HAM perdagangan itu melanggar aturan hidup manusia karena tidak memberi kebebasan untuk hidup kepada manusia. Tujuan penulisan ini supaya terlihat dengan jelas bagaimana pandangan Gereja dan HAM mengenai perdagangan manusia sehingga manusia semakin sadar atas pelanggaran yang telah dilakukan selama ini. Perdagangan manusia telah melanggar atau merusak ciptaan Allah yang sempurna. Manusia memiliki hak untuk hidup bebas. Studi analisis kepustakaan ini sampai pada temuan bahwa Gereja dan HAM memandang perdagangan manusia merupakan sebuah perbuatan jahat. Tindakan perdagangan manusia merusak keberadaan manusia itu sebagai manusia karena haknya telah diambil sebagian oleh mereka yang melakukan tindakan perdagangan manusia.Kata Kunci: Perdagangan Manusia, HAM, Hak, Ajaran Sosial Gereja 
MAKNA TEOLOGIS NOKEN DALAM BUDAYA ORANG MEE Bobii, Silfester
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.262 KB) | DOI: 10.47025/fer.v4i2.3

Abstract

In this paper I describe and discuss: the theological meaning of noken inthe culture of the Mee people. The method used is literature. Which isthen collected, grouped and managed and worked on based on books andscientific articles that are obtained related to the theological meaning ofnoken. From the study I worked on, it was found that noken has a veryimportant and deep theological meaning in the culture of the Mee tribeand in general in Papua. With this finding, it criticizes hidden acts ofhumanity’s murder as well as those seen during the selection of the nokensystem. In addition, it builds divine values from God contained in thenoken from an asset culture in Papua.
UPACARA TEING NGASANG DALAM TRADISI MASYARAKAT MANGGARAI DAN SAKRAMEN BAPTIS (Sebuah Pengantar Studi Perbandingan Inisiasi) Jagom, Bonifasius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 5, No 1 (2020): Juni
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.715 KB) | DOI: 10.47025/fer.v5i1.33

Abstract

For the etnic society of Manngarai, West Folres, the presence of child/baby in their family is a gift from God that must be grateful. The thanksgiving ceremony for the presence of the child is called Teing Ngasang. Teing Ngasang is a rite of giving a name to a child who born into the Manggarai people. For the name is something very valuable. Name is a representation of a person's personality. The "name" actually includes one's identity and behavior patterns. Therefore, Manggarai people always try to avoid actions or behavior that can damage their reputation. The author's focus is to look at the comparison of initiation rites as well as points of equality and difference between the ceremony of Teing Ngasang and Baptist Sacrament in the Catholic Church. In addition, the author will review the points which are donations from the Teing Ngasang ceremony in relation to the Baptist Sacrament. The findings of this comparative study are a change in the meaning of the Teing Ngasang ceremony in the light of Christian Faith. In addition, it is also known that the relations and the awareness of the Supreme Being in the lives of the Manggarai people existed long before Catholicism entered.
STEREOTIP IMAM DIOSESAN DALAM SEJARAH GEREJA KATOLIK INDONESIA Ngutra, Seno
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 3, No 1 (2018): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v3i1.19

Abstract

Diocesan Priest is a man who was ordained to be a Priest in the Catholic Church. The Diocesan Priest is the term which is attributed to the Priest who has been incardinated himself to a certain Diocese which belong to the Catholic Church. He commits to serve the people of God in the Diocese wherever the Bishop assigned him. Therefore, he promises to obey to the Bishop for the whole life as a priest. Doing his mission, sometimes he faces many challenges that can create a big problem in his priesthood. He sometimes feels a dilemma between doing his best in the service or facing some critics that  come  from the people who are living around him. In this context, a Diocesan Priest must remember that who has called him to be a priest, was Jesus Himself. Jesus is the Lord and Protector for him.The diocesan priest is a priest forever.
Pandangan Keselamatan menurut Luther dan Tanggapan Gereja Katolik Serin, Petrus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.426 KB) | DOI: 10.47025/fer.v6i2.57

Abstract

Artikel ini membahas tentang pandangan Martin Luther tentang keselamatan, ia menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak menyetujui perbuatan manusia sebagai amal untuk mendapat keselamatan, melainkan seorang diselamatkan hanya melalui iman semata dan berdasar rahmat Allah sebab walaupun ia berdosa ia dibenarkan oleh Allah. Hanyalah rahmat Allah manusia diselamatkan dan dibenarkan. Hal ini disebabkan karena Martin Luther punya pengalaman-pengalaman yang mencekam. Lambat laun Kitab Suci menjadi kekuatan dominan yang membentuk pengetahuannya tentang Allah dan dirinya sendiri, lebih khusunya dalam penafsirannya terhadap surat Paulus kepada umat di Roma. Di situlah ia menelaah pernyataan tersebut dan kegelisahan hatinya terjawab dalam Kitab Suci. Oleh karena itu Martin Luther mengajarkan: “manusia diselamatkan hanya oleh rahmat Allah yang diterima melalui iman”.