cover
Contact Name
Octavia Dwi Wahyuni
Contact Email
octaviaw@fk.untar.ac.id
Phone
+6282122010570
Journal Mail Official
tmj@fk.untar.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Gedung J Lt. 2 Jl. Letjen S.Parman No. 1, Grogol, Jakarta Barat Kode Pos: 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Tarumanagara Medical Journal
ISSN : 26547147     EISSN : 26547155     DOI : https://doi.org/10.24912/tmj
Core Subject : Health, Science,
Tarumangara Medical Journal adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Tarumangara Medical Journal berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli. Konten Tarumanagara Medical Journal meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 395 Documents
Gambaran perilaku kebersihan diri terkait infestasi kutu kepala (Pediculus humanus capitis) pada santriwati di Pondok Pesantren Anshor Al-Sunnah Riau Vanessa Analdi; Irene Dorthy Santoso
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i2.11760

Abstract

Infestasi kutu kepala (pediculosis capitis) merupakan suatu masalah kesehatan umum yang ditemukan di seluruh dunia. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui gambaran salah satu faktor risiko yaitu perilaku kebersihan diri yang terkait pada seseorang dengan infestasi kutu kepala. Diharapkan hasil studi ini dapat menambah informasi mengenai perilaku kebersihan diri yang mempengaruhi infestasi sehingga dapat mempermudah pencegahan dan mengurangi angka kejadian infestasi kutu kepala. Studi deskriptif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 152 santriwati di Pondok Pesantren Anshor Al- Sunnah, Riau dengan infestasi kutu kepala. Sampel diambil dengan metode purposive sampling. Data diambil melalui inspeksi kepala dan rambut serta pengisian kuesioner perilaku kebersihan diri terkait infestasi kutu kepala. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS v.17. Mayoritas santriwati yang mengalami infestasi kutu kepala memiliki perilaku kebersihan diri yang baik (88,2%). Kontak erat dengan penderita merupakan cara transmisi kutu kepala yang utama sehingga diperlukan pengobatan sekaligus pada santriwati yang mengalami infestasi kutu kepala untuk menghentikan transmisi kutu kepala.
Gambaran kebiasan merokok dengan gejala kesemutan di jari-jari ekstremitas pada masyarakat Jabodetabek Yesisca Yesisca; Sari Mariyati Dewi Nataprawira
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i2.11761

Abstract

Merokok adalah salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Tingginya jumlah perokok terutama di Jakarta dan sekitarnya dapat menyebabkan meningkatnya angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah di daerah tersebut. Pada rokok terdapat zat yang dapat menyebabkan terjadinya penebalan dan kekakuan dinding pembuluh darah atau yang disebut arteriosklerosis. Bila kondisi ini berlanjut dan didukung dengan proses metabolik yang tidak baik maka dapat memicu terjadinya atherosklerosis dan penyumbat pembuluh darah. Kesemutan atau kebas yang terjadi pada jari-jari tangan atau kaki, merupakan gejala awal terjadinya atherosklerosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok (lama dan jumlah) dan adanya gejala kesemutan atau kebas pada jari tangan dan atau kaki.  Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif cross-sectional  dan consecutive non-random sampling dalam merekrut responden. Data dari 60 responden dengan rentang usia 18-69 tahun, dikumpulkan menggunakan google form. Gejala kesemutan mayoritas didapatkan pada kelompok dengan riwayat merokok lebih dari 20 tahun dengan jumlah rokok termasuk dalam kategorik sedang.  Kesimpulan penelitian ini adalah semakin banyak dan lamanya riwayat merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan pembuluh darah yang ditandai dengan munculnya gejala kesemutan atau kebas.
Pengaruh perubahan posisi terhadap tekanan darah pada karyawan dan karyawati RSU Purwogondo Yusuf Damar Jatinugroho; Susy Olivia Lontoh
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i2.11762

Abstract

Salah satu cara menilai kesehatan sistem kardiovaskular adalah dengan mengukur tekanan darah. Perubahan nilai tekanan darah dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi pada saat pemeriksaan. Ketika seseorang dalam keadaan spontan berubah posisi dari berbaring, lalu duduk atau berdiri, perubahan tekanan darah juga terjadi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan posisi terhadap tekanan darah pada karyawan dan karyawati RS Purwogondo. Metode yang digunakan adalah experimental dengan pre-test and post-test design.  Responden studi sebanyak  80 orang memiliki rerata usia 29.98 tahun dengan usia terendah 18 tahun dan tertinggi 56 tahun. Tekanan darah sistolik saat berbaring adalah 118,18±13,982 mmHg, tekanan darah sistolik saat duduk adalah 116,34±13,281 mmHg dan tekanan sistolik saat berdiri adalah 113,00±14,142 mmHg. Hasil ini menunjukan adanya penurunan tekanan darah sistolik dari posisi berbaring ke duduk lalu ke berdiri. Tekanan darah diastolik saat berbaring 77,13±9,404 mmHg, tekanan darah diastolik saat duduk adalah 79,13±9,458 mmHg dan tekanan diastolik saat berdiri adalah 79,28±9,544 mmHg. Hasil ini menunjukan adanya peningkatan tekanan darah diastolik dari posisi berbaring ke duduk lalu ke berdiri. Hasil perbandingan rerata uji paired sample t-test menunjukan terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah sistolik duduk terhadap berdiri dan tekanan darah diastolik berbaring terhadap duduk dengan nilai p <0,05, tetapi tidak bermakna pada tekanan darah sistolik berbaring terhadap duduk dan tekanan darah distolik duduk terhadap berdiri.
Imunodefisiensi primer dan deteksi dininya Cipta Mahendra
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i2.11763

Abstract

Penyakit imunodefisiensi primer (primary immunodeficiency disease/PID) merupakan keadaan di mana terjadi defek sistem imun yang disebabkan mutasi pada kode genetik yang mengkode komponen-komponen penyusun sistem imun tubuh. Kelainan ini tergolong jarang atau langka namun menurunkan kualitas hidup dan bahkan dapat sampai mengancam nyawa bagi penderitanya. Terapi definitif yang tersedia hingga kini pun juga masih terbatas dan berbiaya tinggi. Artikel ini dimaksudkan terutama bagi dokter umum layanan primer yang mungkin jarang atau bahkan belum pernah mendengar tentang keadaan ini sebelumnya sebagai pengantar agar dapat mengenali penyakit dalam praktik sehari-hari.
Manifestasi dermatologik pada pasien gagal ginjal kronis Erico Lemuel Yonathan; Hari Darmawan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i2.11764

Abstract

Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan penyakit yang bersifat kompleks dan mempengaruhi berbagai organ, termasuk kulit. Manifestasi dermatologik sangat sering ditemukan pada pasien gagal ginjal kronis, terutama pada stadium gagal ginjal terminal. Secara umum, manifestasi dermatologik pada gagal ginjal kronis dibagi menjadi dua, yaitu non-spesifik dan spesifik. Manifestasi non-spesifik meliputi xerosis, pruritus, kelainan kuku, kelainan rambut, perubahan pigmen kulit, ekimosis, purpura, kelainan mukosa, uremic frost, ginekomastia, infeksi kulit, dan manifestasi kulit yang disebabkan penggunaan obat imunosupresif. Sedangkan manifestasi spesifik meliputi acquired perforating dermatosis (APD), kalsifilaksis, penyakit bulosa, dan nephrogenic systemic fibrosis (NSF). Diagnosis dan terapi dini termasuk tindakan profilaksis dapat mengurangi morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup pasien.  
Pengaruh evolusi virus H3N2 pada perubahan hemaglutinin, neuraminidase dan efeknya terhadap Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II di Indonesia pada tahun 2005-2019 Alvian Rendy Santoso; Erick Sidarta
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i1.13712

Abstract

Virus H3N2 merupakan salah satu virus yang dapat menyebabkan terjadinya epidemi dan pandemi di seluruh belahan dunia. Di Indonesia sendiri, virus ini merupakan penyebab 64,6% penyakit influenza. Virus H3N2 merupakan virus RNA yang dapat berevolusi dengan cepat sehingga dapat menyebabkan terjadinya kegagalan vaksinasi ataupun respon imun yang tidak sempurna dalam mengeliminasi virus. Molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas II adalah komponen yang penting bagi respon imun dalam proses mengeliminasi virus. Pada proses ini, sel T helper akan teraktivasi dan menghasilkan sitokin yang menstimulasi sel imun lainnya. Tujuan studi ini adalah mengetahui pengaruh evolusi virus H3N2 Indonesia pada perubahan hemaglutinin, neuraminidase dan efeknya terhadap pengikatan MHC kelas II pada tahun 2005 - 2019. Data 133 gen HA dan 130 gen NA virus H3N2 di Indonesia tahun 2005 sampai 2019 diperoleh melalui bank data Global Initiative on Sharing All Influence Data (GISAID). Evaluasi dilakukan secara in silico berupa pembangunan pohon filogenetik melalui software MEGA X, uji pengikatan MHC kelas II melalui Immune Epitope Data Base (IEDB) dan uji antigenisitas melalui software Vaxijen 2.0. Pada pohon filogenetik menunjukkan kekerabatan antar sekuens dan terjadinya antigenic drift pada virus H3N2 di Indonesia. Hasil uji pengikatan MHC kelas II dan antigenisitas menunjukkan adanya perubahan skor akibat terbentuknya beberapa variasi epitop seperti pada pada predicted sites 151-165 dengan skor 0.7728 ? 0.4373. Pada studi ini didapatkan juga beberapa epitope sebagai prediksi pembuatan vaksin seperti predicted sites 441-455 gen HA. Evolusi virus H3N2 di Indonesia mengakibatkan terjadinya perubahan atau hilangnya prediksi pengikatan terhadap MHC kelas II dan HLA dominan.
Hubungan asupan lemak jenuh dengan kejadian akne vulgaris pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Berliana Agata Siregar; Hari Darmawan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i1.13713

Abstract

Akne Vulgaris (AV) merupakan kelainan umum unit pilosebasea dan terutama terjadi pada usia remaja. Banyak faktor resiko yang dapat memicu terjadinya AV, salah satunya adalah faktor diet. Studi sebelumnya menunjukkan asupan lemak jenuh dapat memicu terjadinya AV bahkan memperburuknya Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan lemak jenuh dengan kejadian akne vulgaris pada mahasiswa kedokteran Universitas Tarumanagara. Studi ini menggunakan studi analitik metode potong lintang. Responden berjumlah 122 mahasiswa yang diambil menggunakan metode purposive sampling. Responden terdiri dari 25 orang laki-laki dan 97 orang perempuan yang berada dalam tahap akademik dengan berbagai rentang usia. Data akne vulgaris diperoleh menggunakan pemeriksaan fisik melalui foto wajah. Data asupan lemak jenuh menggunakan 24 hours food recall dan kemudian dianalisis menggunakan software nutrisurvey. Sebanyak 110 responden (90,2%) mengalami AV, di mana 91 responden (74,6%) derajat I, 16 responden (13,1%) derajat II, 3 responden (2,5%) derajat III, dan sebanyak 12 responden (9,8%) tidak mengalami AV. Sebagian besar asupan lemak jenuh responden lebih dari cukup (90,2%). Hasil studi ini didapatkan nilai p = 0.315 (p >0.05), maka tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak jenuh dengan kejadian akne vulgaris pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.
Factors influenced of drug-resistant tuberculosis and non-drug-resistant tuberculosis patients in Pulmonary Hospital Dr. M. Goenawan Partowidigdo, Bogor district Cicilia Windiyaningsih; Hendra Badaruddin
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i1.13714

Abstract

Tuberculosis is one cause of death, the ninth of all diseases in the world. The increasing cases of antimicrobial-resistant tuberculosis is a global challenge especially multi-drug resistant TB (MDR-TB). Drug-resistant Tuberculosis is classified as a condition where Mycobacterium tuberculosis can’t be treated with anti-tuberculosis drugs. The study aimed to determine the associated risk factors with drug-resistant Tuberculosis compared with second category tuberculosis (non-drug resistant Tuberculosis). A case-control study was undertaken — there were 40 cases (drug-resistant TB) and 80 controls (non-drug resistant TB) were conveniently sampled. Data we collected from medical records and direct interviews using questionnaires. The variables of interest were gender, age, occupation, income, medication history, side effects, regularity of taking medication, nutritional status, smoking, alcohol, contact history, treatment chronology, and health facility distance.  The results showed majority of respondents were mostly men, age >41 years, low education, work, incomes >1.00,000 IDR, failed/discontinued treatment, no side effects, adherence treatment, BMI> 18.5, no smoking, no alcohol consumption, no contact history, lack of knowledge, drug swallowing supervisor (DSS), health services distance <3 km.  Final model adherence of treatment p-value 0.0001, OR 6.460, 95% CI 2.384-17.504; contact history p-value 0.004, OR 4.549, 95% CI 1.623-12.748; side effects p-value 0.017, OR 3.580, 95% CI 1.260-10.17; health service distance p-value 0.061, OR 2.627, 95% CI 0.955-7.226. These four factors have contributed to the occurrence of drug-resistance TB.
Diabetes Melitus tipe 2 sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK) di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2019 Cindy Damara; David Dwi Ariwibowo
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i1.13715

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) masih menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Diabetes Mellitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu faktor risiko PJK. Di provinsi Jambi pada tahun 2015 diperkirakan jumlah pasien PJK sebanyak ±2000 pasien. Salah satu upaya untuk menurunkan jumlah kasus PJK adalah dengan mengetahui faktor-faktor risiko yang menyebabkan terjadinya PJK. Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai DM tipe 2 sebagai faktor risiko PJK di Rumah Sakit rujukan terbesar di Jambi, yaitu RSUD Raden Mattaher Jambi pada tahun 2019. Metode studi ini adalah analitik observasional dengan desain case control. Sampel studi terdiri dari 145 pasien PJK (kelompok kasus) dan 145 pasien tanpa PJK (kelompok kontrol). Penggumpulan data dilakukan dengan mengobservasi data sekunder yang didapatkan dari rekam medis pasien. Dilakukan uji korelasi antara DM tipe 2 dan PJK. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pasien DM tipe 2 berisiko 2 kali lebih tinggi untuk menderita PJK dibandingkan dengan pasien tanpa DM tipe 2 (OR=2,07). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pada Dislipidemia merupakan faktor risiko yang berpengaruh paling signifikan dalam menyebabkan PJK di RSUD Raden Mattaher Jambi pada tahun 2019 dibandingkan faktor risiko lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah DM tipe 2 (p=0.006) memang merupakan faktor risiko PJK di RSUD Raden Mattaher Jambi pada tahun 2019 tetapi, Dislipidemia (p< 0,0001) memiliki pengaruh yang paling signifikan kemudian diikuti oleh Hipertensi (p= 0,004). Penyakit Sistemik (p=0,025) dan riwayat merokok (p= 0,005) juga merupakan faktor risiko yang menyebabkan PJK di RSUD Raden Mattaher Jambi pada tahun 2019.
Pemenuhan persyaratan kandungan zat besi dan zinc pada label produk makanan pendamping ASI (MPASI) komersial Cindy Willyana; Wiyarni Pambudi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i1.13716

Abstract

Zat besi dan zinc merupakan mikronutrien penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dimulai pada usia 6 bulan, kebutuhannya tidak dapat terpenuhi hanya dengan pemberian ASI. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui apakah produk makanan pendamping ASI (MPASI) komersial telah memenuhi persyaratan kandungan zat besi dan zinc berdasarkan persyaratan yang berlaku. Sampel studi berupa produk MPASI yang terdiri dari 11 produk MPASI komersial bubuk instan dan 27 produk MPASI komersial biskuit berdasarkan data BPOM. Variabel studi ini adalah kandungan zat besi dan zinc pada produk MPASI komersial. Studi dilakukan di Jakarta Barat pada Desember 2019 hingga Januari 2020 dengan menggunakan desain studi deskriptif potong lintang dan teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Hasil studi diolah menggunakan program statistik secara komputerisasi dengan hasil didapatkan jumlah produk MPASI komersial bubuk instan dan biskuit banyak yang tidak memenuhi persyaratan kandungan zat besi dan zinc yang berlaku. Pada kedua jenis MPASI, pemenuhan kandungan zat besi dan zinc lebih banyak tidak dipatuhi oleh produk usia 6-12 bulan dibandingkan produk usia 12-24 bulan. Hasil studi ini memperlihatkan produk MPASI komersial bubuk instan dan biskuit masih banyak yang belum memenuhi persyaratan kandungan zat besi dan zinc yang berlaku.