cover
Contact Name
Malik
Contact Email
alkarimastiq@gmail.com
Phone
+6287881807504
Journal Mail Official
messakelam@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Tawangmangu KM. 34 Pakel, Gerdu, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Kode Pos: 57791 Telp : (0271) 6901044
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir
ISSN : 25493035     EISSN : 28293703     DOI : -
Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Isy Karima Karanganyar setiap bulan Februari dan Agustus setiap tahun
Articles 112 Documents
Al-Qur'an, Sains, dan Teknologi: (Pendekatan Historis dan Teologis) Saifudin, Achmad
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i1.32

Abstract

Sekilas judul di atas mengonfrontasikan Al-Quran dengan sains dan teknologi. Sama sekali tidak, karena sejak awal Al-Quran mendorong umat Islam untuk mengembangkan keduanya. Masalahnya, fakta menunjukkan sebaliknya, di mana umat Islam tertinggal dalam sains dan teknologi. Untuk mengetahui fakta di balik itu, perlu kiranya melacak akar masalahnya dengan menggunakan pendekatan historis dan teologis. Pendekatan historis untuk mengungkap fakta sejarah perhatian umat Islam dan kontribusi mereka dalam sains dan teknologi. Sedangkan teologis digunakan untuk melacak dalil-dalil normatif Al-Quran dan Sunnah yang berkatian dengan sains dan teknologi, sehingga teridentifikasi posisi AlQuran dalam konteks ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para ilmuwan muslim klasik adalah pionir dalam pengembangan sains dan teknologi. Dengan semangat Al-Quran, mereka percaya diri bergumul dengan ilmu dan filsafat Yunani, menerjemahkan dan mengadaptasikan serta mengembangkannya. Terbukti Al-Quran merupakan sumber inspirasi, motivasi dan petunjuk mereka dalam mengembangkan sains dan teknologi, yang memungkinkannya memimpin peradaban dunia selama berabad-abad. Di samping itu, bertebaran ayat-ayat AlQuran baik eksplisit maupun figuratif, yang mendorong penguasaan sains dan teknologi dan memosisikan orang yang berilmu pada derajat yang tinggi. Melihat fakta sejarah dan dalil normatif Al-Quran, jika umat Islam tertinggal dalam sains dan teknologi, masalahnya bukan pada Al-Quran, tetapi pada sikap mereka terhadap Al-Quran, di samping faktor internal dan eksternal umat Islam. Untuk kembali memimpin peradaban dunia, umat Islam sekarang harus mengikuti para ilmuwan muslim klasik dalam bersikap dan mengamalkan Al-Quran sehingga mereka unggul dalam pengembangan sains dan teknologi. Fakta yang tidak terbantahkan, bahwa supremasi Barat dalam sains dan teknologi merupakan kesinambungan dari peradaban sebelumnya.
Penafsiran Tentang Ahli Kitab dalam Tafsir Al-Azhar Romadlon, Arif Firdausi Nur
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i1.67

Abstract

Fokus penelitian adalah penafsiran tentang Ahl al-Kitab dalam Tafsir al-Azhar. Tema Ahl AlKitab dipilih karena penyebutan Ahl Al-Kitab ditujukan kepada umat non-Islam, khususnya kaum Yahudi dan Nasrani. Namun ada beberapa komunitas agama yang diperselisihkan, seperti Majusi, Hindu, Budha, Konfusius, dan sebagainya. Sementara ada beberapa ulama yang mengategorikan mereka sebagai Ahl Al-Kitab, dan beberapa ulama lain menolak. Penelitian pustaka ini bersifat deskriptif-analitis. Sumber primernya adalah kitab Tafsir AlAzhar. Adapun sumber sekundernya meliputi tulisan-tulisan yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan: pertama, yang dimaksud dengan Ahl Al-Kitab adalah orangorang yang mempunyai atau berpegang teguh pada suatu kitab. Mereka terdiri dari kaum Yahudi, Nasrani, Shabiin, Majusi, dan kaum yang pernah diturunkan kepadanya Nabi dan kitab suci. Mereka dijamin keselamatannya oleh Allah dengan syarat keimanan yang tulus. Meskipun di antara mereka terdapat orang-orang yang saleh, namun di antara mereka juga ada yang berperangai buruk, seperti ingkar, fasik, dengki, menyembunyikan kebenaran kitab suci, dan berlebih-lebihan atau melanggar batas dalam agama. Kedua, penafsiran tentang Ahl Al-Kitab dalam Tafsir Al-Azhar dilandasi dengan dalil agama yang mutawatir yang dapat dipertanggungjawabkan.
Konsep Bara’ pada Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dalam Tafsîr Asy-Sya’rawi Alnas, Shuri Witra
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v5i2.109

Abstract

Barâ’ (berlepas diri) ialah Barâ’ merupakan salah satu dari dua konsekuensi dari kalimat tauhid Laa ilaha illa Allah. Barâ’ selau dibayangi dengan walâ’, dua hal ini menuai konsepkonsep tentang loyalitas serta permusuhan yang dibarometeri oleh rasa cinta dan benci. Masalah barâ’ merupakan masalah yang begitu lekat dengan kehidupan manusia seharihari tetapi esensinya jauh dari kehidupan umat muslim yang hidup di tengah kehidupan duniawinya, bahkan orang muslim tidak lagi memandang ini sebagai hal yang paling penting, khususnya berkaitan dengan persepsi manusia yakni idola dan life style, dan global culture. Padahal susah ataupun senang hidup seseorang tidak bisa terlepas dari masalah ini. Hal yang awalnya rancu dan haram untuk dilakukan di kalangan umat islam lambat laun dan dengan perlahan menjadi kebiasaan, hingga perbuatan ini dianggap jalan menuju kemajuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i (Tematik) dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Diawali dengan menentukan tema yang diangkat, mengumpulkan ayat-ayat yang akan dibahas dengan pecahan-pecahan katanya, mengaitkannya dengan tafsîrnya, mengambil istinbâth (kesimpulan) hukum dari dalil-dalil yang dikumpulkan. Adapun sumber primer yang digunakan adalah kitab Tafsîr Tafsîr Asy-Sya’râwî: Khawâtir Haul Al-Qur’ân Al-Karîm, karya Syaikh Asy-Sya’rawi. Hasil Analisa dari penelitian ini diketahui bahwa penafsiran perihal barâ’ ini memiliki satu makna secara garis besar yaitu ada lah berlepas diri dari kesyirikan itu adalah membebaskan diri dari hal yang merusak. Adapun takhliyah adalah memutus dari amalan yang merusak. Kemudian barganti dengan amalan mushlih, amalan positif. Juga sudah seharusnya kaum muslim mengidolakan para nabi, t erutama Nabi Ibrahim dalam hal ini yang telah memberikan contoh kepada kita bagaimana seharusnya esensi cinta dan benci bagi seorang muslim dan mengikuti manhajnya. Dan dari pemaparan yang telah disampaikan, setidak-tidaknya terdapat 6 poin penting yang harus direalisasikan seorang muslim dikehidupan sekarang ini.
Makna Sabar dalam Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an Kumalasari, Silva
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2020): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v4i2.58

Abstract

Sabar disebutkan di dalam Al-Qur’an secara berulang-ulang. Hal itu menjadikan pentingnya sifat sabar selalu ada pada diri dalam menjalani kehidupan ini, baik pada kondisi nyaman maupun terancam. Dalam Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an dijelaskan bahwa ash-shabru adalah sifat yang lazim dan harus dimiliki seorang muslim, di mana tidak mungkin seorang muslim memikul akidahnya, mengemban akidahnya, dan melaksanakan segala beban taklifnya melainkan dengan sifat itu. Sabar merupakan bekal di jalan dakwah Islam karena jalan dakwah ini panjang dan berat, penuh dengan rintangan dan duri, penuh dengan ancaman darah dan pembunuhan, gangguan dan bahaya. Maka, seorang juru dakwah belum cukup hanya berjihad saja. Tetapi, juga harus bersabar dalam memikul tugas-tugas dakwah tersebut. Sifat sabar juga merupakan salah satu sifat para Nabi. Allah menjanjikan balasan yang mulia dan tak terbatas untuk orang-orang yang sabar. Adapun makna sabar dalam Tafsir Fi Zhilal AlQur’an yang penulis temukan, di antaranya sabar dalam makna tabah, sabar dengan makna berteguh hati, sabar dengan makna melaksanakan secara sempurna dan merealisasikan pencapaian, dan sabar dengan makna tidak membantah dan menolak qadha dan qadar dari Allah. Sedangkan keterkaitan sabar dengan aspek kehidupan yang penulis temukan ada lima macam, di antaranya sabar dalam menjalankan perintah dan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menerima cobaan hidup, sabar dalam berdakwah, sabar dalam menghadapi peperangan dan sabar merupakan kunci kemuliaan dan amal yang balasannya tak terbatas.
Studi Penafsiran Asy-Sya'rawi atas Lafadz Ummatan Wahidah Saubari, Muhamad
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i1.96

Abstract

Di zaman yang penuh fitnah dan perpecahan seperti saat ini rasa persaudaraan (ukhuwah) dan persatuan menjadi sesuatu yang sangat mahal. Hanya karena mengejar kepentingan pribadi atau golongan seringkali persatuan dan persaudaraan disisihkan atau bahkan tidak digubris sama sekali. Umat Islam semakin mundur dan terpuruk karena perselisihan dan perpecahan di antara mereka sendiri. Padahal Islam memerintahkan umatnya untuk bersatu dan tolong-menolong dalam kebaikan. Banyak sekali dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang memerintahkan umat Islam untuk bersatu, menjaga persaudaraan dan juga bekerja sama dalam kebaikan, sehingga sudah sepatutnya umat Islam bersama-sama untuk kembali merajut persatuan umat dan ukhuwah Islamiyyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna lafadz ummatan wâhidah dalam Al-Qur’an berdasarkan Tafsîr Asy-Sya’râwi, dan untuk mengetahui metode penafisran Asy-Sya’râwi terhadap ayat-ayat ummatan wâhidah, serta untuk mengetahui kiat-kiat persatuan umat menurut Asy-Sya’râwi pada penafsirannya terhadap ayat-ayat ummatan wâhidah. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan “Library Research” (kepustakaan) dengan jenis penelitian maudhû’I (tematik) yaitu dengan mengupas secara konseptual dengan cara menulis, dan menyajikan data-data serta menganalisisnya. Semua sumber datanya berasal dari bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan topik yang telah bersumber dari data primer, yaitu Tafsîr asy-Sya’râwi. Hasil analisis dari penelitian ini diketahui bahwa penafsiran lafadz ummatan wâhidah dalam tafsîr asy-Sya’râwi, terdapat beberapa makna yang dipaparkan dan disesuaikan dengan konteks ayat, makna ummatan wâhidah yang dipaparkan diantaranya, kesatuan umat dalam mengikuti manhaj Nabi Âdam, kesatuan umat dalam di bawah satu syari’at, kesatuan umat dalam keimanan, kesatuan umat di atas hidayah, kesatuan umat di atas Al-Haq, kesatuan umat yang tidak ada perselisihan didalamnya, Kesatuan ummat di atas ‘aqîdah (ushul), dan kesatuan umat di atas kekufuran. Metode penafsiran yang digunakan oleh asy-Sya’râwi adalah metode penafsiran bil ma’tsûr dan juga dengan metode bi al-ra’yi.
Keautentikan Al-Qur'an dalam Perspektif Kemajuan Sains dan Teknologi Murdianto, Murdianto
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i1.49

Abstract

Setiap muslim pasti meyakini bahwa apa yang dibaca dan didengarnya dari ayat-ayat AlQuran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan demikian juga yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain yang menguatkan atau mendukung. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis tentang keautentikan Al-Quran dalam sudut pandang bidang sains dan teknologi, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan deduktif. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan menyeluruh penulis melakukan library research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Quranul Karim telah menggambarkan keberadaan alam semesta ini dengan ilustrasi yang sangat luar biasa, dan menyeru agar manusia menggunakan akal pikirannya untuk merenungkan ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. 14 abad yang lalu, melalui Al-Quranul Karim Allah Ta’ala telah meletakkan dasardasar sains dan teknologi yang sekaligus merupakan sumber ilmu pengetahuan mengenai hidup dan kehidupan dengan segala wujud dan manfaatnya, sudah banyak para ilmuwan melakukan riset dalam banyak bidang sains dan teknologi, dan semua itu ternyata bersumber dalam Al-Quranul Karim.
Studi Penafsiran Mitsaqan Ghalizha dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an Dinnillah, Fitria Izzah
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2018): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v2i1.87

Abstract

Tujuan Al-Qur’an diturunkan adalah untuk memberi petunjuk bagi manusia, yang menuntun kepada jalan yang lurus. Petunjuk-petunjuk yang mengandung pesan moral tersebut, harus dipahami dan diinterpretasikan dari setiap kata tanpa ada kepentingan dan tendensi yang menguntungkan diri sendiri. Berbagai pesan moral dalam Al-Qur’an harus dipelajari dan dipahami secara utuh dan komprehensif. Termasuk diantaranya adalah masalah janji. Terdapat banyak terminologi janji dalam al-Qur’an, salah satunya adalah mîtsâqan ghalîzha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Sayyid Quthb terhadap ayat-ayat mîtsâqan ghalîzha dalam perspektif Tafsir Fî Zhilâlil Qur’an dan pendekatan yang beliau gunakan dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research) melalui pendekatan tafsir maudhu’i (tematik) dengan kombinasi komparatif (perbandingan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mîtsâqan ghalîzha menurut Sayyid Quthb adalah tali yang terpintal kemudian dipakai untuk menggambarkan tentang sumpah dan perjanjian yang bersifat kuat, kokoh dan mantap. Dan pendekatan yang beliau gunakan untuk menafsirkan ayat-ayat mîtsâqan ghalîzha dalam tafsir Fî Zhilâlil Qur’an adalah tahlili.
Ayat Laknat dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Penafsiran Ayat Laknat dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim dan Tafsir Al-Mishbah Ba'abduh, Tsuroyya; Saputra, Akhmadiyah
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v5i1.39

Abstract

Laknat berarti mengutuk. Jika mendapatkan laknat Allah Subhânahu wa Ta’ala berarti kita dijauhkan dari rahmat-Nya. Allah Subhânahu wa Ta’ala melaknat seseorang diakibatkan karena mereka melakukan hal yang dilarang Allah Subhânahu wa Ta’ala. Jika dilaknat oleh Allah Subhânahu wa Ta’ala, maka Allah Subhânahu wa Ta’ala tidak akan memberikan pertolongan terhadapnya. Oleh karena itu, kita perlu untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan turunnya laknat Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran laknat dalam Al-Qur’an berdasarkan tafsir Al-Qur’an Al-Adzim karya Ibnu Katsir dan tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab serta mengetahui persamaan dan perbedaan penafsiran ayat-ayat laknat dalam Al-Qur’an antara dua mufassir tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan data yang berhubungan dengan objek penelitian dari kitab tafsir dan bukubuku yang relevan dengan pembahasan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode komparatif, yaitu dengan membandingkan penafsiran ayat Al-Qur’an dari satu kitab dengan kitab lainnya. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa laknat artinya kutuk. Persamaan penafsiran antara kedua mufassir tersebut terletak dalam memaknai hakikat laknat. Menurut keduanya, jika dilaknat Allah Subhânahu wa Ta’ala berarti dijauhkan dari rahmat-Nya serta dijauhkan segala kebaikan darinya. Perbedaan penafsiran antara kedua mufassir tersebut terletak pada penyebab Allah Subhânahu wa Ta’ala menurunkan laknat, yaitu laknat terhadap Yahudi dan Bani Israil.
Studi Penafsiran Ayat-ayat Tawâdhu’ dalam Tafsir Al-Mishbah Rahmawati, Arvita
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i2.74

Abstract

Tawadhu’ artinya rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Tawâdhu’ merupakan sifat menonjol bagi seorang yang beriman, maka pemahaman serta pengamalan sifat ini adalah sebuah keharusan. Penelitian ini membahas tentang bagaimana penafsiran ayat-ayat tawâdhu’ dan bentuk-bentuknya dalam tafsir Al-Mishbah. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, kemudian menganalisis dengan pendekatan tafsir tematik. Dalam hal ini peneliti mengikuti cara kerja yang dipaparkan oleh Al-Farmawi dalam kitabnya Al-Bidâyah Fi Al-Tafsîr Al-Maudhû’i. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa tawadhu’ adalah suatu akhlak terpuji yang tidak terbatas pada perilaku keseharian saja, tetapi meliputi sikap seorang hamba kepada Rabb-nya serta muamalah kepada sesama manusia pada umumnya dan saudara seiman pada khususnya. Adapun bentuk-bentuk tawâdhu’ dalam tafsir Al-Mishbah adalah menganggap sesama mukmin sebagai saudara, lemah lembut dalam bergaul dan menasihati,membantu meringankan kesulitan orang lain, menerima kebenaran dari siapa saja, selalu menyadari kekuasaan Allah, tidak menyombongkan karunia yang Allah berikan, dekat dan akrab serta melindungi saudara seiman yang lemah, berkepribadian lemah lembut dan penuh wibawa, tidak menghiraukan perkataan yang menimbulkan emosi, tidak memalingkan muka saat bertemu orang lain, tidak berjalan dengan angkuh, tidak membanggakan keimanan yang dimiliki, saling menyayangi dan saling menolong.
Studi Penafsiran Ayat-ayat Khiyanat dalam Tafsir Al-Mishbah Ridho, Muhammad Mukharrom; Syaputri, Lidya Fahrika
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2022): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v6i1.117

Abstract

Banyak sekali fenomena yang terjadi di masyarakat tentang perbuatan khianat, hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan dengan orang lain dibumbui dengan kecurangan. Padahal agama sudah melarang dan menyuruh manusia yang lurus fitrahnya mengatakan bahwa perbuatan itu buruk dan tidak terpuji. Di antara perbuatan khianat yang sering terjadi di masyarakat yaitu pemimpin atau seseorang yang memiliki jabatan sering kali menyalahgunakan jabatannya untuk menipu rakyat atau orang-orang yang berada dalam kepemimpinannya, dalam jual beli seperti menyembunyikan kecacatan dan mengurangi timbangan, dan dalam ilmu seperti mendapatkan ijazah dengan cara tidak jujur dan curang dalam praktek ujian. Khianat diartikan penghianatan, kecurangan. Sedangkan dalam kamus bahasa indonesia khianat adalah seseorang yang mempunyai sifat tidak setia, mengingkari janji, tipu daya perbuatan khianat dibenci oleh Tuhan. Penelitian ini bersifat penelitian pustaka (library research) dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan tematik term, yakni model kajian tematik yang secara khusus meneliti term (istilah-istilah) tertentu dalam Al-Qur’an. Sumber data primer atau rujukan utamanya yaitu Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab (Lentera hati: Tangerang, 2016. edisi revisi). Adapun sumber data sekunder tafsir lainnya, buku-buku pendukung, literatur dari buku, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan artikel yang relevan dengan tema. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa ayat tentang khianat dalam Al-Qur’an terdapat sebelas ayat, Adapun makna khianat dalam Tafsir Al-Mishbah adalah sesuatu yang tersembunyi, pandangan negatif yang tersembunyi, pengkhianatan terhadap diri sendiri, mengkhianati hukum, para pelaku khianat, orang-orang yang sengaja lagi tekun dan terus-menerus mengkhianati dirinya, berulang-ulangnya pengkhianatan, khianat perbuatan, khianat antonim amanat (khianat terhadap Allah dan Rasul), khianat dalam perjanjian, khianat terhadap Allah dan Rasul, khianat terhadap amanah keagamaan, tidak mensyukurinya, dan khianat terhadap suami (khianat karena tidak mau mendukung perjuangan suami).

Page 2 of 12 | Total Record : 112


Filter by Year

2017 2025