cover
Contact Name
Malik
Contact Email
alkarimastiq@gmail.com
Phone
+6287881807504
Journal Mail Official
messakelam@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Tawangmangu KM. 34 Pakel, Gerdu, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Kode Pos: 57791 Telp : (0271) 6901044
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir
ISSN : 25493035     EISSN : 28293703     DOI : -
Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Isy Karima Karanganyar setiap bulan Februari dan Agustus setiap tahun
Articles 112 Documents
Konsep Munasabah QS. Al-Baqarah Ayat 237-240 dalam Kitab Tafsir Nazhm Ad-Durar Fî Tanasub Al-Ayat wa As-Suwar Romadlon, Arif Firdausi Nur; Indah Sari, Dina Duwi
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i2.25

Abstract

Ilmu munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur’an. Ilmu ini muncul pada abad ke-4 Hijriyah berdasarkan realita bahwa susunan surat dan ayat Al-Qur’an tidak berdasarkan waktu turunnya, akan tetapi susunannya berdasarkan perintah dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Penelitian ini berusaha untuk menjawab dua pertanyaan, bagaimanakah penerapan munasabah QS. Al-Baqarah ayat 237-240 dalam kitab tafsir Nazhm Ad-Duror Fî Tanâsub Al-Âyât Wa As-Suwar? Dan bagaimanakah konsep munasabah QS. Al-Baqarah ayat 237-240 dalam kitab tafsir Nazhm Ad-Duror Fî Tanâsub Al-Âyât Wa As-Suwar?. Peneliti menemukan enam konsep munasabah antarayat yang digunakan Al-Biqa’i pada QS. Al-Baqarah ayat 237-240. Pertama, Munasabah antarayat dalam satu surat. Kedua, Munasabah antara ayat dan penutupnya. Ketiga, Munasabah antarkata dalam satu ayat. Keempat, Munasabah antarkalimat dalam satu ayat. Kelima, Munasabah antarayat di lain surat. Keenam, Munasabah antara kata dan huruf yang menyertainya. Sedangkan dalam penerapannya, Al-Biqa’i selalu berusaha untuk mencari munasabah antarayat dalam satu surat dan munasabah antara ayat dan penutupnya. Bahkan terkadang beliau juga mencantumkan munasabah antarayat di lain surat. Akan tetapi, Al-Biqa’i tidak menyebutkan setiap munasabah antarkalimat dan antarkata.
Telaah Ayat-Ayat Tentang Abû Bakar Ash-Shiddîq dalam Al-Qur`an Menurut Tafsir Al-Misbah Yaqin, Muhammad Ainul
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2020): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v4i1.63

Abstract

Generasi terbaik adalah generasi para sahabat. Abû Bakar Ash-Shiddîq merupakan salah satu sahabat terbaik di antara sahabat yang lain. Dengan sifat yang mulia, walaupun namanya tidak tercantum dalam Al-Qur`an, ada 16 tema dalam Al-Qur`an turun berkenaan dengan Abû Bakar Ash-Shiddîq. Kajian fokus pada telaah ayat-ayat tentang Abû Bakar Ash-Shiddîq dalam Al-Qur`an menurut tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab yang merupakan salah satu 36 tafsir nusantara yang bercorak kemaysarakatan. Penelitian ini berbasis kajian kepustakaan (library research) dengan pendekatan maudhu’i (tematik). Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penafsiran atas ayat-ayat tentang Abû Bakar Ash-Shiddîq dalam Tafsir Al-Mibah karya M. Quraish Shihab telah dilakukan dengan metode tahlili secara sistematis, namun ada aspek tertentu yang terlewatkan dalam beberapa hal berikut: a) Asbabu An-Nuzul termasuk, yaitu pada Surat Âli ‘Imron ayat 159, Âli ‘Imron ayat 186, Al-Hijr 47, Al-Ahzab ayat 43, ArRahman ayat 46, At-Tahrim ayat 4, serta Al-Lail ayat 5—16; b) Penguatan penafsiran dengan hadits dan sirah, yaitu pada surat Al-Anfâl ayat 67—68; c) Syariat Islam, yaitu pada rincian pembagian ghanimah. Hal yang unggul dalam penafsiran ini adalah pembahasan tentang munasabat yang terangkum dalam 6 macam munasabat. Penafsiran M. Quraish Shihab ini data disimpulkan sejalan dengan penafsiran Ulama’ Ahlu As-Sunnah wa Al-Jama’ah, tidak ditemukan hal-hal yang menunjukkan bahwa penafsiran M. Quraish Shihab condong kepada pemikiran sekte syiah. Penelitian ini juga menyimpulkan adapun pesan moral yang dapat sosok Abû Bakar Ash-Shiddîq, yaitu ketakwaan, menjadi sahabat yang baik, kedermawanan, keberanian, pemaaf, tobat, tawakal, dan menjaga lisan.
Karakteristik Wanita Shalihah dalam Tafsir Ath-Thabari: Kajian Tafsir Surat an-Nisa Ayat 34 dan al-Ahzab Ayat 33 Murdianto, Murdianto; Suparyani, Suparyani
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v5i2.105

Abstract

Dalam al-Qur’an terdapat 165 kata shalaha dan turunannya dalam berbagai variasi penggunaan dan pengulangannya yang berarti yang baik atau yang bagus. Sedangkan kata shalihât sendiri merupakan bentuk jamak muannats dari kata shalaha yang di dalam alQur`an diulang sebanyak 36 kali.Dalam surat an-Nisa` ayat 34 disebutkan kata shalihât yang oleh para ahli tafsir di artikan wanita shalihah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengertian wanita shalihah itu dan apa saja karakternya menurut tafsir Jami` al-Bayan `An Takwili Ayi al-Qur`an karya imam ath-Thabari. Metode yang digunakan adalah metode Tahlili dengan langkah-langkah memaparkan ayat yang dibahas kemudian mengkajinya dari segala segi dan makna, ayat demi ayat, surat demi surat sesuai dengan urutan mushaf utsmani, yang memaparkan mufrodât, munâsabah, dan asbâbun nuzûl. Memaparkan tafsir ayat tersebut dengan merujuk pada tafsir ath-Thabari, kemudian menyebutkan karakteristik wanita shalihah dalam ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengertian wanita shalihah adalah wanita yang lurus dalam menjalankan agama dan melakukan kebaikan, yang memiliki karakteristik diantaranya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada suaminya, menjaga kehormatannya dan menjaga harta suaminya, merasa tenang tinggal di rumahnya, jika keluar dari rumahnya tidak bertabarruj, jika suaminya melihatnya maka dia menyenangkan hati suaminya, menjaga dan mendirikan shalat wajibnya, dan menunaikan zakat wajibnya.
Etika Komunikasi dalam Al-Quran Perspektif Kitab Tafsir Karya Kementerian Agama Republik Indonesia Murdianto, Murdianto
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v5i1.54

Abstract

Aspek etika dalam berbicara sering kali tidak diperhatikan dalam aktivitas saat berkomunikasi, sehingga menimbukan dampak negatif. Penulis bermaksud untuk meneliti ayat-ayat tentang etika komunikasi dalam Al-Quran perspektif Kitab Tafsir karya Kementerian Agama Republik Indonesia, menelusuri tujuan dari penerapan etika komunikasi dalam kehidupan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif komparatif dan menggunakan metode dokumentasi dan metode analitis tematik. Berdasarkan hasil penelitian ini, di dalam Al-Quran ada beberapa etika komunikasi jika diambil dari kata Qaulan, yaitu: berkata dengan lemah lembut, sesuai dengan fakta, dengan sikap hormat terutama kepada yang lebih tua, memilih kata-kata yang memberi efek positif pada jiwa lawan bicara, mudah untuk dipahami, menjauhi kata-kata yang menyebabkan permusuhan dan memilih kata-kata yang paling baik serta sudah biasa digunakan di masyarakat. Sedangkan tujuan dari penerapan etika komunikasi dalam kehidupan sehari-hari adalah agar terciptanya pola komunikasi yang efektif dan inovatif sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh lawan bicara dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Penafsiran Ibnu Qayyim Tentang Al-Mu’awwidzatain dalam Kitab At-Tafsir Al-Qayyim Shoolihah, Badriyatus
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2018): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v2i2.92

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Ibnu Qayyim terhadap al-mu’awidzatain (surat Al-Falâq dan An-Nâs) dalam kitab At-Tafsîr Al-Qayyim dan untuk mengetahui metode penafsiran Ibnu Qayyim terhadap al-mu’awidzatain (surat Al-Falâq dan An-Nâs). Guna mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan jenis penelitian pustaka (library research) dan menggunakan teknik analisis data deskriptif analitis. Yang mana langkah awal akan didiskripsikan mengenai penafsiran Ibnu Qayyim terhadap surat Al-Falaq dan surat An-Nâs, kemudian selanjutnya, dianalisis dengan melibatkan beberapa metode penafsiran yang telah banyak disepakati oleh para ulama. Maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini, yaitu dalam menafsirkan surat Al-Falaq dan An-Nâs, Ibnu Qayyim menguraikan masing-masing surat dalam porsi yang sangat luas. Yang mana dalam setiap surat terdapat pasal-pasal. Kemudian dalam penafsirannya, selain menggunakan pendapatnya sendiri, Ibnu Qayyim juga mengambil pendapat para mufasir dan juga menyertakan hadist atau ayat Al-Qur’an untuk mendukung pendapatnya. Isi kandungan surat Al-Falaq mengenai permohonan perlindungan berupa kejahatan dari luar, yaitu kejahatan makhluk yang memiliki kejahatan secara umum, kejahatan waktu malam apabila telah gelap gulita, kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembuskan buhul-buhul, dan kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Sedangkan surat An-Nâs terkandung didalamnya mengenai permohonan perlindungan yang berupa kejahatan dari dalam, yaitu berupa bisikan setan. Dan ditinjau dari segi sumber penafsirannya, dalam menafsirkan surat Al-Falaq dan An-Nâs dalam kitab At-Tafsîr Al-Qayyim, Ibnu Qayyim menggunakan tafsir bi ar-ra’yi. Dan metode penafsiran yang digunakan adalah dengan menggunakan metode tahlili. Sedangkan corak penafsirannya bercorak Sufi-Adaby.
Itab (Teguran) kepada Rasulullah SAW dalam Al-Qur’an: Telaah Kitab Tafsîr Al-Qur’an Al-‘Azhim Kamila, Tsalitsa Noor
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i1.44

Abstract

The focus of this research is the interpretation of ‘Itâb (reprimand) to the Messenger of Allah in the Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm. The theme of ‘Itâb (reprimand) To the Prophet Muhammad was chosen because of this library research is descriptive-analytical. The primary source is the book of Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm. The secondary sources include writings that are relevant with this study. This research concludes: first, what is meant by 'Itâb (reprimand) is Allah's rebuke to the Messenger of Allah not because the Messenger of Allah was guilty or sinful, but ijtihad (his choice) violates what should be taken, even though ijtihad in Islam is permitted, but he is Prophet, Apostle, and as uswatun hasanah which is a good example for all people. As for the verse ‘Itâb (reprimand) to the Prophet Muhammad there were 12 places in the Qur'an according to the event. Q.S. an-Nisa '[4]: 105-113, Q.S. al-An'am [6]: 52-54, Q.S. al-Anfal [8]: 67-69, Q.S. at-Taubah [9]: 43-45, Q.S. at-Taubah [9]: 84, Q.S. al-Isra ’[17]: 73-77, Q.S. al-kahfi [18]: 23-24, Q.S. al-Hajj [22]: 52-54, Q.S. al-Ahzab [33]: 28, Q.S. al-Ahzab [33]: 36-40, Q.S. at-Tahrim [66]: 1-5, and Q.S. Abasa [80]: 1-16. Second, the interpretation of ‘Itâb (reprimand) to the Messenger of Allah in the Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm is based on mutawatir religious arguments that can be accounted for.
Israiliyyat Kisah Nabi Sulaiman dalam Tafsir Thabari Munawaroh, Siti
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2018): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v2i1.83

Abstract

Riwayat israiliyyat yang disebutkan Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya tentang kisah Nabi Sulaiman terdapat pada QS.al-Anbiya: 81 berkenaan dengan kemegahan kerajaan Nabi Sulaiman dan kemampuannya menguasai angin, QS.an-Naml: 35 berkenaan dengan hadiah Ratu Balqis untuk Nabi Sulaiman, QS.an-Naml: 44 berkenaan dengan kisah pembangunan istana untuk Ratu Balqis, dan selanjutnya pada QS.Shaad: 34 tentang cobaan ataupun ujian yang Allah berikan untuk Nabi Sulaiman. dan dari kisah Nabi Sulaiman yang disebutkan dalam Al-Qur’an dapat kita ambil beberapa ibrah ataupun pelajaran berharga seperti pelajaran tentang kepemimpinan dan tata cara bernegara, sikap yang baik ketika menghadapi cobaan dari Allah, serta membuktikan satu hal bahwa bangsa jin tidaklah mengetahui tentang hal ghaib.
Metode Dakwah dalam Al-Qur'an: Studi Komparatif Penafsiran Ayat-Ayat Dakwah dalam Kitab Tafsir Al-Azhar Karya Hamka dan Kitab Tafsir An-Nûr Karya Hasbi Ash-Shidieqy Muttaqin, Muttaqin
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i2.33

Abstract

Dakwah adalah hal yang mendesak dan diperlukan dalam kehidupan masyarakat. Orang-orang mulai tenggelam dalam kehidupan duniawi dengan segala perkembangan dan kemewahannya. Mereka tidak dapat membedakan mana yang seharusnya dipilih dan yang tidak. Oleh karena itu, dakwah memiliki peran utama dalam membimbing orang untuk dapat menentukan jalan yang benar (Shirat al-Mustaqim) di antara jalan-jalan yang ada dalam kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dakwah dalam Al-Qur’an menurut Tafsir Al-Azhar dan Tafsir An-Noor serta menemukan perbedaan dan persamaan metode dakwah dalam Al-Qur’an menurut Tafsir Al-Azhar dan Tafsir An-Noor. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan membahas secara konseptual termasuk penulisan, penyuntingan, dan penyajian data kemudian menganalisisnya. Semua sumber data berasal dari bahan tertulis yang terkait dengan topik dari data primer; Tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh Prof. Dr. Hamka dan Tafsir An-Noor yang ditulis oleh Hasbi Ash-Shidieqy. Peneliti menggunakan metode deskriptif yang menekankan pada pengamatan gejala, peristiwa, dan kondisi aktual saat ini, sementara metode penelitian lain yang digunakan adalah metode komparatif dengan menafsirkan teks ayat Al-Qur’an tertentu atau dengan membandingkan ayat dan ayat, ayat dan hadits, atau ayat dan pendapat Ulama Tafsir dalam hal perbedaan dan persamaan. Dakwah akan berhasil jika metode yang digunakan tepat dan benar. Dakwah harus dilakukan dengan lembut tanpa paksaan, hikmah, mau’izhah hasanah, mujadalah, dan disampaikan apa adanya tanpa ada yang disembunyikan.
Birrul Walidain dalam Tafsir Aisar At-Tafasir Karya Abu Bakar Jabir Al-Jazairi Opier, Nunuk Istianah
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i2.68

Abstract

Birrul Wâlidain atau berbakti kedua orang tua merupakan salah satu amalan yang sangat penting dalam Islam, ia juga memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama. Penelitian ini membahas tentang bagaimana penafsiran Al-Jazairi tentang ayat birrul wâlidain dalam tafsirnya dan bagaimana cara birrul wâlidain yang dijelaskan di dalamnya. Untuk mendapatkan data yang objektif dari permasalahan di atas, maka peneliti menggunakan metode deskriptif analitis yakni Peneliti berusaha menggambarkan objek penelitian dalam tafsir Aisar At-Tafâsîr, yaitu penafsiran Abu Bakar Jabir Al-Jazairi terhadap ayat-ayat birrul wâlidain, dan bukubuku yang berkaitan dengan tema, kemudian menganalisis dengan pendekatan tafsir tematik. Dalam hal ini peneliti mengikuti cara kerja yang dipaparkan oleh Al-Farmawi dalam kitab Al-Bidâyah Fi Al-Tafsir Al-Maudh'i. Hasil penelitian ini menemukan terdapat sembilan surat yang membahas tentang birrul wâlidain dalam Al-Qur’an, dalam tafsirnya dijelaskan bahwa birrul walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, berbakti kepada kedua orang tua dapat dilakukan dalam bentuk perbuatan dan perkataan. Misalnya dengan mengucapkan perkataan yang baik, tidak menyakiti mereka, dan menaati perintah kedua orang tua selama bukan untuk bermaksiat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penafsiran Surah Al-'Ashr dalam Tafsir Maraghi Saputra, Akhmadiyah; Balqis, Balqis
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2022): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v6i1.113

Abstract

Kini manusia mengalami berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial, hukum, pendidikan, dan lain sebagainya dan masih banyak lagi berbagai akibat dari pandangan hidup yang materialistik, yang sudah merusak akidah dan akhlaknya. Oleh karena itu, kita perlu untuk mengetahui bagaimana isi kandungan surah Al-Ashr. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penafsiran Al-Maraghi terhadap penafsiran surah Al-Ashr dalam Tafsir Al-Maraghi, serta menyebutkan langkah-langkah agar terhindar dari orang merugi dalam Tafsir Al- Maraghi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, menggunakan sumber data primernya adalah Kitab Tafsir Al-Maraghi karya Imam Ahmad Musthafa Al- Maraghi. Sedangkan sumber data sekunder adalah kitab tafsir dan buku-buku lain yang memiliki keterkaitan pembahasan dengan penelitan ini. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan metode tematik (maudhu’i) sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Allah Ta’ala telah bersumpah dengan waktu, yang sumpah itu memiliki perhatian lebih, yaitu terdapat manusia yang merugi kecuali, pertama orang-orang yang mendasari kehidupan dengan beriman, meyakini jika manusia hidup di dunia karena hendak Allah. kedua mengamalkan kebaikan yang sesuai dengan ajaran Islam, ketiga saling memberi nasihat yang benar sesuai tuntunan agama, keempat saling menasehati sabar dalam menghadapi segala masalah. Skripsi ini berharap dikemudian hari ada penulis yang menyempurnakan penelitian ini.

Page 3 of 12 | Total Record : 112


Filter by Year

2017 2025