cover
Contact Name
Malik
Contact Email
alkarimastiq@gmail.com
Phone
+6287881807504
Journal Mail Official
messakelam@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Tawangmangu KM. 34 Pakel, Gerdu, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Kode Pos: 57791 Telp : (0271) 6901044
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir
ISSN : 25493035     EISSN : 28293703     DOI : -
Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Isy Karima Karanganyar setiap bulan Februari dan Agustus setiap tahun
Articles 112 Documents
Penafsiran Ayat-ayat Isti`dzan dalam Tafsir Ibnu Katsir Mardlotillah, Mahmudah
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2020): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v4i2.59

Abstract

Salah satu adab yang mulai ditinggalkan dan dianggap remeh oleh sebagian manusia yaitu adalah meminta izin, padahal adab ini sangat penting sekali dan besar manfaatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui maksud dari Penafsiran ayat-ayat Istidzan dalam Al-Qur`ân, dan bagaimana penafsiran Ibnu Katsir pada ayat-ayat Isti`dzân tersebut. Penulis sengaja memilih metode penelitian kepustakaan (library research), karena jenis penelitian ini sesuai dengan topik permasalahan yang penulis kaji yaitu studi penafsiran ayat-ayat yang berkaitan tentang meminta izin dalam Al-Qur`ân menurut Tafsir Ibnu Katsir. Penulis menggunakan jenis penelitian ini karena sepenuhnya menggunakan sumber-sumber data dari buku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Imam Ibnu Katsir dalam memaknai lafadz isti`dzân sesuai dengan konteks dan objek yang disandari lafadz isti`dzân. Ketika lafadz isti`dzân disandarkan kepada orang beriman maka maknanya adalah sifat positif yang mengajarkan tentang etika yang baik utuk meminta izin kepada orang lain berkaitan tentang hak dan wewenangnya, sedangkan jika lafadz isti`dzân disandarkan kepada orang-orang munafik maka maknanya adalah sikaf negatif yang menjelaskan tentang watak dan sikap mereka yang sebenarnya, contohnya saat diperintahkan untuk berangkat jihad maka mereka akan selalu meminta izin untuk tidak ikut berjihad dengan berbagai alasan yang bukan syar’i.
Studi Penafsiran Lafadz Muthmainnah dalam Tafsir Al-Azhar Istitha'ah, Asiyah
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i1.97

Abstract

Manusia termasuk individu yang mempunyai kesatuan raga dan jiwa, dibuktikan dalam kehidupan sehari-harinya. Ketika dalam bergaul antarsesama, perkataan yang baik akan mengantarnya pada kebahagiaan dan sebaliknya. Dalam hal ini, jiwa juga berperan dalam menentukan kondisi seseorang untuk menjalankan kebaikan ataupun keburukan yang akan menyebabkan penyakit hati. Muara kebahagiaan dan kesengsaraan adalah hati. Hati yang sehat (qolbun salim) adalah hati yang merasa bahagia dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah swt. Ia hanya akan merasa tenang dengan zikir kepada Allah swt. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran terhadap lafadz Muthmainnah dalam tafsirAl-Azhar dan bagaimana cara menyucikan jiwa dalam Tafsir Al-Azhar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i (tematik) dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Diawali dengan menetapkan tema yang akan dibahas, menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan tema, menganalisis masing-masing ayat secara menyeluruh dengan fokus kajian terhadap sumber yang telah ditentukan. Hasil analisis dari penelitian ini didapatkan bahwa lafadz Muthmainnah dalam Al-Qur’an yang disebutkan Hamka memiliki tujuh tema dan pembahasan yang berbeda. Tujuh tema tersebut ialah, zikir, jiwa, kemenangan (pada Perang Badar), Iman, ketenteraman, Malaikat (Rasul), dan kepuasan terhadap dunia.
Konsep Kemanusiaan dalam Pandangan Islam Wirastho, Edy
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i1.50

Abstract

Kemanusiaan adalah salah satu isu penting di dalam pembahasan masalah kehidupan kontemporer. Prinsip persamaan dan kemerdekaan sebagai manusia dijadikan alasan pembenaran bahwa semua manusia mempunyai kedudukan yang sama sehingga bebas menentukan sikap dan pilihan hidupnya. Makalah ini berusaha untuk mengetahui pandangan Islam terhadap kemanusiaan dan konsep kemanusiaan yang diusung dalam piagam hak asasi manusia (universal Declaration of human right). Metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif, tepatnya library research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada konsep kemanusiaan yang diusung barat berbeda dengan pandangan hidup Islam yang cenderung semaunya sendiri. Sedangkan konsep Islam yang dilandasi dibatasi dan diatur oleh wahyu.
Studi Penafsiran Tasbih Alam Semesta dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib Rohman, Abdur
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2018): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v2i1.88

Abstract

Penyebutan kata tasbih terdapat di banyak tempat dalam Al-Qur`an. Tidak ada sesuatu yang diulang dalam Al-Qur`an melainkan hal tersebut mempunyai kedudukan yang tinggi dan agar dijadikan perhatian oleh pembacanya. Al-Qur`an menyebutkan bahwa tidak hanya manusia saja sebagai khalifah di bumi yang bertasbih. Akan tetapi alam semesta beserta seluruh isinya juga bertasbih kepada Allah Ta’âla. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran terhadap ayat-ayat yang membicarakan tasbih alam semesta dalam tafsir Mafâtîh al-Ghaib dan metode penafsiran yang dipakai oleh penulisnya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i (tematik) dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Diawali dengan menetapkan tema yang akan dibahas, menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan tema, menganalisa masing-masing ayat secara menyeluruh dengan fokus kajian terhadap sumber yang telah ditentukan. Hasil analisa dari penelitian ini diketahui bahwa dalam tafsir Mafâtîh al-Ghaib dijelaskan makhluk mukallaf bertasbih kepada Allah dengan dua cara: Pertama dengan ucapan (lisân al-maqâl). Kedua, dengan perbuatannya (lisân al-hâl) yang menunjukkan pengesaan kepada Allah, memuliakan dan mensucikan-Nya. Adapun tasbih makhluk yang ghairu mukallaf seperti hewan, tumbuhan, dan benda-benda mati, maka tasbihnya dilakukan dengan lisân al-hâl. Sedangkan metode yang dipakai dalam penafsiran terhadap ayat-ayat tasbih alam semesta antara lain: memperhatikan hubungan (munâsabah) antar ayat, susunan dan pemilihan kata dalam ayat, pemaparan pendapat yang berseberangan secara detail untuk kemudian dibantah, dan penafsiran didominasi ra`yu penulis.
Berbakti Kepada Kedua Orang Tua: Studi Komparatif Tafsir Al-Maraghi Dan Tafsir Al-Azhar Nurdiannisa, Afina Azmi; Romadlon, Arif Firdausi Nur
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v5i1.40

Abstract

Kedua orang tua adalah hamba Allah yang menjadi perantara hadirnya sang anak di dunia ini. Perintah berbakti kepada kedua orang tua dalam Al-Qur’an selalu disandingkan dengan perintah untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Sedangkan fenomena yang terjadi adalah banyaknya kasus anak yang durhaka kepada orang tuanya. Penelitian ini akan mengkaji mengenai pentingnya berbakti kepada orang tua dan perbandingan penafsiran antara kitab Tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi dengan Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Dua mufassir kontemporer yang memiliki perbedaan latar belakang tempat, akan tetapi memiliki metode dan corak penafsiran yang sama yakni metode tahlili dan corak sastra budaya kemasyarakatan. Dalam merumuskan hasil penelitian skripsi ini, jenis penelitian yang digunakan adalah “library research” (kepustakaan). Dan adanya pengumpulan data ini bersumber dari data primer, yaitu Tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi dan Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Dalam metode analisis ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis. Dalam menafsirkan ayat-ayat tentang berbakti kepada kedua orang tua, Al-Maraghi dan Hamka sama menjelaskan mengenai konsep berbakti kepada orang tua yang disebutkan di beberapa ayat yang sama. Di mana di sana dijelaskan mengenai pengertian, anjuran, dan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, serta kewajiban dan hak orang tua yang hendaknya dilakukan oleh anak kepada orang tua Sedangkan perbedaan yang ada dalam penafsiran keduanya adalah dari penukilan hadits, penambahan keterangan maupun penggabungan ayat ketika menafsirkan.
Alternatif Penyelesaian Sengketa dalam Al-Qur’an Ridho, Muhammad Mukharom
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i2.78

Abstract

Dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia, tak luput mereka selalu diwarnai berbagai permasalahan konflik mulai dari yang terkecil adalah konflik pribadi hingga konflik kelompok dan bahkan agama, bangsa maupun negara. Kondisi seperti ini menuntut langkah cepat untuk memperbaiki dan merekonsiliasi hubungan antara pihak-pihak terkait sehingga senantiasa tercipta kehidupan yang harmonis saling pengertian dan damai. Usaha penyelesaian sengketa di dalam Al-Qur’an biasa disebut dengan istilah Al-Ishlah. Term ishlah sendiri dapat juga diartikan sebagai perbuatan terpuji dalam kaitannya dengan perilaku manusia. Beberapa ahli fiqih memberikan definisi yang hampir sama meskipun dalam redaksi yang berbeda, arti yang mudah dipahami adalah memutus suatu persengketaan. Dalam penerapan yang dapat kita pahami adalah suatu akad dengan maksud untuk mengakhiri suatu persengketaan antara dua orang yang saling bersengketa yang berakhir dengan perdamaian dan tidak merugikan salah satu pihak (win-win solution). Pada umumnya penyelesaian sengketa dilakukan melalui dua proses. Yaitu melalui proses litigasi didalam pengadilan dan penyelesaian sengketa melalui proses kooperatif di luar pengadilan. Proses penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi sering dinilai kurang mampu merangkul kepentingan bersama, bersifat adversal, dapat menimbulkan permasalahan baru, mahal dan kurang responsif. Sementara penyelesaian melalui jalur di luar pengadilan justru cenderung menghasilkan “win win solution”, kerahasiaan pihak-pihak terjamin, prosedur mudah, murah, komprehensif dalam kebersamaan dan tetap menjaga hubungan baik.
Studi Penafsiran Lafadz Syafa’at dalam Tafsir Al-Wasith Karya Wahbah Az-Zuhaili Rokhani, Siti; Afina, Ajriya Nur
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2022): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v6i1.118

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman telah banyak penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang terus berkembang. Kesalahpahaman dalam mengartikan sebuah makna lafadz khususnya yang menyangkut masalah akidah bisa fatal, karena akan menjerumuskan seseorang pada kesyirikan. Penyimpangan pemahaman masyarakat tentang syafa’at masih banyak, dikarenakan makna syafa’at itu sendiri banyak, ada yang mengartikan atau menafsirkan bahwa syafa’at dapat diperoleh dengan pergi ke kuburan orang-orang shalih kemudian meminta syafa’at atau pertolongan kepada mereka, padahal tidak ada hadits ataupun ayat Al-Qur’an yang membolehkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran mengetahui penafsiran lafadz syafa’at dalam Al-Qur’an berdasarkan Tafsir Al-Wasith karya Wahbah az-Zuhaili. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif analitik. Dari penelitian ini secara umum membahas lima tema lafadz syafa’at dalam Al-Qur’an yaitu: 1) syafa’at atas izin Allah, 2) syafa’at milik Allah, 3) Kalangan yang tidak mendapat syafa’at, 4) Syafa’at di dunia, 5) Genap.
Studi Penafsiran Makna Tabarruj dalam Tafsîr Ath- Thabari dan Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an Sofa, Evi Berliana
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2020): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v4i2.28

Abstract

Islam datang untuk memuliakan wanita yang mana saat itu masyarakat jâhilîyah membenci wanita sekaligus tidak menginginkannya. Allah memerintahkan kepada kaum wanita untuk menjaga kehormatan diri (iffah) agar tidak terjerumus melakukan perkara-perkara yang membuat dirinya terdorong kepada sifat keji dan menjaga diri dari perbuatan tabarruj. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research). Sumber primernya adalah Tafsîr Ath- Thâbarî dan kitab Al-Jâmi' Li Ahkâm Al-Qur'ân yakni dalam membandingkan penafsiran makna tabarruj. Hasil penelitian makna tabarruj berdasarkan kitab Tafsîr ath-Thâbarî ialah berjalan berlenggak- lenggok dan ayat ini merupakan perintah Allah Swt. kepada para istri Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassallam saja, sedangkan menurut Imam Al-Qurthubi surat Al-Azhab ayat 33 ini diperintahkan kepada para istri Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassallam sekaligus kepada kaum wanita lainnya dan makna tabarruj adalah terbuka dan nampak oleh pandangan mata. Keduanya sama-sama menafsirkan jâhilîyah al–'ula berada pada masa sebelum Islam.
Supremasi Keadilan dalam Al-Qur’an Ridho, Muhammad Mukharom
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2020): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v4i1.64

Abstract

Keadilan merupakan esensi dari sebuah penegakan hukum. Sedang makna tentang keadilan itu sendiri berbeda-beda tergantung dari mana perspektifnya. Keadilan dalam Al-Qur’an memiliki makna yang luas. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat muslim berperan sebagai tibyan, hudan, nur, syifa, furqan dan rahmat bagi seluruh alam, menawarkan kepada umat manusia konsep yang pasti jelas, pasti baik dan pasti adil tentang keadilan itu sendiri. Dari sini penulis merasa perlu untuk menelaah ulang makna dan konsep keadilan yang ditawarkan oleh Al-Qur’an dalam perspektif bagaimana keadilan itu dijelaskan dalam Al-Quran berdasarkan nilai-nilai universal keadilan itu sendiri sebagai landasan epistemologis umat Islam dalam memaknai sebuah supremasi keadilan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (li- 56 brary research), teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, kemudian dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisa data yang diadopsi dari teori alFarmawi dalam bukunya “Metode Tafsir Maudu’i”. Hasil penelitian menunjukkan adanya perhatian Al-Qur’an dalam penegakan keadilan secara lengkap (syamil) dan menyeluruh (mutakammil). Keyakinan akan kesempurnaan keadilan Allah dan sikap taat kepada aturan yang diturunkanNya merupakan konsekuensi keimanan (lawaazimul iimaan). Sikap sami’na wa atho’na tidak merasa berat dan mau diatur, patuh, tidak ada tawar-menawar, mengikuti seluruhnya, tidak pilih-pilih merupakan satu kesatuan sistem menerima semuanya dengan ikhlas sepenuh hati. Inilah yang dimaksud Islam kaffah. Setelah dimengerti dan dipahami semua hikmah dibalik kata adil dan qist berikut derifasinya menumbuhkan keyakinan bahwa keadilan Allah benar-benar sempurna tiada keraguan didalamnya serta menunjukkan adanya supremasi keadilan Allah Swt. di atas segalanya.
Konsep Toleransi Antarumat Beragama dalam Surah Al-Kafirun Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi dan Implementasinya di Negara Brunei Darussalam Azizah, Nur
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v5i2.106

Abstract

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap toleransi antarumat beragama. Pada al-Quran terdapat banyak ayat yang membahas tentang toleransi antarumat beragama, 47 tetapi di sini hanya akan di bahas enam ayat dalam surah al-Kafirun, karena isi kandungan surah al-Kafirun merupakan modal sosial dan kepekaan al-Quran terhadap kehidupan sosial yang multi religious, dan agama Islam yang sangat toleran terhadap agama yang berbeda. Penelitian ini bersifat penelitian kepustakaan (library research), dimana peneliti akan memaparkan penafsiran dari setiap ayat dalam surah al-Kafirun dan kemudian dianalisis untuk memperoleh kesimpulan tentang konsep toleransi antarumat beragama dalam surah al-Kafirun menurut Ahmad Musthafa al-Maraghi dan implementasinya di Negara Brunei Darussalam. Manakala penelitian implementasi di Negara Brunei Darussalam menggunakan penelitian kepustakaan (library research). Data-data diperoleh dari buku undang-undang Negara Brunei Darussalam, situs-situs government, dan buku-buku yang berkaitan dengan Negara Brunei Darussalam. Hasil analisa konsep toleransi antarumat beragama dalam surah al-Kâfi rûn menurut Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam kitab Tafsîr al-Maraghi mengungkap bahwa agama Islam mengakui adanya agama lain dan membenarkan umatnya untuk berinteraksi dengan nonmuslim akan tetapi melarang untuk berkompromi dalam bidang akidah dan ibadah karena Islam secara tegas menolak kemusyrikan, peribadatan, atau hukum yang terdapat dalam agama lain. Terkait implementasi penafsiran Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam surah al-Kafirun di Negara Brunei Darussalam adalah sejalan, dimana orang-orang non-muslim disana bebas mempraktikkan agama yang dianutnya dan diperlakukan dengan baik, asalkan mereka mengikuti undang-undang hukum di sana.

Page 4 of 12 | Total Record : 112


Filter by Year

2017 2025