cover
Contact Name
Malik
Contact Email
alkarimastiq@gmail.com
Phone
+6287881807504
Journal Mail Official
messakelam@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Tawangmangu KM. 34 Pakel, Gerdu, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Kode Pos: 57791 Telp : (0271) 6901044
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir
ISSN : 25493035     EISSN : 28293703     DOI : -
Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Isy Karima Karanganyar setiap bulan Februari dan Agustus setiap tahun
Articles 112 Documents
Konsep Takwa dalam Surat Ath-Thalaq Kajian Tafsir Al-Misbah Khasanah, Uswatun
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2021): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Takwa merupakan kosakata yang sangat populer di kalangan bangsa Indonesia, akan tetapi tidak banyak yang memahaminya secara mendalam. Padahal takwa merupakan fondasi yang harus dipegang erat oleh setiap manusia. Dalam surat Ath-Thalaq terdapat beberapa ayat yang membahas tentang takwa. Demi mengetahui secara mendalam seputar takwa dan hikmah yang terkandung didalamnya maka diangkatlah penelitian konsep takwa dalam surat Ath-Thalaq kajian tafsir Al-Misbah. Setelah memahami pembahasan tersebut maka manusia akan dapat menjaga diri hal-hal yang buruk. Penelitian ini adalah penelitian perpustakaan dengan menggunakan metode tafsir maudhu’i (tematik). Sumber data primernya adalah kitab tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab. Sedangkan sumber data skunder adalah kitab tafsir Al-Azhar karya Hamka, kitab tafsir Tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, buku-buku dan jurnal yang membahas Ilmu Al-Qur’an dan memiliki keterkaitan dengan tema pembahasan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data dan metode kualitatif maudhu’i sebagai analisis data. Hasil analisis dari penelitian ini, diketahui bahwa takwa dalam surat Ath-Thalaq menurut Muhammad Quraish Shihab, yaitu upaya untuk melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangannya. Takwa dalam surat Ath-Thalaq mencakup banyak hal, diantaranya: Takwa dalam perkara yang berhubungan dengan thalaq dan ‘iddah, takwa pasca perceraian, takwa dalam hal nafkah atau rezeki pasca perceraian, dan takwa dalam hal penciptaan langit dan bumi. Adapun hikmah dalam hal ketakwaan yang terdapat dalam surat Ath-Thalaq, yaitu mendapatkan karunia berupa rezeki yang halal yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka, mendapatkan pertolongan berupa kemudahan dalam segala urusan, dihapuskan kesalahankesalahannya dan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, mendapatkan anugerah berupa kenikmatan hidup di dunia, dan dimasukkan kedalam surga Allah ‘Azza wa Jalla.
Studi Penafsiran Lafadz Khusyu’ dalam Tafsir Ibnu Katsir Rohmawati, Fitri
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2018): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v2i2.93

Abstract

Khusyuk merupakan ruh dalam ibadah. Seseorang yang mengamalkan ibadah tanpa menghadirkan kekhusyukan, maka ibarat jasad tanpa ruh. Selain itu, khusyuk merupakan hal pertama yang akan hilang dari umat Islam. Mendalami makna lafadz khusyû’ diperlukan untuk menghadirkan dan meningkatkan kekhusyukan dalam melaksanakan semua amal ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran terhadap lafadz khusyû’ dalam tafsir Ibnu Katsir dan bagaimana metode Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat-ayat yang terdapat lafadz khusyû’. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan maudhû’i (tematik) dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Hasil analisis dari penelitian ini diketahui bahwa penafsiran lafadz khusyû’ dalam tafsir Ibnu Katsir disesuaikan dengan konteks dan objek yang disandari lafadz khusyû’. Ketika lafadz khusyû’ disandarkan kepada orang beriman, maka maknanya adalah sifat positif yang mewakili sikap tunduk, patuh, taat, takut (kepada Allah), berserah diri, iman yang kuat, dan merasa dalam pengawasan Allah. Sedangkan jika lafadz khusyû’ disandarkan kepada orang yang kafir, maka maknanya adalah sifat negatif yang mendeskripsikan sikap kehinaan, pandangan tertunduk hina, dan derajat yang rendah. Lafadz khusyû’ yang disandarkan kepada bumi bermakna bumi tersebut tidak ada tanaman, kering, dan tandus. Sedangkan ketika lafadz khusyû’ disandarkan kepada gunung, maka maknanya gunung tersebut tunduk dengan bentuk ketundukannya adalah hancur pecah belah. Metode penafsiran yang dipakai secara konsisten oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat-ayat yang terdapat lafadz khusyû’ adalah metode bi al-ma`tsûr.
Metode dan Corak Penafsiran Tafsir Al-Asas Karya Darwis Abu Ubaidah Riandini, Rahma
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i1.45

Abstract

Tulisan ini memperkenalkan kepada pembaca mengenai salah satu khazanah Tafsir Indonesia. Adapun karya yang diteliti adalah Tafsir al-Asas karya Darwis Abu Ubaidah. Dalam memperkenalkan karya ini penulis menjelaskan metode dan corak penafsirannya. Penulis juga membahas sosok Darwis Abu Ubaidah yang dijabarkan secara ringkas saja. Selain itu, penulis juga mengurai metode mufasir dalam menjelaskan tema-tema yang terdapat dalam Tafsir al-Asas serta corak penafsiran yang digunakan oleh Darwis Abu Ubaidah dalam penulisan Tafsir al-Asas.
Kajian Tentang Manhaj Dakwah dalam Kitab Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an Wibowo, Eko Yuni Teguh
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2018): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v2i1.84

Abstract

Dakwah beserta syarat dan rukunnya merupakan sarana yang disyariatkan oleh Allah agar manusia itu kembali kepada Din yang fitrah. Dengan sebab itulah para Nabi dan Rasul diutus ke dunia ini. Begitu pula ditugaskannya para da’i supaya kebenaran dapat terealisasi, serta tercapainya keadilan dan rahmat Allah Subhanahuwata’ala diantara para hamba-Nya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Manhaj Dakwah dalam QS. An-Nahl: 125 dan QS. Ali Imran : 159 dalam kitab tafsir Fii Zhilaalil Qur’an serta urgensi manhaj dakwah dalam dakwah. Jenis penelitian yang digunakan adalah library research (riset kepustakaan), yaitu data yang diteliti berupa artikel, makalah, buku atau majalah-majalah yang bersumber dari khazanah kepustakaan. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu metode dalam meneliti pemikiran, suatu objek, kondisi, sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktafakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, metode ini difungsikan untuk melihat penafsiran kitab Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an QS. An-Nahl : 125 dan QS. Ali Imran : 159 karya Sayyid Quthub. Sesungguhnya al Qur’an telah menyampaikan metode dakwah yang sangat mulia bagi umat islam, yaitu dengan cara hikmah. Allah memerintahkan kepada nabinya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk berdakwah dengan cara hikmah sebagaimana yang sudah tertera di dalam al Qur’an. Betapa besar pengaruhnya manhaj atau metode dakwah dalam keberhasilan dakwah itu sendiri. Dengan adanya manhaj dakwah menjadikan kegiatan dakwah itu menjadi lebih tertata dan teratur, sehingga keberhasilan dakwah dapat tercapai.
Studi Penafsiran Ayat-ayat Makanan dalam Tafsir Fathu Al Qodir Parwanto, Parwanto
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i2.34

Abstract

Penyebutan ayat-ayat tentang makanan dalam Al-Qur’an disebutkan di beberapa tempat. Sedangkan kriteria sebuah makanan bisa disebut baik jika memenuhi syarat-syarat tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja makanan yang baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga untuk mengetahui kriteria makanan yang baik dalam Al-Qur’an perspektif Tafsir Fathu Al-Qadir karya Imam As-Syaukani. Metode yang digunakan adalah dengan Library Research dan termasuk dalam kategori kajian Tafsir Maudhu’i. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan yang baik adalah makanan yang memiliki unsur halal, bermanfaat, proporsional, berkualitas baik, tidak kotor dan tidak haram, serta cara mendapatkannya dengan sesuatu yang baik.
Penafsiran Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 51: Studi Komparasi Penafsiran Buya Hamka dan Sayyid Quthb Mubarok, Zain Faqih
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i2.69

Abstract

Dalam Al-Qur’an, terdapat sekian banyak lafaz ataupun ayat yang telah ditafsirkan oleh para ulama dengan makna-makna yang berbeda. Perbedaan penafsiran seringkali akan memunculkan dampak pada hukum yang dilahirkan. Di antara lafaz dan ayat yang memiliki dampak disebabkan oleh perbedaan penafsiran ini adalah surat Al-Maidah ayat 51. Penelitian ini fokus pada penafsiran surat Al-Maidah ayat 51 dalam kitab tafsir Fii Zhilaalil Qur’an karya Sayyid Quthb dan kitab Tafsir Al-Azhar Karya Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka), Persamaan dan perbedaan penafsiran keduanya, serta cara bermuamalah dengan orang-orang Yahudi ataupun Nasrani, menurut kedua mufassir tersebut. Penelitian ini berbasis kajian pustaka (library research) dengan pendekatan studi komparatif (muqorin). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Surat Al-Maidah ayat 51 dalam pandangan Sayyid Quthb mengandung larangan bagi seorang muslim menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, teman setia dan pelindung. Sedangkan menurut Buya Hamka, ayat ini mengandung larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin, 2) Perbedaan dari keduanya adalah Sayyid Quthb memaknai auliyaa’ sebagai penolong, teman setia dan pelindung dan Buya Hamka memaknai auliyaa’ sebagai pemimpin. Persamaannya adalah mereka mengutip riwayat tentang sebab turunnya surat Al-Maidah ayat 51, yaitu kisah pengakuan Ubadah bin Shamit yang berlepas diri dari sekutunya dari orang-orang Yahudi dan keengganan Abdullah bin Ubay bin Salul berlepas diri dari orang-orang Yahudi yang menjadi sekutunya 3) Penafsiran kedua tokoh tersebut berimplementasi diperbolehkannya bermuamalah dengan orangorang Yahudi dan Nasrani selama tidak berhubungan dengan akidah dan tatanan masyarakat Muslim.
Penafsiran Ayat-ayat Pluralisme Agama: Studi Komparasi Adian Husaini dan Gamal Al-Banna Wirastho, Edy; Mas, Anya Khairunnisa
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2022): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v6i1.114

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keberagaman. Keberagaman yang ada bisa memunculkan toleransi yang baik, tetapi bisa juga menimbulkan permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep pemikiran Adian dan Gamal terhadap ayat-ayat pluralisme, serta perbedaan dan persamaan pemaknaan kedua tokoh terhadap pluralitas agama. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif komparatif. Sumber data primernya adalah ayat-ayat bertema pluralisme agama, buku karya Adian Husaini yang berjudul Islam Liberal, Pluralisme Agama, & Diabolisme Intelektual dan buku karya Gamal al-Banna dengan judul Pluralitas dalam Masyarakat. Hasil analisa pemikiran kedua tokoh dilakukan dengan menganalisa sumber-sumber keaslian penafsiran
Perumpamaan Binatang dengan Al-Qur’an menurut As-Sa’di dalam Kitab Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsir Kalam Al-Manan Nasiroh, Sari Dewi; Sulthoni, Akhmad
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol 4 No 2 (2020): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v4i2.60

Abstract

Mentadabburi Al-Quran adalah salah satu kewajiban kita terhadap Al-Quran. Salah satu aspek tadabbur adalah ayat-ayat kauniah yang ada di jagat raya, diantaranya mengenai ayat-ayat binatang. Dalam Al-Quran beberapa binatang tersebutkan sebagai sarana perumpamaan (amtsal). Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan pendekatan metode maudhu’i (tematik) tentang matsal binatang-binatang dalam kitab Tafsir Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm Al-Manân karya Abdurrohman As Sa’di, dan apa nilai-nilai hikmah yang terkandung di dalamnya. Dalam penelitian ini didapatkan pada surat Al-Baqoroh 26 bahwa Allah tidak segan membuat perumpamaan sekalipun dengan hal-hal yang dianggap remeh atau lebih dari itu misalnya terhadap seekor nyamuk. Al-Baqoroh 65, Al-Maidah 60, Al-A’rof 163, ketiga ayat ini berkaitan dalam menjelaskan kisah kaum sabat yang diazab menjadi kera karena durhaka dengan ketentuan Allah. Al-A'rof 176 manusia yang cenderung kepada dunia dan hawa nafsunya setelah diberikan nikmat ayat-ayat Allah diperumpamakan dengan anjing yang jika dihalau atau dibiarkan tetap menjulurkan lidahnya. Jum'ah 5 berisi perumpamaan ahlu kitab yang tidak menyampaikan isinya kepada ummatnya adalah seperti keledai yang membawa kitab di atas punggungnya. Al-Ankabut 41 menjelaskan tentang lemahnya hamba yang bersandar kepada selain Allah seperti lemahnya sarang laba-laba. Al-Muddatsir 49-51 membahas perumpamaan orang kafir yang berpaling dari Allah seperti larinya keledai dari kejaran pemburu.
Studi Penafsiran Lafazh Mau’izhah dalam Tafsir Al-Maraghi Rahma, Anis Qurnia
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2019): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v3i1.98

Abstract

Mau’izhah merupakan suatu yang urgen karena bagian dari sunnah para rasul. Juga merupakan sifat dari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an sendiri adalah sumber mau’izhah. Lafazh mau’izhah sering digunakan sebagai bagian dari metode dakwah bila disandingkan dengan lafazh hasanah sehingga menjadi sebuah kalimat ‘mau’izhah hasanah’ maksudnya adalah menyampaikan dakwah dengan cara yang baik dan disenangi dengan tujuan mendekatkan manusia kepada kebaikan sesuai keridhaan Allah Ta’âla. Allah Subhânahu Wa Ta’âla telah menyebutkan banyak lafazh mau’izhah dalam al-Qur’an. Untuk menelusuri seluruh makna lafazh mau’izhah tersebut dibutuhkan kitab tafsir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran lafazh mau’izhah dalam tafsir Al-Marâghî. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maudhu’i tahlili (tematik analitis) yaitu dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat lafazh mau’izhah dan derivasinya kemudian menjelaskan penafsirannya dalam tafsir Al-Marâghî serta menganalisis ayat-ayat tersebut dan mengelompokkannya sesuai dengan makna tafsirannya. Selanjutnya, memaparkan makna lafazh mau’izhah dalam tabel berdasarkan skema al-Wujûh wa an-Nazhâir. Peneliti menemukan bahwa lafazh mau’izhah tidak hanya dimaksudkan sebagai nasihat yang disampaikan lewat ucapan saja. Tetapi lafazh mau’izhah dan derivasinya dalam Al-Qur’an memiliki banyak makna sesuai kegunaan lafazh tersebut. Di antaranya: kitâbullâh, berita umat terdahulu, perkataan hikmah dan syari’at Allah berupa perintah dan larangan.
Konsep Akuntansi dalam Al-Qur'an Astuti, Indri
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2017): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v1i1.51

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep akuntansi yang tertuang dalam Al-Quran dan mengetahui perbedaan akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi. Konsep akuntansi telah diajarkan Islam jauh sebelum Luca Pacioli menulis “Summa De Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita”. Saat rasulullah saw berada di Madinah, Rasulullah sudah memerintahkan pencatatan keuangan. Hal itu diperkuat dengan turunnya surat Al-Baqarah ayat 282, yang berisi perintah untuk melakukan pencatatan transaksi. Prinsip akuntansi yang ditekankan pada ayat tersebut adalah prinsip pertanggungjawaban. Terdapat perbedaan antara sistem akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional menyangkut soal-soal inti dan pokok, sedangkan segi persamaannya hanya pada hal-hal teknis yang bersifat aksiomatis.

Page 5 of 12 | Total Record : 112


Filter by Year

2017 2025