cover
Contact Name
Muhammad Khoirul Anwar
Contact Email
khoirulanwar@ptiq.ac.id
Phone
+6289637778370
Journal Mail Official
Khoirulanwar@ptiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Batan No 5, Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Dhikra
Published by Institut PTIQ Jakarta
ISSN : 25032232     EISSN : 2807257X     DOI : https://doi.org/10.57217
Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis was first published by the Faculty of Ushuluddin of Institut PTIQ Jakarta in April 2016 and published twice within one year i.e April and October. So, it accepts submissions of manuscripts from any issues related to quranic and hadith studies. Editors accept articles that have never been published in other media. The paper should be written with 6000-10.000 characters. The editor has the right to appraise the articles appropriateness both in terms of content, information and writing style. For those whose the article is publised will be given a reward in accordance to the working regulations.
Articles 133 Documents
REINTERPRETASI HADIST NABI TENTANG WANITA SEBAGAI SUMBER FITNAH PERSPEKTIF TEORI GENERATIF TRANSFORMATIF NOAM CHOMSKY Mushab Wafi Adalah dan Muhammad Khoirul Anwar
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 1 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya memahami hadis secara kompleks menunjukkan dinamisasi teks yang memiliki spirit pada kemaslahatan. Artikel ini bertujuan melakukan reinterpretasi terhadap salah satu hadis yang secara tekstual seringkali melegalisasi eksistensi perempuan sebagai sumber fitnah. Upaya ini penting dilakukan mengingat posisi hadist sebagai sumber kedua (the second resource) dalam pondasi hukum Islam. Keotentikan serta kevalidan suatu hadist sangat penting untuk diteliti namun memahaminya dengan pemahaman yang benar adalah suatu yang sangat penting untuk mengetahui maksud dari suatu redaksi hadist. Kajian ini menggunakan teori generatif-transformatif yang dipelopori oleh Noam Chomsky yang menekankan untuk melihat pada susunan bahasa yang dibagi menjadi dua: pertama, deep structure atau struktur dalam dan kedua surface structure atau struktur luar. Artikel ini berkesimpulan bahwa kedua hadis ini memiliki kesamaan dan kemiripan akan tetapi memilki redaksi yang berbeda, baik berupa Expansion maupun Permutation. Kemudian As-Subki dalam memaknai hadis wanita adalah fitnah lebih menggunakan pendekatan deep structure. Sedangkan Ibnu Hajar dan Al-Qosthollani lebih menggunakan pendekatan surface structure, dan Al-Qordhowi lebih menggunakan deep structure dan surface structure.
TRADISI ROBO’–ROBO’ SUKU MELAYU DI KECAMATAN SANDAI, KABUPATEN KETAPANG, KALIMANTAN BARAT (STUDI LIVING HADIS) Faiza Hanan, Fatkhiyah dan Nafisah Alhayataini
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang fenomena living hadis pada tradisi Robo’-robo’ yang dilakukan oleh masyarakat Sandai, kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Robo’-robo’ ini merupakan tradisi yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan Safar dimana menurut masyarakat sekitar tradisi ini menjadi sebuah bentuk ritual penolakan bala’ untuk medapatkan keselamatan dan keberkahan. Fokus pada pembahasan dari penelitian ini adalah terkait dengan bagaimana hadis Nabi hidup di dalam tradisi masyarakat tersebut. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan melakukan interaksi atau mewawancarai serta observasi. Sedangakan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi pengetahuan Karl Mannheim yang melihat bahwa tindakan sosial dapat ditinjau dari beberapa makna, yaitu: makna objektif, ekspresif dan dokumenter. Riset ini menemukan bahwa makna obyektif dari tradisi Robo-robo masyarakat Sandai adalah sebagai tradisi suatu ajaran yang ditanamkan dari leluhurleluhur ulama suku Melayu yang kemudian budaya tersebut dijaga keberadaannya hingga saat ini yang tidak berubah. Sedangkan makna ekspresifnya yaitu perilaku ritual tradisi terdapat do’a-doa yang dipanjatkan di antaranya do’a sayyidina Ukasyah atau Akasah, do’a selamat dan doa tolak balak yang dipanjatkan dengan harapan Allah kabulkan segala hajatnya. Kemudian makna dokumenternya ialah tradisi tersebut sebagai identitas masyarakat Sandai.
MANUSIA DAN ISU EKOLOGI: TINJAUAN TAFSIR AL-IBRIZ Ghofur, Abdul
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1283

Abstract

Isu ekologi menjadi penting untuk dibahas, melihat kondisi saat ini yang sangat memprihatinkan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bagaimana relasi antara manusia dengan lingkungannya, polusi udara dan suhu udara ekstrim sebagai sebuah isu ekologi dilihat dari sudut pandang tafsir. Untuk menjawab hal tersebut, penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research). Data-data diambil dari berbagai sumber teks kemudian dianalisis dengan teknik analisis isi. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat relasi antara manusia dengan ekologi dalam beberapa hal yakni pertama, manusia sebagai pengelola lingkungan dan sumber daya alam. Kedua, manusia sebagai subjek yang diberi amanah untuk merawat dan menjaga kelestarian lingkungan. Ketiga, Bumi merupakan tempat tinggal dan tempat untuk beribadah bagi manusia kepada Tuhannya. Keempat, Bumi dan seisinya merupakan objek agar manusia mau berpikir tentang tanda-tanda kebesaran-Nya. Kemudian, polusi udara dan suhu udara ekstrim merupakan salah satu bentuk lingkungan yang tidak sehat bagi manusia. Beberapa ayat Al-Qur’an menyindir manusia terkait ketidakmauannya untuk berpikir dan merenungkan terkait ciptaan-ciptaan-Nya sehingga mereka tidak mau memperhatikan kondisi ekologi, menjaga, dan merawatnya. Padahal, alam raya diciptakan sebagai lingkungan yang nyaman bagi manusia.
PEMIKIRAN HADITS KH HASYIM ASY'ARI TERHADAP PENYIMPANGAN AKIDAH DI TANAH JAWA (TELA'AH ATAS KITAB RISALAH AHLUSUNNAH WAL JAMA'AH) Maulana, Sukma
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1284

Abstract

Islam is a straight religion, because it is based on revelation, both revelation from Allah, as well as revelation referred to as the hadith of the prophet. However, quite a few people misunderstand the meaning of Islamic teachings, because they start from ignorance and blind taqlid. In Indonesia itself, since the Dutch colonial era, there have been many Islamic sects that have been considered heretical and misleading. This research is motivated by the rise of deviant sects in Indonesia, especially in the pre-independence era. Apart from that, the issue of flows in Indonesia will always attract attention for research. Therefore, researchers are interested in studying this theme in more depth. This research is a library research in the form of a thematic study model that focuses on hadiths in the book Risalat Ahlusunnah wal Jama'ah by KH. Hasyim Asy'ari with a special discussion of deviations from the faith in Java. The conclusion of the article shows that deviant creeds the colonial period were very widespread. Some of the deviations from the sects in Java at that time were the emergence of the Wahhabi, Shiite, Ibahiyun, Reincarnation and Hulul/Ittihad sects. Then, in reviewing the maqasid asy-syraiah, the Ahlussunnah wal Jama'ah creed is a straight creed and several good and correct rules have been laid down in religion. Therefore, these deviant schools are not straight Islamic teachings, but only make Islamic values ??dirty.
INTERTEKSTUALITAS SYAHRUR STUDI ANALISIS KONSEP AURAT El karimah, Mia Fitriah
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disamping pendekatan Bahasa, Syahrur melakukan metode yang berbeda ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang ia sebut dengan metode tartil, yang dapat diidentikkan dengan metode intertekstualitas. Intertekstualitas diadobsi dari istilah intertekstualitas yang berarti hubungan antara sebuah teks tertentu dengan teks yang lain. Intertekstualitas adalah mengumpulkan dan mengurutkan ayat-ayat yang setema kemudian merunutkan beberapa ayat di belakang ayat yang lain untuk menemukan sebuah konsep pemahaman komprehensif. Sekilas, metode ini mirip dengan metode tematik (maudhu’i). Melalui pendekatan analisis deskriptif, artikel ini mengungkap konsep Intrertekstualitas Syahrur, bagaimana model pengaplikasian tawaran metode Syahrur Intertekstualitas -nya terhadap kajian al-Qur`an, khusunya konsep aurat Hasil penelitian ini menunjuk konsep Intrertekstualitas Syahrur dengan mempertemukan ayat-ayat menggunakan pendekatan semantik dengan analisa paradigmatis dan sintagmatis. Terkait dengan aplikasi metode ini pada konsep aurat bersumber dari Q.S. an-Nur ayat 31, bahwa Syahrur menyimpulkan bahwa aurat tidak ada hubungannya dengan halal dan haram dan aurat dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat tersebut. Menurut Shahrur, aurat berasal dari konsep malu (alhaya`). Rasa malu ini relatif, dinamis (Flexible) dan bersifat adaptif
TINJAUAN KETIDAKSETIAAN Al-QURANUL KARIM TARJAMAH TAFSIRIYAH MMI TERHADAP TAFSIR AL-QURAN AL-ADIM KARYA IBNU KATSIR DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMAKNAI AYAT QITAL Ulya, Firdausi Maulidiyah, Rifa Damayyanti Ningsih, Siti Azizatul
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1333

Abstract

Terjemahan Al-Quran adalah bagian integral dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Salah satu terjemahan yang signifikan melakukan proyek ini adalah hasil karya Muhammad Thalib yang diterbitkan oleh Majelis Mujahidin Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketidaksetiaan terjemahan Al-Quran dalam Tarjamah Tafsiriyah oleh Majelis Mujahidin Indonesia terhadap penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anal-Adhim. Artikel ini menggunakan metode analisis teks untuk mengevaluasi ketidaksetiaan Tarjamah Tafsiriyah terhadap Tafsir Al-Qur’anal-Adhim karya Ibnu Katsir dengan mengambil studi kasus pada ayat qitâl. Adapun relasi antara keduanya itu karena eksistensi tafsir Ibnu Katsir populer dikalangan Islamis Indonesia. Hasil riset ini berkesimpulan bahwa Muhammad Thalib pada ayat-ayat qita>l ini tidak sepenuhnya setia dengan penafsiran Ibnu Katsir. Pada kasus Q.S. Al-Baqarah: 216, Muhammad Thalib menerjemahkannya sebagai “perintah agama”, sedangkan Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai perang. Selain itu, dalam Q.S. Al-Baqarah: 217, terdapat kalimat seruan, Muhammad Thalib menerjemahkan dengan menyebut langsung Muhammad sebagai yang diseru, sedangkan Ibnu Katsir tidak menafsirkan seruan itu. Adapun dalam Q.S. Ali Imran: 167, Muhammad Thalib menerjemahkan perkataan orang-orang munafik sebagai ungkapan tidak ingin mengikuti perang, sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan bahwasanya orang-orang munafik itu tidak mengikuti perang sebab tidak mengetahui adanya perang, padahal mereka mengetahui. Adapun relasi keilmuan yang terjalin antara keduanya, karena MMI merupakan kelompok islamis yang mengidolakan tafsir karya Ibnu Katsir.
INTERNALISASI NILAI-NILAI AL-QUR’AN DALAM TRADISI BARZANJI AKBAR DI MAS AL-ADABY KOTA PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT Alief Fadhlurrahman, Alfino Elsan, Ahmad Zaini, Khusna A. Tohiroh, Tasya S. Kamila, Radilah Maulani,
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1352

Abstract

Tradisi Barzaji telah umum dilakukan di Indonesia, demikian juga di Kota Pontianak Kalimantan Barat, khsusnya di MAS Al-Adabiy pembacaan Barzanji dilakukan pada setiap malam jumat. Dalam pelaksanaannya terdapat nilai-nilai Al-Qur’an yang diinternalisasikan. Jenis kajian ini adalah studi lapangan, dengan metode deskriptif-analisis. Lokus penelitian adalah MAS Al-Adabiy Kota Pontianak. Kesimpulan dari artikel ini adalah: Pertama, pembacaan Barzanji Akbar di MAS Al-Adabiy Kota Pontianak rutin dilakukan pada malam Jumat dengan prosesi pelaksanaan: 1) Narasi Pembuka, 2) pembacaan isi Barzanji; dan 3) Penutup. Kedua, nilai-nilai Al-Qur’an yang terakomodur dalam tradisi Barzanji Akbar di MAS Al-Adabiy Kota Pontianak meliputi: 1) Mengajarkan Ketaatan kepada Allah; 2) Mengajarkan Saling Menyayangi; 3) Mengajarkan Pentingnya Pengetahuan dan Pendidikan; 4) Mengajarkan Arti Persatuan dan Persaudaraan; dan 5) Mengajarkan Pentingnya Berbagi dan Berbuat Kebaikan.
EPISTEMOLOGI METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN: DARI ERA NABI HINGGA ERA MAQASIDI M. Nurul Huda, Andi Rahman
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1359

Abstract

Perkembangan metode penafsiran Al-Qur’an sangat penting dilihat sebagai khazanah yang menempatkan Al-Qur’an sesuai pada konteks zamannya. Sebab metode terus dinamis semenjak Nabi Muhammad wafat pada abad ke 7 M, dan terus terjadi sampai sekarang. Pada era Nabi, ia menjadi sumber tafsir Al-Qur’an tunggal, kemudian di era sahabat, baru terjadi perbedaan penafsiran akibat perbedaan metode yang digunakan untuk memahami suatu ayat yang sama. Peristiwa seperti ini masih terus terjadi sampai saat ini, dengan demikian menarik untuk dijadikan sebagai kajian akademik dengan mempertanyakan bagaimana metode penafsiran tersebut mengalami dinamisasi sesuai pada konteksnya? Riset ini hendak menganalisis dinamisasi tersebut dengan melibat perspektif kajian epistemologi. Melalui kajian kepustakaan (library research), riset ini berkesimpulan bahwa terdapat pergeseran secara mendasar dalam perkembangan metode penafsiran tersebut. Pertama, pergeseran dalam menggunakan sumber. Kedua, pergeseran juga terjadi terhadap penggunaan sumber metode itu sendiri. Ketiga, pergesertan pada keabsahan metode tersebut yang masing-masing hakikatnya lahir untuk keperluan temporal.
PENGARUH TAFSIR AL MANNAR DALAM TAFSIR NURUL BAJAN KARYA KH. ROMLI: ANALISIS SURAH AL-BAQARAH 261-262 RM. Daffa Fadhila Ihsany, Hadi Adriansyah, Rifqi Waisul Qorni
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1363

Abstract

Nurul Bajan merupakan salah satu kitab tafsir yang lahir dari tanah Sunda karya KH, Muhammad Romli. Dalam penulisan tafsirnya masih menggunakan ejaan lama, sehingga memerlukan penyesuaian dalam membaca tafsirmya. Sudah banyak penelitian yang menganalisis isi dari penafsiran KH. Muhammad Romli dengan berbagai tema yang dikaji. Jurnal ini bertunjuan untuk meneliti keterpengaruhan Tafsir Al-Mannar dalam Tafsir Nurul Bajan. Adapun langkah penilitian ialah dengan melacak teks Tafsir Nurul Bajan, kemudian melakukan studi komperatif dengan Tafsir Al-Mannar yang diduga menjadi rujukan dalam penulisan Tafsir Nurul Bajan. Artikel ini berkesimpulan bahwa Tafsir Nurul Bajan memiliki persamaan penafsiran dengan Tafsir Al Mannar. Dalam kasus surat Al-Baqaroh ayat 261-262, KH. Romli memaknai kata fi sabilillah sebagai kemaslahatan umat. Pernyataan yang sama juga disampaikan Al-Mannar. Adapun relasi keilmuan antara keduanya karena popolaritas Al-Mannar di tubuh ormas Persis, dan KH. Romlik merupakan Pengurus Persis.       
PRINSIP SISTEM NEGARA DALAM DISKURSUS AYAT-AYAT POLITIK: TINJAUAN TAFSIR MAQASHIDI Ikhwan, Masrur
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1382

Abstract

Fokus pembahasan dalam artikel ini adalah melakukan kajian terhadap berbagai prinsip dasar kenegaraan yang bersumber dari ayat Al-Qur’an. Dalam konteks ini penjelasan Al-Qur’an terhadap prinsip-prinsip kenegaraan termasuk bagian dari petunjuk (hidayah) yang diberikan kepada pembacanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-diskriptif dengan melibatkan Tafsir Maqashidi yang menawarkan tiga langkah untuk memahami ayat Al-Qur’an. Pertama, melakukan kajian bahasa. Kedua, ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ketiga, kemaslahatan sosial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, terdapat tujuh asas kenegaraan yang dapat digali dari ayat Al-Qur’an: asas kekuasaan sebagai amanat, asas permusyawaratan, asas keadilan, asas persamaan, asas tujuan negara, asas hak dan kewajiban negara dan rakyat, serta asas dasar hak asasi manusia. Tujuh asas yang ditemukan sesuai dengan kemaslahatan yang menjadi tujuan besar (magza) Al-Qur’an.

Page 6 of 14 | Total Record : 133