cover
Contact Name
Muhammad Khoirul Anwar
Contact Email
khoirulanwar@ptiq.ac.id
Phone
+6289637778370
Journal Mail Official
Khoirulanwar@ptiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Batan No 5, Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Dhikra
Published by Institut PTIQ Jakarta
ISSN : 25032232     EISSN : 2807257X     DOI : https://doi.org/10.57217
Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis was first published by the Faculty of Ushuluddin of Institut PTIQ Jakarta in April 2016 and published twice within one year i.e April and October. So, it accepts submissions of manuscripts from any issues related to quranic and hadith studies. Editors accept articles that have never been published in other media. The paper should be written with 6000-10.000 characters. The editor has the right to appraise the articles appropriateness both in terms of content, information and writing style. For those whose the article is publised will be given a reward in accordance to the working regulations.
Articles 132 Documents
PERSPEKTIF AL-QUR’AN TERHADAP NILAI-NILAI PANCASILA Laode Moh. Nanang Pribadi Rere
Al-Dhikra Vol. 2 No. 1 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengungkap nilai-nilai Pancasila yang terdapat dalam Al-Qur’an yang posisinya sebagai kitab suci umat Islam. Sedangkan Pancasila sendiri sebagai ideologi Negara Indonesia yang dulunya dirumuskan atas kesepakatan para tokoh dari berbagai latar belakang agama. Akan tetapi nilai-nilai tauhid dimuat dalam Pancasila justru terdapat di dalam Al-Qur’an, yang meliputi sila pertama, sila kedua, sila ketiga, sila keempat, dan sila kelima. Artikel ini membantah adanya penolakan dari sebagian kelompok HTI yang tidak dapat menerima ideologi Pancasila karena dianggap bertentangan dengan prinsip Islam bahkan dianggap sebagai ideologi kafir. Untuk menjawab problem tersebut, artikel ini mengungkap esensi dari isi Pancasila kemudian mempertemukan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan. Sebagai argumen pelengkap, penulis mengutip pendapat dari berbagai mufasir yang berbicara tentang tema ini. Dan semua mufasir yang penulis kutip sepakat bahwa ayat-ayat yang penulis lihat difahami sebagaimana terdapat dalam nilai Pancasila tanpa ada pertentangan sedikitpun. Itu artinya bahwa Pancasila dapat ditafsirkan sesuai dengan nilai dan moral yang dikehendaki oleh Islam.
NABI MUHAMMAD PRA DAN PASCA KENABIAN: PROSES PEMBENTUKAN PRIBADI LUHUR DAN KARAKTER AGUNG SANG RASUL Badrut Tamam
Al-Dhikra Vol. 2 No. 1 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji kehidupan Rasulullah pada masa pra kenabian dan pasca kenabian. Rasulullah sebagai manusia paling sempurna memiliki sifat dan karakter yang sempurna dalam setiap lini kehidupan. Dalam rumah tangga, Rasulullah menjadi suami dan ayah paling sempurna. Dalam kepemimpinan, Rasulullah merupakan pemimpin paling sempurna dan paling sukses sepanjang sejarah. Dengan menggunakan kajian pustaka serta metode analisis sejarah, artikel ini menguatkan temuan Hart bahwa Rasulullah dalam segala lini kehidupannya memiliki pengaruh yang besar. Juga mendukung pendapat Huda bahwa Rasulullah selain sebagai utusan Tuhan, tetapi dalam sikap pribadinya sangat menjunjung tenggang rasa. Dari hasil bacaan yang tertuang dalam artikel ini dapat diketahui bahwa seluruh perjalanan hidup rasulullah dari kecil hingga umur matang, 40 tahun seluruhnya menunjang untuk membentuk sifat dan karakter yang sempurna. Dalam makalah ini kehidupan Rasulullah terbagi menjadi dua fase; fase dari masa kanak-kanak hingga sebelum diangkat menjadi nabi. Fase kedua merupakan fase setelah diangkat menjadi nabi. Pada fase pertama merupakan fase proses pembentukan sifat dan karakter. Fase kedua merupakan fase matang di mana Rasulullah memulai dakwah sejak di Makkah hingga Madinah. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa seseorang akan mendapatkan kematangan berfikir dan kedewasaan setelah berumur empat puluh tahun. dan hal ini juga dapat didapatkan jika sebelum umur tersebut mendapatkan banyak terpaan dan pelajaran hidup. Meski Allah sangat kuasa atas segala-galanya, tetapi Allah selalu memiliki sunnah-sunnah dalam makhluknya.
TAFSIR SUFISTIK SYAIKH NAWAWI AL-BANTANISufism Interpretion of sheikh Nawawi Al-Bantani Achmad Zubairin
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dimensi ruang dan waktu dalam penafsiran Al-Qur`an harus senantiasa relevan dengan konteks pembacanya. Upaya reinterpretasi Al-Qur`an dengan beragam konteks disiplin ilmu pun bermunculan, salah satunya menafsirkan dari kacamata ilmu tasawuf.  Keragaman corak penafsiran ini tidak lain dikarenakan Al-Qur`an yang memiliki beragam kemukjizatan yang terkandung di dalamnya, dan juga dikarenakan pembacaan terhadap Al-Qur`an oleh seseorang sangat terkait erat dengan “kacamata” keilmuan yang dimilikinya dan juga latarbelakang individu tersebut. Tasawuf sebagai sesuatu yang teoritis dan praktis menjadi syarat tidak mutlak bagi seorang penafsir, atau bahwasanya seluruh penafsir sejatinya adalah seorang sufi, namun tidak semua sufi itu penafsir. Dalam tafsir corak tasawuf, walaupun penafsiran itu bersifat tekstual namun memiliki dimensi makna yang mendalam (kontekstual), yang mengandung lapisan makna yang paling dalam atau dikenal dengan makna semantic ayat bahkan makna dibalik ayat atau dinamakan makna bathin (esoterik). Dalam ilmu tasawuf sendiri, banyak upaya untuk menjadikan nilai-nilai tasawuf tertuang menjadi satu diskursus tersendiri yang lebih rasional, karena bagaimanapun, manusia selalu mencari dan terus mencari hakikat kebenaran melalui akal inderawinya termasuk mengenal Allah SWT  (ma’rifatullah) berdasarkan logika disamping intuisinya. Tafsir corak tasawuf-falsafi adalah satu upaya merasionalisasikan nilai-nilai tasawuf yang tertuang dalam penafsiran menjadi sebuah pendekatan yang baku melalui pendekatan filsafat. Al-Ghazali adalah seorang yang berjasa memperkenalkan tasawuf-falsafi dalam khazanah intelektul islam, ia juga yang mengawal perkembangan tasawuf-falsafi ini.
MEMBELA INTEGRITAS SAHABATTAFSIR KOMPARATIF KISAH TSA’LABAH IBN HATIB DALAM QS. AL-TAUBAH:75-78 Zia ul Haramein
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tersebar sebuah kisah populer di masyarakat Islam tentang Tsa’labah ibn Hatib, seorang sahabat Nabi yang menjadi kikir dan munafik saat doanya dikabulkan Allah. Tsa’labah dituduh sebagai sebab turunnya ayat 75 hingga 78 Surah al-Taubah. Kisah ini kerap dimuat di kitab-kitab tafsir dan beberapa kitab hadis. Banyak penulis tidak menanggapi sosok Tsa’labah, melainkan hanya meneruskan riwayat yang terlanjur menyebar. Padahal sahabat Nabi adalah generasi yang dipuji langsung oleh Allah dan rasul Nya. Serta sosok Tsa’labah memiliki nama baik sebagai pejuang Perang Badr, yang telah dijamin surga oleh Nabi. Artikel singkat ini mencoba mengkritisi diamnya para penulis riwayat dan mengkaji kisah ini dari segi transmisi hikayatnya. Ternyata ditemukan fakta bahwa kisah ini tidaklah benar. Substansi tuduhan kisah ini tidak tepat ditujukan pada Tsa’labah, melainkan membicarakan status munafik secara keseluruhan. Selain itu, analisis ini mencoba menyingkap secara sistematis status sahabat sebagai manusia biasa dan batasan keterjagaan kredibilitas mereka di hadapan syariat. Artikel ini juga berusaha membantah pendapat Ouzon yang menempatkan para sahabat perawi hadis sebagai manusia biasa yang bisa saja berbuat dosa.
HISTORIOGRAFI DALAM TAFSIR AL-QUR’AN Lukman Hakim
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk meneliti kajian historigrafi dalam tafsir Al-Qur’an yang dilakukan oleh mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, di mana terdapat empat metode yang berlaku; heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Penulis ingin mengetahui langkah-langkah mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat historis baik yang berkenaan dengan para Nabi dan umat-umat terdahulu maupun kejadian-kejadian pada masa Nabi SAW. Penelitian ini menemukan bahwa metode sejarah bukan ilmu baru dalam penafsiran Al-Qur’an. Sejak masa penulisan kitab-kitab tafsir masa awal, ditemukan bahwa kitab tafsir dalam menjelaskan ayat-ayat historis terdapat dua kajian kesejarahan yaitu asba>b al-nuzu>l (yang membahas seputar turunnya ayat Al-Qur’an) dan israiliyat (kisah-kisah ahlul Kitab; Yahudi). Untuk yang pertama, munculnya asba>b al-nuzu>l dalam kitab tafsir adalah sebuah keniscayaan dan diterima semua kalangan mufasir, sedangkan untuk yang kedua ini (israiliyat), para ulama mufasir berbeda pendapat, ada yang melarang, membolehkan, dan ketiga berada di antara keduanya yakni ada yang dibolehkan dan ada yang dilarang.  Beberapa kitab tafsir yang banyak meriwayatkan kisah-kisah israiliyat di antaranya at-Tabari dan Ibn Katsir. Terlepas dari perdebatan ini, metode dan pendekatan sejarah sangat familiar bagi kalangan mufasir dalam mengungkapkan serta menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an.
PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS-INTERPRETIS (HERMENEUTIK) SEBAGAI METODE PENAFSIRAN Amiril Ahmad, Abd Muid N.
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini akan menjelaskan metode pengkajian Al-Qur’an dengan menggunakan metode hermeneutik. Dalam konteks masyarakat kekinian, banyak para pemikir muslim modern yang berpendapat bahwa hermeneutika merupakan keniscayaan. Dengan hermeneutika pendekatan, pemikiran, pemaknaan maupun interpretasi terhadap teks-teks keagamaan bisa lebih dinamis, kontekstual, inklusif, dan relevan dengan masyarakat kekinian. Hermeneutika sebagai suatu bentuk interpretasi telah membawa cara baru untuk memahami ilmu pengetahuan Islam, seperti Tafsir Al-Qur’an. Ada kontroversi dalam penggunaan pendekatan hermeneutis untuk memahami Al-Qur’an. Satu kelompok menolaknya, sementara yang lain menerima kehadiran hermeneutika sebagai salah satu metode yang relevan untuk memahami tafsir al-Quran, meskipun metode ini berasal dari luar khazanah dunia Islam, Hermeneutika diperlukan untuk memahami al-Quran, terutama untuk menyikapi Isu-isu kontemporer yang sebagian besar tidak diselesaikan dalam interpretasi klasik. Para intelektual muslim kontemporer seperti Nashr Hamid Abu Zayd, Fazlur Rahman, Hasan Hanafi dan yang lain membuka kemungkinan untuk menerapkan hermenutika di dalam menafsirkan Al-Qur’an. Pada akhirnya penulis melihat bahwa penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan Al-Qur’an mampu menambah dan memperkaya metodologi tafsir, namun penulis juga sepakat bahwa konsep hermeneutika secara utuh tidak bisa diterapkan dalam menafsirkan Al-Qur’an.
ANALISA ASPEK MUNĀSABAH DALAM AL-QUR’AN:STUDI TERHADAP KITAB ȘAFWAH TAFĀSĪR KARYA MUḤAMMAD ‘ĀLĪ AL-ȘĀBŪNĪ (1930-2021 M) Angga Marzuki
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam dan komperhensif konsep munāsabah terkait dengan pola dan pendekatan munāsabah antar ayat dalam satu surat yang digunakan Muhammad ‘Alī al-Ṣābūnī dalam menafsirkan surat al-Baqarah dalam karyanya Ṣafwah al-Tafāsīr. Untuk memaparkan itu, penulis menggunakan metode deskriptif analisis untuk menyajikan pola dan pendekatan yang dibangun oleh ‘Alī al-Ṣābūnī dalam memaparkan munāsabah antar ayat dalam satu surat untuk menafsirkan ayat tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah munāsabah antar ayat dalam satu surat yang diuraikan ‘Alī al-Ṣabūnī, ia lebih menitik beratkan perhatiannya untuk menghasilkan munāsabah  dari segi kandungan isi ayat, dengan menggunakan pendekatan analisa kandungan ayat. Hasil dari itu ia paparkan dengan sistematis, Yaitu, pertama menemukan tema sentral dari ayat dan tema sentral berikutnya, kedua, menjelaskan dari tema sentral tersebut. hasil dari analisa dari kandungan ayat, lalu ia menetapkan hubungan sesuai dengan tema sentral yang terkandung dalam ayat,  dalam memaparkan munāsabah, ‘Alī al-Ṣabūnī tidak terikat dengan jumlah ayat yang ia tafsirkan. tidak semua ayat yang ia tafsirkan terdapat munāsabah di dalamnya. Riset ini sepakat dengan temuan Ahmad Said bahwa ‘Alī al-Ṣabūnī sangat memperhatikan unsur munasabah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.
QUNUT DALAM KACAMATA MUHAMMADIYAH: STUDI PEMAHAMAN HADIS DALAM FATWA MAJELIS TARJIH Siti Lailatul Qomariyah, Muhammad Dwi Toriyono
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk meneliti pemahaman hadis yang digunakan sebagai argument fatwa Majelis Tarjih yang tidak membenarkan pengkhususan membaca qunut dalam shalat shubuh. Putusan ini tidak sepaham dengan sebagian mazhab di Indonesia, yakni mazhab Imam Syafi’i yang juga menggunakan hadis sebagai dasar hukum. Artikel ini ditulis menggunakan metode analisis diksriptis terhadap pemahaman hadis yang digunakan oleh Majelis Tarjih. Sebagai hasil, didapati kesimpulan bahwa hadis yang dijadikan landasan hukum oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah benar-benar sahih. Hadis tersebut secara terang tidak melarang membaca qunut dalam shalat shubuh. Namun pelarangan atau tidak membenarkan adanya qunut dalam shalat shubuh merupakan suatu pemahaman Majelis Tarjih Muhammadiyah yang berlandaskan pada bahwasannya jika ada suatu amalan yang diperselisihkan hukumnya, maka tidak dibenarkan untuk mengamalkannya. Sementara itu, didapatkan bahwasannya dalil yang dikemukakan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah merupakan suatu dalil yang umum tentang utamanya shalat dengan membaca qunut. Dalil ini mestinya memperkuat dalil yang disampaikan oleh Syafi’i sebagaimana dipaparkan dalam hadis sebelumnya bahwasannya membaca qunut dalam shalat shubuh hukumnya adalah sunnah.
MOHAMMED ARKOUN’S THOUGHT ON METHODOLOGY OF INTERPRETING THE QUR’AN Syaiful Arief
Al-Dhikra Vol. 2 No. 2 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article explores Arkoun’s thought about Quran and its Interpretation Methodology. In Arkoun’s view, revelation as guidance source for mankind must be treaten not only as sacred thing, but also taken into account that it emerges for mankind benefits. Revelation manifested into muṣḥāf, for Arkoun, must be studied by modern approaches using multidiscipline sciences. So that, we can unravel message substance of revelation maximally. But the most important thing is the unveiling of revelation meaning may not be followed or framed by ideological and political interest or other profane interests, which will reduce revelation become a kind of justification or legitimation. What Arkoun proposes in his interpretation methodology includes approaches as follow: first, Linguistic-Semiotic and Literary Interpretation. By these approaches, he wants to explore the meaning of Quran by explaining every word and syntax arrangement of Quran. Quran consists of sign and symbols that can be analysed semiotically to reach its deepest meaning, and far from ideological point of view. Second, Historical-Antropological Interpretation. This approach acquaints Quran as part of historical life. Then, to understand well the Quran, the interpreter should understand that Quran includes many stories behind the descent. Arkoun recognizes that this method obviously is to challenge all sacralizing and transcendentalizing interpretations produced by traditional theological reasoning. Third, Theological-Religious Interpretation. This used as last alternative to read Quran. Arkoun points out to two essential characteristics of this approach. First, any type of belief-oriented reading falls under the “dogmatic enclosure”. Second, the early monumental works of exegesis contributed to the historical development of “the living tradition”.
Adawat al-Istifham wa Ma'aniha fi Surah al-Mulk Tubagus Hasan Basri
Al-Dhikra Vol. 3 No. 1 (2021): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengungkap makna konotatif yang terkandung dalam gaya bahasa tanya (interrogative) yang ada dalam surat Al-Mulk. Kajian istifham ini di satu sisi memiliki peranan penting sebagaimana peranannya dalam ilmu nawhu sebagai susunan kalimat yang digunakan untuk menggali pemahaman dan informasi (ilmu). Fokus pembahasan yang diangkat dalam tulisan ini setidaknya ada 3 hal yaitu: pertama, membahas tentang ada>t al-istifha>m yang terdapat dalam surat Al-Mulk. Kedua, mengungkap arti konotatif dari gaya bahasa tanya yang digunakan. Dan ketiga, menjelaskan tujuan yang terkandung dari penggunaan makna konotatif tersebut. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, dan analasis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis isi. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa dalam surat Al-Mulk terdapat lima jenis adat alistifham, dari kelima ada>t al-istifha>m tersebut semuanya mengandung makna konotatif (maja>zi) dengan tujuan yang berbeda-beda di antaranya bertujuan untuk mengingkari, mencela, menafikan (meniadakan), mengancam, berjanji, menetapkan suatu hukum dan menakutnakuti.

Page 8 of 14 | Total Record : 132