cover
Contact Name
Muhammad Khoirul Anwar
Contact Email
khoirulanwar@ptiq.ac.id
Phone
+6289637778370
Journal Mail Official
Khoirulanwar@ptiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Batan No 5, Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Dhikra
Published by Institut PTIQ Jakarta
ISSN : 25032232     EISSN : 2807257X     DOI : https://doi.org/10.57217
Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis was first published by the Faculty of Ushuluddin of Institut PTIQ Jakarta in April 2016 and published twice within one year i.e April and October. So, it accepts submissions of manuscripts from any issues related to quranic and hadith studies. Editors accept articles that have never been published in other media. The paper should be written with 6000-10.000 characters. The editor has the right to appraise the articles appropriateness both in terms of content, information and writing style. For those whose the article is publised will be given a reward in accordance to the working regulations.
Articles 132 Documents
Penafsiran Ulang QS. An-Nisa [4]: 34 dalam Perspektif Tafsir Maqasidi Siti Robikah
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i1.1007

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menelaah lebih mendalam pesan yang disampaikan dalam Al-Qur’an surah al-Nisa 34 soal kepemimpinan perempuan. Ayat ini secara tekstual dipahami oleh mayoritas ulama tafsir bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan baik domestik maupun publik. Dengan menggunakan metode pembacaan tafsir maqasidi yang diinisiasi oleh Abdul Mustaqim, penelitian ini akan mencoba menafsirkan ulang QS. An-Nisa ayat 34. Ada tiga analisis yang harus dipahami dalam metode tafsir maqasidi Abdul Mustaqim, yaitu dengan analisis kebahasaan, analisis ‘ulum Al-Quran atau hermeneutis dan analisis maslahah. Ketiga analisis ini akan memberikan kebaharuan dalam penafsiran Al-Qur’an. QS. An-Nisa ayat 34 menggunakan term al-rij?l dan al-nisa’ yang menunjukkan pemaknaan laki-laki dan perempuan bukan makna jenis kelamin namun makna secara gender. Karena term laki-laki dan perempuan secara jenis kelamin ditunjukkan dengan kata al-?akar dan al-untsa. Maka dari itu, reinterpretasi yang ditawarkan oleh Tafsir Maqasidi QS. An-Nisa ayat 34 yaitu harus ada ketersalingan antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga bukan superioritas laki-laki atas perempuan. Hal ini dikarenakan kemaslahatan keluarga adalah kunci utama bagi kemaslahatan umat seluruhnya. Ketersalingan adalah jawaban atas ketidakadilan dalam sebuah keluarga. Goals yang ingin dicapai oleh Tafsir Maqasidi Abdul Mustaqim ini mencari jalan tengah atau istilah yang digunakan untuk jalan moderasi antara yang fundamental ekstrimis dan liberal.
DIALEKTIKA PEMAHAMAN HADIS TENTANG ISBAL: DARI KONFIGURASI TEKSTUALIS KE TRANSFORMASI KONTEKSTUALIS Hepni Putra
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i1.1012

Abstract

Polemik pemahaman hadis tentang isbal memiliki implikasi langsung dalam pola praktik keseharian umat Islam, sehingga implikasi dari polemik pemahaman tersebut terkadang menyebabkan mereka saling salah-menyalahkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menekankan pada beberapa aspek yang terlibat dalam memahami serta menggali makna hadis isbal, seperti faktor pemahaman tekstual dan kontekstual, asbab al-wurud mikro dan makro, serta aspek extra-relationshif text. Untuk menerapkan metode tersebut dalam artikel ini melakukan studi kolaborasi serta studi analisis terhadap sebuah hadis yang benar-benar melarang isbal dan hadis yang lain yang mengizinkan isbal dengan syarat. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dialektika pemahaman tentang isba>l terletak pada prinsip moral dasar untuk menghindari sifat sombong. Sehingga, apakah melarang atau mengizinkan/mentolerir isbal, keduanya akan tetap bertentangan dengan tujuan perintah hadis tersebut selama dalam isbal dimotivasi oleh kesombongan.
TRADISI MENJAGA KUBURAN SEORANG YANG BARU MENINGGAL DI MASYARAKAT DESA WRINGIN KECAMATAN WRINGIN KABUPATEN BONDOWOSO (STUDI LIVING HADITS) Mahfidzatun Nabilah
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i1.1013

Abstract

Artikel ini merupakan riset living hadis yang termasuk bidang baru dalam kajian hadis, yaitu membahas fenomena sosial yang diimplementasikan dari pemahaman suatu hadis. Salah satu fenomena living hadis yang dapat ditemukan di daerah Bondowoso adalah tradisi menjaga kuburan baru. Umumnya tradisi yang disebut ajegeh kobhur dalam Bahasa Madura ini dilakukan oleh masyarakat Desa Wringin di Bondowoso. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penulis pada penelitian ini menganalisa tradisi dengan teori tindakan sosial Max Weber dengan hasil bahwa tradisi ini tergolong tipe tindakan rasional instrumental dengan beberapa tujuan. Tujuan dilakukannya penjagaan kuburan baru diantaranya adalah sebagai representasi hadis, mengantisipasi adanya pencurian sesuatu dari si mayit, adanya beberapa peristiwa mistis, serta sebagai sarana untuk menambah aliran pahala bagi orang yang meninggal. Adapun kegiatan yang dilakukan saat menjaga kubur cukup beragam mulai dari membaca alquran, sekedar mengobrol santai, hingga bermain kartu.
Tafsir Maqasidi Al-Mawardi: Studi Atas Ayat-Ayat Politik Dalam Tafsir Al-Nukat Wa Al-‘Uyun Achmad Zubairin
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i1.1015

Abstract

Artikel ini bertujuan melakukan elaborasi terkait munculnya varian tafsir Al-Qur’an berbasis ideologi yang berbicara soal sistem politik negara muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad. Hal itu disebabkan sebagian umat Islam berijtihad merumuskan dan memformulasikan fikih siyasah (teori politik islam). Bahkan sudah sampai tahap empirik, sebagaimana yang dilakukan para Khulafa ar-Rasyidun, namun bentuk politik Islam “yang ideal” sampai saat ini masih terus diperdebatkan. Perdebatan yang paling mendasar, sebenarnya seputar penerapan dan formalisasi nilai-nilai syariah Islam dalam lingkup Negara. Untuk menggali lebih dalam lagi seputar hubungan Islam dan Negara, penulis mencoba menganalisa penafsiran maqasidi-nya al-Mawardi seputar ayat-ayat yang membahas tentang politik. Diskursus Tafsir Maqasidi sebenarnya baru muncul belakangan, namun prinsip-prinsipnya yang mengacu kepada maqasidi al-syari’ah, sudah sejak dahulu didiskusikan. Prinsip dasar maqasid al-syari’ah lebih kepada upaya menghumanisasikan hukum Islam yang bersumber dari ayat Al-Qur’an dan Hadis. Dalam rangka upaya menggali makna ayat agar teks Al-Qur’an dipahami tidak secara tekstual akan tetapi mampu menangkap makna ayat yang lebih kontekstual, maka menafsirkan Al-Qur’an dari sisi Maqasidi-nya, akan mengungkap inti (jawhar) dari Al-Qur’an. Penulis juga mencoba mengungkap sisi subjektifitas seorang al-Mawardi sebagai penafsir dalam Tafsir al-Nukat Wa al-‘Uyun karangannya, termasuk kondisi sosio-historis dimana al-Mawardi hidup yaitu pada masa dinasti Abbasiyah, walaupun disanyalir sebagian kalangan, dirinya pun dalam menulis karya tafsir-nya dan karya lainnya al-Ahkam al-Sultaniyah sebagai “pesanan politik” dari khalifah yang berkuasa saat itu. Artikel ini berkesimpulan bahwa sistem negara yang sesuai dengan teori maqa>s}id}i al-Mawardi ialah yang berasaskan pada nilai-nilai Islam sebagaimana ditegaskan juga oleh tokoh-tokoh lain seperti Abou El Fadl.
Pemimpin Non-Muslim Berdasarkan Sudut Pandang Al-Qur’an dan Hadis: Tinjauan Atas Pandangan Ja’far Umar Thalib Taufik Akbar
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 2 (2022): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i2.1071

Abstract

The purpose of this article is to examine the beliefs of Ja'far Umar Thalib, a significant Islamic figure in Indonesia associated with the manhaj salaf movement and the founder of Laskar Jihad, which played a role in the conflict in Ambon, Maluku in 1999. Specifically, this article delves into Thalib's perspective on the leadership of non-Muslims and governments. To achieve this, the article employs a qualitative research approach using a netnographic character criticism research model. The study reveals that Thalib regards government leadership as a component of Islamic law in the field of as-siya>sah asy-syar’iyyah. Therefore, according to Thalib's viewpoint, a government leader must adhere to the Qur'an and hadith. Moreover, Thalib highlights the prohibition for Muslims to exhibit loyalty to non-believers, including Jews and Christians, especially when choosing a leader, based on QS. al-Maidah verse 51.
Paradigma Penafsiran Alegoris Surga Dalam Tafsir Indonesia-Kontemporer: Kajian Atas Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab Wendi Parwanto
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 2 (2022): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i2.1106

Abstract

This study is motivated by the lack of studies that explain the interpretation shift on the theological-metaphysical verses in the Qur'an, including verses about heaven combined with a philosophical theoretical approach. Therefore, the researcher is interested in studying this theme further. This study explains the paradigm shift in the interpretation of heaven illustration in the Indonesian interpretation, namely M. Quraish Shihab. The theory used is the paradigm shift theory introduced by Thomas Kuhn. The conclusion of this article shows that there is a shift in the meaning of the illustration of heaven in each generation of interpretation in Indonesia, namely on the themes 1) The area of ??heaven; 2) The river that flows under heaven ; 3) Fruits in heaven; 4) Couples and nymphs in heaven; and 5) Green color and adornment for humans in heaven. In understanding these themes, M. Quraish Shihab tends to be rationalist and contextualist according to the current context. The thoughts that motivate his interpretive arguments are inseparable from the historicity of his life experiences, such as his intellectual career, organizational experience, teachers and the people of Indonesia as the targets of his interpretations. So all of that becomes a regulation and panoptiation in shaping his intellectual reasoning, including in the interpretation of the verses that illustrate heaven.
Penggunaan Ayat-ayat Syifa’ pada Ruqyah Tolak Sihir : (Studi Kasus pada Ustadz Muhammad Chudlori di Desa Watesari Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo) Arini Jauharoh
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 2 (2022): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i2.1109

Abstract

This article is a living Qur'an research on the phenomenon of the practice of using Al-Qur'an verses as a repellent for magic. The case is understood from a phenomenological perspective (based on existing phenomena) which is implemented from an understanding of the verses of the Qur'an. The practice of using these verses of the Qur'an as a treatment for patients affected by witchcraft or known as ngeruqyah. This study uses a qualitative approach, and as an analytical theory, the author uses Max Weber's theory of social action. Researchers directly studied the situation in the field by observing and interviewing several informants. This research concludes that an activity carried out communally or individually is classified as a type of rational instrumental action with several goals and has a subjective meaning to be spread to other parties involved in social activities. The purpose of me-ruqyah on sick people caused by magic is as a representation of the Qur'an, non-medical treatment, and can calm the hearts of ruqyah patients. In addition, ruqyah is also understood and used as a medium of preaching for patients who come, both those who are still in the process of ruqyah and those who have recovered.
Preferensi Tafsir Nusantara di era Jaringan Mesir dan India: Studi Kasus pada Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus Muhammad Khoirul Anwar
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 2 (2022): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i2.1110

Abstract

This article aims to conduct an in-depth analysis related to the interest (preference) for references to the interpretation of the archipelago in the era of the Egyptian and Indian networks. The network referred to in this article is the popularity of commentary works from Egypt and India, which were discussed in Indonesia then. This study takes the case of Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim by analyzing issues of modernity. Periodically, this interpretation was written in the era of massive modern thought from Egyptian and Indian currents, both of which are evidence of the intertwining of the scientific network of Indonesian scholars with scholars from the two countries. From Egypt emerged Tafsir al-Mannar, written by Muhammad Abduh, and from India, there was the work The Holy Qur’an by Maulana Muhammad Ali, both of which contributed to the interpretation discourse in the archipelago. This article concludes that Mahmud Yunus, in his commentary, is very responsive to issues of modernity which are the trend of discussion in interpretation. Still, in his explanation, he does not mention many academic references, so he does not provide a comprehensive scientific explanation. This style is what differentiates Mahmud Yunus from Tafsir Al-Mannar and The Holy Qur’an even though it appears at the same time. Nevertheless, the author finds Mahmud Yunus blatantly quoting the opinion of Tafsir Al-Mannar for certain themes.
PERAN IMAM MALIK DAN AL-SYAFII DALAM MEMBANGUN FIQH AL-HADIS Moh. Yusni Amru Ghozali
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 2 (2022): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i2.1111

Abstract

Fiqh al-hadis needs to receive more attention from modern researchers. It has yet to be widely discussed in research and separate works in the form of books, even though it is an istinbat methodology applicable to classical scholars’ scientific treasures. The need of people to understand the meaning and content of hadith is getting higher, bearing in mind that legal events that require arguments continue to grow and are complicated. the hadith becomes increasingly urgent context. Fiqh al-hadis is needed to offer an alternative that is virtuous in every time and place (salihun likulli zaman wa makan). Methodologically, the scientific work of fiqh al-hadis\ is more in-depth than the syarah} of hadith (helps the reader understand the words of hadith). Fiqh al-hadis\ is to reach wisdom, law, and position of hadith that can be seen from various sides, either sanad, Matan, even contextualizing it to the present time. Now. Through qualitative methods, this study traces the existence of Fiqh al-hadis from the books of syarah al-hadith and reliable narrations. The results of this study conclude that in the context of Fiqh al-hadis has a long and well-traced genealogy.
PERNIKAHAN BEDA AGAMA PERSPEKTIF AL-QUR’AN (ANALISIS PEMIKIRAN BUYA HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR) Desi Anggraeni, Adang Kuswaya, Tri Wahyu Hidayati
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 4 No. 2 (2022): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v4i2.1112

Abstract

Allah memberikan jalan kepada manusia untuk menjaga kehormatan serta martabatnya dengan jalan pernikahan. Pernikahan beda agama tak jarang menimbulkan gejolak dan reaksi keras di kalangan masyarakat. Masing-masing pihak memiliki argumen logis yang berasal dari penafsiran dalil-dalil Islam tentang pernikahan beda agama. Penelitian ini ingin menjawab bagaimana pernikahan beda agama dalam perspektif Al-Qur’an Analisis Pemikiran Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Alasan penulis memilih tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka adalah karena tafsir Al-Azhar mampu menampilkan sosio-budaya dan sosio-politik pada saat penulisannya. Jenis Penelitian ini adalah library research dengan metode yang digunakan adalah studi tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka mengharamkan pernikahan muslim dengan orang musyrik baik laki-laki maupun perempuan berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 221. Musyrik menurut Buya Hamka adalah musyrik secara umum tanpa terkecuali. Selanjutnya dalam surat Al-Maidah ayat 5 Buya Hamka membolehkan nikah beda agama antara pria muslim dan wanita ahli kitab. Ahli kitab yang merdeka dan wanita baik-baik. Ahli kitab yang dimaksud hanya Yahudi dan Nasrani. Buya Hamka cenderung mengedepankankan bahwa seorang mukmin harus kuat dan kokoh imannya jika akan menikah dengan ahli kitab. Implikasi dari pemikiran Buya Hamka menjadi salah satu sumbangan bagi produk hukum di Indonesia terkhusus tentang pelarangan nikah beda agama pada Fatwa MUI tahun 1980.

Page 4 of 14 | Total Record : 132