cover
Contact Name
Muhammad Khoirul Anwar
Contact Email
khoirulanwar@ptiq.ac.id
Phone
+6289637778370
Journal Mail Official
Khoirulanwar@ptiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Batan No 5, Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Dhikra
Published by Institut PTIQ Jakarta
ISSN : 25032232     EISSN : 2807257X     DOI : https://doi.org/10.57217
Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis was first published by the Faculty of Ushuluddin of Institut PTIQ Jakarta in April 2016 and published twice within one year i.e April and October. So, it accepts submissions of manuscripts from any issues related to quranic and hadith studies. Editors accept articles that have never been published in other media. The paper should be written with 6000-10.000 characters. The editor has the right to appraise the articles appropriateness both in terms of content, information and writing style. For those whose the article is publised will be given a reward in accordance to the working regulations.
Articles 133 Documents
PENGARUH TAFSIR TAHRIR WA TANWIR DALAM TAFSIR AL MISBAH PADA SURAT LUQMAN AYAT 14 DAN AL AHZAB AYAT 59. Fatma Wati, Talbiyyah Robbi Rodhia, Anisa Nadhira
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 6 No. 1 (2024): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v6i1.1433

Abstract

Research ini hendak melakukan analisis atas pengaruh Tafsir Tahrir Wa Tanwir dalam Tafsir al-Misbah surat Luqman ayat 14 dan surat al-Ahzab 59. Adapun metode yang digunakan adalah kualitatatif dengan memperhatikan teks pustaka kemudian dilakukan analisis diskriptif. . Pada penelitian ini, kami akan melihat bagaimana gagasan dan pemikiran Ibnu Asyur yang telah dikutip Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah, serta dampaknya dalam pemahaman masyarakat. Melalui analisis yang cermat terhadap teks dan kajian literatur yang relevan, penelitian ini mencoba membuka wawasan tentang keterpengaruhan Tafsir Tahrir Wa Tanwir dalam Tafsir al-Misbah surat Luqman ayat 14 dan surat al-Ahzab ayat 59 tentang pengasuhan ayah terhadap anak dan jilbab. Hasil kajian antara lain menemukan bahwa Tafsir al-Misbah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Tafsir lainnya khususnya di ayat ini yang dikutip oleh Ibnu Asyur. Banyak gagasan yang diambil Tafsir al-Misbah pada kutipan Ibnu Asyur diantaranya mengenai pengasuhan ayah terhadap anaknya dan mengenai jilbab yang akan dibahas dalam penelitian ini karena sesuai dengan judul. Adapun banyaknya yang lain Quraish shihab mengutip tafsiran dari Ibnu Asyur namun dengan penelitian yang berbeda.
HISTORIOGRAPHY OF HADITH STUDY IN INDONESIA Hara, Manahara Alamsyah Lubis; Fahrul Reza, Raja
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 6 No. 1 (2024): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v6i1.1534

Abstract

Abstract This article describes the study of hadith in Indonesia within the scope of historical science. Telling the story of hadith studies in Indonesia cannot be separated from how Islam entered Indonesia and all phases of its development even though in its early history hadith studies did not receive more attention from Indonesian Muslims but in the end, hadith could develop rapidly and become a separate discipline. This article uses a qualitative method that focuses on data related to the history of the development of hadith studies in Indonesia sourced from books, journals, and scientific articles. The article shows that in the history of the development of hadith studies in Indonesia, it basically started since the beginning of Islam entering Indonesia, then continued to enter educational institutions until this century. Although there was a period when hadith studies stagnated due to the absence of works that appeared in that century. Keywords: Historiography, Hadith, Indonesia.
HASAN AL-SAQAF'S CRITICISM ON THE ASSESSMENT OF THE PROPHET'S HADITH BY NASHIRUDDIN AL-ALBANI IN THE BOOK OF TANAQUDHAT AL-ALBANI AL-WADIHAT Putri, Rizki; Siska Sukmawati
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 6 No. 1 (2024): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v6i1.1554

Abstract

This study aims to analyze the assessment of the hadith of the prophet by Nashiruddin Al-Albani in one of the hadith books of a contemporary Jordanian scholar named Hassan bin Ali Assaqaf. This research method is library research with a qualitative method that is organized descriptively, comparatively, and analytically. The book of Tanaqudhat al-Albani al-Wadihat by Hasan bin Ali Assaqaf is a book that contains corrections to Nashiruddin al-Albani's mistakes in assessing the Prophetic traditions. The inconsistencies made by al-Albani made Hasan bin Ali Assaqaf examine his works to find out more about the mistakes made by al-Albani. Shaykh al-Albani is a Muslim scholar who devotes all his abilities in researching the Prophetic traditions. However, al-Albani's efforts were countered by Hasan b. 'Ali Assaqaf because of al-Albani's errors and inconsistencies in assessing hadith, as well as his attitude of not following the previous scholars of hadith who prioritized faith over ijtihad
TRADISI PEMBACAAN BURDAH PADA MALAM JUMAT DUA KALI DALAM SEBULAN DI PONDOK PESANTREN DAARUL MUGHNI AL-MAALIKI BOGOR (STUDI LIVING HADIS) Asmaul Husna, Intan Kusuma Rizki, Salsabila Azzahra, Selvina Vandu Winata
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 6 No. 1 (2024): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis living hadis dalam tradisi pembacaan burdah pada malam jumat dua kali dalam sebulan di Pondok Pesantren Daarul Mughni Al-Maliki Bogor. Pembacaan burdah dilaksanakan setiap malam jumat yang dipimpin oleh kyai Mustofa selaku mudir pondok dan dihadiri oleh seluruh para guru dan para santri. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah kualitatif, dengan melibatkan kajian kepustakaan, interview dan observasi. Kemudian data tersebut dianalisis menggunakan pendekatan fungsional dari Bowen yang mengatakan bahwa tindakan sosial itu memiliki tiga fungsi, pertama fungsi religius yangd kedua, fungsi sosial dan yang ketiga, fungsi struktural. Artikel ini berkesimpulan bahwa living hadis dalam tradisi pembacaan burdah di Pondok Pesantren Daarul Mughni al-Maliki berfungsi religius sebagai kegiatan spiritual karena meningkatkan ibadah, dan meningkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad. Sedangkan berfungsi sosial bertujuan agar para dewan guru dan para santri bisa mendatangkan ikatan silaturahmi baik antara guru dan guru, guru dengan santri ataupun santri dengan santri yang lebih kuat karena di dalamnya mengajarkan banyak hakikat cinta kepada Rasulullah sebagai suri tauladan kita yang perlu di patuti akan sifat dan akhlak mulianya. Dan berfungsi struktural dengan mengharapkan kesembuhan dari fadilah pembacaan, dilindungi dari mara bahaya sekaligus sebagai hiburan sehingga bisa menggairahkan para santri dan juga para pendengar.
TARJIH PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG MAKNA SAB’ATU AHRUF Syaiful Arief
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 5 No. 2 (2023): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57217/aldhikra.v5i2.1835

Abstract

Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab untuk mempermudah penerima ajaran Al-Qur’an saat itudalam memahami isinya. Sebagai petunjuk bagi manusia, Al-Qur’an ternyata tidak hanya berisisatu huruf tapi berisi tujuh huruf atau sab’atu ahruf. Para ulama berbeda pendapat mengenaimakna sab’atu ahruf yang berpengaruh pada pemahaman tentang sakralitas teks Al-Qur’an.Artikel ini membahas perbedaan pendapat ulama dan tarjih terhadap berbagai pendapattersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi pustaka dengan pendekatananalisis deskriptif-komparatif. Hasil dari dari penelitian ini menemukan para ulama sepakat AlQur’an diturunkan dalam tujuh huruf. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang maknadari tujuh huruf tersebut. Pendapat yang paling kuat yang mendekati maksud dari tujuh huruftersebut ialah pendapat yang mengatakan bahwa maksud dari tujuh huruf adalah cara-carabacaan yang berbeda yang tidak keluar dari tujuh sisi yang ditegaskan oleh Abu Fadhl al Razi.Mushaf Utsmani yang ada sekarang mencakup tujuh huruf yang diturunkan kepada NabiMuhammad Saw.
ASYHUR AL-HURUM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’ÁN (STUDI KOMPARATIF ANTARA MUTAWALLI AL-SYA’RAWI DAN SAYYID QUTHB) DAN RELEVANSINYA SAAT INI Sayyida
Al-Dhikra Vol. 2 No. 1 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bermaksud meneliti bagaimana pandangan al-Qur’ân terhadap Asyhur Al-H{urum melalui penafsiran kedua ulama dengan  mengambil dua perbandingan kitab tafsir yaitu tafsir Mutawalli Al-Sya’râwi karya Mutawalli Al-Sya’râwi, dan Tafsir Sayyid Quthb Penelitian ini bertujuan memberikan penjelaskan bagaimanakah penafsiran kedua ulama  terhadap Asyhur Al-H{urum serta menjelaskan bagaimana relevansinya saat ini.  Penelitian  ini  termasuk  dalam  penelitian  pustaka yang mengkaji penafsiran kedua ulama tentang Asyhur Al-H{urum. Penelitian ini bersifat deskriptif- analisis, serta mengeksplorasi secara mendalam terhadap  panafsiran dua surat diantaranya  QS. Al-Baqarah ayat 216 dan 217. Dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa dari dua kitab tafsir yang penulis teliti yaitu tafsir Mutawalli Al-Sya’râwi karya Mutawalli Al-Sya’râwi,  dan Tafsir Sayyid Quthb penulis menemukan pandangan al Quran terhadap Asyhur Al-H{urum berdasarkan penafsiran kedua ulama tersebut terhadap surah  Al- Baqarah Ayat 216 dan 217. Mereka semua menafsirkan bahwa larangan perang di bulan h}urum dan larangan melakukan pembunuhan sangat relevan saat ini. Hal tersebut berkaitan dengan keamanan proses perjalanan calon jemaah haji dan saat-saat ketika melakukan ibadah haji.
AL-QUR’AN DAN RESOLUSI KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA Hasiolan
Al-Dhikra Vol. 2 No. 1 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengungkap tawaran Al-Qur’an dalam merespon konflik antara kelompok manusia dengan menjadikan kasus konflik di Indonesia sebagai titik berangkat. Semua itu menggambarkan konflik akan selalu ada sepanjang perjalanan kehidupan manusia karena berbanding lurus dengan keinginan masing-masing individu, kelompok atau bangsa. Sebagai makhluk sosial maka akan selalu ada gesekan antar sesama yang tidak jarang karena satu hal dan lainnya menimbulkan konflik. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang memiliki jargon s}a>lih li kulli zamān wa makān, menyimpun tawaran tersendiri untuk menjadi problem solving atas setiap konflik yang terjadi. Artikel ini menggunakan metode tafsir tematik-deskriptif sehingga dengan melihat ayat-ayat tentang konflik secara global bukan parsial. Artikel ini juga mendukung pendapat Lewis A. Coser (1913-2003 M) tentang struktural fungsional, yang melihat kehidupan manusia dari dua sisi, yaitu sisi konflik yang didukung oleh Ralf Dahrendorf 1929-2009 M. Sisi kedua, manusia cenderung dalam kondisi tentang, damai, dan tentram.  Dari berbagai ayat yang penulis inventarisir, setidaknya ada beberapa tawaran Al-Qur’an yang dibahas dalam tulisan ini yaitu pertama: membangun dan membuka ruang untuk komunikasi. Kedua: menjalin persaudaraan. Ketiga: melakukan klarifikasi (tabayyun) dalam setiap masalah. Keempat: menahan diri dan menghargai pihak lain. Kelima: tidak memaksakan kehendak. Keenam: perang, jika tidak ada jalan lain dalam menyelesaikan masalah dan merupakan pilihan terakhir. Jika perang telah menjadi pilihan satu-satunya, maka perang yang dilakukan harus berlandaskan fi sabilillah, yakni dalam rangka membela diri, juga untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dengan etika-etika perang yang wajib dipenuhi.
Memahami Relevansi Ayat Jizyah dengan Metode Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed dan Maqashid al-Syariah Jasser Audah Wildan Imaduddin Muhammad
Al-Dhikra Vol. 2 No. 1 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengungkap tafsir terhadap ayat Jizyah dalam Q.S Al-Taubah 29 yang seringkali dijadikan legitimasi memerangi kelompok yang dianggap tidak beriman, bagi kelompok radikal Islam. Hal ini dikarenakan belum ada upaya penafsiran yang relevan dan kontekstual untuk saat ini sehingga bila dibaca secara tekstual maka dapat dengan mudah disalahpahami. Artikel ini bertujuan untuk melakukan kontekstualisasi ayat jizyah dan melihat relevansinya dengan menggunakan metode tafsir kontekstual Abdullah Saeed. Dengan metode tafsir kontekstual, ditemukan bahwa ayat jizyah termasuk dalam nilai instruksional yang tergantung pada konteks. Sehingga dalam memahaminya perlu pengetahuan secara komprehensif tentang konteks, situasi dan kondisi secara spesifik dan tidak bisa serta merta dilihat sebagai ayat yang dapat diterapkan di segala waktu dan tempat. Kemudian dengan menggunakan metode maqa>s}id as-syari>’ah yang dikembangkan Jasser Auda, akan ditemukan hakikat nilai universal yang terkandung di dalam ayat jizyah. Artikel ini juga sekaligus melengkapi penafsiran terhadap ayat Jizyah yang belum dilakukan secara komperhensif relevansi ayat tersebut atas situasi politik dengan model nation state seperti sekarang. Para mufassir Al-Qur’an baik yang klasik seperti Al-Tabari dan al-Jashshash maupun yang kontemporer seperti al-Maraghi dan ‘Ali al-Sabuni mengulas ayat tersebut hanya dari sisi linguistik, historis dan hukum Islam dalam bingkai suasana politik masa lalu. Namun temuan penulis dengan menggunakan metode kontekstual Abdullah Saeed beserta konvergensi dengan Maqa>s}id as-Syari>’ah Jasser Auda, ayat Jizyah justru menawarkan pesan untuk berlaku adil secara sosial dan berbuat toleransi terhadap orang-orang yang bertentangan dengan nilai-nilai universal Al-Qur’an
SUFISME KH. SHALEH DARAT TERHADAP PENAFSIRAN AYAT-AYAT SHALAT DALAM TAFSI M. Rofiq
Al-Dhikra Vol. 2 No. 1 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengungkap corak sufistik penafsiran kiai Shaleh Darat dalam kitab Tafsirnya, Tafsi>r Faid} al-Rah}ma>n. Sebagai ulama yang dominan menuliskan karya-karyanya dengan bahasa lokal, kiai Shaleh Darat lebih menekankan pada aspek sufistik dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an. Artikel ini menggunakan metode maud}u’i> dengan mengambil ayat-ayat yang membahas tentang shalat sebagai obyek penafsiran, serta melakukan komparasi dengan karyanya yang lain, yaitu kitab Munjiyyat: Methik Saking Ihya’ ‘Ulu>m al-Di>n. Artikel ini melanjutkan temuan Ghazali Munir bahwa kiai Shaleh Darat dilihat dari metode dakwah dan karya-karyanya dominan pada sufistik. Dan juga Saiful Umam yang melihat metode dakwah sufistik yang dilakukan kiai Shaleh Darat tersebut digunakan sebagai kearifan dalam berdakwah. Dari berbagai tafsiran kiai Shaleh Darat terhadap ayat-ayat shalat, bisa disimpulkan bahwa shalat merupakan ibadah ritual selain dilakukan dengan jiwa dan badan yang bersih juga dijadikan sebagai medium untuk menghilangkan hal-hal yang tidak disenangi sekaligus menjadi pijakan mi’raj manusia kepada Allah. Dengan demikian, shalat bisa menyelamatkan manusia dari perbuatan buruk secara tidak kasat mata, sehingga dengan melakukan shalat bisa membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Sebagai seorang tokoh yang hidup di awal abad 19, apa yang dilakukan kiai Shaleh Darat tersebut berangkat dari kearifan beliau dalam berdakwah. Sehingga ada beberapa faktor yang mendorongnya untuk menulis karya-karya dengan menggunakan bahasa lokal, sekaligus bernuansa sufistik. 
PENCIPTAAN PEREMPUAN PERSPEKTIF HERMENEUTIKA  GEORGE J.E. GRACIA Siti Lailatul Qomariyah
Al-Dhikra Vol. 2 No. 1 (2020): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bermaksud memaparkan sedikit tentang penciptaan perempuan dalam Al-Qur’an surat al-Nisa’ ayat 1 dalam analisis hermeneutika Jeorje J.E. Gracia: meliputi pemaparan teori hermeneutika Jeorje J.E. Gracia dan aplikasi teori tersebut. Pembahasan penciptaan perempuan ini sangat penting, sebab ia sangat berpengaruh pada kedudukan perempuan dalam sejarah dan konteks sekarang ini. Al-Qur’an sebagai sumber refrensi kehidupan umat Islam mempunyai pengaruh yang besar dalam perilaku kehidupan manusia. Ayat-ayat yang terpapar di dalamnya menjadi acuan hidup manusia. Maka untuk memahami isinya, perlu kiranya ia ditafsirkan secara ulang guna mendapatkan arti dan maksud yang benar. Dalam hal ini penulis menggunakan penafsiran teori Jeorje J.E. Gracia. Teori Jeorje J.E. Gracia ini meliputi tiga fungsi yaitu: fungsi historis, fungsi makna dan fungsi implikatif. Kemudian ketiga fungsi ini penulis aplikasikan dalam penafsiran ayat tentang penciptaan perempuan yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an. Artikel ini mengembangkan pendapat Zitunah Subhan bahwa penting memahami kedudukan perempuan secara utuh dari era pra Islam. Sebagai hasil, pada bagian fungsi historis ditemukan tentang keadaan masyarakat ketika ayat Al-Qur’an diturunkan, yaitu kedudukan perempuan yang rendah dan termarginalkan. Adapun pada bagian fungsi makna didapat kesimpulan bahwa perempuan tercipta dari jenis yang sama dengan laki-laki, bukan dari diri Adam. Sedangkan pada bagian fungsi implikatif, ditemukan bahwa konsep penciptaan perempuan ini ternyata mempunyai sinkronisasi dengan teori gender. Dari teori gender tersebut melahirkan pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara. Mereka memiliki derajat dan kedudukan yang sama.

Page 7 of 14 | Total Record : 133