cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 412 Documents
Evaluasi Pola Penggunaan Obat Mood Stabilizer pada Pasien Bipolar di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Tahun 2023 Mutiara Dewi Fitaloka; Fetri Lestari; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14296

Abstract

Abstract. Mood stabilizer is a drug that can control and balance mood changes in patients with bipolar disorder. The use of mood stabilizers as adjuvant therapy can help prevent recurrence of bipolar disorder and reduce the risk of mania or depression symptoms. Bipolar disorder is a chronic mental disorder characterized by episodes of mania, hypomania, depression, or mixed episodes that can recur alternately or simultaneously. This study aims to determine the characteristics of bipolar patients and the pattern of use of Mood stabilizer drugs in bipolar patients in the Outpatient Installation of the West Java Provincial Mental Hospital. The study was conducted with descriptive observations, namely collecting data retrospectively, by recording patient medical record data with a primary diagnosis of bipolar who used mood stabilizer therapy. Samples were taken by consecutive sampling method, the method was taken from samples that met the inclusion criteria. From this study, the results of the evaluation of the pattern of use of mood stabilizer drugs in bipolar patients are most widely used is the anti-convulsant group with the type of drug divalproate sodium 250 mg / day at a frequency of use once a day one drug on the diagnosis of type II bipolar disorder patients which is a diagnosis code (F31.2) who experience a manic phase with psychotic symptoms and have experienced at least one other affective episode (hypomanic, manic, depressive, or mixed) in the past. Abstrak. Mood stabilizer merupakan obat yang dapat mengendalikan dan menyeimbangkan perubahan mood pada penderita gangguan bipolar. Penggunaan mood stabilizer sebagai terapi adjuvan dapat membantu mencegah rekurensi gangguan bipolar dan menurunkan risiko gejala mania atau depresi. Gangguan bipolar merupakan gangguan mental kronis yang ditandai dengan adanya episode mania, hipomania, depresi, atau episode campuran yang dapat kambuh secara bergantian atau bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien bipolar dan pola penggunaan obat Mood stabilizer pada pasien bipolar di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan deskriptif observasional yaitu mengumpulkan data secara retrospektif, dengan mencatat data rekam medis pasien dengan diagnosa utama bipolar yang menggunakan terapi mood stabilizer. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling, metode tersebut diambil dari sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Dari penelitian ini didapatkan hasil evaluasi pola penggunaan obat mood stabilizer pada pasien bipolar paling banyak digunakan adalah golongan anti konvulsan dengan jenis obat natrium divalproat 250 mg/hari pada frekuensi penggunaan sehari satu kali satu obat pada diagnosa pasien gangguan bipolar tipe II yang merupakan kode diagnosa (F31.2) yang mengalami fase manik dengan gejala psikotik dan pernah mengalami setidaknya satu episode afektif lainnya (hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lalu.
Sistem Penghantaran Nanostructured Lipid Carrier (NLC) Minyak Almond (oleum amygdalae) dan Asam Glikolat sebagai Antioksidan Rahmadita Sopyanti; Hanifa Rahma; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14308

Abstract

Abstract. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) is the second generation of lipid nanocarriers developed to increase stability and effectiveness in drug delivery. The general formulation of NLC consists of a combination of solid lipids and liquid lipids. The additional components in the NLC formulation are surfactants which can reduce surface tension. The group of non-ionic surfactants most commonly used for NLC development, for example Poloxamer, Tween, Span, PEG-40 stearate because they have an ionic charge so they do not cause irritation. The use of non-ionic surfactants with a large HLB such as Poloxamer can make the system more hydrophilic and increasing the concentration of non-ionic surfactants can also affect the adsorption of active ingredients. The study was carried out using a Systematic Literature Review (SLR) on articles obtained from reputable databases that met the inclusion and exclusion criteria. The results of the study show that many studies of NLC preparation formulations using poloxamer surfactants produce smaller particle size characteristics. Abstrak. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) merupakan generasi kedua dari nanokarier lipid yang dikembangkan untuk meningkatkan kestabilan dan efektivitas dalam penghantaran obat. Formulasi umum NLC terdiri dari kombinasi antara lipid padat dan lipid cair. Adapun komponen tambahan dalam formulasi NLC, yaitu surfaktan yang mampu menurunkan tegangan permukaan. Golongan surfaktan non ionik paling umum digunakan untuk pengembangan NLC contohnya Poloxamer, Tween, Span, PEG-40 stearat sebab memiliki muatan ion sehingga tidak menyebabkan iritasi. Penggunaan surfaktan non ionik dengan HLB besar seperti Poloxamer dapat membuat sistem menjadi lebih hidrofilik dan peningkatan konsentrasi surfaktan non ionik juga dapat mempengaruhi penjerapan bahan aktif. Kajian dilakukan dengan Systematics Literature Review (SLR) terhadap artikel yang diperoleh pada database bereputasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan banyak penelitian formulasi sediaan NLC menggunakan surfaktan poloxamer menghasilkan karakteristik ukuran partikel yang lebih kecil.
Potensi Minyak Alami sebagai Bahan Aktif Anti-Jerawat dalam Berbagai Bentuk Sediaan Chika Puspitasari; Hanifa Rahma; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14324

Abstract

Abstract. The skin is the most obvious and largest visible organ in humans, one of the skin problems that often appears is acne. Treatment with natural ingredients is more in demand among the community compared to treatment using chemicals. The use of natural ingredients is widely used by the people of Indonesia as a basic ingredient for cosmetics and skin care. This study aims to find out the various types of natural oils that have the potential as active ingredients in overcoming acne problems and to determine the effectiveness of various forms of preparations containing natural oils as anti-acne active ingredients. The type of research used in this study is systematic Literature Review (SLR). Literature searches are carried out through Google Scholar, Science Direct, Pubmed using Indonesian keywords and English keywords according to the word to be searched. The data obtained was then analyzed and compiled to obtain information about the dosage form of several natural oils that have the potential to be anti-acne. The results of literature studies show that natural oils derived from cinnamon plants, citronella, fennel, cloves, black cumin, tea tree, oregano and rosmery have antibacterial activity that causes acne and some of these natural oils have strong antibacterial activity against acne-causing bacteria. The effective dosage form contains natural oils as an anti-acne active ingredient depending on the skin type, the active substance and the purpose of use to be made which will later produce an effective preparation. Abstrak. Kulit adalah organ yang tampak paling jelas dan terbesar pada manusia, salah satu masalah pada kulit yang sering muncul yaitu jerawat. Pengobatan dengan bahan alam lebih diminati pada kalangan masyarakat dibandingkan dengan pengobatan menggunakan bahan kimia. Penggunaan bahan alami banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan dasar kosmetik dan perawatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis minyak alami yang memiliki potensi sebagai bahan aktif dalam mengatasi masalah jerawat dan untuk mengetahui efektifitas berbagai bentuk sediaan yang mengandung minyak alami sebagai bahan aktif anti-jerawat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah systematic Literature Review (SLR). Penelusuran pustaka dilakukan melalui Google Scholar, Science Direct, Pubmed dengan menggunakan kata kunci bahasa indonesia serta kata kunci bahasa inggris sesuai dengan kata yang akan dicari. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dan disusun untuk memperoleh informasi tentang bentuk sediaan dari beberapa minyak alami yang berpotensi sebagai antijerawat. Hasil studi literatur menunjukan minyak alami yang berasal dari tanaman kayu manis, serai wangi, adas, cengkeh, jintan hitam, tea tree, oregano dan rosmery memiliki aktivitas antibakteri penyebab jerawat serta sebagian minyak alami tersebut memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap bakteri penyebab jerawat. Bentuk sediaan yang efektif mengandung minyak alami sebagai bahan aktif anti-jerawat tergantung jenis kulit, zat aktif dan tujuan penggunaan yang akan dibuat yang nantinya akan menghasilkan sediaan efektif.
Uji Aktivitas Imunostimulan Ekstrak Etanol Buah Raspberry (Rubus idaeus) Berdasarkan Absorbansi Karbon pada Darah Mencit Swiss Webster Mohamad Vito Gandana; Fetri Lestari; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14326

Abstract

Abstract. The high prevalence of infectious diseases in Indonesia causes immunostimulant products to have a role in prevention as well as complementary therapy. One of the plants that has the potential as an immunostimulant is raspberry fruit. The purpose of this study was to determine the immunostimulant activity of ethanol extract of raspberry fruit based on carbon absorbance in the blood of mice using the carbon clearance method. Group 1 (negative control) was given CMC Na 0.5%, group 2 (positive control) was given Echinacae extract at a dose of 97.5 mg/kgBB and groups 3, 4, and 5 were given raspberry fruit ethanol extract at a dose of 100; 200 and 400 mg/kgBB. From the results of this study, it is known that there is a decrease in the average value of carbon absorbance in all test groups with a dose of 400 mg/kgBB having the highest value among the test groups, and based on statistical tests, there is a significant difference (p < 0.05) against the negative control group. These results indicate that the ethanol extract of raspberry fruit in doses of 100, 200, and 400 mg/kgBB has immunostimulatory activity, with the highest activity found at a dose of 400 mg/kgBB. Abstrak. Tingginya prevelensi penyakit infeksi di Indonesia menyebabkan produk imunostimulan memiliki peran dalam pencegahan maupun sebagai terapi komplementer. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai imunostimulan adalah buah raspberry. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas imunostimulan ekstrak etanol buah raspberry berdasarkan absorbansi karbon pada darah mencit menggunakan metode bersihan karbon. Pengujian dilakukan terhadap 25 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 (kontrol negatif) diberikan CMC Na 0,5%, kelompok 2 (kontrol positif) diberikan ekstrak Echinacae dosis 97,5 mg/kgBB, dan kelompok 3, 4, dan 5 diberikan ekstrak etanol buah raspberry dengan dosis 100; 200, dan 400 mg/kgBB. Ekstrak etanol buah raspberry diberikan secara peroral selama 7 hari dan di hari ke-8 ditentukan nilai absorbansi karbon pada darah tiap mencit. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terdapat penurunan nilai rata-rata absorbansi karbon pada semua kelompok uji dengan dosis 400 mg/kgBB memiliki nilai yang paling tinggi di antara kelompok uji serta berdasarkan uji statistik terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) terhadap kelompok kontrol negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah raspberry dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB memiliki aktivitas imunostimulan dengan aktivitas tertinggi terdapat pada dosis 400 mg/kgBB.
Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Daun Pare (Momordica charantia L.) terhadap Mencit Swiss Webster Jantan dengan Induksi Aloksan Rafiolla Anapuar; Siti Hazar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14366

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease characterised by elevated blood glucose. One of the factors that can cause DM is the presence of free radicals in the body. Free radicals are reactive, so they can damage body cells including pancreatic β-cells and cause a decrease in insulin production. To treat DM disease can be done with treatment using oral antidiabetic drugs. However, oral antidiabetic drugs consumed in the long term are known to have many adverse side effects such as gastrointestinal and hypoglycaemia. So that many alternative treatments using natural ingredients are developed. Empirically, bitter melon leaves are used in various traditional treatments in various regions, one of which is to reduce blood sugar levels, and pharmacologically bitter melon leaves are known to contain major secondary metabolites that function in counteracting free radicals and increasing insulin secretion, namely flavonoids. This study was conducted in vivo, aiming to determine the ability of bitter melon leaf ethanol extract in reducing blood sugar levels for 14 days against alloxan-induced mice. Mice were divided into six groups: negative control group, positive control group, glibenclamide comparison group and three test groups of bitter melon leaf ethanol extract, namely 150 mg/KgBB, 300 mg/KgBB, and 600 mg/KgBB. The parameters measured were fasting blood sugar levels. The results showed that the effective dose in reducing blood sugar levels was at a dose of 600 mg/KgBB with an average decrease of 108.20 mg/dL and based on statistical analysis also showed p>0.05 with the comparison. Abstrak. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan glukosa darah. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan DM adalah adanya radikal bebas didalam tubuh. Radikal bebas bersifat reaktif, sehingga dapat merusak sel-sel tubuh termasuk sel β pankreas dan membuat terjadinya penurunan produksi insulin. Untuk mengobati penyakit DM dapat dilakukan dengan pengobatan menggunakan obat antidiabetik oral. Akan tetapi, obat antidiabetik oral yang dikonsumsi dalam jangka panjang diketahui memiliki banyak efek samping merugikan seperti gastrointestinal dan hipoglikemia. Sehingga banyak dikembangkan alternatif pengobatan menggunakan bahan alam. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan adalah daun pare, secara empiris daun pare digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional di berbagai daerah, salah satunya untuk menurunkan kadar gula darah, dan secara farmakologi daun pare diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder utama yang berfungsi dalam menangkal radikal bebas dan meningkatkan sekresi insulin yaitu flavonoid. Penelitian ini dilakukan secara in vivo, bertujuan untuk mengetahui adanya kemampuan ekstrak etanol daun pare dalam menurunkan kadar gula darah selama 14 hari terhadap mencit yang diinduksi aloksan. Mencit dibagi kedalam enam kelompok yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok pembanding glibenklamid dan tiga kelompok uji ekstrak etanol daun pare yaitu 150 mg/KgBB, 300 mg/KgBB, dan 600 mg/KgBB. Parameter yang diukur adalah kadar gula darah puasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis efektif dalam penurunan kadar gula darah adalah pada dosis 600 mg/KgBB dengan rata-rata penurunan 108,20 mg/dL dan berdasarkan analisis statistik juga menunjukkan p>0,05 dengan pembanding.
Penapisan Fitokimia dan Karakterisasi Simplisia Biji Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) Assyifa Destiara Lintang Putri; Hanifa Rahma; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14371

Abstract

Abstract. Robusta coffee (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) is a plant containing caffeine which is classified as strong, the caffeine content in coffee is an antioxidant that can prevent premature aging of the skin. Caffeine has many benefits in medicine. Caffeine can exfoliate dead skin cells, smooth the skin, nourish the skin, eliminate body odor, remove acne scars, and protect the skin from UV rays. Robusta coffee beans contain alkaloids, tannins, saponins, and polyphenols. Polyphenols in robusta coffee beans can be used as antioxidants to trap free radicals. This study aims to identify the content of compounds contained in the simplisia and determine the characterization of robusta coffee bean simplisia. The results obtained in testing the characterization of simplisia determination of drying shrinkage, water content, water soluble juice content, ethanol soluble juice content, total ash content, and acid insoluble ash content have met the requirements. In robusta coffee bean simplisia contains secondary metabolite compounds Alkaloids, polyphenolics, flavonoids, tannins, saponins, quinine Monoterpen- sesqueterpen, and triterpenoid-steroids. Abstrak. Kopi robusta (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) merupakan tanaman mengandung kafein yang tergolong kuat, kandungan kafein dalam kopi merupakan antioksidan yang dapat mencegah penuaan dini pada kulit. Kafein memiliki banyak manfaat dalam pengobatan. Kafein dapat mengelupaskan sel-sel kulit mati, menghaluskan kulit, menutrisi kulit, menghilangkan bau badan, menghilangkan bekas jerawat, dan melindungi kulit dari sinar UV. Biji kopi robusta mengandung senyawa alkaloid, tanin, saponin, dan polifenol.Polifenol dalam biji kopi robusta dapat digunakan sebagai antioksidan untuk menjebak radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat di dalam simplisia dan mengetahui karakterisasi pada simplisia biji kopi robusta. Hasil yang di dapat pada pengujian karakterisasi simplisia penetapan susut pengeringan, kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut asam sudah memenuhi persyaratan. Pada simplisia biji kopi robusta mengadung seyawa metabolite sekunder Alkaloid, polifenolat, flavonoid, tannin, saponin, kuinin Monoterpen- sesqueterpen, dan triterpenoid-steroid.
Uji Aktivitas Antibakteri Daun Dadap Serep (Erythrina subumbrans) terhadap Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis Mutiara Nur Afni; Lanny Mulqie; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14390

Abstract

Abstract. Acne is a common skin health problem. One of the causes of inflammatory acne is the bacteria Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis, which are pus-forming microbes. Treatment of acne can be done by reducing the number of bacterial colonies. Typically, acne treatment uses antibiotics such as clindamycin, erythromycin, tetracycline, and doxycycline. However, to reduce antibiotic resistance due to overuse of antibiotics, acne treatment can be done naturally using herbal medicines, one of which is the leaves of dadap serep (Erythrina subumbrans). The purpose of this research is to see the antibacterial activity of ethanol extract of dadap serep leaves against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis and the determination of the Minimum Inhibitory Concentration (KHM) value. This study was conducted with the agar microdilution method and the extraction process of dadap serep leaves by maceration method with 96% ethanol solvent. The positive control used was 10% DMSO, while the negative control used MHB media, with clindamycin as a comparator. The test results showed that the ethanol extract of curd leaf had antibacterial activity against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis at concentrations of 100 mg/mL, 200 mg/mL, 400 mg/mL, 800 mg/mL, and 1600 mg/mL, with a KHM value at a concentration of 100 mg/mL. The compound groups contained in the ethanol extract of the leaves of dadap serep are alkaloids, flavonoids, tannins and saponins. Abstrak. Jerawat adalah masalah kesehatan kulit yang umum. Salah satu penyebab peradangan jerawat adalah bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, yang merupakan mikroba pembentuk nanah. Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan, mengurangi jumlah koloni bakteri. Biasanya, pengobatan jerawat menggunakan antibiotik seperti klindamisin, eritromisin, tetrasiklin, dan doksisiklin. Namun, untuk mengurangi resistensi antibiotik karena penggunaan antibiotik yang berlebihan, pengobatan jerawat dapat dilakukan secara alami menggunakan obat-obatan herbal, salah satunya adalah daun dadap serep (Erythrina subumbrans). Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun dadap serep terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis serta penetapan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Penelitian ini dilakukan dengan metode mikrodilusi agar serta proses ekstraksi daun dadap serep dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Kontrol positif yang digunakan adalah DMSO 10%, sedangkan kontrol negatif menggunakan media MHB, dengan klindamisin sebagai pembanding. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun dadap serep memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi 100 mg/mL, 200 mg/mL, 400 mg/mL, 800 mg/mL, dan 1600 mg/mL, dengan nilai KHM pada konsentrasi 100 mg/mL. Golongan senyawa yang terdapat pada ekstrak etanol daun dadap serep yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin.
P-Glikoprotein sebagai Transporter Effluks yang Dapat Mempengaruhi Absorpsi Obat Oral Millati Hanifa Suparno; Fitrianti Darusman; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14438

Abstract

Abstract. Oral drug administration is the most frequent route of administration for drug delivery systems. Oral drug administration designates members of the ATP binding cassette (ABC) transporter superfamily. In competitive inhibitors, when a substrate attempts to bind to the P-gp protein transport site for translocation, the competitive inhibitor competes with the drug substrate to occupy all accessible protein transport sites, so that P-gp cannot bind to the drug substrate...whereas in non-competitive inhibitors, the inhibitor binds to all osteris modulation sites and non-competitively inhibits protein efflux...Because of this non-competitive inhibitors are also known as non-transport inhibitors. Drug or substrate can enter the cell membrane through filtration, simple diffusion, or specialized transport..Drug efflux begins with drug identification by P-gp followed by ATP binding and hydrolysis..The energy generated from ATP hydrolysis is used to remove the substrate from the cell membrane through the central aperture.There are three models of P-gp-mediated drug efflux, namely the classical pore pump model, hydrophobic vacuum cleaner (HVC) model, and flippase model. Abstrak. Administrasi obat secara oral adalah rute pemberian yang paling sering untuk sistem penghantaran obat. Pemberian obat oral menunjuk anggota dari superfamily ATP binding cassette (ABC) transporter. 80% obat yang menghasilkan efek sistema oral.Pada inhibitor kompetitif, ketika substrat mencoba berikatan dengan situs transpor protein P-gp untuk translokasi, inhibitor kompetitif bersaing dengan substrat obat untuk menempati semua situs transpor protein yang dapat diakses, sehingga P-gp tidak dapat berikatan dengan substrat obat..Sedangkan pada inhibitor non-kompetitif, inhibitor berikatan dengan semua situs modulasi osteris dan secara non-kompetitif menghambat efluks protein..Karena itu inhibitor non-kompetitif juga dikenal sebagai inhibitor non-transport .Obat atau substrat dapat memasuki membran sel melalui filtrasi, difusi sederhana, atau transpor khusus..Efluks obat diawali dengan identifikasi obat oleh P-gp yang dilanjutkan dengan pengikatan dan hidrolisis ATP..Energi yang dihasilkan dari hidrolisis ATP digunakan untuk mengeluarkan substrat dari membran sel melalui lubang pusat (central aperture).Terdapat tiga model efluks obat yang dimediasi P-gp, yaitu classical pore pump model, hydrophobic vacuum cleaner (HVC) model, dan flippase model.
Karakterisasi Enkapsulat Nanogel Kurkumin dengan Basis Alginat Dialdehid Arsy Auliyana Dewi; Arlina Prima Putri; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14447

Abstract

Abstract. Curcumin is a hydrophobic polyphenol that is insoluble in water but soluble in organic solvents. Curcumin has shortcomings such as low bioavailability, therefore it is necessary to do coating or encapsulation to increase stability. This research aims to characterize the nanoencapsulation of curcumin alginate dialdehyde based on the values of % transmittance, functional groups, particle size, zeta potential, and percent absorption. The nanogel results obtained were in samples 4 containing a ratio of alginate dialdehyde: sodium alginate (2:8) and 6 containing a ratio of alginate dialdehyde: sodium alginate (2:8) with a curcumin concentration of 1% because it produced a % transmittance of 94% in sample 4 and 92% in sample 6. Then in FTIR-ATR characterization, there are O-H and C=O groups while the results in sample 6 are aromatic C=C groups from these results indicate that there are alginate dialdehyde and curcumin groups in the nanogel sample. While the particle size characteristics in sample 4 are 277.244 nm ± 21.823 nm while in sample 6 are 204.833 nm ± 1.249 nm and the polydispersity index value in sample 4 is 0.299 ± 0.05 while in sample 6 is 1.175 ± 0.047. The result of zeta potential characterization in sample 4 is -2.867 mV ± 0.471 and in sample 6 is -3.767 mV ± 0.124. While the results of the percent of curcumin sorption obtained 17.605%. Abstrak. Kurkumin merupakan polifenol hidrofobik yang tidak larut dalam air namun larut dalam pelarut organik. Kurkumin memiliki kekurangan seperti ketersediaan hayati yang rendah maka dari itu perlu dilakukan pelapisan atau enkapsulasi untuk meningkatkan stabilitas. Dalam penelitian yang dilakukan ini mempunyai tujuan untuk mengkarakterisasi nanoenkapsulasi kurkumin alginat dialdehid berdasarkan nilai % transmitan, gugus fungsi, ukuran partikel, zeta potensial, dan persen penjerapan. Hasil nanogel yang diperoleh yaitu pada sampel 4 yang mengandung perbandingan alginat dialdehid : natrium alginat (2:8) dan 6 yang mengandung perbandingan alginat dialdehid : natrium alginat (2:8) dengan konsentrasi kurkumin 1% karena menghasilkan % transmitan 94% pada sampel 4 dan 92% pada sampel 6. Kemudian pada karakterisisasi FTIR-ATR yaitu terdapat gugus O-H dan C=O sedangkan hasil pada sampel 6 yaitu terdapat gugus C=C aromatik dari hasil tersebut menandakan bahwa terdapatnya gugus alginat dialdehid dan kurkumin dalam sampel nanogel. Sedangkan pada karakteristik ukuran partikel pada sampel 4 yaitu 277,244 nm ± 21,823 nm sedangkan pada sampel 6 yaitu 204,833 nm ± 1,249 nm dan nilai indeks polidispersitas pada sampel 4 yaitu 0,299 ± 0,05 sedangkan pada sampel 6 yaitu 1,175 ± 0,047. Hasil karalterisasi zeta potensial yang pada sampel 4 yaitu -2,867 mV ± 0,471 dan pada sampel 6 yaitu -3,767 mV ± 0,124. Sedangkan hasil persen penjerapan kurkumin diperoleh 17,605%.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Murbei Hitam (Morus nigra L.) serta Penetapan Kadar Flavonoidnya. Rheinanda Maulia Ayu; Yani Lukmayani; Kiki Mulkiya
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14463

Abstract

Abstract. Black mulberry fruit (Morus nigra L.) contains bioactive flavonoid and phenol compounds. Flavonoids have high antioxidant activity by donating hydrogen atoms to free radicals. hydrogen atoms to free radicals. This study was conducted to determine antioxidant activity and flavonoid content of black mulberry fruit extract. The extraction process was carried out using maceration method with 96% ethanol solvent.%. Antioxidant activity test of extracts using DPPH method at concentrations of 10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, and 200 ppm using UV-Vis spectrophotometry. get the value of ethanol extract at a concentration of 44 ppm with a flavonoid content of 0,099%. Abstrak. Buah murbei hitam (Morus nigra L.) mengandung senyawa bioaktif flavonoid dan fenol. Flavonoid memiliki aktivitas antioksidan tinggi dengan cara mendonorkan atom hidrogen kepada radikal bebas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan kadar flavonoid dari ekstrak buah murbei hitam. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96 %. Uji aktivitas antioksidan ekstrak menggunakan metode DPPH pada konsentrasi 10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm menggunakan spektrofotometri UV-Vis mendapatkan nilai ekstrak etanol pada konsentrasi 44 ppm dengan nilai kadar flavonoid sebesar 0,099%.