cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 412 Documents
Potensi Antibakteri Tanaman Kersen (Muntingia calabura L.) Aulia Puspasari; Siti Hazar; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14072

Abstract

Abstract. The use of antibiotics is one method of treating diseases caused by bacterial infections. However, inappropriate and irrational use of antibiotics can lead to side effects, one of which is bacterial resistance to antibiotics. To address the problems arising from antibiotic use, efforts have been made to find alternative treatments for infections, one of which is by utilizing plant extracts, specifically the kersen plant (Muntingia calabura L.). This study aims to determine the antibacterial potential of the kersen plant (Muntingia calabura L.), identify which part of the plant is most potent as an antibacterial, and understand its mechanism of action. The study was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method by reviewing research articles. The results indicate that the kersen plant (Muntingia calabura L.) is effective as an antibacterial whether it is Gram-positive bacteria or Gram-negative bacteria, particularly its fruit. The compounds that act as antibacterial agents include flavonoids, saponins, and tannins. The mechanisms of action of these compounds include inhibiting the formation of DNA and RNA, disrupting bacterial cell stability through the outer membrane and cell wall, binding to the cytoplasmic membrane causing cytoplasmic leakage, as well as inhibiting microbial cell adhesion, inactivating enzymes, and disrupting protein transport within the cell. Abstrak. Penggunaan antibiotik merupakan salah satu metode pengobatan untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Akan tetapi, penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan aturan pakai dan tidak rasional dapat menimbulkan efek samping salah satunya adalah resistensi bakteri terhadap antibiotik. Munculnya masalah akibat penggunaan antibiotik, dilakukan upaya untuk mencari alternatif pengobatan infeksi yang salah satu nya adalah dengan memanfaatkan ekstrak tanaman, yaitu tanaman kersen (Muntingia calabura L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri tanaman kersen (Muntingia calabura L.), mengetahui bagian tanaman mana yang paling berpotensi sebagai antibakteri, dan mengetahui bagaimana mekanisme kerjanya. Penelitian ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan cara mengkaji artikel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman kersen (Muntingia calabura L.) efektif sebagai antibakteri baik itu bakteri Gram positif ataupun Gram negatif, terutama bagian buahnya. Senyawa yang berperan sebagai antibakteri adalah flavonoid, saponin, dan tannin. Mekanisme kerja senyawa ini meliputi penghambatan pembentukan DNA dan RNA, gangguan stabilitas sel bakteri melalui membran dan dinding sel, pengikatan membran sitoplasma yang menyebabkan kebocoran sitoplasma, serta menghambat adhesi mikroba, menginaktifkan enzim, dan mengganggu transportasi protein dalam sel.
Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Air dari Beras (Oryza sativa L.), Kencur (Kaempferia galanga L.) dan Serai Dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) Tri Ayu Febrianti; Vinda Maharani Patricia; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14076

Abstract

Abstract. Characterization is the first step or part of the standardization process which includes several important parameters to ensure the quality, safety and benefits of the materials used. The purpose of this study is to determine the characterization of simplisia and water extracts from rice (Oryza sativa L.), kencur (Kaempferia galanga L.) and lemongrass (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf). This research is an experimental study conducted at the Pharmaceutical Research Laboratory of the Islamic University of Bandung. Characterization of the resulting simplisia, namely in organoleptic testing of rice, kencur and lemongrass samples in the form of dry powder; rice is white, kencur and lemongrass are brown; rice is odorless, kencur and lemongrass have a distinctive odor. The average results of the determination of water soluble extract content obtained are 1.9825% rice; 18.8260% kencur and 21.2206% lemongrass. The average results of the determination of ethanol soluble extracts obtained are rice 0.7326%; kencur 20.5859% and lemongrass 23.0706%. The results of determining the moisture content obtained are rice 7.5749%; kencur 5.5868% and lemongrass 5.3930%. The results of the determination of drying shrinkage obtained are rice 10.8105%; kencur 10.8383% and lemongrass 5.5211%. The results of the determination of total ash content obtained are rice 0.7362%; kencur 7.8902% and lemongrass 9.7618%. The results of the determination of acid insoluble ash content obtained were rice 0.5470%; kencur 2.7379% and lemongrass 2.6813%. Organoleptic testing for the extracts produced, namely for EASD, EABK and EABKSD, has a thick form, brown in color and has a distinctive odor. The results of determining the specific gravity obtained are EASD 1.0174; EABK 1.0075 and EABKSD 1.0131. Abstrak. Karakterisasi merupakan tahapan awal atau bagian dari proses standardisasi yang meliputi beberapa parameter penting untuk menjamin suatu mutu, keamanan serta manfaat bahan yang digunakan. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak air dari beras (Oryza sativa L.), kencur (Kaempferia galanga L.) dan serai dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan secara eksperimental di Laboratorium Riset Farmasi Universitas Islam Bandung. Karakterisasi simplisia yang dihasilkan yaitu pada pengujian organoleptik sampel beras, kencur dan serai dapur memiliki bentuk serbuk kering; beras berwarna putih, sedangkan kencur dan serai dapur berwarna coklat; beras tidak berbau sedangkan kencur dan serai dapur memiliki bau khas. Hasil rata-rata penetapan kadar sari larut air yang didapatkan yaitu beras 1,9825%; kencur 18,8260% dan serai dapur 21,2206%. Hasil rata-rata penetapan kadar sari larut etanol yang didapatkan yaitu beras 0,7326%; kencur 20,5859% dan serai dapur 23,0706%. Hasil penetapan kadar air yang didapatkan yaitu beras 7,5749%; kencur 5,5868% dan serai dapur 5,3930%. Hasil penetapan susut pengeringan yang didapatkan yaitu beras 10,8105%; kencur 10,8383% dan serai dapur 5,5211%. Hasil pada penetapan kadar abu total yang didapatkan yaitu beras 0,7362%; kencur 7,8902% dan serai dapur 9,7618%. Hasil penetapan kadar abu tidak larut asam yang didapatkan yaitu beras 0,5470%; kencur 2,7379% dan serai dapur 2,6813%. Pengujian organoleptik untuk ekstrak yang dihasilkan yaitu untuk EASD, EABK dan EABKSD memiliki bentuk kental, berwarna cokelat dan memiliki bau khas. Hasil penetapan bobot jenis yang didapatkan yaitu EASD 1,0174; EABK 1,0075 dan EABKSD 1,0131.
Formulasi Sediaan Steril Spray Gel Mengandung Serbuk Lidah Buaya (Aloe vera .L) dan Madu Jahra Farhanuddin; Sani Ega Priani; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14089

Abstract

Abstract. Spray gel is a topical preparation that is applied using pressure from a pump so that it produces large and small droplets. The use of aloe vera (Aloe vera .L) and honey topically, have antibacterial, anti-inflammatory, antioxidant activities and can accelerate the healing of open wounds. The purpose of this study is to obtain the optimal formula for a sterile spray gel preparation containing a combination of aloe vera powder (Aloe vera.L) and honey, and the characteristics of sterile spray gel preparations that are in accordance with pharmaceutical requirements are obtained. Aloe vera gel was dried using the freeze dry method, and base optimization was carried out using Viscolam MAC 10 as a gelling agent with concentrations (1%, 3% and 5%). Bases with a concentration of 1% have better evaluation results than concentrations of 3% and 5%. The formulation of sterile spray gel was carried out using a 1% MAC viscolam base with a variation in the concentration of aloe vera F1A (0.25%); F1B (0.5%); and F1C (1%) and honey 3%. The results of the research conducted showed that F1A and F1B sterile spray gel preparations have better characteristics than F1C. Abstrak. Spray gel merupakan sediaan topikal yang diaplikasikan menggunakan tekanan dari pompa sehingga menghasilkan tetesan cairan berukuran besar maupun kecil. Penggunaan lidah buaya (Aloe vera .L) dan madu secara topikal, memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, antioksidan serta dapat mempercepat penyembuhan luka terbuka. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan formula optimum sediaan spray gel steril mengandung kombinasi serbuk lidah buaya (Aloe vera .L) dan madu, serta didapatkan karakteristik sediaan spray gel steril yang sesuai dengan persyaratan farmasetik. Dilakukan pengeringan gel lidah buaya menggunakan metode freeze dry, serta dilakukan optimasi basis menggunakan Viscolam MAC 10 sebagai gelling agent dengan konsentrasi (1%, 3% dan 5%). Basis dengan konsentrasi 1% memiliki hasil evaluasi yang baik dibandingkan konsentrasi 3% dan 5%. Formulasi spray gel steril dilakukan menggunakan basis viscolam MAC 1% dengan variasi konsentrasi lidah buaya F1A (0,25%); F1B (0,5%); dan F1C (1%) dan madu 3%. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan sediaan spray gel steril F1A dan F1B memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan F1C.
Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik pada Pasien ISPA di Puskesmas Ciranjang Kabupaten Cianjur Periode 2023 Alyah Eka Putri; Suwendar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14180

Abstract

Abstract. Upper Respiratory Tract Infection (URTI) is an infectious disease that often affects people in the world caused by viruses and bacteria. One of the therapies used for URI is antibiotics. Excessive or unnecessary use of antibiotics can lead to the emergence of resistance to bacteria, so it is necessary to pay attention to its rationality. Bacterial resistance shows the inhibition of bacterial growth when administering antibiotics in normal doses. The purpose of this study is to evaluate the rationality of antibiotic use which includes the right indication, right patient, right drug, right dose, and right interval parameters in URI patients at Ciranjang Health Center, Cianjur Regency from January to December 2023. The sample used was medical record data from 97 patient data, data collection was carried out by retrospective sampling method and then descriptive data analysis was carried out which met the inclusion and exclusion criteria. The evaluation obtained with the calculation results in the form of percentages, namely the right patient 100%, the right indication 94.84%, the right drug 100%, the right dose 95,24%, and the right administration interval 89.47%. From the results of the study it can be concluded that the rationality of treatment has not reached 100% in accordance with the guidelines. Abstrak. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) adalah penyakit menular yang sering menjangkit masyarakat di dunia yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Terapi yang digunakan untuk ISPA salah satunya menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak perlu dapat mengakibatkan munculnya resistensi terhadap bakteri, sehingga perlu diperhatikan rasionalitasnya. Resistensi bakteri menunjukan tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri saat pemberian antibiotik dalam dosis normal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik yang meliputi parameter tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, dan tepat interval pada pasien ISPA di Puskesmas Ciranjang Kabupaten Cianjur periode Januari sampai Desember 2023. Sampel yang digunakan berupa data rekam medis dari 97 data pasien, pengambilan data dilakukan dengan metode purposive sampling secara retrospektif yang kemudian dilakukan analisis data secara deskriptif yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Evaluasi yang didapat dengan hasil perhitungan berupa persentase yaitu tepat pasien 100%, tepat indikasi 94,84%, tepat obat 100%, tepat dosis 95,24%, dan tepat interval pemberian 89,57%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan rasionalitas pengobatan belum mencapai 100% sesuai dengan pedoman.
Formulasi Lip Cream Mengandung Minyak Almond (Oleum amygdalae) sebagai Pelembab Bibir Nurul Afifah Aprilia; Dina Mulyanti; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14200

Abstract

Abstract. Lip cream is a lip makeup preparation, has a semi-solid shape that keeps lips moisturized longer. The use of natural moisturizing ingredients in lip cream preparations is currently starting to be in demand by consumers. One of the natural ingredients that has the potential to provide moisture is almond oil. This research aims to get the best formula for lip cream preparations that contain active substances in the form of almond oil. The thickener used is 15% microcrystalline wax. The use of almond oil is made with a wide variety of concentration variations starting from 60; 57,5; 55; 52,5; 50; and 47.5%. The evaluation was carried out on all lip cream formulas including organoleptis test, homogeneity test, pH test, dispersibility test, and viscosity test. The final evaluation of the preparation was carried out by a storage stability test at 4o and 40oC for 6 cycles and a moisture test using cobalt chloride paper. Based on the results of the evaluation, the selected formula is formula 4 with the characteristics of pink organolepstis, semisolid, homogeneous, pH 5, with a viscosity value of 4868 cp, and a dispersion of 5.8 cm, but it is unstable after storage stability testing. The humidity testing in this study is only qualitative, so it is necessary to develop a quantitative moisture test method, and it is necessary to develop a formula in the use of the right dye for the preparation. Abstrak. Lip cream merupakan sediaan riasan bibir, memiliki bentuk semisolid yang menjaga kelembapan bibir lebih lama. Penggunaan bahan pelembab alami pada sediaan lip cream pada saat ini mulai diminati konsumen. Salah satu bahan alami yang berpotensi memberikan kelembaban adalah minyak almond. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula terbaik sediaan lip cream dengan mengandung zat aktif berupa minyak almond. Thickener yang digunakan adalah microcrystalline wax 15%. Penggunaan minyak almond dibuat dengan berbagai macam variasi konsentrasi dimulai dari 60; 57,5; 55; 52,5; 50; dan 47,5%. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh formula lip cream meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, dan uji viskositas. Evaluasi akhir sediaan dilakukan pengujian uji stabilitas penyimpanan pada suhu 4o dan 40oC selama 6 siklus serta uji kelembaban dengan menggunakan kertas kobalt klorida. Berdasarkan hasil evaluasi formula yang terpilih adalah formula 4 dengan karakteristik organolepstis pink, berbentuk semisolid, homogen, pH 5, dengan besaran nilai viskositas 4868 cp, serta daya sebar sebesar 5,8 cm, namun tidak stabil setelah pengujian stabilitas penyimpanan. Pengujian kelembaban pada penelitian kali ini hanya bersifat kualitatif sehingga diperlukan pengembangan metode uji kelembaban secara kuantitatif, serta diperlukan pengembangan formula dalam penggunaan pewarna yang tepat untuk sediaan.
Karakterisasi Minyak Nilam serta Evaluasi Sediaan Nanoemulsi Minyak Nilam (Pogostemon cablin Benth) Natasya Delarespita; Aulia Fikri Hidayat; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14219

Abstract

Abstract. Patchouli is one of the natural ingredients that can be utilized in the health sector, one of which is as an antimicrobial. Essential oil contained in patchouli plants (Pogostemon cablin Benth) is known to have antimicrobial activity in the form of patchouli alcohol compounds. This study aims to determine the characteristics of patchouli oil and evaluate a good patchouli oil nanoemulsion preparation. This research began with characterizing patchouli oil and continued with formulating patchouli oil nanoemulsion preparations. The results of the study obtained good patchouli oil characteristics including organoleptic test, specific gravity, refractive index, solubility in 90% ethanol, and compound content analysis using GC-MS by producing content patchouli alcohol compounds of 57.17%. The resulting patchouli oil nanoemulsion preparation has good characteristics and meets the evaluation requirements including organoleptic, homogeneity, pH, viscosity and rheology, % transmittance value, and particle size. Abstrak. Nilam merupakan salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan salah satunya sebagai antimikroba. Minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) dikenal memiliki aktivitas antimikroba berupa senyawa patchouli alcohol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik minyak nilam serta evaluasi sediaan nanoemulsi minyak nilam yang baik. Penelitian ini diawali dengan melakukan karakterisasi minyak nilam dan dilanjutkan dengan melakukan formulasi sediaan nanoemulsi minyak nilam. Hasil penelitian diperoleh karakteristik minyak nilam yang baik meliputi uji organoleptis, bobot jenis, indeks bias, kelarutan dalam etanol 90%, dan analisis kandungan senyawa menggunakan GC-MS dengan menghasilkan adanya kandungan senyawa patchouli alcohol sebesar 57,17%. Sediaan nanoemulsi minyak nilam yang dihasilkan memiliki karakteristik yang baik dan memenuhi persyaratan evaluasi meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas dan rheologi, nilai % transmittan, dan ukuran partikel.
Literatur Review Sediaan Hidrogel Mengandung Kitosan Untuk Penyembuhan Luka Bakar Salwa Fajriati Maulida Mudakir; Dina Mulyanti; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14224

Abstract

Abstract. A burn is a form of trauma to the skin or other tissues caused by direct or indirect contact with heat or other acute exposure. Hydrogel is a topical semisolid preparation that refers to a three-dimensional arrangement made of hydrophilic polymers that can accelerate burn wound healing because hydrogels are able to keep wound moisture high and allow cell growth and migration. The addition of chitosan to hydrogel preparations can improve burn wound healing because it has been known to provide anti-inflammatory effects, analgesic, and antibacterial activity. This study aims to determine the polymers combined with chitosan in hydrogel formulations and their effect on the characteristics of hydrogel preparations and their effectiveness in burn wound healing. This study is based on a systematic literature review by reviewing articles obtained from databases that meet the predetermined inclusion and exclusion criteria. The results showed that the polymer combinations that gave good hydrogel preparation characteristics were chitosan and gelatin. Meanwhile, the most commonly used method is freeze-thawing. Hydrogel preparations containing chitosan were proven in vivo to be effective in healing burn wounds because they were able to inhibit bacterial infection and accelerate burn wound healing in test animals. Abstrak. Luka bakar adalah suatu bentuk trauma pada kulit atau jaringan lain yang disebabkan oleh kontak langsung atau tidak langsung dengan panas atau paparan akut lainnya. Hidrogel merupakan sediaan semipadat topikal yang mengacu pada susunan tiga dimensi yang terbuat dari polimer hidrofilik yang mampu mempercepat penyembuhan luka bakar karena hidrogel mampu menjaga kelembapan luka tetap tinggi dan memungkinkan pertumbuhan sel dan migrasinya. Penambahan kitosan pada sediaan hidrogel mampu meningkatkan penyembuhan luka bakar karena telah diketahui memberikan efek antiinflamasi, analgetik, dan aktivitas antibakteri. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui polimer yang dikombinasikan dengan kitosan pada formulasi hidrogel serta pengaruhnya terhadap karakteristik sediaan hidrogel serta efektivitasnya dalam penyembuhan luka bakar. Kajian ini berbasis systematic literature review dengan mengkaji artikel yang diperoleh dari database yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil kajian yang menunjukkan bahwa kombinasi polimer yang memberikan hasil karakteristik sediaan hidrogel yang baik adalah kitosan dan gelatin. Sementara itu, metode yang paling umum digunakan adalah freeze-thawing. Sediaan hidrogel mengandung kitosan terbukti secara in vivo efektif dalam penyembuhan luka bakar karena mampu menghambat infeksi bakteri dan mempercepat penyembuhan luka bakar pada hewan uji.
Modifikasi Natrium Alginat dengan Metode Oksidasi Periodat Wilandani Sabilla; Arlina Prima Putri; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14241

Abstract

Abstract. This research aims to modify sodium alginate using the periodate oxidation method. The alginate used is not easily biodegradable, so oxidation is carried out with sodium metaperiodate to facilitate biodegradation and produce new functional groups. With the presence of new functional groups in alginate, hydrogels can be formed using type B gelatin and BaCl2. Alginate was successfully synthesized because an oxidation degree of 3% was obtained and the Fourier Transform Infra Red Attenuated Total Reflectance (FTIR-ATR) results showed a band of 1720 cm-1 which indicated a change in alginate to Alginate Dialdehyde (ADA). Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk modifikasi natrium alginat dengan metode oksidasi periodat. Alginat yang digunakan tidak mudah terbiodegradasi, sehingga dilakukan oksidasi dengan natrium metaperiodat untuk mempermudah biodegradasi dan menghasilkan gugus fungsi baru. Dengan adanya gugus fungsi baru pada alginat maka hidrogel dapat dibentuk dengan menggunakan gelatin tipe B dan BaCl2. Alginat berhasil disintesis karena diperoleh derajat oksidasi 3% dan hasil Fourier Transform Infra Red Attenuated Total Reflectance (FTIR-ATR) menunjukkan pita 1720 cm-1 yang menunjukkan adanya perubahan alginat menjadi Alginat Dialdehida (ADA).
Pengembangan Emulsi Pickering Minyak Atsiri sebagai Antibakteri Rafika Susun Nursunda; Aulia Fikri Hidayat; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14285

Abstract

Abstract. Bacteria are organisms that can enter the digestive tract which can cause several diseases, so it is necessary to be given an antibacterial. Essential is the result of the secondary metabolism of plants containing volatile compounds known to have antibacterial activity that can fight pathogenic bacteria. However, essential oils have a disadvantage, namely that they are volatile so they can affect their activity as an antibacterial. Therefore, the ideal delivery system for essential oils is Pickering emulsion. Pickering emulsion is an emulsion that is stabilized by solid particles that have different characteristics so that they can encapsulate essential oils to overcome their limitations, improve stability, and increase their antibacterial activity. This study aims to determine the characteristics of Pickering emulsions and to determine their ability to inhibit bacterial growth using the Systematic Literature Review (SLR) method, where the data used are sourced from scientific journals published in the last 10 years. The results obtained from the literature review show that the characteristics of the resulting solid particles meet the requirements with small particle size, zeta potential value of >30 mV, and wettability close to 90°. In addition, essential oil Pickering emulsions are generally known to have more effective antibacterial activity and can inhibit bacterial growth compared to pure essential oils. Abstrak. Bakteri merupakan organisme yang dapat masuk ke dalam saluran pencernaan yang dapat mengakibatkan beberapa penyakit sehingga perlu diberikan suatu antibakteri. Minyak atsiri merupakan minyak hasil metabolisme sekunder tumbuhan mengandung senyawa-senyawa volatil yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri yang dapat melawan bakteri patogen. Namun minyak atsiri memiliki kekurangan yaitu mudah menguap sehingga sapat mempengaruhi aktivitasnya sebagai antibakteri. Oleh karena itu, sistem penghantaran yang sesuai untuk minyak atsiri yaitu Emulsi pickering. Emulsi pickering merupakan emulsi yang distabilkan oleh partikel padat yang memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dapat mengenkapsulasi minyak atsiri untuk mengatasi keterbatasannya, meningkatkan stabilitas dan meningkatkan aktivitas antibakterinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik emulsi pickering dan untuk mengetahui kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR), dimana data yang digunakan bersumber dari jurnal-jurnal ilmiah yang dipublikasikan dalam rentang waktu 10 tahun ke belakang. Hasil yang didapatkan dari penelusuran pustaka menunjukkan bahwa karakteristik partikel padat yang dihasilkan memenuhi persyaratan dengan ukuran partikel yang kecil, nilai potensial zeta >30 mV dan keterbasahan yang mendekati 90˚. Selain itu, emulsi pickering minyak atsiri diketahui secara umum memiliki aktivitas antibakteri yang lebih efektif dan mampu menghambat pertumbuhan bakteri dibandingkan dengan minyak atsiri murni.
Pembentukan Tikus Model Tukak Lambung yang Diinduksi Aspirin dan Etanol Rani Pertiwi; Umi Yuniarni; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14294

Abstract

Abstract. Prevalence of peptic ucer in Indonesia is quite high, and if not treated properly can cause serious complications. Peptic ulcer can cause Helicobacter pylori infection, long-term use of nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), alcohol consumption, or stress. pharmacological activity test of the success of the inducing agent to produce the desired disease model event is an important part of the research, so that in this study gastric ulcer inducing agents are commonly used in many studies will be tested, namely NSAID drugs such as aspirin and ethanol. In this study, a model of gastric ulcer mice was made with aspirin at various doses, namely 450 mg/kgbb, 750 mg/kgbb, 1000 mg/kgbb, 1500 mg/kgbb and absolute ethanol 5 mL / kgbb. Theormulation of the research problem is to see whether aspirin and ethanol can be inducing agents in animal models of gastric ulcers? At what dose can aspirin cause gastric ulcers? What are the comparative results of animal models of gastric ulcers using NSAIDs and Ethanol? This study was conducted experimentally in the laboratory by observing the occurrence of ulcers in the stomach of mice that had been sacrificed macroscopically. The results of study showed aspirin dose of 450 mg/kgbb did not succeed making animal model gastric ulcer. Aspirin 750 mg/kgbb on the 5 day of administration resulted in death, aspirin 1000 mg/kgbb on the 4 day resulted in death, the condition of the two stomachs of the test animals that died was enlarged, bloated, and pale color. Aspirin 1500 mg/kgbb tested for one day succeeded becoming an ulcer-inducing agent by showing presence ulcers in stomach and the use of absolute ethanol 5 mL/kgbb could be an ulcer-inducing agent by showing wounds in the stomach of the test animal. With almost similar conditions, absolute ethanol 5 ml/kgbb gave clearer macroscopic results of the presence of gastric ulcers compared to aspirin 1500 mg/kgbb. Abstrak. Prevalensi kejadian tukak lambung di Indonesia cukup tinggi, dan apabila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius. Penyebab tukak lambung dapat terjadi akibat adanya infeksi Helicobacter pylori, penggunaan jangka panjang obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), konsumsi alkohol, maupun stress. Pada pengujian aktivitas farmakologi keberhasilan agen penginduksi untuk menghasilkan kejadian model penyakit yang diinginkan menjadi bagian penting dari suatu penelitian, sehingga pada penelitian ini akan diuji agen penginduksi tukak lambung yang umum digunakan pada banyak penelitian yaitu obat golongan NSAID berupa aspirin dan etanol untuk memastikan keberadaan tukak pada lambung hewan uji. Penelitian ini dilakukan pembuatan model tikus tukak lambung dengan aspirin pada berbagai dosis yakni 450 mg/kgbb, 750 mg/kgbb, 1000 mg/kgbb, 1500 mg/kgbb dan etanol absolut 5 mL/kgbb. Rumusan masalah penelitian ini yaitu untuk melihat apakah aspirin dan etanol dapat menjadi agen penginduksi pada hewan model tukak lambung? Pada dosis berapakah aspirin dapat menyebabkan tukak pada lambung? Bagaimana hasil perbandingan hewan model tukak lambung yang menggunakan NSAID dan Etanol? Penelitian ini dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan melihat kejadian tukak pada lambung tikus yang telah dikorbankan secara makroskopis. Hasil dari penelitian menunjukan aspirin dosis 450 mg/kgbb tidak berhasil membuat hewan uji model tukak lambung. Aspirin 750 mg/kgbb pada pemberian hari ke-5 mengalami kematian, aspirin 1000 mg/kgbb pada hari ke-4 mengalami kematian, kondisi kedua lambung hewan uji yang mengalami kematian membesar, kembung, serta berwarna pucat. Aspirin 1500 mg/kgbb pengujian selama satu hari berhasil menjadi agen penginduksi tukak dengan menunjukan adanya tukak pada lambung yang terlihat secara makroskopis serta penggunan etanol absolut 5 mL/kgbb dapat menjadi agen penginduksi tukak dengan menunjukan adanya luka pada lambung hewan uji. Dengan kondisi yang hampir serupa, etanol absolut 5 ml/kgbb memberikan hasil makroskopik keberadaan tukak lambung yang lebih jelas dibandingkan aspirin 1500 mg/kgbb.