cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 412 Documents
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bawang Hitam dan Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus Dina Nuryati; Thyazen Abdo Alhakimi; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14479

Abstract

Abstract. Garlic and black garlic have great potential as antibacterials against acne-causing bacteria. Acne is a skin disease in the form of chronic inflammation of the polysebaceous follicles caused by changes in the pattern of follicle keratinization, excessive sebum production. This study was conducted using the Systematic Literature Review method, the data used in this study were secondary data reviewed from national and international articles. Based on the literature review, it is known that garlic and black garlic have antibacterial activity against acne-causing bacteria, namely Propionibacterium acnes and Staphylococcus aureus. From the literature review, the antibacterial activity of garlic against Propionibacterium acnes bacteria provides a minimum inhibitory concentration of 5% while against Staphylococcus aureus bacteria it provides a minimum inhibitory concentration value of 10%. Black garlic has antibacterial activity against Propionibacterium acnes bacteria with a minimum inhibitory concentration of 2%, while against Staphylococcus aureus bacteria the minimum inhibitory concentration value is 10%. The typical content for garlic is allicin while black garlic is S-allyl cysteine. Abstrak. Bawang putih dan bawang hitam mempunyai potensi besar sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat. Jerawat merupakan suatu penyakit kulit berupa peradangan kronis pada folikel polisebasea yang disebabkan oleh perubahan pola keratinisasi folikel, produksi sebum yang berlebihan. Penelitian ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review, data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa data sekunder yang ditelaah dari artikel nasional dan internasional. Berdasarkan kajian literatur maka diketahui bahwa bawang putih dan bawang hitam memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri peneyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus . Dari kajian literatur, aktivitas antibakteri bawang putih terhadap bakteri Propionibacterium acnes memberikan konsentrasi hambat minimum 5% sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus memberikan nilai konsentrasi hambat minimum 10%. Bawang hitam memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan konsentrasi hambat minimun 2%, sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus nilai konsentrasi hambat minimum yaitu 10%. Kandungan khas untuk bawang putih adalah allicin sedangkan bawang hitam adalah S-allyl sistein.
Aktivitas Antibakteri beberapa Tanaman dari Famili Asteraceae terhadap Bakteri Mycobacterium tuberculosis Annisa Dila Perwitasari; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14483

Abstract

Abstract. Tuberculosis is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis bacteria where one of the keys to successful treatment is adherence. There have been many in vitro studies conducted from Asteraceae plants that can be used to treat tuberculosis in several countries. This study aims to determine Asteraceae plants that have antibacterial activity against the growth of bacteria that cause tuberculosis. The research was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method using the keywords "antibacterial Mycobacterium tuberculosis, Asteraceae". The results obtained from several studies were 20 plants of the Asteraceae family showed an inhibition zone against Mycobacterium tuberculosis bacteria. Abstrak. Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dimana kepatuhan pasien merupakan salah satu kunci keberhasilan pengobatan pada pasien tuberkulosis (adherence). Telah banyak penelitian secara in vitro yang dilakukan dari tanaman Asteraceae yang dapat digunakan untuk mengobati tuberkulosis di beberapa negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanaman suku Asteraceae yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penelitian dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menggunakan kata kunci Kata kunci yang digunakan yaitu “antibacterial Mycobacterium tuberculosis, Asteraceae”. Hasil yang didapatkan dari beberapa penelitian yaitu 20 tanaman famili Asteraceae menunjukkan adanya konsentrasi hambat minimum terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Literature Review: Aktivitas Farmakologi Senyawa Fenol Shafira Salsabila Azzahra; Bertha Rusdi; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14484

Abstract

Abstract. Phenolic compounds consist of one (phenolic acid) or more polyphenol aromatic structures bound to a hydroxyl group. Phenolic compounds play an important role in plants and humans. These compounds are well known to have various biological and pharmacological activities. Their biological and pharmaceutical activities are based on their phenolic rings and hydroxyl groups. This research uses the systematic literature review (SLR) method with Google Scholar, Pubmed, and ScienceDirect search tools to examine the pharmacological activities of phenol compounds. The results of the literature review showed that phenol compounds have various pharmacological activities on human health, namely kaempferol compounds as antioxidants, 6-shogaol as anti-diabetes, cyanidin-3-O-glucoside as anti-inflammatory, ellagitannin as antimicrobial, quercetin as anti-cancer, and daidzein as anti-osteoporosis. Abstrak. Senyawa fenolik terdiri dari satu (asam fenolik) atau lebih struktur aromatik polifenol yang terikat pada gugus hidroksil. Senyawa fenolik berperan penting dalam tumbuhan dan manusia. Senyawa ini terkenal memiliki berbagai aktivitas biologis dan farmakologi. Aktivitas biologis dan farmasinya didasarkan pada cincin fenolik dan gugus hidroksilnya. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis (SLR) dengan alat pencari Google Scholar, Pubmed, dan ScienceDirect untuk mengkaji aktivitas farmakologi senyawa fenol. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa senyawa fenol memiliki berbagai aktivitas farmakologi terhadap kesehatan manusia, yaitu senyawa kaempferol sebagai antioksidan, 6-shogaol sebagai anti diabetes, cyanidin-3-O-glucoside sebagai antiinflamasi, ellagitannin sebagai antimikroba, kuersetin sebagai anti kanker, dan daidzein sebagai anti osteoporosis.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Markisa Kuning (Passiflora edulis Sims.) terhadap Bakteri Penyebab Karies Gigi Devina Aulia Fitri; Siti Hazar; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14505

Abstract

Abstract. Dental caries is an infectious disease of the hard tissues of the teeth caused by dental plaque containing bacteria. The bacteria that play a role in dental caries are Streptococcus mutans and Streptococcus sanguinis. Dental plaque formation can be inhibited by using chlorhexidine, but its long-term use can cause adverse side effects so other alternatives are needed as antibacterials with lower effects. Yellow passion fruit plant is one of the alternatives to natural materials that have the potential to be antibacterials. This study aims to determine the characteristics and antibacterial activity of ethanol extract of yellow passion fruit leaves against bacteria that cause dental caries. Extraction was carried out using the maceration method with 96% ethanol solvent. The antibacterial activity test was carried out using the agar diffusion method with concentrations of 1%, 2%, 5%, 10%, 25%, and 50%. The test results showed that ethanol extract from yellow passion fruit leaves can inhibit the growth of test bacteria at concentrations of 10%, 25%, and 50% with the resulting inhibition diameter against Streptococcus mutans bacteria of 3,80 mm; 8,50 mm; and 10,57 mm, respectively. While against Streptococcus sanguinis bacteria it was 1,33 mm; 5,33 mm; and 7,40 mm, respectively. Based on the study's results, ethanol extract of yellow passion fruit leaves most effectively inhibits the growth of test bacteria at a concentration of 50%.Abstrak. Karies gigi merupakan suatu penyakit infeksi pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh adanya plak gigi mengandung bakteri. Bakteri yang berperan dalam karies gigi yaitu Streptococcus mutans dan Streptococcus sanguinis. Pembentukan plak gigi dapat dihambat dengan menggunakan klorheksidin, tetapi penggunaannya dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping yang merugikan sehingga diperlukan alternatif lain sebagai antibakteri dengan efek yang lebih rendah. Tanaman markisa kuning merupakan salah satu alternatif dari bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun markisa kuning terhadap bakteri penyebab karies gigi. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar cara sumuran dengan konsentrasi 1%, 2%, 5%, 10%, 25%, dan 50%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun markisa kuning dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji pada konsentrasi 10%, 25%, dan 50% dengan diameter hambat yang dihasilkan terhadap bakteri Streptococcus mutans berturut-turut sebesar 3,80 mm; 8,50 mm; dan 10,57 mm. Sedangkan terhadap bakteri Streptococcus sanguinis berturut-turut sebesar 1,33 mm; 5,33 mm; dan 7,40 mm. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol daun markisa kuning paling efektif menghambat pertumbuhan bakteri uji pada konsentrasi 50%.
Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Emulgel Ekstrak Daun Tanjung (Mimusops elengi L.) Nashita Rafawziya; Aulia Fikri Hidayat; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14507

Abstract

Abstract. Antioxidants are compounds that function to prevent, inhibit, or reduce free radical and oxidant reactions, and prevent tissue damage. One of the plants as an antioxidant to counteract free radicals is the cape leaf. Antioxidant activity testing of ethanol extract of cape leaves by DPPH method shows that ethanol extract of cape leaves has strong antioxidant activity with IC50 value of 53.87 ppm. The purpose of this study was to determine the formulation and antioxidant activity test of cape leaf extract in emulgel preparations with cape leaf extract concentrations of 0.25, 0.5 and 0.75%. The results showed that 1.5% cape leaf extract emulgel preparation was 41.21 ppm (very strong), 1% cape leaf extract emulgel preparation was 47.49 ppm (very strong) and 0.5% cape leaf extract emulgel preparation was 50.46 ppm (strong). Cape leaf extract emulgel preparations meet the evaluation requirements of emulgel preparations which include organoleptics, homogeneity, pH, spreadability and viscosity and are stable in accelerated tests based on statistical analysis of t-Test Paired Two Sample for Means. Abstrak. Antioksidan merupakan senyawa yang berfungsi untuk mencegah, menghambat, atau mengurangi reaksi radikal bebas dan oksidan, serta mencegah kerusakan jaringan. Salah satu tanaman sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas yaitu daun tanjung. Pengujian aktifitas antioksidan ekstrak etanol daun tanjung secara metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun tanjung mempunyai aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50 sebesar 53,87 ppm. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formulasi dan uji aktifitas antioksidan ekstraks daun tanjung dalam sediaan emulgel dengan konsentrasi ekstrak daun tanjung 0,25, 0,5 dan 0,75%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan emulgel ekstrak daun tanjung 1,5% adalah 41,21ppm (sangat kuat), sediaan emulgel ekstrak daun tanjung 1% adalah 47,49 ppm (sangat kuat) dan sediaan emulgel ekstrak daun tanjung 0,5% adalah 50,46 pmm (kuat). Sediaan emulgel ekstrak daun tanjung memenuhi persyaratan evaluasi sediaan emulgel yang meliputi organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar dan viskositas serta stabil pada uji dipercepat berdasarkan analisis statistic t-Test Paired Two Sample for Means.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kirinyuh (Cromolaena odorata L.) terhadap Bakteri Penyebab Infeksi Saluran Kemih (Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumoniae) Sabila Adzika Salma; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14519

Abstract

Abstract. Urinary tract infection (UTI) is a disease triggered by the presence of bacteria that reproduce in the human urinary tract. Until now, urinary tract infections are still a major problem in the health sector. One of the plants that has the potential as a medicinal plant is the kirinyuh leaf (Chromolaena odorata L.). This study was conducted to determine the antibacterial activity of the ethanol extract of kirinyuh leaves against Pseudomonas aeruginosa and Klebsiella pneumoniae bacteria. The method used is agar diffusion by well method by observing the diameter of the inhibition zone. The concentration of ethanol extract of kirinyuh leaves is 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30% with levofloxacin as a comparative control and dimethyl sulfoxide (DMSO) solvent control. The results of the study showed that the ethanol extract of kirinyuh leaves has antibacterial activity against Pseudomonas aeruginosa at concentrations of 10%, 15%, 20%, 25%, 30% and against Klebsiella pneumoniae at concentrations of 15%, 20%, 25%, and 30%. Abstrak. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan suatu penyakit yang dipicu oleh adanya bakteri yang bereproduksi di dalam saluran kemih manusia. Hingga saat ini, infeksi saluran kemih masih menjadi permasalahan utama dalam bidang kesehatan. Salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai tanaman obat adalah daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kirinyuh terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumoniae. Metode yang digunakan adalah difusi agar cara sumuran dengan melihat adanya diameter zona hambat. Konsentrasi ekstrak etanol daun kirinyuh sebesar 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30% dengan kontrol pembanding levofloksasin dan kontrol perlarut dimetil sulfoksida (DMSO). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun kirinyuh memiliki aktivitas antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa pada konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25%, 30% dan terhadap Klebsiella pneumoniae pada konsentrasi 15%, 20%, 25%, dan 30%
Karakterisasi Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) sebagai Antifungi terhadap Microsporum gypseum Lily Nurjihan; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14520

Abstract

Abstract. Dermatophytosis is a superficial mycosis disease caused by fungi that attack keratinized tissues such as skin, nails and hair. One of the fungi that cause the disease is Microsporum gypseum. The prevalence in Indonesia for dermatophytosis reaches 52%. Plants that can be utilized as traditional medicine in antifungal treatment are kirinyuh leaves. The development of traditional medicine is currently increasing along with the development of technological advances so that it can strive to improve the quality and safety of traditional medicinal products. The purpose of this study was to identify the characterization of kirinyuh leaf simplisia and to determine the antifungal activity of kirinyuh leaf ethanol extract produced by kirinyuh leaf ethanol extract (Chromolaena odorata L.) as an antifungal against Microsporum gypseum using the agar diffusion method. The results of characterization of kirinyuh leaf simplisia (Chromolaena odorata L.) have met the predetermined parameters which for non-specific characterization show the results of loss on drying of 9.61%, water content of 6.27% and content of total ash of 7.70%. While for specific characterization shows the results of water-soluble extract content of 22.53%, ethanol soluble extract content of 20.82% and specific gravity of 0.84 g/mL Ethanol extract of kirinyuh leaves (Chromolaena odorata L.) has antifungal activity against Microsporum gypseum at concentrations of 6.25% and 12.5%. Abstrak. Dermatofitosis merupakan penyakit mikosis superfisialisis yang diakibatkan oleh jamur yang menyerang jaringan yang mengandung keratin seperti pada kulit, kuku dan juga rambut. Salah satu jamur penyebab penyakit tersebut yaitu Microsporum gypseum. Prevalensi di Indonesia untuk dermatofitosis mencapai 52%. Tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional dalam pengobatan antifungi yaitu daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.). Pengembangan obat tradisional pada masa sekarang semakin meningkat seiring berkembangnya kemajuan teknologi sehingga dapat mengupayakan peningkatan mutu serta keamanan produk obat tradisional. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi karakterisasi simplisia daun kirinyuh dan untuk mengetahui aktivitas antifungi dari ekstrak etanol daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) sebagai antifungi terhadap Microsporum gypseum menggunakan metode difusi agar cara sumuran. Hasil karakterisasi simplisia daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) sudah memenuhi parameter yang telah ditetapkan yang dimana untuk karakterisasi non spesifik menunjukkan hasil susut pengeringan adalah 9,61%, kadar air 6,27% dan kadar abu total 7,70%. Sedangkan untuk karakterisasi spesifik menunjukkan hasil kadar sari larut air 22,53%, kadar sari larut etanol 20,82% dan bobot jenis 0,84 g/mL Ekstrak etanol daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) memiliki aktivitas antifungi terhadap Microsporum gypseum pada konsentrasi 6,25% dan 12,5%.
Formulasi Sediaan Nanoemulsi Minyak Biji Rosehip Ratnasari; Aulia Fikri Hidayat; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14563

Abstract

Abstract. The skin is the outermost organ of the body which plays a role in the process of protecting against UV radiation which can trigger ROS (Reactive Oxygen Species). Rosehip seed oil (Rosa canina L.) has activity as an antioxidant which can be used to ward off ROS because it is rich in polyunsaturated fatty acids (especially linoleic acid and alpha-linolenic acid), so it can function as an antioxidant. This research aims to develop a formula and evaluate a nanoemulsion preparation containing rosehip seed oil. To increase the penetration ability and effectiveness of the active compound, it was developed into a nanoemulsion preparation. This research aims to determine the antioxidant activity and determine the optimum formulation and antioxidant activity of the rosehip seed oil nanoemulsion preparation. Optimization of the nanoemulsion formula was carried out using surfactant (Tween 80), cosurfactant (PPG), preservatives (methyl and propyl paraben), and aquabidest. Nanoemulsions were evaluated through physical tests that met characteristics including globule size, PDI, and were stable without phase separation based on heating cooling, centrifugation, and freeze thaw tests and antioxidant tests using the DPPH method. The rosehip seed oil nanoemulsion formula that was successfully prepared consisted of 3% rosehip seed oil, 30% Tween 80, 15% propylene glycol, 0.18% methyl paraben, and 0.02% propyl paraben. The nanoemulsion is bright yellow; clear; distinctive smell; globule size 9.167 ± 0.058 nm; and polydispersity index 0.135 ± 0.0788 nm. The results of the antioxidant activity test of rosehip seed oil nanoemulsion showed that rosehip seed oil had an IC50 value of 15,684 ± 2,106 ppm. Abstrak. radiasi sinar UV yang dapat memicu ROS (Reactive Oxygen Species). Minyak biji rosehip (Rosa canina L.) ini memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat digunakan untuk menangkal ROS karena mengandung kaya akan asam lemak tak jenuh ganda (terutama asam linoleat dan asam alfa-linolenat), sehingga dapat berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula dan mengevaluasi sediaan nanoemulsi yang mengandung minyak biji rosehip. Untuk meningkatkan kemampuan penetrasi dan efektivitas senyawa aktif, maka dikembangkan menjadi sediaan nanoemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan mengetahui formulasi optimum serta aktivitas antioksidan dari sediaan nanoemulsi minyak biji rosehip tersebut. Optimasi formula nanoemulsi dilakukan menggunakan surfaktan (Tween 80), kosurfaktan (PPG), pengawet (metil dan propil paraben), dan aquabidest. Nanoemulsi dievaluasi melalui uji fisik yang memenuhi karakteristik meliputi ukuran globul, PDI, dan stabil tidak ada pemisahan fasa berdasarkan pengujian heating cooling, sentrifugasi, dan freeze thaw dan uji antioksidan dengan menggunakan metode DPPH. Formula nanoemulsi minyak biji rosehip yang berhasil dibuat terdiri dari minyak biji rosehip 3%, Tween 80 30%, propilen glikol 15%, metil paraben 0,18%, dan propil paraben 0,02%. Nanoemulsi berwarna kuning cerah; jernih; berbau khas; ukuran globul 9,167 ± 0,058 nm; dan indeks polidispersitas 0,135 ± 0,0788 nm. Hasil uji aktivitas antioksidan nanoemulsi minyak biji rosehip menunjukan bahwa minyak biji rosehip memiliki nilai IC50 15,684± 2,106 ppm.
Skrining Aktivitas Antidiabetes pada Beberapa Ekstrak Menggunakan Metode Nelson-Somogyi Anisa Sopiani; Ratih Aryani; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14592

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a chronic health condition characterized by high blood glucose levels due to impaired insulin production or function. With the increasing prevalence of diabetes in Indonesia, it encourages researchers to look for alternative treatments sourced from natural materials. One of the first steps is to screen the potential of natural compounds as antidiabetics. In this systematic literature review, the potential of natural ingredients as antidiabetic candidates was assessed in vitro using the Nelson Somogyi method. The results of the study found that some extracts containing flavonoid compounds have the potential to reduce blood glucose levels. The combination of cabbage and tomato ethanol extract in the ratio (1:2) has the best glucose level reduction of 4.52 ppm. Abstrak. Diabetes melitus merupakan kondisi kesehatan kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah akibat gangguan produksi atau fungsi insulin. Dengan meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia, mendorong para peneliti untuk mencari alternatif pengobatan yang bersumber dari bahan alam. Salah satu langkah awal adalah dengan melakukan skrining potensi senyawa bahan alam sebagai antidiabetes. Pada Systematic literature review ini dilakukan pengkajian potensi bahan alam sebagai kandidat antidiabetes secara in vitro dengan menggunakan metode Nelson Somogyi. Hasil kajian didapatkan bahwa beberapa ekstrak yang mengandung senyawa flavonoid memiliki potensi dalam menurunkan kadar glukosa darah. Kombinasi ekstrak etanol kubis dan ekstrak etanol tomat pada perbandingan (1:2) memiliki penurunan kadar glukosa terbaik sebesar 4,52 ppm.
Perbandingan Efek Anti Kandidiasis dari Beberapa Tanaman Genus Syzygium Kamilia Zahro; Umi Yuniarni; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14621

Abstract

Abstract. Candidiasis is a fungal infection that is opportunistic, meaning that the infection occurs due to a decrease in the immune system. According to WHO (Word Health Organization) candidiasis cases attack women every year around the world by 10-15% of 100 million women. This study aims to determine the anti candidiasis activity of several syzygium genus plants against the growth of Candida albicans, knowing some syzygium genus plants that have the best effect and knowing the KHM concentration of syzygium genus plants that can have potential as anti candidiasis. The method used in this test is agar diffusion. In this study, anti-candidiasis activity was tested against Candida albicans at concentrations of 1, 5, 10, 20%. Determination of the KHM value is done by reducing the concentration of anti-candidiasis activity test results so that the smallest concentration that can inhibit fungal growth is obtained. Negative control used 10% DMSO and positive control as a comparison using 2% ketoconazole. The results showed that bay leaves (Syzygium polyanthum), jamblang leaves (Syzygium cumini), water guava leaves (Syzygium aqueum), guava bol (Syzygium malaccense), and clove leaves (Syzygium aromaticum) had anti-candidiasis activity against the growth of Candida albicans, and the plants had the best effect on clove leaves with KHM values of 1-5% with an inhibition diameter of 13.5 mm. Abstrak. Kandidiasis adalah infeksi jamur yang bersifat oportunistik artinya infeksi yang terjadi akibat terjadinya penurunan sistem kekebalan tubuh. Menurut WHO (Word Health Organization) kasus kandidiasis menyerang perempuan setiap tahunnya diseluruh dunia sebesar 10-15% dari 100 juta perempuan. Penelitian ini bertujuan agar mengetahui aktivitas anti kandidiasis dari beberapa tanaman genus syzygium terhadap pertumbuhan Candida albicans, mengetahui beberapa tanaman genus syzygium yang memiliki efek paling baik serta mengetahui konsentrasi KHM dari tanaman genus syzygium yang dapat berpotensi sebagai anti kandidiasis. Metode yang digunakan pada pengujian ini yaitu difusi agar cara sumuran. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas anti kandidiasis terhadap Candida albicans pada konsentrasi 1, 5, 10, 20%. Penentuan nilai KHM dilakukan dengan menurunkan konsentrasi hasil pengujian aktivitas anti kandidiasis sehingga diperoleh konsentrasi terkecil yang dapat menghambat pertumbuhan jamur. Kontrol negatif menggunakan DMSO 10% dan kontrol positif sebagai pembanding menggunakan ketokonazol 2%. Hasil menunjukkan bahwa pada daun salam (Syzygium polyanthum), daun jamblang (Syzygium cumini), daun jambu air (Syzygium aqueum), jambu bol (Syzygium malaccense), dan daun cengkeh (Syzygium aromaticum) memiliki aktivitas anti kandidiasis terhadap pertumbuhan Candida albicans, serta tanaman memiliki efek paling baik yaitu pada daun cengkeh dengan nilai KHM sebesar 1-5% dengan diameter hambat sebesar13,5 mm.