cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 416 Documents
Kajian Pengembangan Sistem Nanokapsul untuk Senyawa Flavonoid yang Memiliki Aktivitas Antioksidan Farha Fadila; Aulia Fikri Hidayat; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.634 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4318

Abstract

Abstract. The clinical use of flavonoid compounds is limited because their activity decreases during storage which is influenced by temperature, light, pH and oxygen. The nanocapsule system can be chosen to protect the compound from being rapidly degraded. The success of the nanocapsule formulation is influenced by the type of coating material and the manufacturing method used. This study aims to examine the effect of the nanoencapsulation in the nanocapsule system on antioxidant activity, and also to examine the types of coating materials and manufacturing methods that can be used in nanocapsule formulations for flavonoid compounds that have antioxidant activity. The study was conducted systematically on a number of international articles from reputable publishers. The results showed that nanoencapsulation in the nanocapsule system was able to increase the value of antioxidant activity in the range of 1,1-31 fold. The nanocapsule formulation of flavonoid compounds can be carried out using phase inversion, nanoprecipitation, double emulsion and layer-by-layer methods using coatings, such as PLGA, PCL, ethyl cellulose, PEG-lecithin, PCL-PEG, PLGA-PEG, and chitosan-lecithin. It can be concluded that the development of nanocapsules is able to increase antioxidant activity by using appropriate coating materials and methods Abstrak. Penggunaan klinis senyawa flavonoid terbatas karena mengalami penurunan aktivitasnya selama penyimpanan yang dipengaruhi suhu, cahaya, pH dan oksigen. Sistem nanokapsul dapat dipilih untuk melindungi senyawa supaya tidak cepat terdegradasi. Keberhasilan formulasi nanokapsul dipengaruhi oleh jenis bahan penyalut dan metode pembuatan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh nanoenkapsulasi pada sistem nanokapsul terhadap aktivitas antioksidan, dan juga mengkaji jenis bahan penyalut serta metode pembuatan yang dapat digunakan pada formulasi nanokapsul untuk senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Kajian dilakukan secara sistematis terhadap sejumlah artikel internasional dari penerbit bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanoenkapsulasi pada sistem nanokapsul mampu meningkatkan nilai aktivitas antioksidan dengan rentang 1,1 – 31 kali lipat. Formulasi nanokapsul senyawa flavonoid dapat dilakukan dengan metode inversi fasa, nanopresipitasi, double emulsion dan layer-by-layer) dengan menggunakan penyalut, seperti PLGA, PCL, etil selulosa, PEG-lesitin, PCL-PEG, PLGA-PEG, dan kitosan-lesitin. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan sediaan nanokapsul mampu meningkatkan aktivitas antioksidan dengan menggunakan bahan penyalut dan metode yang sesuai.
Uji Aktivitas Tabir Surya Ekstrak Kulit Buah Sirsak (Annona muricata L.) yang Diekstraksi Dengan Metode Ultrasonic Assisted Extraction Jihan Fadillah; Kiki Mulkiya Yuliawati; Esti Rachmawati Sadiyah
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.984 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4321

Abstract

Abstract. Ultraviolet (UV) rays are one of the spectrum of the sun that adversely affects the skin such as erythema or pigmentation, which in long-term effects may cause photoaging and photocarcinogenesis. These adverse effects can be prevented by using sunscreen that can be made from synthetic or natural materials. The peel of soursop fruit (Annona muricata L.) is a natural material that has been known to contain phenol and flavonoid compounds, both of these compounds are reported to have activities as sunscreen. The extraction method uses Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) with aquadest as solvent. Time variations of extraction are 15, 30, 45, and 60 minutes. The sunscreen activity test was carried out on all samples at concentrations of 625, 1.250, 1.875, 2.500, 3.125, 3.750, 4.375, and 5000 ppm. Determination of sunscreen activities involves sun protection factor, erythema transmittance percentages (%Te), and pigmentation transmittance percentages (%Tp) by using UV-Vis spectrophotometer (wavelength range 290-375 nm). The result showed that UAE extract of 15 minutes at the concentration 5.000 ppm has the highest sunscreen activities than the other samples with SPF value 12,78 which belongs to the maximum protection type; %Te 5,08% and %Tp 20,00% which belongs to the extra protection category. Abstrak. Sinar Ultraviolet (UV) merupakan salah satu spektrum dari sinar matahari yang dapat memberikan dampak buruk pada kulit seperti eritema atau pigmentasi, yang mana efek jangka panjang dapat menyebabkan photoaging dan photocarcinogenesis. Dampak buruk ini dapat dicegah dengan penggunaan tabir surya, baik tabir surya dengan bahan aktif sintesis maupun alami. Kulit buah sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah satu bahan alam yang telah diketahui mengandung senyawa fenol dan flavonoid, dimana kedua senyawa tersebut telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai tabir surya. Metode ekstraksi dilakukan melalui metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) dengan menggunakan aquadest sebagai pelarut pada beberapa variasi waktu yaitu 15, 30, 45, dan 60 menit. Pengujian aktivitas tabir surya dilakukan terhadap semua sampel pada konsentrasi 625, 1.250, 1.875, 2.500, 3.125, 3.750, 4.375, dan 5000 ppm yang meliputi penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF), nilai persen transmisi eritema (%Te), dan nilai persen transmisi pigmentasi (%Tp) dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis (panjang gelombang 290-375 nm). Hasil pengujian menujukkan bahwa ekstrak UAE 15 menit pada konsentrasi 5000 ppm memiliki aktivitas tabir surya lebih tinggi dibandingkan sampel lain dengan nilai SPF sebesar 12,78 yang termasuk ke dalam tipe proteksi maksimal; serta %Te 5,08% dan %Tp 20,00% yang termasuk ke dalam kategori proteksi ekstra.
Formulasi Basis Permen Keras sebagai Model Penghantaran Sediaan Antifungi terhadap Candida albicans Dinda Ayu Fauziyah; Gita Cahya Eka Darma; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.367 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4325

Abstract

Abstract. One of the problems in consuming conventional tablets is the difficulty in swallowing. Hence it is necessary to develop a dosage form such as hard candy, which is easier to consume and accepted by all age groups. This study aims to determine the formulation of an excellent hard candy base that can be used to treat fungal infections around the mouth. Some hard candy bases are made from various sucrose and glucose syrup concentrations. The ratio of sucrose and glucose syrup used was 60:40 (F1), 65:35 (F2), 70:30 (F3), and 75:25 (F4). The results of the basis evaluation refer to SNI to SNI 3547.1 of 2008, the best base is the F3 base. Abstrak. Salah satu permasalahan dalam mengkonsumsi tablet konvensional adalah kesulitan saat menelan. Sehingga perlu dikembangkan sediaan seperti permen keras yang lebih mudah untuk dikonsumsi dan lebih mudah diterima oleh semua kelompok umur. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi basis permen keras yang baik dan dapat dijadikan sediaan untuk mengatasi infeksi fungi di sekitar mulut. Beberapa basis permen keras dibuat dengan variasi konsentrasi antara sukrosa dan sirup glukosa. Perbandingan sukrosa dan sirup glukosa yang digunakan adalah 60:40 (F1), 65:35 (F2), 70:30 (F3), dan 75:25 (F4). Hasil evaluasi basis yang merujuk pada SNI 3547.1 Tahun 2008, basis yang dipilih sebagai basis yang paling baik adalah basis F3.
Kajian Interaksi Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi Aliya Rahmah Adriani; Suwendar; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.814 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4328

Abstract

Abstract. The prevalence of hypertension in Indonesia continues to increase every year, and is widely found in the geriatric category. The cause of hypertension in geriatrics is due to a decrease in the functioning of the body's organs. In pasien geriatrics are at high risk of experiencing drug interactions due to health problems that are likely to be more than one, resulting in the administration of more than one drug. Drug interactions can lead to changes in the effectiveness or toxicity of a drug. The purpose of this study is to determine what drugs can cause interactions with antihypertensive drugs and their impact on geriatric patients undergoing antihypertensive therapy. The study was conducted using data in the form of medical records of inpatient geriatric patients at Al-Mulk Hospital, Sukabumi City. This study used Stockley's Drug Interaction E-book and Drug Interaction Checker to analyze drug interactions. The results of the analysis obtained are further classified by the mechanism of drug interaction and severity. Based on the research that has been carried out, that drugs that have the potential to cause drug interactions with antihypertensive drugs are aspirin, atorvastatin, cefadroxil, ceftriaxone, digoxin, ibuprofen, ketorolac, lansoprazole, meloxicam, and omeprazole and their adverse effects. Abstrak. Prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dan banyak terdapat pada kategori geriatri. Penyebab hipertensi pada geriatri karena adanya penurunan fungsi kerja organ tubuh. Pada pasien geriatri beresiko tinggi mengalami interaksi obat karena permasalahan kesehatan yang kemungkinan lebih dari satu, sehingga pemberian obat yang lebih dari satu. Interaksi obat dapat menyebabkan berubahnya keefektifan atau toksisitas dari suatu obat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui obat apa saja yang dapat menimbulkan interaksi dengan obat antihipertensi serta dampaknya pada pasien geriatri yang menjalani terapi antihipertensi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data berupa rekam medis pasien geriatri rawat inap di Rumah Sakit Al-Mulk Kota Sukabumi. Penelitian ini menggunakan E-book Stockley’s Drug Interaction serta Drug Interaction Checker untuk menganalisis interaksi obat. Hasil analisis yang diperoleh selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme interaksi obat dan tingkat keparahan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bahwa obat yang berpotensi menyebabkan interaksi obat dengan obat antihipertensi yaitu aspirin, atorvastatin, cefadroxil, ceftriaxone, digoksin, ibuprofen, ketorolak, lansoprazole, meloxicam, dan omeprazole serta dampaknya yang merugikan.
Pemeriksaan Karakteristik Simplisia dan Penapisan Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Suji (Draceana angustifolia (Medik.) Roxb.) Ega Nirmala; Umi Yuniarni; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.203 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4329

Abstract

Abstract. Suji leaf (Draceana angustifolia) is one of the natural materials that has been widely used by people, one of them is used as a medicinal plant. Its manufacture as a medicinal plant can’t be separated from manufacture into the form of Simplicia. Each simplicia must be guaranteed in terms of quality, efficacy, and safety. Based on this, the problem in this research is formulated as follows: (1) What are the characteristics of suji leaf simplicia based on specific and non-specific parameters? (2) What are the groups of secondary compounds/metabolites contained in simplicia and ethanol extract of suji leaves? Determination of specific parameters including the determination of the water-soluble extract content and the determination of the ethanol-soluble extract content. Then for non-specific parameters including the determination of water content, determination of drying shrinkage, determination of total ash content, and determination of acid insoluble ash content. For phytochemical screening, the test is carried out by the color test method using specific reagents. The results of this research were: For the determination of the water-soluble extract content and the determination of the ethanol-soluble extract content were 12.67% and 5.84%, respectively. The results for the determination of the water content of 7.99%, the determination of drying shrinkage of 9.69%, the determination of the total ash content of 6.39%, and the determination of the acid insoluble ash content of 0.45%. The simplicia and ethanol extract of suji leaves contain several classes of chemical compounds/secondary metabolites including phenolic compounds and terpenoids. Abstrak. Daun suji (Draceana angustifolia) merupakan salah satu bahan alam yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan daun suji juga sudah berkembang untuk digunakan sebagai tanaman obat. Dalam pembuatannya sebagai tanaman obat tidak lepas dari pembuatannya ke dalam bentuk simplisia. Setiap simplisia haruslah terjamin dalam hal mutu, khasiat dan keamanannya. Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah pada penelitian kali ini yaitu: (1) Bagaimanakah karakteristik simplisia daun suji berdasarkan parameter spesifik dan parameter non spesifik? (2) Apa sajakah golongan senyawa/metabolit sekunder yang terkandung pada simplisia maupun ekstrak etanol daun suji?. Penetapan parameter spesifik yang dilakukan meliputi penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari larut etanol. Kemudian untuk parameter non spesifik yang dilakukan yaitu penetapan kadar air, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut asam. Untuk penapisan fitokimia pada simplisia maupun ekstrak etanol daun suji dilakukan dengan metode uji warna dengan menggunakan pereaksi spesifik. Hasil dari penelitian ini adalah: Hasil penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari larut etanol berturut-turut adalah 12,67% dan 5,84%. Hasil untuk penetapan kadar air 7,99%, penetapan susut pengeringan 9,69%, penetapan kadar abu total 6,39% dan penetapan kadar abu tidak larut asam 0,45%. Pada simplisia dan ekstrak etanol daun suji mengandung beberapa golongan senyawa kimia/metabolit sekunder diantaranya adalah senyawa fenolik dan terpenoid.
Evaluasi Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Rancabali Syifa Egidia Delani; Umi Yuniarni; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.717 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4334

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is still a major health problem in Indonesia because it has a major impact on the decline in work productivity. The purpose of this study was to determine the effect of the level of patient compliance on the success of pulmonary tuberculosis therapy. This study used descriptive survey method, and the data was collected by prospective method. In this study, there are 3 (three) forms of questionnaire, which are demographic data, the level of knowledge, and the level of adherence. This study has been done from April-May 2022. The subject who involved in this study are patients with pulmonary tuberculosis at Pulmonary Polyclinic General Puskesmas Rancabali. The assessments of the adherence level was done using MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) questionnaire and knowledge level assessment using a general knowledge questionnaire about pulmonary TB. The result of 50 patients which fulfilled in inclusion criteria showed that the majority of patient’s age was 26-35 years which was 21 people (42%), the majority of gender was men which was 26 people (61%), the majority of high school student which was 20 people (40%), the majority of government officers which was 21 people (42%). The result shows mayoity the compliance of pulmonary tuberculosis treatment is good (46%). The level of knowledge about the complience therapy in the patients are in good category 30 people (60%). The result of statistical analysis showed that there was a relationship between patient knowledge and compliance in carrying out pulmonary TB treatment at Puskesmas Rancabali (p = 0.007) Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia karena berpengaruh besar terhadap penurunan produksitivitas kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk megetahui pengaruh tingkat kepatuhan pasien terhadap keberhasilan terapi Tuberkulosis Paru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, pengambilan data dilakukan secara prospective. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) bentuk kuisioner yaitu data demografi, tingkat pengetahuan, dan tingkat kepatuhan. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2022. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien tuberkulosis paru di Poli TB Puskesmas Rancabali. Penilaian tingkat kepatuhan menggunakan kuesioner MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) dan penilaian tingkat pengetahuan menggunakan kuisioner pengetahuan umum tentang TB Paru. Hasil dari 50 pasien yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan bahwa mayoritas pasien TB Paru adalah berusia 26-35 tahun sebanyak 21 orang (42%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang (52%), pendidikan SMA/Sederajat sebanyak 20 orang (40%), pekerjaan pegawai swasta sebanyak 21 orang (42%). Berdasarkan hasil kepatuhan menunjukkan bahwa mayoritas tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru adalah baik (46%). Penilaian tingkat pengetahuan pasien dengan kategori baik sebanyak 30 orang (60%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan pasien dengan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan TB Paru di Puskesmas Rancabali (p=0,007).
Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Buah Tin (Ficus carica L.) terhadap Aspergillus niger Sofie Ayunia Rachmawati; Lanny Mulqie; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.123 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4346

Abstract

Abstract. Globally more than 300 million people suffer from serious fungal infections and more than 7.7 million people annually in Indonesia. The treatments for fungal infection is antifungal drugs, but antifungals drug have a risk of resistance. so we need to use natural ingredients for an alternative. In this study, the antifungal activity of fig fruit (Ficus carica L.) ethanol extract was tested against the fungus Aspergillus niger. The purpose of this study was to determine the activity of the ethanol extract of figs (Ficus carica L.) against fungus Aspergillus nigers and to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) against the fungus Aspergillus niger. The research method is agar diffusion with 6 mm diameter paper discs. The ethanol extract of fig (Ficus carica L.) has a tendency to inhibit the growth activity of the fungus Aspergillus niger and the strongest tendency to inhibit at a concentration of 30%. The determination of the MIC value has not been determined because in a concentration of 0.9375% there is a clear zone diameter in the fungus Aspergillus niger. Abstrak. Secara global lebih dari 300 juta orang menderita infeksi jamur serius dan lebih dari 7,7 juta orang pada setiap tahunnya di negara Indonesia. Salah satu pengobatan yang dilakukan adalah dengan diberinya obat antijamur, namun antijamur dalam penggunaannya memiliki resiko terjadinya resistensi. Maka diperlukannya alternatif untuk mengobatinya dan salah satunya adalah penggunaan bahan alam. Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas antijamur ekstrak etanol buah tin (Ficus carica L.) terhadap Aspergillus niger. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol buah tin (Ficus carica L.) terhadap Aspergillus nigers serta menetapkan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) terhadap jamur Aspergillus niger. Metode penelitiannya adalah difusi agar dengan cakram kertas berdiameter 6 mm. Ekstrak etanol buah tin (Ficus carica L.) memiliki kecenderungan menghambat aktivitas pertumbuhan jamur Aspergillus niger dan kecenderungan menghambat paling kuat pada konsnetrasi 30%. Penetapan nilai KHM belum bisa ditentukan karena dalam konsentrasi 0,9375% terdapat diameter zona bening pada jamur Aspergillus niger.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Selenicereus monacanthus (Lem.) D.R. Hunt) Menggunakan Metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) Yuliani Ika Pratiwi; Yani Lukmayani; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.997 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4355

Abstract

Abstract. Free radicals are molecules that have an unpaired electron in their outer orbital, so they are highly reactive. Free radicals can come from cigarette smoke, fast food, burning, excessive sun exposure, and air pollution which can cause chronic and degenerative diseases such as damage to cell wall membranes in all tissues. Free radicals can be fought with antioxidants. One of the natural antioxidants is dragon fruit peel (Selenicereus monacanthus) which contains secondary metabolites, one of which is phenol compounds which are thought to be antioxidants. This study aims to determine the percentage of antioxidant activity, namely the IC50 value of the red dragon fruit peel extract using 96% ethanol: citric acid and aquadest: citric acid as a solvent. Measurement of antioxidant activity was carried out using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method. The results of the antioxidant activity test of red dragon fruit peel extract in 96% ethanol: citric acid and aquades: citric acid solvents were 171.785 ppm and 174.381 ppm, respectively. Abstrak. Radikal bebas merupakan suatu molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan pada orbital luarnya sehingga, bersifat sangat reaktif. Radikal bebas dapat berasal dari asap rokok, makanan siap saji, pembakaran, paparan sinar matahari berlebih, serta polusi udara yang dapat timbulnya penyakit kronis dan degeneratif seperti kerusakan pada membran dinding sel hinnga semua jaringan. Radikal bebas dapat ditangkal oleh antioksidan. Salah satu antioksidan alami yaitu kulit buah naga merah (Selenicereus monacanthus) yang mengandung metabolit sekunder salah satunya adalah senyawa fenol yang diduga sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yaitu nilai IC50 dari ekstrak kulit buah naga merah menggunakan pelarut etanol 96%:asam sitrat dan aquadest:asam sitrat. Pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah naga merah pada pelarut etanol 96%:asam sitrat dan aquadest:asam sitrat berturut-turut yaitu 171,785 ppm dan 174,381 ppm.
Studi Literatur Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bunga dan Daun Kecombrang (Etlingera Elatior (Jack) R. M. Sm.) terhadap Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif Mahda Nur Nahjatun Naajiyah; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.6 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4363

Abstract

Abstract. Infection is one of the most common diseases in humans caused by pathogenic microorganisms. Microorganisms that can cause infection are Gram-positive and Gram-negative bacteria. Antibacterial is a compound that can inhibit and kill the growth of bacteria. Kecombrang plant is one of the Zingiberaceae tribe which is useful as an ingredient in Indonesian cuisine, wound healing, increasing breast milk, antioxidant and antibacterial. Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R. M. Sm.) plant contains secondary metabolites that have potential for antibacterial activity. The content of secondary metabolites that have the potential as antibacterial are polyphenols, flavonoids, saponins, tannins, and terpenoids. This literature search aims to analyze and collect research data related to the potential antibacterial activity of kecombrang leaf and flower extracts against Gram-positive and Gram-negative bacteria and the content of their active compounds. The results showed that kecombrang leaf and flower extract had better potency on Gram-positive bacteria than Gram-negative bacteria. Abstrak. Infeksi merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada manusia yang disebabkan oleh mikroorganisme yang bersifat patogen. Salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif. Antibakteri merupakan suatu senyawa yang dapat menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri. Tanaman kecombrang merupakan salah satu suku Zingiberaceae yang bermanfaat sebagai bahan masakan nusantara, penyembuh luka, memperbanyak air susu ibu, antioksidan dan antibakteri. Tanaman kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R. M. Sm.) memiliki kandungan metabolit sekunder yang dapat berpotensi sebagai aktivitas antibakteri. Kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu polifenol, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Penelusuran pustaka ini bertujuan untuk menganalisis serta mengumpulkan data hasil penelitian terkait potensi aktivitas antibakteri ekstrak daun dan bunga kecombrang terhadap bakteri Gram positif dan negatif serta kandungan senyawa aktifnya. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun dan bunga kecombrang berpotensi lebih baik pada bakteri Gram positif dibandingkan dengan bakteri Gram negatif.
Hair Tonic dengan Kandungan Senyawa yang Memiliki Aktivitas Penumbuh Rambut dari Berbagai Bahan Herbal Syilfiana Anwar; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.609 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4366

Abstract

Abstrak. Hair tonic merupakan sediaan kosmetika rambut yang digunakan untuk menstimulasi pertumbuhan rambut yang memiliki kelebihan mudah digunakan, mudah terserap kulit kepala, serta tidak menimbulkan iritasi. Berbagai ekstrak tanaman yang mengandung flavonoid diformulasikan untuk meningkatkan aktivitas pertumbuhan rambut sebagai alternatif dari hair tonic berbahan sintetik yang dapat memicu timbulnya efek samping. Flavonoid memiliki sifat antioksidan yang mampu memperlancar sirkulasi darah sehingga dapat mempercepat pertumbuhan rambut. Tujuan dari kajian pustaka ini yaitu untuk mengetahui formulasi hair tonic yang memenuhi persyaratan farmasetika dengan bahan aktif herbal yang mengandung flavonoid sebagai penumbuh rambut dan menguji aktivitasnya terhadap pertumbuhan rambut kelinci. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu Systematic Literature Review (SLR) dengan metode diagram prisma. Hasil yang diperoleh dari kajian artikel menunjukan bahwa formulasi hair tonic herbal terbaik adalah formulasi yang mengandung minyak kemiri (Aleurites moluccana L.) sebagai zat aktif dimana memiliki aktivitas terbaik yaitu dapat menumbuhkan rambut hingga 29,77 mm selama 22 hari dan dihasilkan uji evaluasi farmasetik yang meliputi uji organoleptik, uji pH, dan uji viskositas yang memenuhi syarat mutu SNI 16-4955-1998. Abstract. Hair tonic is a hair cosmetic that's used to stimulate hair growth that can be applied practically, absorbed easily by the scalp, and possesses no irritation effect. Various plant extracts containing flavonoids are formulated to increase hair growth activity as an alternative for synthetic hair tonic which could trigger side effects. Flavonoid has antioxidant characteristics that could reinforce blood circulation that accelerates hair growth. The aim of this study is to identify the hair tonic formula review that fulfills the pharmaceutic requirement with active herbal ingredients containing flavonoids. The study used a Systematic Literature Review (SLR) with a diagram prism method. The results from the article review shows that the best herbal hair tonic formulation is the formulation that contains candlenut oil (Aleurites moluccana L.) as an active substance which has the best activity that could grow hair up to 29.77 mm in 22 days and resulting in pharmaceutic evaluation that comprises organoleptic test, pH test, and viscosity test that met the quality requirements of SNI 16-4955-1998.

Page 8 of 42 | Total Record : 416