cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 416 Documents
Kajian Pustaka Potensi Nanofiber Kolagen sebagai Bahan Aktif dalam Proses Penyembuhan Luka Trimaulani Anggraeni; Ratih Aryani; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.591 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4190

Abstract

Abstract. Wound healing is a multifactorial process whose healing process can be done traditionally. However, its healing takes a long time so it is less effective. So the researchers conducted research related to new medical engineering for wound healing, namely tissue engineering using collagen. Collagen has a large particle size so it is necessary to reduce the size of the particle to increase its effectiveness, namely with nanofibers. To validate the wound healing effect on collagen nanofibers, a study based on literature review was carried out through library searches at reputable publishers such as Science Direct, Pubmed, Research gate, NBCI, Taylor & Francis, Hindawi, Spinger – Verlag, and Google Scholar by taking into account the inclusion and exclusion criteria. The results of the literature search show: 1. The formula used for the manufacture of collagen nanofibers is HFIP as a solvent for collagen and other additives that support the formation of nanofibers. 2. The method used for the manufacture of collagen nanofibers is electrospinning. 3. Good nanofibers are nanofibers that are smooth, dense, have a diameter of 100-500 nm and an tensile strength of 1-40 Mpa. 4. Collagen nanofibers have been shown to have good effectiveness in wound healing, which is indicated by an increase in average wound closure of up to 64% on day 7 and an average wound closure of up to 79% on day 14 in in vivo animal testing. Abstrak. Penyembuhan luka merupakan suatu proses multifaktorial yang proses penyembuhan nya dapat dilakukan secara tradisional. Namun, penyembuhan nya membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kurang efektif. Sehingga peneliti melakukan penelitian terkait dengan rekayasa medis baru untuk penyembuhan luka yaitu rekayasa jaringan dengan menggunakan kolagen. Kolagen mempunyai ukuran partikel yang besar sehingga diperlukan pengecilan ukuran partikel untuk meningkatkan efektivitasnya yaitu dengan nanofiber.Untuk memvalidasi adanya efek penyembuhan luka pada nanofiber kolagen dilakukan penelitian berbasis study literature review melalui penelusuran pustaka pada penerbit bereputasi seperti Science Direct, Pubmed, Research gate, NBCI, Taylor&Francis, Hindawi, Spinger – verlag, serta google scholar dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan: 1. Formula yang digunakan untuk pembuatan nanofiber kolagen yaitu HFIP sebagai pelarut kolagen dan bahan tambahan lain yang menunjang pembentukan nanofiber. 2. Metode yang digunakan untuk pembuatan nanofiber kolagen yaitu electrospinning. 3. Nanofiber yang baik yaitu nanofiber yang halus, padat, memiliki diameter 100 – 500 nm serta kekuatan daya tarik 1 – 40 Mpa. 4. Nanofiber kolagen terbukti memiliki efektivitas yang baik dalam menyembuhkan luka yang ditandai dengan adanya peningkatan penutupan luka rata – rata hingga 64% pada hari ke 7 dan penutupan luka rata – rata hingga 79% pada hari ke 14 pada pengujian terhadap hewan secara in vivo.
Studi Literatur Potensi Aktivitas Antidepresan dari Tumbuhan Suku Valerianaceae Muhammad Azis Aulia Rahman; Siti Hazar; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.747 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4195

Abstract

Abstract. The plants of Valerianaceae Family is a medicinal plant that has potential as an antidepressant. One of the sesquiterpenoid content of the Valerianaceae Family is valeranic acid, which can play a role in the mechanism of antidepressant. This study aims to determine the antidepressant potential of Valerianaceae plants, the content of compounds from Valerianaceae plants which have antidepressant activity, and the mechanism of action of several Valerianaceae plants as antidepressants. The research was conducted using a systematic literature review method, the literature search was carried out using the keywords “Species of Valerianaceae as antidepressant”, “Mechanism of Valerianaceae as antidepressants”, “Antidepressant activity of Valerianaceae” dan “Use of the Valerianaceae family”. The stages carried out in this research is literature search and selection, literature review, preparation, discussion and conclusion. Based on the literature search, data obtained from seven plants from the Valerianaceae Family that have potential as antidepressants, that is Valeriana hardwickei, Valeriana officinalis, Valeriana jatamansi, Nardostachys jatamansi, Valeriana prionophylla, Valeriana fauriei, and Valeriana glechomifolia. Of the seven plants, there were only four have complete data, that is Valeriana officinalis, Valeriana prionophylla, Valeriana fauriei, and Valeriana glechomifolia. So that the four plants were declared to have good potential as antidepressants, because they already had more complete data than the other three plants. Abstrak. Tumbuhan Suku Valerianaceae merupakan tumbuhan obat yang memiliki potensi sebagai antidepresan. Kandungan seskuiterpenoid dari tumbuhan Suku Valerianaceae ini salah satunya adalah asam valeranat yang dapat berperan dalam mekanisme antidepresan. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui potensi antidepresan dari tumbuhan Suku Valerianaceae, kandungan senyawa dari tumbuhan Suku Valerianaceae yang memiliki aktivitas antidepresan, serta mekanisme kerja dari beberapa tumbuhan Suku Valerianaceae sebagai antidepresan. Penelitian dilakukan dengan metode tinjauan pustaka sistematis, penelusuran pustaka dilakukan menggunakan kata kunci “Species of Valerianaceae as antidepressant”, “Mechanism of Valerianaceae as antidepressants”, “Antidepressant activity of Valerianaceae” dan “Use of the Valerianaceae family”. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu pencarian dan pemilihan literatur, peninjauan literatur, penyusunan, pembahasan dan kesimpulan. Berdasarkan penelusuran pustaka didapatkan data tujuh tumbuhan dari Suku Valerianaceae yang memiliki potensi sebagai antidepresan, yaitu Valeriana hardwickei, Valeriana officinalis, Valeriana jatamansi, Nardostachys jatamansi, Valeriana prionophylla, Valeriana fauriei, dan Valeriana glechomifolia. dari tujuh tumbuhan hanya terdapat empat tumbuhan dengan data yang lengkap, yaitu Valeriana officinalis, Valeriana prionophylla, Valeriana fauriei, dan Valeriana glechomifolia. Sehingga empat tumbuhan tersebut dinyatakan memiliki potensi yang baik sebagai antidepresan, karena sudah memiliki data yang lebih lengkap dibandingkan tiga tumbuhan lainnya.
Kajian Pustaka Surfaktan dalam Sediaan Pembersih Inayah Fitri Wulandari; Fitrianti Darusman; Mentari Luthfika Dewi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.175 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4203

Abstract

Abstract. Cleansing the skin is an important thing to do in maintaining a healthy body. The skin as the outermost structure of the human body has a function as a protector between the body and the environment, immune defense, UV protection, and protection from oxidative damage. As the main defense against impurities from the outside, many types of microorganisms such as bacteria, viruses, fungi, protozoa, and other minor groups are found. Adanya pollution from the environment can also have negative effects on the skin such as skin aging and skin pigmentation. In cleaning preparations, surfactants have an important role that can function as wetters, cleaners, foaming agents, solvents, conditioners, thickeners, and to produce emollients. The mechanism of surfactants in cleaning dirt in the skin is the formation of micelles. The hydrophobic part of the surfactant will bind to impurities in the skin and its hydrophilic part will be attracted closer to the water during the rinsing process. Abstrak. Membersihkan kulit merupakan hal yang penting dilakukan dalam menjaga kesehatan tubuh. Kulit sebagai struktur terluar dari tubuh manusia memilki fungsi sebagai pelindung antara tubuh dengan lingkungan, pertahanan kekebalan, perlindungan UV, dan perlindungan dari kerusakan oksidatif. Sebagai pertahanan utama terhadap kotoran dari luar, banyak ditemukan berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, protozoa, dan kelompok minor lainnya. Adanya polusi dari lingkungan juga dapat memberikan efek negatif terhadap kulit seperti penuaan kulit dan pigmentasi kulit. Dalam sediaan pembersih, surfaktan memiliki peran yang penting yang dapat berfungsi sebagai sebagai pembasah, pembersih, bahan pembusa, pelarut, kondisioner, pengental, dan untuk menghasilkan emolien. Mekanisme surfaktan dalam membersihkan kotoran di kulit yaitu dengan pembentukan misel. Bagian hidrofobik dari surfaktan akan berikatan dengan kotoran di kulit dan bagian hidrofiliknya akan tertarik mendekati air ketika proses pembilasan.
Studi Literatur Aktivitas Antelmintik pada Tanaman Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Cacing Gelang Babi (Ascaris suum Goeze) Marshanda Reiya Hanafiah; Umi Yuniarni; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.134 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4210

Abstract

Abstract. Nowadays, worm infection is disease that is still faced by society. Diseases caused by these worms occur partly because sanitation in the vicinity is poorly maintained, especially among people with densely populated areas. For preventing or treat these worm infection, anthelmintic are needed that can kill the worms. Using of anthelmintic was sourced from natural materials can be used as an alternative. Indonesia have many types of nutritious plants which are a source of medicinal ingredients, one of which is papaya. This study literature to determine the parts of the papaya plant that have anthelmintic activity, the contained class of secondary metabolites and their mechanism of action as anthelmintics. Based on the results of the study literature, it can be concluded that some parts of the papaya plant are leaves, seeds and stems have the potential as anthelmintics because they can cause death in roundworm on pig. The secondary metabolite compounds that have anthelmintic activity in papaya plant are alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, triterpenoid and phenol. The mechanism action of alkaloid is through suppression of the central nervous system. The mechanism action of flavonoid and saponin is by inhibiting the enzyme acetylcholinesterase which will affect the worm muscles. Tannin work by causing the binding of enzymes produced by roundworm pig for nutrient absorption. Triterpenoid with a polar neutralizing mechanism of action. Phenol work by causing interference with glycoprotein on the surface of worm cells. Abstrak. Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan yang masih dihadapi oleh masyarakat saat ini. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini terjadi antara lain karena sanitasi di sekitarnya kurang terpelihara, terutama pada kalangan masyarakat dengan tempat tinggal padat penduduk. Untuk dapat mencegah atau mengobati infeksi cacing tersebut, diperlukan antelmintik yang dapat membunuh cacing. Penggunaan antelmintik yang bersumber dari bahan alam dapat digunakan sebagai alternatif. Indonesia diketahui memiliki banyak jenis tanaman berkhasiat yang merupakan sumber bahan obat, salah satunya tanaman papaya. Tujuan dari dilakukannya studi literatur ini adalah untuk mengetahui bagian dari tanaman papaya yang memiliki aktivitas antelmintik, golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dan mekanisme kerjanya sebagai antelmintik. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa beberapa bagian tanaman pepaya yaitu daun, biji dan batang berpotensi sebagai antelmintik karena dapat menyebabkan kematian pada cacing gelang babi. Golongan senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antelmintik pada tanaman pepaya adalah alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid dan fenol. Mekanisme kerja alkaloid dengan melalui penekanan sistem saraf pusat. Mekanisme kerja flavonoid dan saponin dengan menghambat enzim asetilkolinesterase yang akan berpengaruh terhadap otot-otot cacing. Tanin bekerja dengan cara menyebabkan terikatnya enzim-enzim yang dihasilkan oleh cacing gelang babi untuk penyerapan nutrisi. Triterpenoid dengan mekanisme kerja penetralan keadaan polar. Fenol bekerja dengan cara menyebabkan terjadinya gangguan pada glikoprotein di permukaan sel cacing.
Studi Literatur Titik Kritis Kehalalan pada Alat Kesehatan Nurul Azmi Firdiyani; Dina Mulyanti; Anan Suparman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.914 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4217

Abstract

Abstract. The demand for halal products is increasing at the current time due to the world's Muslim population's growing. It is known that the world's Muslim population reaches 1.9 billion people. A few halal products that have recently become widely available are food, beverages, drugs, and cosmetics. As Muslims we need to pay attention to the halalness of every use item such as medical devices, but there are still few sources of information about the halalness of medical devices. The halal critical point on a product includes 2 (two) things, are the materials used and the manufacturing process. This research method is carried out in a Systematic Literature Review by review existing research articles related to medical devices and extracting data according to inclusion and exclusion. The results of this study obtained data in the form of materials and processes for making medical devices, surgical threads, contact lenses, and bone implants. It can be concluded that the critical point of halal in medical devices is in the materials used. Abstrak. Permintaan produk halal pada saat ini semakin meningkat hal ini disebabkan karena adanya peningkatan jumlah penduduk muslim di dunia yang semakin berkembang. Diketahui bahwa penduduk muslim dunia mencapai 1,9 miliar jiwa. Adapun produk halal yang sudah banyak tersebar dipasaran diantaranya adalah makanan, minuman, obat, dan kosmetik. Sebagai muslim kita perlu memperhatikan kehalalan pada setiap barang gunaan seperti alat kesehatan, namun masih sedikit sumber informasi mengenai kehalalan pada alat kesehatan. Titik kritis halal pada suatu produk itu meliputi 2 (dua) hal yaitu bahan yang digunakan dan proses pembuatan. Metode penelitian ini dilakukan secara Systematic Literature Review dengan cara review artikel penelitian yang ada terkait alat kesehatan dan dilakukan ekstraksi data sesuai ketentuan inklusi dan eksklusi. Hasil dari penelitian ini didapatkan data berupa bahan dan proses pembuatan alat kesehatan benang bedah, lensa kontak, dan implan tulang. Dapat disimpulkan titik kritis kehalalan pada alat kesehatan ada pada bahan yang digunakan.
Karakterisasi dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Kulit Kentang (Solanum tuberosum L.) Tasya Luthfiyyah; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.99 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4223

Abstract

Abstract. Potato (Solanum tuberosum L.) is the main staple food for humans and the fourth largest crop grown worldwide after rice, wheat and maize. Potato peel, a waste by-product of potato processing, can be considered a new source of natural antioxidants because it contains a number of antioxidant compounds such as phenolic compounds and flavonoid compounds. Based on this background, the purpose of this study was to determine the characterization of simplicia and potato peel extract and to determine the total flavonoid content of potato peel extract. The characterizations included organoleptic tests, determination of the content of soluble extracts in water and ethanol, determination of water content, drying shrinkage, determination of total ash content and acid insoluble ash content, and determination of specific weight. Extraction was carried out using the maceration method for 3x24 hours with two remacerations using 96% of ethanol. Determination of total flavonoid content was carried out using the AlCl3 method using a UV-Vis spectrophotometer and routine as a comparison. The results showed that potato peel simplicia had a faded brown color, fine powder form, characteristic smell, and tasteless. As for the results of potato peel extract, it is dark brown in color, thick, has a characteristic sweet smell, and has a bitter taste. In the water-soluble extract test the results were 32.642%, ethanol soluble extract content was 23.764%, water content was 4.5%, drying loss was 6.309%, total ash content was 4.998%, acid insoluble ash content was 1.195%, and the specific gravity of the extract was 0.7718. The total flavonoid content in potato peel extract was 15.9689 mg RE/g extract Abstrak. Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan makanan pokok utama bagi manusia dan tanaman terbesar keempat yang ditanam di seluruh dunia setelah padi, gandum, dan jagung. Kulit kentang yang merupakan produk sampingan limbah dari pengolahan kentang, dapat dianggap sebagai sumber baru antioksidan alami karena kulit kentang mengandung sejumlah senyawa antioksidan senyawa golongan fenolik dan flavonoid. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuanpenelitian ini yaitu untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak kulit kentang serta mengetahui kadar flavonoid total dari ekstrak kulit kentang. Karakterisasi yang dilakukan meliputi uji organoleptik, penetapan kadar sari larut dalam air dan etanol, penetapan kadar air, susut pengeringan, penetapan kadar abu, total dan kadar abu tak larut asam, serta penetapan bobot jenis. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi selama 3x24 jam dengan dua kali remaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan dengan metode AlCl3 menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan rutin sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan simplisia kulit kentang memiliki karakteristik warna cokelat pudar, bentuk serbuk halus, bau khas, dan tidak berasa. Adapun untuk hasil ekstrak kulit kentang berwarna cokelat tua pekat, bentuk kental, bau khas manis, dan rasa pahit. Pada uji kadar sari larut air didapatkan hasil sebesar 32,642%, kadar sari larut etanol sebesar 23,764%, kadar air sebesar 4,5%, susut pengeringan sebesar 6,309%, kadar abu total sebesar 4,998%, kadar abu tak larut asam sebesar 1,195%, dan bobot jenis ekstrak sebesar 0,7718. Adapun kadar flavonoid total dalam ekstrak kulit kentang adalah sebesar 15,9689 mg RE/g ekstrak
Kajian Pengembangan Sediaan Liposom pada Ekstrak yang Memiliki Aktivitas sebagai Antioksidan Yunita Fidia Astuti; Ratih Aryani; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.334 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4225

Abstract

Abstract. Liposomes are drug delivery systems that can increase the stability of compounds, so that liposomes can be developed to protect antioxidant compounds. This study aims to determine the formulation and manufacturing method of liposomes in extracts that have antioxidant activity and the effect of liposomes on antioxidant activity of extracts. This study was conducted using the SLR (Systematic Literature Review) method. The results of the study showed that the development of liposome preparations on extracts that had antioxidant activity can be made with the main components of soy lecithin, egg yolk lecithin, and 1,2-Dipalmitoyl-sn-glysero-3-phosphocholine (DPPC). In addition, cholesterol can be added as membrane stabilization, Tween 80 and PEG 2000 as surfactants. Liposomes can be prepared by thin layer hydration method, the heating method, microfluiditation and ultrasonication, the SCCO2 GAS method, and ethanol injection. Liposome preparations can protect extracts that have antioxidant activity by increasing the percentage value of free radical inhibition by up to 8% when compared to extracts without modification of the liposome system. Abstrak. Liposom merupakan sistem penghantaran obat yang mampu meningkatkan stabilitas senyawa, sehingga liposom dapat dikembangkan untuk melindungi senyawa antioksidan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi dan metode pembuatan sediaan liposom pada ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan serta mengetahui pengaruh sediaan liposom terhadap aktivitas antioksidan pada ekstrak. Kajian ini dilakukan dengan metode SLR (Systematic Literature Review). Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan sediaan liposom pada ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan dapat dibuat dengan komponen utama lesitin kedelai, lesitin kuning telur, dan 1,2-Dipalmitoyl-sn-glysero-3-fosfokolin (DPPC). Selain itu dapat ditambahkan kolesterol sebagai stabilisasi membran, Tween 80 dan PEG 2000 sebagai surfaktan. Liposom dapat dibuat dengan metode hidrasi lapis tipis, pemanasan, mikrofluiditasi dan ultrasonikasi, gas antisolvent SCCO2, dan injeksi etanol. Sediaan liposom dapat melindungi ekstrak yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dengan pengingkatan nilai persen inhibisi radikal bebas hingga 8% jika dibandingkan dengan ekstrak tanpa modifikasi sistem liposom.
Monitoring Efek Samping Obat Antituberkulosis (OAT) pada Pasien Tuberkulosis Kategori I di UPT Puskesmas Bayongbong Kabupaten Garut Anisa Rahayu Eka Putri; Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.916 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4231

Abstract

Abstract. Tuberculosis is an infectious disease that is still a problem in society and its prevalence highty in Indonesia. One reason for the treatment stopped is side effect. The severity of the side effects experienced will have an impact on patient compliance in taking medication and will even result in a high rate of treatment dropouts. This study aims to obtain information on the incidence of side effects of Anti Tuberculosis Drugs, the causes of side effects, and the treatment of side effects occur. This type of research is descriptive observational with monitoring of side effects for 2 months of intensive care. The number of samples used in this study were 54 people. The results showed that the highest percentage of side effects that occurred during the intensive phase of treatment was in the first month, there are reddish urine (89%), nausea (50%), arthritis (50%), and the second month there are reddish urine (94%), nausea (39%), arthritis (31%), followed by other side effects such as dizziness, skin rash, anorexia, gastrointestinal disorder, dyspnea, tingling, palpitation. The side effects that occur are caused by Anti Tuberculosis Drugs. Treatment for category I tuberculosis patients sustain side effect is given vitamin B6. Based on this study, It is necessary to monitor the side effects of antituberculosis drugs on a regular basis to improve patient compliance in treatment. Abstrak. Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah di masyarakat dan prevalensinya cukup tinggi di Indonesia. Salah satu penyebab penghentian pengobatan pada pasien adalah efek samping obat. Berat ringannya efek samping yang dialami akan berdampak pada kepatuhan pasien dalam meminum obat bahkan akan mengakibatkan tingginya angka putus pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi kejadian efek samping Obat Anti Tuberkulosis, penyebab efek samping, dan pengobatan efek samping yang terjadi. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan pemantauan efek samping selama 2 bulan perawatan intensif. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 54 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase efek samping tertinggi yang terjadi selama pengobatan fase intensif adalah pada bulan pertama yaitu urin berwarna kemerahan (89%), mual (50%), nyeri sendi (50%), dan pada bulan kedua urin kemerahan (94%), mual (39%), nyeri sendi (31%), diikuti efek samping lain seperti pusing, gatal/bintik merah pada kulit, nafsu makan menurun, gangguan pencernaan, sesak napas, kesemutan, dan detak jantung berlebihan. Efek samping yang terjadi disebabkan oleh Obat Anti Tuberkulosis. Penanganan yang diberikan pada pasien tuberkulosis kategori I yang mengalami efek samping diberikan vitamin B6. Berdasarkan penelitian ini, perlu dilakukan pemantauan efek samping obat antituberkulosis secara berkala dengan tujuan untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam berobat.
Studi Literatur Aktivitas Hepatoprotektif Beberapa Tanaman Suku Lamiaceae Amelia Alfia Insani; Lanny Mulqie; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.957 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4232

Abstract

Abstract. One of the complementary alternative therapies for liver damage is the use of hepatoprotector. Many studies have been carried out regarding hepatoprotective activity in plants. Two species from the Lamiaceae family are used empirically to treat liver disease. This study aims to determine the potential of Lamiaceae family as hepatoprotector. The method used in this research is a systematic literature review with data sourced from an article in International Journal published from 2012-2022 by article research, article selection based on inclusion and exclusion criteria then data extraction. The results of this study are Mentha piperita, Salvia officinalis, Scutellaria baicalensis, Rosmarinus officinalis, Ocimum gratissimum, Prunella vulgaris, Clerodendrum paniculatum, Ocimum basillicum, Teucrium polium, Melissa officinalis, Leucas cephalotes, Ajuga parviflora dan Thymus vulgaris plant have hepatoprotective activity. Abstrak. Salah satu terapi alternatif komplementer pada kerusakan hati adalah penggunaan hepatoprotektor. Banyak dilakukan penelitian terkait aktivitas hepatoprotektif yang berasal dari tanaman. Dua spesies tanaman suku Lamiaceae digunakan secara empiris untuk mengobati penyakit hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tanaman dari suku Lamiaceae yang berperan sebagai hepatoprotektor. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic literature review dengan sumber data dari artikel dalam Jurnal Internasional yang diterbitkan dari tahun 2012-2022 dengan tahapan pencarian artikel, penyaringan artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi lalu dilakukan ekstraksi data. Dari hasil penelusuran pustaka diketahui bahwa tanaman Mentha piperita, Salvia officinalis, Scutellaria baicalensis, Rosmarinus officinalis, Ocimum gratissimum, Prunella vulgaris, Clerodendrum paniculatum, Ocimum basillicum, Teucrium polium,Melissa officinalis,Leucas cephalotes,Ajuga parviflora dan Thymus vulgaris memiliki aktivitas hepatoprotektif.
Modifikasi Pati dari Talas Beneng (Xanthosoma undipes K.Koch) Menggunakan Metode Cross Linking Temi Regina Yuliani; Diar Herawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.501 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4235

Abstract

Abstract. The source of starch that has not been widely developed and known is taro beneng (Xanthosoma undipes K. Koch). Starch is a glucose polymer that has -glycosidic bonds composed of amylose and amylopectin. This study aimed to modify the starch from taro beneng (Xanthosoma undipes K. Koch) using the Cross Linking method as well as to study the characterization of taro beneng starch compared to cassava starch Indonesian National Standard (SNI 3451: 2011). Abstrak. Sumber pati yang belum banyak dikembangkan dan diketahui yaitu talas beneng (Xanthosoma undipes K. Koch). Pati adalah suatu polimer glukosa yang memiliki ikatan α-glikosidik yang tersusun dari amilosa dan amilopektin. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi pati dari talas beneng (Xanthosoma undipes K. Koch) menggunakan metode Cross Linking juga mempelajari karakterisasi pati talas beneng dibandingkan dengan pati singkong Standar Nasional Indonesia (SNI 3451:2011).

Page 6 of 42 | Total Record : 416