cover
Contact Name
Hasni Syahida
Contact Email
hsyahida@ulm.ac.id
Phone
+6287815460096
Journal Mail Official
homeostasis@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Homeostasis: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Dokter
ISSN : -     EISSN : 27224333     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Homeostasis adalah jurnal yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian yang memiliki fokus dan ruang lingkup di bidang kedokteran dan kesehatan. Tulisan-tulisan yang dimuat bisa dalam bentuk Original Research, Literature Review, ataupun Laporan Kasus. Homeostasis terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember di setiap tahunnya.
Articles 481 Documents
Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Anemia dengan Perilaku Pencegahan Anemia pada Remaja Puteri di SMAIT Ukhuwah Banjarmasin Muhammad Sultan Izdihar; Meitria Syahdatina Noor; Istiana Istiana; Juhairina Juhairina; Nika Sterina Skripsiana
Homeostasis Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.598 KB)

Abstract

Abstract: Anemia is a medical condition in which the amount of red blood cells or hemoglobin is lesser than normal. The lack of knowledge about anemia in adolescent girls makes many students have poor eating patterns, resulting in poor anemia prevention behavior as well. The aim of this study was to explain the correlation between knowledge and attitudes about anemia with preventive behavior in adolescent girls at SMAIT Ukhuwah Banjarmasin. The research design was analytic observational with a cross sectional approach using the chi-square test. Sampling using purposive sampling technique with a total sample of 43 students who meet the inclusion and exclusion criteria. The results of the study showed 27 people (63%) had good knowledge and 16 people (37%) had bad knowledge. The majority of 20 female students (46%) have good knowledge and have positive preventive behavior. The correlation between knowledge and prevention behavior has a p value of 0.000 with a PR of 3.1339286. From these result, it can be deduced that there is a significant (p value <0.05) There are 28 respondents (65%) who have a positive attitude with good preventive behavior as many as 20 respondents (46%) and less behavior as many as 8 people (19%). The correlation between attitude and behavior to prevent anemia has p-value = 0.001 with PR = 2.8. between knowledge and attitudes with anemia prevention behavior at SMAIT Ukhuwah Banjarmasin. Keywords: anemia, knowledge, attitude, behavior of  prevention Abstrak: Anemia merupakan sebuah keadaan medis di mana kadar hemoglobin atau sel darah merah dalam tubuh berada di bawah normalnya. Minimnya pengetahuan tentang anemia remaja puteri membuat banyak siswi yang memiliki pola makan yang kurang baik sehingga terjadi sikap perilaku pencegahan anemia yang kurang baik. Penelitian ini ditujukan untuk menjelaskan korelasi antara sikap dan wawasan tentang anemia dengan tindakan antisipasi pada remaja puteri di SMAIT Ukhuwah Banjarmasin. Metode rancangan penelitian adalah observasional analitik melalui pendekatan cross sectional, lantas dianalisis menggunakan uji chi-square. Teknik purposive sampling digunakan untuk mendapatkan jumlah sampel sebanyak 43 orang siswi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil dari penelitian menunjukan 27 orang (63%) mempunyai pengetahuan baik dan 16 orang (37%) memiliki pengetahuan buruk. Mayoritas siswi 20 orang (46%) memiliki pengetahuan baik dan berprilaku pencegahan positif. Hubungan pengetahuan dan perilaku pencegahan memiliki p-value sebesar 0,000 dengan PR  sebesar 3,1339286. Simpulan yang didapat dari hasil tersebut adalah terdapat keterkaitan yang bermakna (p value <0,05) Terdapat 28 responden (65%) mempunyai sikap positif dengan perilaku pencegahan baik sebanyak 20 responden (46%) dan perilaku kurang sebanyak 8 orang (19%). Keterkaitan antara sikap dengan perilaku pencegahan anemia memiliki p-value = 0,001 dengan PR=2,8.  antara wawasan dan sikap dengan tindakan pencegahan anemia di SMAIT Ukhuwah Banjarmasin. Kata-kata kunci: anemia, pengetahuan, sikap, Perilaku Pencegahan
GAMBARAN KADAR KALSIUM TOTAL DAN VITAMIN D PADA ANAK SINDROM NEFROTIK DI RSUD ULIN BANJARMASIN Nurul Muth Mainnah; FX Hendriyono; Selli Muljanto
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.197 KB)

Abstract

Abstract: Complications nephrotic syndrome (NS) include hypocalcaemia and vitamin D deficiency. That are due to increased glomerular permeability of protein. This study aimed to describe the total calcium and vitamin D levels in children with relapse NS, steroid-dependent NS and steroid-resistant NS (SRNS) at Ulin General Hospital Banjarmasin on January 2017-August 2018. This research method with a retrospective cross-sectional approach. There were 21 subjects consisted of relapse NS (38.1%), steroid dependent NS (33.3%) and SRNS (28.6%) were selected by purposive sampling according to inclusion criteria. The results of the study on NS children at Ulin General Hospital Banjarmasin were found to have a mean total calcium levels of 9.35±1.55 mg/dL and a mean vitamin D levels of 19.85±8.79 ng/mL. Furthermore, the mean total calcium levels in relapse NS was 9.43±1.72 mg/dL, steroid dependent NS 9.46±1.29 mg/dL and SRNS 9.12±1.83 mg/dL and the mean vitamin D levels in relapsed NS 19.56±6.17 ng/mL, steroid-dependent NS 21.73±10.46 ng/mL, SRNS 18.03±10.79 ng/mL. It can be concluded that in children with relapse NS, steroid-dependent NS and SRNS at Ulin General Hospital Banjarmasin have a normal mean total calcium levels and decreased a mean of vitamin D levels. Keywords: nephrotic syndrome, relapse nephrotic syndrome, steroid-dependent nephrotic syndrome,   steroid-resistant nephrotic syndrome, total calcium, vitamin D. Abstrak: Komplikasi sindrom nefrotik (SN) diantaranya hipokalsemia dan defisiensi vitamin D. Hal tersebut disebabkan meningkatnya permeabilitas glomerulus terhadap protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar kalsium total dan vitamin D pada pasien SN relaps, SN dependen steroid dan SN resisten steroid (SNRS) di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2017-Agustus 2018. Metode penelitian dengan pendekatan cross sectional retrospektif. Didapatkan 21 subjek terdiri dari SN relaps (38,1%), SN dependen steroid (33,3%) dan SNRS (28,6%) dipilih melalui purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian pada pasien SN anak didapatkan rerata kadar kalsium total 9,35±1,55 mg/dL dan rerata kadar vitamin D 19,85±8,79 ng/mL. Selanjutnya rerata kadar kalsium total pada SN relaps 9,43±1,72 mg/dL, SN dependen steroid 9,46±1,29 mg/dL dan SNRS 9,12±1,83 mg/dL serta rerata kadar vitamin D pada SN relaps 19,56±6,17 ng/mL, SN dependen steroid 21,73±10,46 ng/mL, SNRS 18,03±10,79 ng/mL. Dapat disimpulkan pada pasien SN relaps, SN dependen steroid dan SNRS di RSUD Ulin Banjarmasin memiliki rerata kadar kalsium total yang normal dan rerata kadar vitamin D yang menurun. Kata-kata kunci: sindrom nefrotik, sindrom nefrotik relaps, sindrom nefrotik dependen steroid, sindrom nefrotik resisten steroid, kalsium total, vitamin D
Literature Review: Pengaruh Latihan Aerobik Intensitas Sedang terhadap Kadar Hemoglobin Alievia Febriyantiningrum F. Putri; Siti Kaidah; Huldani Huldani
Homeostasis Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.169 KB)

Abstract

Abstract: Aerobic exercise is physical activity to increase oxygen consumption, improve function of the respiratory and cardiovascular system. Physical exercise or sports can increase total Hb, thereby increasing oxygen-carrying capacity. This literature review aims to summarize the effect of moderate intensity aerobic exercise on hemoglobin levels. Writing is done by summarizing articles from search in medical journal databases, PubMed-MEDLINE, Science Direct, and Google Scholar, using English and Indonesian from 2010-2020. This literature review reviewed a total of 20 articles. There is a difference in the results of hemoglobin levels after moderate intensity aerobic exercise. The mechanism of difference in the results of hemoglobin levels isn’t certain. Further research is needed to determine complete mechanism of differences in the value of hemoglobin levels after moderate intensity aerobic exercise. Keywords: moderate intensity aerobic exercise, hemoglobin level, anemia Abstrak: Latihan aerobik adalah aktivitas fisik untuk meningkatkan konsumsi oksigen, meningkatkan fungsi sistem pernapasan dan sistem kardiovaskular. Latihan fisik atau olahraga dapat meningkatkan Hb total, sehingga meningkatkan kapasitas pembawa oksigen. Literature review ini bertujuan merangkum pengaruh latihan aerobik intensitas sedang terhadap kadar hemoglobin. Penulisan dilakukan dengan merangkum artikel dari hasil pencarian pada database jurnal kedokteran, yaitu PubMed-MEDLINE, Science Direct, dan Google Scholar, menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia dari tahun 2010-2020. literature review ini meninjau sebanyak 20 artikel. Terdapat perbedaan hasil kadar hemoglobin setelah melakukan latihan aerobik intensitas sedang. Mekanisme perbedaan kadar hemoglobin tersebut belum diketahui secara pasti. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui mekanisme lengkap perbedaan nilai kadar hemoglobin setelah melakukan latihan aerobik intensitas sedang. Kata-kata kunci: latihan aerobik intensitas sedang, kadar hemoglobin, anemia
Perbedaan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase dan Kreatinin pada Preeklampsia Berat Early Onset dengan Late Onset Rayhana Yamini; Bambang Abimanyu; Azma Rosida
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.976 KB)

Abstract

Abstract: Severe preeclampsia is one of hypertension in pregnancy that is accompanied by proteinuria or involvement of other organs, such as liver and kidney which can be seen from the increased activity of Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) of the liver and renal creatinine levels. Severe preeclampsia is distinguished by early onset and late onset. The purpose of this study was to determine the differences between SGPT and creatinine in severe early onset preeclampsia with late onset in Ulin Hospital Banjarmasin from January to December 2018. The study was analytic observational. Samples were taken with a non-probability sampling technique with a purposive sampling method, obtained 210 samples that fit the inclusion and exclusion criteria from secondary data. Data analysis using the Mann-Whitney test. The results showed that the median and percentile SGPT of early onset were 28.60 (8-571) U/L and late onset were 20.00 (4-611) U/L. The median and percentile creatinine of early onset were 0.91 (0.45-2.97) mg/dL and late onset were 0.72 (0.19-2.46) mg/dL in severe preeclampsia. There was a significant difference (p = 0.007) in SGPT and (p = 0.002) in creatinine in early onset severe preeclampsia with late onset in Ulin Hospital Banjarmasin in the January-December 2018 period. Keywords: SGPT, creatinine, severe preeclampsia, early onset, late onset. Abstrak: Preeklampsia berat adalah salah satu hipertensi pada kehamilan yang disertai proteinuria atau keterlibatan organ lain, seperti hati dan ginjal yang dapat dilihat dari peningkatan aktivitas Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) hati dan kadar kreatinin ginjal. Preeklampsia berat berdasarkan awitan dibagi menjadi early onset dan late onset. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan SGPT dan kreatinin pada preeklampsia berat early onset dengan late onset di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari-Desember 2018. Penelitian bersifat observasional analitik. Sampel diambil dengan teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling, didapatkan 210 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi data diambil dari data sekunder. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan median SGPT early onset sebesar 28,60 U/L dengan nilai minimum-maksimum 8-571 U/L, median SGPT late onset sebesar 20,00 U/L dengan nilai minimum-maksimum 4-611 U/L, median kreatinin early onset sebesar 0,91 mg/dL dengan nilai minimum-maksimum 0,45-2,97 mg/dL, median kreatinin late onset sebesar 0,72 mg/dL dengan nilai minimum-maksimum 0,19-2,46 mg/dL pada preeklampsia berat. Terdapat perbedaan bermakna (p = 0,007) pada SGPT dan (p = 0,002) pada kreatinin preeklampsia berat early onset dengan late onset di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari-Desember 2018. Kata-kata kunci: SGPT, kreatinin, preeklampsia berat, early onset, late onset.
Literature Review: Korelasi Kadar Malondialdehid Plasma dengan Insomnia pada Lanjut Usia Rahmat Dwi Kurniawan; Fakhrurrazy Fakhrurrazy; Eko Suhartono
Homeostasis Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.978 KB)

Abstract

Abstract: One of the most common sleep disorders experienced by the elderly is insomnia, insomnia can be caused by an increase in hormone cortisol that can cause oxidative stress. Oxidative stress occurs whenever there is an imbalance between oxidant production and antioxidant defenses, one of the biomarkers of oxidative stress is an increase in malondialdehyde. Through this literature review, the authors would like to provide an explanation of the correlation between malondialdehyde and insomnia. Writing is done by analyzing related literature obtained from search results on medical journal databases, PubMed - MEDLINE and Google Scholar. Articles that included are in English and published in 2006-2020. A total of 7 articles were included in this literature review. Based on a literature review, it was found that insomnia is associated with oxidative stress, this is evidenced by the level of malondialdehyde. Keywords: Oxidative stress, malondialdehyde, insomnia, elderly Abstrak: Salah satu gangguan tidur yang paling banyak dialami terutama oleh lansia adalah insomnia, insomnia dapat disebabkan oleh peningkatan hormon kortisol yang dapat menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif terjadi setiap kali ada ketidakseimbangan antara produksi oksidan dan pertahanan antioksidan, salah satu biomarker dari stres oksidatif ada peningkatan malondialdehid. Melalui tinjauan literatur ini, penulis ingin memberikan penjelasan mengenai korelasi malondialdehid dengan insomnia. Penulisan dilakukan dengan menganalisis literatur terkait yang didapatkan dari hasil pencarian pada database jurnal kedokteran, yaitu PubMed – MEDLINE dan Google Scholar. Artikel yang disertakan menggunakan bahasa Inggris dan dipublikasikan pada tahun 2006-2020. Sebanyak 7 artikel disertakan pada literature review ini. Berdasarkan literature review didapatkan insomnia berhubungan dengan stres oksidatif, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya kadar malondialdehid. Kata-kata kunci: stres oksidatif, malondialdehid, insomnia, lanjut usia
Hubungan Faktor Antenatal Care dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin Reynaldo Gazali; Syamsul Arifin; Lisda Hayatie
Homeostasis Vol 3, No 3 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.367 KB)

Abstract

Abstract: Anemia is one of many health problems that can occur in pregnant women, especially in developing countries such as Indonesia. Anemia in pregnant women can be caused by several antenatal factors include gestation age at KI, iron tablet consumption, and antenatal care service quality. Administration of iron tablets during pregnancy can fulfill the iron nutritional need of pregnant women thus will avoid anemia. East Kelayan Puskesmas of Banjarmasin is one of the primary health care with the highest rate of anemia in Banjarmasin. The purpose of this study was to determine the association of antenatal care factors with the occurrence of anemia in pregnant women at the East Kelayan Puskesmas in Banjarmasin. This study used an observational analytic method with cross-sectional approach. The sample was 50 respondents who were selected using a systematic random sampling technique. The instrument used in this study were forms and service quality questionnaires and drawing blood of pregnant women to examine the level of hemoglobin. The statistical test used in this study was chi-square test and Fisher’s test. The results showed there is an association between the antenatal factors with the occurrence of anemia in pregnant women at East Kelayan Puskesmas in Banjarmasin with a p value of 0,000. Keywords: antenatal care factors, pregnant women, anemia Abstrak:  Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan bagi ibu hamil terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Anemia pada ibu hamil dapat disebabkan oleh beberapa faktor antenatal care meliputi usia kehamilan pada K1, konsumsi tablet besi, dan mutu pelayanan antenatal. Pemberian tablet besi selama kehamilan akan membuat ibu mencukupi keperluan zat besi selama kehamilan sehingga ibu dapat terhindar dari anemia. Puskesmas di Banjarmasin yang memiliki angka kejadian anemia pada ibu hamil tertinggi adalah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor antenatal care dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Metode penelitian adalah observasional analitik dengan cross-sectional. Besar sampel sebanyak 50 responden yang dipilih menggunakan teknik systematic random sampling. Instrument penelitian yang digunakan berupa blangko isian, kuesioner mutu pelayanan dan melakukan pengambilan darah ibu hamil untuk diperiksa hbnya. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square dan uji Fisher. Hasil uji statistik menunjukan terdapat hubungan antara faktor antenatal care dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin dengan uji alternative uji Fisher dengan p = 0,000. Kata-kata kunci: Faktor antenatal care, ibu hamil, anemia
Hubungan Karakteristik Pemakaian Jilbab terhadap Kejadian Ketombe pada Mahasiswi PSPD Fakultas Kedoteran Universitas Lambung Mangkurat Siti Aisyah; Robiana M. Noor; Noor Muthmainnah
Homeostasis Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.262 KB)

Abstract

Abstrack: The use of hijab is related to moist scalp. Humidity is a cause of dandruff incidence which characterized by the discovery of thin scales on the scalp and one of the risk factors of dandruff. This study aims to determine the relationship between characteristics of hijab usage that affect the dandruff incidence in female students of PSPD Medical Faculty Lambung Mangkurat University. This research is observational descriptive with purposive sampling technique. Number of subjects used were 150 people consist of 75 groups of female students with dandruff and 75 groups of female students with no dandruff. This study used questionnaire. The data will be analyzed by using chi square. The result showed that the characteristic of hijab usage to dandruff incidence were the use of dark hijab (64%), hijab layer usage (36%), wearing hijab ≥6 hours (10%). In the dandruff respondent, the hijab use <6 hours were 60 people (80%), the use of colored hijab were 75 people (100%), the use of hijab layer were 54 people (72%). The conclusion in this study there is a relationship between the duration of hijab usage, the colored hijab used to dandruff incidence. Value (p=0,000). Keywords: dandruff, hijab, female student of PSPD Abstrak: Penggunaan jilbab berkaitan dengan kelembaban kulit kepala. Kelembaban merupakan salah satu penyebab terjadinya ketombe yang ditandai dengan ditemukannya sisik tipis pada kulit kepala dan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ketombe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik pemakaian jilbab yang berpengaruh terhadap kejadian ketombe pada mahasiswi PSPD Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan teknik purposive sampling. Subjek yang digunakan 150 orang yang terdiri dari 75 kelompok mahasiswi berketombe dan 75 kelompok mahasiswi tidak berketombe. Penelitian ini menggunakan kuesioner. Data akan dianalisis menggunakan chi square. Hasil penelitian menunjukkan hubungan karakteristik pemakaian jilbab terhadap kejadian ketombe adalah penggunaan jilbab berwarna gelap (64%) penggunaan lapisan jilbab (36%) lama pemakaian jilbab ≥ 6 jam (10%). Pada responden yang berketombe, lama pemakaian jilbab < 6 jam yaitu 60 orang (80%), penggunaan warna jilbab 75 orang (100%), penggunaan lapisan jilbab 54  orang (72%). Kesimpulan pada penelitian ini terdapat hubungan antara lama penggunaan jilbab, penggunaan warna jilbab terhadap kejadiaan ketombe. Nilai (p=0,000). Kata-kata Kunci: ketombe, jilbab, mahasiswi PSPD
Prevalensi Anemia Defisiensi Besi dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi pada Anak Balita dengan Gizi Buruk Intan Zorena Rezky; Harapan Parlindungan Ringoringo; Roselina Panghiyangani; Edi Hartoyo; Rahmiati Rahmiati
Homeostasis Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.562 KB)

Abstract

Abstract: Iron deficiency anemia (IDA) is anemia due to impaired erythrocyte formation due to a lack of iron in the body. This research aims to obtain data on the prevalence of iron-deficient anemia and iron-deficient; and to find out the relationship between children's nutritional status, mother's education/occupation/parity, and family income to the prevalence of iron deficiency anemia experienced by children under five at the Cempaka Health Center Banjarbaru. The method used is analytic observational with a cross-sectional approach. Determination of the sample using a consecutive sampling technique. The sample consisted of 30 children who performed anthropometric examinations and a complete peripheral blood laboratory. Based on the result obtained, it show that the prevalence of non-iron-deficient and iron-deficient anemia were 27%, 10%, and 73%, respectively. The tests carried out in analyzing the data were the chi-square test and Fisher's exact test with a 95% confidence level. The results of the analysis of the relationship between the prevalence of iron deficiency anemia with the nutritional status of children (p=0.195), mother's education (p=0.210), mother's occupation (p=1), mother's parity (p=0.210), and family income (p=0.267). It can be inferred that the prevalence of iron deficiency anemia and the factors that affect children under five are not related (p>0.05). Keywords: iron deficiency anemia, child nutritional status, maternal education, maternal occupation, maternal parity, family’s income Abstrak: Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia akibat pembentukan eritrosit terganggu karena kurangnya jumlah zat besi dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan memperoleh data prevalensi anemia terdefisiensi besi serta terdefisiensi besi; dan mengetahui hubungan status gizi anak, pendidikan/pekerjaan/paritas ibu, dan penghasilan keluarga terhadap prevalensi anemia defisiensi besi yang dialami anak balita di Puskesmas Cempaka Banjarbaru. Metode yang digunakan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penentuan sampel menggunakan consecutive sampling technique. Sampel berjumlah 30 anak yang melakukan pemeriksaan antropometri, dan laboratorium darah tepi lengkap. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia terdefisiensi besi dan terdefisiensi besi berturut-turut yaitu 27%, 10% dan 73%. Uji yang dilakukan dalam menganalisis data yaitu chi-square test dan Fisher’s exact test dengan confidence level 95%. Hasil analisis hubungan antara prevalensi anemia defisiensi besi dengan status gizi anak (p=0,195), pendidikan ibu (p=0,210), pekerjaan ibu (p=1), paritas ibu (p=0,210), dan penghasilan keluarga (p=0,267). Dapat disimpulkan bahwa antara prevalensi anemia defisiensi besi dengan faktor-faktor yang mempengaruhi balita tidak saling berhubungan (p>0,05). Kata-kata kunci: anemia defisiensi besi, status gizi anak, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, paritas ibu, penghasilan keluarga
Literature Review: Korelasi HBA1C dan Mean Platelet Volume (MPV) terhadap Kaki Diabetes Mahdalena Mahdalena; Fauzia Noor Liani; Dewi Indah Noviana Pratiwi; Nanang Miftah Fajari; Azma Rosida
Homeostasis Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.979 KB)

Abstract

Abstract: Diabetic foot ulcers are a major complication of diabetes mellitus. The mortality rate for diabetic foot ulcers ranges from 17- 32% and the amputation rate ranges from 15-30%. Diabetic foot ulcers associated with HbA1c levels> 6.5 patients are considered to have poor glucose control which can lead to various complications. Hyperglycemia in diabetes can increase platelet reactivity so it is necessary to check the Mean Platelet Volume (MPV) which is a biomarker of platelet reactivity. This literature review aims to collect data and analyze the correlation of HbA1c and Mean Platelet Volume (MPV) on the incidence of diabetic foot and to understand the mechanisms underlying changes in HbA1c levels and Mean Platelet Volume (MPV) that cause complications of diabetic foot. Literature sources are 15 journals obtained through medical journal databases, namely Pubmed, Science Direct and Google Scholar with the criteria of using English and Indonesian in the period 2009-2020. The results obtained in this study were the mean level of mean platelet volume (MPV) based on 10 literatures was 13.089 fl. Mean HbA1c levels from 15 literature HbA1c> 8%.  Keywords: correlation, kaki diabetes, diabetic foot ulcer, HbA1c, mean platelet volume. Abstrak:  Ulkus kaki diabetes merupakan komplikasi utama diabetes melitus. Angka kematian ulkus kaki diabetes berkisar antara 17- 32% dan laju amputasi berkisar 15- 30%. Ulkus kaki diabetes dikaitkan dengan kadar HbA1c >6,5 pasien dianggap memiliki kontrol glukosa yang buruk yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Hiperglikemia pada diabetes dapat meningkatkan reaktivitas trombosit sehingga perlu pemeriksaan Mean platelet Volume (MPV) yang merupakan biomarker reaktivitas trombosit. Literature review ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan menganalisis korelasi HbA1c dan Mean Platelet Volume (MPV) terhadap kejadian kaki diabetes dan memahami mekanisme yang mendasari perubahan kadar HbA1c dan Mean Platelet Volume (MPV) yang menyebabkan terjadinya komplikasi kaki diabetes. Sumber literatur berupa 15 jurnal yang diperoleh melalui database jurnal kedokteran, yaitu Pubmed, Science Direct dan Google Scholar dengan  kriteria menggunakan Bahasa inggris dan Bahasa Indonesia dalam kurun waktu 2009-2020. Hasil yang didapatkan dalam studi ini adalah Rerata kadar Mean Platelet Volume (MPV) berdasarkan 10 literatur adalah sebesar 13,089 fl. Rerata kadar HbA1c dari 15 literatur HbA1c>8%. Kata-kata kunci:  hubungan, kaki diabetes, diabetic foot ulcer, HbA1c, mean platelet volume.
KORELASI STATUS GIZI DENGAN DERAJAT PENYAKIT DBD ANAK TERHADAP LAMA RAWAT INAP Farah Auliyaa-Ul Qisthi; Edi Hartoyo Hartoyo; Rahmiati Rahmiati
Homeostasis Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Nutritional status affects dengue hemorrhagic fever (DHF) severity. A severe DHF can prolong the length of stay. This cross-sectional study uses analytical-observational design aims to find out correlation between nutritional status and the severity of DHF in children against length of stay (LOS). Purposive sampling data extracted from 42 samples of DHF pediatric patients that was treated and hospitalized on January−December 2017. The mean of length of stay is 3,50 days, the most of nutritional status is normal and obese, and the common severity of DHF is DHF I. This study was using Spearman correlation test. The result of bivariate test shows that there is a weak negative correlation between nutritional status and severity of DHF (p=0,020;r=-0,357). In the other hand, there are no correlation neither between nutritional status and LOS (p=0,841), nor severity of DHF and LOS (p=0,704) in DHF pediatric patients. Keywords:  dengue hemorrhagic fever, nutritional status, length of stay, children, Ulin general hospital Abstrak: Status gizi mempengaruhi perjalanan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Penyakit DBD yang berat memperpanjang lama rawat inap. Penelitian cross-sectional ini bertujuan mengetahui korelasi status gizi dengan derajat penyakit DBD anak terhadap lama rawat inap, dengan desain adalah observasional-analitik. Data purposive sampling adalah 42 sampel dari catatan rekam medik pasien DBD anak yang dirawat inap di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari−Desember 2017. Rerata lama rawat inap adalah 3,50 hari, status gizi terbanyak adalah status gizi baik dan lebih, serta derajat penyakit DBD tersering muncul adalah derajat DBD I. Penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil uji statistik bivariat menunjukkan terdapat korelasi negatif yang lemah antara status gizi dengan derajat penyakit DBD (p=0,020;r=-0,357). Di sisi lain, tidak terdapat korelasi yang bermakna antara status gizi dengan lama rawat inap (p=0,841) dan derajat penyakit DBD dengan lama rawat inap (p=0,704) pada pasien DBD anak. Kata-kata kunci:  demam berdarah dengue, status gizi, lama rawat inap, anak