cover
Contact Name
Hasni Syahida
Contact Email
hsyahida@ulm.ac.id
Phone
+6287815460096
Journal Mail Official
homeostasis@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Homeostasis: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Dokter
ISSN : -     EISSN : 27224333     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Homeostasis adalah jurnal yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian yang memiliki fokus dan ruang lingkup di bidang kedokteran dan kesehatan. Tulisan-tulisan yang dimuat bisa dalam bentuk Original Research, Literature Review, ataupun Laporan Kasus. Homeostasis terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember di setiap tahunnya.
Articles 481 Documents
HUBUNGAN DIABETES MELITUS DENGAN KATARAK PADA PASIEN DI POLIKLINIK MATA RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE 2021 Norsela Norsela; Muhammad Ali Faisal; Asnawati Asnawati
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9999

Abstract

Katarak yakni suatu kelainan mata yang menyebabakan kebutaan serta gangguan penglihatan serta kekeruhan pada lensa mata yang disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya yakni diabetes melitus. Kataraks dihubungkan dengan diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan guna mengkaji korelasi diabetes melitus melalui penyakit katarak pada pasien di Poliklinik Mata RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain observasional analitik dengan metode cross sectional. Teknik pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, didapatkan subjek penelitian 68 orang katarak dan 14 orang tidak katarak yang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan sebanyak 55,88% pasien katarak yang memiliki riwayat diabetes melitus dan 71,42% pasien katarak tanpa riwayat diabetes melitus. Uji statistik menggunakan uji chi–square dengan tingkat kepercayaan 95%, untuk hubungan diabetes melitus dengan penyakit katarak didapatkan nilai p=0,282. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini yakni tidak terdapat hubungan yang signifikan antara diabetes melitus dengan penyakit katarak.
GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIVIRUS PADA PASIEN RAWAT INAP NON-ICU COVID-19 DI RSUD ULIN BANJARMASIN Kamila Rosyida; Rahmiati Rahmiati; Hendra Wana Nur'amin; Ira Nurrasyidah; Alfi Yasmina
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9982

Abstract

COVID-19 menunjukkan penyebaran secara cepat dengan kondisi rawat inap yang beragam. Terapi antivirus menjadi salah satu terapi utama COVID-19. Sampai sekarang pengobatan antivirus untuk COVID-19 masih menggunakan obat yang telah ada sebelumnya dengan persetujuaan dalam keadaan mendesak. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan antivirus pada pasien COVID-19 di ruang rawat inap non-ICU di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional yang menggunakan subjek pasien rawat inap non-ICU COVID-19 berusia >18 tahun berdasarkan catatan pusat data elektronik dan rekam medis yang lengkap pada periode 2020 - 2021. Pada penelitian ini didapatkan 146 subyek dengan antivirus yang digunakan antara lain lopinavir/ritonavir (32,7%), favipiravir (30,8%), remdesivir (19,9%) dan oseltamivir (16,7%). Berdasarkan rentang usia pasien non-ICU COVID-19 paling banyak pada usia 46-65 tahun (47,4%) dengan penggunakan antivirus favipiravir (32,4%) dan lopinavir/ritonavir (32,4%). Berdasarkan jenis kelamin, penggunaan antivirus terbanyak pada lopinavir/ritonavir (36,5%) pada laki-laki serta favipiravir (35,2%) pada perempuan. Berdasarkan komorbid yang paling banyak dimiliki penderita COVID-19 di ruang non-ICU adalah hipertensi (38,64%), dengan penggunaan antivirus remdesivir (26,47%). Berdasarkan durasi rawat inap tersingkat dengan luaran klinis sembuh, penggunaan antivirus terbanyak adalah favipiravir (28,08%) dengan rata-rata 13 hari rawat inap. 
LITERATURE REVIEW: POLA KEPEKAAN Salmonella typhi TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK Novatalia Batosamma; Noor Muthmainah; Rahmiati Rahmiati; Dewi Indah Noviana Pratiwi; Lisda Hayatie
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10023

Abstract

Demam tifoid merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia terutama di negara berkembang. Angka kesakitan demam tifoid tertinggi terdapat pada golongan anak terutama anak usia sekolah. Pasien sering kali mengobati diri sendiri dengan antibiotik, antibiotik pilihan utama untuk demam tifoid di Indonesia adalah kloramfenikol tetapi pada beberapa tempat dilaporkan resistensi terhadap golongan kloramfenikol. Penulisan yang dilakukan dengan menganalisis literatur terkait yang didapatkan berdasarkan dari hasil pencarian pada database jurnal kedokteran, yaitu PubMed – MEDLINE dan Google Scholar. Artikel yang disertakan dengan menggunakan Bahasa Inggris dan dipublikasikan pada tahun 2012- 2019. Sebanyak 8 artikel disertakan berdasarkan pada literature review ini. Artikel yang dimuat dalam literature review ini menunjukkan adanya isolatt resisten pada Uji kepekaan antibiotik Salmonella thypi pada terapi utama yang diberikan. Pada beberapa kasus mengalami resisten terhadap ceftriaxone, cefuroxime, amoxicillin, ampicillin, ciprofloxacin, augmentin,fluoroquinolones, azitromisin, dan nalidixic asam. Beberapa obat yang disebutkan sensitif terhadap S. Typhi ada Cefixime, ceftriaxone, kloramfenikol, ofloksasin, sefepim, kuinolon, dan sefalosporin generasi ketiga. 
PENGETAHUAN TENTANG PROGRAM PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA MAHASISWA KEDOKTERAN PROGRAM SARJANA DI FK ULM BANJARMASIN Rifkie Irianto Kusuma; Noor Muthmainah; Rahmiati Rahmiati; Agung Biworo; Hendra Wana Nur'amin
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10004

Abstract

Resistensi antibiotik adalah kemampuan suatu bakteri dalam memperlambat kerja dari antibiotik. Hal ini merupakan masalah yang krusial, oleh karena itu Kementerian Kesehatan menetapkan kebijakan Program Pengendalian Resistensi Antibiotik di rumah sakit. Dibuatnya kebijakan tersebut bertujuan untuk menciptakan kesadaran, pemahaman dan komitmen bersama tentang adanya masalah resistensi antibiotik yang ditindaklanjuti dengan gerakan terpadu nasional antara rumah sakit, profesi kesehatan, masyarakat, perusahaan farmasi, dan pemerintah daerah di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang program pengendalian resistensi antibiotik pada mahasiswa PSKPS di FK ULM Banjarmasin. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian observasional survei menggunakan kuesioner. Pengetahuan tentang program pengendalian resistensi antibiotik pada mahasiswa PSKPS di FK ULM Banjarmasin dikategorikan tingkat pengetahuan baik. Hasil penelitian ini didapatkan rerata 75,5% mahasiswa memiliki pengetahuan sangat baik, 19% mahasiswa memiliki pengetahuan baik, dan 5,5% mahasiswa memiliki pengetahuan cukup. 
DAMPAK LOGAM BERAT KOBALT DAN MERKURI TERHADAP PROTEIN PADA KEJADIAN DIABETES MELITUS: KAJIAN IN SILICO Nabila Rahman; Eko Suhartono; Fujiati Fujiati; Mashuri Mashuri; Bambang Setiawan
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9995

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kompleks dengan keadaan dimana kadar glukosa plasma di atas normal. Penyakit ini dimanifestasikan pada jalur seluler yang berbeda-beda yaitu sekresi insulin, resistensi insulin, dan penyerapan karbohidrat. Kobalt dan merkuri merupakan logam yang berpotensi memiliki peran dalam kejadian diabetes melitus. Disebutkan bahwa logam berat meningkatkan gangguan dari pembentukan sel di pulau-pulau. Langerhans yang pada akhirnya terjadi resistensi insulin. Namun, untuk mekanismenya masih belum diketahui. Terdapat beberapa molekul protein yang keberadaannya berpengaruh besar pada kejadian diabetes melitus antara lain adenosine monophosphate protein kinase (AMPK), glutamine fructose-6-phosphate amidotransferase (GFAT), protein tyrosine phosphatases (PTP) dan tyrosine kinase insulin receptor. Afinitas pengikatan ion logam berat dengan AMPK terjadi pada sisi alosterik Cystein B sintase (CBS) menjadi domain tempat terikatnya residu asam amino hasil interaksi. Enzim GFAT dengan ion logam berat terjadi pada binding site dari GFAT terletak pada domain N-terminal. Interaksi antara PTP dengan ion logam pada active site yang terletak di dekat domain N-terminal yang berikatan yang menunjukkan sistein sebagai anion thiolate dan akan terinaktivasi apabila mengalami oksidasi. Tyrosine kinase insulin receptor dengan ion logam berat terjadi pada active site yang terletak di dekat domain C-terminal yang berikatan yang menunjukkan tyrosine yang bergerak menuju lingkaran aktivasi IRK. 
HUBUNGAN USIA DAN JENIS KELAMIN DENGAN KEJANG DEMAM SIMPLEK DAN KOMPLEK Barra Gusma Fadillah; Nurul Hidayah; Huldani Huldani
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9978

Abstract

Kejang demam merupakan penyakit bangkitan kejang yang terjadi pada anak dengan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38°C. Kejang demam diklasifikasikan  menjadi 2 jenis kejang, kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks, yang diduga berhubungan dengan usia dan jenis kelamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kompleks pada anak di RSUD Ulin Banjarmasin. Pada anak dengan umur 1-2 tahun sering mengalami kejang demam, yang dimana berkaitan dengan tingkat kematangan otak anak. Pada anak laki-laki sering mengalami kejang demam, dibandingkan anak perempuan hal ini berkaitan dengan proses neurogenesis.  Penelitian dilakukan dengan Cross Sectional Study dengan jumlah 60 sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yang diambil dari rekam medik di RSUD Ulin Banjarmasin. Analisis data menggunakan chi-square (R2). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien berusia < 2 tahun (56.7%), jenis kelamin laki-laki (65%), Hasil analisis data adalah tidak terdapat kebermaknaan secara stastik (p=0,297) antara usia dengan kejang demam simpleks dan kompleks dan tidak terdapat kebermaknaan (p=0.787) antara jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks
HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEJADIAN STROKE PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD ULIN BANJARMASIN Widi Aurelia Mirmaningtyas; Nanang Miftah Fajari; Mohammad Bakhriansyah; Wiwit Agung Sri Nur Cahyawati; Dona Marisa
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10016

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan beberapa komplikasi salah satunya berupa stroke. Indeks massa tubuh (IMT) diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke pada pasien DM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kejadian stroke pada pasien DM. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 52 data pasien stroke yang dipilih menggunakan metode total sampling dan 52 data pasien tidak stroke yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Data pasien diperoleh dari pangkalan data Borneo Wetland Study on Diabetes 2 (BEST-DIAB 2) milik Poliklinik Endokrin RSUD Ulin Banjarmasin. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan perangkat lunak SPSS versi 26. Hasil analisis menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara IMT dengan kejadian stroke pada pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin (p=0,377).
PERBEDAAN AKTIVITAS SGOT DAN SGPT PADA DERAJAT CEDERA FRAKTUR TERBUKA PASIEN DI RSUD ULIN BANJARMASIN Noventri Andika; Husna Dharma Putera; F.X Hendriyono
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10000

Abstract

Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan kontak jaringan dan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri yang dapat menimbulkan infeksi. Fraktur terbuka diklasifikasi berdasarkan derajat trauma jaringan di sekitarnya menggunakan klasifikasi Gustillo-Anderson. Semakin tinggi derajat trauma, memungkinkan terjadinya gangguan keseimbangan homeostasis yang memicu penurunan fungsional organ (MODS) terkhususnya hati, terlihat melalui SGOT dan SGPT. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah terdapat perbedaan aktivitas SGOT dan SGPT pada derajat fraktur terbuka pasien di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2019 - Juni 2022. Penelitian bersifat retrospektif analitik dengan metode cross-sectional. Dengan teknik total sampling, didapatkan 38 sampel yang sesuai kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji Kruskall-Wallis. Hasil penelitian didapatkan aktivitas SGOT pada tipe I sebanyak 26 U/L, tipe II dengan rerata 26±3,03 U/L, dan tipe III dengan median 36 U/L, nilai terendah 13 U/L nilai tertinggi 182 U/L. Aktivitas SGPT didapatkan pada tipe I sebanyak 28 U/L, tipe II dengan median 15,5 U/L, nilai terendah 13 U/L nilai tertinggi 36 U/L, dan tipe III dengan median 23 U/L, nilai terendah 10 U/L, nilai tertinggi 150 U/L. Tidak terdapat perbedaan bermakna (p = 0,129) aktivitas SGOT dan SGPT pada derajat cedera fraktur terbuka pasien di RSUD Ulin Banjarmasin periode januari 2019 – juni 2022.
HUBUNGAN OBESITAS DAN KONSTIPASI DENGAN DERAJAT KEPARAHAN HEMOROID INTERNA Khairini Putri; Ika Kustiyah Oktaviyanti; Lena Rosida; Agung Ary Wibowo; Maria Ulfah
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9984

Abstract

Hemoroid merupakan bantalan jaringan submukosa di saluran anus yang mengalami pembesaran dan penonjolan. Hemoroid interna diklasifikasikan oleh Goligher dalam derajat I hingga derajat IV. Hemoroid dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, seperti obesitas dan konstipasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan obesitas dan konstipasi dengan derajat keparahan hemoroid interna tinjauan kasus di RSUD Ulin Banjarmasin dan RSUD Dr. H. M. Ansari Saleh periode Agustus-Oktober 2022. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan didapatkan 36 sampel yang memenuhi kriteria inklusi kemudian dianalisis menggunakan uji regresi logistik ordinal. Berdasarkan hasil penelitian, 75% pasien hemoroid interna mengalami obesitas, 52,78% pasien memiliki riwayat konstipasi, dan derajat hemoroid interna terbanyak yaitu 38,89% derajat II. Nilai p variabel obesitas sebesar 0,03 dan variabel konstipasi sebesar 0,01 (< 0,05). Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dan konstipasi dengan derajat keparahan hemoroid interna.
HUBUNGAN FREKUENSI DAN JUMLAH PENGGUNAAN COTTON BUD PADA TOILET TELINGA TERHADAP KELUHAN TELINGA BERDENGING BERDASARKAN NILAI Alfyonika Oktaviani Br Bukit; Nur Qamariah; Noor Muthmainah; Achmad Rofi’i; Siti Kaidah
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9974

Abstract

Menjaga kebersihan telinga sangat penting dilakukan. Cotton bud adalah alat yang paling sering digunakan. Penggunaan cotton bud dapat menyebabkan trauma di liang telinga sehingga mudah menimbulkan tanda radang yang menyebabkan keluhan telinga berdenging. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan frekuensi dan jumlah penggunaan cotton bud pada toilet telinga terhadap keluhan telinga berdenging berdasarkan nilai VAS. Penelitian dilakukan dengan observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Hasilnya didapatkan frekuensi penggunaan cotton bud yang paling banyak adalah sering sebanyak 69,2%. Jumlah penggunaan cotton bud yang paling banyak adalah jumlah sedikit sebanyak 76,9%. Intensitas keluhan telinga berdenging yang paling banyak adalah ringan. Analisis data dilakukan dengan uji Chi Square Fisher Exact Test. Kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna, baik pada variabel frekuensi penggunaan cotton bud dengan keluhan telinga berdenging berdasarkan nilai VAS (p value=1,00), maupun pada analisis hubungan jumlah cotton bud dengan keluhan telinga berdenging berdasarkan nilai VAS (p value=1,00).