cover
Contact Name
Ahmadi Ridha
Contact Email
kalosara@iainkendari.ac.id
Phone
+6285990350982
Journal Mail Official
kalosara@iainkendari.ac.id
Editorial Address
jl. Sultan Qaimuddin, No. 17 Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kalosara: Family Law Review
ISSN : 28073177     EISSN : 28072162     DOI : http://dx.doi.org/10.31332/.v2i1.4223
1. Marriage Law 2. Inheritance 3. Testament (washiah) 4. Divorce 5. Property in marriage 6. Childcare, 7. Women and children rights 8. The rights and obligations of the family 9. Endowments (waqf) 10. Marriage and Gender 11. Customary law (adat) family practice
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 70 Documents
Social Control and Legal Reform: A Study of Minimum Marriage Age From the Perspective of Islamic Law and Plural Legal Systems khaliq, Munawwir; Muhasim, Ahmad; Sado, Arino Bemi; Azman Ab Rahman
KALOSARA: Family Law Review Vol. 5 No. 2 (2025): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v5i2.11649

Abstract

Although numerous studies have examined the practice of child marriage in Indonesia, few have analyzed this phenomenon from the perspective of legal pluralism, which encompasses state law, customary law, and religious law. This study aims to analyze child marriage within the context of legal pluralism in Indonesia, focusing on the coexistence of state, customary, and religious norms regulating marriage and their influence on child protection policies. The study employs a qualitative approach with a literature review design and thematic analysis to achieve this objective, integrating the theories of maslahah mursalah, social control, and legal pluralism. Through this analysis, the study explores how legal regulations governing the minimum age of marriage often conflict with prevailing social and religious norms, and how practices such as unregistered marriage (nikah sirri) and marriage dispensations continue despite formal regulations. The findings suggest that, although legal frameworks exist, their implementation is still constrained by strong social and cultural norms. Therefore, a holistic policy approach is required, involving social education and community empowerment to reshape perceptions of child marriage and strengthen law enforcement. This study contributes to the understanding of legal pluralism in child marriage and provides recommendations for more effective and contextually appropriate child protection policies. Keywords: Islamic Law, Minimum Marriage Age, Plural Legal System
Navigating Divorce in the Global South: Comparative Insights into Legal Procedures and Gender Implications in Muslim-Majority Countries Wadi, Lalu Tambeh; Muhasim, Ahmad; Sado, Arino Bemi; Muhammad Haydar Al Kautsar
KALOSARA: Family Law Review Vol. 5 No. 2 (2025): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v5i2.11721

Abstract

Although research on divorce has been extensively documented, studies focusing on the Global South remain limited. To address this research gap, this study aims to analyze a comparative overview of divorce regulations in Indonesia, Malaysia, Pakistan, Egypt, Morocco, Tunisia, and Turkey, highlighting implementation procedures and their impacts. This study employs a content analysis design of the divorce regulations applicable in the seven countries. The method used is normative research with a comparative approach. The study is grounded in Islamic family law theory as the analytical framework. The findings indicate that in Indonesia and Malaysia, divorce is processed through religious courts, with child custody and alimony rights ensured, although property division remains conservative. Pakistan permits unilateral talaq, but legal procedures for women are complex to access, and social stigma is high. Egypt, Morocco, and Tunisia grant broader rights to women, with fair property division and protection of child custody rights. Turkey combines Islamic and secular law with equitable procedures. Similarities lie in child custody and alimony rights, while differences exist in women’s access, property division, and socio-cultural impacts. Challenges include unequal rights, social stigma, and complex legal procedures. Opportunities for legal reform involve expanding women’s rights and fair property distribution. The study’s implications emphasize the need for reforms in Islamic family law to enhance gender equality and protect women’s rights. Keywords: Divorce, Comparative Law, Global South
Mombolasuako Perspektif Istihsan Studi di Kecamatan Loea Kabupaten Kolaka Timur Elen, Elen
KALOSARA: Family Law Review Vol. 4 No. 2 (2024): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v4i2.5225

Abstract

Girls are required to introduce and ask their parents' permission before choosing a life partner, but if they do not get permission from their family, then the child will elope. This research is a field study that uses descriptive qualitatif and the data collestion technige uses theree methods namely Observation, interviews and documentation. Based on the research findings, there are several variables that cause couples to elope (mombolasuko) in Loea District, East Kolaka Regency, including: (1) the girl's parents do not approve; and (2) a large dowry. The situation of couples who elope is still considered one of a stable household, and the procedure for ending elopement (mombolasuako) is divided into three stages: 1) the stage of delivering the news (molamba obiri or mowoka obiri); 2) the stage of membentenggi (mesokei); and 3) the stage of handing over the main custom (mowindahako). In this Istihsan perspective, remarriage is the process of ending elopement. They look for a good one by going through the customary stages, and even then they must get approval from the woman's parents, the tolea or customary leader, and the man.
Mowea dan Resolusi Konflik dalam Perizinan Masyarakat Tolaki Ukryansah, Ukryansah
KALOSARA: Family Law Review Vol. 4 No. 1 (2024): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v4i1.6894

Abstract

Penelitian ini mengangkat persoalan pelaksanaan mowea sebagai resolusi konflik akibat perzinaan dalam masyarakat suku tolaki di kec. abuki kab. konawe yang bertujuan untuk mengetahui Bagaimana proses pelaksanaan hukum mowea adat Tolaki dalam perkara perzinaan di Kecamatan Abuki Kabupaten Konawe dan bagaimana tinjauan Maslahah terhadap hukum Mowea adat Tolaki dalam perkara perzinaan di Kecamatan Abuki Kabupaten Konawe. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan jenis penelitian hukum normatif emperis. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan bahwa: A. Proses pelaksanaan hukum mowea adat tolaki dalam perkara perzinaan adalah: a) Tahap pertama mombesara, (1) Tokoh adat (puutobu), tolea, pabitara dan pemerintah membuat berita acara, (2) Tolea yang mewakili keluarga laki-laki pihak pertama melakukan adat mombesara atau peletakan adat, (3) Tolea pada saat mombesara menggucapkan kalimat dan mantra adat yang pada kalimatnya berisi tentang permohonan maaf, (4) . b) membayar tunai denda adat, (1) Pondondo woroko yakni 1 ekor kerbau atau sapi, (2) Posehe wonua, 1 ekor kerbau, (3) Petongo, 1 pis kaci, (4) Pebubusi, 1 buah cerek tembaga, (5) 1 buah parang Taawu, (6) Pombuleako onggoso, mengembalikan seluru biaya; B. Tinjauan maslahah terhadap hukum mowea adat tolaki dalam perkara perzinaan; tujuan di laksanakan mowea adalah untuk menghindari terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh suami yang tidak terima istrinya di rampas oleh laki-laki lain. Jika di lihat dari maksud dan tujuan terjadinya pelaksanaan mowea maka mowea tersebut sejalan dengan maslahah yaitu sesuatu yang dipandang baik oleh akal sehat karena mendatangkan kebaikan dan menghindarkan keburukan (kerusakan) bagi manusia, sejalan dengan tujuan syara' dalam menetapkan hukum.
Pro Kontra Penetapan Waktu Imsak Pada Jadwal Imsakiyah Ramadan Dalam Pendekatan Fikih dan Falak Asyari, Ahmad Muhajir; Rofiuddin, Ahmad Adib; Muttaqien, Ade Imam
KALOSARA: Family Law Review Vol. 3 No. 2 (2023): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v3i1.7062

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian qualitative melalui pendekatan hukum normatif yang bertujuan untuk menganalisis terkait pro kontra penetapan waktu imsak pada jadwal imsakiyah Ramadan melalui pendekatan Fiqih dan Ilmu Falak, pengumpulan data yang digunakan melalui studi kepustakaan serta prosedur analisis data dilakukan melalui pemeriksaan, klasifikasi, verifikasi, analisis, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Permasalahan pada jadwal imsakiyah muncul ketika terdapat bermacam-macam penetapan didalamnya, seperti waktu dhuha, waktu tengah malam (nisfu al-lail) dan waktu Imsak. Penetapan imsak pada jadwal imsakiyah ramadan memiliki pendekatan sosio-historis yang berkembang di masyarakat Islam di mesir mulai era pemerintahan Muhammad Ali Pasha pada tahun 1262 H/1846 M dan diteruskan hingga sekarang di Indonesia. Waktu Imsak merupakan waktu ihtiyath untuk memulai puasa ramadan yaitu sekitar 10 menit sebelum fajar shadiq yang bertepatan dengan waktu subuh, namun penetapan waktu imsak memiliki perbedaan pendapat, karena waktu imsak adalah ijtihad Ulama untuk membuat kehati-hatian dalam beribadah, namun disisi lain ketentuan dimulainya ibadah puasa adalah Ketika terbtinya fajar shadiq, sehingga dalam penetapannya waktu imsak bukan sebagai penanda awal waktu puasa, namun sebagai peringatan dan kehati-hatian akan masuknya waktu dimulainya puasa
Pengaruh Timbal Balik Hukum Kewarisan Adat dan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia Widodo, Panggih
KALOSARA: Family Law Review Vol. 3 No. 2 (2023): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v3i2.7102

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis adanya pengaruh timbal balik antara hukum kewarisan adat dan hukum kewarisan Islam di Indonesia. Permasalahan yang penulis angkat dalam tulisan ini meliputi eksistensi hukum Islam dan adat berkenaan dengan kewarisan di tengah-tengah masyarakat muslim dan pengaruh hukum kewarsan adat terhadap hukum kewarisan Islam begitu pula sebaliknya. Tulisan ini merupakan penelitian pustaka dengan menggunakan data primer dan sekunder yang diolah dengan teknik analisis isi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pertama, pelaksanaan pembagian kewarisan di Indonesia pada masyarakat muslim terjadi kombinasi antara hukum kewarisan adat dan hukum kewarisan Islam. Kedua, pengaruh hukum kewarisn adat terhadap hukum kewarisan Islam dapat dilihat dengan adanya simtem musyawarah dalam pembagian warisan, wasiat wajibah, fitnah sebagai salah satu penghalang seseorang mendapatkan warisan dalam Kompilasi Hukum Islam, ahli waris pengganti. Ketiga, pengaruh hukum kewarisan Islam terhadap hukum kewarisan adat di Indonesia dapat dilihat dengan adanya penerapan hukum kewarisan Islam yang kadang kala dapat menggeser penerapan hukum kewarisan adat dan pelaksanaan pembagian warisan dengan sentuhan warna baru dari hukum kewarisan Islam terhadap hukum kewarisan adat. Penulis berharap tulisan ini dapat memberikan kontribusi untuk menambah kazanah keilmuan Islam dan dapat memberikan pemahaman bagi umat Islam terhadap adanya hukum kewarisan  adat dan Islam yang saling mempengaruhi dalam pelaksanaanya di tengah-tengah umat Islam.
Penentuan Mahar Berdasarkan Stratifikasi Sosial Oleh Masyarakat Muslim Wakatobi Perspektif Maslahah Mursalah Asmirawati, Asmirawati
KALOSARA: Family Law Review Vol. 3 No. 2 (2023): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v3i2.7258

Abstract

The research aims to analyze the determination of dowry based on social stratification and to analyze the legal position of determining dowry based on social stratification by the Muslim community, Sowa sub-district, Togo Binongko sub-district, Wakatobi district from the Maslahah Murlah perspective. The research uses descriptive qualitative research using a legal research typology with a casetic approach and Islamic law. qualitative research method with qualitative descriptive research type. Data collection in this research was through observation, interviews and documentation. The data analysis includes data display, data reduction and data verification. The results of this research show that the determination of the dowry in marriages in the community of Sowa sub-district, Togo Binongko sub-district, the nominal size of the dowry is based on the social stratification of women in society, in this case the woman's clan. In the Sowa Village Community, Togo Binongko District, there are three clans, namely the Siolimbona clan, the Ode clan and the Maradika clan. The dowry is determined during the patantu'a (determination) procession. In the patantu'a (Determination) procession, the male family comes to the residence of the woman to be married to discuss several matters related to the marriage, one of which is the dowry. The dowry is determined based on the woman's clan. The woman's surname is determined through genealogical tracing by traditional leaders based on information provided by the woman's family, in this case the woman's father. In the maslahah murrasa perspective, the customary rules that apply in the Sowa sub-district bring benefits, namely avoiding conflict in the form of arguments between the two sides of the family which arise as a result of a clan feeling that it is not respected or appreciated. The legal position of determining the dowry based on social initiation in Sowa Village, Togo Binongko District, Wakatobi Regency is as a method or method for establishing a legal basis that does not conflict with sharia, does not cause harm, and does not eliminate benefits.
Kajian Maslahat Terhadap Penanganan Rapid Tes Pada Pembangkangan Masyarakat Urban L. Diab, Ashadi
KALOSARA: Family Law Review Vol. 3 No. 2 (2023): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v3i1.7729

Abstract

Melalui sosial media masyarakat menggalang kekuatan untuk menolak rapid test yang selain berimplikasi luas pada melemahnya usaha penanggulangan virus corona juga memperburuk citra institusi kesehatan dan kemampuan para medis di dalam mengatasi penularan dan penyembuhan pasien terinfeksi corona. Studi ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dengan teknik cuplikan (sampling). Objek kajian dalam studi ini yang dikemas dengan literature review.Peneltian ini menunjukkan bahwa, Pertama Gerakan Social Media Menolak Rapid Tes dianggap ampuh dan sangat efektif untuk menyebarkan berita dan mendapatkan informasi dari berbagai tempat dan waktu, terkait dengan hal tersebut masyarakat saling memprovokasi, mengirim pesan berantai, masifkan berita Hoaks. Kedua, Faktor Penolakan atas Rapid Tes dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan yang berisiko, Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari ditengah covid 19 masayarakat kota kendari menunjukkan beberapa model penolakan terhadap covid ini yakni; paham keagamaan, tradisi saling berkunjung kepada sanad keluarga, persoalan ekonomi. Ketiga, Pembangkangan tidak bersentuhan/mendekati Rumah sakit dokter dalam masa covid, Sejatinya setiap orang yang mengalami gangguan kesehatan maka yang paling pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah menghubungi tenaga kesehatan tetapi hal yang berbeda yang ditunjukkan oleh beberapa kalangan masyarakat dikota kendari ketika mengalami sakit justru tidak ingin berurusan dengan tenaga medis dikerenakan ada traumatik terhadap pemberitaan oleh dampak korona. Maslahah Mursalah merupakan bagian dari syariat yang tidak boleh dikesampingkan. Meskipun ia tidak disebutkan dalam nash secara tekstual, tapi secara substansial ia dibutuhkan manusia. 
Penyelesaian Lumanga Merepisi Pada Adat Suku Moronene Safitri, Fatimah
KALOSARA: Family Law Review Vol. 3 No. 2 (2023): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v3i2.7843

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyelesaian lumanga merepisi pada adat suku moronene. Penelitian menggunakan yuridis-empiris dengan pendekatan kasuistik dan metode kualitatif. Lumanga Merepisi adalah perkawinan yang dilakukan tidak sesuai prosedur adat karena telah terjadi pelanggaran adat (hamil duluan, kedapatan melakukan hubungan seksual di luar nikah dll) prosesi adat dimulai dengan mekuai (proses pengakuan dari pihak laki-laki yang diwakilkan kepada seorang orang tua biasanya yang selalu menjadi tolea dalam kampung tersebut), lalu pembahasan pembayaran sanksi adat yang ditentukan oleh keluarga pihak perempuan. Lumanga Merepisi tidak lagi melewati proses modio ninyapi (lamaran), mompetukanai (menanyakan kesediaan pihak perempuan untuk dinikahi) karena dalam aturan adat telah terjadi pelanggaran dua prosesi adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lumanga merepisi ini diartikan untuk memperbaiki, dalam hal ini memperbaiki keadaan dan memudahkan agar perempuan yang sudah hamil akan dinikahkan secara baik-baik, walaupun orang yang menikah dengan adat ini dikarenakan terjadinya kesalahan,  jika tidak hamil dan salah satu tidak ingin menikah maka akan dinikahkan lalu diceraikan, tetapi kebanyakan masyarakat memilih untuk menikah karena merasa rugi jika tidak dilanjutkan dengan pernikahan. Dalam proses terjadinya lumanga merepisi tidak terjadi kawin lalu diceraikan itu hanya sebagai bahasa adat, didalam adat seorang perempuan yang telah melakukan lumanga merepisi dianggap telah menjadi janda dikarenakan kesalahan yang dilakukan itulah akibat jika melanggar adat, sehingga mereka yang telah melakukan adat lumanga merepisi ini tidak bisa kembali bersama lagi jika mereka memilih untuk tidak dinikahkan.
Implementasi Pemanggilan Tergugat Melalui Surat Tercatat Perspektif Maslahah di Pengadilan Agama Kendari Kelas 1 A Kamaruddin, Alfiyah Ulfa
KALOSARA: Family Law Review Vol. 4 No. 2 (2024): Kalosara: Family Law Review
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/kalosara.v4i2.8774

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam implementasi pemanggilan tergugat melalui surat tercatat di Pengadilan Agama Kendari Kelas 1 A, Untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pengimplementasian pemanggilan tergugat melalui surat tercatat di Pengadilan Agama Kendari Kelas 1 A dan perspektif maslahah terhadap implementasi pemanggilan tergugat melalui surat tercatat dalam mewujudkan asas sederhana, cepat dan biaya ringan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi pada Ketua, Hakim, Panitera dan Juru Sita Pengadilan Agama Kendari Kelas 1 A. Data lalu dianalisis berdasarkan perspektif maslahah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Juru Sita akan mencetak dan menandatangani reelas kemudian Pos akan mengambil surat pemanggilan tersebut di Pengadilan Agama Kendari, serta pos akan membawa resi agar bisa langsung dibawa ke alamat rumah tergugat sebagaimana hasil MoU Pos dan Pengadilan Agama Kendari Pos. Kendala pemanggilan surat tercatat, antara lain: pengantaran pemanggilan dengan kurir yang berbeda-beda dan ketidaksesuaian aturan pengiriman Possameday. Menurut perspektif maslahah terhadap pemanggilan surat tercatat dalam mewujudkan asas sederhana, cepat dan biaya ringan, pemanggilan surat tercatat masuk dalam kategori maslahah mursalah sebagaimana surat tercatat memperhatikan asas maslahat/manfaatnya dalam menyelesaikan perkara, baik dari segi pelaksanaanya serta biaya pemanggilan yang lebih murah daripada pemanggilan manual di Pengadilan Agama Kendari. Adapun tingkat kebutuhan dan skala prioritasnya adalah kebutuhan sekunder (maslahah hajjiyat).