cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
ISOLEK MELAYU JAMBI SEBERANG DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BATANGHARI JAMBI Diana Rozelin
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3087.337 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.62

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian dialektologi yang mengkaji perkembhngan isolek 5 desa di DAS Batanghari. Daerah pengamatan ini dipilih karena berada dipinggir sungai yang dekat dengan kota Jambi sehingga memperlihatkan perubahan relik daninovasi yang cukup kuat. Jarak tempuh yang sangat dekat ini, secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir, budaya, dan bahasa asli masyarakat Melayu Seberang. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan kosakata yang berbeda, menentukan status isolek setiap titik pengamatan, dan mendeskripsikan relik dan inovasinya. Teori dialektologi yang digunakan merujuk ke Mahsun (1995); Nadra dan Reniwati (2009). Teori fonologi menggunakan teori dari Robins (1975); teori dialektometri menggunakan teori Guiter; penetapan Proto Malayic mengikuti Adelaar (1992). Jenis penelitian yang diterapkan ada du4 yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif dengan teknik top-down reconstruction. Hasil dari penelitian ini ialah pertama, ada 53 data yang tidak sama secara antardesa (26.5%); kedua, status isoleknya berupa beda dialek dan subdialek; ketiga, relik meneakupi vokal /a/, /i/, /u/, /?/, sedangkan bentuk inovasi bervariatif. This was a dialectology research which analyzed about the development of isolect 5 villages at DAS Batanghari. These places chosen because the position of villages near Jambi city, it would show strong changes of relic and innovation. The distance between Jambi city and Jambi Seberang not so far, so it would be influenced the way of thinking, culture, and the language of Jambi Seberang people. The purpose of this research was to describe difference words; identifying isolect status of every area; describing relic and innovation. The main theory which was used in this research that related to dialectology was Mahsun (1995);Nadra snd Reniwati (2009). Phonology used theory from Robins (1975); Dialectometry formula used from Guiter; Proto Malayic Adelaar (1992). The kind of research were: qualitative and quantitative research and also used top-down reconstruction technique. The result of this research first, there were 53 data for different words (26.5%); second, isolect status of area were different dialect and subdialect; third, relic of vocal were: /a/, /i/, /r/, /?/, and mendley innovation.
Daftar isi dan catatan redaksi Widyaparwa Widyaparwa
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.662 KB)

Abstract

PERIAN MAKNA LEKSEM 'MENGOBATI SECARA HERBAL DENGAN BAHAN YANG TERSEBUT PADA BENTUK DASARNYA' DALAM BAHASA JAWA Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2626.53 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.97

Abstract

Di dalam makalah ini dideskripsikan hasil penelitian perian makna yang berkonsep mengobati secara herbal dengan bahan yang tersebut pada kata dasar. Leksem yang dianalisis berjumlah sembilan buah. Berdasarkan komponen makna yang dimiliki bersama, leksem nnnfunni'mengobati' berstatus sebagai superordinat. Leksem bawahannya dapat dikelompokkan menjadi tiga submedan. Berdasarkan komponen yang dimiliki bersama, pada kelompok I terdiri atas tiga leksem: mborehi, maremi, danboboki; pada kelompok II terdiri atas dua leksem: njamoni dan nyekoki; pada kelompok III terdiri atas tiga leksem: milisi, napeli, mupuki. This paper describes research result of herbal healing concept with herbal as basic material. There are nine lexemes to be analyzed. Based on shared meaning component, nambani 'to heal' lexeme has a status as superordinate. Its ordinate lexeme can be classified into three subfields. Based on shared component, group I consists of three lexemes: mborehi, maremi, and mboboki; group II consists of two lexemes: njamoni nnd nyekoki; group III consists of three lexemes: milisi, napeli, mupuki.
UNSUR BUDAYA DAN NILAI MORAL DALAM CERITA RAKYAT KOMERING SEHARUK: SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Iing Sunarti; Dedi Febriyanto; Mulyanto Widodo
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.392 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.898

Abstract

This study aims to explore and describe the cultural elements and moral values contained in the Komering Seharuk folklore. This study used a qualitative descriptive method with a sociological literature approach. The research data source is in the form of Komering Seharuk folklore written by Usman Nurdin. Through these data sources, research data is obtained in the form of sentence quotations collected through the reading-note technique. The analysis of the research data was carried out using content analysis techniques. The results showed that the Komering Seharuk folklore contains elements of Komering culture and quite diverse moral values. The Komering cultural elements in question include; (1) the use of the Komering language, (2) the adoption of the Komering Umbai Akas folk song, (3) the background of the Komering river as one of the cultural sources of the Komering people, and (4) Tala Balak which is used as a means of destroying the tyranny of the authorities. The moral values in question include; (1) obedience, (2) wisdom, (3) willingness to take responsibility, (4) hard work, (5) religiosity, (6)optimism, (7)  social care, and (8) peace-loving. The cultural elements and moral values contained in the folklore of Komering Seharuk can be used as a motivational guide for social life.Penelitian ini bertujuan menggali dan mendeskripsikan unsur budaya dan nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat Komering Seharuk. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data penelitian berupa cerita rakyat Komering Seharuk yang ditulis oleh Usman Nurdin. Melalui sumber data tersebut diperoleh data penelitian berwujud kutipan kalimat yang dikumpulkan melalui teknik baca-catat. Adapun analisis terhadap data penelitian dilakukan menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Komering Seharuk mengandung unsur budaya Komering dan nilai moral yang cukup beragam. Unsur budaya Komering yang dimaksud meliputi; (1) penggunaan bahasa Komering, (2) pengangkatan lagu daerah Komering Umbai Akas, (3) latar Sungai Komering sebagai salah satu sumber kebudayaan masyarakat Komering, dan (4) Tala Balak yang digunakan sebagai sarana penghancur kelaliman penguasa. Adapun nilai-nilai moral yang dimaksud meliputi; (1) kepatuhan, (2) kebijaksanaan, (3) kesediaan bertanggung jawab, (4) bekerja keras, (5) religiusitas, (6) optimisme,  (7) peduli sosial, dan (8) cinta damai. Unsur budaya dan nilai moral yang terkandung di dalam cerita rakyat Komering Seharuk dapat dijadikan salah satu pedoman dan motivasi dalam kehidupan bermasyarakat.
MEMBACA JATISABA: MENELISIK MEMORI, TRAUMA, DAN JALAN PULANG Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.093 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.629

Abstract

This study aims to describe the construction of memory and trauma in Ramayda Akmal’s Jatisaba using memory and trauma perspectives. This research went through four stages. Those are determining the material (source of data) and the formal object of the research, collecting data, analyzing data, and conclusions. Ramayda Akmal’s Jatisaba is the source of data. Meanwhile, memory and trauma are determined as the formal object of research. In collecting data, an intensive reading process is the next step for understanding the elements of the story. Then classifying words, phrases, sentences, and paragraphs based on the concepts of a traumatic event, loss, and melancholy. All the data were analyzed through memory and trauma concepts. The results of the analysis show that, first, the memory constructed in the Jatisaba is related to traumatic memories triggered by a sense of homelessness and traumatic events when Mae became a migrant worker. Second, Mae becomes a traumatic subject (melancholia). Third, Gao becomes a reconstruction of “undeniably home” for Mae’s soul. Fourth, the reconstruction of memory in Jatisaba is an effort to complement the author's longing for a homeland.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi memori dan trauma dalam Jatisaba karya Ramayda Akmal dengan menggunakan perspektif memori dan trauma. Penelitian ini melalui empat tahapan, antara lain penentuan objek material (sumber data) dan objek formal penelitian, pengumpulan data, analisis data, dan simpulan. Novel Jatisaba karya Ramayda Akmal adalah objek material (sumber data). Sedangkan memori dan trauma merupakan objek formal penelitian. Dalam pengumpulan data, proses membaca intensif merupakan langkah selanjutnya untuk memahami unsur-unsur cerita. Kemudian, pengklasifikasian kata, frasa, kalimat, dan paragraf berdasarkan konsep peristiwa traumatis (traumatic event), kehilangan, dan melankolis. Data dianalisis melalui konsep memori dan trauma. Hasil analisis menunjukkan bahwa, pertama, memori pada novel Jatisaba berkaitan dengan memori traumatis yang dipicu oleh rasa kehilangan dan peristiwa traumatis saat Mae menjadi buruh migran. Kedua, Mae merupakan subjek traumatis (melankolia). Ketiga, Gao merupakan rekonstruksi “rumah” bagi jiwa Mae. Keempat, rekonstruksi memori pada novel Jatisaba sebenarnya merupakan upaya pulang pengarang untuk melengkapi kerinduan pada kampung halaman.
APPENDIK admin widyaparwa
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.514 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.120

Abstract

NILAI-NILAI PATRIOTISME DALAM CARITA PANTUN MUNDINGLAYA DIKUSUMAH Ranu Sudarmansyah; Dedi Koswara; Nunuy Nurjanah
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.276 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.673

Abstract

As one of the original oral literary works of the archipelago, folklore story has character values and one of them is the value of patriotism. The purpose of this research is to describe the structure of the story and the values of patriotism contained in the Carita pantun Mundinglaya Dikususmah (CPMD). The method used in this research is an analitic descriptive method by (1) describing the structure of the story and (2) exploring the values of patriotism in the Mundinglaya Dikusumah pantun. After analyzing the CPMD story, the results of the research show that (1) the structure of the Mundinglaya Dikusumah folklore have a good theme, good actors (characterizations), a good plot and story setting; (2) there are values of patriotism in the Mundinglaya Dikusumah pantun, including (a) loyalty, (b) courage, (c) willingness to sacrifice, and (d) love for the nation and state. Finally, based on these findings, it can be concluded that the carita pantun Mundinglaya Dikusumah has a story structure that is very supportive of patriotism values which can be useful to become role models for the younger generation.Sebagai salah satu karya sastra lisan asli nusantara, carita pantun memiliki nilai-nilai karakter, di antaranya patriotisme. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur cerita dan nilai-nilai patriotisme yang terdapat pada carita pantun Mundinglaya Dikususmah (CPMD). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif analisis dengan cara (1) mendeskripsikan struktur cerita dan (2) menggali nilai-nilai patriotisme dalam carita pantun Mundinglaya Dikusumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) struktur carita pantun Mundinglaya Dikusumah meliputi tema, pelaku (penokohan), alur serta latar cerita yang baik; (2) terdapat nilai-nilai patriotisme dalam carita pantun Mundinglaya Dikusumah, meliputi nilai (a) kesetiaan, (b) keberanian, (c) rela berkorban, serta (d) kecintaan pada bangsa dan negara. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa carita pantun Mundinglaya Dikusumah mempunyai struktur cerita yang sangat mendukung terhadap pembentukan nilai-nilai patriotisme yang bisa berguna untuk menjadi suri teladan para generasi muda.
UPAYA PENING KATAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA JAWA SISWA KEI.AS VI SEKOLAH DASAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN STAD DALAM ROLE PLAYING Supartinah Supartinah
Widyaparwa Vol 38, No 2 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.233 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i2.16

Abstract

Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan dan penguasaan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam Krama. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan subjek seluruh siswa kelas VI SDN Keputran X Yogyakarta. Kegiatan penelitian meliputi penetapan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan interpretasi, refleksi, evaluasi dan refleksi, serta simpulan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan penilaian. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) penerapan pendekatan STAD dalam role playing untuk pembelajaran berbicara bahasa Jawa ragam Krama dapat meningkatkan prestasi berbicara siswa sesuai dengan adanya peningkatan nilai rata-rata sebesar 5 poin, yaitu dari 55 menjadi 60 dan (2) meningkatkan motivasi siswa dalam belajar berbicara bahasa Jawa sesuai dengan adanya peningkatan motivasi sebesar 33%, yaitu dari 62% menjadi 95%.The research is aimed at developing and mastery of Javanese Krama style speaking skill. The reseach is action class reseach and the subject is all of students class Vl SDN Keputran X Yogyakarta. The activity of research includes setting the problem, planning action class, conducting the action class, interpretating observation, reflecting, evaluating and reflecting, and drawing a conclusion. Data collection is carried out by observing and evaluating. Data analysis is done by descritive stasticnl analysis. Based on the research, it can be concluded that the applicaton of STAD approach in role playing for teaching speaking Javanese Krama style can increase student's speaking achievement, which rating poin advancement is 5 poin. lt can be seen from the poin of 55 becomes 60. Beside that, the reseach shows that STDA approach can improae student motivation with the improvement of 33% from 62% becomes 95%.
KAJIAN WACANA IKLAN JASA BOGA DALAM MEDIA LUAR RUANG (DISCOURSE STUDY OF FOOD SERVICE ADVERTISEMENT IN OUTDOOR MEDIA) Wening Handri Purnami
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.352 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.153

Abstract

Kajian ini membahas wacana iklan jasa boga dalam media luar ruang. Iklan merupakan sebuah sarana yang dipandang efektif dalam menyampaikan informasi. Iklan jasa boga menarik untuk dikaji karena memperlihatkan kekhasan dalam pemakaian bahasa. Kajian bertujuan mendeskripsikan slot-slot wacana jasa boga dan strategi pembentuk slot atau pengisi slot pada iklan jasa boga di media luar ruang. Kajian ini menggunakan pendekatan struktural dan bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode observasi. Peneliti mengamati secara langsung iklan-iklan media luar ruang di DIY. Observasi menerapkan teknik simak dan rekam visual. Metode dan teknik analisis yang digunakan untuk menjawab permasalahan ialah metode agih dengan teknik sisip dan balik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana iklan boga menghasilkan empat jenis slot. Slot nama dapat berbentuk (1) akronim, (2) singkatan, (2) nama diri, dan (4) nama lokasi. Slot spesifikasi dapat bersifat menyangatkan atau mengedepankan kekhasan daerah. Slot atribusi menyiratkan bentuk slogan. Slot alamat berisi keterangan alamat rumah dan nomor telepon. Aspek permainan bahasa berkenaan dengan penyimpangan ejaan, yaitu pemakaian huruf kapital dan penulisan kata.This study discusses about food service advertisement discourse on outdoor media. Advertisement is one of effective facility in delivering information. The advertisement is interesting to study for its particularity in language use. The study aims to describe discourse plots on food service and strategy to form plot or plot insert on advertisement of food service on outdoor media. This study uses structural and qualitative descriptive approach. This study uses observation mode by observing directly to outdoor advertisement media in DIY. The observation uses listening and visual recording. Method and analysis technique to answer the problem is distributional using inserting and reversing technique. The result shows that food service discourse produces four types of slots as (1) acronym, (2) abbreviation, (3) self name, and (4) location name. Specification slot emphasizes locality particularity. Atritributive slot shows slogan form. Address slot contains description of house address and telephone number. Language playing aspect is dealing with spelling split, that is alphabetical use and word writing.
PENDEKATAN SOSIOSEMANTIK-LEKSIKAL DALAM PERISTILAHAN PERKEBUNAN TEH Wiwin Erni Siti Nurlina; Lili Dahliani
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.697 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1018

Abstract

The communication of science must be clear so that the concept of science can be understood clearly and precisely. The concept of plantation science can be in the form of a term. Many of the terms in the tea plantation sector are adopted from regional languages, one of which is Sundanese. In this paper, the terminology of the tea plantation field which is often used by Sundanese people is examined. To understand the meaning of these terms, a sociosemantic- lexical approach is used. The studying of meaning on the lingual form of the term includes its meaning related to the meaning of the socio-cultural view of the Sundanese people. The meaning components contained in the term concerned are studied lexically. The method is descriptive qualitative, with the technique of sorting the meaning components and categories. The meaning component consists of a shared meaning component and a specific meaning component that can be identified through a componential analysis. By using sociosemantic-lexical approach, the meaning of the term concerned can be clearly and precisely known. Based on the category, the term plantation is categorized into (i) noun (thing), such as peko, manjing; (ii) verbs (activity) such as ngabentang, mupul, ngodok; and (iii) adjectives (state), such as nyeupan, hiaten. Based on the semantic analysis, the correct meaning of the term will be revealed.The components of social meaning that exist are togetherness and respect.Komunikasi ilmu haruslah jelas agar konsep dapat dipahami dengan pasti. Konsep ilmu perkebunan dapat berupaistilah. Peristilahan pada bidang perkebunan banyak yang diangkat dari bahasa daerah, salah satunya Bahasa Sunda. Pada tulisan ini dikaji peristilahan bidang perkebunan teh yang sering digunakan oleh masyarakat yang berasal dari bahasa Sunda. Untuk memahami makna peristilahan tersebut digunakan pendekatan sosiosemantik-leksikal. Maksudnya, telaah makna pada bentuk lingual istilah dikaji maknanya dengan melibatkan makna pandangan sosial budaya dari masyarakat Sunda. Komponen makna yang terkandung pada istilah yang bersangkutan dikaji secara leksikal. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif, dengan teknik pilah komponen makna dan pilah kategori. Komponen makna tersebut terdisi atas komponen makna bersama dan komponen makna spesifik yang dapat diketahu melalui analisis komponen makna (componential analysis). Dengan pendekatan sosiosemantik-leksikal tersebut, dapat diketahui secara jelas dan tepat makna dari istilah yang bersangkutan. Berdasarkan kategorinya, istilah perkebunan teh ada yang berjenis kategori (i) nomina (benda), seperti peko, manjing; (ii) verba (aktivitas) seperti ngabentang, mupul,  ngodok; dan (iii) adjektiva (keadaan), seperti nyeupan, hiaten. Berdasarkan analisis semantiknya, istilah akan terkuak ketepatan maknanya. Komponen makna sosial yang ada yaitu kebersamaan dan rasa hormat.