cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
SASTRA PROPAGANDA: SEBUAH STUDI KASUS TEMBANG MACAPAT PADA ERA ORDE BARU DI KMD KANDHA RAHARJA Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3131.032 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.53

Abstract

Kehadiran sastra sebagai bagian dari ekspresi masyarakat dapat memanifestasikan fenomena kehidupan dalam kelembagaan karya. Sastra sebagai lembaga sosial yang memuat gambaran kehidupan realitas manusia dapat digunakan sebagai media penyebaran suatu kebudayaan. Sebagai karya bertendens, tembang macapat di KMD Kandha Raharja dipakai untuk menanamkan hegemoni. Hegemoni ditujukan untuk mempertahankan kekuasaan dan sebagai sarana pembentuk kebudayaan dan tradisi masyarakat. Tembang macapat yang dimuat di KMD Kandha Raharja berhasil menjadi media hegemoni pemerintah atas karya sastra. Dilihat dari estetika konvensi dasar penyusunan telah memenuhi syarat, tetapi tembang-tembang macapat itu tidak memperhatitan faktor-faktor filosofi/isi yang kontemplatif. Pada Zaman Orde Baru, propaganda politik lewat kesusastraan dilakukan lewat media massa/surat kabar/majalah. Media massa ditempatkan sebagai ujung tombak Orde Baru dalam rangka mewujudkan cita-citanya dalam membangun bangsa. KMD Kandha Rahardja diterbitkan masyarakat pedesaan. KMD Kandha Raharja menjadi sastra propaganda dari rezim Orde Baru. Dalam tulisan ini, dipergunakan teori hegemoni sastra untuk mengungkapkan persoalan sastra (tembang macapat) proganda. Penelitian sastra bersifat penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode kepustakaan. Literature existence as social expression part could manifest living phenomena in works institution. Literature as social institution that portrays human reality life is functionable as cultural spreading media. Tembang Macapat KMD Kandha Raharja, as tendentious works, is made use to establish hegemony to defend authority and as means to form social tradition and culture. Tembang Macapat in KMD Kandha Raharja his successfully become hegemony media over literary works. The Tembang Macapat had been appropriate to basic convention aesthetics, but it was still incoutious to contemplative philosophy factors philosophy factor. In New Order Era, political propaganda through literature was carried out through mass media/newspapers/magazines. Mass media was placed as Ney Order Era pioneer in realize its nation building idealism. KMD Kanda Raharja was published by village dweller. KMD Kandha Raharja became propaganda literature of New Order Era regime. This paper uses hegemony theory to reveal propaganda literature problem (Tembang Macapat). This research is a library research, therefore it uses library method in collecting data.
KORUPSI DALAM KONSTRUKSI MEDIA : ANALISIS STRUKTUR MIKRO SEMANTIK TEKS BERITA KORUPSI DI TELEVISI Hari Bakti Mardikantoro; Haryadi Haryadi
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.944 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.195

Abstract

This study aims to determine the micro semantic structure of corruption news text in national private TV station in Indonesia. This study employed a descriptive qualitative approach through critical discourse analysis by van Dijk. The method of data collection used simak (listening) advanced technique of simak bebas libat cakap, rekam (re-cording) technique, catat (noting) technique. The research findings show that the textual analysis of microstructure aspect of corruption news text in TV station includes the analysis of background elements (instruction or plotting description related to space, time, and atmosphere), detailed elements (describing very detailed part of a phenomena), purpose elements (looking at information which benefits the writer or media by elaborating the information ex-plicitly and clearly), pre-assumed element (the efforts to support someone’s opinion by giving the premise which truth is trusted, in the form of real and concrete data), and nominalization elements (strategy which is commonly used to nominate a certain social group). Penelitian ini bertujuan untuk menemukan struktur mikro semantik teks berita korupsi di televisi swas-ta nasional Indonesia. Pengkajian masalah dalam penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan sosiologis empiris dan pendekatan kritis van Dijk. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik lanjutan berupa teknik rekam, dan teknik catat. Selain itu, data dijaring juga dengan metode wawancara dengan pihak redaktur berita di televisi. Analisis da-lam penelitian ini menggunakan model analisis wacana kritis van Dijk. Analisis tekstual pada as-pek struktur mikro teks berita korupsi di televisi meliputi analisis elemen latar (petunjuk atau keterang-an pengaluran yang berhubungan dengan ruang, waktu, dan suasana), elemen detail (menguraikan ba-gian yang sangat terperinci mengenai suatu peristiwa), elemen maksud (melihat informasi yang meng-untungkan bagi penulis atau media dengan menguraikannya secara eksplisit dan jelas), elemen praang-gapan (upaya mendukung sebuah pendapat maupun opini dengan cara memberikan premis yang di-percaya kebenarannya, berupa data yang nyata dan konkret), dan elemen nominalisasi (strategi yang se-ring digunakan untuk menghilangkan kelompok sosial tertentu).
OPOSISI BINER PADA TOKOH PERAWAN SUNTHI DALAM SASTRA LISAN KENTRUNG PERAWAN SUNTIHI TUBAN M. Oktavia Vidiyanti
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2380.832 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.87

Abstract

Tulisan ini mengungkap aspek-aspek ketertindasan perempuan atas diri laki-laki yang dialami tokoh bernama Perawan Sunthi yang terdapat dalam lakon kentrung Tuhan Jawa Timur. Dalam cerita kentrung tersebut, Perawan Sunthi sebagai tokoh utama perempuan mengalami penindasan structural yang berfokus pada struktur patriarki. Struktur itu berupa oposisi biner yang menunjukkan ketidakadilan yaitu melemahkan posisi perempuan melalui pelabelan negatif terhadap perempuan sehingga meletakkan perempuan pada posisi inferior. Dengan menggunakan konsep oposisi biner akan menunjukkan bahwa struktur laki-laki maupun perempuan yang hierarkis akan menimbulkan bentuk- bentuk oposisi biner yang akan memberikan wacana ketidakadilan gender sehingga dapat mengakibatkan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Dengan demikian tulisan ini diharapkan dapat memberikan wacana gender dalam situasi sosial yang lebih egaliter. This paper reveals woman oppression under man authority that experienced by Perawan Sunthi in kentrung character, Tuban, East Java. Ln Kentrung story, Perawan Sunthiasa main character has undergone structural oppression focusing on patriarchal structure. The injustice binary opposition structure weakens woman position by giving negative label on woman that puts the woman on inferior position. By using binary opposition concept will show that hierarchal man or woman structure makes binary opposition forms giving gender injustice discourse so that it causes discrimination and violence against woman. Therefore, this paper is expected to contribute gender discourse in more egalitarian social situation.
PHONETIC GRAMMAR OF PLOSIVES SOUNDS SPOKEN BY SUNDANESE AND JAVANESE Yusup Irawan; NFN Riani
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.46 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.802

Abstract

This study aims to identify “the phonetic grammar" of voiced plosive sounds [b, d, and g] and voiceless [p, t, and k] at the initial position of the words uttered by two different groups of native speakers: Sundanese and Java. These sounds are phonemically the same phonemes in Sundanese, Javanese and Indonesian. The findings show that the two groups of native speakers realize different and the same VOT (Voice Onset Time) pattern of popping sounds. For sounds voiced plosives or lenis plosive [b, d, and g], Sundanese speakers realize it with a negative VOT pattern, while Javanese speakers do it with a positive VOT pattern. Then, voiced plosive sounds uttered by Javanese speakers tend to be "aspirated" or breathy. For the voiceless plosives or fortis plosives [p, t, and k], the two groups of speakers pronounce them in the same pattern, namely the positive VOT pattern, and even tend to have zero VOT. The VOT patterns reflect aspirated voiced and voiceless phonation categories for Javanese and voiced and voiceless for Sundanese.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gramatika fonetik “phonetic grammar” bunyi-bunyi letupan bersuara [b, d, dan g] dan tak bersuara [p,t, dan k]  pada posisi awal kata yang diucapkan oleh dua kelompok penutur jati yang  berbeda: Sunda dan Jawa. Bunyi-bunyi itu secara fonemik merupakan fonem yang sama dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia. Temuan dalam penelitian ini adalah kedua kelompok  penutur jati merealisasikan pola VOT (voice onset time) bunyi letupan yang berbeda dan sama. Untuk bunyi-bunyi bersuara plosive lenis  [b, d, dan g] penutur bahasa Sunda merealisasikannya dengan pola VOT negatif, sedangkan penutur bahasa Jawa merealisasikannya dengan pola VOT positif. Kemudian bunyi-bunyi letupan bersuara yang diucapkan oleh penutur bahasa Jawa cenderung “beraspirasi” atau breathy. Pada bunyi-bunyi takbersuara atau plosive fortis  [p, t, dan k], kedua kelompok penutur mengucapkannya dengan pola yang sama, yakni pola VOT positif bahkan cenderung ber-VOT nol atau zero. Pola-pola VOT itu merefleksikan kategori fonasi bersuara breathy dan takbesuara untuk bahasa Jawa dan bersuara dan tak bersuara untuk bahasa Sunda.
Pengantar redaksi dan daftar isi NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.858 KB)

Abstract

CITA-CITA HARMONIS MASYARAKAT KERINCI DALAM KUNAUNG KERINCI Mahawitra Jayawardana; Silvia Rosa; Khairil Anwar
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.245 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.849

Abstract

This article aims to reveal the meaning behind the expelled events contained in the Kunaung Putri Bungsu Rindu Sekian and the Kunaung Si Kamba Paya. The semiological theory of Roland Barthes is applied to reveal the symbolic foundation that wraps the discourse of these two ancients. This research is a qualitative research with descriptive method by analyzing the data in the form of words, sentences, paragraphs and even the discourse contained in the kunaung text. The results of the analysis show that kunaung becomes a symbolic code as a curtain of reason to silence the collective tragedy of the past so that it does not become a collective disease in the Kerinci community. The two kunaung have become the harmonious ideals of the ancestors of the Kerinci people for life in the future. Kunaung acts as a tool to voice these ideals.Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna di balikperistiwaterusir yang terdapat dalam kunaung Putri Bungsu Rindu Sekian dan kunaung Si Kamba Paya.Teori semiologi Roland Barthes diterapkan untuk mengungkap tumpuan simbol yang membungkus wacana dalam kedua kunaung ini.Penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dengan menganalisis data berupa kata, kalimat, paragraf, bahkan wacana yang terdapat pada teks kunaung.Hasil analisis menunjukkan bahwakunaung menjadi kode simbolik yang bermakna sebagai tirai nalar untuk membungkam tragedi kolektif masa lalu supaya tidak menjadi luka kolektif dalam masyarakat Kerinci. Kedua kunaung itu menjadi cita-cita harmonis nenek moyang orang Kerinci untuk kehidupan di masa depan. Kunaung berperan sebagai alat untuk menyuarakan cita-cita tersebut.
KONSEP KESOPANAN BERBICARA OLEH WANITA DALAM BUDAYA JAWA Siti Sudartini
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.633 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.6

Abstract

Kajian ini mencoba menelaah secara kritis konsep kesopanan berbicara wanita dalam budaya Jawa yang terkait realisasi atau wujud kesopanan wanita Jawa dalam berbicara dengan orang lain dan faktor-faktor apa saja yang mungkin melatar-belakangi konsep yang diyakini tersebut. Metode yang digunakan untuk mengkaji topik ini adalah dengan menggunakan deskripsi permasalahan yang disandarkan pada konsep kesopanan dari Foley, yang berupa dua jenis kesopanan secara umum yakni positive and negative politeness. Hasil kajian ini dapat dinyatakan sebagai berikut. Pertama, secara umum wanita Jawa lebih sering menggunakan strategi kesopanan positif daripada strategi kesopanan negatif ketika berbicara. Hal itu pula yang menyebabkan seorang wanita akan lebih cepat akrab dengan wanita lain ataupun dengan lawan jenis yang baru saja dikenalnya dibandingkan laki-laki. Strategi kesopanan negatif, banyak digunakan wanita Jawa dalam ungkapan permintaan maaf ketika berbicara. Kedua, dalam kajian ini juga teridentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi konsep kesopanan tersebut, di faktor itu ialah adanya stereotipe dalam masyarakat Jawa yang mendudukkan wanita sebagai second sex setelah laki-laki dan juga adanya sikap kurang percaya diri wanita untuk mengungkapkan ide ataupun gagasan sebagai akibat stereotipe di masyarakat The research tries to critically explore polite concepts of women communication in Javanese culture relating realization or manifestation of Javanese woman communication with other and to investigate which factors that possibly underpin the conceivable concept. The method employed to investigate the topic is problem description based on politeness concept proposed by Foley, which is generally realized in two types of politeness that are positive and negative politeness. The result of the research shows some findings as follow. First, generally Javanese woman more often uses positive politeness strategy that negative politeness strategy when she communicates. Because of that strategy, compare to Javanese man, Javanese woman is more familiar with other woman or oposite sex whom just meets. Negative politeness strategy is more often used by Javanese woman in expressing apology. Second, the reseach also identifies factors that underpin the concept of politeness. The concept reveals the existance of stereotype in Javanese society which places woman as second sex after man and the woman's unconfidence to express idea or opinion as a result of that stereotype.
MAKIAN DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SELIMBAU KAPUAS HULU (SWEARING IN MALAY LANGUAGE OF SELIMBAU KAPUAS HULU DIALECT) Wahyu Damayanti
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.481 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.143

Abstract

Fenomena makian di setiap daerah merupakan hal tabu. Makian di setiap daerah memiliki keunikan dan kecirikhasan tersendiri. Ungkapan makian merupakan bentuk pelampiasan perasaan yang terpendam dalam hati karena situasi yang tidak menyenangkan. Bahasa Melayu dialek Selimbau Kapuas Hulu juga memiliki ung-kapan makian yang unik dan berciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan bentuk makian bahasa Melayu dialek Selimbau Kapuas Hulu dan mendeskripsikan referensi makian. Metode dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif. Tahap penelitian meliputi (1) penyediaan data; (2) penganalisisan data, dan (3) penyajian hasil analisis data. Data diperoleh melalui teknik pustaka dan wawancara langsung dengan teknik libat cakap catat. Data diklasifikasikan berdasarkan permasalahan yang ada. Data diperoleh dari beberapa informan bahasa Melayu dialek Selimbau, Kapuas Hulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk makian bahasa Melayu dialek Selimbau Kapuas Hulu adalah makian berbentuk kata (kata dasar dan kata jadian), frasa, dan klausa. Referensi makian yang ditemukan mengacu pada keadaan, binatang, makhluk halus, bagian tubuh, kekerabatan, aktivitas, dan profesi. The phenomenon of swearing in each region is taboo, in fact swearing in each region has its own uniqueness and characteristic. Swearing expression is a form of impingement that is hidden in the heart because of an unpleasant situation. The Malay dialect Selimbau Kapuas Hulu also has a unique and distinctive swearing expression. The objective of the study is to describe the form and reference of Malay dialect Selimbau Kapuas Hulu dialect swearing. The method in this research is descriptive qualitative method. The research process covers (1) data collection; (2) data analysis, and (3) data presentation of data analysis result. Data are obtained through library technique and direct interview with participation and noting technique. Data are recorded and classified based on existing problems. The data are obtained from several Malay language informants in Selimbau dialect, Kapuas Hulu. The result shows that the swearing form of Malay dialect Selimbau Kapuas Hulu dialect is word (base word and derivative word), phrase, and clause. Swearing references found in the data refer to state, animal, spirit, body part, kinship, activity, and profession.
PERUBAHAN ANTROPONIMI DALAM MASYARAKAT JAWA Dwi Atmawati; Wening Purnami; Arif Izzak
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.02 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1142

Abstract

This anthroponymic research is focused on studying the proper names of Javanese people living in the Special Region of Yogyakarta (DIY). DIY was designated as the research location because it is one of the places that have historical value in Javanese civilization. In addition, in DIY there is also a palace which is rich in Javanese cultural values. This study aims to determine the proper name contained in DIY, whether there are still retaining Javanese elements or Javanese elements have been lost and replaced with proper names originating from other regions. The theory used in this study is the theory of anthroponymy by Crystal (2008). The data was collected by using the method of documentation, sampling technique, and interviews. This documentation method is used to obtain proper name data from written sources, such as print, electronic, and internet media. The informants were selected based on the criteria of being married and having children; Javanese ethnic; come from low, middle, and high social status. Data analysis used the contextual method. Based on this research, it is known that cultural acculturation and technological advances affect the choice of the proper name for the Javanese people in Yogyakarta. There has been a shift in naming children, from traditional Javanese to 'modern' names and to people's names of Arabic origin.Penelitian antroponimi ini difokuskan pada nama diri orang Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). DIY ditetapkan sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu tempat yang me-miliki nilai sejarah dalam peradaban Jawa. Selain itu, di DIY juga terdapat keraton yang kaya nilai-nilai budaya Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan nama diri yang terdapat di DIY, apakah masih ada yang mempertahankan unsur Jawa atau unsur Jawa telah hilang dan diganti dengan nama diri yang berasal dari daerah lain. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori antroponimi oleh Crystal (2008). Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, teknik sampling, dan wawancara. Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data nama diri dari sumber tulis, seperti media cetak, elektronik, dan internet.  Informan dipilih berdasarkan kriteria sudah menikah dan memiliki anak; bersuku Jawa; berasal dari status sosial rendah, menengah, dan tinggi. Dalam nalisis data digunakan metode kontekstual. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa akulturasi budaya dan kemajuan teknologi berpengaruh pada pemilihan nama diri pada masyarakat Jawa di DIY. Telah terjadi pergeseran dalam penamaan anak, dari nama tradisional Jawa ke modern dan ke nama orang yang berasal dari bahasa Arab.
WANI NGAIAH LUHUR WEKASANE, PESAN MORAL JAWA DALAM NOVEL BERBAHASA JAWA CANDHI KALAKAPURANTA KARYA SUGIARTA SRI WIBAWA: SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Yohanes Adhi Satiyoko
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3262.862 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.39

Abstract

Novel berbahasa Jawa Candhikala Kapuranta adalah sebuah novel berlatar belakang sejarath, yaitu pada masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X di Surakarta. Latar cerita diangkat menjadi dasar perumusan masalah, yaitu pengungkapan lingkungan sosial budaya (lebenswelf) masyarakat Jawa serta fenomena sosial yang muncul melalui penggambaran tokoh-tokoh cerita dalam aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Pembahasan rnenggunakan pendekatan dan teori sosiologi verstehen Janet Wolff dengan menguraikan fenomena kemasyarakatan yang terjadi pada masyarakat golongan bangsawan di Surakarta masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X serta menemukan perlambangan-perlambangan yang muncul dari interaksi sehari-hari antartokoh dalam Candhikala Kapuranta. Perlambangan-perlambangan yang diperoleh tersebut ditafsirkan untuk memahami ideologi pengarang. Latar cerita Candhikala Kapuranta menguraikan gambaran realis masyarakat golongan bangsawan dan interaksinya dengan orang kecil (wong cilik) yang dihadirkan sebagai oposisi kelas dalam latar sosial budaya. Oposisi tersebut adalah sebuah analogi dari laku spiritual manusia (wong cilik) untuk mencapat derajat kesempurnaan yang digambarkan dengan pencapaian derajat kebangsawanan. Laku spiritual tersebut menunjukkan satu pesan moral waningalah luhur wekasane dalam konteks logika orang Jawa, yaitu untuk mencapai sebuah cita-cita diperlukan perjuangan dengan sikap rendah hati, mengalah tidak untuk kalah, dan tidak meremehkan dan mengorbankan orang lain.Kata kunci: wani ngalah luhur wekasane, bangsawan, wong cilik, laku spiritualAbstractJavanese language novel Candhikala Kapuranta is a fiction historical background in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X in Surakarta. Story background of the novel was taken as problem formulation to reveal social cultural world (lebenswelt) of Javanese society and social phenomena through characters portrayal in which they interact daily. Discussion of the novel was conducted using sociological approach and verstehen sociological theory of Janet Wolff in finding social phenomena of noble society in Surakarta in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X and in interpreting typification as reflected in daily interactian among characters. Furthermore, the typifications were identified and interpreted to comprehend ideology of the author. Illustration of noble society and its interaction with lower class people (wong cilik) was portrayed as oppositional classes in social cultural background. The opposition was an analogy of spiritual exercise of people (wong cilik) to reach perfection degree as symbolized in noble degree achievement. The spiritual exercise shows moral value wani ngalah luhur wekasane in the context of Javanese people way of thinking that in reaching desirability they are required to be low profile, to be defeatist but not to be defeated, and never underestimate or sacrifice others.