cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
BENTUK DAN MAKNA SUFIKS BAHASA KULISUSU NFN - Firman A.D.
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.359 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.723

Abstract

This research describes suffixes in Kulisusu language from the side of meaning and allomorph that is formed in the morphophonemic process. This research is descriptive-qualitative. Data analysis was used the referential (identity) method through sorting or classification based on the characteristics and description of the data. The meanings and evidence of morphophonemic in affixation were defined and compared to see its pattern so that can be categorized variation of suffix forms. According to the data analysis, there are 7 suffixes in Kulisusu languages. Suffix {-a} have 11 allomorphs, suffix {-i} have have 11 allomorphs, and suffix {-ako} have 10 allomorphs. Meanwhile, 4 suffixes, that are, {-o} only have 2 allomorphs, {-ano} have 2 allomorphs. Suffix {-mo} and {-no} respectively only has 1 allomorph. Those suffixes if attached to the base generally pertaining to the forming of the imperative verbs which have a meaning like ‘do something’, ‘make something, and give into something’. Besides, it can also form nouns that meaning related to ‘tool’, ‘place’, and ‘time’.Penelitian ini mendeskripsikan sufiks bahasa Kulisusu dari segi makna dan alomorf yang terbentuk dalam proses morfofonemik. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif. Dalam melakukan analisis data digunakan metode padan referensial melalui pemilahan atau pengklasifikasian berdasarkan ciri-ciri, sifat-sifat, dan gambaran data. Makna dan bukti-bukti morfofonemik dalam afiksasi didefinisikan dan dibandingkan untuk melihat pola yang terbentuk sehingga dapat dikategorikan variasi bentuk-bentuk sufiks. Hasil analisis data menunjukkan bahwa sufiks bahasa Kulisusu ada tujuh. Sufiks {-a} memiliki 11 alomorf, sufiks {-i} memiliki 11 alomorf, dan sufiks {-ako} memiliki 10 alomorf. Sementara, empat sufiks lainnya, yaitu sufiks {-o} hanya memiliki 2 alomorf, sufiks {-ano} memiliki 2 alomorf, serta sufiks {-mo} dan {-no} masing-masing memiliki 1 alomorf. Sufiks-sufiks tersebut jika melekat pada bentuk dasar umumnya berkaitan dengan pembentukan verba imperatif yang bermakna ‘melakukan pekerjaan, ‘membuat sesuatu’, dan ‘memberi ke sesuatu’. Sufiks tersebut juga membentuk nomina yang maknanya berkaitan dengan ‘alat’, ‘tempat’ dan ‘masa’.
STRATEGI DAN LEGITIMASI KOMUNITAS SASTRA DI YOGYAKARTA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA PIERRE BOURDIEU (STRATEGY AND LEGITIMACY OF LITERATURE COMMUNITY IN YOGYAKARTA: THE STUDY OF PIERRE BOURDIEU LITERATURE SOSIOLOGY) Aprinus Salam; Saeful Anwar
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3894.744 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.103

Abstract

Penelitian ini mengkaji kehidupan komunitas sastra yang banyak bermunculan di Yogyakarta. Komunitas-komunitas sastra ini menjadikan Yogyakarta sebagai daerah yang ideal bagi lahan penelitian komunitas sastra. Dari komunitas sastra yang ada di Yogyakarta, dipilih tiga (3) komunitas sebagai sampel penelitian, yaitu komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP), Diskusi Sastra PKKH (DSP), dan Studio Pertunjukan Sastra (SPS). Ketiga komunitas ini dipilih karena memiliki intensitas dan kontinuitas yang tinggi dalam penyelenggaraan acara sastra. Selain itu, acara-acara yang diselenggarakan oleh ketiga komunitas tersebut juga mengundang massa dari beragam kalangan masyarakat. Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah strategi dan legitimasi komunitas sastra yang ada di Yogyakarta. Untuk menguraikan persoalan-persoalan yang melatar belakangi penelitian ini, maka akan digunakan teori sosiologi sastra dari Pierre Bourdieu, terutama berkaitan dengan strategi dan legitimasi dalam peraihan modal simbolis di antara komunitas sastra. Ketiga komunitas yang diteliti memiliki strategi yang berbeda dalam menempatkan posisinya di dunia sastra. SBP mefokuskan acara pada selebrasi karya, SPS memadukan antara pertunjukan sastra dan bincang-bincang dengan titik berat pada pertunjukan, dan DSP memadukan pertunjukan dengan diskusi sastra dengan titik berat pada diskusi. Ketiga strategi komunitas ini mengakibatkan kadar legitimasi yang dimilikinya berbeda-beda. DSP memiliki kadar legitimitas yang tinggi dibandingkan dua komunitas lainnya. Meskipun SPS dan SBP memiliki kadar legitimasi yang kecil, dua komunitas ini menawarkan keuntungan lain bagi orang yang hendak berkunjung ke komunitas mereka. SPS menawarkan intimasi yang cukup luas terhadap para sastrawan sementara SBP menawarkan selebrasi karya bagi mereka yang hendak masuk ke dalam dunia sastra atau ingin meneguhkan dirinya sebagai sastrawan.This research aims to analyze the literature communities that exist in Yogyakarta. The rising number of communities makes Yogyakarta an ideal source for research in literature communities. Among the communities found in Yogyakarta, there are chosen as the samples. There are Komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP), Diskusi Sastra PKKH (DSP), and Studio Pertunjukan Sastra (SPS). They are chosen since they have entity and community in realizing their program. Besides, the community invite people from various backgrounds when they hold their programs. The focus of this research is the strategies and legitimacy of the communities. To answer the research question, Pierre Bourdieu's theory of sociology of literature especially related to the strategy and legitimacy to gain symbolical capital among the communities is applied. The three communities have different strategies to establish their position in Yogyakarta literature. SBD focuses on programs to celebrate literary works, SPS combines literature performance and discussion by focusing on the performance, and DSP combines the performance and discussion by emphasizing on the discussion. The different strategies bring about different levels of legitimacy of the three communities. DSP gains the highest level of legitimacy. Even though SPS and DSP acquire low level of legitimacy, they still offer profits to those who visit them. SPS offers intimacy to people whereas SBD gives celebration of literary works of those want to join the world of literature or to be literary writers.
THE ACCURACY TRANSLATION OF ATTITUDE IN MAIN CHARACTER AT ANIMAL FARM NOVEL Fedro Iswandi; M.R. Nababan; NFN Djatmika
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.636 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.534

Abstract

A translator has an important role to transfer messages from a source language into a target language accurately. Therefore, this research aims to analyze the translation accuracy of words, phrases, and clauses that accommodate attitude in two translators by using a systemic functional linguistics approach. The research used descriptive qualitative and comparative study. The data are words, phrases, and clauses that accommodate attitude. Then, the data were obtained through document analysis, focus group discussion. Next, data is analyzed with analysis of domain, taxonomic, componential, and cultural themes. The result shows that Bakdi used ten techniques; established equivalent, modulation, transposition, discursive creation, adaptation, generalization, implicit, reduction, explicit, and literal. Meanwhile, Mahbub used twelve techniques; established equivalent, modulation, discursive creation, generalization, amplification, variation, literal, explicit, reduction, transposition, particularization, description, etc. The last, accuracy in Bakdi is better than Mahbub. It can be influenced by some factors; the choosing of translation techniques, translator background, and context of a situation.Seorang penerjemah memiliki peran penting untuk menerjemahkan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan akurat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis derajat keakuratan terjemahan kata, frasa dan klausa yang mengakomodasi sikap pada dua penerjemah dengan pendekatan linguistik sistemik fungsional. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dan studi perbandingan. Data berupa kata, frasa dan klausa yang mengakomodasi sikap. Lalu, data diperoleh melalui analisis dokumen, focus group discussion. Selanjutnya, data dianalisis dengan analisis domain, taksonomi, komponensial dan tema budaya. Hasil menunjukkan bahwa Bakdi menggunakan 10 teknik penerjemahan; padanan lazim, modulasi, transposisi, kreasi diskursif, adaptasi, generalisasi, implisitasi, reduksi, eksplisitasi dan harfiah. Sementara, Mahbub menggunakan 12 teknik; padanan lazim, modulasi, kreasi diskursif, generalisasi, amplifikasi, variasi, harfiah, eksplisitasi, reduksi, transposisi, partikularisasi dan deskripsi. Terakhir, derajat keakuratan Bakdi lebih bagus dibandingkan Mahbub. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pemilihan teknik penerjemahan, latarbelakang penerjemah dan konteks situasi.
CITRA GENDER PEREMPUAN-PEREMPUAN TAHANAN POLITIK INDONESIA MASA ORDE BARU DALAM NOVEL DARI DALAM KUBUR Iswan Afandi
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.236 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.870

Abstract

The purpose of this study is to describe the image of Indonesian women political prisoners in the novel Dari Dalam Kubur. This type of research uses qualitative research with descriptive methods. The theory used in this research is the theory of feminism. The analysis focuses on the author's thoughts, social phenomena, and traditional and modern culture about women, including marginalization, stereotypes, subordination, violence, and workload. There are different types of feminism. Therefore, the type of feminism presented in the study is adjusted to the research findings. Data was collected, through library data sources, and relevant research journal articles. The data collection technique used in this research is the reading and note-taking technique. The novel is read in its entirety and then recorded things that are by the research focus. The results showed that the type of feminism used by the author of Marching was socialist-Marxist feminism. Something is interesting in the research findings, namely the phenomenon of "intellectual genocide" through the application of the "spatial organization" method by the New Order government to kill groups of women who are considered to have "left ideology" in Indonesia. In addition, there was a colonial transformation into a neocolonial culture, in which Indonesian women were socially and politically colonized by the United States and the New Order rulers. Problems of gender inequality were found, namely the problem of violence against women, marginalization, stereotypes, subordination, and double workload.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan citra perempuan tahanan politik Indonesia dalam novel Dari Dalam Kubur. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian, yaitu teori feminisme. Analisis difokuskan pada pemikiran pengarang, fenomena sosial, budaya tradisional dan modern tentang perempuan, meliputi marginalisasi, stereotipe, subordinasi, kekerasan, dan beban kerja. Ada berbagai jenis-jenis feminisme. Oleh karena itu, jenis feminisme yang disajikan dalam penelitian disesuaikan pada temuan penelitian. Data yang dikumpulkan, melalui sumber data perpustakaan, artikel jurnal penelitian yang relevan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik baca dan catat. Novel dibaca keseluruhan kemudian dicatat hal-hal yang sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan jenis feminisme digunakan oleh pengarang Marching ialah feminisme sosialis-marxist. Ada yang menarik dalam temuan penelitian, yakni fenomena “genosida intelektual” melalui penerapan metode “pengorganisasian ruang” oleh pemerintah orde baru untuk membunuh kelompok perempuan yang dianggap memiliki “ideologi kiri” di Indonesia. Selain itu, terjadi transformasi kolonial ke budaya neokolonialisme, yakni perempuan Indonesia dijajah secara sosial dan politik oleh Amerika Serikat dan penguasa orde baru. Masalah ketidakadilan gender ditemukan yakni masalah kekerasan terhadap perempuan, marginalisasi, stereotipe, subordinasi, dan beban kerja ganda.
PEPINDHAN TENTANG AKTIVITAS MANUSIA DALAM BAHASA JAWA (JAVANESE PEPINDHAN OF HUMAN ACTIVITY) Nur Ramadhoni Setyaningsih
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.697 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.135

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian linguistik interdisipliner untuk menemukan hubungan antara bahasa dan budaya, yakni budaya Jawa. Tujuan khusus yang ingin dicapai ialah (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk pepindhan aktivitas manusia, (2) menemukan objek pembanding pepindhan aktivitas manusia, serta (3) mendeskripsikan unsur-unsur budaya yang tampak dalam pepindhan aktivitas manusia. Proses analisis data dilakukan dengan pendekatan linguistik antropologi. Berdasarkan kajian yang dilakukan dapat disebutkan bahwa aktivitas manusia yang di-pepindhan-kan meliputi aktivitas kaki, mulut, tangan, dan aktivitas tubuh secara keseluruhan. Kosakata yang digunakan sebagai pembanding dalam pepindhan diambil dari benda atau sesuatu yang dikenal baik oleh masyarakat Jawa dan mencerminkan kondisi budaya masyarakat Jawa. Penanda perbandingan yang muncul ialah kaya, kadya, pindha, semu, serta penasalan dan penambahan imbuhan hanuswara. Unsur budaya Jawa yang tercermin dari penggunaan kosakata dalam pepindhan ialah matapenca-harian, peralatan hidup, kesenian, dan pengetahuan. This study is interdisciplinary linguistic research that is aimed to find out the relation between language and the culture, particularly Javanese culture. The specific objectives are (1) to describe forms of human activity pepindhan, (2) to discover comparison object of human activity pepindhan, and (3) to describe cultural elements that appear in human activity pepindhan. Data analysis process is carried out by linguistic anthropology approach. Based on the study, it can is found out that human activity pephindan are leg activity, mouth activity, hand activity, and a whole body activity. The comparison vocabularies in pepin-dhan are taken from something that are familiar in Javanese community and these words reflect Javanese culture society condition. The comparison markers are kaya, kadya, pindha, semu, and nasalization with hanuswara affix. Javanese cultural elements reflected in pepindhan vocabularies are livelihood, equipment life, arts, and knowledge.
TIPE-TIPE REDUPLIKASI SEMANTIS BAHASA INDONESIA: KAJIAN BENTUK DAN MAKNA Nanik Sumarsih
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2600.413 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.68

Abstract

Kajian ini memfokuskan pembahasan mengenai tipe-tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia, yang meliputi (1) tipe-tipe berdasarkan bentuk dan (2) tipe-tipe berdasarkan makna dan fungsinya. Konsep reduplikasi semantis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan konsep reduplikasi semantis yang dikemukakan oleh Simatupang (1983), yaitu pengulangan arti melalui penggabungan dua bentuk yang mengandung arti yang sinonim. Data penelitian berupa bentuk kebahasaan yang berupa reduplikasi semantis. Sumber data yang digunakan ialah Kamus Besar Bahasa lndonesia (Pusat Bahasa, 2008). Pemerolehan data dilakukan dengan teknik simak-ketik. Analisis data menggunakan metode padan referensial dan metode agih. Berdasarkan analisis bentuk, dinyatakan bahwa tipe-tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia dapat berupa (1) morfem bebas dan morfem bebas, (2) morfem bebas dan morfem terika, dan (3) morfem terikat dan morfem terikat. Menurut kategorinya bentuk tersebut dapat berupa kata benda, kata sifat, dan prakategorial. Berdasarkan makna dan fungsinya, reduplikasi semantis terdiri atas (1) berbagai (kumpulan) dari berbagai jenis dasar, yang memiliki fungsi menyatakan bermacam-macam dan (2) intensif, yang memiliki fungsi menyangatkan. The study focuses on Indonesian reduplication concept that cover their (1) form and (2) meaning and function. Semantic reduplication concept used in this study refers to semantic reduplication concept proposed by Simatupang (1983) that is reduplication meaning through the combination of two forms, which have synonym meaning. The data taken is linguistic unit inform of semantic reduplication. The data source is Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008). The collection of data is carried out by using rending-typing. The data analysis uses referential match and apportion method. Based on form analysis it is found it that lndonesia semantic reduplication types can be in form of (1) free morpheme and free morpheme (2) free morpheme and bounded morpheme, and (3) bounded morpheme and bounded morpheme. Based on the category, the form can be found, adjective, and precategorial. Based on the meaning and function semantic reduplication includes (1) various group of different base types that function to state miscellaneous meaning and (2) intensity that function to intensify meaning.
WUJUD BUDAYA DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM CERITA RAKYAT PUTRI JELUMPANG: SEBUAH KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA Nurfitriana Maulidiah; Kundharu Saddhono
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.599 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.356

Abstract

This research is proposed to describe and explain; (1) the ideas (mentifact) in Putri Jelumpang folklore, (2) the character’s activities (sociofact) of Putri Jelumpang folklore, (3)  the cultural outcomes (artifact) in Put-ri Jelumpang folklore, (4) the education value of Putri Jelumpang folktale. This research used descriptive qualitative method with literary anthropology approach. Sampling technique use purposive sampling. Collecting data technique use document analysis and interview. To validity the data, it uses triangulation of source. Data analysis technique use qualitative hermeneuticmethods. The results of this research shows that: (1) the ideas in Putri Jelumpang folktale were ideas about the human life and te idea of human relations with nature; (2) the character’s activities in Putri Jelumpang folktale were activities about equipment of hu-man life, and religious system; (3) there is no cultural outcomes in Putri Jelumpang folklore; (4) education value that can be find in Putri Jelumpang folklore is moral eduation value of good deeds, fullfillment of rghts, and honesty.Penelitian ini bertujuan mendeksripsikan dan menjelaskan; (1) ide (mentifact) dalam cerita rakyat Putri Je-lumpang, (2) aktivitas tokoh (sosiofact) dalam cerita rakyat Putri Jelumpang, (3) hasil budaya (artifact) dalam cerita rakyat Putri Jelumpang, (4) nilai-nilai pendidikan dalam cerita rakyat Putri Jelumpang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.  Teknik pengumpulan data menggunakan analisis dokumen dan wawancara. Validitas data menggunakan tringulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan metode kualitatif hermeneutika. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) wujud ide atau gagasan dalam rakyat Putri Jelumpang meliputi, ide tentang hidup manusia dan ide tentang hubungan manusia dengan alam; (2) aktivitas tokoh dalam cerita rakyat Putri Jelumpangantara lain, aktivitas yang berhubungan dengan peralatan kehidupan manusia dan aktivitas yang berhubungan dengan sistem religi; (3) tidak ditemukan adanya hasil budaya dalam cerita rakyat Putri Jelumpang; (4) nilai pendidikan yang ditemukan dalam cerita rakyat Putri Jelumpang adalah nilai pendidikan moral perbuatan baik, pemenuhan hak, dan kejujuran. 
WUJUD DAN FAKTOR PENYEBAB KESALAHAN PEMAKAIAN BAHASA JAWA KRAMA DAN CARA MEMPRESERVASINYA Pranowo Pranowo; Benedictus Bherman Dwijatmoko; Danang Satria Nugraha
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.139 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.881

Abstract

This study discusses "The Form and Factors Causing Errors in Using the Javanese Language of Manners and Cras for Preserving It". This study uses the theory of language relativity to analyze errors in the use of Javanese. Sources of data are students who are in the working environment of researchers. The data is in the form of Javanese speech manners. Data collection techniques are in the form of questionnaires and structured interviews by means of fishing techniques via e-mail or WhatsApp (WA). Data analysis techniques consist of data identification, data classification, and data interpretation. The results of the study are (1) the form of errors in the use of errors in the use of Javanese manners (various types of words and affixes). The causal factor is because (a) they have not been able to distinguish the vocabulary of Javanese krama from Indonesian, (b) have not been able to distinguish the use of Javanese krama for oneself and for parents or other respected people, (c) the Javanese language mastered is limited to "krama ndesa", (d) adjectives that do not have concrete references are a problem in itself, and (e) many of the Javanese krama affixes used are incomplete, (2) the preservation of the Javanese krama language needs to be carried out so that the Javanese krama language remains sustainable. However, there are still some obstacles faced, namely (a) many parents no longer use BJ krama, (b) the younger generation speaks accustomed to using Javanese ngoko or Indonesian, (c) some Javanese language teachers are not from their fields, (e) many BJ teachers are not creative enough, and (f) the younger generation of Javanese who are not good enough get less motivation from their environment.Penelitian ini membahas “Wujud dan Faktor Penyebab Kesalahan Pemakaian Bahasa Jawa krama dan Cara Mempreservasinya”. Penelitian menggunakan teori relativitas bahasa untuk menganalisis kesalahan pemakaian bahasa Jawa. Sumber data adalah  para mahasiswa yang berada di lingkungan kerja peneliti. Data berupa tuturan bahasa Jawa krama. Teknik pengumpulan data berupa angket dan wawancara terstruktur dengan cara teknik pancing lewat e-mail atau WhatsApp (WA). Teknik analisis data terdiri atas identifikasi data, klasifikasi data, dan interpretasi data. Hasil penelitian berupa dua temuan. Pertama, wujud kesalahan pemakaian kesalahan pemakaian bahasa Jawa krama  pada berbagai jenis kata dan imbuhan). Faktor peyebabnya adalah karena (a) belum mampu membedakan kosakata bahasa Jawa krama dengan bahasa Indonesia, (b) belum dapat membedakan per-untukan bahasa Jawa krama untuk diri sendiri dan untuk orang tua atau orang lain yang dihormati, (c) bahasa Jawa yang dikuasai terbatas pada “krama ndesa”, (d) kata sifat yang tidak memiliki acuan konkret menjadi kesulitan tersendiri, dan (e) banyak imbuhan bahasa Jawa krama yang dipakai tidak lengkap. Kedua, preservasi bahasa Jawa krama yang perlu terus dilakukan agar bahasa Jawa krama tetap lestari. Namun masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi, yaitu (a) banyak orang tua tidak lagi menggunakan BJ krama, (b) generasi muda bertutur terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahasa Indonesia, (c) sebagian guru bahasa Jawa bukan dari bidangnya, (e)  banyak guru BJ yang kurang kreatif, dan (f) bahasa Jawa generasi muda yang belum baik kurang mendapat motivasi dari lingkungannya.
TUTURAN PENOLAKAN OLEH PENUTUR BAHASA KOMERING DI PULAU GEMANTUNG, OGAN KOMERING ILIR NFN Mukhamdanah; NFN Inayatusshalihah
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.615 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.542

Abstract

Refusal is the form of speech act that has the most potential threat to the face, both the listeners and speakers. In communication, if the rules that apply to society are not obeyed, it will have an impact. This study explains how the speech acts taken by Komering speakers in Ogan Komering Ilir, South Sumatra when rejecting children's requests. By involving several parents who already have children, the data is collected through questionnaires and open-ended data. The data are classified and analyzed based on the form and pattern of refusal speech realization. Determination of the form and speech realization is done by using the basic technique in the form of a deciding element, namely classifying the elements that determine the form and pattern of speech realization used by respondents in rejecting requests. The form of speech here is related to sentence construction, i.e. declarative, interrogative or imperative, while the realization is related to various forms of refusal speech used by the speakers. As a result, although it has relative power and a higher level of imposition compared to speech partners, the use of hedges to soften the power of refusal continues. Parents tend to use speech acts that employ greetings and apologies also give reasons for rejection and alternatives. Values for respecting speech partners with relative power and lower levels of imposition are still transmitted by people to their children.Tindak tutur penolakan merupakan bentuk tindak tutur yang paling berpotensi mengancam muka, baik petutur maupun penutur. Dalam sebuah komunikasi, jika aturan-aturan yang berlaku pada masyarakat tidak dipatuhi, maka akan menimbulkan dampak. Kajian ini menjelaskan bagaimana bentuk tindak tutur yang dilakukan penutur bahasa Komering di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan ketika menolak permintaan anak. Dengan melibatkan beberapa orang tua yang telah memiliki anak, data dijaring melalui kuesioner dan pertanyaan terbuka. Data diklasifikasikan dan  dianalisis  berdasarkan bentuk dan pola realisasi tuturan penolakan. Penentuan bentuk dan realisasi tuturan menggunakan teknik dasar berupa pilah unsur penentu, yakni mengklasifikasi unsur yang menentukan bentuk dan pola realisasi tuturan yang digunakan responden dalam menolak permintaan. Bentuk tuturan di sini berkaitan dengan konstruksi kalimat, deklaratif, interogatif, atau imperatif, sedangkan realisasi berkaitan dengan berbagai wujud tuturan penolakan yang digunakan oleh penutur. Hasilnya, meskipun mempunyai kekuasaan relatif dan tingkat imposisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mitra tutur, penggunaan pagar (hedge) untuk memperlunak daya penolakan tetap dilakukan. Orang tua cenderung menggunakan bentuk tindak tutur yang menggunakan kata sapaan, permintaan maaf, memberikan alasan penolakan dan alternatif pengganti. Nilai-nilai untuk menghargai mitra tutur dengan kekuasaan relatif dan tingkat imposisi yang lebih rendah tetap ditransmisikan oleh orang tua ke anak-anaknya.
KESESUAIAN PENAMAAN HOTEL BERBINTANG DI YOGYAKARTA DENGAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 63 TAHUN 2019 PASAL 33 Ratna Latifa; Laili Etika Rahmawati
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.873 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.795

Abstract

Language, besides being a means of communication, is also a form of culture and the identity of a group. Language can be used to identify groups with one another. The importance of using language in a group has prompted the government to issue policies that encourage Indonesians to use Indonesian in public spaces. One of them is Presidential Regulation Number 63 of 2019 Article 33 concerning the use of the Indonesian language stipulating that buildings or buildings erected must use the Indonesian language. Yogyakarta as an area that has become a tourist destination has many five-star hotels. However, some naming star hotels in Yogyakarta are not in accordance with Presidential Regulation Article 33 Number 63 of 2019. The purpose of this study is to identify how many star hotels in Yogyakarta have their names according to policy, identify what language is often used in naming star hotels in Yogyakarta, and find the meaning of the name of the hotel. This research method uses a combined method with a sequential explanatory strategy, the first stage of research uses a quantitative descriptive method and continues with a qualitative method. The results of the study, if a word-by-word analysis was carried out, the most hotel names used Indonesian. If analyzed according to language variations, hotel names mostly use variations of Indonesian and foreign names. The meanings contained in many hotel names indicate visual beauty, luxury, and good service.Bahasa selain alat berkomunikasi juga merupakan bentuk kebudayaan dan identitas suatu kelompok. Bahasa dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelompok satu dengan yang lainnya. Pentingnya penggunaan bahasa dalam suatu kelompok membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mendorong masyarakat Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia di ruang publik.  Salah satunya adalah Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 Pasal 33 tentang penggunaan bahasa Indonesia menetapkan bahwa gedung atau bangunan yang didirikan harus menggunakan bahasa Indonesia. Yogyakarta sebagai daerah yang banyak menjadi tujuan wisata memiliki banyak hotel berbintang.  Namun, beberapa penamaan hotel berbintang di Yogyakarta  tidak sesuai dengan  Peraturan Presiden Pasal 33 Nomor 63 Tahun 2019.  Tujuan  penelitian ini untuk mengidentifikasi seberapa banyak hotel berbintang di Yogyakarta yang penamaannya telah sesuai kebijakan, mengidentifikasi bahasa apa yang sering digunakan dalam penamaan hotel berbintang di Yogyakarta, dan menemukan makna nama hotel tersebut. Metode penelitian ini menggunakan metode gabungan  dengan strategi  eksplanatoris sekuensial, penelitian tahap pertama menggunakan metode deskripstif kuantitatif dan dilanjutkan dengan metode kualitatif. Hasil penelitian jika dilakukan analisis kata per kata, nama hotel paling banyak menggunakan bahasa Indonesia. Jika dianalisis sesuai variasi bahasa, nama hotel paling banyak menggunakan variasi nama bahasa Indonesia dengan asing. Makna  yang terdapat pada nama hotel banyak yang menunjukkan keindahan visual, kemewahan, dan pelayanan yang baik.