cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
WARNA LOKAL JAWA NOVEL PASAR KARYA KUNTOWIJOYO DAN SUMBANGSIHNYA TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER PESERTA DIDIK Ivana Septia Rahaya; Slamet Subiyantoro; Budhi Setiawan
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.399 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.601

Abstract

The purpose of this research is to describe and explain Javanese local color in Pasar novel by Kuntowijoyo and its contribution to the character development of students. This research is descriptive qualitative with a literary anthropology approach. Data collection techniques using note-taking techniques, while data analysis techniques are content analysis techniques. The results of this research indicate that Pasar novel contains Javanese local colors such as (a) the setting in Gemolong District; (b) a religious system that believes in the existence of God but still maintains their religious culture; (c) social systems and social organizations that describe the social status of Javanese people; (d) the knowledge system of Javanese priyayi figures; (e) language; and (f) Javanese philosophy which is used as a principle of society's life. The local color in Pasar novel has an important role to add to cultural knowledge and positive values, so if that novel is used as literary teaching materials it will help students develop their characters for the better.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan warna lokal Jawa novel Pasar karya Kuntowijoyo serta sumbangsihnya terhadap pengembangan karakter peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca catat, sedangkan teknik analisis data ialah teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa novel Pasar mengandung warna lokal Jawa seperti (a) latar tempat di Kecamatan Gemolong; (b) sistem religi yang mempercayai adanya Tuhan, tetapi tetap mempertahankan budaya religinya; (c) sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial yang menggambarkan status sosial masyarakat Jawa; (d) sistem pengetahuan tokoh priyayi Jawa; (e) bahasa; serta (f) falsafah Jawa yang digunakan sebagai prinsip hidup masyarakat. Warna lokal dalam novel Pasar memiliki peran penting untuk menambah pengetahuan budaya dan nilai-nilai positif sehingga apabila novel tersebut digunakan sebagai bahan ajar sastra, akan membantu peserta didik mengembangkan karakternya menjadi lebih baik.
BAHASA KHOTBAH JUMAT DI MASIID AGENG KABUPATEN KLATEN: UPAYA KONSERVASI BAHASA JAWA MELALUI PENANAMAN NILAI-NILAI AGAMA Prembayun Miji Lestari
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4058.204 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.84

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pola retorika khotbah Jumat dan karakteristik penggunaan bahasa Jawa yang digunakan dalam khotbah Jumat oleh khatib. Penelitian ini mengambil objek dari wacana lisan khotbah Jumat berbahasa Jawa di Masjid Ageng Jatinom, Kabupaten Klaten. Pengumpulan data dilakukan dengan cara merekam, yakni dengan teknik simak bebas, libat cakap, dan mencatat. Analisis dilakukan dengan metode padan dan metode distribusional. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola retorika khotbah Jumat dan karakteristik penggunaan bahasa Jawa yang khas, seperti adanya pilihan ragam bahasa, campur kode, strategi komunikasi dalam bentuk persuasi, argumentasi, harapan, dan ajakan atau himbauan. The purpose of this study was to describe patterns of rhetoric Friday sermons and usage characteristics of Java language used in Friday sermon by the preacher. This study took an object of oral discourse Friday sermon at a mosque in Javanese Ageng Jatinom, Klaten. The data collected from the record that employed free listening technique, involving conversation technique, and noting technique. Analysis method used was the equivalent and distributional method. The result showed that there was a pattern of Friday sermon and rhetoric characteristic of Javanese language typical use, such as the presence of language choice variety, mixed code, the communication strategy in persuasion, argumentation, hope, and to persuasion or appeal form.
Sampul depan dan belakang NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1448.322 KB)

Abstract

INNER STRUCTURE AND LOCAL WISDOM IN NYANGAHATN BABURUKNG ORAL TRADITION OF DAYAK KANAYATN Sesilia Seli
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.262 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.816

Abstract

Nyangahatn Baburukng is the mantra of the Kanayatn Dayak community that is uttered at the Baburukng ritual as the initial stage of the farming tradition (bahuma). This study was conducted to provide a deeper meaning to the inner structure and local wisdom of the Nyangahatn Baburukng and as a means of inheritance to the next generation. The objective of this study is to analyze the inner structure and forms of local wisdom in Nyangahatn Baburukng. The study is based on theories of local wisdom, mantra, and structure of mantra by using qualitative descriptive methods, objective approaches and sociology of literature. The results of this study indicate that the inner structure of the Nyangahatn Baburukng text includes (1) The theme includes belief in Jubata as a helper and giver of blessings; carefully reading the signs of nature (listening to the sound of the bird/rasi) to determine the type of land suitable for farming (bahuma); offerings as a means to communicate with Jubata, ghosts, demons/devils; and offerings as symbols of gratitude, sacrifice, restoration of relationships, purity, and sincerity.  (2) The tone includes the tone of gratitude, the tone of surrender, the tone of the sacred; pleading tone, friendly tone, and hopeful tone. (3) Feelings include feelings of joy, optimism, cooperation, togetherness, solidarity, and full of blessings. (4) Mantra's mandate includes that humans must be able to establish good communication with Jubata, the spirits of the ancestors, and the devil so that they can coexist and not be disturbed by the power of the devil; the implementation of the Baburukng ritual is a form of obedience to tradition and complete surrender to Jubata; cooperation, togetherness, and high solidarity need to be preserved. The forms of local wisdom in the Nyangahatn Baburukng text include (1) local knowledge; (2) local values; (3) local skills and technology; and (4) elements of local leadership.Nyangahatn Baburukng adalah mantra komunitas Dayak Kanayatn yang diucapkan pada ritual Baburukng sebagai tahap awal dari tradisi berladangan (bahuma). Kajian ini dilakukan untuk memberikan makna yang lebih mendalam terhadap struktur batin dan  kearifan lokal Nyangahatn Baburukng dan sebagai alat pewarisan kepada generasi penerus. Objektif kajian dalam penelitian ini adalah penganalisisan terhadap struktur batin  dan bentuk-bentuk kearifan lokal dalam Nyangahatn Baburukng. Kajian didasarkan pada teori-teori kearifan lokal, mantra, dan struktur mantra dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, pendekatan objektif dan sosiologi sastra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur batin teks Nyangahatn Baburukng meliputi (1) Tema meliputi keyakinan kepada Jubata sebagai penolong dan pemberi berkat; cermat membaca tanda-tanda alam (mendengarkan bunyi burung/rasi) untuk menentukan jenis lahan yang cocok untuk berladang (bahuma); persembahan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Jubata, hantu, setan/iblis; dan bahan-bahan persembahan sebagai simbol dari rasa syukur, pengorbanan, pemulih hubungan, kesucian, dan keikhlasan. (2) Nada meliputi nada bersyukur, nada penyerahan diri, nada sakral; nada memohon, nada bersahabat, dan nada penuh harapan. (3) Rasa meliputi rasa gembira, optimis, kerjasama, kebersamaan, solider, dan penuh berkat.   (4) Amanat mantra meliputi manusia harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan Jubata, roh para leluhur, dan iblis agar dapat hidup  berdampingan  dan tidak terganggu oleh kuasa iblis; pelaksanaan ritual Baburukng merupakan wujud kepatuhan pada tradisi dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Jubata; kerja sama, kebersamaan,  dan solidaritas yang tinggi perlu terus dilestarikan. Bentuk-bentuk kearifan lokal dalam teks Nyangahatn Baburukng meliputi (1) pengetahuan lokal; (2) nilai-nilai lokal; (3) keterampilan dan teknologi lokal; dan (4) unsur kepemimpinan lokal.
CERITA RAKYAT 'SRI TANJUNG' DAN KONTRIBUSINYA BAGI TATA WILAYAH ZAMAN KERAJAAN DAN ABAD MODERN ("SRI TANJUNG" FOLKLORE AND ITS CONTRTBUTION FOR PLANOLOGY OF THE KINGDOM AGE AND THE MODERN CENTURY) Sukatman Sukatman
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3868.636 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.108

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan secara interdisipliner, yaitu gabungan penelitian sastra lisan dan sejarah. Sasaran penelitian ini adalah cerita Sri Tanjung dan situs sejarah Kerajaan Blambangan kuno di situs Gunung Ijen. Data penelitian ini dikumpulkan dengan metode dokumentasi, observasi, data wawancara bebas-mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan gabungan antara metode heuristik dan metode historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat "Sri Tanjung" merupakan mitos ilmu pengetahuan cara membangun dan mengatur wilayah suatu negara model Syiwa-Budha. Situs Gunung Ijen merupakan bukti pengaturan tata wilayah yang terinspirasi oleh cerita "Sri Tanjung". Pengetahuan tentang membangun negara khususnya tata wilayah tersebut memiliki kontribusi untuk mengatur lingkungan pada abad modern.This study was conducted in an interdisciplinary that combine oral literature and historical research. The target of this research is the story of Sri Tanjung folklore and ancient of Blambangan Kingdom historical site in Ijen Mount. The research data was collected by documentation method, observation, and in-depth interview. Data analysis was perform by using a combination of heuristic method and historiography method. The result shows that Sri Tanjung folklore is a scientific myth on how to build and organize state territory of Shiva-Buddhist model. Ijen mount site is an evidence of territory organization inspired by the Sri Tanjung history. The knowledge on how to build a state, particularly planology of territory, gives contribution to regulate environment in the modern century.
Indeks abstrak 48 NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.855 KB)

Abstract

HEGEMONI DALAM PUISI “BUTON 1969” KARYA IRIANTO IBRAHIM Samsuddin Samsuddin
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.661 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.454

Abstract

This study aims to describe the hegemony of power contained in the “Buton 1969” poem. Through this poem, we can get a description of the power that has ever occurred through the diction that the poet extracts. In this paper, the theory of hegemony is used with a qualitative descriptive methods to examine the actions of the authorities and the consequences of actions for the people that occurred in Buton. To describe the hegemony of power, it is done by means of diction which is described by denotation and connotation. The results of the research show that the “Buton 1969” poem is related to the ideology that was breathed in the authorities through the issue that Buton was the basis of the PKI. Through this issue, the apparatus of power made arrests of the Butonnese officers and people. Such acts of power tools leave deep and prolonged suffering and sorrow for the Butonese community.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hegemoni kekuasaan yang terdapat dalam puisi “Buton 1969”. Hegemoni dalam puisi tersebut penting dikaji secara ilmiah karena di dalamnya disiratkan tindakan penguasa terhadap masyarakat yang melahirkan derita yang berkepanjangan. Melalui puisi ini, dapat diperoleh gambaran jejak kekuasaan yang pernah terjadi melalui diksi yang disarikan penyair. Dalam tulisan ini digunakan teori hegemoni dengan metode deskriptif kualitatif untuk mengkaji tindakan penguasa dan akibat tindakan bagi masyarakat yang terjadi di Buton. Untuk mendeskripsikan hegemoni kekuasaan dilakukan melalui sarana diksi yang dideskripsikan secara denotasi dan konotasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi “Buton 1969” berkaitan dengan ideologi yang dihembuskan oleh penguasa melalui isu bahwa Buton sebagai basis PKI. Melalui isu itu, peranti kekuasaan melakukan penangkapan terhadap aparat dan masyarakat Buton. Tindakan peranti kekuasaan yang demikian meninggalkan penderitaan dan duka yang mendalam dan berkepanjangan pada masyarakat Buton.
APPENDIK admin widyaparwa
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.704 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.140

Abstract

IDIOM DALAM BAHASA INDONESIA: STRUKTUR DAN MAKNAI Muh. Abdul Khak
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1460.612 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.36

Abstract

Idiom dalam bahasa Indonesia banyak digunakan dalam pemakaian sehari-hari. Namun, dalam kajian linguistik Indonesia belum ada ahli yang secara khusus mengkaji idiom ini. Beberapa ahli pun berbeda pendapat tentang idiom. Bahkan, kriteria apa itu idiom para ahli belum sepakat dan hal itu diperjelas dalam tulisan ini. Analisis ini menggunakan model konseptual, yang dikemukakan Nunberg et al. (1994), yaitu konsep tentang karakteristik semantis idiom dan yang dikemukakan Wood (1981), yaitu tentang konsep struktural idiom. Dalam pembahasan ini dilakukan metode tulisan yang mengikuti tahap pemilahan data, penggolongan data, dan penganalisisan data dengan batuan teknik identifikasi. Berdasarkan struktur, idiom bahasa Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu idiom yang berbentuk kata kompleks, frasa idiom, dan ungkapan idiomatik.ldioms in Indonesian language are widely used in everyday talks. Howeuer, there haven't been yet any lndonesian experts who conduct specific studies on these lndonesinn idioms. It seems that some experts show diffirent opinions on this term. To what criteria the idioms are still open to dispute among the experts and this paper would make clarification on this confusion. The analysis applies both the conceptual model, proposed by Nunberg et eil., that is to say the concept of semantic characteristic of idiom and the structursl concept of idiom, proposed by Wood. Meanwhile, the method of analysis follows respectively the phases of data selection, data grouping, and data analysis complemented utith the identification technique. Based on the structures, the Indonesian idioms can be divided into three types, namely idioms in the forms of complex words, idiomatic phrases, and idiomatic expressions.
KAUM SUBALTERN DALAM NOVEL-NOVEL KARYA SOERATMAN SASTRADIHARDJA: SEBUAH KAJIAN SASTRA POSKOLONIAL (SUBALTERN IN NOVELS BY SOERATMAN SASTRADIHARDJA: A POST-COLONIAL LITERATURE STUDY) Winda Dwi Lestari; Sarwiji Suwandi; Muhammad Rohmadi
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.456 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.175

Abstract

The research is originally inspired by the problem occurring on colonial era in Indonesia, especially Java area, which remains social strata differences problem in society i.e. native and colonial. Colonial creates hegemony which makes the native and the exile or known as subaltern. Colonizer portrays an ideology as if it takes side of the native. In contrarily it is as a mean to gain profit for the colonial. The research is based on theory developed by GayatriSpivak who proposes that the subaltern victims are mostly women. The research aims to describe how subaltern effort, especially women, in striving against colonizer oppression and also their culture i.e. Javanese culture. The method used in the research is descriptive method and content analysis technique. The result indicates that female character becomes subaltern as a result of marginalization, labeling, social status discrimination and applied customary law bond. Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan yang terjadi pada zaman penjajahan kolonial di Indonesia khususnya di daerah Jawa, yang meninggakan permasalahan adanya pembedaan strata sosial dalam masyarakat yaitu kaum pribumi dan kaum penjajah. Kaum penjajah menciptakan hegemoni yang membuat kaum pribumi seolah-olah hanya sebagai pengikut dan kaum buangan yang lebih di kena dengan kaum subaltern. Penjajah menanamkan ideologi yang seolah-olah berpihak kepada pribumi namun sebaliknya hal itu hanya sebagai sarana agar lebih menguntungkan penjajah. Penelitian ini berdasar pada teori yang dikembangkan oleh Gayatri Spivak yang menyatakan bahwa kaum subaltern yang banyak menjadi korban adalah perempuan. Penelitian ini bertujuan mendeskribsikan bagaimana upaya kaum subaltern khususnya perempuan dalam melawan ketertindasan dari penjajah dan juga  budayanya sendiri yaitu budaya Jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik analisis isi (content analysis). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tokoh perempuan menjadi subaltern karena temarginalisasi, mendapat pelabelan, dimiskinkan secara status sosial dan ikatan hukum adat yang berlaku.