cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
Tim redaksi dan ketentuan naskah Widyaparwa Widyaparwa
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.01 KB)

Abstract

KAJIAN MAKNA DAN FUNGSI TEMBANG BAWA METRUM DANDANGGULA DALAM LAGU CAMPURSARI Bagus Wahyu Setyawan; Yusuf Muflikh Raharjo
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.745 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.557

Abstract

Bawa as a one of literary song like a sindhenan, janturan, gerongan, and palaran. Firstly bawa song used in Javanese traditional or karawitan music, but since 1970th bawa song start to used in other genre, such as campursari. This research aimed to describe and analyse the meaning and function of bawa song in campursari. Sample on this research taken from bawa song with dandanggula poetic meter, that are bawa of kanca tani, pepeling, and nyidham sari song. Data collected technique using record-note and in-depth interview with some informant. Data analysis of this research using qualitative-interactive with the phase are data reduction, data display, and conclusion drawing. Result of this research find that bawa on campursari song have function as intro before song sing in. Therefore, bawa also represented the meaning and message of the campursari song. So, the lyric of bawa song have suitability with content of campursari song. Bawa song in this era also have attract power on campursari fans, because there are some dialogue between bawa singer with other singer, MC, or some audience which contain sense of joke inside.Bawa merupakan salah bentuk sastra tembang seperti halnya sindhenan, janturan, gerongan, dan palaran. Awalnya bawa digunakan untuk musik-musik karawitan, tetapi mulai tahun 1970-an tembang bawa mulai merambah dalam genre musik campursari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan fungsi tembang bawa dalam lagu campursari. Sampel yang digunakan adalah tembang bawa bermetrum dandanggula, yaitu bawa langgam kanca tani, pepeling, dan nyidham sari. Pengumpulan data menggunakan teknik simak-catat dan wawancara mendalam dengan narasumber. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis interaktif kualitatif dengan tahapan reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa tembang bawa dalam lagu campursari berfungsi sebagai intro atau awalan sebelum masuk lagu. Selain itu bawa juga merepresentasikan makna atau kandungan isi dari lagu campursari. Jadi, lirik tembang bawa memiliki kesepadanan dan kesesuaian makna dengan isi dari lagu campursari. Tembang bawa di era sekarang juga menjadi daya tarik bagi penikmat lagu campursari, karena terdapat dialog antara pelantun bawa dengan penyanyi lain, MC, bahkan dengan penonton yang kerap kali mengandung unsur humor.
SIKAP BAHASA MASYARAKAT PERKOTAAN DI KALIMANTAN Sugiyono Sugiyono; Wisnu Sasangka
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3501.441 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.89

Abstract

Makalah ini mendeskripsikan sikap masyarakat perkotaan di empat kota provinsi di Kalimantan terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif yang mengaitkan ciri sosial responden dengan pendapat terhadap sejumlah parameter sikap bahasa. Hasilnya diketahui bahwa indeks sikap bahasa masyarakat Kalimantan terhadap bahasa Indonesia secara umum tidak setinggi indeks sikap mereka terhadap bahasa daerah apalagi sikap terhadap bahasa asing. Berdasarkan hasil pembandingan indeks, sikap masyarakat Kilamantan terhadap bahasa asing tampaknya masih lebih positif dibandingkan dengan sikapnya terhadap bahasa Indonesia dan sikapnya terhadap bahasa daerah. Sementara itu, sikap masyarakat Kalimantan terhadap bahasa Indonesia lebih rendah daripada sikapnya terhadap bahasa daerah apalagi sikapnya terhadap bahasa asing. This paper describes urban society's attitude in four cities in Borneo on lndonesian, local language, and foreign language. The method used is quantitative method that relates respondent social characteristics to opinion on number of language attitude parameters. The result shows that Borneo society language attitude index on lndonesia generally is not as high as their attitude index on local language moreover on foreign language. Based on result of index comparison, Borneo society's attitude on foreign language seems more positive than on lndonesian and local language. Meanwhile, Borneo society's on Indonesian is lower than on local language moreover on foreign language.
KESESUAIAN BAHAN BACAAN LITERASI EMERGEN DENGAN PEMBACA SASARAN Umar Sidik
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.76 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.609

Abstract

The problem of this study departs from a lot of reading material that is suspected to be incompatible with the target audience (emergent literacy). Readings that are labeled for pre-reading, but the content does not suit the target audience. In this connection, the purpose of this study is to find the incongruity of reading material with the target audience for emergency literacy based on reading gap standards. This study refers to the standardization of non-text reading material set by the Ministry of Education and Culture (2018). The data source is determined by purposive sampling technique. Data collection is done by listening, reading, and note / record techniques. The analysis is carried out by means of interpreting and interpreting the data to obtain inference in accordance with the research objectives. The results showed that the literacy reading materials emegen circulating in the majority of the community did not match (match) with the target reader (emergency literacy). Many readings put forward or give priority to the message content of the narrative story. Pictures / illustrations are more oriented to support the narrative of the story. There is almost no process of introducing the beginning of writing, from the alphabetical or phonological as early as learning literacy literacy.Permasalahan penelitian ini berangkat dari banyak bahan bacaan yang ditengarai tidak sesuai dengan pembaca sasaran (literasi emergen). Bacaan yang dilabeli untuk pramembaca, tetapi isinya tidak sesuai dengan pembaca sasarannya. Sehubungan dengan itu, tujuan penelitian ini ialah untuk menemukan ketidaksesuaian bahan bacaan dengan pembaca sasaran literasi emergen berdasarkan standar penjenjangan bacaan. Penelitian ini mengacu pada standar penjenjangan bahan bacaan nonteks yang ditetapkan oleh Kemendikbud (2018). Sumber data ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak, baca, dan catat/rekam. Analisis dilakukan dengan cara penginterpretasian dan pemaknaan data untuk memperoleh inferensi sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan bacaan literasi emergen yang beredar di masyarakat mayoritas tidak sesuai (matching) dengan pembaca sasarannya (literasi emergen). Banyak bacaan yang mengedepankan atau mengutamakan pesan isi dari narasi cerita. Gambar/ilustrasi lebih diorientasikan untuk mendukung narasi cerita. Hampir tidak ada proses pengenalan awal terhadap tulisan, dari alfabetik atau fonologis sebagi awal membelajarkan literasi baca-tulis.
INDEKS ABSTRAK 49 NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.134 KB)

Abstract

PENGEMBANGAN LAGU-LAGU BERBAHASA JAWA BEMUATAN NILAI-NILAI KARAKTER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI (THE DEVELOPMENT OF JAVANESE SONGS CONTAINING CHARACTER VALUES AS A LEARNING MEDIUM OF EARLY CHILDHOOD EDUCATION) Joko Sukoyo
Widyaparwa Vol 44, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.751 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i1.121

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan lagu-lagu berbahasa Jawa bermuatan nilai-nilai karakter sebagai media pembelajaran anak usia dini. Penelitian ini menggunakan desain Research and Development (R&D) dengan mengadaptasi teori Sugiyono. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan teknik angket, sedangkan teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan enam prototipe lagu berbahasa Jawa bermuatan nilai karakter. Enam lagu tersebut berjudul Elinga, Pasinaon, Kuwajibanku, Temen, Bumi Asri, dan Nuswantara. Lagu Elingamemuat karakter relegius, lagu Nuswantara memuat karakter cinta tanah air, lagu Pasinaon memuat karakter kedisiplinan, Lagu Bumi Asri memuat karakter peduli lingkungan, lagu Temen memuat karakter kerja keras, dan lagu Kuwajibanku memuat karakter mandiri. Uji keberterimaan lagu-lagu ber-bahasa Jawa bermuatan nilai-nilai karakter sebagai media pembelajaran anak usia dini dilakukan oleh guru-guru ahli dalam hal ini adalah guru-guru PAUD. Nilai uji keber-terimaan tersebut adalah 77,5 sehingga termasuk dalam kategori baik. This research aims to develop the Javanese songs containing character values ??as a learning medium of the early childhood education. Research and Development (R & D) design adapted from Sugiyonos theory is used in the research design. The techniques of collecting data used in this reasearch are interview and technical questionnaires, while the data analysis technique used is the qualitative descriptive.This reasearch result shows six prototypes of Javanese language songs containing character values. The songs are Elinga, Pasinaon, Kuwajiban, Temen, Bumi Asri, and Nuswantara. Elinga song has the religious characters, Nuswantara song has the patriotism characters, Pasinaon song has the discipline characters, Bumi Asri has the concern of environment characters, Temen song has the characters of hard work, and Kuwajiban song has independent character.The acceptance test of the Javanese songs containing character values as a learning medium of early childhood is done by the professional teachers, namely teachers of the early childhood education. The value of this acceptance test is 77.5. Therefore, it belongs to good category.
Sampul depan dan belakang NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1027.118 KB)

Abstract

TIPE KALIMAT INVERSI DALAM BAHASA JAWA NGOKO Sumadi Sumadi
Widyaparwa Vol 38, No 2 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.683 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i2.17

Abstract

Penelitian ini membahas tipe kalimat inversi dalam bahasa Jawa ngoko, yang masih terfokus pada kalimat tunggal. Teori yang digunakan di dalam penelitian ini ialah teori tata bahasa fungsional (functional grammar), khususnya yang berkaitan dengan fungsi sintaktis. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif. Dalam penyediaan data digunakan metode simak yang diterapkan dengan teknik sadap dan teknik catat. Dalam analisis data digunakan metode distribusional yang diterapkan dengan teknik bagi unsur langsung dan teknik permutasi. Dalam penyajian hasil analisis data digunakan metode formal. Berdasarkan kemungkinan perubahan pola urutan P-S, kalimat inversi dalam bahasa Jawa dapat dibedakan atas dua tipe, yaitu tipe kalimat inversi opsional dan tipe kalimat inversi wajib. Berdasarkan kemungkinan pemunculan konstruksi relatif, ada satu tipe kalimat inversi yang memunculkan konstruksi relatif dengan kata kang/sing yang sebagai penanda relatif.This research aimed to discuss tlrc types of inversion sentence in ngoko (the low level of Javanese speech) Javanese, of which focus is still more on the single-sentence. Theory used in this research is functional grammar with syntaxtic function is the main focus. Method used is qualitative desciptive. ln preparing the data, the writer uses the observation method by previously applying the tapping and recording techniques. Then, the distribution method is used to analyze the data. The distribution is applied through both the immediate divisions of the sentence elements and permutation techniques. At last, the formal methods are applied to represent the analyzed data. Based on the possibility of P-S conversions, the inversion sentence in Javanese can also be distinguished into two types, i.e. optional and obligatory. Based on the possibility of the relative construction occurrence, there is particulaily another inversion type that features the relative construction with kang/sing (the relative pronoun) to be its relative indicator.
TINGKAT KEAKURATAN DAN KEBERTERIMAAN TERJEMAHAN KALIMAT YANG MENGAKOMODASI TINDAK TUTUR KOMISIF PADA NOVEL INSURGENT (THE ACCURACY AND ACCEPTABILITY OF TRANSLATION ON THE SENTENCES WHICH ACCOMODATE COMMISSIVE SPEECH ACT IN THE INSURGENT NOVEL) Novita Sumarlin Putri; M.R. Nababan; Djatmika Djatmika
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.607 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.154

Abstract

Tindak tutur komisif merupakan salah satu aspek pragmatik yang harus diperhatikan oleh penerjemah ketika menerjemahkan teks. Hal itu dilakukan agar menghasilkan terjemahan yang berkualitas dari aspek keakuratan dan keberterimaan. Berdasarkan alasan tersebut, penelitian ini bertujuan mendiskripsikan tingkat keakuratan dan keberterimaan terjemahan kalimat yang mengakomodasi tindak tutur komisif dengan pendekatan pragmatik. Data yang digunakan ialah tuturan komisif dan hasil penilaian kualitas terjemahan. Data bersumber dari novel Insurgent karya Veronica Roth dan informan. Data dikumpulkan dengan cara analisis dokumen, kuesioner dan Focus Group Discussion. Selanjutnya, data dianalisis dengan cara analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjemahan dalam novel Insurgent mempunyai nilai keakuratan dan keberterimaan yang cukup tinggi. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tingkat keakuratan dan keberterimaan pada setiap jenis tindak tutur komisif memiliki dampak terhadap kualitas keseluruhan terjemahan kalimat yang mengandung tindak tutur komisif.Commissive speech act is one of the pragmatic aspects to regard by the translator in translating the text. It aims to produce a qualified translation in regarding accuracy and acceptability aspects. According to the aspects, this research aims to describe accuracy and acceptability of translation in sentences which accommodate commissive speech act using pragmatic approach. The data used is commissive speech and qualitative translation value result. The sources of the data are an Insurgent novel by Veronica Roth and informants. The data were collected through document analysis, questionnaire, and Focus Group Discussion then analyzed the domain, taxonomic, componential analysis, and cultural theme. The result shows that translation in the Insurgent novel has high accuracy and acceptability values. This research concludes that the accuracy and acceptability level in each commissive speech act has an impact on quality of whole translated sentences which contain commissive speech act.
SASTRA MULTIKULTURAL: STUDI KASUS SASTRA DI YOGYAKARTA Imam Budi Utomo
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1960.213 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.54

Abstract

Tulisan ini bertujuan menemukan sebab-musabab dan dimensi kemultikulturalan sastra di Yogyakarta. Untuk melihat dimensi kemultikulturan tersebut digunakan kerangka berpikir multikultural. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Sementara itu, pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan minimal dua sebab terjadinya kemultikulturalan sastra di Yogyakarta, yaitu hidup dan berkembangnya berbagai kultur dan banyaknya pendatang pelajar/mahasiswa dari berbagai penjuru Tanah Air ke Yogyakarta. Sementara itu, terdapat dua dimensi kemultikulturalan sastra di Yogyakarta, yakni dimensi sastrawan (salah satu aspek ekstenal karya sastra) dan dimensi karya sastra (aspek internal karya sastra). Beragam kultur yang ditampilkan dalam karya sastra di Yogyakarta itu menunjukkan wajah yang multikultural (kultur yang beragam, tidak hanya terdiri atas satu kultur). Dalam konteks keIndonesiaan, pertumbuhan sastra multikultural, antara lairn, dapat menjadi sebuah sarana refleksi diri dan dapat bermanfaat sebagai alat pemersatu bangsa yang rawan terkoyak. This paper aims to find out causative and multicultural dimension on literature in Yogyakarta. Multicultural framework is used to view the multicultural dimension and, additionaly, qualitative method is used to perform research. Library research is performed to collect data. The result shows that literary multicultural in Yogyakarta occurs in the life and development of cultural complexity and the arrival of students from all over lndonesia to Yogyakarta. The two literary multicultural in Yogyakarta emerge on men of letters (one of the literary external aspects) and literary works dimension (literary internal aspect). Cultural variety performed in literary works in Yogyakarta shows multicultural face (various cultures, not only one culture). Growth of multicultural literature, in lndonesian context, inter-alia, is able to be a means of self-reflection and be beneficial to be unifying means of fragile nation.