cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
STRATEGI KEPENYAIRAN IMAN BUDHI SANTOSA DALAM ARENA SASTRA: KAJIAN SOSIOLOGI PIERRE BOURDIEU (POETRY STRATEGY OF IMAN BUDHI SANTOSA IN LITERARY FIELD: A STUDY ON SOCIOLOGY PIERRE BOURDIEU) Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 44, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.815 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i1.126

Abstract

Iman Budhi Santosa (IBS) di arena sastra Yogyakarta dikenal sebagai penyair legitimet, baik dipandang dari kualitas karya maupun konsekrasi dalam dunia sastra. Posisi IBS berkaitan erat dengan Persada Studi Klub (PSK), komunitas sastra yang dibimbing oleh Umbu Landu Paranggi. Penelitian ini akan mengkaji strategi IBS dalam mencapai posisi saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi IBS dalam mencapai posisi penyair saat ini dengan menggunakan teori sosiologi Pierre Bourdieu. Penelitian ini bersifat deskriptif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa IBS cenderung meng-gunakan strategi simbolik dalam pencapaiannya sebagai penyair dan posisinya sebagai pengasuh para penulis. Iman Budhi Santosa (IBS) in Yogyakarta literary arena known as a legitimate poet, either seen from his works quality or his consecration in the literary world. IBS position is closely related to Persada Studi Club (PSK), which is guided by Umbu Landu Paranggi. This study investigates the IBS strategy in achieving his current position. The research aims to find out IBS strategy in achieving the poet current position by using Pierre Bourdieu sociology theory. The research is a descriptive study. The analysis shows that IBS tends to use symbolic strategy in his achievement as a poet and his position as a tutor for writers.
APPENDIK admin WIDYAPARWA
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.902 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.159

Abstract

JENIS DAN ORIENTASI KRITIK SASTRA INDONESIA PADA SURAT KABAR DI KOTA SURABAVA Yulitin Sungkowati
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3421.114 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.59

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan jenis dan orientasi kritik sastra Indonesia pada dua surat kabar di kota Surabaya dengan pendekatan kritik sastra. Sumber data penelitian ini adalah surat kabar Surabaya Post dan larua Pos tahun 2001-2010. Data penelitian berupa data tulis. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode studi pustaka yang bertumpu pada teknik baca dan catat. Analisis data dilakukan secara deduktif-induktif-deduktif. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Pertama, berdasarkan jenisnya, kritik sastra di surat kabar Surabaya Post dan Jawa Pos adalah kritik impresionistik atau kritik nonilmiah dan kritik judisial atau kritik ilmiah dengan kecenderungan kritik impresionistik lebih dominan. Kedua, berdasarkan orientasinya, kritik sastra di Surabaya Post dan Jawa Pos dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu kritik mimetik, kritik ekspresif, kritik objektif, dan kritik pragmatik. Kritik yang paling dominan adalah kritik yang berorientasi pada karya sastra atau kritik objektif. This paper aims to describe kind and orientation of Indonesian literary critic in newspapers in Surabaya city using literary critic approach. Written data source were taken from Surabaya Post and Jawa Pos newspapers during 2001-201.0 and were analyzed using library research with reading and recording technique. The data was performed deductive-inductive-deductive analysis. The result shows; first, literary critic in Surabaya Post and Jawa Post newspapers, based on type, is impressionistic or non-scientific and judicial or scientific critics. lt means the impressionistic critics is more dominant. Second, literary critic in Surabaya Post and Jawa Pos newspapers, based on orientation, is classified into four; mimetic, expressive, objective, and pragmatic critics. The most dominant critic is critic that is oriented to literary works or objective critics.
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERITA PENDEK MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN POP-UP Fajarsih Darusuprapti; Haryanto Haryanto
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.894 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.315

Abstract

The research aims to improve the learning process and short story writing skills using pop-up media in 4th grade students of elementary school Muhammadiyah Sidokarto. Type of research class action model Kemmis and Mc Taggart. Subjects class 4th students totaling 20 students. Method of data collection research uses the method of testing, observation, and documentation. Data analysis techniques used quantitative and qualitative. The results of the study indicate that pop up media can improve short story writing skills. The process of improving learning to write short stories using pop-up media is students learn the material of short story elements, linguistic material, how to compile short story based on pop-up media, and write short stories using pop-up media. Improvement of short story writing skills first cycle 19.7 from the precycle average value of 59.9 to 79.6. The increase in short story writing skills the second cycle 25.85 from the pre-cycle average value to 85.75. Penelitian bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan keterampilan menulis cerita pendek menggunakan media pembelajaran pop-up siswa kelas IV SD Muhammadiyah Sidokarto. Jenis penelitian merupakan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc Taggart. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV berjumlah 20 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian menggunakan metode tes, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran pop-up dapat meningkatkan keterampilan menulis cerita pendek. Proses peningkatan pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan media pembelajaran pop-up dengan cara siswa mempelajari materi unsur-unsur cerita pendek, materi kebahasaan, cara menyusun kerangka cerita pendek berdasarkan media pembelajaran pop-up, danmenulis cerita pendek menggunakan media pembelajaran pop-up. Peningkatan keterampilan menulis cerita pendek pada siklus I sebesar 19,7 dari nilai rata-rata prasiklus sebesar 59,9 menjadi 79,6. Peningkatan keterampilan menulis cerita pendek pada siklus II sebesar 25,85 dari nilai rata-rata prasiklus menjadi 85,75.
CERITA RAKYAT “BELU MAU, SABU MAU, DAN TI’I MAU” SEBAGAI IKATAN TIGA SUKU BANGSA DAN NILAI KEARIFAN LOKAL Erwin Syahputra Kembaren; Salimulloh Tegar Sanubarianto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.198 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.792

Abstract

Geographically, Belu, Sabu, and Rote (Ti'i) are three regencies located on three islandsfar apart in the province of East Nusa Tenggara. The three islands, regencies, and ethnic groups share folk tales that have become legends and rarely known by society and even researched. The purpose of this research is to reveal the local wisdom values contained in the folk tales of "Belu Mau, Sabu Mau, and Ti'i Mau". The method used in this research is descriptive qualitative. Moreover, this study employed transcripts of stories from informants residing in Bello Village, Kupang City as sources of data. Interviews and observations were also conducted to collect data. The data were analyzed using the theory of sociology of literature from the perspective of Goldmann's genetic structuralism. Having analyzed, we can identify the local wisdom values  encompassed in the folk tales of "Belu Mau, Sabu Mau, and Ti'i Mau", they are (1) Brotherhood value, this value is upheld by the three ethnic groups where they place bro-therhood as the most essential bond, despite differences in religion, ethnicity, and geographical location; (2) Harmony value, it is a value based on mutual respect that has been maintained from generations; (3) Historical Value, it is the history of the three ethnic groups’ journeys which became a milestone in unifying their relationship; (4) Religiosity value, it means brotherhood bonds which agreed upon in a traditional custom always deal with the religiosity understanding of other supreme being power; (5) Juridical value, the eternity of brotherhood bonds lies in their descendants who are bound by customary oaths and agreements.Secara geografis, Belu, Sabu, dan Rote (Ti’i) merupakan tiga kabupaten yang berada di tiga pulau yang berjauhan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari tiga pulau, tiga kabupaten, dan tiga suku tersebut, terdapat cerita rakyat yang menjadi legenda dan jarang diketahui oleh masyarakat bahkan diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat “Belu Mau, Sabu Mau, dan Ti’i Mau”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah transkrip cerita dari informan di Kelurahan Bello, Kota Kupang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Data dianalisis dengan menggunakan teori sosiologi sastra dalam perspektif strukturalisme genetik Goldmann. Dari hasil analisis ditemukan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat “Belu Mau, Sabu Mau, dan Ti’i Mau”, yaitu  (1) nilai persaudaraan, merupakan nilai yang dijunjung tinggi oleh ketiga suku tersebut dan menempatkan persaudaraan jauh lebih penting dari perbedaan agama, suku, dan pulau tempat mereka berdomisili; (2) nilai kerukunan, nilai yang dilandasi oleh rasa saling hormat-menghormati yang dipertahankan secara turun-temurun; (3) nilai historis, merupakan sejarah perjalanan tiga suku yang menjadi tonggak dalam mempersatukan hubungan mereka; (4) nilai reli-giositas, ikatan persaudaraan yang disepakati dalam adat selalu berurusan dengan pemahaman religiositas dari kekuatan lain; (5) nilai yuridis, kelanggengan persaudaraan terletak pada keturunan yang diikat oleh perjanjian dan sumpah adat.
CONSTRUCTION OF NATION AND NATIONALISM IN 4 INDONESIAN NOVELS IN EUROPE Candra Rahma Wijaya Putra; Rose Fitria Lutfiana
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.988 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i1.416

Abstract

This study aims to understand the concept of nation and nationalism through four literary works with a European background. The approach of literary sociology in this study is used to look for forms of Indonesian nationalism in Europe. The aim is to find the source of self-depiction as an important element in constructing the concept of the nation. The results showed that the self-image as an Indonesian identity was aimed at citizenship, history, culture (language and food), race (ethnicity), and religion. Collective awareness about citizenship, history, culture, and race refers to the locally imagined community, namely the Indonesian people. Religion refers to the universal community. The five elements are at the same time a source of nationalism, both the nation in understanding local and universal communities.Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep bangsa dan nasionalisme melalui empat karya sastra berlatar Eropa. Pendekatan sosiologi sastra dalam penelitian ini digunakan untuk mencari pembeda nasionalisme Indonesia di Eropa. Tujuannya adalah mencari sumber penggambaran diri sebagai unsur penting dalam mengkonstruksi konsep bangsa. Hasil penelitian menunjukan bahwa gambaran diri sebagai identitas keindonesiaan ditujukan dalam kewarganegaraan, sejarah, budaya (bahasa dan makanan), ras (etnis), dan agama. Kesadaran kolektif tentang kewarganegaraan, sejarah, budaya, dan ras merujuk pada komunitas terbayang lokal, yaitu bangsa Indonesia. Agama merujuk pada komunitas universal. Kelima unsur tersebut sekaligus sebagai sumber nasionalisme, baik bangsa dalam pemahaman komunitas lokal maupun universal.
SAMPUL LUAR DEPAN BELAKANG NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.856 KB)

Abstract

KOHESI PADA NOVEL THE NAKED FACE DAN WAJAH SANG PEMBUNUH KARYA SYDNEY SHELDON (COHESION IN THE NAKED FACE NOVEL AND WAJAH SANG PEMBUNUH NOVEL BY SYDNEY SHELDON) Tri Apniani Sunarsih
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.339 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.117

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranti kohesi dalam novel The Naked Face dan Wajah Sang Pembunuh karya Sydney Sheldon, dan menjelaskan persamaan dan perbedaan penggunaan peranti kohesi yang terdapat dalam kedua novel tersebut. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan teknik simak dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranti kohesi yang terdapat dalam novel The Naked Face dan Wajah Sang Pembunuh terdiri atas (1) referensi, (2) substitusi, (3) elipsis, (4) konjungsi, (5) kohesi leksikal dengan berbagai persamaan dan perbedaan pada penggunaannya. Persamaan penggunaan peranti kohesi dalam novel The Naked Facedan novel padanannya, yaitu Wajah Sang Pembunuh, yakni pada peranti kohesi referensi, substitusi, konjungsi, elipsis, dan kohesi leksikal. Perbedaannya, terjadi pada penggunaan peranti referensi, substitusi, konjungsi, dan kohesi leksikal. This research aims to describe the cohesion markers in Sydney Sheldon work The Naked Face, and Wajah Sang Pembunuh, and to explain the similarities and differences of the use of cohesion markers in both novels. This is a qualitative descriptive research. The data are gathered through reading and taking notes method. The results of the research show that the cohesion markers in the novel of The Naked Face and Wajah Sang Pembunuh: (1) reference, (2) substitution, (3) ellipsis, (4) conjunction, and (5) lexical cohesion. There are some similarities and differences in the use of cohesion markers in the novel of The Naked Face and their correspondence in the novel of Wajah Sang Pembunuh. The similarities of cohesion markers appear on reference, substitution, conjunction, ellipsis, dan lexical cohesion. Meanwhile, the differences are in the use of reference, substitution, conjunction, and lexical cohesion.
REPRESENTASI KESENIAN LOKAL MASYARAKAT JAWA PADA MASA ORDE BARU DALAM NOVEL ENTROK KARYA OKKY MADASARI Adella Rizkia; Resti Nurfaidah
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.099 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1045

Abstract

Local wisdom is the overall cultural characteristics possessed by a society or nation as a result of their experiences in the past. This local wisdom can be in the form of rituals, customs, arts, and others. This research focuses on local Javanese arts during the New Order era. With the aim of identifying elements of local art and knowing how people think when art is only used by power as a tool of political propaganda based on the perspective of Levi Strauss' anthropological structuralism theory. This research is a qualitative research. The research data is sourced from the novel Entrok by Okky Madasari. Research data were collected using the technique of reading, listening, and taking notes. The results of data processing are realized in the form of scientific articles. Based on a search on the data, it was found that during the New Order era, local arts were controlled by the government for political purposes as indicated by the way people think, such as the figure Rahayu who criticized the function of art during the election victory; Marni's figure who disagrees with the government's policy when art is only used as propaganda; and the pragmatic and suspicious mindset of the people.Kearifan lokal merupakan keseluruhan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau bangsa sebagai hasil pengalaman mereka di masa lampau. Kearifan lokal ini dapat berupa ritual, adat istiadat, kesenian, dan lain-lain. Penelitian ini berfokus pada kesenian lokal masyarakat Jawa pada masa Orde Baru. Dengan tujuan untuk mengindetifikasi unsur-unsur kesenian lokal dan mengetahui cara berpikir masyarakat saat kesenian hanya digunakan oleh kekuasaan sebagai alat propaganda politik berdasarkan perspektif teori strukturalisme antropologi Levi Strauss. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data penelitian bersumber pada novel Entrok karya Okky Madasari. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik baca, simak, dan catat. Hasil pengolahan data diwujudkan dalam bentuk artikel ilmiah. Berdasarkan penelusuran pada data, didapati bahwa pada masa Orde Baru kesenian lokal dikuasai oleh pemerintah untuk kepentingan politik yang ditunjukkan dari cara berpikir masyarakat, seperti tokoh Rahayu yang mengkritisi fungsi kesenian kala kemenangan pemilu; tokoh Marni yang tidak setuju akan kebijakan pemerintah saat kesenian hanya digunakan sebagai propaganda; serta pola pemikiran masyarakat yang pragmatis dan mudah menaruh curiga.
SISTEM KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BALI lda Ayu Mirah Purwiati
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2369.245 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.49

Abstract

Setiap bahasa di dunia memiliki cara untuk mengungkap kausatif. Comrie (1988) menyebutkan bahwa konstruksi kausatif selalu berisi dua komponen situasi, yaitu situasi penyebab (causer) dan akibat (effect).Situasi itu dapat diungkap dengan tiga cara, yaitu leksikal, morfologi, dan sintaksis. Dari penerapan teori itu yang dibantu dengan metode agih (Sudaryanto, 1993) didapatkan bahwa kausatif bahasa Bali terjadi secara leksikal melalui verba tertentu seperti verba nga'membuat', secara sintaksis dengan verba kompleks dan penghubung kerana 'karena', dan secara morfologi dengan afiksasi (-ang) pada verba takkausatif transitif, misalnya ngadas 'memelihara' -->ngadasang 'memeliharakan ... kepada '. Every language in the world has its way to reveal causative. Comrie (1988) mentions that causative construction always contains two situational components, that is causer and effect. Situation could be explained with lexically, morphologically, and syntactically. The research with distributive method (Sudaryanto, 1993) shows that causative in Bali language occurs lexically through particular verbs nga/strong> 'to make', syntactically through complex verbs and conjunction kerana'because', and morphologically through affixation (-ang) on transitive verbs, like ngadas 'to maintain --> ngadasang 'to maintain... to. . .'.