cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
RELASI WONG CILIK DAN PRIYAYI DALAM PASAR, PENGAKUAN PARIYEM, DAN GADIS PANTAI (RELATIONSHIP BETWEEN THE GRASSROOTS (WONG CILIK) AND THE NOBLEMAN (PRIYAYI) IN PASAR, PENGAKUAN PARIYEM, AND GADIS PANTAI) Ratun Untoro
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.362 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.136

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap konsep hidup bahagia orang Jawa melalui relasi antara wong cilik dan priayi dalam tiga novel Pasar, Pengakuan Pariyem, dan Gadis Pantai. Relasi-relasi ter-sebut diperoleh dengan mencari ceritheme dan mitheme berupa tindakan dan cara pandang tokoh-tokoh menggunakan model teori strukturalisme Levi-Strauss. Ceritheme dan mitheme tersebut di-gunakan untuk mencari struktur dasar (surface structure) berupa pasangan-pasangan oposisi. Hal itu untuk mengantarkan pada temuan struktur nirsadar (deep structure) berupa cara pandang atau cara berpikir manusia. Oleh karena ketiga novel tersebut merupakan novel etnografi dengan latar belakang budaya Jawa, penelitian ini menemukan model cara berpikir manusia Jawa, khususnya mengenai hubungan antara wong cilik dan priayi. Ditemukan pula bahwa derajat wong cilik dan priayi tidak memengaruhi tingkat kebahagiaan manusia Jawa. The research is aimed to reveal Javanese happy life concept through relationship between the grass-roots and the nobleman in three novels, namely Pasar, Pengakuan Pariyem and Gadis Pantai. The relations are obtained by searching ceritheme and mitheme in form of action and character point of view using the theoretical model of Levi-Strauss structuralism. Mitheme and ceritheme are used to find surface structure in form of opposition pairs. The ceritheme and mitheme even-tually lead to discovery of deep structure in the form of point of view or way of human thinking. Therefore, the three novels are a ethnographical novels with Javanese cultural background. This re-search suggests the Javanese mans model of thinking, particularly the relationship between the grassroots and the nobleman. It is also found out that the grassroot status and the nobleman status do not affect the level of Javanese mans happiness.
PELAKSANAAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM WACANA LISAN BAHASA JAWA Wiwin Erni Siti Nurlina
Widyaparwa Vol 39, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1955.388 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i2.32

Abstract

Melalui percakapan, kita membentuk hubungan dengan orang lain; menjalin kerja sama, membangun pertengkaran, mempertahankan hubungan, atau terbukanya hubungan yang lebih jauh, dan sebagainya. Pembahasan dengan topik tersebut bertujuan untuk mengetahui dan memahami kekhasan komunikasi yang ada dalam bahasa JawA. Kajian di sini menggunakan pendekatan pragmatis, yang dikhususkan dalam hal prinsip kooperatif (Grice, 1975), dengan empat jenis maksim, yaitu (a) maksim kuantitas, (b) maksim kualitas, (c) maksim relevansi, dan (d) maksim cara. Artinya, pembahasan difokuskan pada realisasi empat maksim dalam ujaran-ujaran bahasa Jawa. Berkaitan dengan itu, metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif yang dibantu dengan metode padan pragmatis. Hasil kajian dengan teori dan metode tersebut terwujud dalam ujaran-ujaran bahasa Jawa yang menunjukkan pelaksanaan prinsip kerja sama. Ujaran-ujaran yang dibentuk dengan prinsip kerja sama tersebut memperlihatkan ciri-ciri tertentu.Peopte usually build social relationship through conversation; to cooperate with each other, to dispute, to keep friendship, or even to make relationships more serious, etc. The discussion on this topic is meant to find out and to comprehend the specific charscteristics of communication in Javanese language. This study uses pragmatic approach, specially Grice's cooperatioe principle, which consists of four maxims, i.e. (a) maxim of quantity, (b) maxim of quality, (c) maxim of relation (relevance), and (d) maxim of manner. This means that the analysis focus mainly on the realization of the four maxim in Javanese spoken discourses. On this case, the analysis applies qualitative descriptive complemented with the pragmatic method of padan (replacement). The result of the analysis based on the method and theory is carried out in spoken discourses of Javanese language to prove the implementation of the cooperatiue principles. The cooperatiae principles' based spoken discourses disclose particular characteristics of Javanese spoken discourses.
HUMOR DALAM RAMBU LALU LINTAS Edi Setiyanto
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.342 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.206

Abstract

This study discusses about humor in traffic signs. This study discusses three issues, namely the theme of signs, the structure of discourse signs, and the strategy of creating humor. The study is eclectic by utilizing a structural approach and a pragmatic approach. Structural approach to describing the structure of the discourse in order to accommodate humor. Pragmatic approach to describe the theme of signs and strategies for creating humor. This study is qualitative descriptive. Data in the form of humorous traffic signs. Data is obtained by using the refer method, annotated recording technique. Annotations are imposed on the discourse elements that are not in the form of text, for example photos, ornaments, font size, layout. The listening is done online on sites that upload humorous traffic signs. Data that was originally in the form of memes was transcribed by following standard writing rules. After selection, the data used amounted to 31. Based on the study, it was concluded that the element of humor in traffic signs was realized due to the peculiarities of the structure of the discourse. Humor is built because there is a violation of (1) the maxim of quality, (2) the maxim of relevance, and (3) the maximal way. Violation of the maxim of the way regarding violations of submaxim (a) continuity, (b) lack of triviality, and (c) lack of excess.Kajian ini membahas humor dalam rambu lalu lintas. Kajian ini membahas tiga permasalahan, yaitu tema rambu, struktur wacana rambu, dan strategi penciptaan humor. Kajian bersifat eklektik dengan memanfaatkan pendekatan struktural dan pendekatan pragmatik. Pendekatan struktural untuk mendeskripsikan struktur wacana demi terakomodasinya humor. Pendekatan pragmatik untuk mendeskripsikan tema rambu dan strategi penciptaan humor. Kajian ini bersifat kualitatif deskriptif. Data berupa wacana rambu lalu lintas yang berunsurkan humor. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak, teknik catat beranotasi. Anotasi dikenakan pada unsur wacana rambu yang tidak berupa teks, misalnya foto, ornamen, ukuran huruf, tata letak. Penyimakan dilakukan secara online atas situs-situs yang mengunggah rambu lalu lintas berunsur humor. Data yang semula berupa meme ditranskrip dengan mengikuti kaidah penulisan yang baku. Sesudah diseleksi, data yang digunakan berjumlah 31. Berdasarkan kajian, disimpulkan bahwa unsur humor dalam rambu lalu lintas terwujud karena kekhasan struktur wacananya. Humor terbangun karena adanya pelanggaran terhadap (1) maksim kualitas, (2) maksim relevansi, dan (3) maksim cara. Pelanggaran terhadap maksim cara berkenaan dengan pelanggaran terhadap submaksim (a) kelangsungan, (b) ketakambiguan, dan (c) ketakberlebihan.
DINAMIKA PENGARANG NOVEL JAWA TAHUN 1960-1965: 2 ANY ASMARA Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2044.601 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.70

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan dinamika pengarang novel Jawa Any Asmara sebagai penggerak tindakan, pemikiran dan representasi dunia kepengarangan Jawa tahun 1960-1965. Teori yang diterapkan adalah teori sosiologi Pierre Bordieu, habitus. Habitus adalah mindset seseorang yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi tertentu yang dihadapinya. Pengetahuan individual memiliki kekuatan konstitutif (membangun yang esensial) dan bukan sekedar refleksi dari dunia nyata. Habitus selalu dinamis sesuai dengan waktu bagi individual atau dengan secara regeneratif. Disposisi (persepsi, pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama) Any Asmara (habitus) selalu menyesuaikan dengan kondisi yang berkembang di dalam masyarakatnya dan persoalan yang dihadapi. Ia berhasil dan berani membangun ketenaran karena sikapnya tidak patuh dalam aturan-aturan yang berlaku pada zamannya. Any Asmara yang menjadi sumber penggerak tindakan, pemikiran, dan representasi kepengaran dunia sastra Jawa. This research aims to reveal dynamic of Javanese author, Any Asmar, as motor for action, thought, and Javanese authorship representation in 1960- 1965. This research is conducted using sociology theory of Pierre Bordieu, habitus. Habitus is mindset of someone that is suited to particular condition he faced. lndividual knowledge has constitutive power (building the essential) and not merely reflection ofre1l world. Habitus is dynamic in time accordance or regeneratively. Disposition (perception, thought, and obtained and endured actions) of Any Asmara (habitus is always appropriate to developing condition among society and his faced problems'. He was succeded and brave to build famous for his attitude in disobeying rules in his age' Any 'Asmara is source of action motor, thought, and authority representation in Javanese literature.
PROSES KREATIF DAN KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL BABAD NGALOR-NGIDUL KARYA ELIZABETH D. INANDIAK Bunga Hening Maulidina; Edy Suryanto; Nugraheni Eko Wardani
Widyaparwa Vol 47, No 2 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.588 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i2.187

Abstract

This study aims to describe and explain the creative process of authors and social criticism found in Babad Ngalor-Ngidul novel. This research use desciptive qualitative approach. Data sources in the form of Babad Ngalor-Ngidul novels by Elizabeth D. Inandiak and author interviews and data collection were carried out by purposive sampling. Data were analyzed based on the author's creative process theory and literary sociology in the form of speech, sentence, or discourse contained in the data source. Data is filtered and classified according to research objectives, which are related to the creative process of authors and social criticism. The results of the study stated that there is a connection between the creative process of the author and social criticism in the Babad Ngalor-Ngidul novel. The author's creative process is based on the eruption and earthquake events in Yogyakarta, and is influenced by the interaction of the author with the community of Kinahrejo and Bebekan. The criticisms contained in the Babad Ngalor-Ngidul novel are social, cultural and political criticisms of the dynamics of post-disaster community change. The creative process of the author and the delivery of the message of criticism are intertwined in the moderate position of literature as a form of sanctification (catharsis), and healing.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan proses kreatif pengarang dan kritik sosial yang terdapat pada novel Babad Ngalor-Ngidul. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data berasal dari novel Babad Ngalor-Ngidul karya Elizabeth D. Inandiak dan hasil wawancara pengarang serta pengambilan data dilakukan secara purposive sampling. Data dianalisis berdasarkan teori proses kreatif pengarang dan sosiologi sastra yang berupa tuturan, kalimat, atau wacana yang terdapat dalam sumber data. Data disaring dan diklasifikasikan sesuai tujuan penelitian, yakni terkait dengan proses kreatif pengarang dan kritik sosial. Hasil penelitian mengemukakan bahwa terdapat kaitan antara proses kreatif pengarang dan kritik sosial yang ada dalam novel Babad Ngalor-Ngidul. Proses kreatif pengarang dilandasi atas peristiwa erupsi dan gempa di Yogyakarta serta dipengaruhi interaksi pengarang dengan masyarakat Kinahrejo dan Bebekan. Adapun kritik yang terdapat dalam novel Babad Ngalor-Ngidul adalah kritik sosial, budaya, dan politik atas dinamika perubahan masyarakat pascabencana. Proses kreatif pengarang dan penyampaian pesan kritik berkelindan dalam posisi moderat karya sastra sebagai bentuk penyucian (katarsis) serta penyembuhan.
MODEL KEPENGAYOMAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X SAAT PANDEMI MELALUI TUTURAN “TIDHA-TIDHA” DALAM SAPA ARUH Marcelinus Justian Priambodo
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.146 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.847

Abstract

This research aims to describeconcept from 'tidha-tidha’ and analyze the affect of the concept of 'tidha-tidha' made by Sri Sultan Hamengku Buwono X  with the conceptual metaphor of the coronavirus in the society of Yogyakarta. Data in this research is internal because it is only based on the reading of Serat Kalatidha and the transcript of Sri Sultan Hamengku Buwono X's speech. This research method uses the theory ofconceptual errors in cognitive linguistic. Sri Sultan Hamengku Buwono X interprets ‘tidha-tidha’ as contemplation with ourselves, others, and God. This new disaster has made people aware of the importanceof health as a form of gratitude that must be attempted. The results reveal that perspective and frame affect the meaning of 'tidha-tidha’ made by Sri Sultan Hamengku Buwono X. The creation of this meaning has three functions consisting representative, directive, and declaration to change the conceptual metaphor of society. In his role as governor, Sri Hamengku Buwono X must change the way og communication as the leadership model and at the same time to respond that new disaster. The leadership model can be seen from the directions and instructions in the speech that are easy to understand through the intentional conceptual errors.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ‘tidha-tidha’ dan menganalisis pengaruh makna ‘tidha-tidha’ ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan metafora konseptual pandemi corona masyarakat DIY. Data penelitian bersifat data internal karena hanya berdasarkan pembacaan Serat Kalatidha dan hasil transkrip pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang menggunakan teori erata konseptual linguistik kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif dan frame dan memengaruhi pembentukan makna ‘tidha-tidha’ ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sri Sultan Hamengku Buwono X memaknai ‘tidha-tidha’ sebagai kontemplasi dengan diri sendiri, sesama, dan Sang Pencipta.Bencana baru ini menyadarkan manusia pentingnya kesehatan sebagai rasa syukur yang harus diusahakan. Penciptaan makna ini memiliki tiga fungsi yaitu representatif, direktif, dan deklarasi dalam upaya mengubah metafora konseptual masyarakat. Dalam perannya sebagai gubernur, Sri Sultan Hamengku Buwono X harus mengubah cara komunikasisebagai bentuk pengayoman sekaligus menyikapi keadaan baru tersebut. Model pengayoman terlihat dari arahan dan petunjuk dalam pidato yang mudah dipahami melalui erata konseptual kesengajaan. 
MODAL-MODAL MAJALAH PAGAGAN: TINJAUAN SOSIOLOGI PIERRE BOURDIEU Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3330.897 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.95

Abstract

Keajegan penerbitan majalah Pagagan sejak tahun 1992 hingga 2014 memunculkan asumsi bahwa ada modal-modal tertentu yang menyebabkan majalah ini dapat bertahan. Modal-modal yang menunjang penerbitan Pagagan diasumsikan mendorong timbulnya praktik-praktik atau strategi pengelolaan penerbitan yang dilakukan oleh redaksi sehingga Pagagan mampu bertahan hingga 2014. Kajian ini bertujuan mengungkap modal-modal yang mendukung majalah Pagagan untuk dapat bertahan. Kajian ini menggunakan gagasan sosiologi Pierre Bourdieu tentang produksi karya sastra dipandang dari modal-modal yang melingkupi terbitnya karya sastra. Kajian ini bersifat deskriptif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa modal ekonomi, simbolik, dan kultural mendorong timbulnya strategi-strategi redaksi yang menyebabkan Pagagan dapat hadir hingga tahun 2014. Dari ketiga modal tersebut, modal terkuat pendukung Pagagan adalah modal kultural. The constancy of Pagagan magazine since L992 to 20L4 emerges an assumption that there are certain capitals that make this magazine survive. The modals that support Pagagan publishing are assumed to force the emergence of practices or publishing management strategy that is carried out by editorial staff so that Pagagan has been able to survive until2014. This study is aimed at revealing supporting capitals of Pagagan magazine in order to be able to survive. This study uses Pierre Bourdieu's sociology idea on literary piece production viewed from capitals that encompass the literary piece publication. This study is descriptive. The result of analysis shows that economy, symbolic, and cultural capital drives the emergence of editorial strategy that causes Pagagan to exist until 2014. From the three capitals, the strongest supporting capital of Pagagan is cultural capital.
POWER AND DOMINANCE: A MODALITY ANALYSIS OF PRABOWO SUBIANTO’S NATIONAL ADDRESS ‘INDONESIA WINS’ Indah Utami Chaerunnisah
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.199 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.303

Abstract

This study examines Prabowo’s speech during the first national address of the 2019 pre-election campaign. It aims at revealing the types of modality, modal value, and modal responsibility employed in the speech, and describing how the choice of modality reflects Prabowo’s attitude and strategy to win the 2019 presidential election. This study is qualitative research that applies Halliday’s theory of modality in systemic functional grammar. The results reveal that 1) he used modulation inclination frequently to show his determination to help people, 2) the dominant use of median modal value in inclination reveals that rather than determined he is just keen to help, the domination of high modal value in obligation signified that he believes he has the power to make people follow his instruction, and the frequent use of low modal value in probability indicated that he is not certain about the information he shares, 3) the domination of subjective implicit subject shows that Prabowo tend to emphasize his dominance and superiority in the communication process, and he strongly believes that he can realize all his promises when he becomes the president and he is ready to take responsibility if he cannot.Penelitian ini menganalisis pidato kebangsaan Prabowo Subianto dalam kampanye pra-pemilu 2019. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan tipe-tipe modality, modal value dan modal responsibility  yang dipakai Prabowo dalam pidato tersebut, dan untuk menjelaskan bagaimana pilihan modality tersebut merefleksikan sikap dan strategi Prabowo dalam visi misinya untuk memenangkan pemilu 2019. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan teori modality dalam Systemic Functional Grammar oleh Halliday. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Prabowo menggunakan modulation inclination untuk menunjukkan tekad membantu rakyat dan membawa Indonesia kearah yang lebih baik, 2) dominasi penggunaan  modal berskala medium keinginan (inclination) menunjukkan bahwa Prabowo hanya berkeinginan untuk membantu negara, tidak sampai tahap bertekad, dominasi penggunaan modal berskala tinggi dalam tipe kewajiban (obligation) menunjukkan kepercayaan diri Prabowo bahwa ia memiliki kekuasaan untuk membuat pendukungnya menuruti perintahnya, dominasi penggunaan modal berskala rendah dalam tipe kemungkinan (probability) menunjukkan bahwa Prabowo tidak terlalu yakin akan informasi yang ia bagikan dalam pidatonya, 3) dominasi penggunaan subjek implisit subjektif menunjukkan bahwa Prabowo cenderung menggunakan gaya komunikasi dimana dia menjadi pihak yang dominan dan superior, dan ia sangat percaya ia dapat menepati semua janjinya saat ia terpilih dan siap menghadapi konsekuensinya jika tidak dapat menepati janji-janji tersebut.
KRISIS LINGKUNGAN DALAM CERPEN SURAT KABAR HARIAN KEDAULATAN RAKYAT TAHUN 2018 Bella Berliana; Teguh Trianton
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.473 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.759

Abstract

The focus of this study is how the forms of environmental crises are presented in the short stories of the 2018 edition of the Kedaulatan Rakyat Daily Newspaper. This research belongs to the category of qualitative research with qualitative content analysis methods. The approach used is literary ecocriticism. The results showed that there were six short stories that raised the issue of the environmental crisis. The six short stories reflect nine forms of environmental crises which include: (1) forest destruction, (2) soil damage, (3) ozone layer damage, (4) water pollution, (5) air pollution, (6) waste, (7 ) the extinction of springs, (8) the extinction of biodiversity, and (9) the food crisis (social problem). These forms of environmental crises are caused by human behavior that exploits natural resources irresponsibly.Fokus kajian ini adalah bagaimana bentuk-bentuk krisis lingkungan hidup yang terpresentasi pada cerpen-cerpen Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat edisi tahun 2018. Penelitian ini termasuk kategori penelitian kualitatif dengan metode analisis isi kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah ekokritik sastra. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam cerpen yang mengangkat isu tentang krisis lingkungan hidup. Enam cerpen tersebut merefleksikan sembilan bentuk krisis lingkungan hidup yang meliputi: (1) kerusakan hutan, (2) kerusakan tanah, (3) kerusakan lapisan ozon, (4) pencemaran air, (5) pencemaran udara, (6) sampah, (7) kepunahan mata air, (8) kepunahan keanekaragaman hayati, dan (9) krisis pangan (masalah sosial). Bentuk-bentuk krisis lingkungan hidup tersebut disebabkan oleh perilaku manusia yang melakukan eksploitasi sumber daya alam secara tidak bertanggung jawab.
BENTUK DAN FUNGSI SINTAKSIS LOKATIF DALAM BAHASA BALI lda Ayu Putu Aridawati
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2579.011 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.60

Abstract

Lokatif merupakan salah satu peran sintaksis, yaitu fungsi semantik yang diberikan kepada konstituen yang secara intrinsik bermakna tempat. Teori yang diterapkan dalam penelitian ini adalah teori linguistik struktural. Selain itu, digunakan juga teori tagmemik yang dikemukakan oleh Kenneth L. Pike dan Evellm G. Pike (1982). Dalam pengumpulan data dipergunakan metode lapangan dan metode pustaka, dibantu dengan teknik elisitasi, catat rekam, dan terjemahan. Dalam analisis data digunakan metode padan refrensial dan metode distribusional. Teknik lanjutan berupa teknik hubung banding menyamakan (HBS), teknik hubung banding membedakan (HBB), teknik ganti dan teknik perluas. Bahasan dalam tulisan ini meliputi dua hal, yaitu (1) bentuk lokatif dalam bahasa Bali dan (2) fungsi sintaksis lokatif dalam bahasa Bali. Secara bentuk, peran lokatif diisi oleh kata, frasa, dan klausa. Berdasarkan fungsi sintaksisnya, peran lokatif dapat menempati fungsi sintaksis subjek, objek, dan keterangan. Locative is one role of syntactic, semantic functions namely the content provided to constituents who are intrinsically semantically meaningful place. The theory is applied in this study is the theory of structural linguistics. ln addition, also used tagmemik theory proposed by Kenneth L. Pike and Evelyn G. Pike (198D. ln the field of data collection methods used and the method of literature reoieus, assisted with elicitation techniques, record, and translation. In the analysis of the data used and the method of equivalent refrensial distributional methods. The method advanced techniques such as circuit techniques appeal to equate (HBS) and circuit techniques to distinguish appeal (HBB), engineering change (substitution) and techniques expand (expansion). The discussion in this paper covers two things: (1) locative forms in Balinese and (2) the syntactic functions of locative in Balinese. ln this form, the role of locative filled by words, phrases, and clauses. Based on the function syntax, locative des can occupy the subject syntactic functions, objects, and information.