cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH Larissa Amadea Pudyastuti; Zamzani Zamzani
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.264 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.316

Abstract

This study aims to describe (1) the type of conversational implicature, (2) the function of conversational implicature,  and (3) the reasons of using conversational implicatures, in  Indonesian Learning. The data source of the research are Indonesian teachers’ utterances and the data are conversational implicatures in process of learning Indonesian and equipped with context. Data obtained by recording and observation techniques. The method used in this study is a quailtative descriptive method. The results of the study show (1) the types of conversational implicatures used by teachers are generalized conversation implicatures and particularized conversation implicatures. The use of generali-zed and particularized conversational implicatures describes natural and humanistic communication between teachers and students in a vibrant and dynamic atmosphere. (2) Conversational implicature functions is assertive, expressive, directive, and commissive. (3) The reason of  using conversational implicatures is to makes utterance soft so the hearer not be offended and to give indirectness command.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan jenis implikatur percakapan, (2) mendeskripsikan fungsi tuturan berimplikatur percakapan, dan (3) mendeskripsikan alasan penggunaan implikatur per-cakapan khususnya pada pembelajaran bahasa Indonesia. Sumber data penelitian ini ialah tuturan guru bahasa Indonesia, sedangkan data dalam penelitian ini berupa implikatur percakapan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dan dilengkapi dengan konteks. Data diperoleh dengan teknik rekam dan observasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif. Hasil pe-neli­tian ini menunjukkan bahwa (1) jenis implikatur percakapan yang digunakan oleh guru adalah im­plikatur percakapan umum dan implikatur percakapan khusus. Penggunaan implikatur percakapan umum dan khusus menggambarkan komunikasi yang natural dan humanis antara guru dengan siswa dalam suasana yang hidup dan dinamis. (2) Fungsi tuturan berimplikatur percakapan berupa fungsi asertif, fungsi ekspresif, fungsi direktif, dan fungsi komisif. (3) Alasan digunakannya implikatur perca-kapan ialah untuk memperhalus ucapan agar siswa tidak tersinggung dan untuk memberikan perintah tidak langsung
PERAN WANITA JAWA DALAM SERAT WULANG ESTRI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Sri Mulyani; NFN Mulyana
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.741

Abstract

The role of Javanese women as a companion and responsible for the survival of family life. Serat Wulang Estri was one of the works of Javanese literature which contains the advices or teachings of a father to his daughter. This contains about the attitude of women who have been married to husbands who should be taught to Javanese women since they were teenagers. The concept of Javanese women in general society tends to see women as human beings who have roles behind or called "kanca wingking" in Javanese culture. This study will describe the role of Javanese women listed on Serat Wulang Estri in families and communities in the era of the 4.0 Industrial Revolution. The research method used is a qualitative descriptive research and modern philology. Data collection is done by reading the script and then done transliteration and paraphrase in Indonesian language. The instruments used are data cards that are then analyzed in a qualitative descriptive and test the validity of the data using interater. The results of the research obtained were the role of women who have a husband who is a life companion and the responsibility of household sustainability denoted by the jempol, panuduh, panunggul, jari manis, and jenthik in the era of industrial revolution 4.0. The industrial revolution 4.0 is related to three main characters, namely innovation, automation, and digital-based information transfer. This research can be used to reference the attitude of married women to participate in the family by following the development of the era.The role of Javanese women as a companion and responsible for the survival of family life. Serat Wulang Estri was one of the works of Javanese literature which contains the advices or teachings of a father to his daughter. This contains about the attitude of women who have been married to husbands who should be taught to Javanese women since they were teenagers. The concept of Javanese women in general society tends to see women as human beings who have roles behind or called "kanca wingking" in Javanese culture. This study will describe the role of Javanese women listed on Serat Wulang Estri in families and communities in the era of the 4.0 Industrial Revolution. The research method used is a qualitative descriptive research and modern philology. Data collection is done by reading the script and then done transliteration and paraphrase in Indonesian language. The instruments used are data cards that are then analyzed in a qualitative descriptive and test the validity of the data using interater. The results of the research obtained were the role of women who have a husband who is a life companion and the responsibility of household sustainability denoted by the jempol, panuduh, panunggul, jari manis, and jenthik in the era of industrial revolution 4.0. The industrial revolution 4.0 is related to three main characters, namely innovation, automation, and digital-based information transfer. This research can be used to reference the attitude of married women to participate in the family by following the development of the era. Keywords: Role of Javanese women; Serat Wulang Estri; Industrial Revolution 4.0AbstrakPeran wanita Jawa sebagai pendamping suami dan penanggung jawab keberlangsungan kehidupan keluarga. Serat Wulang Estri merupakan salah satu hasil karya sastra Jawa yang memuat tentang piwulang atau ajaran seorang ayah kepada anak perempuannya. Piwulang tersebut berisi tentang sikap wanita yang sudah berumah tangga kepada suami yang seharusnya diajarkan kepada wanita Jawa sejak masih remaja. Konsep wanita Jawa dalam masyarakat umum cenderung melihat wanita sebagai manusia yang mempunyai peran domestik atau disebut “kanca wingking” dalam budaya Jawa. Penelitian ini akan mendeskripsikan peran wanita Jawa yang tercantum pada Serat Wulang Estri dalam keluarga dan masyarakat di era revolusi industri 4.0. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif  dan filologi modern. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca naskah kemudian dilakukan transliterasi dan parafrase dalam bahasa Indonesia.  Instrumen yang dipakai berupa kartu data kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan uji validitas data dengan cara interater. Hasil penelitian yang diperoleh ialah peran wanita yang sudah bersuami yaitu menjadi pendamping hidup dan penanggung jawab keberlangsungan rumah tangga yang dilambangkan dengan jempol, panuduh, panunggul, jari manis, dan jenthik pada era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 ini berkaitan dengan tiga kakater utamanya yaitu inovasi, otomasi, dan transfer informasi yang berbasis digital. Penelitian ini dapat digunakan untuk referensi sikap wanita yang sudah menikah untuk berperan dalam keluarga dengan mengikuti perkembangan jaman.
RADIKALISME ISLAM POPULER: ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP BAHASA USTAZ SELEBRITIS DALAM AKSI BELA ISLAM Makyun Subuki
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1298

Abstract

The sequences of actions to defend Islam at the end of 2016 were often called the rise of Indonesia's radical Islam. This paper attempts to describe the Indonesian radical Islamic movement in motivating the masses to engage in acts of defending Islam. The data in this paper comes from the discursive practices of islamic televangelists quoted in the mass media. The data was collected through document study and categorized based on the Fairclough model of critical discourse analysis framework. Based on the analysis conducted, there are three important findings. First, textually, the discursive practices of islamic televangelists mobilizing people in actions to defend Islam have an intertextual relationship with the discursive practices of radical Islamic figures in Indonesia. Second, their discursive practices eventually form an order of discourse regarding Islamic movements from the point of view of radical popular Islam. Third, based on an analysis of the dimensions of social practice, the order of discourse regarding Islamic movements will further motivate Muslims to engage in actions to defend Islam.Rangkaian aksi bela Islam di akhir 2016 disebut sebagai bangkitnya Islam radikal Indonesia. Tulisan ini mencoba untuk memerikan gerakan Islam radikal Indonesia dalam memotivasi massa untuk terlibat dalam aksi bela Islam. Data dalam tulisan ini berasal dari praktik diskursif ustaz selebritis yang dikutip di media massa. Data dikumpulkan melalui studi dokumen dan dikategorisasi berdasarkan kerangka kerja analisis wacana kritis model Fairclough. Berdasarkan analisis yang dilakukan, terdapat tiga temuan penting. Pertama, secara tekstual, praktik diskursif ustaz selebritis menggerakkan umat dalam aksi bela Islam memiliki hubungan intertekstual dengan praktik diskursif tokoh Islam radikal di Indonesia. Kedua, praktik kewacanaan mereka akhirnya membentuk sebuah order of discourse mengenai gerakan Islam dari sudut pandang Islam populer yang radikal. Ketiga, berdasarkan analisis dimensi praktik sosial, order of discourse tentang gerakan Islam selanjutnya turut memberikan motivasi kepada umat Islam terlibat dalam aksi bela Islam.
PERUNDUNGAN SIBER SEBAGAI PRAKTIK KEJAHATAN BERBAHASA DALAM AKUN INSTAGRAM PUAN MAHARANI Ixsir Eliya; Anang Santoso; Febri Taufiqurrahman
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1219

Abstract

Cyberbullying can be experienced by anyone, including one Indonesian female politician, namely Puan Maharani. This study aims to describe the forms and patterns of cyberbullying as a practice of language crimes against Puan Maharani on Instagram and to describe the legal potential for cyberbullying. This research uses a qualitative approach with a forensic linguistic. The data were collected using documentation technique and analyzed using Milles & Huberman analysis model on the utterances indicated to contain language crime practices. The results of the study show that in the accounts of Indonesian female politicians, namely Puan Maharani, there are comments that contain cyberbullying as a practice of language crimes. The forms of   bullying are flaming, harassment, and denigration. The cyberbullying carried out by netizens, even though it contains elements of insult and defamation, cannot be prosecuted. This is because bullying on social media is a complaint offense so if a party feels aggrieved and reports it to the police, then the case can be legally processed.Perundungan siber dapat dialami oleh siapa saja, termasuk salah satu politikus perempuan Indonesia, Puan Maharani. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan pola perundungan siber sebagai praktik kejahatan berbahasa terhadap Puan Maharani di Instagram serta mendeskripsikan potensi hukumnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan ancangan linguistik forensik. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan dianalisis dengan model analisis Milles & Huberman pada tuturan yang terindikasi mengandung praktik kejahatan berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam akun Puan Maharani terdapat komentar-komentar yang mengandung perundungan siber sebagai praktik kejahatan berbahasa. Bentuk perundungannyanya berupa flaming, harassment, dan denigration. Perundungan siber yang dilakukan oleh warganet tersebut walaupun mengandung unsur penghinaan dan pencemaran nama baik, tetapi tidak dapat diproses hukum. Hal ini dikarenakan perundungan di media sosial merupakan delik aduan sehingga apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan melapor kepada polisi, baru kasus tersebut dapat diproses secara hukum.
MORFOFONOLOGI KATA POLIMORFEMIK BERKONSTRUKSI ALOMORF {mәŋ-} DAN MORFEM DASAR BERAWAL VOKAL DALAM BAHASA INDONESIA Cahyo Yusuf; Rangga Asmara; Herpindo Herpindo; Yusup Irawan
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1190

Abstract

This study aims to prove the morphophonology of polymorphemic words with allomorphic construction {mәŋ-} and basic morphemes with initial vowel phonemes /a/, /e-ε/, /ә/, /i-I/, /o-ͻ/, /u-U/: (a) unity of energy of nasal consonant /ŋ/ intra-syllable, and (b) segment of nasal consonant /ŋ/ intra-syllable, and (c) morphophonological process. The data collection involved listening and recording techniques followed by note-taking techniques. The recording was created using the Speech Analyzer Praat. This research contains six data: [mәŋtak], [mәŋekͻr], [mәŋәndap], [mәŋikat], [mәŋomba?], [mәŋukur]. Data analysis used a sound          approach with distributional methods and induction methods. The results of this study are (1) the unitary energy of the nasal consonant /ŋ/ in the syllable energy of the two polymorphemic words, for example [mә.ŋe.kͻr], and (2) the segmental sound of the entity nasal consonant /ŋ/ tough is at the onset of the second syllable. polymorphemic words, for example, [mә.ŋәn.dap], (3) between the sound sequences that the consonant-nasal entity /ŋ/ onset of the second syllable polymorphemic words, for example [mә.ŋi.kat], shifts to the first syllable coda so that the first syllable takes the form allomorph {mәŋ-}and basic morpheme {bond has the initial vowel phoneme /i/.Tujuan penelitian ini untuk menemukan morfofonologi kata polimorfemik berkonstruksi alomorf {mәŋ-} dan morfem dasar berfonem awal vokal /a/, /e-ε/, /ә/, /i-I/, /o-ͻ/, /u-U/ pada aspek: (a) kesatuan energi konsonan nasal /ŋ/ intrasilabel, dan (b) segmen bunyi konsonan nasal /ŋ/ di intrasilabel, serta (c) proses morfofonologinya. Penyediaan data menggunakan metode simak dan teknik rekam yang dilanjutkan dengan teknik catat. Perekaman dilakukan dengan menggunakan perangkat speech analyzer Praat. Penelitian ini terdapat enam kelompok data: [mәŋambil], [mәŋekͻr], [mәŋәndap], [mәŋikat], [mәŋomba?], [mәŋukur].  Data dianalisis menggunakan pendekatan akustik (getaran bunyi) dengan metode agih dan metode induksi. Hasil penelitian ini ialah (1) kesatuan energi dibuktikan entitas konsonan nasal /ŋ/ dalam kesatuan energi silabel kedua kata polimorfemik, misalnya [mә.ŋe.kͻr], dan (2) bunyi segmental dibuktikan entitas konsonan nasal /ŋ/ tegar berada pada onset silabel kedua kata polimorfemik, misalnya [mә.ŋәn.dap], (3) antarrangkaian bunyi bahwa entitas konsonan-nasal /ŋ/ onset silabel kedua kata polimorfemik, misalnya [mә.ŋi.kat], bergeser ke koda silabel kesatu sehingga silabel kesatu berwujud alomorf {mәŋ-} dan morfem dasar {ikat} berfonem awal vokal /i/.
RANAH SUMBER METAFORA COVID-19 DI HARIAN KOMPAS Poetri Mardiana Sasti; NFN Asropah; Nazla Maharani Umaya
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1318

Abstract

The expression of metaphor was often applied by journalists in reporting events, particularly Kompas Daily. In reporting Covid-19, Kompas journalists frequently use it, whether we realized it or not. This research was intriguing to observe since Kompas used numerous metaphorical expressions in reporting Covid-19 from Kompas journalist point of view. This paper aims to describe the source domain for metaphorical expressions on reporting Covid-19 in Kompas Daily. The data were the metaphorical expression in reporting Covid-19 based on Kompas report text from December 2021 to February 2022. The data provided by documentation and followed with note-taking. The analysis method used the equivalent data by sorting out the determining elements and equating comparative relations. In this research, seven source domains were founded as metaphorical expressions for Covid-19 in Kompas daily, namely human, animal, events or natural phenomena, war, diseases, colors, and travel.Ungkapan-ungkapan metafora sering digunakan oleh jurnalis dalam memberitakan suatu peristiwa termasuk jurnalis harian Kompas. Dalam memberitakan Covid-19 jurnalis harian Kompas sering menggunakan ungkapan-ungkapan metafora. Kajian metafora Covid-19 di harian Kompas menarik untuk diteliti karena cara pandang jurnalis Kompas terhadap pandemi Covid-19 dapat diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ranah sumber ungkapan metafora Covid-19 di ha-rian Kompas. Data pada penelitian ini adalah ungkapan-ungkapan metafora dalam pemberitaan Covid-19. Sumber data penelitian ini adalah teks berita pandemi Covid-19 di harian Kompas periode Desember 2021 s.d. Februari 2022. Metode penyediaan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi diikuti dengan teknik catat. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah metode padan dengan teknik dasar pilah unsur penentu dan hubung banding menyamakan. Dalam penelitian ini ditemukan tujuh kelompok ranah sumber ungkapan metafora Covid-19 yang digunakan di harian Kompas, yaitu (1) manusia, (2) binatang, (3) peristiwa/fenomena alam, (4) peperangan, (5) penyakit, (6) warna, dan (7) perjalanan.
ISTILAH KEKERABATAN PADA MASYARAKAT CINA BENTENG Sonya Ayu Kumala; RMT Multamia Lauder; Frans Asisi Datang; Winci Firdaus
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1372

Abstract

Language as part of our culture refers to both general and specific aspects. Specifically, a language has a distinctive aspect that makes it different from other languages. One of the distinguishing aspects can be seen from the greeting or register in terms of kinship. The term kinship in the discipline of linguistics falls into the scope of sociolinguistics. The term kinship according to Wardaugh (2009) is a characteristic in a language that is generally found in every language. The term kinship is being used to address or refer to other people in relation to ourselves (ego) in a structural system that is connected by blood relations, descent, or the occurrence of marriage. The Chinese Benteng community in Tangerang uses a different and distinctive kinship term compared to the Chinese community in other cities in Indonesia. In general the Benteng Chinese community no longer uses their original language as a whole, but speaks Indonesian with a mix of surrounding languages, namely Sundanese and Javanese. The language of their ancestors is still found used by the older generation, trading activities, traditional rituals, and kinship. In addition to the aspect of language use, other forms of cultural acculturation also can be seen such as in dance, musical instruments, and culinary arts. In general, it can be said, China Benteng has a peculiarity that is still upholding the culture of the ancestors but also absorbs the surrounding culture well. This study aims to describe the terms in the Chinese Benteng kinship system, namely through the classification of kinship terms (Chaer, 1997) and analysis of the language distribution of kinship terms. This study was structured using a qualitative descriptive approach. The interview method was used in extracting information from informants, besides that note-taking techniques were also used to document data mining. The results of the analysis show that the terms of kinship in the Cina Benteng community are grouped into three, namely the terms of direct kinship, indirect kinship, and due to marital relations. The distribution of forming languages or used in Chinese Benteng kinship terms are Chinese, Sundanese, and Javanese.Cina Benteng dan Tangerang menjadi satu kesatuan yaitu sebagai objek dan konteks yang potensial dikaji dari sudut pandang bahasa dan budaya. Cina Benteng dengan kemampuan adaptasi dan akulturasi yang unik serta khas apabila dibandingkan dengan model komunitas Tionghoa lain yang ada di Indonesia. Pada tingkat kebahasaan, istilah kekerabatan menjadi hal yang universal yaitu ditemukan di semua bahasa dan juga sekaligus unik yaitu mencirikan masyarakat pemilik istilah kekerabatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan istilah dalam sistem kekerabatan Cina Benteng yaitu melalui klasifikasi istilah kekerabatan yang dianalisis secara semantis dan analisis bahasa pembentuk istilah kekerabatan. Penelitian ini disusun dengan menggunakan ancangan deskriptif kualitatif. Metode wawancara digunakan dalam menggali informasi dari informan, selain itu juga digunakan teknik catat untuk mendokumentasikan penggalian data. Hasil analisis menunjukan istilah kekerabatan dalam komunitas Cina Benteng dikelompokkan menjadi tiga yaitu istilah kekerabatan langsung, tidak langsung, dan karena hubungan perkawinan. Hasil analisis menunjukan bahwa istilah kekerabatan Cina secara umum masih mengikuti struktur dan sistem kekerabatan seperti Tionghoa pada umumnya di kota lain di Indonesia, misalnya perbedaan sebutan kerabat dari pihak ayah dan ibu. Akan tetapi juga sekaligus menunjuk kekhasan dengan mengkombinasikan istilah kekerabatan tionghoa yang beradaptasi dengan konteks budaya dan bahasa yang bersinggungan. Distribusi bahasa pembentuk atau yang digunakan dalam istilah kekerabatan Cina Benteng adalah bahasa Cina, Indonesia (Melayu), Sunda, dan Jawa.
EKSPLOITASI BUNYI BAHASA PADA SUSASTRA RANGGAWAR-SITA SEBAGAI CITRA PEMIKIRAN MASYARAKAT JAWA NFN Nurnaningsih; Prasetyo Adi Wisnu Wibowo
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1356

Abstract

The unique use of language sounds adorns Raden Ngabei Ranggawarsit's literature. The purpose of this research is to find and describe the reflection of the mindset of the Javanese people which is hidden in the peculiarities of exploiting the sounds of language contained in Ranggawarsita's creations. The theory used in this research includes stylistics, language style, diction, physical structure and inner structure of poetry and rhyme/purwakanthi. This research includes descriptive qualitative research. The data of this research uses the data about language, such as words, phrases, sentences or larik (arrays) of words related to distinctive sounds in Ranggawarsita's Literature. The data source in this research are four Javanese literary libraries entitled Jaka Lodhang, Kalatidha, Sabdatama, and Serat Sabdajati. Data collection was carried out    using content analysis techniques. The data analysis technique used was data reduction, data presentation and then conclusions were drawn. The result of this research is the distinctive style of language sound exploitation in Ranggawarsita's literature is an image of Ranggawarsita's mindset or point of view towards the Javanese society towards God the Creator of the world and its contents. The expression that is hidden in the use of language actually reflects local wisdom, mindset, perspective of the life of the Javanese people towards the Supreme Creator (God) as well as the universe (the world of microcosm and macrocosm).Keunikan pemanfaatan bunyi-bunyi bahasa menghiasi susastra Raden Ngabei Ranggawarsita. Tujuan penelitian ini untuk menemukan serta memerikan cerminan pola pikir masyarakat Jawa yang tersembunyi pada kekhasan eksploitasi bunyi-bunyi bahasa yang termuat di serat-serat ciptaan Ranggawarsita. Teori yang dipakai dalam penelitian meliputi stilistika, gaya bahasa, diksi, struktur fisik dan struktur batin puisi dan rima/purwakanthi. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian menggunakan data kebahasaan, seperti kata-kata, frasa, kalimat atau larik kata yang berkaitan dengan bunyi-bunyi yang khas di dalam serat hasil kreasi pikir Ranggawarsita. Sumber data penelitian yaitu empat pustaka susastra berbahasa Jawa berjudul Jaka Lodhang, Kalatidha, Sabdatama, dan Sabdajati. Pengumpulan berbagai data dilakukan dengan teknik content analysis. Teknik analisis data yang digunakan meliputi mereduksi setiap temuan data, membuat penyajian setiap data, dan menyajikan simpulan yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemenarikan style setiap eksploitasi satuan kemerduan bunyi kata di dalam karya hasil kreatif Ranggawarsita merupakan citra pola pikir atau kaca pandang Ranggawarsita sebagai orang Jawa kepada Tuhan Pencipta dunia beserta isinya. Ekspresi yang tersembunyi pada pendayagunaan bahasa sebenarnya mencerminkan kearifan lokal, pola pikir, kaca pandang hidup suku bangsa Jawa kepada Khaliqnya juga alam semesta (dunia alam raya seisinya maupun diri pribadi).
NILAI BUDI PEKERTI DAN FUNGSI LEGENDA RAWA PENING Bunga Candra Nur Arini; Hana Amalia
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.524

Abstract

The aim of this research is to find out the value of character and function contained in the legend of Rawa Pening. The method used in this research is descriptive qualitative. The research data source is interviews with the community in Kebondowo village which are transcribed into written text with research data in the form of words or sentences in the story. The results of the study is Rawa Pening contains values such as remembering God, being sincere, respecting others, manners, mutual cooperation, getting along well, having shame, and being wise. The character is related to the function of oral literature according to the function theory of Alan Dundes and William R. Bascom. The functions are as a projection system, functioning as an endorsement of agricultural institutions and institutions, pedagogical device, and a function as an instrument of examiners and supervisors so that the norms of society are obeyed by their collective members. The legend of Rawa Pening that contains a lot of character as one of the functions of this legend can be used as a guide for life and teachings that are beneficial to the community.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai budi pekerti dan fungsi yang terkandung pada legenda Rawa Pening. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah hasil wawancara dengan masyarakat Desa Kebondowo yang  ditranskripsi menjadi teks tulis dengan data penelitian berupa kata atau kalimat di dalam cerita. Hasil penelitian yaitu dalam legenda Rawa Pening terdapat budi pekerti baik yang bisa dijadikan teladan di antaranya adalah ingat kepada Tuhan, ikhlas, menghargai orang lain, tata krama, gotong royong, guyup rukun, punya rasa malu, dan bijaksana. Budi pekerti tersebut berhubungan dengan fungsi sastra lisan menurut teori fungsi Alan Dundes dan William R. Bascom. Fungsi tersebut sebagai sistem proyeksi atau cerminan angan-angan sekelompok kolektif, fungsi sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, fungsi sebagai alat pendidikan anak, dan fungsi sebagai alat pemeriksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat dipatuhi anggota kolektifnya. Legenda Rawa Pening yang mengandung banyak budi pekerti sebagai salah satu fungsi legenda ini bisa dijadikan pegangan hidup dan ajaran yang bermanfaat bagi masyarakat. 
NOMINA PEREMPUAN DI MEDIA MASSA DIGITAL: ANALISIS PROSODI SEMANTIS Umi Farida; NFN Asropah; Nazla Maharani Umaya
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1317

Abstract

Research on the semantic prosody of women's nouns in digital mass media can be a basis for observing how women are interpreted and discussed in digital mass media. This study aims to reveal the emergence of female nouns together with their environment that builds meaning in related sentences. Therefore, this research is concerned with the study of meaning and the principles governing the relationship between sentences or words and their meanings. A suitable approach in this study is a qualitative approach. The data sources for this research are news articles in digital mass media, namely Detik.com, Tribunnews.com, Sindonews.com, Okezone.com and Nova.grid.id at January—December 2022. The collected data are documented in the form of a txt file and processed with the Antconc 3.5.8 corpus processing application. The results of the study show that the female nouns used in digital mass media include perempuan, wanita, hawa, ibu, dara, cewek, putri, perawan, gadis, istri, and bini. Each of these nouns raises different collocations and semantic preferences so that they have different semantic prosodies.Penelitian mengenai prosodi semantis nomina perempuan dalam media massa digital ini dapat menjadi landasan untuk mengamati bagaimana perempuan dimaknai dan diwacanakan dalam media massa digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemunculan nomina perempuan bersama dengan lingkungannya yang membangun makna dalam kalimat-kalimat yang terkait. Oleh karena itu, penelitian ini berkaitan dengan kajian terhadap makna dan prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antara kalimat atau kata dan maknanya. Pendekatan yang cocok dalam mengkaji makna adalah pendekatan kualitatif. Adapun sumber data penelitian ini adalah artikel berita di media massa digital, yakni Detik.com, Tribunnews.com, Sindonews.com, Okezone.com dan Nova.grid.id periode Januari—Desember 2022. Data yang terkumpul didokumentasikan dalam bentuk file txt. dan diolah dengan aplikasi pengolah korpus Antconc 3.5.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nomina-nomina perempuan yang digunakan dalam media massa digital tersebut antara lain, perempuan, wanita, hawa, ibu, dara, cewek, putri, perawan, gadis, istri, dan bini. Masing-masing nomina tersebut memunculkan kolokasi dan preferensi semantis yang berbeda sehingga memiliki prosodi semantis yang berbeda-beda.