cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
JAVANESE POLITENESS PRINCIPLES IN TILIK SHORT MOVIE Gabey Faustena Ulrikayanti
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.597 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.789

Abstract

Tilik short movie takes place in Special Region of Yogyakarta and becomes viral due to its closeness to the reality. Due to the naturalness, it is interesting to investigate how politeness as social strategy applied in the dialogue. The study tries to analyze politeness of Javanese language in Tilik movie by answering the research question: what are the linguistic politeness strategies and the illocutionary functions employed by the characters in the short movie when expressing speech acts? To answer the research question, this study employs conversation analysis and applies Leech’s (2014) politeness principle (PP) and Poedjosoedarmo’s (2017) javanese politeness principle (JPP) to analyze the dialogue. The analysis shows PP and JPP are inline and supportive to each other in the dialogue to reach certain social goals.Film pendek Tilik mengambil latar belakang tempat provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi viral karena kedekatan antara cerita dengan kehidupan masyarakat. Karena kealamian dialog, kajian nilai tata krama kesopanan sebagai bentuk strategi sosial menjadi menarik untuk dipelajari. Studi ini mencoba untuk mengkaji prinsi kesopanan dengan menjawab pertanyaan: apa saja prinsip kesopanan dan tindak ilokusi yang diterapkan para tokoh di film pendek Tilik ketika melakukan tindak tutur? Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, studi ini menggunakan metode analisis percakapan dan teori prinsip kesopanan dari Leech dan prinsip kesopanan Jawa dari Poedjosoedarmo. Hasil analisa menunjukkan bahwa prinsip kesopanan dari Leech selaras dengan Prinsip Kesopanan Jawa dari Poedjosoedarmo. Strategi kesopanan diaplikasikan dalam dialog oleh penutur sebagai suatu strategi untuk memenuhi tujuan sosial tertentu.
MORFOSINTAKSIS VERBA BAHASA SKOU VERB MORPHOSYNTAX OF SKOU LANGUAGE Yohanis Sanjoko
Widyaparwa Vol 44, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.496 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i1.122

Abstract

Salah satu bahasa daerah yang terdapat di Provinsi Papua dengan jumlah penutur yang kecil ialah  ahasa Skou. Bahasa Skou dituturkan oleh masyarakat suku Skou yang tinggal di Kampung Skou Mabo, kampung Skou Yambe, dan Kampung Skou Sae. Bahasa Skou digunakan di wilayah perbatasan Indonesia dengan negara Papua New Guinea. Tulisan ini mengunakan metode deskriptif dengan tiga tahapan, yaitu tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Penyediaan data tulisan ini menggunakan metode cakap dengan teknik pancing sebagai teknik dasar dan teknik cakap semuka serta teknik catat sebagai teknik lanjutan. Analisis data menggunakan metode padan dengan subjenis translasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa Skou merupakan bahasa dengan persesuaian verba yang sangat ketat. Persesuaian verba yang terdapat dalam bahasa Skou, yaitu persesuaian persona, persesuaian jumlah, dan persesuaian gender. Bahasa Skou termasuk bahasa ergatif. Kalimat aktif transitif bahasa Skou berpola SOV, sedangkan intransitif berpola S(S)V dengan variasi pola OSV dan (S)OSV.Skou language is one of local languages in Papua Province that has small number of speakers. This language is spoken by people who live in Skou Mabo, Skou Yambe, and Skou Sae village. Skou language is used in border territory between Indonesia and Papua New Guinea. This writing uses descriptive method with three stages, namely collecting data stage, analyzing data stage, and presenting the result of data analysis stage. The data was collected by using interview method through stimulation technique as a basic technique while face-to-face interview and noting technique as advanced techniques. Data analyzing used translational subtype of equivalent method. The result shows that Skou language is a kind of language that has extremely rigid verbal agreement. Verbal agreement in Skou language consists of personae, number, and gender. Skou language is an ergative language. Pattern of transitive active sentence in Skou language is SOV, while its intransitive patterns are S(S)V with OSV and (S)OSV variant.
TINJAUAN RINGKAS METAFORA SINAESTETIK KATA MANIS Muhamad Ridwan Septioji
Widyaparwa Vol 38, No 2 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.05 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i2.18

Abstract

Metafora sinaestetik dipandang sebagai sebuah jembatan antara pengalaman manusia dengan realitas yang mengelilingi mereka, khususnya dalam persepsi antarindra. Kajian ringkas ini membahas sebuah kata manis dalam metafora sinaestetik. Beberapa permasalahan dalam makalah ini akan difokuskan dalam pembahasan, antara lain (i) alat indra apa sajakah yang dapat dipindahkan dari manis, (ii) mekanisme sinaestetik perpindahan persepsi indra kata manis, (iii) struktur metafora sinaestetik kata manis.Synaesthetic metaphor viewed as a bridge between human experience and the reality surround them, especially in cross-sensory perception. This brief research discusses a sweet word in synaesthetic metaphor. Several problems on this paper will be focussed on discussion, such as (i) what kind of sensory modality that can be transferred from 'sweet', (ii) 'sweet' mechanism cross-sensory perception synaesthetic, (ii) the 'sweet' structure of synaesthetic metaphor.
KOMPONEN MAKNA LEKSEM BERKONSEP EMPON-EMPON DALAM BAHASA JAWA (MEANING COMPONENT OF LEXEM THAT HAS EMPON-EMPON CONCEPT IN JAVANESE) Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.271 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.155

Abstract

Penelitian ini berjudul Komponen Makna Leksem Berkonsep Empon-Empon dalam Bahasa Jawa. Teori yang digunakan ialah analisis komponen makna, dengan pendekatan intensional. Metodenya kontras dan komparasi yang didasarkan pada konsep dimensi makna. Leksem yang terliput dalam empon-empon berjumlah empat belas, dikaji berdasarkan dimensi ANATOMI, TUMBUHAN, BATANG, BUNGA, AKAR, KHASIAT, WARNA, dan TEKSTUR. Berdasarkan komponen makna bersama yang dinyatakannya, seperangkat leksem tersebut dapat dikelompokkan menjadi tujuh submedan yang terdiri atas: 1) laos, 2) bengle, puyang; 3) jae emprit, jae gajah, jae sunthi; 4) kunir, temulawak; 5) kencur, temukunci; 6) temugiring, temumangga; dan 7) temuputih, temuireng, dengan leksem empon-empon sebagai superordinatnya.This research is entitled Meaning Component of Lexem That Has Empon-Empon Concept In the Javanese language. The theory used was an analysis of meaning components with the intentional approach. The methods were contrast and comparison based on the concept of meaning dimension. The number of lexemes was fourteen, which empon-empon as the superordinate. The lexem were approached based on ANATOMY, PLANT, STEM, FLOWER, ROOT, EFFICACY, COLOR, and TEXTURE dimensions. There were seven subfields to explain the class of lexemes. The subfields were consist of 1)laos, 2) bengle, puyang; 3) jae emprit, jae gajah, jae sunthi; 4) kunir, temulawak; 5) kencur, temukunci; 6) temugiring, temumangga; and 7) temuputih, temuireng, with the empon-empon as the superordinate.
ANALISIS WACANA PERCAKAPAN BERBAHASA JAWA Dl JEJARING SOSIAL FACEBOOK: KAJIAN KOHESI Joko Sukoyo
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1927.625 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.55

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan penggunaan kohesi leksikal dan gramatikal dalam percakapan berbahasa Jawa di jejaring sosial facebook. Subjek penelitian ini ialah seluruh percakapan berbahasa Jawa di dinding facebook peneliti, sedangkan objek penelitian yaitu kohesi leksikal dan gramatikalnya. Untuk menganalisis hal tersebut digunakan teori Halliday dan Hassan (1992). Dalam pengumpulan data digunakan teknik simak dan catat. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan metode distribusional dan teknik bagi unsur langsung. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa keutuhan wacana ditandai oleh unsur-unsur kohesi gramatikal dan leksikal. Kohesi gramatikal meliputi (1) pengacuan 53,7%, (2) penyulihan 4,8%, (3) pelepasan 12,2%, dan (4) perangkaian 29,3 %. Sedangkan kohesi leksikal meliputi (1) repetisi 42,1%, (2) sinonim 70,5 %, (3) antonim 10,5 %, (4) kolokasi 31,6 %, dan (5) ekuivalensi 5,3%. This study is a descriptive qualitative one which aims at analyzing and describing the use of lexical and grammatical cohesions in Javanese conversation on facebook social network. The subject of the research is all Javanese conversation displayed on the researcher's facebook wall, while the objects of the research are lexical and grammatical cohesions of Javanese conversation discourse on facebook social network. To analysis use Halliday and Hassan theory (1,992). The data collection technique used in this research are listening and writing techniques. The data is then analyzed by using distribution method and direct element division technique. Based on the analysis of Javanese conversation discourse on facebook social network, it can be concluded that there are elements of grammatical and lexical cohesions in the Javanese conversion discourse on facebook social network. The grammatical cohesion includes (1) reference 53.7%, (2) substitution 4.8%, G) ellipsis 12.2%, and (4) conjunction 29.3%, whereas the lexical cohesion includes (1) repetition 42.1%, (2) synonym 10.5%, (3) antonym 10.5%, (4) collocation 31.6%, and (5) equivalence 5.3%.
KALIMAT TIDAK BERKLAUSA DALAM BAHASA INDONESIA I. Praptomo Baryadi
Widyaparwa Vol 47, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.449 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v47i1.291

Abstract

This article discusses sentences without clauses in Indonesian. The discussion includes the type of intent, the type of speech act, level of politeness, and its function in verbal communication. The method used is the observation method for data collection, pragmatic identity methods for data analysis, and formal and informal methods for presenting the results of data analysis.The findings of this study are as follows. First, there are at least fifteen purposes contained in sentences without clauses, namely ‘praising’, ‘congratulating’or‘compassing’, ‘thanking’, ‘apologizing’, ‘forgiving’, ‘delivering greetings’, ‘greeting’ or’calling’, ‘approving’, ‘squealing’, ‘conveying information’, ‘giving confirmation’, ‘refusing’, ‘commanding’, ‘cursing’, and ‘threatening’.. Second, sentences without clauses in Indonesian can be grouped into four types of speech acts, namely (i) convivial speech acts consisting of ‘praising’,’congratulating’ or ‘compassing’, ‘thanking’, ‘apologizing’, ‘forgiving’; (ii) collaborative speech acts include sentences that intend to ‘delivering greetings’, ‘greeting’ or ‘calling’, ‘approving’, ‘squealing’ ; (iii) competitive speech acts covers sentences that intend to ‘conveying information’ and ‘giving confirmation’; (iv) conflictive speech acts including sentences that mean ‘refusing’, ‘commanding’ , ‘cursing’, and ‘threatening’. Third, the level of politeness of sentences without clauses in the Indonesian,  from the highest to the lowest is from sentences that include convivial speech acts, collaborative speech acts, competitive speech acts, and conflictive speech acts. Fourth, in verbal communication, the function of sentences without clauses in Indonesian is ideational, interpersonal, textual.Artikel ini membahas kalimat tidak berklausa dalam bahasa Indonesia. Pembahasannya mencakup jenis maksud, jenis tindak tutur, tingkat kesopanan, dan fungsinya dalam komunikasi verbal. Metode yang digunakan adalah metode simak dalam pengumpulan data, metode padan pragmatis dalam analisis data, dan metode formal serta informal dalam penyajian hasil analisis data. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, ada sekurang-kurangnya lima belas jenis maksud yang dikandung dalam kalimat tidak berklausa dalam bahasa Indonesia, yaitu ‘memuji’, ‘mengucapkan selamat’ atau ‘bela rasa’, ‘berterima kasih’, ‘meminta maaf’, ‘memaafkan’, ‘menyampaikan salam’, ‘menyapa’ atau ‘memanggil’,  ‘menyetuju’, ‘memekikkan’, ‘menyampaikan informasi’, ‘menyampaikan konfirmasi’,  ‘menolak’, ‘memerintah’, ‘memaki’, dan ‘mengancam’.  Kedua, kalimat tanpa klausa dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis tindak tutur, yaitu (i) tindak tutur konvivial meliputi kalimat yang bermaksud 'memuji', 'mengucapkan selamat' atau ‘bela rasa’, 'berterima kasih', 'meminta maaf', dan 'memaafkan'; (ii) tindak tutur kolaboratif mencakup kalimat yang bermaksud 'menyampaikan salam', 'menyapa' atau 'memanggil', 'menyetujui’, dan ‘memekikkan'; (iii) tindak tutur kompetitif terdiri atas kalimat yang bermaksud 'menyampaikan informasi' dan 'menyampaikan konfirmasi'; (iv) tindak tutur konfliktif meliputi kalimat yang bermaksud 'menolak', 'menyuruh', 'memaki', dan 'mengancam'. Ketiga, tingkat kesopanan kalimat tidak berklausa dalam bahasa Indonesia,  dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah adalah dari kalimat yang termasuk tindak tutur konvivial, tindak tutur kolaboratif, tindak tutur kompetitif, sampai tindak tutur konfliktif. Keempat, dalam komunikasi verbal kalimat tidak berklausa dalam bahasa Indonesia memiliki fungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual.
Sampul depan dan belakang NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1031.345 KB)

Abstract

KECENDERUNGAN POLA KALIMAT DALAM TUTURAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN: STUDI KASUS PADA TUTURAN DUA KARYAWAN JAWA POS SURABAYA Angkita Wasito Kirana
Widyaparwa Vol 48, No 1 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.181 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i1.310

Abstract

This article examines the sentence patterns in the utterance of the young generation of Surabaya, a city with Javanese ngoko language as a daily communication medium. The Topicality Hierarchy and Language Transitivity theory wereemployed to analyze the pattern of sentences in participant speech because of the absence of Krama usage. The data was a conversation between a man and woman who worked as JawaPos Surabaya employee during lunch. The findings show that male participants tend to emphasize the focus of speech on things that are not human because the focus of speech was more on activities and information. But on the contrary, female participant emphasized more on humans because their speech emphasized the agent or the doer. In addition, more definite sentenceswere found in the speech of female participants than male participants. The study also found that female participant speech was more transitive than male participant speech. The findings also suggests that in comparison to the female participant’s speech, the male participant’s speech shows a stronger influence on the object of the sentence in contrast to the number of agents he used in his speech.Artikel ini mengkaji pola kalimat pada ujaran dua penutur muda Bahasa Jawa di Surabaya, sebuah kota dengan bahasa Jawa ngoko sebagai media komunikasi sehari-hari. Teori Topicality Hierarchy dan Language Transitivity digunakan untuk menganalisis pola kalimat dalam tuturan partisipan karena ketiadaan penggunaan kromo. Data merupakan percakapan seorang laki-laki dan perempuan yang bekerja sebagai karyawan Jawa Pos Surabaya ketika bercakap-cakap saat makan siang. Data diambil menggunakan perekam suara. Temuan yang ada menunjukkan bahwa partisipan laki-laki cenderung menitikberatkan fokus tuturan pada hal yang bukan manusia karena fokus tuturan lebih ditekankan pada kegiatan dan keterangan. Namun sebaliknya, partisipan perempuan lebih menekankan kepada manusia karena tuturannya menekankan pada agent atau pelaku kegiatan. Selain itu, lebih banyak ditemukan kalimat definite dalam tuturan partisipan perempuan daripada partisipan laki-laki. Kajian ini juga menemukan bahwa tuturan partisipan perempuan lebih transitif daripada tuturan partisipan laki-laki. Selain itu, dibandingkan dengan tuturan partisipan perempuan, tuturan partisipan laki-laki menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap objek kalimat berlawanan dengan jumlah agent yang digunakannya dalam tuturannya.Artikel ini mengkaji pola kalimat pada ujaran dua penutur muda Bahasa Jawa di Surabaya, sebuah kota dengan bahasa Jawa ngoko sebagai media komunikasi sehari-hari. Teori Topicality Hierarchy dan Language Transitivity digunakan untuk menganalisis pola kalimat dalam tuturan partisipan karena ketiadaan penggunaan kromo. Data merupakan percakapan seorang laki-laki dan perempuan yang bekerja sebagai karyawan Jawa Pos Surabaya ketika bercakap-cakap saat makan siang. Data diambil menggunakan perekam suara. Temuan yang ada menunjukkan bahwa partisipan laki-laki cenderung menitikberatkan fokus tuturan pada hal yang bukan manusia karena fokus tuturan lebih ditekankan pada kegiatan dan keterangan. Namun sebaliknya, partisipan perempuan lebih menekankan kepada manusia karena tuturannya menekankan pada agent atau pelaku kegiatan. Selain itu, lebih banyak ditemukan kalimat definite dalam tuturan partisipan perempuan daripada partisipan laki-laki. Kajian ini juga menemukan bahwa tuturan partisipan perempuan lebih transitif daripada tuturan partisipan laki-laki. Selain itu, dibandingkan dengan tuturan partisipan perempuan, tuturan partisipan laki-laki menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap objek kalimat berlawanan dengan jumlah agent yang digunakannya dalam tuturannya.
SPIRITUALITAS DAN KEKUASAAN DALAM LAKON WAYANG ARJUNAWIWAHA KARYA KI NARTOSABDO: ANALISIS WACANA KRITIS MICHEL FOUCAULT Aris Aryanto; NFN Rochimansyah; Khabib Sholeh; Herlina Setyowati
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.729 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.799

Abstract

The Arjunawiwaha puppet play does not only convey discourse on Arjuna’s attempt to meditate on Mount Indrakila, but there is an ulterior motive behind it. Therefore, the purpose of this study is to describe the hidden motives contained in the Arjunawiwaha puppet play by Ki Nartosabdo. This research includes literary research in the form of qualitative descriptive with collection techniques, namely content analysis. Michel Foucault's theory of knowledge power discourse is applied in this study to see the implicit motives in the Arjunawiwaha story. In his hermitage, Arjuna received two divine gifts, first, the Pandavas would excel in the great war of Bharatayuda and the Pandavas would become rulers in the country of Astina; second, Arjuna received the gift of Batara Guru in the form of an arrow named Kyai Pasupati. The hidden motive in the Arjunawiwaha puppet play is due to the basic human psychic impulses that the researcher identifies as the motive for power hiding in the motive of spirituality. Arjuna's naivety who only asked for victory for the Pandavas had to be paid handsomely by the death of the Pandava children on the battlefield. Arjunawiwaha puppet plays can provide moral teaching on the importance of self-control in relation to the human ego or will.Lakon wayang Arjunawiwaha tidak sekadar menyampaikan wacana tentang usaha Arjuna melakukan tapa di Gunung Indrakila, tetapi ada motif tersembunyi dibaliknya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan motif tersembunyi yang terdapat dalam lakon wayang Arjunawiwaha karya Ki Nartosabdo. Penelitian ini termasuk penelitian sastra berbentuk kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data, yaitu kajian isi. Teori wacana kuasa pengetahuan Michel Foucault diterapkan dalam penelitian ini untuk melihat motif tersirat dalam cerita Arjunawiwaha. Dalam pertapaannya, Arjuna mendapat dua anugerah dewa, pertama, Pandawa akan unggul dalam perang besar Bharatayuda dan Para Pandawa akan menjadi penguasa di negara Astina; kedua, Arjuna mendapatkan anugerah Batara Guru berupa anak panah bernama Kyai Pasupati. Motif tersembunyi dalam lakon wayang Arjunawiwaha karena adanya dorongan dasar psikis manusia yang dapat ditengarai sebagai motif kekuasaan yang bersembunyi dalam motif spiritualitas. Kenaifan Arjuna yang hanya meminta kemenangan bagi Pandawa harus dibayar mahal dengan kematian anak-anak Pandawa di medan Perang. Lakon wayang Arjunawiwaha dapat memberikan pengajaran moral tentang pentingnya pengendalian diri kaitannya dengan ego atau kehendak manusia.
RELASI PERTANYAAN-JAWABAN PADA PERMAINAN TEKA-TEKI SILANG (THE QUESTION-ANSWER RELATION IN CROSSWORD PUZZLE GAME) Edi Setiyanto
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.35 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.113

Abstract

Kajian ini membahas macam relasi pertanyaan-jawaban dalam permainan teka-teki silang (TTS). Kajian dipilih mengingat TTS merupakan satu bentuk permainan yang ditawarkan dalam banyak media massa. Namun, permainan yang sepenuhnya memanfaatkan bahasa itu, sepengetahuan penulis, justru belum pernah dikaji secara lingistik. Sesuai dengan permasalahan, kajian ini menggunakan teori semantik, khususnya relasi makna/konsep. Teori itu diterapkan untuk mengklasifikasi setiap jenis hubungan makna antara pertanyaan dan jawaban dalam TTS: sinonimi, penjangkapan, identifikasi, atau yang lain. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data kajian bersumber dari 23 TTS yang dimuat dalam mingguan Minggu Pagi, Yogyakarta, terbitan bulan April 2015 sampai dengan Agustus 2015. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak. Analisis menggunakan metode dan teknik yang ditawarkan oleh Sudarjanto (1993), bergantung sifat permasalahan. Misalnya, pada relasi sinonimi, digunakan teknik ganti (substitusi). Pada relasi penerjemahan digunakan teknik padan referen. Berdasarkan kajian diketahui bahwa macam relasi pertanyaan-jawaban dalam TTS mencakup sebelas jenis, yaitu sinonimi, penjenisan, bagian, penamaan, penerjemahan, penjangkapan, penyingkatan, pengurangan, identifikasi, parafrasa, dan kombinasi. Relasi jenis parafrasa dan kombinasi memiliki beberapa subperincian. This study discusses different kinds of question-answer relations in a crossword puzzle game (CPG). The study is conducted because CPG is one of games offered in many media. However, the game that fully utilizes the language, as far as the writer knows, it has never been studied lingustically.According to problems, this study uses semantic theory, in particular meaning / concept relation. The theory is applied to classify any type of meaning relationship between questions and answers in CPG: synonymy, completion, identification, or others. This is a qualitative descriptive study. The data are 23 CPG in weekly Minggu Pagi newspaper, Yogyakarta, published in April to August 2015. Data is obtained using reading method. Analysis employs method and technique proposed by Sudarjanto (1993), depending on the nature of the problem. For example, in synonymy relation, replacement technique is used (substitution). In the relation of translation referent match technique is used. Based on the study it is found out that there are many kinds of question-answer relationship in CPG covering eleven types, namely synonymy, type, parts, name, translation, completion, abbreviation, reduction, identification, paraphrase, and combination. Relation type in paraphrase and combination have some subdetails.