cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
MELACAK JEJAK SUBJEK YANG BERGERAK DALAM NOVEL JAWA MODERN Wiwien Widyawati Rahayu
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1184

Abstract

 Demands for equality between women and men experience dynamics along with the times. The discussion is no longer how the difference is sharpened. Still, instead the different is a part that must be positioned because it is also an important entity in human life. Efforts made by Javanese literary authors to respond to these situations and conditions by moving the subject in the works they construct. In this regard, this study aims to find out the background, forms of expression, and reasons for the subject's movement, as well as what kind of strategy the author chooses to realize his work. A qualitative descriptive research design was applied using intersections between Luxemburg focalization theory and Lacanian psychoanalysis within the framework of the concept of gender between waves. The results of this study indicate that the movement of the subject is influenced by the accumulation of the author's awareness building based on the ability to perceive the surrounding phenomena directly or indirectly. The author expresses this awareness through the focalization of the characters he builds. The strategy applied is to provide a choice of attitude offers, namely to bring up The Real as a goal that must be followed up as well as imaginative hopes through symbolization.Tuntutan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki mengalami dinamika seiring dengan perkembangan zaman. Diskusi tidak lagi bagaimana yang berbeda itu dipertajam, tetapi justru yang berbeda itu sebagai bagian yang harus diposisikan karena juga merupakan entitas penting dalam kehidupan manusia. Upaya yang dilakukan pengarang sastra Jawa  untuk menjawab situasi dan kondisi tersebut dengan melakukan pergerakan subjek dalam karya yang dibangunnya. Sehubungan hal itu, penelitian ini bertujuan mengetahui latar belakang, bentuk ekspresi, dan alasan bergeraknya subjek, serta strategi seperti apa yang dipilih pengarang untuk mewujudkan karyanya. Desain penelitian deskriptif kualitatif diterapkan dengan menggunakan interseksi antara teori fokalisasi Luxemburg dan psikoanalisis Lacanian dalam bingkai konsep gender antargelombang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bergeraknya subjek dipengaruhi oleh akumulasi bangunan kesadaran pengarang berdasar pada kemampuan menangkap fenomena di sekitarnya secara langsung maupun tidak langsung. Pengarang mengekspresikan kesadarannya tersebut melalui fokalisasi tokoh yang dibangunnya. Strategi yang diterapkan dengan memberikan pilihan tawaran sikap, yaitu memunculkan Yang Real sebagai tujuan yang harus ditindaklanjuti maupun harapan yang imajinatif melalui simbolisasi.
EKOLEKSIKON KEMARITIMAN SEBAGAI MANIFESTASI PENGETAHUAN EKOLOGIS ORANG PULO DI PULAU PANGGANG, DKI JAKARTA Sigit Widiatmoko; NFN Krisanjaya; Nur Sekhudin
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.928

Abstract

This study aims to describe the form of lingual units and the meaning of the maritime ecolexicon of orang Pulo in Panggang Island, Jakarta. This study uses a qualitative approach. Data collection was carried out using literature study techniques by reading various literature, direct observation to Panggang Island, and interviewing local community leaders. Based on the results of data analysis, there were 68 maritime ecolexicon with lingual units in the form of 29 monomorphemic ecolexicons, 12 polymorphemic ecolexicons formed through reduplication and compounding processes, and 27 ecolexicon phrases. The meaning of the ecolexicon is categorized as fauna, flora, topography, and climate. The meaning of the ecolexicon in the category of fauna refers to fish, squid, crabs, and shell. The meaning of the ecolexicon in the category of flora refers to land plants and sea plants. The classification of biotic diversity (flora and fauna) is carried out based on traditional taxonomy. Ecolexicon meanings were also found in the topographical category referring to land and sea. The meaning of the ecolexicon in the category of climate refers to winds and ocean currents. All ecolexicons are manifestations of the ecological knowledge of orang Pulo which are obtained from experience, inheritance, and interactions with people outside the orang Pulo.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk satuan lingual dan makna dari ekoleksikon kemaritiman orang Pulo di Pulau Panggang, Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik studi pustaka dengan membaca berbagai literatur, observasi langsung ke Pulau Panggang, dan wawancara tokoh masyarakat setempat. Berdasarkan hasil analisis data, terdapat 68 ekoleksikon kemaritiman terdiri atas satuan lingual berbentuk monomorfemis sebanyak 29 ekoleksikon, polimorfemis sejumlah 12 ekoleksikon yang dibentuk melalui proses reduplikasi dan pemajemukan, dan frasa sebanyak 27 ekoleksikon. Berdasarkan tinjauan makna, ekoleksikon tersebut berkategori fauna, flora, rupabumi, dan iklim. Makna ekoleksikon berkategori fauna mengacu pada ikan, cumi-cumi, kepiting, serta kerang. Makna ekoleksikon berkategori flora mengacu pada tanaman darat serta tanaman laut. Pengklasifikasian ragam biotik (flora dan fauna) tersebut dilakukan berdasarkan taksonomi kerakyatan yang diperoleh secara tradisional. Makna ekoleksikon pun ditemukan berkategori rupabumi yang mengacu pada daratan dan lautan. Makna ekoleksikon berkategori iklim mengacu pada angin dan arus laut. Semua ekoleksikon merupakan manisfestasi pengetahuan ekologis orang Pulo yang diperoleh dari pengalaman, pewarisan, dan interaksi dengan masyarakat luar Pulo.
POTENSI CERITA ANAK SEBAGAI PENGUAT PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA Hj. Sholatul Hayati
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.797

Abstract

This study aims to: 1 analyze the values of character education contained in the eight stories of children stu-died; 2 look for practical ways so that the values of character education are easily conveyed to kindergarten children B. This study uses a structuralism approach that is focused on characterization elements. While the method used is descriptive analytical. The results of this study indicate that the eight children stories studied contained elements of character education such as the need to care or help others, be honest, be creative, want to apologize to others, and cooperate. The values of character education reflected in the figures of the eighth story of children's stories deserve to be known and emulated by the students. Such excellence and quality of children's stories are needed by children. In order for the values of character education to be easily accepted by students, a teacher must have special ways such as language must be communicative, interesting, involve the emotions of students, use teaching aids, and give special emphasis on interesting events to invite students' attractiveness.Penelitian ini bertujuan untuk 1 menganalisis  nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam delapan cerita anak-anak yang diteliti; 2 mencari cara-cara praktis   agar nilai-nilai pendidikan karakter mudah tersampaikan kepada anak TK B. Penelitian ini menggunakan pendekatan strukturalisme yang difokuskan pada unsur penokohan. Metode yang dipakai adalah adalah deskriptif analitis.Hasil penelitian ini menunjukkan kedelapan cernak yang diteliti mengandung unsur-unsur pendidikan karakter seperti perlunya peduli atau membantu orang lain, bersikap jujur, kreatif, mau meminta maaf kepada orang lain, dan bekerjasama.Nilai-nilai pendidikan karakter yang tercermin dalam perwatakan tokoh cerita kedelapan cerita anak-anak layak untuk diketahui dan diteladani para siswa.Keunggulan dan kualitas cerita anak-anak semacam itu diperlukan anak.Agar nilai-nilai pendidikan karakter tersebut mudah diterima peserta didik maka seorang guru harus memiliki cara-cara khusus seperti bahasa harus komunikatif, menarik, melibatkan emosi siswa, menggunakan alat peraga, dan memberikan penekanan khusus pada peristiwa-peristiwa yang menarik agar mengundang daya tarik siswa.
Sampul depan, belakang, dan dalam NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)0
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DARI HUMANISME KE POSHUMANISME: SEBUAH PENULUSURAN NILAI-NILAI TOLERANSI DALAM FILM EX MACHINA (2014) DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (2001) Muhammad Rizal; Riana Dwi Rahayu
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1178

Abstract

Post-humanism concept refers to human or entities which are in a position outside the boundaries of human beings. Post-humanism appeared based on humanism. If humanism means understanding that prioritizes the value and position of humans as criteria in everything, post-humanism then inquires the primacy of humans and the need for humans as criteria. Therefore, the article will track the values of tolerance from the point of view of humanism and post-humanism through films. Film Ex Machina (2014) and Artificial Intelligence (2001) are considered able to translate how the values of tolerance present in the post-human world. This article uses Robert Pepperell's perspective on post-humanism. The research method used is the descriptive analysis. The analyzed data is taken from dialogue and visual scene, which are proven by screen captures, in the film. As result, article shows the inability of humans to be tolerant in the posthuman world. These results show that humans are actually surrounded by posthuman elements such as robots, but their frame of mind still revolve around “humans will always be perfect creatures”.Konsep poshumanisme mengacu pada pengertian bahwa manusia atau entitas berada dalam posisi di luar batas-batas yang dimiliki manusia. Poshumanisme lahir atas dasar humanisme. Jika humanisme berarti paham yang mengedepankan niai dan kedudukan manusia sebagai kriteria dalam segala hal. Maka poshumanisme justru mempertanyakan keutamaan manusia dan perlunya manusia sebagai suatu kriteria tersebut. Dari pemahaman ini, artikel akan melacak nilai-nilai toleransi dalam berkehidupan dengan cara pandang poshumanisme melalui film. Film seperti Ex Machina (2014) dan Artificial Intelligence (2001) dianggap mampu menerjemahkan bagaimana nilai toleransi akan hadir dalam dunia poshumanisme. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan cara pandang Robert Pepperell mengenai poshumanisme. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Data yang dianalisis diambil dari penggalan dialog dan visual, yang dibuktikan dengan tangkapan layar, dalam film. Hasilnya, artikel menemukan ketidakmampuan manusia dalam bersikap toleran di dunia poshuman. Penemuan ini menunjukkan bahwa manusia memang secara nyata dikelilingi oleh elemen-elemen poshumanisme seperti robot, namun kerangka pemikiran mereka masih berkutat pada “manusia akan selalu menjadi makhluk yang sempurna”.
DOMINASI MASKULINITAS SUKU BATAK: ANALISIS KONSTRUKSI BUDAYA PATRIARKI DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP Dasa Oktaviani BR Ginting; Edy Suryanto; Nugraheni Eko Wardani
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.1290

Abstract

This research was conducted to read the description of the dominance of masculinity in the construction of patriarchal culture contained in the movie Ngeri-Ngeri Sedap. The main reason for conducting this research is to explain how the form of patriarchal cultural construction that appears in the film Ngeri-Ngeri Sedap so that the study of Batak culture and how the description of the dominance of masculinity can be comprehensive. The research was conducted by conducting research to look at films from a social and ideological perspective. The method used is using a qualitative and interpretative approach using the encoding or decoding paradigm where media producers encode a text production that produces meaning based on their understanding of a particular social context. The results found are 1) a general description of the dominance of masculinity in the Batak tribe which is related to the kinship system known as patrilineal (lineage based on father/father), 2) The fact that the construction of patriarchal culture in Ngeri-Ngeri Sedap is shown in several footage and dialogues and analyzed based on Tuncay's theory.Penelitian ini dilaksanakan untuk membaca gambaran dari dominasi maskulinitas dalam konstruksi budaya patriarki yang terdapat dalam film Ngeri-Ngeri Sedap. Alasan utama dilaksanakannya penelitian ini adalah menjelaskan bagaimanakah bentuk konstruksi budaya patriarki yang muncul dalam film Ngeri-Ngeri Sedap sehingga kajian mengenai kebudayaan Batak serta bagaimana gambaran dominasi maskulinitas tersebut dapat menjadi komprehensif. Penelitian dilaksanakan dengan melihat film dari prespektif sosial dan ideologis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan interpretatif dengan menggunakan paradigma encoding atau decoding (penyandian atau pengawasandian) dimana produser media menyandikan suatu produksi teks yang menghasilkan makna berdasarkan pemahamannya mengenai konteks sosial tertentu. Hasil yang ditemukan adalah 1) gambaran secara umum dominasi maskulinitas pada suku Batak yang berkaitan dengan sistem kekerabatan yang dikenal dengan patrilineal (garis keturunan berdasarkan ayah/bapak), 2) Ditemukannya fakta bahwa konstruksi budaya patriarki dalam film Ngeri-Ngeri Sedap ditampilkan pada beberapa cuplikan dan dialog dan dianalisis berdasarkan pada teori Tuncay.
REPRESENTASI MITOS SAWERIGADING DALAM RITUAL MAPPANRETASI DI PAGATAN, KALIMANTAN SELATAN NFN Musdalipah
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.745

Abstract

This study aims to describe the representation of Sawerigading character in the Mappanretasi ritual of the Bugis community in Pagatan, Kusan Hilir District, Tanah Bumbu Regency, South Kalimantan. This is a qualitative study using qualitative methods. Data is collected using direct interviews with sandro or ritual leaders. The results of this study indicate that the Bugis community in Pagatan represents Sawerigading character in the mappanretasi ritual as the ruler of the sea. Sawerigading's name cannot be mentioned because this character is considered very sacred. The character may only be mentioned using substitution title, that is ruler of the sea. The Bugis people are known as great sailors. However, they believe that this expertise in the sea is due to Sawerigading's role in maintaining safety and providing abundant marine products. They represent their gratitude to Sawerigading through the mappanretasi ritual ceremony. Mappanretasi means 'giving food to the ruler of the sea'. Sandro dissolves special food in the form of farm animals, such as goats and chickens, as well as fruits at certain locations and times. Apart from being an expression of gratitude, this ritual is also a form of fishermen's hope that they will be safe when going to sea. As Islam entered, this ceremony was added with Islamic prayers. Some people now interpret the ruler of the sea as Prophet Khidir as.Kajian ini bertujuan mendeskripsikan representasi tokoh Sawerigading dalam ritual mappanretasi masyarakat Bugis di Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Jenis kajian ini adalah kajian kualitatif yang menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara langsung dengan sandro atau pemimpin ritual. Hasil kajian ini menunjukan bahwa masyarakat Bugis di Pagatan merepresentasikan tokoh Sawerigading dalam ritual mappanretasi sebagai penguasa laut. Nama Sawerigading tidak boleh disebut sebab tokoh ini dianggap sangat sakral. Penyebutan tokoh ini hanya boleh menggunakan gelar penguasa laut. Masyarakat Bugis dikenal sebagai pelaut hebat. Namun, mereka meyakini bahwa keahlian melaut ini karena peran Sawerigading yang menjaga keselamatan dan memberi hasil laut yang melimpah. Mereka merepresentasikan rasa syukur kepada Sawerigading melalui upacara ritual mappanretasi. Mappanretasi berarti ‘memberi makanan kepada penguasa laut’. Sandro melarung makanan khusus berupa hewan ternak, seperti kambing dan ayam, serta buah-buahan pada titik lokasi dan waktu tertentu. Selain sebagai ungkapan syukur, ritual ini juga bentuk harapan nelayan agar selamat ketika melaut. Seiring masuknya Islam, upacara ini ditambah dengan doa-doa Islami. Sebagian masyarakat kini memaknai penguasa laut tersebut sebagai Nabi Khidir as. 
THE CONSTRUCTION OF CONTRACTIONS IN JAVANESE I Dewa Putu Wijana; NFN Hendrokumoro; Nadia Khumairo Ma'shumah
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.947

Abstract

As Indonesia's most widely spoken local language, Javanese is rich in linguistic phenomena that need to be understood, especially by speakers, linguists, and academia. One of these linguistic phenomena is contraction. This study investigates various types and communicative functions of Javanese contractions commonly used in informal situations. By qualitatively analyzing the data collected from Javanese grammar and textbooks and researchers’ intuition as native speakers, this study found that Javanese has two types of contractions, i.e., internal (created by omission of internal letters and sounds) and external contraction (created by reducing the syllables of entire or partial each word). Most of these contractions were manifested through removing the first syllable, although other possibilities exist in much rarer cases. Aside from the intention of creating a more economical expression, this study discovered that contraction processes in Javanese could also be used to create humorous and euphemistic effects, maintain secrecy, and increase aesthetic effects.Sebagai bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Indonesia, bahasa Jawa kaya akan fenomena kebahasaan yang perlu dipahami, terutama oleh para penutur, ahli bahasa dan akademisi. Salah satu fenomena linguistik tersebut adalah kontraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan fungsi komunikatif dalam kontraksi bahasa Jawa yang banyak ditemukan dalam penggunaan bahasa lisan lokal terbesar di Indonesia, terutama dalam acara-acara informal. Dengan menganalisis secara kualitatif data yang dikumpulkan dari tata bahasa Jawa dan buku-buku teks, serta yang secara naluriah diperoleh dari intuisi peneliti sebagai penutur asli, penelitian ini mengidentifikasi bahwa orang Jawa memiliki dua jenis kontraksi, yaitu kontraksi internal (dengan menghilangkan huruf dan pelafalan internal) dan eksternal kontraksi (dengan mengurangi seluruh atau sebagian suku kata dari setiap kata). Semua jenis kontraksi tersebut diwujudkan dalam bentuk penghapusan suku kata awal, meskipun juga terdapat kemungkinan lain, yang demikian ini ditemukan dalam kasus yang jauh lebih jarang. Terlepas dari niat untuk mencapai ekspresi yang lebih ekonomis, proses kontraksi dalam bahasa Jawa juga dapat berfungsi untuk mendapatkan efek lucu, eufemistik, rahasia, dan estetik.
ANALISIS MATERI MENYIMAK DAN PENILAIAN PEMELAJAR BI-PA TERHADAP BUKU SAHABATKU INDONESIA A1-A2 NFN Defina
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.929

Abstract

One of the language skills in language learning is listening. For this lesson, listening material is needed in audio and video. The purpose of this research is to analyze listening material from Sahabatku Indonesia (SI-A1-multimedia/English; compare student assessments of two audio materials in two SI-A1- multimedia/English books and a regular book; identify student assessments of some audio SI-A2-Anak Sekolah teaching materials. This research is qualitative—data collection through observation and interviews. The informants were BIPA KNB IPB 2021, students. The findings were that the positions of the listening material for Units 4 and 5 were switched, all material was in the form of audio monologues and dialogues, there was no emphasis on sound, there was a discrepancy between the audio text and the written text, there were other recordings that were not part of the material in audio. Students assess two audios in two different materials at different speeds. Students consider BIPA2 audio to be very fast. Need student assessment of the material. The conclusion is that errors are still found in the listening teaching materials, and the teaching materials are still assessed quickly by BIPA students at levels A1 and A2.Salah satu keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa adalah menyimak. Untuk pembelajaran ini dibutuhkan materi menyimak berupa audio dan video. Tujuan penelitian ini menganalisis materi menyimak Sahabatku Indonesia (SI-A1-multimedia/Inggris); membandingkan penilaian pemelajar terhadap dua materi audio dalam dua buku SI-A1-multimedia/Inggris dan buku biasa; mengidentifikasi penilaian pemelajar terhadap beberapa audio materi ajar SI-A2-Anak Sekolah. Ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Informannya mahasiswa BIPA KNB IPB 2021. Temuannya, tertukarnya posisi materi menyimak Unit 4 dan 5, semua materi berupa audio monolog-dialog, tidak adanya penekanan pada bunyi, adanya ketidaksesuaian antara teks audio dengan teks tertulis, adanya rekaman lain yang tidak bagian materi dalam audio. Dua audio dalam dua materi yang berbeda dinilai pemelajar berbeda  kecepatannya. Audio BIPA2 dinilai pemelajar masih sangat cepat. Perlu penilaian pemelajar terhadap materi. Simpulannya adalah masih ditemukan kesalahan dalam materi ajar menyimak dan materi ajar masih dinilai cepat oleh pemelajar BIPA tingkat A1 dan A2.
KETIDAKADILAN GENDER, EMANSIPASI, DAN RESISTENSI PEREMPUAN BALI DALAM NOVEL KENANGA KARYA OKA RUSMINI: TINJAUAN FEMINISME Rusdian Noor Dermawan; Nur Indah Sholikhati; Anisya Parastika Wati; Arif Eko Widodo; Firsadias Gigih Pamukti
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.906

Abstract

This applied research has four objectives, namely to analyze (1) the form of gender inequality, (2) the form of women's emancipation, and (3) the practice of gender resistance in the novel Kenanga by Oka Rusmini. This qualitative descriptive study uses qualitative data collected by observation and documentation methods. The research instrument is a researcher who is equipped with a set of feminism theory and data analysis cards. The data collected was then analyzed using a qualitative descriptive technique based on the theory of feminism. The results of the study found that the plot of the Kenanga novel was a flashback type. The main cha-racter who experiences gender injustice and resists her feminist thoughts, attitudes, and behavior is Kenanga. The forms of gender injustice against Balinese women in Oka Rusmini's novel Kenanga include marginalization, stereotypes, and violence. The emancipation of Balinese women in the novel Kenanga is defined as the process of releasing women from low socioeconomic positions and from legal or traditional       restraints, especially the caste system that restricts women from developing. Balinese women's resistance through Kenanga and Intan appears in four forms, namely inner, cultural, social, and verbal resistance.Penelitian terapan ini memiliki empat tujuan, yakni menganalisis (1) bentuk ketidakadilan gender, (2) wujud emansipasi wanita, dan (3) praktik resistensi gender dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini. Penelitian deskriptif kualitatif inimenggunakan data kualitatif yang dikumpulkan dengan metode observasi dan dokumentasi. Instrumen penelitian ini adalah peneliti yang dibekali seperangkat teori feminisme dan kartu data analisis. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan berpijak pada teori feminisme. Hasil penelitian ditemukan bahwa alur novel Kenanga berjenis flashback. Tokoh utama yang mengalami ketidak-adilan gender dan melakukan resistensi dengan pikiran, sikap, dan perilaku feminisnya adalah Kenanga. Wujud ketidakadilan gender terhadap perempuan Bali dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini meliputi marginalisasi, stereotipe, dan kekerasan. Emansipasi perempuan Bali dalam novel Kenanga diartikan sebagai proses pelepasan diri perempuan dari kedudukan sosial ekonomi rendah dan dari pengekangan hukum atau tradisi terutama sistem kasta yang membatasi pe-rempuan untuk berkembang. Resistensi perempuan Bali lewat tokoh Kenanga dan Intan muncul dalam empat bentuk, yaitu perlawanan batin, kultural, sosial, dan verbal.