cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
NATURE IN INDONESIAN TOURISM: A MULTIMODAL DISCOURSE ANALYSIS Arina Isti'anah; Anindita Dewangga Puri
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.816 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1159

Abstract

 In tourism promotion, nature has been considered a key factor in persuading tourists to visit. Nature has been studied by many researchers using linguistic analysis,  such as metaphor and rhetorical devices, to attach it to beauty and paradise. However, tourism promotion in social media now also requires multimodal modes to communicate with readers. The choice of shot strategies, frame size, and eye level in the visual source are powerful features to position readers in virtual communication. Therefore, this paper addresses multimodal strategies to present Indonesian nature in the tourism website from its interpersonal strategies. Theories of multimodality by Kress and Leeuwen are applied to discuss five samples of the multimodal resources of Medan, Raja Ampat, Lombok, Bintan, and Banyuwangi. The analysis found that the visual strategies identified from the gaze, shot distance, and eye level constitute an offer, while the textual strategies function as informative and descriptive. This paper confirms previous research that Indonesian tourism website is loaded with descriptive modes where persuasion is indirectly addressed.Dalam promosi pariwisata, alam telah dianggap sebagai factor kunci dalam membujuk turis untuk mengunjungi tempat wisata. Alam telah dikaji oleh peneliti dengan analisis linguistik, beberapa di antaranya seperti metafora dan Pirani retorika untuk melekatkan alam dengan keindahan dan surga. Namun demikian, promosi pariwisata dalam media sosial saat ini juga memerlukan mode multimodal untuk berkomunikasi dengan pembaca. Pilihan strategi pengambilan gambar, ukuran bingkai, dan tingkat mata dalam sumber visual merupakan fitur yang kuat untuk memposisikan pembaca dalam komunikasi virtual. Oleh sebab itu, artikel ini membahas strategi multimodal untuk menyajikan alam Indonesia pada situs web pariwisata dari strategi interpersonalnya. Teori multimodalitas dari Kress dan Leeuwen diaplikasikan  untuk membahas lima sampel dair sumber multimodal teks Medan, Raja Ampat, Lombok, Bintan, dan Banyuwangi. Analisis menemukan bahwa strategi visual yang diidentifikasi melalui tatapan, jarak pengambilan, dan tingkat mata bertujuan untuk menawarkan, sedangkan strategi tekstual mengemban fungsi informatif dan deskriptif. Artikel ini menegaskan penelitian sebelumnya bahwa situs web pariwisata Indonesia memuat mode deskriptif yang memuat fungsi persuasive tak langsung.   
TUTUR SAPA BAHASA INGGRIS-AMERIKA DALAM ASPEK SOSIOLINGUISTIS, PRAGMATIS, DAN PSIKOLOGIS Arie Andrasyah lsa
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.313 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.9

Abstract

Tutur sapa di dalam bahasa Inggris-Amerika masih meninggalkan kerumpangan di dalam penggunaannya. Atas dasar itu, muncul masalah di dalam penggunaannya: (1) kategori dan bentuk tutur sapa apa yang terdapat di dalam novel dan (2) bagaimana penggunaannya di dalam aspek sosiolinguistis, pragmatis, dan psikologis yang harus diselidiki untuk menemukan jawabannya. Teori yang digunakan adalah Biber et al. (1999); Wardhaugh (2000), dan Holmes (2001). Dari penelitian ini ditemukan bahwa (1) secara sosiolinguistis tutur sapa digunakan berdasarkan hubungan sosial, status sosial, situasi resmi dan takresmi; (2) secara pragmatis tutur sapa terjadi karena aspek kesantunan dan tindak ilokusi; dan (3) secara psikologis tutur sapa digunakan menurut keadaan emosional penyapa (P1). Di dalam penelitian ini ditemukan 23 kategori tutur sapa dalam bahasa Inggris-Amerika (cf. Biber et al. 1999).American English address forms still remain the recess in their uses. On the basis of this, there are two questions (1) what categories and kinds of address forms occur in novel and (2) how are they used in sociolinguistic, pragmatic, and phsycological aspects - that must be investigated to find out the answers. The theories used in this study are Biber et al. (1999); Wardhaugh (2000), and Holmes (2001). The findings of this study are (1) in sociolinguistic aspects, the address forms are used on the basis of social relationship, social status, formal and informal situations; (2) in pragmatic aspects they occur because of politeness and illocutionary acts; and (3) in phsycological aspects they are used according to emotional situations of P1.ln this study it is found that there are 23 categories of American-English address forms (cf. Biber et al. 1999).Key words: address form, sociolinguistic, pragmatic, phsychology, social status, social relationship, formal situation, informal situation, emotional situation
KEDWIBAHASAAN DALAM NOVEL KENANGA KARYA OKA RUSMINI (THE BILINGUALISM IN KENANGA NOVEL BY OKA RUSMINI) Lustantini Septiningsih
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.977 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.145

Abstract

Penggunaan bahasa daerah dalam karya sastra tidak selalu mengganggu pemahaman pembaca atas suatu karya. Hal itu bergantung pada bagaimana pengarang mengeks-presikan bahasa daerah itu. Kenanga karya Oka Rusmini merupakan novel dwibahasa karena adanya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana dwibahasa itu digunakan pengarang akan dikaji. Tujuannya ialah mendiskripsikan dwibahasa yang digunakan dalam novel tersebut. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Pendekatan yang akan dilakukan dengan cara menganalisis karya sastra dari aspek bahasa dan masyarakat. Metode penelitian ini ialah metode diskriptif, yaitu penelitian dilakukan atas dasar fakta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan dwibahasa dalam Kenanga berkaitan dengan faktor nonkebahasaan. Faktor nonkebahsaan itu ialah kehidupan tokoh yang berkasta Brahmana dan yang berkasta Sudra, adat yang ada di Bali, dan agama Hindu yang dianut tokohnya. Faktor nonkebahasaan itu memengaruhi pengungkapan gagasan, pikiran, dan perasaan tokohnya. Untuk memudahkan pemaham atas penggunanan bahasa Bali, pengarang memberikan kata bahasa Indonesianya, baik di dekatnya maupun di catatan kaki. Dengan demikian, pembaca tidak mengalami banyak kesulitan untuk memahami novel Kenanga. The use of local language in literary is not an obstacle for readers to understand a piece of literary works. It depends on how the author expresses the local language into his work. Kenanga novel by Oka Rusmini is a bilingual novel because it uses Indonesian and local language. The research problem is how bilingualism is used by the author. The research aims to describe the bilingualism used in the novel. This research is a qualitative research. The approach used in the research is by analyzing language and society aspect of the novel. This research uses descriptive method, i.e. a research is carried out on the basis of facts. The results of this study indicate that bilingualism in Kenanga relating to non-linguistic factors. Non-linguistic factors are life of Brahmin and Sudra caste, custom of Bali, Hinduism adhered by the characters. Non-linguistics factors influence characters expression of ideas, thoughts, and feelings. To ease understanding of Balinese language, the author gives the Indonesian language word, either nearby the Balinese word or in footnotes. Therefore, readers do not find much difficulty in understanding Kenanga novel.
PRIBUMI VS ASING: KAJTAN POSKOLONIAL TERHADAP PUTRI CINA KARYA SINDHUNATA Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2243.673 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.45

Abstract

Identitas selalu menjadi persoalan bagi keturunan Cina di Nusantara. Permasalahan identitas tersebut adalah akibat politik identitas yang dilakukan oleh kaum Belanda. Politik tersebut menempatkan kaum berkulit putih, Cina, sebagai kaum Timur Asing (Vreemde Oostrelingen) di tingkat kedua dan pribumi (Inlanders) berada di tingkat ketiga. Selanjutnya, pelabelan Cina sebagai asing menimbulkan pengaruh panjang dan menjadi sebuah kesadaran bersama bagi masyarakat Indonesia modern. Pribumi versus asing (Cina) adalah efek dari kolonialisme yang terjadi di Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Gambaran tersebut didekonstruksi dalam Puti Cina, sebuah novel karya Sindhunata. Kajian ini menggunakan kajian poskolonial untuk mengungkap identitas pribumi dan asing (Cina), dan penindasan rasial terhadap keturunan Cina dalam novel Putri Cina. Identity problem always attaches to Chinese descendent in Nusantara. The problem is originated from identity politics treated by Dutch colonial. The politics places Chinese, the white, as the foreign East (Vreemde Oostrelingen) in second class and indigenous (Inlander) as third class society. Furthermore, Chinese labeling as foreigners has generated long impact and mass consciousness for modern Indonesian society. lndigenous versus foreigners (Chinese) is effect of long occupation of colonialism in Indonesia. Portrayal of the opposition is deconstructed in Putri Cina, a novel by Sindhunata. To reveal identity of indigenous and foreigners (Chinese) and race oppression to Chinese descendant in putri Cina, the study was conducted using postcolonial study.
DINAMIKA MENUJU KESEJATIAN DIRI PADA TOKOH UTAMA BIDADARI BERMATA BENING KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY (DYNAMICS TOWARDS SELF-SUCCESS IN THE MAIN FIGURE OF BIDADARI BERMATA BENING BY HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY) Umar Sidik
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.646 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.202

Abstract

This study addresses four problems, namely (1) how Ayna overcomes unconsciousness in her; (2) how Ayna can protect her person from the personality that dominates her; (3) how Ayna overcomes the shadow side of herself; and (4) how Ayna gathered courage to face anima and animus in her. This study uses the psychoanalytic approach (archetype) proposed by Carl G. Jung which is related to self-authenticity (the self). Data validity is determined by the validity of the meaning. The analysis is carried out by means of understanding, heuristics, and hermeneutics and meaning to obtain inference according to the purpose of the study. In this study it was found that (1) Ayna represents personalunconscious to provide space for the entry of positive new impulses to encourage self-realization; (2) Ayna acts as a persona when her condition is pressed, namely by revealing her identity when being tried in a boarding school; (3) Ayna makes a harmonious blend or balance between things that are contradictory in her shadow; and (4) Ayna controls herself by suppressing all her shadows and animations to give space for animus emergence so that she can think clearly to save herself. Penelitian ini membahas empat permasalahan, yaitu (1) bagaimana Ayna mengatasi ketidaksadaran (unconscious) dalam dirinya; (2) bagaimana Ayna dapat melindungi personanya dari kepribadian yang mendominasi dirinya; (3) bagimana Ayna mengatasi sisi hitam (shadow) dari dirinya sendiri; dan (4) bagaimana Ayna mengumpulkan keberanian untuk menghadapi anima dan animus dalam dirinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikoanalisis (arketipe) yang dikemukakan oleh Carl G. Jung yang terkait dengan kesejatian diri (the self). Kesahihan data ditentukan dengan validitas makna. Adapun analisis dilakukan dengan cara pemahaman, heuristik, dan hermeneutik serta pemaknaan untuk memperoleh inferensi sesuai dengan tujuan penelitian. Pada penelitian ini ditemukan bahwa (1) Ayna merepresikan ketidaksadaran pribadi (personalunconscious) untuk memberikan ruang masuknya impuls-impuls baru yang positif untuk mendorong terwujudnya realisasi diri; (2)Ayna melakukan tindak persona ketika kondisi dirinya terdesak, yaitu dengan cara membeberkan jati dirinya ketika disidang di pondok pesantren; (3) Ayna membuat perpaduan atau keseimbangan yang harmonis antara hal-hal yang bertentangan dalam bayang-bayang dirinya; dan (4) Ayna mengendalikan diri dengan menekan seluruh bayang-bayang dan animanya untuk memberikan ruang munculnya animus sehingga dapat berpikir jernih untuk menyelamatkan diri. 
FOKUS BENEFAKTIF DAN INSTRUMENTAL DALAM KALIMAT IMPERATIF BAHASA JAWA NFN Suhandano
Widyaparwa Vol 49, No 1 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.503 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i1.742

Abstract

The focus or voice system is an important issue in the study of Austronesian languages. This paper discusses the benefactive and instrumental focus in the imperative sentences of Javanese, a member of the Austronesian language with the largest number of native speakers. Through this paper, it will be shown that benefactive and instrumental in Javanese imperative sentences can be present as elements of sentences that are focused or unfocused. When they are not focused, the two elements of the sentence are expressed in prepositional phrases (PP) with the preposition of kanggo for benefactive and the preposition of nganggo for instrumental. When they are focused, the benefactive and instrumental are expressed in noun phrases (NP) and the verbs take the suffix –(k)na. Their position in the sentence structure also differs when they are focused and when they are not. The existence of imperatives with a benefactive and instrumental focus indicates that Javanese is a language of multiple voice types and this is different from the focus in declarative sentences which place Javanese into a language type with a two-voice system, active and passive. It seems that the differences focus in the two types of sentences indicates that Javanese is in the process of changing from a multiple voice type language to a two voice type language.Sistem voice atau fokus merupakan isu penting dalam studi bahasa-bahasa Austronesia. Tulisan ini membicarakan fokus benefaktif dan instrumental dalam kalimat imperatif bahasa Jawa, anggota bahasa Austronesia yang jumlah penutur aslinya paling banyak. Melalui tulisan ini akan ditunjukkan bahwa benefaktif dan instrumental dalam kalimat imperatif bahasa Jawa dapat hadir sebagai unsur kalimat yang difokuskan maupun tidak difokuskan. Ketika tidak difokuskan, kedua unsur kalimat tersebut dinyatakan dalam frasa preposisional (FP) dengan preposisi kanggo untuk benefaktif dan preposisi nganggo untuk instrumental. Ketika difokuskan, benefaktif dan instrumental diekspresikan dalam frasa nomina dan verba kalimat mengambil sufiks –(k)na. Posisinya dalam struktur kalimat juga berbeda ketika difokuskan dan tidak difokuskan. Keberadaan imperatif dengan fokus benefaktif dan instrumental mengindikasikan bahwa bahasa Jawa termasuk tipe bahasa multiple voice dan hal ini berbeda dengan fokus dalam kalimat deklaratif yang menempatkan bahasa Jawa termasuk ke dalam tipe bahasa dengan sistem dua voice, aktif dan pasif. Tampaknya perbedaan fokus dalam kedua jenis kalimat mengindikasikan bahwa bahasa Jawa sedang dalam proses perubahan dari bahasa tipe multiple voice ke bahasa tipe dua voice.
RELEVANSI PERUBAHAN SOSTAL BUDAYA POLITK (1945-1965) DAN DINAMIKA PENGARANG/PEMBACA SASTRA INDONESIA DI YOGYAKARTA Herry Mardianto
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2881.298 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.80

Abstract

Kehadiran media massa (majalah/surat kabar) tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial budaya dan politik serta berbagai sistem yang tidak dapat dipisahkan darinya; diantaranya adalah sistem pengarang dan pembaca. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui siapa pengarang (karya sastra) dan pembaca yang terlibat dalam mempertahankan keberadaan majalah-majalah/surat kabar yang terbit di Yogyakarta pada tahun 1945-1965. Kajian berpijak pada tinjauan makro sastra Roland Tanaka. The existence of mass media (magazine/newspaper) cannot, be separated from cultural social and political problem and also various system around it; for example writer and reader system. This study is carried out to find out who is the writer (literary piece) and reader involved in maintaining magazines/newspaper published in Yogyakarta in 1945-L965 . The study based on Roland Tanaka literary macro review.
BAHASA YAMDENA DI MALUKU: KORESPONDENSI, VARIASI DIALEKTAL, DAN SEBARAN WILAYAH PAKAINYA (YAMDENA LANGUAGE IN DIALECTAL VARIATION MOLUCCAS: THE CORRESPONTDENCE, AND ITS AREA DISTRIBUTION USE) Mukhamdanah Mukhamdanah
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3249.798 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.104

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan korespondensi dan variasi dialektal dari enam dialek bahasa Yamdena yang dituturkan di wilayah Maluku. Data berupa data primer dari kuesioner kekerabatan bahasa dan pemetaan bahasa di Indonesia. Dengan menggunakan metode padan, pendekatan kuantitatif, dan alat utama daftar Swadesh, analisis dilakukan terhadap 200 kosakata dasar Swadesh untuk penelusuran perangkat kognat anggota dialek bahasa Yamdena. Leksem-leksem yang terdapat di antara daerah-daerah pengamatan atau dialek-dialek bahasa Yamdena ditentukan sebagai perbedaan fonologis apabila perbedaan yang terdapat pada leksem-leksem yang menyatakan makna yang sama itu muncul secara teratur atau merupakan korespondensi; dan dianggap sebagai variasi jika perbedaan itu hanya terjadi pada satu atau dua bunyi yang sama urutannya. Dari aspek linguistic, bahwa perubahan bunyi yang korespondensi itu terjadi dengan persyaratan lingkungan linguistik tertentu. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan adanya korespondensi dan variasi antardialek bahasa Yamdena. Korespondensi yang ditemukan berupa korespondensi konsonan dan korespondensi vokal. Terdapat 9 korespondensi konsonan, yang terdiri atas 5 korespondensi sangat sempurna, 3 korespondensi sempurna, serta 1 korespondensi tidak sempurna. Korespondensi yang ditemukan di antaranya adalah realisasi bunyi [e] pada akhir kata ditemukan pada dialek Banggoi sementara puda sebaran pakai dialek lain bunyi [e] pada akhir kata cenderung hilang. Selain korespondensi, ditemukan 82 variasi konsonan dan 13 variasi vokal.This study is aimed to describe the correspondence and dialectical variation of six Yamdena dialect spoken in the Moluccas. The data is primary data of language kinship questionnaire and language mapping in Indonesia. By using a unified method, quantitative approach, and Swadesh list as research main instrument, the analysis was conducted on 200 basic Swadesh vocabularies. The lexemes, which are among the areas of observation or Yamdena language dialects, are defined as phonological differences if the differences in the lexemes which express the same meaning appeared on a regular basis or a correspondence; and considered as a variation if the differences were only found in one or two sound of the same order. From the linguistic aspect, the occurrence correspondence sound changes requires particularly linguistic environment. Based on analysis, it is revealed there is a correspondence and variation between the dialects of Yamdena language. The correspondences found are consonant correspondence a vowel correspondence. There are 9 consonant correspondences, which consists of 5 very perfect correspondences, 3 perfect correspondences and 1 not perfect correspondence. The correspondence found among other is the realization of the sound [e] at the end of a word found in Banggoi dialect, while on other dialects' distribution the sound [e] at the end of word tends to disappear. In addition to correspondence, 52 variations of consonants and 13 variations of a vowel are found.
Sampul depan dan belakang NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1143.498 KB)

Abstract

Halaman Sampul dan Halaman Belakang NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.952 KB)

Abstract