cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
POLITENESS STRATEGIES EMPLOYED BY THE ALPHA GENERATION IN TPQ MUJAHIDIN MOJOKERTO Fahmi, Lukman; Nuryana, Amiatun
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1186

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pola komunikasi sosial Generasi Alpha, kelompok generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital dan dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar mereka. Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk komunikasi sosial yang ditunjukkan oleh generasi ini serta faktor-faktor yang memengaruhinya, dengan menggunakan kerangka teori Brown & Levinson (1987) dan Culpeper (2011). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan komunikasi sosial Generasi Alpha melalui penerapan strategi modifikasi perilaku, termasuk sistem reward and punishment serta teknik ekonomi token. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, temuan penelitian ini mengungkap berbagai bentuk komunikasi sosial yang dikategorikan ke dalam kesantunan (politeness) dan ketidaksantunan (impoliteness). Faktor-faktor yang memengaruhi meliputi pola asuh orang tua, interaksi dengan teman sebaya, paparan media sosial, persepsi diri, dan pengaruh eksternal. Penerapan teknik modifikasi perilaku menunjukkan perubahan yang signifikan, mendorong pengembangan perilaku positif dan mengurangi perilaku negatif. 
Indeks Abstrak Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NILAI MORAL DALAM SERAT CARIYOSIPUN RARA KANDREMAN KASAMBETAN DONGENG TIGANG WARNI Lestari, Suwasti Ratri Eni; Widyastuti, Sri Harti
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1089

Abstract

Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni was written by Mas Nuswadiharja in 1874, printed in 1916 by Papyrus Batawi. Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni tells about good and bad human traits. Which can be used as an example for the community in general. The purpose of this study is to describe the moral values in Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni. This study uses qualitative descriptive research with philological studies. The object of this research is the moral values contained in the manuscript of Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni by Mas Nuswadiharja. The data collection techniques used in this study are using library techniques and note-taking techniques. The handling of the Serat Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni by transliterating from the Javanese script to the Latin script, then the content of the manuscript is analyzed so that the moral teachings contained in the manuscript can be understood. Based on the results of research and discussion on Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni, the following conclusions can be drawn: (1) Moral values concerning human relationships with oneself, including: (a) self-control, (b) courage, (c) self-confidence, (d) acting carefully, (e) honesty, (f) leadership, (g) perseverance, (h) wisdom, and (i) hard work. (2) Moral values concerning human relationships with fellow human beings which include: (a) affection between fellow human beings, (b) caring for fellow human beings, (c) not liking to hold grudges, (d) maintaining good relations with others, (e) helping others, and (f) kinship and mutual cooperation. (3) Moral values concern the relationship between humans and the natural environment (utilizing nature as needed). (4) Moral values regarding man's relationship with God include: (a) belief in God, (b) man's closeness to God, (c) efforts to get closer to God, and (d) belief in destiny and death.Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni ditulis oleh Mas Nuswadiharja pada tahun 1874, dicetak pada tahun 1916 oleh Papyrus Batawi.  Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni menceritakan tentang sifat-sifat manusia yang baik maupun buruk. Yang dapat dijadikan teladan bagi masyarakat secara umum. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai moral dalam Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitataif dengan kajian filologi. Objek dari penelitian ini adalah nilai-nilai moral yang terkandung dalam naskah Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni karya Mas Nuswadiharja. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka dan teknik catat. Penanganan Serat Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni dengan cara transliterasi dari aksara Jawa ke aksara Latin, kemudian analisis isi dilakukan untuk memahami ajaran moral yang tekandung dalam naskah. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap Serat Cariyosipun Rara Kandreman Kasambetan Dongeng Tigang Warni dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) nilai moral menyangkut hubungan manusia dengan diri sendiri, meliputi: (a) pengendalian diri, (b) pemberani, (c) percaya diri, (d) bertindak hati-hati, (e) kejujuran, (f) kepemimpinan, (g) ketekunan, (h) kebijaksanaan, serta (i) kerja keras. (2) Nilai moral menyangkut hubungan manusia dengan sesama manusia yang meliputi: (a) kasih sayang antarsesama manusia, (b) peduli dengan sesama manusia,  (c) tidak suka menyimpan dendam, (d) menjaga hubungan baik dengan orang lain, (e) tolong menolong antarsesama, serta (f) kekeluargaan dan gotong royong. (3) Nilai moral menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan alam (memanfaatkan alam sesuai kebutuhan). (4) Nilai moral menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan meliputi: (a) percaya kepada Tuhan, (b) kedekatan manusia kepada Tuhan, (c) upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, serta (d) percaya kepada takdir dan kematian. 
MODUS DAN INFERENSI DALAM TEKS LAGU JAWA KARYA DIDI KEMPOT Setiyadi, Dwi Bambang Putut; Herawati, Nanik
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1168

Abstract

The research objective is to describe the mood and inference in the Javanese song text by Didi Kempot. Mood is the expression of the speaker’s attitude towards what he says. Inference is a process that must be carried out by the communicant to understand the meaning not contained in the discourse. Discourse that uses various modes is multimodal text. Multimodal text is not just text in written form, but also written text accompani edaudiovisual text or verbal and audiovisual text. The research strategy used is qualitative research. Data collection techniques using document techniques and audiovisual materials. Document technique to obtain data about Didi Kempot's curriculum vitae and album. The audiovisual material technique is to find data from albums on CDs and the internet, especially You Tube. The triangulation technique uses data triangulation, theory, method, and data. Data analysis techniques use interactive analysis models: reduce data, present data, and draw conclusions. The results of the research on Javanese song texts by Didi Kempot contained indicative, optative, negative, interrogative, and imperative modes. The most used mood is the indicative mode. Based on the situation and cultural context, it is concluded that Didi Kempot had experienced a bitter experience in love that made his heart languish. This can be seen from the overall meaning of the texts of the Javanese songs written by Didi Kempot, which generally tell about feelings of sadness and heartbreak because they are abandoned by their loved ones.Tujuan penelitian ini mendeskripsikan modus dan inferensi dalam teks lagu Jawa karya Didi Kempot. Modus merupakan pengungkapan sikap penutur terhadap apa yang dituturkannya. Inferensi adalah proses yang harus dilakukan oleh komunikan untuk memahami makna yang tidak terdapat dalam wacana. Wacana yang menggunakan berbagai moda disebut taks multimodal. Teks multimodal bukan hanya sebuah teks yang berbentuk tulisan saja, melainkan  juga teks tulis yang disertai teks audiovisual atau teks verbal dan audiovisual. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumen   untuk mendapatkan data-data riwayat hidup dan albu-album Didi Kempot serta teknik materi audiovisual untuk mencari data-data dari album CD dan  You Tube. Validitas menggunakan triangulasi data, teori, metode, dan peneliti. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif: mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian terhadap teks lagu Jawa karya Didi Kempot memperlihatkan adanya modus indikatif, optatif, negatif, interogatif, dan imperatif. Modus terbanyak adalah modus indikatif. Hasil kajian terhadap inferensi  teks menghasilkan pengalaman pahit dalam cinta yang membuat seseorang merana. Hal ini terlihat dari keseluruhan makna teks lagu-lagu karya Didi Kempot yang pada umumnya berkisah tentang perasaan sedih dan patah hati karena ditinggalkan kekasihnya.
SOCIAL ACTOR REPRESENTATION IN SOLOPOS CRIME NEWS DISCOURSE Hendrastuti, Retno; Aji, Endro Nugroho Wasono; Okitasari, Indah; Maemunah, Emma
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1308

Abstract

The events of crimes in society receive big attention from mass media, as well as SOLOPOS, one of the biggest newspapers in Central Java. The mass media cannot be considered a neutral channel that reports the social actors in crime news. This study observes and researches the discourse of crime news in SOLOPOS, identifies how the newspaper represents the social actors in the discourse, and explores the representation. The discourse analysis of Theo van Leeuwen's model is used to find qualitative content analysis methods. This method tries to understand the message reflected in the representation of social actors in discourse. The results of the study showed that SOLOPOS uses a strategy of exclusion and inclusion. The exclusion strategies used were nomination and elimination of adverbial function. The inclusion discourse strategies used were differentiation, abstraction, categorization, identification, determination, assimilation, and association. The strategies were found in all parts of the text, those were in the title, lead, and news body. Furthermore, the exclusion strategy was found in reporting criminal cases of corruption which tried to exclude the actor or the perpetrators. Then, the inclusion strategy involved in almost a variety of cases that tried to expose the perpetrators. It means that SOLOPOS tend to display the perpetrators in their crime discourse presentation for the benefit of the victims.Peristiwa kejahatan di masyarakat mendapat perhatian besar dari media massa, begitu pula SOLOPOS, salah satu surat kabar terbesar di Jawa Tengah. Media massa tidak bisa dianggap sebagai saluran netral yang terkadang dalam pemberitaannya berpihak pada salah satu aktor sosial dalam wacana berita kriminal. Penelitian ini bertujuan  mengamati dan meneliti wacana berita kriminal pada media massa SOLOPOS, lebih spesifik mengenai mengetahui bagaimana surat kabar tersebut merepresentasikan aktor-aktor sosial dalam wacana yang diterbitkan. Untuk mengeksplorasi representasi tersebut digunakan analisis wacana model Theo van Leeuwen. Kemudian, metode penelitian kualitatif dipertahankan untuk menganalisis data, yaitu untuk memahami pesan yang tercermin dalam representasi aktor sosial dalam wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SOLOPOS dalam pemberitaannya menggunakan strategi eksklusi dan inklusi. Strategi eksklusi yang digunakan adalah nominasi dan eliminasi fungsi adverbial. Strategi wacana inklusi yang digunakan adalah diferensiasi, abstraksi, kategorisasi, identifikasi, determinasi, asimilasi, dan asosiasi. Strategi tersebut terdapat pada seluruh bagian teks, yaitu pada judul, lead, dan badan berita. Lebih lanjut, strategi eksklusi ditemukan dalam pemberitaan kasus pidana korupsi yang berusaha mengecualikan pelaku atau pelakunya. Kemudian, strategi inklusi terlibat dalam hampir berbagai kasus yang berusaha mengungkap pelakunya. Artinya, SOLOPOS cenderung menampilkan pelaku dalam penyajian wacana kejahatannya demi kepentingan korban. 
STRATEGI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KISAH TIGA PANGERAN Piani, Ririn Tria; Sumarti, Sumarti; Samhati, Siti; Rusminto, Nurlaksana Eko; Widodo, Mulyanto
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1525

Abstract

Kisah Tiga Pangeran merupakan cerita rakyat dari Sumatera Selatan yang banyak menyajikan hal menarik untuk dikaji secara mendalam. Salah satu dari hal menarik tersebut adalah berkaitan dengan penggunaan bahasa, khususnya pada strategi kesantunan berbahasa yang digunakan oleh tokoh-tokoh ceritanya. Penelitian ini bertujuan menguraikan strategi kesantunan berbahasa yang digunakan tokoh cerita dalam Kisah Tiga Pangeran. Kajian ini menekankan pada teori kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Brown & Levinson, yakni seputar penyelamatan muka. Semua orang yang rasional mempunyai muka yang harus dijaga dan dipelihara. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berwujud kutipan kalimat yang dikumpulkan melalui teknik baca-catat. Analisis data dilakukan dengan teknik interaktif yakni teknik analisis data dengan menyajikan data dalam bentuk visualisasi berupa tabel dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh cerita dalam Kisah Tiga Pangeran menggunakan beragam strategi untuk dapat berbahasa secara santun. Strategi yang digunakan para tokoh cerita terbagi ke dalam dua jenis, yakni strategi kesantunan negatif dan strategi kesantunan positif. Strategi kesantunan negatif direalisasikan dengan cara memberikan pertanyaan, meminimalkan paksaan, memberikan penghormatan, meminta maaf, dan menggunakan tuturan berpagar. Adapun strategi kesantunan positif direalisasikan dengan cara melibatkan penutur dan lawan tutur dalam aktivitas, memperhatikan keinginan lawan tutur, membesar-besarkan perhatian dan simpati kepada lawan tutur, serta menyatakan hubungan secara timbal balik. Selain itu, strategi kesantunan positif juga dilakukan tokoh cerita dengan cara menggunakan penanda identitas kelompok, mengintensifkan perhatian penutur dengan mendramatisasi peristiwa atau fakta, memberikan hadiah (barang, simpati, perhatian, kerja sama) kepada lawan tutur, memberikan tawaran atau janji, dan menunjukkan hal-hal yang dianggap memiliki kesamaan. Kisah Tiga Pangeran merupakan cerita rakyat dari Sumatera Selatan yang banyak menyajikan hal menarik untuk dikaji secara mendalam. Salah satu dari hal menarik tersebut adalah berkaitan dengan penggunaan bahasa, khususnya pada strategi kesantunan berbahasa yang digunakan oleh tokoh-tokoh ceritanya. Penelitian ini bertujuan menguraikan strategi kesantunan berbahasa yang digunakan tokoh cerita dalam Kisah Tiga Pangeran. Kajian ini menekankan pada teori kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Brown & Levinson, yakni seputar penyelamatan muka. Semua orang yang rasional mempunyai muka yang harus dijaga dan dipelihara. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berwujud kutipan kalimat yang dikumpulkan melalui teknik baca-catat. Analisis data dilakukan dengan teknik interaktif yakni teknik analisis data dengan menyajikan data dalam bentuk visualisasi berupa tabel dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh cerita dalam Kisah Tiga Pangeran menggunakan beragam strategi untuk dapat berbahasa secara santun. Strategi yang digunakan para tokoh cerita terbagi ke dalam dua jenis, yakni strategi kesantunan negatif dan strategi kesantunan positif. Strategi kesantunan negatif direalisasikan dengan cara memberikan pertanyaan, meminimalkan paksaan, memberikan penghormatan, meminta maaf, dan menggunakan tuturan berpagar. Adapun strategi kesantunan positif direalisasikan dengan cara melibatkan penutur dan lawan tutur dalam aktivitas, memperhatikan keinginan lawan tutur, membesar-besarkan perhatian dan simpati kepada lawan tutur, serta menyatakan hubungan secara timbal balik. Selain itu, strategi kesantunan positif juga dilakukan tokoh cerita dengan cara menggunakan penanda identitas kelompok, mengintensifkan perhatian penutur dengan mendramatisasi peristiwa atau fakta, memberikan hadiah (barang, simpati, perhatian, kerja sama) kepada lawan tutur, memberikan tawaran atau janji, dan menunjukkan hal-hal yang dianggap memiliki kesamaan.STRATEGI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KISAH TIGA PANGERAN
LEKSIKON FLORA DAN FAUNA PADA PERIBAHASA MINANG: KAJIAN EKOLINGUISTIK Jambak, Mellinda Raswari; Al Anshory, Abdul Muntaqim
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1551

Abstract

The relationship between humans and their environment, especially flora and fauna, produces a language in the form of proverbs. The Minang tribe has its own proverbs that have a relationship with the surrounding nature. The formation of these proverbs is none other than because of human relationships with the surrounding environment. This research aims to describe (1) the category and grammatical form of flora and fauna lexicons in Minang proverbs, (2) the metaphorical dialog model of Minang proverbs containing flora and fauna lexicons, and (3) the praxis dimension of Minang proverbs containing flora and fauna lexicons. This research employs ecolinguistics theory as an analytical tool. Ecolinguistics is a term resulting from the combination of two words, ecology and linguistics. The term refers to the study of languages in relation to their environmental contexts. Primary data sources come from interviews with one of the leaders of the Jambak tribe in Malalo, West Sumatra. Meanwhile, other data sources come from journals and books relevant to the research. The research used qualitative methods. In collecting data, researchers used interview and note-taking techniques. While data analysis techniques, researchers used the Miles and Huberman model, namely data reduction, data exposure, and conclusion drawing. The result of this research is that there are  flora and fauna lexicons from nine Minang proverbs. Flora lexicons are rice, weeds, cikarau, anau, and mingkudu. Fauna lexicons such as kabau, monitor lizard, bilalang, mancik, and ula. These ten lexicons are in the form of nouns and root words. There are three aspects of the environment or TOPOS: space, place and time. These three aspects have certain patterns and references. The praxis dimension in Minang proverbs is recorded in three praxis dimensions, namely the idological dimension (the Minang tribe's understanding of the flora and fauna lexicon), the social dimension (the relationship between the Minang people and nature), and the biological dimension (describing the biological characteristics of the flora and fauna lexicon).Hubungan manusia dengan lingkungan khususnya flora dan fauna menghasilkan sebuah bahasa berupa peribahasa. Suku Minang memiliki peribahasa tersendiri yang memperlihatkan hubungan mereka dengan alam sekitarnya. Pembentukan peribahasa tersebut tidak lain karena hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kategori dan bentuk gramatikal dari leksikon-leksikon flora dan fauna dalam peribahasa Minang, (2) model dialog metafora peribahasa Minang yang mengandung leksikon flora dan fauna, dan (3) dimensi praksis peribahasa Minang yang mengandung leksikon flora dan fauna. Penelitian ini menggunakan teori ekolinguistik sebagai pisau analisis yang  merupakan hasil penggabungan dua kata, yakni ekologi dan linguistik. Istilah itu mengacu pada pengkajian terhadap bahasa-bahasa yang terkait dengan lingkungan. Sumber data primer berasal dari hasil wawancara dengan salah satu pemuka suku Jambak di Malalo, Sumatera Barat. Sedangkan sumber data lainnya berasal dari jurnal dan buku yang relevan dengan penelitian. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara dan catat. Pada analisis, peneliti menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil dari penelitian ini ialah terdapat sembilan leksikon flora dan fauna dari sembilan peribahasa Minang. Leksikon flora, yaitu padi, ilalang, cikarau, anau, dan mingkudu. Leksikon fauna seperti kabau, biawak, bilalang, mancik, dan ula. Sembilan leksikon ini berupa nomina dan kata dasar. Terdapat tiga aspek lingkungan atau TOPOS yaitu ruang, tempat, dan waktu. Tiga aspek ini memiliki pola-pola dan acuan tertentu. Adapun dimensi praksis dalam peribahasa Minang terekam dalam tiga dimensi praksis, yaitu ideologis (pemahaman suku Minang terhadap leksikon flora dan fauna), sosiologis (hubungan masyarakat Minang dengan alam), dan biologis (menggambarkan ciri-ciri biologis dari leksikon flora dan fauna).
KRITIK SOSIAL PADA LIRIK LAGU KARYA IWAN FALS: KAJIAN STILISTIKA Faizah, Inayah Isnaini; Ekawati, Mursia; Pradita, Linda Eka
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1533

Abstract

Song lyrics are a form of literary work that originally from the outpouring of personal feelings, emotions, expressions and experiences from the author. Through a song, we can find the language style used by each writer. This research method is descriptive qualitative. This research uses a note-reading technique with all the lyrics of the song and then records all the analysis results. The data source in this research is the lyrics of the songs "Rekening Gendut" and " Bangsat ". The results of this research are social criticism built from the language style of song lyrics. The language style seen is from the use of figures of speech and language functions. The results of this research show that there are social criticism that discusses problems in the legal realm, dirty political behavior of public officials, and morals. This criticism is conveyed both explicitly and implicitly through the use of figures of speech and language functions.Lirik lagu merupakan salah satu bentuk karya sastra yang berasal dari curahan perasaan pribadi, emosi, ekspresi, dan pengalaman dari pengarang. Melalui sebuah lagu, kita dapat menemukan gaya bahasa yang digunakan oleh setiap penulis. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik baca-catat dengan keseluruhan lirik dari lagu tersebut kemudian mencatat semua hasil analisis. Sumber data dalam penelitian ini adalah lirik lagu “Rekening Gendut” dan “Bangsat”. Hasil penelitian ini yaitu kritik sosial yang dibangun dari gaya bahasa pada lirik lagu. Adapun gaya bahasa yang dilihat yaitu dari pemanfaatan majas dan fungsi bahasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kritik sosial yang membahas permasalahan dalam ranah hukum, perilaku politik kotor para pejabat publik, dan moral. Kritik tersebut disampaikan baik secara eksplisit maupun implisit melalui pemanfaatan majas dan fungsi bahasa.
STRATEGI PENERJEMAHAN PRIMBON BETALJEMUR ADAMMAKNA: STUDI KASUS PENERJEMAHAN ANTARBAHASA SERUMPUN LINTAS KALA Hariyanto, Sugeng; Sujono, Adiloka; Suryanto, Bambang
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1462

Abstract

 Related languages may facilitate the translation as they share many features. However, when the translation is done long after the source text was written, a potential problem may arise as the target readers have been different in terms of knowledge, habit, expectations and possibly faith. Hence, appropriate translation strategies are important. This study examined the strategies of the translation of ‘Kitab Primbon Betaljemur Adammakna’, written by R. Soemodidjojo, 57th printing, 2008, into modern Indonesian done by Wibatsu, 1st printing, 1994, published by Penerbit Soemodidjojo Mahadewa. This qualitative descriptive study compared the target text (Indonesian) with the source text (Javanese) to describe the translation strategies adopted to achieve semiotic, textual, grammatical, and semantic equivalence in the textual, sentence or clause, and word levels. The sample included the topics of ‘pawukon’, tradition or ceremonies, and human physical and trait description.  The findings revealed a free approach to achieve semiotic, textual, and grammatical equivalence. Free translation and 'no-translation' were employed at the clause and sentence levels. At the word level, borrowing strategies were used for cultural words, words closely related to daily life, and specific ‘primbon’ expressions. Additional information was also used inconsistently; sometimes addition is given after slash (/) or put between brackets. The findings emphasize the importance of target readers identification before translation is done. Finally, it is suggested that the translators of similar texts identify the target readers appropriately. Further research on similar topics is suggested to interview the writer and the translator if they are still alive or reachable.Kekerabatan pasangan bahasa di dalam penerjemahan dapat mendatangkan kemudahan dan juga kesulitan bagi penerjemah jika penerjemahan dilakukan lintas kala. Untuk itu pemilihan strategi penerjemahan yang tepat menjadi penting. Penelitian ini mengkaji penerjemahan Kitab Primbon Betaljemur Adammakna dari abad 19 ke dalam bahasa Indonesia modern akhir abad 20. Penelitian deskriptif kualitatif ini membandingkan teks bahasa sasaran (Indonesia) dan teks bahasa sumber (Jawa) untuk mendeskripsikan strategi penerjemahan KPBA yang terkait dengan kesepadanan semiotika, tekstual, gramatika, dan semantik. Untuk mencapai kesepadanan semiotika dan tekstual, dan gramatika, penerjemah mengambil metode bebas. Penerjemahan bebas menerjemahkan dan juga ‘tidak menerjemahkan’ unit-unit penerjemahan tingkat klausa atau kalimat. Dalam hal semantik Pada tingkat kata penerjemah menerapkan strategi pinjaman untuk (a) kata konsep khas budaya Jawa, (b) kata yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari orang Jawa, dan (c) ungkapan khas primbon. Selain itu, penambahan keterangan juga sering digunakan dengan cara yang kurang konsisten, kadang keterangan ditambahkan setelah garis miring atau di dalam kurung; dan tambahan keterangan ini bisa bahasa sumber, bahasa sasaran dan bahkan bahasa ketiga (Inggris). Temuan penelitian ini menekankan perlunya pengidentifikasian pembaca sasaran sebelum kerja terjemahan dimulai. Akhirnya disarankan agar penerjemah naskah serupa mengidentifikasi pembaca sasaran dengan lebih baik dan peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah metode pengumpulan data dengan wawancara.Related languages may facilitate the translation as they share many features. However, when the translation is done long after the source text was written, a potential problem may arise as the target readers have been different in terms of knowledge, habit, expectations and possibly faith. Hence, appropriate translation strategies are important. This study examined the strategies of the translation of ‘Kitab Primbon Betaljemur Adammakna’, written by R. Soemodidjojo, 57th printing, 2008, into modern Indonesian done by Wibatsu, 1st printing, 1994, published by Penerbit Soemodidjojo Mahadewa. This qualitative descriptive study compared the target text (Indonesian) with the source text (Javanese) to describe the translation strategies adopted to achieve semiotic, textual, grammatical, and semantic equivalence in the textual, sentence or clause, and word levels. The sample included the topics of ‘pawukon’, tradition or ceremonies, and human physical and trait description.  The findings revealed a free approach to achieve semiotic, textual, and grammatical equivalence. Free translation and 'no-translation' were employed at the clause and sentence levels. At the word level, borrowing strategies were used for cultural words, words closely related to daily life, and specific ‘primbon’ expressions. Additional information was also used inconsistently; sometimes addition is given after slash (/) or put between brackets. The findings emphasize the importance of target readers identification before translation is done. Finally, it is suggested that the translators of similar texts identify the target readers appropriately. Further research on similar topics is suggested to interview the writer and the translator if they are still alive or reachable.
TINDAK TUTUR EKSPRESIF SEBAGAI SARANA PENGUNGKAP KECEMASAN KELOMPOK EKS-PSIKOTIK DI PANTI SOSIAL MURIA JAYA KUDUS Fathurohman, Irfai; Setiawaty, Rani; Raharjo, Trubus; Fajrie, Nur; Pusbasari, Imaniar; Kinororatri, Lintang
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1514

Abstract

This study aims to identify the forms and functions of expressive speech acts in a group of ex-mild psychotics as a means of expressing anxiety. The study used a qualitative method with a narrative approach. The subjects were a group of ex-mild psychotics undergoing rehabilitation at the Muria Jaya Social Welfare Institution. The research data were in the form of expressive speech collected through recording, documentation, and literature study techniques. Data analysis was carried out using translational, referential, and pragmatic equivalent methods. The results of the study showed 11 forms of expression, namely happiness, sadness, disappointment, guilt, annoyance, gratitude, pride, self-control, recognition, hope, and optimism. The functions of this speech act include expressions of happiness, sadness, gratitude, pride, emotional control, recognition, hope, and optimism in the context of a better life. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif pada kelompok eks-psikotik ringan sebagai sarana pengungkapan kecemasan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Subjeknya adalah kelompok eks-psikotik ringan yang menjalani rehabilitasi di Panti Sosial Muria Jaya. Data penelitian berupa tuturan ekspresif yang dikumpulkan melalui teknik pencatatan, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan menggunakan metode padan translasional, referensial, dan pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan adanya 11 bentuk ekspresi, yaitu bahagia, sedih, kecewa, bersalah, kesal, bersyukur, bangga, pengendalian diri, pengakuan, harapan, dan optimisme. Fungsi tindak tutur ini meliputi ungkapan kebahagiaan, kesedihan, rasa syukur, kebanggaan, pengendalian emosi, pengakuan, harapan, dan optimisme dalam konteks kehidupan yang lebih baik.