cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
MEMORI DAN TRAUMA DALAM DUA NOVEL SASTRA INDONESIA-TIONGHOA KONTEMPORER Russida, Corvi Aldhecca
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1666

Abstract

In this paper, we will discuss two novels by contemporary Chinese authors, Debur Ombak Memanggilmu Kembali and Perkumpulan Anak Luar Nikah. This research aims to find out the memory and trauma that Chinese authors still carry in their works. This research uses Maurice Halbwachs' collective memory theory and Caruth's trauma theory. This research is qualitative and using two types of data, namely primary data and secondary data. Primary data is taken from the source of the material object, while secondary data consists of obtained from various sources such as books, scientific journals, articles, and video interviews and news (if needed). The results of the analysis of this paper show that the memory and trauma of Chinese-Indonesian authors are at least manifested in three ways, namely the memory and trauma of the events of May 1998, the author's tendency to bring up monoethnic characters in the novel, and the phenomenon of arranged marriages between Singkawang women and Taiwanese men. The events of May 1998 are considered as an event that psychologically attacked Chinese-Indonesians ethnic on a massive scale. That showed from the re-emergence of the event as a manifestation of the characters' trauma through flashbacks.Pada tulisan ini, peneliti mengkaji dua novel karya pengarang keturunan Tionghoa kontemporer, yaitu Debur Ombak Memanggilmu Kembali dan Perkumpulan Anak Luar Nikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui memori dan trauma yang masih dibawa oleh para pengarang keturunan Tionghoa dalam karyanya. Penelitian ini menggunakan teori memori kolektif Maurice Halbwachs dan teori trauma Caruth. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diambil dari sumber objek material, sementara data sekunder terdiri dari diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan video wawancara dan berita (jika diperlukan). Hasil analisis tulisan ini menunjukkan bahwa memori dan trauma pengarang  beretnis Tionghoa-Indonesia setidaknya termanifestasi dalam tiga hal, yakni memori dan trauma peristiwa Mei 1998, kecenderungan pengarang memunculkan tokoh-tokoh yang monoetnis dalam novel, dan fenomena pernikahan pesanan antara perempuan Singkawang dengan pria berkebangsaan Taiwan. Peristiwa Mei 1998 dianggap sebagai peristiwa yang secara psikologis menyerang etnis Tionghoa-Indonesia secara masif. Hal tersebut terbukti dari dimunculkannya kembali peristiwa tersebut sebagai manifestasi trauma tokoh-tokohnya dengan cara kilas balik.   
IDEOLOGI PENCAPRESAN TAHUN 2024 PADA MEDIA DIGITAL DI INDONESIA: PERSPEKTIF TEUN A. VAN DIJK Minto, Deri Wan; Anshori, Dadang S.; Damaianti, Vismaia S.; Sastromiharjo, Andoyo; Zulfadhli, Muhammad
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1373

Abstract

News of the 2024 presidential election has begun to emerge through mass media, especially in digital media. With the digitization, the development of news has become so fast. Without realizing it, this progress can be eroded by the flow of information that is always dynamic. News must be of character and quality. Journalists must always have their own strategies, tactics, and moves in creating ideology to the audience through published news texts. This study principally aims to describe the ideology of the 2024 presidential bid on digital media in Indonesia: Teun A. van Dijk's perspective which focuses on digital media Kompas.com. The sample in this study is 5 news published in April-May with the theme "2024 election". The source of the news is digital media Kompas.com published from April to May 2023. This research is qualitative with a descriptive method. The validation technique is carried out with diligence in making direct observations of the news based on news snippets. The results explain the emergence of actors as positive subjects, implied messages based on special interests, and the powerful role of journalists' ideology published on Kompas.com. This can be seen through the macro aspect element; and, the last superstructure, namely the micro. Pemberitaan pencapresan tahun 2024 sudah mulai bermunculan melalui media massa terutama di media digital. Dengan adanya digitalisasi perkembangan pemberitaan menjadi begitu cepat. Tanpa disadari kemajuan ini bisa saja tergerus oleh arus informasi yang selalu dinamis. Pemberitaan harus berkarakter dan berkualitas. Wartawan harus selalu mempunyai strategi, taktik, dan jurus tersendiri dalam menciptakan ideologi ke khalayak lewat teks berita yang dipublikasikan. Penelitian ini pada prinsipnya bertujuan untuk mendeskripsikan ideologi pencapresan tahun 2024 pada media digital di Indonesia: Perspektif Teun A. van Dijk yang difokuskan kepada media digital Kompas.com. Sampel dalam penelitian ini ialah 5 berita yang terbit pada bulan April--Mei bertemakan “pencapresan 2024”. Sumber berita ialah media digital Kompas.com yang terbit bulan April sampai dengan Mei 2023. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengabsahan dilakukan dengan ketekunan dalam melakukan pengamatan langsung dari pemberitaan berdasarkan cuplikan berita. Hasil penelitian menjelaskan adanya pemunculan aktor sebagai subjek yang positif, pesan tersirat atas dasar kepentingan khusus, dan peran kuasa dari ideologi wartawan yang dipublikasikan di Kompas.com. Hal itu terlihat melalui elemen aspek makro dan, superstruktur yang terakhir yaitu mikro.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM CERITA PENDEK MENDEM JARAK: PERSPEKTIF ANTROPOBOTANI SASTRA Setyowati, Herlina; Endraswara, Suwardi; Dwijonagoro, Suwarna
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1569

Abstract

This study aims to examine the existence of cultural aspects and the meaning of botanical symbols in the short story Mendem Jarak. The research method used is literary anthropology. The primary data source is the short story Mendem Jarak by Muhammad Taufiq Syarif. Data collection is conducted through reading and note-taking techniques. The data analysis employs literary anthropology techniques. The research findings reveal cultural phenomena emerging in the short story Mendem Jarak including 1) cultural ideologies, 2) cultural practices, and 3) cultural materials. Cultural ideologies regarding the antidote for jarak fruit (Jatropha plant) poisoning in the short story Mendem Jarak uncover the utilization of young coconut water (degan), processed coconut products such as klentik oil, and the sap of the jarak plant to counteract the effects of jarak fruit seeds' poison. Cultural practices demonstrate collaborative efforts and problem-solving activities regarding jarak fruit seed poisoning. Additionally, cultural materials involve the jarak plant as a symbol of disaster for the community due to its poisonous nature. Nevertheless, the community relies on their knowledge of treating jarak fruit poisoning victims with simple remedies, such as utilizing young coconut water, processed coconut products (klentik water), and jarak tree sap. The short story Mendem Jarak reflects the lives of a community closely connected with reality; portraying children with a strong sense of curiosity and the communal spirit prevalent in rural areas. The short story Mendem Jarak depicts the traditional knowledge of the community in using plants as medicine. Thus, the anthropobotanical perspective enriches the point of view in literary studies.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wujud budaya dan makna simbol botani dalam cerita cekak Mendem Jarak. Metode penelitian yang digunakan yaitu antropologi sastra. Sumber data penelitian yakni cerita cekak Mendem Jarak karya Muhammad Taufiq Syarif. Pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Adapun analisis data menggunakan teknik antropologi sastra. Hasil penelitian yang diperoleh ialah gejala kebudayaan yang muncul dalam cerita cekak Mendem Jarak meliputi 1) ideologi budaya, 2) tindakan budaya, dan 3) materi budaya. Ideologi budaya penawar keracunan buah jarak dalam cerita cekak Mendem Jarak mengungkap fakta penggunaan air buah kelapa muda (degan), produk olahan buah kelapa berupa minyak klentik, dan getah tumbuhan jarak untuk menghilangkan efek racun dari biji buah jarak. Tindakan budaya menunjukkan aktivitas kerja sama dan aktivitas mengatasi masalah keracunan biji buah jarak. Adapun materi budaya yakni tumbuhan jarak sebagai simbol sumber petaka bagi masyarakat karena mengandung racun. Meskipun demikian, masyarakat mempercayai pengetahuan mereka terhadap para korban keracunan buah jarak dengan konsep pengobatan sederhana, yakni dengan memanfaatkan air buah kelapa muda, olahan buah kelapa (lenga klentik), dan getah pohon jarak. Cerita cekak Mendem Jarak merefleksikan kehidupan masyarakat yang lekat sekali dengan kehidupan nyata; anak-anak yang rasa ingin tahunya tinggi dan rasa kebersamaan masyarakat di perdesaan. Cerita cekak Mendem Jarak melukiskan pengetahuan tradisional masyarakat untuk memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Dengan demikian, perspektif antropobotani sastra memperkaya sudut pandang dalam pengkajian sastra.
TRADISI PENYAMBUTAN DAN PENGHORMATAN TAMU DI KERATON YOGYAKARTA SEBAGAI BENTUK POLA RELASI PADA MASA PEMERINTAHAN HAMENGKU BUWANA VII DALAM NASKAH KOEPIJA DJENDRALAN Apriyadi, Clara Shinta Anindita; Buduroh, Mamlahatun
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1079

Abstract

 This research -discussed the text of Kangjeng Tuan Ingkang Wicaksana Governor General Otto van Rees (KTIWGJO), it is one of the texts in the archived manuscript of Koepija Djendralan (KD) the collection of KHP Widya Budaya Keraton Yogyakarta. The text was written in Javanese and the form of prose. This text was studied with philology analysis. Furthermore, the analysis of the content text used the theory of postcolonialism and the theory of hegemony. The purpose of this study was to present the edits and translations of the KTIWGJO text so that it was easy to read and understood by today's society and to explain the procession of welcoming and honoring guests at the Yogyakarta Palace during the reign of Sultan Hamengku Buwana VII. Analysis of the content of the KTIWGJO text, including analysis of welcome and respect upon arrival of Governor General Otto van Rees; and an analysis of the activities of Governor General Otto van Rees for seven days in Yogyakarta. The pattern of relations was analyzed using the theory of postcolonialism. Through this pattern of relations, it can add new insights into the pattern of hegemony carried out by the natives at that time and prove that not all of the colonized were backward and ignorant parties. Penelitian ini membahas teks Kangjeng Tuan Ingkang Wicaksana Gupernur Jendral Otto van Rees (KTIWGJO), salah satu teks yang berada di dalam naskah arsip Koepija Djendralan (KD) koleksi KHP Widya Budaya Keraton Yogyakarta. Teks ini tertulis dalam bahasa Jawa dan berbentuk prosa. Teks ini dikaji dengan metode filologi dan dianalisis menggunakan teori poskolonialisme serta teori hegemoni. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyajikan suntingan dan terjemahan teks KTIWGJO agar mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat kini dan menjelaskan prosesi penyambutan serta penghormatan tamu di Keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII. Analisis isi terdiri dari analisis penyambutan; analisis penghormatan pada saat kedatangan Gubernur Jenderal Otto van Rees; dan analisis kegiatan Gubernur Jenderal Otto van Rees selama di Yogyakarta. Pola relasi yang dianalisis menggunakan teori poskolonialisme. Melalui pola relasi ini pula, dapat menambah wawasan baru mengenai pola hegemoni yang dilakukan oleh pihak pribumi pada masa itu dan membuktikan bahwa pihak terjajah tidak semuanya adalah pihak terbelakang dan pihak yang bodoh.
VARIASI KOSAKATA POLITIK DALAM PEMILU INDONESIA 2024 SEBAGAI BENTUK KREATIVITAS BERBAHASA Hanifah, Riska Lulu; Kusumaningsih, Dewi; Sukarno, NFN
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1725

Abstract

The use of political vocabulary in the 2024 Indonesian election is starting to vary. Political vocabulary variations are found in public politics. Many do not realize that political vocabulary includes linguistic creativity. This study describes the sociolinguistic factors that affect language creativity in creating phonological, morphological, and semantic creativity. The method used is qualitative descriptive, with mass media data sources such as television, as well as social media such as Instagram and Twitter that discuss the creativity of political vocabulary in the 2024 Indonesian elections. Data collection techniques include listening, reading, and taking notes for mass media, as well as reading and taking notes for social media. Data analysis uses the Miles and Huberman model, through data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study explain the sociolinguistic factors that affect language creativity. Linguistic creativity through a linguistic approach that describes phonological creativity, including differences in writing and speech resulting in variations in political vocabulary. Morphologically, it involves political compounding, and cronyism. Meanwhile, semantically, it includes synesthesia, denotative meaning, connotative meaning, and the use of slang. The variation of political vocabulary is expected to contribute to the public understanding the use of vocabulary that appears in political contexts.Penggunaan kosakata politik dalam pemilu Indonesia 2024 mulai bervariasi. Variasi kosakata politik banyak ditemukan dalam politik publik. Banyak yang tidak menyadari bahwa kosakata politik termasuk kreativitas berbahasa. Penelitian ini menguraikan faktor-faktor sosiolinguistik yang memengaruhi kreativitas bahasa dalam menciptakan kreativitas fonologis, morfologis, dan semantis. Metode yang digunakan kualitatif deskriptif, dengan sumber data media massa, seperti televisi serta media sosial, seperti Instagram dan Twitter yang membahas kreativitas kosakata politik dalam pemilu Indonesia 2024. Teknik pengumpulan data meliputi simak, baca, dan catat untuk media massa, serta baca dan catat untuk media sosial. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menjelaskan faktor-faktor sosiolinguistik yang memengaruhi kreativitas berbahasa. Kreativitas berbahasa melalui pendekatan linguistik yang menguraikan kreativitas fonologis, mencakup perbedaan penulisan dan cara ucap menghasilkan variasi kosakata politik. Secara morfologis, melibatkan pemajemukan politik, dan pengakroniman. Sementara itu, secara semantis, meliputi sinestesia, makna denotatif, makna konotatif, dan penggunaan bahasa slang. Variasi kosakata politik diharapkan memberi kontribusi pada masyarakat dalam memahami penggunaan kosakata yang muncul dalam konteks politik.
LEKSIKOSTATISTIK DAN GLOTOKRONOLOGI BAHASA BERAU DENGAN BAHASA MINANGKABAU Mayangsari, Dewi; Inderajati, Aal
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1410

Abstract

This study is a lexicostatistical and glottochronological study that aims to classify words by prioritizing time calculations or calculating the age of relatives’ languages. This research is focused on Berau and Minangkabau languages. The people who speak the Berau Language are people of the Berau tribe in Berau District, East Kalimantan. Meanwhile, the Minangkabau language is spoken by people in the Province of West Sumatra (except the Mentawai Islands), western Riau Province, and Negeri Sembilan, Malaysia. The collection phase used the referential equivalent method, the data analysis stage used the lexicostatistical and glotochronological methods. Moreover, the results of data analysis used informal and formal methods. The theory used is sound correspondence, lexicostatistics, and glottochronology. The analysis shows some points such as 37 pairs of identical, 46 pairs of phonemic correspondences, 1 pair of different phonemes, and 44 pairs of similar forms. Lexicostatistical calculations show that the percentage of kinship between Berau and Minangkabau languages is 67%. Berau and Minangkabau languages were single languages in 1.053–787 years ago. Berau and Minangkabau languages have been separated from the proto-language between 970–1.236 BC (calculated from 2023).Kajian ini merupakan kajian leksikostatistik dan glotokronologi yang bertujuan mengelompokkan kosakata kerabat dengan menekankan perhitungan waktu pisah atau usia bahasa kerabat. Penelitian ini menitikberatkan pada bahasa Berau dengan bahasa Minangkabau. Bahasa Berau dituturkan oleh masyarakat yang ada di suku Berau, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Adapun bahasa Minangkabau dituturkan oleh masyarakat di wilayah Provinsi Sumatera Barat (kecuali Kepulauan Mentawai), bagian barat Provinsi Riau, dan Negeri Sembilan, Malaysia. Tahap pengumpulan menggunakan metode padan referensial, tahap analisis data menggunakan metode leksikostatistik dan glotokronologi. Adapun metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal dan formal. Teori yang digunakan yaitu korespondensi bunyi, leksikostatistik, dan glotokronologi. Hasil analisis diperoleh 37 pasangan identik, 46 pasangan korespondensi fonemis, 1 pasang fonem berbeda, dan 44 pasangan bentuk mirip. Penghitungan leksikostatistik menunjukkan bahwa persentase kekerabatan bahasa Berau dan bahasa Minangkabau sebanyak 67%. Bahasa Berau dan bahasa Minangkabau merupakan bahasa tunggal pada 1.053–787 tahun yang lalu. Bahasa Berau dan bahasa Minangkabau mulai berpisah dari bahasa proto antara 970 SM–1.236 SM (dihitung dari tahun 2023).
KONTRIBUSI PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA INDONESIA–TIONGKOK DALAM PEMBELAJARAN BIPA BAGI PEMELAJAR TIONGKOK Kusmiatun, Ari
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1369

Abstract

In today’s era, the interest in learning the Indonesian language as a foreign language is increasing, especially among learners from China. This increase can be attributed to the economic, cultural, and tourism relations between Indonesia and China, which have driven the demand for Indonesian language proficiency. In this context, it is important for learners to have cross-cultural understanding to avoid cultural conflicts. Drawing on intercultural theory and second language learning, this study aimed to: (1) identify the similarities and differences between Indonesian and Chinese cultures, (2) describe the contributions of both Indonesian and Chinese cultures in BIPA learning for Chinese learners. This study employed a qualitative descriptive approach. Data of this study were words, phrases, or sentences related to Chinese cultural content. Data sources were obtained from five respondents from China who are continuing their studies at Yogyakarta State University. Data collection techniques were conducted through semi-structured interviews. Data analysis used thematic analysis. The results indicate that the cultural differences and similarities between Indonesia and China can contribute to multicultural teaching materials, cross-cultural classroom management, and cross-cultural teaching strategies in BIPA learning.Di era ini, minat untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa asing semakin meningkat, terutama pemelajar dari Tiongkok. Peningkatan tersebut dapat dikaitkan dengan hubungan ekonomi, budaya, dan pariwisata antara Indonesia dan Tiongkok yang telah mendorong permintaan akan kemampuan berbahasa Indonesia. Dalam konteks ini, penting bagi pemelajar untuk memiliki pemahaman lintas budaya guna menghindari konflik budaya. Dengan menggunakan teori intercultural dan pembelajaran bahasa kedua, penelitian ini bertujuan untuk (1) menemukan persamaan dan perbedaan budaya Indonesia dengan Tiongkok; (2) mendeskripsikan kontribusi kedua budaya Indonesia dengan Tiongkok sebagai Pembelajaran BIPA bagi pemelajar Tiongkok. Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif. Data berupa kata, frasa, atau kalimat terkait muatan budaya Tiongkok. Sumber data diperoleh dari lima responden dari Tiongkok yang sedang melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur. Analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil menunjukkan bahwa perbedaan dan persamaan budaya Indonesia dan Tiongkok dapat memberikan kontribusi meliputi bahan ajar multikultural, pengelolaan pembelajaran kelas lintas budaya, dan strategi pengajaran lintas budaya dalam pembelajaran BIPA.
RESEPSI KOVER NOVEL CANTIK ITU LUKA (2015) DALAM VERSI TERJEMAHAN BAHASA INGGRIS Sari, Mustika Wulan; Arofani, Nilam Yuhanisa; Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1355

Abstract

The novel Beauty Is a Wound is an English translation of the original Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. These two novels have two different covers due to the reception they received from the publishers. This study aims to examine the cover reception of Beauty Is a Wound. This paper also looks at the differences in visual design between the two novels and examines how the publisher gave its reception through the cover of Beauty Is a Wound. The qualitative research method prioritizes data quality. Data collection is done by observing, reading, and taking notes. The research data covers of Cantik Itu Luka (2015) and Beauty Is a Wound (2015), texts related to novels, authors, and publishers, as well as information about literary receptions. Data were analyzed through data reduction, presentation, and interpretation. The results of this study reveal that the reception on the cover of Beauty Is a Wound occurs due to readers having different social and cultural backgrounds. In addition, market tastes are also an essential consideration for publishers to provide their responses. Novel Beauty Is a Wound merupakan terjemahan bahasa Inggris dari versi original Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan. Kedua novel ini memiliki dua kover berbeda karena munculnya resepsi oleh penerbit. Penelitian ini bertujuan mengkaji resepsi kover Beauty Is a Wound. Tulisan ini juga melihat perbedaan desain visual antara kedua novel tersebut, dan mengkaji bagaimana penerbit memberikan resepsinya melalui kover Beauty Is a Wound. Metode penelitian berjenis kualitatif mengutamakan kualitas data. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati, membaca, dan mencatat. Data penelitian berupa kover Cantik Itu Luka (2015) dan Beauty Is a Wound (2015), teks-teks terkait novel, pengarang, dan penerbit, serta informasi-informasi tentang resepsi sastra. Data dianalisis melalui reduksi data, menyajikan data, dan interpretasi data. Hasil penelitian ini mengungkapkan resepsi dalam kover Beauty Is a Wound terjadi akibat dari pembaca yang memiliki latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Selain itu, selera pasar juga menjadi pertimbangan penting terhadap penerbit untuk memberikan tanggapannya. 
PROFIL LITERASI DIGITAL BERBASIS ANALISIS SURVEI UNTUK PENGUATAN LITERASI SASTRA DI ABAD KE-21 Handayani, Wulan; Sunendar, Dadang; Damaianti, Vismaia S.
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1386

Abstract

This research aims to assess the level of digital literacy among teenagers aged 11 to 14 years old. The survey was conducted within a community with a total of 40 teenage respondents. The research method used was descriptive quantitative. The research instrument employed was a questionnaire prepared through a Google Form, supported by other data collection methods such as observation sheets and interviews. Data analysis techniques involved data coding, tabulation, scoring, and data analysis to draw conclusions. The research results indicate that 95% of the total respondents possess digital devices. 90% of teenagers have used electronic devices and can operate them. 75% of teenagers are aware of laws related to the protection of digital device usage, and 80% state that their digital devices are used for communication and entertainment purposes only. Therefore, it can be concluded that digital literacy among teenagers in the 21st century is quite high. However, efforts should be made to enhance literary literacy through digital platforms, providing valuable content alternatives for teenagers. This research is important in providing information about teenagers' proficiency with digital media. It is expected to serve as input for the development of models and digital literary literacy media as part of efforts to strengthen literacy in the 21st century. Transformasi penyelenggaraan pendidikan berkembang begitu cepat, sehingga pengintegrasian teknologi digital dan literasi, menjadi sebuah keniscayaan yang mendasar supaya dapat mengakomodasi tuntutan belajar dan dinamika perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk memotret tingkat literasi digital pada remaja (usia 11--14 tahun). Survei dilaksanakan pada komunitas dengan responden berjumlah 40 remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Instrument yang digunakan berupa angket yang disusun melalui media google form, dengan data penunjang lain berupa lembar observasi dan wawancara. Teknik analisis dilakukan dengan membuat kodifikasi data, tabulasi, membuat penskoran serta melakukan analisis data untuk menarik simpulan. Hasil penelitian menunjukkan 95% dari total 40 responden telah memiliki piranti media digital. Tercatat 90% remaja telah menggunakan gawai dan dapat mengoperasikannya. Sekitar 75% remaja sadar akan undang-undang perlindungan penggunaan perangkat media digital. Kemudian 80% menyatakan bahwa perangkat digital mereka, digunakan untuk komunikasi dan hiburan saja. Dapat disimpulkan bahwa literasi digital remaja di abad ke-21 sudah sangat baik. Namun, penguatan literasi sastra harus dikembangkan sebanyak mungkin melalui platform digital, guna penyediaan alternatif konten yang bermanfaat bagi para remaja.  Penelitian ini penting dilakukan, untuk memberikan informasi mengenai kecakapan remaja terhadap penggunaan media digital. Hal tersebut diharapkan menjadi masukan bagi pengembangan model maupun media literasi sastra digital sebagai upaya penguatan literasi di abad ke-21.
Sampul depan, belakang, dan dalam Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract