cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
REPRESENTASI PERMOHONAN KEADILAN GERAKAN AKSI KAMISAN DALAM NOVEL LAUT BERCERITA (2017) KARYA LEILA S. CHUDORI Shabrina, Almira Wynne; Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1660

Abstract

 The novel Laut Bercerita by Leila S. Chudori is a response to the social situation of society in the 2000s or the era after the Reformation regarding requests for human rights and justice through the Kamisan Action Movement. This research aims to reflect the social response of the novel Laut Bercerita to requests for human rights and justice through the Aksi Kamisan movement using a literary sociology approach. This research is included in the qualitative research category. This data was obtained from the novel text and the author's biography. The novel Laut Bercerita by Leila S. Chudori is the research data source. Social situations, author biographies, and text content ideas are connected as part of the data analysis process to reveal how the social world of the novel is depicted. The result of this research is Leila. S Chudori is a social representative of a group that cares about human rights and justice. This novel supports the struggle for human rights and justice carried out by the Kamisan Action movement. The novel Laut Bercerita reflects society's social life after the reform era. Based on data research, the novel Laut Bercerita is intended as a means of criticizing the government for its slowness in resolving human rights violations.Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan tanggapan terhadap situasi sosial masyarakat tahun 2000-an atau era setelah reformasi atas permohonan keadilan HAM melalui gerakan Aksi Kamisan. Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan tanggapan sosial novel Laut Bercerita atas permohonan keadilan HAM melalui gerakan Aksi Kamisan dengan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini termasuk kategori penelitian kualitatif. Data ini diperoleh dari teks novel dan biografi penulis. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori menjadi sumber data penelitian. Situasi sosial, biografi pengarang, dan gagasan isi teks dihubungkan sebagai bagian dari proses analisis data untuk mengungkap bagaimana dunia sosial novel digambarkan. Hasil dari penelitian ini adalah Leila. S Chudori merupakan wakil sosial dari kelompok yang peduli pada keadilan HAM. Novel ini mendukung perjuangan keadilan HAM yang dilakukan gerakan Aksi Kamisan. Novel Laut Bercerita adalah refleksi kehidupan sosial masyarakat setelah era reformasi. Berdasarkan penelusuran pada data, novel Laut Bercerita dimaksudkan sebagai sarana mengkritik pemerintah yang lamban dalam melakukan penyelesaian pelanggaran HAM tersebut.
AMBIGUITAS TUBUH PEREMPUAN DALAM PRAKTIK SURROGATE MOTHER DALAM NOVEL A HOUSE FOR HAPPY MOTHER KARYA AMULYA MALLADI Fadhliah, Dara Aghnia Nur; Adji, Muhamad; Hidayatullah, Mochammad Irfan
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1180

Abstract

The research was aimed at describing the ambiguity of women’s bodies involved in surrogate motherhood in the novel "A House for Happy Mothers" by Amulya Malladi. The theory in this research uses representation theory (Hall, 1997), women’s body theory including the maternal body (Young, 2005; Priyatna, 2018; Kristeva, 1981) and the shifting body theory (Teman, 2009).The techniques of analizing data are; 1) reduce the data according to the research problem that are the ambiguity of women’s body, including the women’s body, the maternal body, and the shifting body, 2) describe the data according to the theory and literature, 3)conclude the data that has been describe. The results show that there are three ambiguities manifested on the bodies of women who are involved in surrogacy, including (a) the women’s body, the body served as a free body and a body used by other parties, (b) the maternal body, the body served as a loving body and a service provider, (c) the shifting body, a body that undertakes and relinquishes its identity as the mother's body.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran ambiguitas tubuh perempuan yang terlibat  praktik surrogate mother dalam novel A House for Happy Mother karya Amulya Malladi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori representasi (Hall, 1997), teori tubuh perempuan yang meliputi tubuh maternal (Priyatna, 2018; Kristeva, 1981) dan teori tubuh bergeser (Teman, 2009). Adapun teknik dalam menganalis data penelitian ini yaitu; 1) mereduksi data sesuai dengan rumusan masalah yaitu ambiguitas tubuh perempuan meliputi, tubuh perempuan, tubuh maternal, dan tubuh bergeser, 2) menguraikan atau mendeskripsikan data sesuai dengan teori dan kepustakaan, 3) menarik kesimpulan atas data yang telah dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat ambiguitas yang terjadi pada tubuh perempuan yang terlibat dalam praktik surrogate mother, meliputi (a) tubuh perempuan, posisi tubuh sebagai tubuh yang bebas dan tubuh yang dimanfaatkan oleh pihak lain, (b) tubuh maternal, posisi tubuh sebagai tubuh penuh kasih sayang dan tubuh penyedia jasa, (c) tubuh bergeser, tubuh yang mengambil dan melepaskan identitas sebagai tubuh ibu.
Indeks Penulis dan Abstrak Widyaparwa, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

COMPARATIVE STUDY OF DEMONSTRATIVES IN SASAK AND CHINESE Sutarman, NFN; Abdussamad, Zainudin; Muhid, Abdul; Supatmiwati, Diah; Suktiningsih, Wiya
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1204

Abstract

Demonstratives in Chinese and Sasak languages have semantically and syntactically significant different concepts. Semantically, The Chinese language applies a two-way system consisting of proximal ‘zhe/zh’e and distal ‘na/nei’while Sasak language particularly the Menu-Meni dialect uses a three-way system including proximal‘ne’, medial‘tie’, and distal‘nu’. Syntactically, demonstrative in Chinese is categorized into five subtypes: pronominal, adnominal, locational, temporal, manner, and degree. Sasak, on the other hand, includes pronominal, adnominal, identificational, adverbial, verbal, quantificational, and referential. This paper shows that the Chinese and Sasak languages has semantically similar in the concept of proximity and different in medial and distal one. Syntactically, these languages have nominal and adverbial demonstrative which share similar properties but differ in other demonstrative categorizations. Demonstratif dalam bahasa Cina dan bahasa Sasak memiliki perbedaan konsep yang signifikan secara semantik dan sintaksis. Secara semantik, bahasa Cina menerapkan sistem dua arah yang terdiri dari proksimal 'zhe/zh'e dan distal 'na/nei' sedangkan bahasa Sasak khususnya dialek Menu-Meni menggunakan sistem tiga arah meliputi proksimal 'ne', medial 'tie', dan distal 'nu'. Secara sintaksis, demonstratif dalam bahasa Cina dikategorikan menjadi lima subtipe: pronominal, adnominal, locational, temporal, Manner, dan degree. Sasak, di sisi lain, memiliki pronominal, adnominal, identificational, adverbial, verbal, Quantifier, referential. Tulisan ini menunjukkan bahwa bahasa Cina dan bahasa Sasak secara semantik memiliki kesamaan dalam konsep proximity dan berbeda dalam konsep medial dan distal. Secara sintaksis, bahasa-bahasa ini memiliki demonstratif nominal dan adverbial dengan ciri yang sama tetapi berbeda dalam kategorisasi demonstratif lainnya.
POLA KOMUNIKASI PENYIAR DAN PENELEPON PADA ACARA GOBER DI RADIO PROSALINA FM Santuso, NFN; Haryono, Akhmad; Badrudin, Ali
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1198

Abstract

Gober is one of the flagship programs on Prosalina FM that is highly favored by the public and has been running for over 20 years. The research aim to describe the communication patterns between the announcer and callers on the Gober program. The communication patterns under study include verbal language, the structure of message content, as well as the direction and intensity of interactions among participants. This research falls under the study of communication ethnography using a qualitative descriptive method. Data is collected by downloading from YouTube and then continued using non-participatory observation methods. The data analysis stage uses communication ethnography methods and analyzes the eight components of speech proposed by Hymes. The results of this study indicate that the communication patterns established on the Gober program differ when responding to new callers and regular callers. The communication pattern between the announcer and new callers is formal, predominantly using the Indonesian language, and of short duration. This is because the main goal of a new caller is to introduce themselves to fellow Gober listeners and to request a song. Meanwhile, the communication pattern between the announcer and regular callers is relaxed, full of familiarity, often using code-switching and mixing codes, and has a longer duration. This is because the main goal of a regular caller is simply to chat or engage in small talk in the morning with the announcer,Gober merupakan salah satu program acara unggulan di Prosalina FM yang banyak diminati oleh masyarakat dan telah berjalan selama lebih dari 20 tahun. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan pola komunikasi penyiar dan penelepon pada acara Gober. Pola komunikasi yang dikaji berupa bahasa verbal, struktur materi pesan, arah dan intensitas interaksi di antara partisipan, dan latar sosial budaya. Penelitian ini termasuk kajian etnografi komunikasi dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan diunduh dari Youtube kemudian dilanjutkan dengan menggunakan metode observasi nonpartisipasi. Tahap analisis data menggunakan metode etnografi komunikasi dan analisis delapan komponen tutur yang dikemukakan Hymes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi yang dijalin pada acara Gober memiliki perbedaan saat merespons penelepon baru dan penelepon tetap. Pola komunikasi penyiar dan penelepon baru bersifat formal, dominan menggunakan bahasa Indonesia, dan berdurasi singkat. Hal itu karena tujuan utama seorang penelepon baru adalah untuk mengenalkan diri kepada sesama pendengar Gober dan untuk memesan lagu. Sementara, pola komunikasi penyiar dan penelepon tetap bersifat santai, penuh keakraban, sering menggunakan alih kode dan campur kode, dan berdurasi lebih lama. Hal itu terjadikarena tujuan utama seorang penelepon tetap adalah untuk sekadar mengobrol atau basa-basi di pagi hari dengan penyiar.
INSULTS ON SOCIAL MEDIA AS A FORM OF DIGITAL COMMUNI-CATION IMPOLITENESS: A CASE STUDY OF INSULTS IN COVID-19 PANDEMIC Arianto, Ahmad Khoironi; Djatmika, NFN; Santosa, Riyadi
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1002

Abstract

Communication through online media has increased during the Covid-19 era. This was done to reduce face-to-face interactions to inhibit the potential spread of Covid-19. However, on the other hand, this condition also increases the potential for insulting communication on social media. This article aims to explain the forms, types, and causes of impoliteness in utterances on social media regarding Covid-19. This research is descriptive qualitative. The data used is utterances containing insults about the Covid-19 pandemic on social media. Data comes from social media, such as Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp and Youtube. This article uses an observation approach and record method to collect data. Furthermore, the collected data was analyzed based on three things, 1) the Indonesian Criminal Code (KUHP) to formulate forms of insults, 2) pragmatic politeness theory to see the types of communication violations that result in insults, and 3) cultural themes to explore the factors that cause someone to commit insults. The results of this study are that 1) insults can be classified into 2 categories, slander, and insults, while criticism is an opinion for progress; 2) types of politeness violations in interactions on social media fulfill the 6 elements of the politeness category initiated by Leech; and 3) the cause of humiliation is not only because of hatred but also the humiliation factor that is based on sensation. Komunikasi melalui media daring semakin meningkat di masa covid-19. Hal itu dilakukan untuk mengurangi interaksi tatap muka sehingga menghambat potensi penyebaran Covid-19. Namun, di sisi lain, kondisi itu juga meningkatkan potensi komunikasi penghinaan di media sosial. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk, jenis, dan penyebab ketidaksopanan dalam ujaran di media sosial seputar Covid-19. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data yang digunakan ialah tuturan yang mengandung penghinaan seputar pandemi covid-19 di media sosial. Data berasal dari media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan Youtube. Artikel ini menggunakan pendekatan observasi dan metode catat untuk mengumpulkan data. Selanjutnya, data yang terkumpul tersebut dianalisis berdasarkan pada tiga hal, yaitu 1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia untuk merumuskan bentuk penghinaan, 2) teori kesantunan pragmatik untuk melihat jenis pelanggaran komunikasi yang mengakibatkan penghinaan, dan 3) tema budaya guna menelusuri faktor-faktor penyebab seseorang melakukan penghinaan. Hasil dari penelitian ini ialah bahwa 1) bentuk penghinaan dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu fitnah dan penghinaan, sedangkan kritik adalah pendapat untuk kemajuan; 2) jenis pelanggaran kesantunan dalam interaksi di media social memenuhi 6 unsur kategori kesantunan yang digagas Leech; dan 3) penyebab penghinaan tidak hanya karena kebencian, tetapi juga muncul faktor penghinaan yang berdasarkan pada sensasi.
PEMERTAHANAN DAN PERGESERAN DALAM PENGGUNAAN BAHASA SUNDA DI PONPES NURUL HIKMAH SEMARANG Maghfiroh, Alvina; Suryadi, Muhammad; Candra, Oktiva Herry
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1411

Abstract

This research aims to find communication patterns conducted by informant and knowing factors that cause Sundanese can survive and shift. This research is qualitative research that collect data using indepth interview. Data resources of this study were a native speaker of Sundanese as well as a student at Ponpes Nurul Hikmah Semarang. This data analysis technique uses an inductive model and translational equivalent methods. The result of this study shows that the informant interacted with people around her neighbours, Banten and in the overseas area, Semarang. Interactions carried out by the informant in Banten were with family, siblings, relatives, and school friends. While interactions in Semarang occured between informant and teachers, fellow students, and college friends. Informant used daily Sundanese or Sunda sedeng when she was in Banten. In Semarang, the frequency of using Bahasa Indonesia is more often than in Banten. The informant also practiced switching code and mixing code between Sundanese and bahasa Indonesia. From the various interactions made by informants, the factors that influence maintaining Sundanese are geographic factors, positive language attitudes, and the environment. Whereas the factors that influence shifting Sundanese are the environment and the second person in the speech act.Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola komunikasi yang dilakukan informan dan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan bahasa Sunda bertahan dan bergeser. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang pengumpulan datanya menggunakan metode wawancara mendalam. Sumber data penelitian ini adalah penutur asli bahasa Sunda sekaligus sebagai santri Ponpes Nurul Hikmah Semarang. Teknik analisis data ini menggunakan model induktif dan metode padan translasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, Banten dan di daerah rantau, Semarang. Interaksi yang dilakukan informan di Banten yaitu dengan keluarga, saudara kandung, kerabat, dan teman masa sekolah. Adapun interaksi di Semarang terjadi antara informan dengan guru, sesama santri, dan teman kuliah. Informan dominan menggunakan bahasa Sunda sehari-hari atau bahasa Sunda sedeng ketika di Banten. Saat di Semarang, frekuensi penggunaan bahasa Indonesia lebih sering daripada di Banten. Informan juga melakukan praktik alih kode dan campur kode antara bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Dari berbagai interaksi yang dilakukan informan, faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa Sunda dapat bertahan adalah faktor geografis, sikap positif bahasa, lingkungan dan mitra tutur, serta perbedaan usia. Adapun faktor yang mempengaruhi pergeseran bahasa Sunda adalah minoritas mitra tutur berbahasa Sunda serta kepentingan dan pemakaian.
MALE GAZE DALAM SASTRA FEMINIS: STUDI ATAS KARYA ABIDAH EL KHALIEQY DAN RATIH KUMALA Febrianto, Anggit; Udasmoro, Wening
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1244

Abstract

Since the fall of Suharto in May 1998, women's involvement in literature has increased rapidly, causing a rush of feminist themes and content in literary works in this period. However, the literary works of women writers, even female feminists, are still unable to escape the tendency to objectify women. This study will show how women are positioned as objects of the voyeuristic scopophilia and fetishistic scopophilia of men in the Abidah El Khalieqy’s Perempuan Berkalung Sorban and Geni Jora and Ratih Kumala’s Tabula Rasa and Gadis Kretek. This study is descriptive qualitative. Data collection techniques were carried out using the literature study method, namely by reading carefully and thoroughly the four material object novels. Collected data will be analyzed using Male Gaze Theory by Laura Mulvey. The results of this study show that in the four novels, women consistently manifest as objects of the voyeuristic scopophilia and fetishistic scopophilia of men. This finding can be seen in the voyeuristic relationship between Samsudin-Annisa in Perempuan Berkalung Sorban, Zakky-Lola in Geni Jora, Idroes-Roemaisa in Gadis Kretek; as well as in the Galih-Krasnaya fetishistic relationship in Tabula Rasa. As voyeuristic objects, women bodies are degraded as appropriate territory to be conquered by men; while as a fetishistic object, women are constructed as a "perfect product" that functions to satisfy men's visual desires. Sejak kejatuhan Soeharto pada Mei 1998, keterlibatan perempuan di ranah sastra meningkat dengan pesat sehingga menyebabkan derasnya tema dan muatan feminisme dalam karya sastra pada pe-riode ini. Akan tetapi karya sastra dari penulis perempuan, bahkan dari feminis perempuan sekalipun, masih belum mampu keluar dari kecenderungan untuk mengobjektifikasi perempuan. Penelitian ini akan menunjukkan bagaimana perempuan didudukkan sebagai objek voyeuristic scopophilia dan fetishistic scopophilia laki-laki di dalam novel Perempuan Berkalung Sorban dan Geni Jora karya Abidah El Khalieqy serta Tabula Rasa dan Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka, yaitu dengan pembacaan yang cermat dan menyeluruh terhadap empat novel objek material. Data yang sudah terkumpul kemudian akan dianalisis menggunakan Teori Male Gaze Laura Mulvey. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam keempat novel objek material, pe-rempuan secara konsisten diposisikan sebagai objek voyeuristic scopophilia dan fetishistic scopophilia laki-laki. Temuan ini dapat dilihat dalam relasi voyeuristic Samsudin-Annisa di Perempuan Berkalung Sorban, Zakky-Lola di Geni Jora, Idroes-Roemaisa di Gadis Kretek; serta dalam relasi fetishistic Galih-Krasnaya di Tabula Rasa. Sebagai objek voyeuristic, tubuh perempuan didegradasi menjadi sebuah teritori yang pantas ditaklukkan laki-laki; sementara sebagai objek fetishistic, perempuan dikonstruksi sebagai sebuah “produk sempurna” yang berfungsi memuaskan hasrat visual laki-laki.
TEKA-TEKI NAMA KOTA: PERMAINAN MULTIBAHASA Kurniawati, Atin
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1436

Abstract

This article discusses how the language translation is utilized in the city name riddles presented by Indonesian speakers. This research is descriptive qualitative. Data in the form of city name riddles were collected from three videos on Kampung Inggris LC and Kampung Inggris WE YouTube channels which were uploaded in September--October 2021 using simak and catat method. The data is then analyzed by comparing translations of words or phrases in the other languages involved. The results of the analysis show the use of one-word translation forms, nomina phrase translation, verb phrase translation, prepositional phrase translation, and clause translation from English to Indonesian or Javanese. The translation of these words has similarities with the names of cities in Indonesia. Some words represent lexical translations, but others only have similar meanings or are associated with the word in question. This multilingual game indirectly shows the identity of language users and represents certain geographical areas. This research implies the creativity of multilingual games by language users which can be used to support language learning.Artikel ini membahas wujud pemanfaatan terjemahan bahasa dalam teka-teki nama kota yang dibawakan oleh penutur bahasa Indonesia. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data berupa teka-teki nama kota dikumpulkan dari tiga video pada kanal YouTube Kampung Inggris LC dan Kampung Inggris WE yang diunggah pada bulan September--Oktober 2021 dengan metode simak dan catat. Data kemudian dianalisis dengan membandingkan terjemahan kata, frasa, maupun klausa dalam bahasa lain yang terlibat. Hasil analisis menunjukkan penggunaan wujud terjemahan satu kata, terjemahan frasa nomina, terjemahan frasa verba, terjemahan frasa preposisi, dan terjemahan klausa dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Terjemahan kata-kata tersebut mempunyai kesamaan atau kemiripan dengan nama-nama kota di Indonesia. Sebagain kata merupakan terjemahan leksikal, namun sebagian lainnya hanya memiliki kemiripan makna atau berasosiasi dengan kata yang dimaksud. Permainan multibahasa ini secara tidak langsung menunjukkan jatidiri pengguna bahasa dan mewakili wilayah-wilayah geografis tertentu. Penelitian ini mengimplikasikan kreativitas permainan multibahasa oleh para pengguna bahasa yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung pembelajaran bahasa.
REPRESENTASI IDENTITAS ETNIS MELALUI BAHASA DALAM FILM SERI “ARAB MAKLUM” Syaifullah, Syaifullah; Adila, Wildi; Setyawan, Cahya Edi
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1597

Abstract

This study describes the role of language in presenting culture and ethnic identity through the medium of the film series "Arab Maklum". This film presents the story of an Arab family who persistently maintains their ancestral traditions in the modern era. The main data source of this study is the transcription of the film's dialogue, which is analyzed using content analysis techniques. Sapir-Whorf's theory is used as a conceptual framework to understand the influence of language on ethnic identity. The results of the study show that the film series "Arab Maklum" uses Arabic effectively to present Arab ethnic identity. The use of Arabic phrases and terms in everyday conversations, social events and family interactions shows a strong attachment to their cultural heritage and ethnic identity. Arabic does not only function as a means of communication, but also as a marker of deep ethnic identity, which is strengthened through dialogues that reflect Arab cultural values and traditions. This study not only enriches academic understanding of the relationship between language, culture and ethnic identity, but also highlights the importance of in-depth analysis in media and cultural studies. These findings provide important insights for filmmakers and media researchers to create more sensitive and accurate works in cultural and ethnic representation, as well as strengthening the literature on the influence of language in media.Penelitian ini memaparkan peran bahasa dalam mempresentasikan budaya dan identitas etnik melalui medium film seri “Arab Maklum”. Film ini menampilkan kisah keluarga Arab yang gigih mempertahankan tradisi leluhurnya pada era modern. Sumber data utama penelitian ini adalah transkripsi dialog film, yang dianalisis menggunakan teknik analisis konten. Teori Sapir-Whorf digunakan sebagai kerangka konseptual untuk memahami pengaruh bahasa terhadap identitas etnik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film seri "Arab Maklum" menggunakan bahasa Arab secara efektif untuk mempresentasikan identitas etnis Arab. Penggunaan frasa dan istilah Arab dalam percakapan sehari-hari, acara sosial dan interaksi keluarga menunjukkan keterikatan yang kuat dengan warisan budaya dan identitas etnis mereka. Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda identitas etnis yang mendalam, yang diperkuat melalui dialog-dialog yang mencerminkan nilai-nilai dan tradisi budaya Arab. Penelitian ini tidak hanya memperkaya pemahaman akademis tentang keterkaitan antara bahasa, budaya, dan identitas etnis, tetapi juga menyoroti pentingnya analisis mendalam dalam studi media dan budaya. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pembuat film dan peneliti media untuk menciptakan karya yang lebih sensitif dan akurat dalam representasi budaya dan etnis, serta memperkuat literatur tentang pengaruh bahasa dalam media.